Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium

Sikap egois dan mau menang sendiri yang ditunjukkan oleh seseorang memang dapat dengan mudah menyulut emosi lawan bicaranya, tidak terkecuali seorang penumpang maskapai AirAsia bernama Bruce Lam. Ia mengaku kesal terhadap salah seorang penumpang dalam penerbangannya menuju Hong Kong. Pasalnya, penumpang wanita tersebut berlaku seenaknya dengan pindah ke bangku Premium, padahal bangku yang dipesan oleh wanita tersebut berada di bangku Ekonomi.

Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (4/4/2018), kejadian ini sendiri terjadi pada Jumat, 2 Maret 2018 silam dalam penerbangan AirAsia tujuan Kuala Lumpur – Hong Kong. Emosi Bruce mulai tersulut manakala ia mengetahui bahwa penumpang wanita tersebut membandel dan terus kembali ke bangku Premium kendati sudah diperingatkan beberapa kali oleh awak kabin.

Kejadian ini bermula ketika seorang awak kabin menghampiri wanita tersebut dan memintanya untuk kembali ke bangku asal karena sesaat lagi pesawat akan take-off. Penumpang tersebut pun mengikuti perintah si awak kabin dan kembali ke bangku asalnya di bangku Ekonomi. Namun tak lama berselang setelah pesawat mengudara, penumpang ini kembali lagi ke bangku Premium tersebut.

Lagi, awak kabin memberinya teguran dan menghimbaunya untuk kembali ke bangku semula. Perdebatan antar keduanya pun tak bisa dihindari. Awak kabin Air Asia pun sempat menghimbau si penumpang wanita untuk memesan bangku prioritas di penerbangan selanjutnya. Setelah beberapa sesaat adu urat, penumpang wanita ini pun kembali lagi ke bangku yang sudah ia pesan sebelumnya.

Tidak cukup dua kali kena tegur, ia mencoba peruntungannya kembali, namun tingkah polah yang ia tunjukkan semakin tidak tahu malu dan terkesan kampungan. Ia membawa serta sebuah neck-pillow dan berbaring di bangku Premium tersebut. Tindakannya itu sontak membuat penumpang lain di kelas Premium naik pitam, tak terkecuali Bruce yang kebetulan duduk tepat di depan si wanita tersebut.

Kendati awak kabin sudah kembali memperingatinya untuk yang ketiga kalinya, wanita ini pun malah semakin menjadi-jadi dan mulai bernada tinggi. “Kenapa?!” teriak si wanita kepada awak kabin AirAsia. Tidak tinggal diam, Bruce pun beranjak dari bangkunya dan mulai membela si pramugari.

“Kembalilah ke bangkumu, satu kali, dua kali, hingga tiga kali Anda mendapatkan teguran, tidakkah Anda malu?!” ucap Bruce kepada wanita tersebut. Ia pun akhirnya mengangkat kaki untuk yang ketiga kalinya dari bangku Premium tersebut sembari menggerutu, “Urus saja urusanmu sendiri,”

Baca Juga: Tanpa Rasa Malu, Penumpang Ini Lepas Celana di Dalam Kabin Pesawat

Untungnya, teguran langsung dari Bruce membuat wanita ini jera dan tidak lagi duduk di bangku kelas Premium tersebut. Awak kabin AirAsia pun berterimakasih kepada Bruce yang telah membantu mengusir wanita ini. “Terima kasih, kami cukup sering menjumpai penumpang bebal seperti wanita ini,” ungkapnya.

“Kami membayar lebih untuk bangku ini, bagaimana Anda bisa menahan emosi ketika ada seorang wanita paruh baya berpindah dari bangku standarnya menuju bangku Premium sebanyak tiga kali?” kenang Bruce.

Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik

Ketika keamanan bandara semakin diperketat, maka penumpang akan semakin direpotkan saat berada di pemeriksaan keamanan bandara. Pasalnya sejak adanya larangan laptop dan tablet masuk ke kabin karena meningkatnya ancaman terorisme, hal ini di anggap cukup efektif.

Baca juga: Tangkal Terorisme, Larangan Bawa Laptop ke Dalam Kabin Dipandang Tak Efektif

KabarPenumpang.com melansir dari laman wvnews.com (4/4/2018), Transportation Security Administration (TSA) mengumumkan kepada penumpang yang akan keluar dari bandara Virginia Barat harus mengeluarkan semua perangkat elektronik mereka yang lebih besar dari ponsel untuk diperiksa. Selain Laptop, maka tablet dan smartphone yang berukuran lebih besar harus dikeluarkan dari dalam tas sebelum melalui alat pemindai.

“Orang-orang sudah melakukan ini selama bertahun-tahun dengan laptop yang mereka bawa. Kami hanya menambahkan beberapa hal saja,” ujar Lisa Farbstein, juru bicara TSA di Arlington, Virginia. Farbstein mengatakan, hal ini dilakukan karena teroris sudah mulai beradaptasi dan menyembunyikan bahan peledak di perangkat elektronik seperti tablet, pembaca elektronik, handphone, kamera dan lainnya.

“Kami tahu mereka sangat mahir menyembunyikan improvised explosive device (IED). Ancaman itu nyata,” ujar Farbstein. Dia mengatakan, pejabat TSA mengumumkan persyaratan keamanan baru pada Juli 2017 lalu. Namun mulai menerapkannya secara perlahan sembari adanya tambahan pelatihan pada petugas TSA.

Prosedur baru ini sudah mulai diberlakukan di Bandara Yeager di Charleston, Bandara Tri-State di Huntington, Bandara Regional Mid-Ohio Valley di Parkersburg, Bandara West Virginia Barat Bagian Utara di Bridgeport, Bandara Kota Morgantown dan Bandar Udara Greenbrier Valley. Farbstein mengatakan sebelum melalui keamanan baiknya, perangkat-perangkat elektronik tersebut sudah dipisahkan dari tas penumpang.

Ini dilakukan untuk memudahkan petugas TSA mendapatkan gambar barang elektronik tersebut dengan jelas saat dipindai dengan X-Ray keamanan. Dia menambahkan, baiknya barang-barang elektronik tersebut di tempatkan dalam palstik dan tidak di tumpuk satu sama lain agar tiap barang terlihat dengan jelas.

Dengan banyaknya perangkat tipis, sangat mudah bagi penumpang melupakan perangkat tersebut, bahkan terkadang diletakkan jauh di dalam tas mereka dan bertumpuk dengan barang lainnya. Farbstein mengatakan, saat perangkat elektronik tersebut di pisahkan dari tas penumpang, baiknya di label dengan nama serta nomor telepon.

Hal tersebut dibuat, jika ada penumpang yang tidak sengaja meninggalkan barang elektronik mereka bisa dilacak dan dikembalikan. Farbstein menjelaskan, setelah adanya pelatihan untuk pemindaian barang penumpang tersebut, maka petugas TSA kini siap memandu penumpang dengan prosedur keamanan baru.

Baca juga: Bandara Abu Dhabi Cabut Larangan Elektronik Masuk Amerika Serikat

Diketahui, prosedur tersebut harus ada di semua bandara Amerika Serikat pada akhir Mei 2018 ini. Tak hanya itu, pihak TSA juga menyarankan, agar penumpang tiba 90 menit sebelum waktu keberangkatan yang dijadwalkan agar memiliki cukup waktu saat melewati keamanan.

Stasiun Kalimenur, Terlupakan dan Pernah Hancur Akibat Bom

Jejak sejarah stasiun di Indonesia begitu beraneka ragam, mulai dari pembangunannya, jalur kereta hingga bahkan apa yang terjadi di stasiun tersebut. Seperti salah satu stasiun yang ada di Kulon Progo yakni stasiun Kalimenur.

Baca juga: Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan

Stasiun ini ternyata pernah di bom oleh Belanda pada masa revolusi tahun 1948 silam dan hampir hancur. Namun, hal tersebut tak membuat Indonesia gentar, melainkan Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) kembali membangun stasiun ini dan meresmikannya menjadi stoplat atau stasiun mini yang merupakan lokasi pemberhentian sementara kereta tahun 1954 lalu.

KabarPenumpang.com mendapatkan fakta, stasiun yang kini sudah dinonaktifkan tersebut kondisinya sangat lusuh, terabaikan dan banyak vandalisme. Hal ini dikarenakan sejak 44 tahun lalu stasiun ini tak lagi beroperasi. Penghentian operasional stasiun Kalimenur dilakukan pada 1974, karena stasiun ini dianggap tak layak menjadi pemberhentian kereta berkecepatan tinggi. Sebab posisi stasiun sangat tidak strategis dan berada di tikungan besar Kalimenur.

Tampak samping stasiun Kalimenur dengan nama dan ketinggian stasiun yang masih jelas meski sudah usang

Stasiun Kalimenur sendiri berada di ketinggian +35 meter dan berada di Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, tepatnya di antara Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates. Pembangunanya diperkiran pada masa yang sama dengan pembangunan jalur kereta Surabaya-Cilacap tahun 1876-1888. Dulunya stasiun ini juga dikenal dengan stasiun Tahu.

Adapun penyebutan stasiun Tahu, karena mayoritas penumpang kereta yang berangkat melalui stasiun tersebut adalah penjual tahu dari Desa Tuksono yang akan berjualan ke Yogyakarta atau Kutoarjo. Para pedagang tersebut tak hanya menjadi penumpang dan naik kereta dari stasiun Kalimenur, melainkan juga berjualan di sekitar stasiun baik tahu matang yang sudah digoreng ataupun mentah.

Ternyata tak hanya para pedagang tahu, pengguna lain stasiun ini adalah pedagang sayur, ternak dan para pelajar Kulon Progo yang akan bersekolah ke Yogyakarta. Sebenarnya dengan adanya stasiun, daerah Kalimenur sangat beruntung, karena saat itu kereta api menjadi moda transportasi yang dapat menjangkau daerah lain dibanding moda lainnya.

Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Tak hanya cepat, tarif kereta api juga pada masa itu cukup terjangkau. Meski tak lagi beroperasi, kini stasiun Kalimenur dijadikan tempat beristirahat oleh warga dan pecinta kereta yang hendak menyaksikan atau mengabadikan momen dimana kereta api yang sedang menikung di tikungan Kalimenur. Dibangunan stasiun tersebut juga masih terlihat jelas nama stasiun dan ketinggian stasiun.

Biaya Rendah dan Kualitas Menurun? Permintaan Perjalanan Udara Justru Meningkat

Sepuluh tahun lalu pesawat terbang masih terbilang moda transportasi mahal, mewah, glamor dan menarik. Penumpangnya pun biasanya kalangan menengah ke atas, karena harga tiket yang bisa dikatakan cukup mahal dan tidak bersahabat dengan masyarakat menengah kebawah.

Baca juga: Biar Nyaman di Penerbangan Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Baca Ini!

Kini sudah berbeda, sebab kalangan menengah ke bawah beberapa sudah bisa menikmati pesawat terbang dengan harga yang cukup terjangkau. Namun, dengan berbiaya rendah, banyak sekali fasilitas dan kenyamanan yang hilang bagi penumpang.

KabarPenumpang.com merangkumnya dari laman cnn.com, bahwa ada sebuah survei yang pernah dilakukan International Air Transport Association (IATA) pada 2015 lalu dan mendapatkan bahwa banyak penumpang yang menginginkan mengantre di konter keamanan bandara tidak lebih dari sepuluh menit. Bahkan setengahnya memilih menunggu hanya 1-3 menit saja untuk pemeriksaan barang bawaan mereka.

Ada beberapa hal yang membuat penerbangan masa kini lebih murah. Namun, hal tersebut justru bisa membuat penumpang tidak nyaman dan marah saat sampai di dalam pesawat. Namun, dengan harga murah ini menciptakan lebih banyak permintaan untuk perjalanan udara yang bisa menyebabkan penundaan karena lalu lintas udara sedikit tersedat. Hal ini juga menjadikan kualitas pelayanan yang menurun terhadap penumpang.

Sebenarnya, untuk pelayanan disesuaikan dengan harga yang dibayarkan. Jika pelanggan memilih membayar lebih mahal untuk kelas bisnis dan kelas satu, pasti akan ada layanan yang berbeda dibandingkan dengan kelas ekonomi.

Perbedaan paling mencolok ialah dimana saat berada di dalam kabin, jarak antara kursi kelas ekonomi lebih sempit. Tak hanya itu, dengan biaya lebih murah, untuk mendapatkan makanan dan fasilitas bagasi lebih Anda harus membayar diluar dari harga tiket yang sudah dibeli.

Tak sama seperti dahulu dimana, saat membeli tiket pesawat, maka yang didapat penumpang adalah kemudahan dalam bagasi yang lebih besar serta layanan makanan, minuman dan beberapa hal lainnya yang dibutuhkan. Toilet pun kini di uji apakah sangat dibutuhkan atau tidak, tetapi jika toilet dikurangi maka akan semakin sedikit kenyamanan yang didapat penumpang.

Baca juga: Benarkah Penumpang Kelas Ekonomi Kurang Perhatian? Ini Kata Awak Kabin

Bahkan kini penumpang kelas ekonomi lebih memilih membawa tas jinjing atau ransel namun membayar biaya yang sama dengan penumpang menggunakan koper. Tetapi ini adalah pandangan sepihak dan tidak bisa di salahkan dengan apa yang digunakan penumpang.

Dengan hal ini semua terutama kualitas kenyamanan yang turun, tetapi permintaan perjalanan bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa, meski kualitas layanan menurun, penumpang masih bersedia terbang dengan harga yang lebih rendah.

Satu Hari Lebih Cepat, Rangkaian MRT Jakarta Tiba Hari Ini di Tanjung Priok

Akibat cuaca buruk di kawasan Laut Cina Selatan, jadwal kedatangan rolling stock atau kereta untuk Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mengalami pemunduran jadwal, dari yang seharusnya tiba pada akhir Maret 2018, kemudian direvisi menjadi tiba 5 April 2018. Namun kenyataan pengiriman MRT gelombang pertama ini bisa sampai lebih cepat. Tepatnya hari ini (4/4/2018) pada pukul 05.00 WIB kapal kargo pembawa rolling stock MRT telah merapat di dock 101 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Baca juga: Progres MRT Jakarta Tak Terlalu Signifikan, Rolling Stock Terlambat Tiba Karena Kendala Cuaca

Tapi sebelum bisa pindah tangan kepada pihak MRT Jakarta, kereta ini harus melalui proses bea cukai dan pembongkaran muatan sebelum rolling stock dikeluarkan dari Vessel. Dua rangkaian kereta tersebut akan diturunkan dari kapal kargo pada Kamis 5 April 2018 kemudian dilakukan pengiriman ke depo Lebak Bulus menggunakan multi-axle trailer.

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (4/4/2018), proses pengiriman dua rangkaian kereta tersebut akan berlangsung hingga tanggal 8 April 2018 mendatang dari pukul 22.00-05.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak kepadatan lalu lintas ibu kota.

Sebelum tiba di Indonesia, dua rangkaian kereta tersebut telah dilakukan serangkaian uji coba dan simulasi pengiriman sejak Februari 2018 lalu. Kereta MRT tersebut bukanlah kereta bekas, melainkan kereta baru yang dibuat oleh perusahaan kereta api Nippon Sharyo, Jepang.

Setelah dua rangkaian tiba, untuk 14 rangkaian kereta lainnya akan mulai dikirim pada akhir Juni ini dan di targetkan Oktober 2018 mendatang seluruhnya yakni 16 rangkaian kereta MRT Jakarta akan tiba di Jakarta dan disiapkan untuk mengikuti rangkaian proses trial run. Di fase 1, PT MRT sendiri menyiapkan 16 rangkaian kereta dengan 14 kereta akan digunakan serta dua lainnya menjadi cadangan.

Baca juga: Lima Wanita Tangguh Jadi Masinis MRT Jakarta

Nantinya pada Maret 2019 mendatang, MRT Jakarta fase 1 akan beroperasi dari pukul 05.00 hingga 24.00 WIB. Untuk rentang waktu kedatang antar kereta di stasiun sekitar lima menit saat jam sibuk dan sepuluh menit di waktu biasa.

Seoul Subway Gunakan Jaringan LTE-R dari SK Telecom

Salah satu provider terbesar di Korea Selatan, SK Telecom merambah jaringan Seoul Subway atau kereta bawah tanah. SK Telecom sendiri hadir sebagai penyedia LTE-R (Railway) dan mengumumkan tanda tangan kontrak kerja samanya dengan Pemerintah Metropolitan Seoul pada 26 Maret 2018 kemarin.

Baca juga: Mobile Broadband di Atas Rel Kereta

KabarPenumpang.com melansir dari laman koreaittimes.com (27/3/2018), nantinya jalur kereta yang akan terintegrasi dengan jaringan LTE-R ini adalah Seoul City hingga jalur kereta Hanam. SK Telecom sendiri akan menyebarkan jaringan LTE-R sepanjang 7,7 km dari jalur Hanam yakni dari Stasiun Sangil-dong di Seoul ke Stasiun Chagwoo di Gyeonggi.

“Penyebaran akan dilakukan pada bulan Desembeer 2020,” ujar seorang juru bicara SK Telecom. SK Telecom mengatakan, jaringan LTE-R tersebut akan memungkinkan komunikasi dengan data termasuk panggilan video. Bahkan ini bisa dilakukan dalam kereta yang berjalan pada kecepatan lebih dari 350 km per jam.

Selain itu jaringan LTE yang dirancang SK Telecom tersebut juga untuk memastikan keselamatan dan konektivitass bawah tanah dalam kasus kecelakaan dan situasi darurat lainnya. Seperti jika terjadi bencana alam, bisa memberitahu pihak kepolisian maupun pemadam kebakaran.

Dengan jaringan ini juga membangun sistem dimana operasional kereta api, petugas mesin, staf dan personel pemeliharaan dapat melakukan panggilan grup. Tak hanya itu, dengan jaringan LTE-R juga memudahkan pihak kereta jika terjadi keadaan darurat, maka bagian pusat kontrol dan mesin bisa mendapatkan klip video secara langsung di setiap gerbong penumpang.

Selain itu sistem navigasi akan dikembangkan sehingga petugas bisa memeriksa informasi operasional kereta secara real time baik itu waktu keberangkatan ataupun kedatangan. Sistem LTE-R ini akan dimulai dari Jalur Hanam dimana pemerintah metropolitan Seoul akan mengganti jaringan yang menua di jalur kereta bawah tanah yakni jalur 2 dan 5.

Baca juga: Samsung Electronics Luncurkan LTE Railway Perdana di Korea Selatan

Nantinya, pengumuman penawaran tersebut diharapkan akan dibuat akhir tahun 2018 ini. “Agar dapat menangani bencana di kereta bawah tanah secara efektif, penting untuk membangun LTE-R yang terhubung ke jaringan komunikasi keselamatan bencana nasional. Kami akan menerapkan LTE-R dengan pengalaman 30 tahun kami dalam bisnis teknologi telekomunikasi seluler,” ujar Kepala unit bisnis publik SK Telecom Chiu I

Libur Paskah 2018, Trafik Penumpang Bandara Soekarno-Hatta Naik 13,2 Persen

Ada yang spesial dari libur Paskah 2018 ini, selain jatuh menjadi rangkaian long weekend, momen libur Paskah 2018 juga bertepatan dengan ‘tanggal muda,’ dimana daya beli masyarakat masih cukup tinggi di masa tersebut. Dan terkorelasi dengan hal di atas, jumlah penumpang di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) pada libur Paskah 2018 memang mengalami peningkatan dibandingkan libur Paskah 2017 lalu. Meningkatnya jumlah penumpang ini baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara yang berlibur ke dan dari Indonesia.

Baca juga: Diskon 50 Persen di Sabtu-Minggu, Akankah Kereta Bandara Soekarno-Hatta Makin Diminati?

Peningkatan wisatawan ini juga bisa dikarenakan adanya kerja sama antara pihak bandara dan kementerian Pariwisata untuk mempromosikan Indonesia. Tahun 2018 diketahui sebanyak 197.038 orang atau 18,4 persen kenaikan penumpang terjadi di bandara Soetta dibandingkan Paskah 2017 lalu.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa, peningkatan ini sudah terjadi sejak 29 Maret 2018. Senior Manager Of Branch Communication and Legal Bandara Soekarno-Hatta Erwin Revianto mengatakan, pada 29 Maret 2018 jumlah penumpang yang berangkat dan tiba ada 217.856 penumpang, sedangkan tahun 2017 lalu hanya 195.313.

Kemudian tanggal 30 Maret 2018 penumpang meningkat menjadi 197.038 dibanding tahun 2017 yang hanya 166.428. Sedangkan pada 31 Maret 2018 mencapai 165.233 penumpang dibanding tahun 2017 hanya 141.729. Pada puncaknya di 1 April 2018 ada 196.503 penumpang sedangkan tahun 2017 lalu sebanyak 182.505.

“Dibandingkan tahun 2017 lalu, total tren penumpang liburan Paskah tahun ini mencapai 13,2 persen. Total pesawat juga mengalami kenaikan hingga 8,9 persen,” ujar Erwin. Dia juga menambahkan, kegiatan arus balik terjadi pada Sabtu (31/3/2018). Untuk jumlah total penumpang internasional yang datang pada 2018, juga mencatat kenaikan yang mencapai 14,7 persen.

“Dalam beberapa tahun terakhir telah ada tren penumpang yang senang menghabiskan liburan mereka di sejumlah lokasi wisata, termasuk turis asing karena kami bekerja dengan maskapai penerbangan dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia,” kata Erwin.

Baca juga: Mulai 1 Maret 2018, Airport Tax Penumpang di Terminal 3 Soekarno-Hatta Naik Rp30 Ribu

Menurutnya, kehadiran Skytrain atau kereta layang dan kereta bandara di Soekarno-Hatta dapat menarik perhatian pengguna layanan dalam mentransformasi interaksi penumpang karena dapat memberikan layanan yang lebih efisien. “Bandara Soekarno-Hatta sudah menyiapkan infrastruktur operasional dengan sistem, baik di sisi udara, atau di sisi darat,” kata Erwin.

Boeing 767 “Reborn,” Berpeluang Isi Segmen New Mid-market Aircraft

Sepinya bengkel Boeing akan produksi pesawat penumpang model 767-300ER bukanlah menjadi pertanda buruk bagi masa depan perusahaan mereka. Kendati sepi, namun perusahaan yang bermarkas di Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini diketahui tengah menantikan kemungkinan hadirnya segmen baru dalam dunia aviasi global, yaitu New Mid-market Aircraft (NMA).

Baca Juga: Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan

NMA sendiri merupakan pesawat yang mampu menempuh penerbangan jarak jauh dengan jumlah penumpang yang lebih banyak dari pesawat narrow body, namun tidak melebihi kapasitas dari pesawat wide body. Tidak hanya untuk Boeing, NMA sendiri dipercaya dapat menjadi jawaban untuk para penyedia jasa alias maskapai yang selama ini merasa ‘tanggung’ dengan konfigurasi penerbangan mereka.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com, diperkirakan pasar dari NMA sendiri akan muncul dan menguat pada satu dekade ke depan. Pasca debutnya redup di segmen produksi pesawat penumpang, debut produksi Boeing 767 memang terus berlanjut, namun dikhususkan sebagai peswat tanker dan kargo militer (KC-46A Pegasus).  Redupnya popularitas Boeing 767 dimulai saat Boeing  merilis Boeing 777 dan 787 Dreamliner. Tingkat efisiensi dan kapasitas angkut penumpang menjadi dua faktor utama yang akhirnya menggiring produksi pesawat penumpang Boeing 767 mengalami kemunduran secara perlahan.

“Menghidupkan kembali pesawat penumpang 767, saya rasa tidak mungkin,” ungkap Wakil Presiden Pemasaran Boeing Commercial Airplanes, Randy Tinseth. Namun pernyataan Randy tersebut berbanding terbalik dengan laporan musim gugur periode kemarin yang menunjukkan bahwa Boeing 767 bisa menjadi ‘jembatan’ hingga debut NMA pada 2024-2025 mendatang. Ketika melihat peluang bisnis di dalamnya, United Airlines langsung menyatakan minatnya akan pesawat dengan kapasitas angkut menengah ini.

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

“NMA sendiri mampu menampung 220 hingga 270 penumpang dalam sekali perjalanan, dengan maksimal jarak tempuh mencapai 5.000nm (Nautical Miles ; setara dengan 9260 km),” tambah Randy. Ia pun mengatakan bahwa beberapa pihak maskapai yang tertarik dengan mengganti armada 757 dan 767 mereka yang lama dengan Boeing 767 yang baru. “Mereka akan setia menunggu hingga pesawat ini memasuki operasi komersialnya pada tahun 2025 mendatang,” tutur Randy.

Selain United, dua kompetitornya dari negara yang sama, Delta Air Lines dan American Airlines pun mengaku tertarik untuk menggunakan jasa dari pesawat yang pertama kali mengudara pada 26 September 1981 ini.

Hore! Google Assistant Kini Sudah Tersedia Dalam Bahasa Indonesia

Setelah beberapa waktu ke belakang Google melakukan gebrakan di Indonesia dengan menggelontorkan sejumlah dana segar terhadap GoJek, kini mesin pencarian nomor Wahid seantero jagad ini kembali memberikan dampak terhadap perkembangan teknologi di Tanah Air. Ya, perusahaan teknologi multinasional yang bermarkas di Mountain View, California, Amerika Serikat ini secara resmi telah merilis Google Assistant versi Bahasa Indonesia.

Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!

Sesuai dengan namanya, Google Assistant sendiri merupakan asisten virtual yang akan memudahkan kehidupan sehari-hari Anda. “Google Assistant merupakan asisten virtual yang dirancang begitu conversational, yang benar-benar bisa merespons dialog dengan baik antara penggunanya dengan Google. Ia juga dapat membantu menyelesaikan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap CEO Google, Sundar Pichai. Google Assistant Bahasa Indonesia ini sendiri secara resmi diluncurkan pada Senin (2/4/2018) kemarin.

Dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, fitur Google Assistant berbahasa Indonesia ini dapat Anda gunakan pada smartphone yang sudah menggunakan sistem operasi Android Lolipop 5.0 ke atas atau iOS 9.1 ke atas. Selain itu, Anda juga harus terlebih dahulu memperbarui aplikasi Google Search ke versi yang paling baru, dan mengubah setelannya menjadi Bahasa Indonesia. Setelah itu, Anda dapat merasakan sensasi memiliki sebuah asisten virtual pribadi.

Sebelumnya, Google Allo, aplikasi serupa Google Assistant yang menggunakan Bahasa Indonesia pertama kali muncul pada Agustus 2017 silam. “Kini, dengan hadirnya Google Assistant di jutaan smartphone di Indonesia, kami berharap Google Assistant akan memudahkan aktivitas para pengguna. Aktifitas tersebut mulai dari memasang alarm, menyetel pengingat, memutar musik di YouTube, mendapatkan petunjuk arah dari Google Maps dan lain-lain,” papar Google, dikutip dari laman cnnindonesia.com (2/4/2018).

Google Assistant sendiri diberdayakan oleh machine learning dan dibuat berdasarkan pengalaman Google selama kurang lebih 20 tahun di bidang Penelusuran, termasuk Natural Language Understanding, Computer Vision, dan memahami konteks dari pengguna. Karena itulah, Google Assistant dapat memahami maksud ucapan si pengguna dan membalasnya dengan respon yang sesuai.

Baca Juga: Google Maps Hadirkan Fitur yang Siap Dukung Kaum Difabel

Jika pertanyaan yang dilontarkan si pengguna mengacu pada hal yang ambigu atau memiliki beberapa kemungkinan jawaban, maka Google Assistant akan membalasnya dengan pertanyaan lanjutan. Ini dimaksudkan agar Google dapat lebih mengerucutkan kemungkinan dan memberikan kemungkinan jawaban terbaik kepada si pengguna.

Diketahui, beberapa aplikasi lokal yang sudah dilengkapi dengan fitur Google Assistant saat ini adalah “Al-Qolam”, “Joox”, “Kaskus”, “Klikdokter”, “Mobile Legends”, “Tebak Gambar”, dan “Vira dari Bank BCA”.

Toyota Luncurkan SORA, Bus Berbahan Bakar Sel yang Ramah Lingkungan

Seolah tiada henti menelurkan inovasi yang mampu meredam pencemaran udara melalui zat Karbon Dioksida (CO2), Toyota belum lama ini memulai penjualan bus berbahan bakar sel pertama yang diberi nama SORA (Sky, Ocean, River, Air). Dengan diluncurkannya penjualan bus SORA secara massal, Toyota berharap bus-bus ramah lingkungan ini dapat diperkenalkan di wilayah metropolitan Tokyo, terutama saat perhelatan Olimpiade dan Paralympic Games Tokyo 2020.

Baca Juga: Jelang Olimpiade 2020, Toyota Rilis Bus “SORA” Yang Super Ramah Lingkungan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman greencarcongress.com (28/3/2018), Toyota Fuel Cell System (TFCS), yang dikembangkan untuk Mirai Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV), telah dimanfaatkan untuk mewujudkan kinerja lingkungan yang tinggi tanpa emisi CO2 atau Substances of Concern (SoC) yang dipancarkan ketika moda ini beroperasi, serta kenyamanan yang maksimal dengan indikator minimnya getaran yang ditimbulkan.

SORA dilengkapi dengan perangkat output daya eksternal berkapasitas tinggi, yang dapat memberikan output tinggi dan pasokan listrik berkapasitas tinggi (output maksimum 9 kW, dan pasokan listrik 235 kWh) dan memiliki teknologi yang memungkinkan bus ini menggunakan sumber daya darurat ketika terjadi sebuah bencana yang mengakibatkan mesin bus ini mati. Tidak hanya di segi mesin penggeraknya saja yang mutakhir, soal kenyamanan, SORA pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kursi yang ada di dalam bus mini ini dapat dilipat sesuai dengan kebutuhan. Sebut saja jika ada penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda hendak menggunakan bus ini, penumpang lain yang ada di dalam dek bisa melipat kursi tersebut dan memberikan ruang lebih kepada penyandang disabilitas tersebut, atau bahkan berguna juga bagi seorang Ibu yang membawa kereta bayi.

Kelebihan dari kendaraan ini adalah hadirnya delapan buah kamera berresolusi tinggi yang tersebar di dalam dan luar moda, dimana kamera ini berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap penumpang yang berada di dalam moda dan menjadi ‘mata tambahan’ bagi bus ini sendiri. Hadirnya kamera-kamera ini dapat membantu pengemudi untuk mendapatkan informasi tentang kondisi di sekitaran bus, seperti adanya orang yang menyeberang atau rintangan lain yang berada di dalam range pantauan kamera ini.

Baca Juga: Cina Rajai Populasi Bus Listrik di Seluruh Dunia

Bagi para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk pun tidak perlu khawatir dirinya akan terlempar ketika bus mulai berakselerasi atau melakukan pengereman mendadak. Hal ini dikarenakan bus mini SORA menggunakan fungsi kontrol akselereasi yang memungkinkan pergerakan moda menjadi jauh lebih halus ketimbang kendaraan lain.