Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda

Eksistensi kendaraan otonom dewasa ini dapat dikatakan semakin pekat di pasar dan siap dikomersialkan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya perusahaan yang melakukan uji coba terhadap kendaraan masa depan ini, salah satunya adalah Hino Motors yang mengembangkan kendaraan otonom berbentuk bus mini. Diketahui, perusahaan yang terkenal akan produksi moda bermassa berat ini melakukan serangkaian uji coba di dekat Bandara Internasional Haneda, Jepang pada akhir Februari kemarin.

Baca Juga: Renault EZ-GO, Moda Otonom yang Memiliki Desain Pintu Low Deck Unik

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com, dalam menghadirkan moda futuristik ini, Hino tidak berdiri sendiri, melainkan turut menggandeng raksasa teknologi Negeri Sakura, SoftBank Group dan maskapai All Nippon Airways (ANA). Ada pun tujuan dari koalisi yang terjalin di antara tiga perusahaan ini adalah untuk memasarkan moda transportasi nirawak di lingkungan bandara pada tahun 2020.

Industri teknologi tinggi Jepang melihat bandara sebagai salah satu titik potensial dalam mengaplikasikan teknologi robotika dan kecerdasan buatan terbaru. Sebut saja seperti moda otonom hasil kerja sama tiga perusahaan yang sudah di sebutkan di atas, dimana pada ajang uji coba tersebut, kendaraan ini berhasil beroperasi tanpa pengemudi dengan kecepatan 10 km per jam. Adapun tujuan utama dari uji coba bus otonom ini adalah untuk meggantikan peran manusia yang selama ini menangani sektor antar-jemput kargo dan penumpang dari dan menuju terminal.

Dalam mengembangkan bus mini ini sendiri, tiga perusahaan tersebut tidak menempuh kendala sebanyak moda serupa yang beroperasi di jalanan konvensional. Bagaimana tidak, area apron tidaklah seriuh jalanan lain di luar komplek bandara, mulai dari hilir mudik kendaraan sampai pejalan kaki. Jadi, wajar saja jika kendaraan yang dikembangkan oleh tiga perusahaan ini dapat dengan mudah lolos uji coba moda otonom tingkat 4, dimana bus dapat sepenuhnya menggunakan personalisasi otonom selama pengoperasiannya.

ANA sendiri berharap agar kendaraan ini terus disempurnakan hingga pada akhirnya dapat memulai operasi konvensionalnya pada Maret 2019 mendatang. “Kami berusaha untuk memanfaatkan robot dan kecerdasan buatan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan,” ungkap Shinya Katanozaka, Presiden ANA Holdings. “Layanan penanganan darat yang disediakan oleh pihak maskapai di bandara telah mengalami perkembangan dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir, namun tidak terlalu signifikan,” tandasnya.

Baca Juga: SkyDrive, Moda Otonom Yang Digadang Nyalakan Api Olimpiade 2020

Selayaknya moda otonom lain, bus mini kembangan Hino ini juga nantinya akan mempekerjakan satu operator yang mampu memantau keseluruhan kinerja bus otonom. Hal ini akan berdampak pada potensi kru darat yang kemungkinan kehilangan mata pencahariannya. Menanggapi hal tersebut, Shinya menepis kekhawatiran para kru darat. “Otomatisasi kerja tidak dimaksudkan untuk mencuri pekerjaan manusia,” katanya. “Kehadirannya (otomatisasi) untuk meningkatkan efisiensi kerja, dan para tenaga kerja dapat dialihkan untuk tugas lain,” imbuh Shinya.

Hadirkan Tayangan Ciamik Selama Penerbangan, Beberapa Perusahaan Mengekor Netflix

“Perjalanan udara menawarkan mobilitas dengan menggunakan salah satu moda transportasi paling canggih, tapi membosankan,” mungkin jargon tersebut melekat di benak Anda semua yang pernah melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang. Statemen tersebut pun pernah dilontarkan oleh Presiden Inflight Motion Pictures, David Flexer pada tahun 1962 silam, dimana kala itu, perkembangan di dunia teknologi belumlah se-bombastis dewasa ini.

Baca Juga: Maskapai Pacu Kemampuan WiFi dalam Penerbangan

Ya, mengarungi hamparan awan berjam-jam lamanya tanpa eksistensi dari sarana hiburan seperti pemutar musik atau berbagai tayangan yang menarik memang kerap kali membuat penumpang memutar otak dan memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa membunuh waktu tempuh perjalanan. Berangkat dari situ, maka tidak heran jika banyak maskapai yang mulai melakukan inovasi untuk menghadirkan berbagai hiburan di dalam kabin. Mulai dari hadirnya layar di belakang sandaran bangku penumpang, hingga yang paling mutakhir adalah hadirnya WiFi selama penerbangan.

Tak pelak, industri hiburan dalam penerbangan menjelma menjadi sebuah bisnis multi-miliar dollar, dimana yang dilakukan oleh para penyedia jasa layanan penerbangan ini semata-mata hanya untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasanya. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thrillist.com (20/3/2018), program hiburan selama penerbangan di sini akan dikerucutkan menjadi penayangan atau pemutaran beragam film Hollywood.

Wakil Presiden Eksekutif Konten dan Media di Global Eagle, penyedia layanan konten hiburan dalam penerbangan yang memasok konten digital ke 185 maskapai di seluruh dunia, Walé Adepoju mengatakan bahwa penayangan program di pesawat tidak jauh berbeda dengan apa yang kita tonton di televisi. “Pemrograman untuk maskapai adalah seperti pemrograman untuk sebuah kota atau negara,” tuturnya.

Berbeda dengan Netflix yang mampu mengolah data skala besar dengan menggunakan platform tunggal, Global Eagle lebih memperhatikan genre film, tahun pemutaran, dan tayangan yang banyak diminati oleh penumpang dalam penerbangan sebelumnya. Sebut saja ketika musim libur musim panas, Global Eagle akan mengemas tayangan berkategori SU (Semua Umur), dimana pada rentang waktu tersebut, ada banyak anak-anak yang turut serta dalam suatu penerbangan.

Baca Juga: Inflighto, Mudahkan Penumpang Berbagi Keindahan dari Dalam Pesawat

Lain halnya dengan maskapai asal Negeri Paman Sam, JetBlue yang lebih mengedepankan jajak pendapat yang disebar melalui akun sosial media mereka. Dengan begitu, pihak JetBlue beranggapan bahwa penumpang dapat memilih tayangan yang ingin mereka tonton selama penerbangan.

Pada akhirnya, dengan berkiblat pada Netflix, beragam penyedia layanan hiburan selama penerbangan terus berlomba dengan caranya masing-masing agar bisa memenangkan hati penumpang dan membuat perjalanan jarak jauhnya jadi lebih menyenangkan.

“Kempa,” Robot Humanoid Khas India Hadir di Bandara Bengaluru

Otomatisasi saja rasanya tak cukup untuk memperlihatkan tingkat kemajuan suatu bandara internasional. Dengan dalih untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa penerbangan, robotisasi kini mulai menjadi terobosan untuk memeriahkan layanan di bandara-bandara besar. Setelah hadir di Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Jerman, robot bandara kini dikabarkan juga bakal hadir di Negeri Anak Benua.

Baca juga: Hitachi Luncurkan EMIEW3, Robot Pintar di Bandara Dengan Artificial Intelligence

KabarPenumpang.com melansir dari laman business-standard.com (1/4/2018), dimana kini salah satu bandara di Bengaluru India yakni Kepegowda International Airport siap menggunakan robot humanoid baru yang tidak hanya akan menyambut pelancong di bandara tetapi juga memberikan informasi yang dibutuhkan.

Diketahui robot humanoid tersebut akan diberi nama Kempa. Kempa sendiri dibuat oleh Siera Techologies, salah satu start-up di Bengaluru yang menggunakan Artificial Intelligence dan sedang dalam uji coba.

Menteri Inovasi dan Teknologi India Priyank Kharge men-tweet video berdurasi satu menit yang memperlihatkan robot Kempa tersebut memberikan informasi dalam bahasa Kanada dan bahasa Inggris. Robot Kempa akan membantu penumpang dengan memberikan rincian penerbangan, detail check in dan segala sesuatu terkait bandara seperti toko atau restoran.

Selain itu, Kempa sendiri akan memberitahukan penumpang tentang negara India serta tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi seperti warisan dan budaya. Untuk menggunakan robot tersebut secara utuh, masih menunggu persetujuan dan keputusan dari Menteri Kharge.

Baca juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang

Nantinya jika sudah ada keputusan yang pasti dengan Kempa, maka Bandara Internasional Kempegowda kota akan bergabung dengan beberapa bandara lain di seluruh dunia. Dimana mereka telah bereksperimen dengan robot yang membantu penumpang, memindai bagasi dan mengeluarkan tiket masuk pesawat. Meskipun saat ini Kempa dalam tahap akhir pengujian coba sebelum digunakan, ada kemungkinan, hadirnya robot Kempa ini akan mejadi favorit untuk calon penumpang.

Kereta Cepat Diesel Listrik Meledak di Inggris, Gerbong Makan Jadi Korban

Sebuah kereta cepat berusia tua yang mengular di Inggris dilaporkan belum lama ini telah mengalami insiden ledakan di salah satu gerbongnya. Kereta cepat yang diketahui adalah InterCity 125 telah dioperasikan sejak 1975 dan mengusung teknologi diesel listrik.

Baca juga: Virgin Trains Masih Gunakan Gelas kertas Daur Ulang

Tepatnya pada Senin, (26/3/2018), layanan kereta cepat InterCity 125 yang dioperasikan Virgin East Coast berangkat dari Edinburgh ke London, pintu gerbong kereta makannya tiba-tiba meledak dan terbuka. Insiden tersebut membuat seorang pramusaji kereta berteriak karena barang-barang terlempar keluar dari pintu yang terbuka tersebut. Padahal seharusnya pintu tetap terkunci dengan aman.

KabarPenumpang.com melansir dari laman eastlothiancourier.com (29/3/2018), bahwa pintu kereta tersebut meledak saat berada di antara Prestonpans dan Longniddry. Harry Barker, ketua East Lothian Community Rail Partnership yang saat itu berada di gerbong makan mengatakan, ada dentuman yang keras serta diikuti jeritan kru kereta. “Ada dentuman hebat yang diikuti jeritan, pintu gerbong makan meledak kemudian pintu terbuka, tetapi rangkaian gerbong kereta makan masih menempel di set kereta,” ujar Barker.

Dia mengatakan dengan kondisi tersebut bisa menyebabkan penumpang jatuh dan memakan korban. Namun untungnya tidak ada korban dalam insiden ledakan pintu gerbong makan tersebut, meskipun beberapa barang di gerbong tersebut tersedot keluar.

Atas kejadian tersebut, salah seorang kru kereta langsung memang menarik rem darurat sehingga kereta berhenti di jalur. Diketahui kereta tersebut adalah InterCity 125 yang sudah berusia 40 tahun. Walau sudah berusia tua, faktanya kereta ini masih mampu berjalan dengan kecepatan 201 km per jam dan masih memiliki pintu manual yang bisa dibuka dari dalam. Juru bicara Virgin Trains East Coast mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki insiden yang terjadi pada 26 Maret 2018 lalu.

Baca juga: Hyperloop One Ganti Nama Setelah Virgin Group Tanam Saham

“Atas insiden ini tidak ada penumpang atau staf yang terluka dan memastikan kereta segera berhenti. Kami telah memberitahu cabang investigasi kecelakaan kereta api tentang insiden ini dan akan bekerja sama sepenuhnya dengan penyelidikan yang mereka lalukan,” ujar juru bicara tersebut.

KA Komuter Prameks, Rencana Hingga Ke Sragen dan Pembangunan Jalur Listrik Yogya-Solo

Kereta api komuter Prambanan Ekspres atau biasa dikenal dengan Prameks, rutenya akan diperpanjang hingga stasiun Sragen. Perpanjangan rute tersebut karena minat dan antusias masyarakat yang tinggi terhadap perjalanan kereta ini.

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Adanya rencana perpanjangan rute KA Prameks ini pun masih menunggu pembangunan jalur ganda yang tengah di buat dan diperkirakan seleasi akhir tahun 2018. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa perpanjangan rute KA Prameks ini untuk memudahkan masyarakat dan dengan adanya jalur ganda juga bisa meningkatkan trafik perjalanan KA. “Harapannya jika jalur ganda ini selesai, KA Prameks bisa ditarik hingga Sragen,” ujar Direktur PT KAI Edi Sukmoro.

Tak hanya perpanjangan rute, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga merencanakan untuk menghubungkan Solo-Yogyakarta dengan kereta rel listrik (KRL). Diketahui anggaran yang disiapkan untuk pembangunan jalur KRL ini sebesar Rp1 triliun.

“Mudah-mudahan proyek tersebut pada tahun ini mulai bisa dikerjakan dan dapat selesai dalam kurun waktu dua tahun,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Budi Karya mengatakan, kini pihaknya tengah mengidentifikasi permasalahan yang ada sebelumnya dan kemudian, jika anggaran sudah ada maka akan segera diselesaikan. Proyek multiyears ini sendiri akan menggunakan dana dari APBN, tambah Budi Karya.

Perencanaan KRL tujuan Solo-Jogja sudah ada, tetapi hingga kini belum terealisasi dan PT KAI belum tahu kapan akan dikerjakan. Sedangkan saat ini sejumlah tiang listrik aliran atas (LAA) sudah ada di stasiun Jebres Solo.

“Tiang belum bisa dipasang karena menunggu realisasi pembangunan dari Kemenhub. KAI tidak bisa berbuat banyak karena rencana pembangunan KRL adalah wewenang Kemenhub,” ujar Edi.

Edi mengatakan, jika nantinya pembangunan KRL tersebut terealisasi, maka akan menjadi solusi. Karena mampu membantu menampung jumlah penumpang Solo ke Jogja maupun sebaliknya yang kini cukup tinggi. Sementara dari sisi operasional, penggunaan kereta listrik akan menghemat biaya yang dikeluarkan oleh operator.

Baca juga: Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta

“Kami kepikiran, sebab misal lebih banyak yang difasilitasi kami juga merasa yang lebih baik,” tambah Edi. Antusias masyarakat juga menginginkan kereta bila KRL sudah terealisasi maka rute juga ditambah hingga ke Kutoarjo. Bahkan masyrakat meminta agar Prmaeks yang beroperasi selama ini sekaligus diganti dengan KRL.

MaaS, Program yang Mampu Maksimalkan Kenyamanan Berkendara Penumpang

Selain jumlah kendaraan pribadi yang terus meroket, salah satu penyebab meradangnya kemacetan lalu lintas belakangan ini adalah tidak adanya sinergi antar moda. Ya, dewasa ini layanan transportasi berbasis massal yang tersedia seolah masih terkotak-kotak. Anda dipaksa untuk membeli tiket ketika hendak menaiki suatu moda, dan melakukan hal yang sama ketika hendak berpindah layanan atau moda. Bagi sebagian kalangan, fenomena ini dinilai tidak terlalu efisien dan efektif.

Baca Juga: Internet of Things Tunjang Transportasi Berbasis Bus

Kendati beragam inovasi yang dapat menunjang kenyamanan dan pengalaman para penumpang dalam menggunakan layanan transportasi umum telah banyak dikembangkan, namun langkah-langkah tersebut tetap dinilai belum lengkap dan kurang efektif. Alex Froom, Direktur dari Zipabout, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan platform pemrosesan data di belakang Intelligent Mobility, mengatakan bahwa Mobility-as-a-Service memiliki potensi untuk mendorong perubahan perilaku para pengguna sarana transportasi, baik pribadi maupun umum.

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Mobility-as-a-Service atau yang sering disingkat MaaS ini sendiri merupakan integrasi dari berbagai bentuk layanan transportasi ke dalam layanan mobilitas tunggal yang dapat diakses sesuai permintaan. Sesuai dengan definisinya, maka sejumlah penyedia jasa layanan transportasi harus saling bersinergi guna memudahkan perjalanan para penumpang, baik itu pihak swasta maupun negeri.

Adapun inti dari MaaS ini adalah untuk memberikan kemudahan maksimal kepada penumpang yang hendak bepergian dari titik A menuju titik B dengan hanya melakukan sekali pembayaran di awal, meskipun si penumpang menggunakan lebih dari satu moda. Ketika program MaaS ini sudah berjalan dan disinergikan dengan teknologi pendukung yang dapat ‘memanjakan’ penumpang, maka Alex meyakini hal tersebut akan mendokngkrak pengalaman berkendara seseorang.

Namun pengimplementasian dari program MaaS ini tidaklah semudah yang dibayangkan. MaaS membutuhkan inovasi yang signifikan dalam sistem yang sangat mendukung infrastruktur transportasi yang ada. Hal ini membutuhkan, antara lain, pembagian data dan kolaborasi komersial, pemahaman menyeluruh tentang perilaku dan permintaan penumpang, visi untuk melihat ke sudut jauh dari pusat kota, dan teknologi canggih untuk mengikat semuanya dalam satu paket komplit.

Baca Juga: Sarana dan Pra Sarana Transportasi Termutakhir, Tidak Semuanya Mewah Loh!

Pada akhirnya, Alex menghimbau kepada para penyedia jasa layanan transportasi untuk saling bersinergi demi memberikan kenyamanan dan kemudahan secara menyeluruh kepada para penumpang. “Sekarang saatnya bagi industri transportasi untuk bersatu dalam pendekatan yang lebih kohesif dan membuka potensi penuh dari MaaS untuk kepentingan penumpang,” ucap Alex.

Aw! Kaki Petugas Darat Bandara Gatwick Terlindas Maskapai Rossiya Airlines

Bagi para pengemudi sepeda motor, mungkin sebagian dari Anda pernah merasakan sakitnya terlindas oleh kendaraan lain, entah itu sesama sepeda motor atau bahkan kendaraan roda empat sekalipun. Rasa nyeri pasca terlindas mungkin enggan pergi hingga waktu yang tidak tentu. Namun apa jadinya jika yang melindas kaki Anda bukanlah sebuah motor atau mobil, melainkan sebuah pesawat terbang? Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya?

Baca Juga: Terjadi Kecelakaan, 20 Lebih Penerbangan di Bandara Heathrow London Tertunda

Ya, sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (28/3/2018), seorang petugas darat Bandara Internasional Gatwick menjadi pusat perhatian dunia setelah kakinya tidak sengaja terlindas oleh maskapai Rossiya Airlines. Entah apa yang melatarbelakangi si petugas darat ini ‘bermain’ di dekat ban pesawat hingga akhirnya harus mengikhlaskan kakinya terlindas ban pesawat yang beratnya mencapai ratusan hingga ribuan kilogram.

Salah seorang penumpang maskapai tersebut, Flora Lu, mengklaim bahwa dirinya dan penumpang lain yang berada di dalam kabin pesawat tersebut mendapatkan informasi bahwa penerbangan akan mengalami keterlambatan pemberangkatan dikarenakan ada seorang petugas yang terlindas pesawat. “Kami benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi,” tulisnya di jejaring sosial Twitter. “Awak kabin menginformasikan bahwa pesawat tersebut telah menabrak seorang petugas darat ketika pesawat sedang taxi menuju landas pacu. Mereka pun mengatakan bahwa korban masih terperangkap di bawah kemudi pesawat. Kami masih menunggu kabar selanjutnya,” imbuhnya.

Benar saja, sejurus sesaat, Flora melihat beberapa ambulans dan rombongan mobil pemadam kebakaran yang berhamburan mendekati badan pesawat. Flora dan ratusan penumpang lainnya yang berada dalam penerbangan tersebut terpaksa menunggu proses evakuasi selesai sekitar dua jam lamanya, dan baru bisa melanjutkan penerbangannya.

Baca Juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi

Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak Rossiya Airlines pun memfasilitasi para penumpangnya penginapan di London selama satu malam sebelum mereka melanjutkan penerbangan pada keesokan harinya. Tidak diketahui bagaimana kondisi terakhir dari petugas darat nahas ini, namun dirinya langsung dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah terbebas dari lindasan ban pesawat.

“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa insiden ini terjadi di lapangan terbang pada pukul 17:10 (waktu setempat) dimana seorang petugas darat dinyatakan terluka dan layanan darurat diminta untuk hadir.” terang salah satu petugas Bandara Internasional Gatwick singkat.

Dapat Tindakan Diskriminasi, Penumpang AS Keturunan India Laporkan Aeroflot

Maskapai plat merah Rusia, Aeroflot, diwartakan telah memberikan perlakuan tidak menyenangkan kepada sejumlah pelancong muslim saat akan naik ke pesawat miliknya. Hal ini lantaran warna kulit mereka, sehingga tidak diperbolehkan naik dalam pesawat Aeroflot tujuan Amerika.

Baca juga: Aeroflot Terkena Turbulensi Langit Cerah, 27 Penumpang luka Serius

Masalah ini baru diketahui melalui surat komplain yang ditujukan pada badan transportasi udara di Washington DC beberapa hari yang lalu. Protes tersebut dilayangkan oleh sejumlah warga negara Amerika keturunan India Muslim.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman independent.co.uk (27/3/2018), diketahui peristiwa tersebut terjadi pada 7 Januari 2018 kemarin dimana para pelancong tersebut terdampar selama transit di Moskow karena salju tebal di New York yang membuat mereka tidak bisa terbang langsung menuju bandara JFK. Diduga Aeroflot mengatakan kepada para pelancong tersebut bahwa mereka harus kembali ke Delhi bukan New York dikarenakan warna kulit mereka.

Salah seorang staf Aeroflot bahkan mengatakan pada para pelancong Amerika yang merupakan keturunan India akan mendeportasi mereka jika menolak naik ke dalam pesawat. Padahal lima orang dari pelancong ketururan India tersebut dengan jelas memberikan paspor Amerika yang mereka miliki.

Saat itu, Aeroflot mengatakan kepada lima penumpang tersebut dimana tidak ada kursi yang tersedia untuk penerbangan alternatif mereka dari Moskow menuju Amerika Serikat. Tetapi ada dugaan dimana maskapai tersebut menawarkan kepada penumpang kulit putih untuk penerbangan alternatif.

Sebenarnya para penumpang Amerika Serikat keturunan India tersebut menolak untuk transit, sebab dalam hukum Rusia, penumpang transit tak bisa meninggalkan Bandara Sheremetyevo atau tetap di negara tersebut selama 24 jam. Karena masalah ini, penumpang tersebut kemudian menelpon kedutaan Amerika Serikat yang ada di Moskow, namun pihak Aeroflot tetap menolak untuk berbicara dan kembali menegaskan mereka akan di deportasi jika tidak ingin kembali ke India.

Kelima penumpang tersebut ialah Marc Fernandes yang terbang bersama pasangannya Shahana Islam dan adik-adik Shahana yaitu Sabiha Islam, Bakiul Islam, dan Anshul Agrawal. Namun, akhirnya mereka kembali melakukan perjalanan ke India bersama dengan 20 penumpang lainnya.

Setibanya di Delhi, mereka juga harus menunggu seminggu dikarenakan penerbangan Aeroflot ke New York tidak ada. Empat dari mereka kemudian menggunakan Qatar Airways untuk kembali ke Washington DC dengan menghabiskan cukup banyak uang. Sedangkan Anshul Agrawal terbang menuju Miami menggunakan Aeroflot setelah enam hari kemudian.

“Saya kehilangan waktu kerja satu minggu dan pasti tidak akan diizinkan untuk liburan tahun ini. Saya menghadapi tekanan mental yang luar biasa. Saya telah terbang selama lebih dari 17 tahun dan tidak pernah dilecehkan atau diperlakukan seperti ini,” tulis Agrawal di akun Facebook-nya.

Pengacara di Muslim Advocates, Juvaria Khan mengatakan, perilaku Aeroflot menggemparkan dan melampaui hal yang tidak seharusnya. Keluhan yang diajukan ke Departemen Transportasi Amerika Serikat harus dilakukan penyelidikan penuh dan menyeluruh serta meminta pertanggungjawaban Aeroflot atas tindakan diskriminatif yang mereka lakukan.

Karena masalah ini, Aeroflot dikenakan denda oleh otoritas Amerika Serikat karena melanggar aturan perlindungan penumpang Amerika Serikat.

“Keluhan ini adalah untuk memastikan bahwa pesan yang jelas dan tegas dikirim ke seluruh dunia ke maskapai manapun yang memilih bekerjasama dengan Amerika Serikat. Dimana tidak akan diterima dan di toleransi jika warga Amerika Serikat mendapat perilaku buruk karena ras, agama, etnis ataupun orientasi seksual mereka,” ujar Waleed Nassar partenr Lewis Baach.

Baca juga: Diskriminasi Penumpang Israel, El Al Tolak Turunkan Dana Kompensasi

Karena adanya masalah ini Aeroflot mengatakan, pihaknya jelas gagal memenuhi standar pelayanan tinggi dalam insiden tersebut. Ini terjadi lebih dari dua bulan lalu dan pihak Aeroflot telah menghubungi para penumpang dan menawarkan permintaan maaf. “Penyelidikan internal kami yang menyeluruh menetapkan bahwa ini bukan kasus diskriminasi berdasarkan penampilan, dan kami tidak menerima karakterisasi ini dalam keluhan,” kata pihak Aeroflot.

Tap Ponsel Pintar, Satu Detik Masuk Stasiun Tanpa Antri Tiket

Ponsel pintar yang dimiliki masyarakat saat ini tak hanya bisa digunakan untuk berbisnis, bermain, membeli tiket hingga memesan kamar hotel. Tetapi dengan ponsel pintar tersebut kini Anda yang merupakan seorang penumpang, khususnya masyarakat Cina bisa membayar tiket kereta bawah tanah.

Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia

KabarPenumpang.com melansir dari laman ecns.cn (27/3/2018), bahwa dengan ponsel pintar penumpang, mereka hanya memindai kode QR untuk membayar tiket kereta bawah tanah di Beijing. Layanan ini akan berlaku di semua jalur kereta bawah tanah Beijing sebelum bulan Juni 2018 mendatang.

Untungnya, layanan ini tak memerlukan ponsel dengan penambahan fungsi Near Field Communication atau NFC. Kode QR ini bisa digunakan oleh semua ponsel pintar dengan aplikasi Yitongxing. Dengan layanan ini, penumpang bisa menkmati keuntungan seperti diskon 20 persen setelah menghabiskan 100 yuan atau sekitar Rp219 ribu selama satu bulan. Tak hanya itu diskon sebesar 50 persen juga bisa didapatkan penumpang ketika menghabiskan 150 yuan atau sekitar Rp328 ribu.

Akhir tahun lalu, diketahui pengguna aplikasi Yitongxing sebanyak 1,8 juta orang terdaftar membeli tiket kereta bawah tanah secara online di 19 jalur kereta Beijing. Kemudian selain itu, lebih dari 80 ribu tiket kereta bawah tanah telah terjual secara online setiap harinya.

Sebenarnya, pembayaran dengan sistem kode QR tersebut pertama kali digunakan di jalur menuju bandara sejak September 2017 kemarin. Hingga kini diketahui sudah sekitar 800 penumpang menggesekkan atau menempelkan ponselnya di gate stasiun kereta bawah tanah Beijing.

Baca juga: Cina Adaptasi Sistem Pembayaran Tiket Kereta Bawah Via Smartphone Android

Ketika penumpang menempelkan ponsel mereka di gerbang masuk karena menggunakan kode QR, maka hanya memerlukan waktu satu detik untuk masuk ke peron. Hal ini membuat penumpang tidak mengantri mengular dan membuat kepadatan hanya untuk membeli tiket apalagi di jam sibuk.

Data yang didapat, sebanyak 15 persen dari sepuluh juta penumpang kereta bawah tanah Beijing membeli tiket untuk satu arah. Pada hari kerja ada 11 juta penumpang yang menggunakan kereta bawah tersebut.

Pusing dan Mual Selama Perjalanan? Ini Dia Tips Ampuh Atasi Mabuk Darat

Salah satu hal yang paling menyebalkan ketika tengah melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan moda darat adalah mabuk selama perjalanan atau yang kerap kali disebut mabuk darat. Pusing, mual, hingga rasa ingin muntah menjadi gejala dasar Anda terkena mabuk darat. Meskipun jarang terjadi terhadap pengemudi, tapi bukan tidak mungkin pengemudi terserang mabuk darat.

Baca Juga: Duduk di Kursi Belakang Bus Lebih Cepat Mabuk, Ini Dia Penyebabnya!

Nah, agar Anda bisa berkendara dengan aman dan selamat, berikut KabarPenumpang.com paparkan beberapa tips yang dapat mencegah Anda dari serangan mabuk darat, dikutip dari laman wikihow.com.

Sirkulasi Udara
Jika Anda mulai merasakan mual selama perjalanan, pastikan sirkulasi udara di kendaraan Anda berjalan dengan baik. Buka kaca agar udara yang terus berputar di dalam kendaraan bisa tergantikan dengan udara segar dari luar. Dengan membuka kaca, aroma kurang sedap yang berputar di dalam mobil pun bisa keluar.

Pindah Tempat Duduk
Penumpang yang duduk di bangku belakang merupakan penumpang yang paling rawan terserang mabuk darat. Maka dari itu, jika Anda mulai merasakan gejala mabuk darat, usahakan untuk pindah ke bangku yang paling depan (samping pengemudi) karena dokter percaya bahwa mabuk perjalanan disebabkan oleh otak yang bingung menafsirkan antara apa yang ditangkap oleh mata dan gerakan yang dirasakan oleh tubuh. Ketika penumpang pindah ke bangku paling depan, maka apa yang ditangkap oleh mata dan gerakan yang dirasakan oleh tubuh akan sinkron.

Menepi dan Beristirahat
Ini merupakan langkah lanjutan dari mengatur sirkulasi udara. Dengan menepi dan beristirahat, otot-otot tubuh yang semula tegang bisa kembali rileks dan gejala mabuk darat bisa diminimalisir. Jika sudah tidak kuat, Anda juga dapat memuntahkan isi perut Anda ketika tengah beristirahat.

Usahakan Untuk Tidak Dehidrasi
Dehidrasi bisa memperparah gejala mabuk darat. Pastikan Anda minum banyak air sebelum dan selama perjalanan untuk menghindari mabuk darat.

Baca Juga: Memahami Penyebab Mabuk Laut dan Cara Mengatasinya

Konsumsi Makanan yang Memiliki Rasa Kuat
Sebut saja permen mint hingga jahe dapat membantu Anda untuk menghilangkan rasa mual dan gejala lain dari mabuk darat. Makanan dengan rasa yang kuat dipercaya mampu mengatasi gejala mabuk darat.

Mengkonsumsi Obat Anti Mabuk
Walaupun disarankan untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan jenis ini, namun dengan meminum obat anti mabuk dapat meminimalisir gejala mabuk perjalanan.