PT KCI Gandeng PPD Hadirkan Bus Integrasi dari Stasiun Sudirman ke Gambir dan Blok M

PT Kereta Commuter Indonesia atau KCI kali ini bekerjasama dengan Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) berintegrasi memudahkan penumpang yang akan menuju stasiun Gambir maupun terminal Blok M. Adanya integrasi dengan bus milik PPD ini, dimulai sejak 16 Maret 2018 kemarin melalui peluncuran kartu Transcommuter (KMT khusus) dengan integrasi e-ticketing.

Baca juga: PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimun Baru untuk Kartu Multi Trip

Dengan adanya integrasi memudahkan penumpang yang akan menuju dua rute tersebut, sebab baik stasiun Gambir maupun terminal Blok M tidak dilalui oleh kereta commuter (KRL). Sehingga penumpang dengan tujuan kedua tempat tersebut bisa menggunakan bus PPD yang hadir di jalan Blora dekat stasiun Sudirman.

Layanan ini merupakan pilot project integrasi antara PT KCI dan PPD untuk meningkatkan pelayanan antara KRL dan bus PPD. Sebenarnya tidak hanya menggunakan KMT, bagi pengguna kartu bank dengan uang elektronik lain juga bisa digunakan untuk bus integrasi PPD tersebut.

Humas PT KCI Eva Chairunis mengatakan, dengan adanya integrasi ini penumpang hanya akan membayar tarif sebesar Rp5 ribu baik stasiun Sudirman-stasiun Gambir PP ataupun stasiun Sudirman-terminal Blok M PP. Saat ini, masa sosialisasi masih berlaku selama satu bulan kedepan sehingga penumpang yang tidak memiliki KMT bisa membayar dengan tunai dalam perjalanannya.

“Usai sosialisasi, semua penumpang nantinya akan menggunakan KMT untuk membayar ongkos mereka,” ujar Eva yang ditemui KabarPenumpang.com di pameran Railway, JI Expo Kemayoran, Jumat (23/3/2018).

Bus PPD yang disediakan untuk mengangkut penumpang di kedua rute ini akan bergerak setiap setengah jam sekali. Diketahui, untuk pembayaran dengan kartu tersebut akan disediakan seperti mesin EDC untuk mentap kartu sebelum penumpang duduk di dalam bus.

Sebenarnya untuk memudahkan penumpang, bila bukan pengguna kereta dan tidak menggunakan KMT atau kartu Transcommuter tersebut, bisa lebih mudah. Karena ada petugas yang akan menjual kartu tersebut di dalam bus PPD, sehingga penumpang tidak perlu repot untuk membayar tunai.

Baca juga: Di Korea Selatan, Bangunkan Penumpang di KRL Bisa Dapat Kopi Gratis!

Harga kartu Trancommuter Rp35 ribu dan penumpang akan mendapat saldo Rp15 ribu. Untuk selanjutnya tujuan lainnya saat ini belum jelas akan ada atau tidak.

“Tergantung pihak PPD akan ada lagi atau tidak,” ujar salah seorang staf humas KCI.

Pihak KCI juga saat ini tengah menyiapkan kereta simulator untuk digunakan dalam pendidikan atau digunakan dalam percobaan dengan pihak luar negeri di dipo Depok. Namun, belum jelas kapan simulator kereta ini akan di luncurkan ke masyarakat.

Teknologi On-Board Pegang Peran Penting Dalam Tingkatkan Kepuasan Penumpang Kereta

Penumpang dan operator moda transportasi memang saling terikat, dimana keduanya sama-sama saling membutuhkan satu sama lain. Penumpang yang hendak melakukan mobilisasi membutuhkan operator transportasi, begitupun sebaliknya. Guna melancarkan layanan perjalanan yang operator tawarkan, maka mereka pun harus berusaha untuk memikat penumpang dengan beragam cara. Kedua hal ini berjalan seiringan dengan perkembangan di sektor teknologi yang membawa dampak positif kepada dua belah pihak.

Baca Juga: Pengalaman Penumpang Jadi Penentu Pertumbuhan Layanan Kereta Cepat

Jika dulu penumpang yang hendak bepergian menggunakan kereta ke luar kota mesti membeli tiket langsung ke loket stasiun, kini mereka sudah bisa mengakses semuanya melalui gadget masing-masing. Begitupun layanan yang diberikan oleh operator kereta terhadap penumpang, masih serba terbatas pada jaman dulu. Berbeda dengan sekarang yang sudah serba canggih dan efisien. Sebut saja hadirnya WiFi on-board di sejumlah kereta yang menjadi tanda peningkatan layanan operator kereta terhadap penumpangnya, semuanya saling bersinergi.

Bahkan baru-baru ini, beberapa operator kereta sudah mulai berrencana untuk menawarkan personalisasi yang lebih luas kepada para penumpangnya, seperti melakukan pemesanan makanan selama perjalanan melalui aplikasi khusus. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalrailwayreview.com (9/3/2018), adapun operator kereta seperti SNCF, Newrest Wagons-Lits, Irish Rail, Northern Irish Rail, Rail Gourmet, East Midlands Trains, TransPennine Express, Grand Central, dan GWR sudah mulai memikirkan cara untuk menyanggupi layanan berbasis virtual tersebut.

Seperti yang sudah disinggung di atas, sentuhan teknologi mutakhir seperti ini semata-mata ditujukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dalam menggunakan layanan terkait. Head of Sales dari ECR Retail Systems, Mark Simpson pun menuturkan hal serupa.

“Perusahaan kereta api progresif semakin menyadari bahwa memiliki teknologi on-board terbaru dapat secara signifikan membantu meningkatkan kepuasan penumpang,” tandasnya. “Hal tersebut juga dapat menumbuhkan arus pendapatan baru bagi operator,” tambah Mark. Ia juga beranggapan bahwa kehadiran teknologi semaca ini dapat membantu operator untuk meraup pendapatan tambahan dengan cara menyesuaikan permintaan pelanggan secara lebih personal.

Baca Juga: Dengan Model Train Set, PT KAI Jadi Lebih Mudah Siapkan Layanan WiFi di Kereta

Berkaitan dengan asumsi ini, Rail Gourmet yang memiliki pelanggan dari TransPennine Express, East Midlands Trains, dan Grand Central Trains memutuskan untuk mulai mencari perusahaan yang mampu mengadakan solusi penjualan elektronik (Electronic Point-Of-Sale/EPOS) baru-baru ini. Pihak Rail Gourmet percaya bahwa penggunaan EPOS dapat menjadi solusi sekaligus penghubung antara penumpang dan petugas yang berada di kereta makan.

“Kami membutuhkan sistem yang cukup maju secara teknologi untuk menangani transaksi seluler dengan cepat, namun dapat diandalkan dan cukup intuitif bagi kru untuk digunakan,” ungkap pihak Rail Gourmet.

Renault EZ-GO, Moda Otonom yang Memiliki Desain Pintu Low Deck Unik

Sebagai salah satu raksasa manufaktur otomotif, sudah tidak heran jika Renault terus berusaha untuk mengikuti perkembangan jaman. Belakangan ini dunia otomotif global memang tengah diramaikan dengan eksistensi moda otonom. Tidak mau kalah, perusahaan otomotif asal Perancis ini pun turut mengembangkan kendaraan futuristiknya yang bernama EZ-GO, dari waktu ke waktu. Hingga pada perhelatan Geneva Motor Show 2018 yang diadakan di Swiss, Renault secara resmi memperkenalkan mahakaryanya.

Baca Juga: Luncurkan Electric Vehicle, Renault Janjikan Tempuh 279 Km Sekali Charge

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Renault EZ-GO yang bertenaga listrik ini mampu menampung hingga enam penumpang sekaligus. Namun, pihak Renault mendedikasikan moda futuristik ini sebagai kendaraan umum, layaknya bus yang berhenti di setiap pemberhentian, atau bahkan melayani perjalanan door-to-door layaknya taksi konvensional.

Sumber: iol.co.za

Renault EZ-GO memiliki panjang sekitar 5,2m, lebar 2,2m, dan tinggi 1,6m, termasuk kendaraan yang bisa dibilang ceper. Jika kebanyakan mobil memiliki pintu pada bagian sisinya, maka hal tersebut tidak berlaku pada Renault EZ-GO. Bagian belakang kendaraan futuristik ini akan membuka secara vertikal, dan dek dari kendaraan ini pun secara otomatis akan berubah jadi landai. Dalam kondisi terbuka seperti ini, Renault EZ-GO mampu menyediakan ruang kepala minimal 1,8m, atau 0,2m lebih tinggi ketimbang ukuran asli dari kendaraan ini.

Hadirnya dek landai pada Renault EZ-GO akan memudahkan para penyandang disabilitas, pengguna kereta bayi, hingga seseorang yang membawa trolley-bag. Selain itu, susunan bangku yang membentuk huruf U akan memudahkan penumpang untuk melakukan interaksi dengan penumpang lainnya. Bagi Anda yang kebetulan tengah membawa barang bawaan yang cukup banyak, Anda bisa menggunakan fasilitas penyimpanan barang yang juga tersedia di samping bangku penumpang.

Sumber: iol.co.za

Renault EZ-GO sendiri memiliki kemampuan mengemudi otonom Level 4, dimana kendaraan ini dapat mengatur jarak dari kendaraan yang berada di depannya, tetap berkendara di satu jalur, berpindah jalur (seperti menyalip), dan berbelok dengan sendirinya di persimpangan. Kendaraan ini juga bisa keluar dari jalan ke posisi parkir yang aman, baik menggunakan sistem keamanan yang terpasang atau melalui konektivitasnya dengan pusat pemantauan.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, Ericsson Gandeng Perusahaan Lokal Swedia

Adapun fitur keselamatan dari moda otonom yang mampu melesat hingga kecepatan maksimum 50km/jam ini adalah strip lampu yang dapat memberikan tanda kepada pengguna jalan lain bahwa ada orang yang menyeberang atau membunyikan klakson ketika ada yang menghalangi jalannya. Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh moda ini, bukan tidak mungkin Renault EZ-GO akan merajai angkutan umum di perkotaan kelak.

Mobil Otonom Uber Tabrak Pejalan Kaki Hingga Tewas di Arizona

Mobil tanpa pengemudi atau otonom beredar di Arizona untuk uji coba pada Minggu, 18 Maret 2018 kemarin sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Sayangnya uji coba mobil otonom tersebut yang dioperasikan Uber menabrak dan menewaskan seorang wanita di jalanan daerah Tempe, Arizona.

Baca juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom!

Padahal saat itu uji coba mobil otonom juga ada seorang pengemudi yang duduk di belakang setir. KabarPenumpang.com melansir dari laman nytimes.com (19/3/2018), diduga kematian pengguna jalan tersebut terkait dengan teknologi pada mobil otonom tersebut.

Karena ada kejadian ini , Uber kemudian menunda pengujian lainnya di Tempe, Pittsburgm San Francisco dan Toronto. Kecelakaan ini mengingatkan bahwa self driving masih dalam tahap percobaaan dan pemerintah masih mencari peraturan untuk mengatur ini.

Saat ini diketahui Uber, Waymo dan beberapa perusahaan teknologi lainnya serta pembuat mobil mulai memperluas pengujian kendaraan otonom mereka di kota-kota seluruh negeri. Perusahaan mengatakan mobil otonom akan lebih aman daripada yang biasa karena bisa mengalihkan perhatiannya saat berkendara.

Akibat adanya kecelakaaan yang terjadi di Arizona ini, belum jelas apakah perusahaan platform kendaraan dengan mobil otonom akan memperlambat peluncuran mobil tersebut di jalanan umum. Sebab saat ini sudah banyak mobil otonom yang diuji di lingkungan untuk mendapat peraturan yang bisa diberikan.

Beberapa kota di Arizona telah membuat beberapa regulasi yang mudah di pahami. Pejabat Arizona juga ingin memikat perusahaan yang bekerja pada teknologi otonom di negara tetangganya yakni California. Tetapi regulator di California dan di tempat lain telah menjadi lebih akomodatif akhir-akhir ini. Pada bulan April mendatang, California diperkirakan akan mengikuti jejak Arizona dan memungkinkan perusahaan untuk menguji mobil tanpa seseorang di kursi pengemudi.

“Insiden tragis ini memperjelas bahwa teknologi kendaraan otonom memiliki jalan panjang sebelum benar-benar aman bagi penumpang, pejalan kaki dan pengemudi yang berbagi jalan Amerika,” kata Senator Richard Blumenthal, Demokrat dari Connecticut.

Diketahui mobil Uber yang menabrak Elaine Hezberg tersebt adalah Volvo XC90 yang sudah dilengkapi dengan sistem penginderaan perusahaan dan berada dalam mode otonom tanpa penumpang hanya seorang pengemudi yang hanya duduk di belakang setir.

Baca juga: DriveHER, Ride Sharing dengan Pengemudi Wanita dan Khusus Bagi Penumpang Wanita

Ronald Elcock, juru bicara polisi Tempe mengatakan, bahwa penyelidikan awal menunjukkan bahwa kendaraan itu bergerak sekitar 40 mil per jam ketika itu menyerang Herzberg, yang sedang berjalan dengan sepedanya di jalan. Dia mengatakan itu tidak tampak seolah-olah mobil telah melambat sebelum benturan dan bahwa pengemudi keselamatan Uber tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

“Hati kami pergi ke keluarga korban. Kami sepenuhnya bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam penyelidikan insiden ini,” kata juru bicara Uber, Sarah Abboud, dalam sebuah pernyataan.

Aplikasi ini Diciptakan Khusus Untuk Membaca Ekspresi Anda Ketika Berkendara!

Dewasa ini, ada banyak sekali manufaktur otomotif yang tengah mengembangkan teknologi Electric Vehicle (EV) hingga moda otonom. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mengingkatkan keselamatan selama berkendara. Pasalnya, mayoritas kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalanan diakibatkan oleh kelalaian si pengemudi atau yang lebih dikenal dengan istilah human error. Para manufaktur otomotif ini sendiri berharap, bisa menekan angka kecelakaan lalu linas yang diakibatkan oleh human error.

Baca Juga: 85% Kecelakaan Lalu Lintas di Kenya Karena Human Error

Namun berbeda dengan apa yang tengah dikembangkan oleh sebuah startup yang berbasis di Bolton, Affectiva. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman futurecar.com (21/3/2018), Affectiva mengembangkan software unik yang akan memantau penumpang dan pengemudi yang ada di dalam kendaraan. Adapun tujuan dari Affectiva dalam menghadirkan produk unggulannya yang bernama Affectiva Automotive AI adalah untuk memonitor kewaspadaan pengemudi yang tengah berkendara, semata-mata untuk membantu mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas.

“Affectiva Automotive AI menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mengukur keadaan emosi dan kognitif pengguna kendaraan secara real-time,” ungkap CEO dan co-founder dari Affectiva, Rana el Kaliouby. Dengan menggunakan kecerdasan buatan seperti yang tertanam di Affectiva Automotive AI, bukan tidak mungkin moda otonom di masa yang akan datang dapat melakukan penyesuaian secara otomatis jika suasana hati si pengemudi sedang tidak menentu.

“Affectiva adalah satu-satunya perusahaan Artificial Intelligence (AI) yang dapat menyampaikan analisa seseorang dengan menggunakan algoritma yang dibangun dengan arsitektur pembelajaran mendalam yang dikembangkan secara khusus,” tutur Rana.

Wanita bergelar Doktor ini mengatakan bahwa perangkat lunak yang ia kembangkan bersama Affectiva dapat mengukur ekspresi wajah yang menunjukkan kegembiraan, kemarahan, dan terkejut; ekspresi vokal seperti kemarahan, tawa, dan kegembiraan; hingga yang paling penting adalah tanda-tanda pengemudi mulai mengantuk, seperti menguap, mata yang terpejam, hingga kedipan yang tidak wajar.

Jika diperhatikan, Affectiva Automotive AI hampir serupa dengan aplikasi yang dikembangkan oleh seorang profesor dari Hong Kong Bapist University, yang bernama Cheung Yiu-Ming. Perbedaannya hanya terletak pada fungsinya saja, dimana sistem yang dkembangkan oleh Prof. Cheung Yiu-Ming ini hanya dapat mendeteksi pengemudi yang mengantuk saja. Ketika sistem ini menemukan si pengemudi yang mulai mengantuk, maka alarm akan berbunyi.

Baca Juga: Aplikasi ini Dirancang Untuk Sadarkan Pengemudi Lelah dan Mengantuk

Alarm tersebut tidak akan berhenti berdering jika si pengemudi tidak memasukkan kode khusus yang sudah ia atur sebelumnya. Namun jika ditelaah lebih dalam, kehadiran aplikasi semacam ini dapat mengancam keselamatan pengendara, karena daya kejut dari alarm yang mampu mengagetkan si pengemudi dan bukan tidak mungkin moda tersebut akan mengalami kecelakaan.

Changi Sabet Gelar Bandara Terbaik Dunia Enam Tahun Berturut

Siapa yang tak kenal Singapura? Negara dengan maskot Merlion ini memiliki bandara yang cukup sibuk. Ya, Changi International Airport, menjadi salah satu hub transit banyak maskapai baik ke dan dari Eropa maupun Amerika. Bahkan ke sekitaran Asia pun, Changi juga menjadi salah satu tempat transit pesawat milik maskapai dunia.

Baca juga: Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang

Bandara Changi kali ini kembali menyabet gelar enam kali berturut-turut sebagai Bandara Terbaik Dunia pilihan pelancong dalam 2018 World Airports Awards yang diadakan oleh Skytrax. Ini juga menjadi sebuah sejarah dimana untuk pertama kalinya sebuah bandara memenangkan penghargaan prestisiuns tersebut selama enam tahun berturut-turut.

Bukan hanya sebagai bandara terbaik dunia, Changi juga menyabet gelar Bandara dengan Kenyamanan Fasilitas Terbaik. Acara pemilihan ini diadakan di Passenger Terminal EXPO di Stockholm, Swedia 21 Maret 2018 kemarin.

“Terpilih sebagai Bandara Terbau dunia enam tahun berturut-turut adalah sebuah pencapaian luar biasa bagi Bandara Changi Singapura, serta merupakan bukti akan popularitas Bandara Changi diantara para pelancong udara. Bandara Changi sangat fokus dalam membuat pengalaman bepergian di bandara menjadi nyaman dan praktis, dan terus berinovasi dengan produk dan layanan baru. Dinobatkan sebagai ‘Bandar Udara Terbaik di Dunia’ merupakan pengakuan bagi seluruh anggota staf di bandara yang berkontribusi pada kesuksesan Bandara Changi,” kata Edward Plaisted, CEO of Skytrax yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (22/3/2018).

Chief Executive Officer of Changi Airport Group Lee Seow Hiang mengatakan, pihaknya bangga dinobatkan sebagai Bandara Terbaik Skytrax selama enam tahun berturut-turut. Ini adalah pencapaian yang berarti bagi bandara Changi dan mendorong pihaknya untuk terus memberikan pengalaman terbaik bagi para pengunjung yang bepergian melalui Changi.

Bandara Changi sendiri berada di urutan pertama melewati bandara Incheon Seoul di urutan kedua, Tokyo Haneda di urutan ketiga. Urutan keempat ada Hongkong, Doha Hamad urutan kelima, Munich keenam, Centrair Nagoya di urutan ketujuh. Urutan kedelapan ada bandara Heathrow London, Zurich kesembilan dan yang terakhir bandara Frankfurt.

Dengan menjadi Bandara Terbaik Dunia, Kenyamanan Fasilitas Terbaik Dunia dan Bandara Terbaik di Asia, bandara Changi sendiri sudah memiliki Terminal 4 dan memperbaiki beberapa bagian di Terminal 1 di tahun 2017 kemarin. Sedangkan di tahun 2019 mendatang, Changi akan membuka Jewel Changi Changi Airport.

Baca juga: Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

Ini merupakan komplek ikonik yang diperuntukkan bagi banyak hal dan dilengkapi dengan destinasi hiburan tingkat dunia. Jewel Changi Airport sendiri dihadirkan untuk meningkatkan jumlah pelancong serta daya tarik Singapura sebagai salah satu destinasi.

Tak hanya itu, Changi juga tengah mencoba untuk menambah terminalnya satu lagi yakni Terminal 5 yang saat ini dalam pencanangan. Diketahui, tahun 2017, lebih dari 62,2 juta penumpang melalui hub salah satu Hub terbesar di Asia ini. Changi sendiri menjadi urutan keenam bandara tersibuk di dunia.

Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global

Apa yang terlintas pertama kali di benak Anda ketika ditanya soal pesawat yang paling banyak diproduksi hingga saat ini? Mungkin sebagian besar dari Anda akan menjawab salah satu produksian dari Boeing atau Airbus. Namun sayang sekali, bagi Anda yang menjawab Airbus, jawaban Anda kurang tepat karena tercatat hingga saat ini, salah satu armada dari Boeing masih merajai kategori pesawat yang paling banyak diproduksi sepanjang sejarah dunia aviasi global.

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

Belum ada satupun manufaktur pesawat yang bisa menyaingi kedigdayaan Boeing dalam urusan kuantitas produksi. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (19/3/2018), Boeing 737-lah yang hingga saat ini bercokol di urutan pertama pesawat yang paling banyak diproduksi di dunia, dengan total 10.000 pesawat!

Dengan nilai tersebut, Boeing 737 secara otomatis sudah mengalahkan sejumlah armada penerbangan ternama lainnya, seperti keluarga Airbus A320, Airbus A330, McDonnell Douglas MD-80, hingga Bombardier CRJ200. Boeing 737 sendiri pun memiliki beberapa varian, sebut saja Boeing 737-100, 737-200, 737-300, hingga beberapa yang paling baru seperti Boeing 737 Next Generation, Boeing 737 MAX, dan lain-lain.

Nah, sebagai generasi pertama dari keluarga Boeing 737, adalah Lufthansa, salah satu maskapai raksasa asal Negeri Bavaria, Jerman yang menjadi pelanggan pertama dari pesawat ini. Kala itu, Boeing 737-100 yang dipesan Lufthansa baru bisa menerbangkan 100 penumpang saja dalam sekali perjalanannya. Alhasil, 30 armada Boeing 737-100 berhasil dipasangkan livery Lufthansa. Walaupun tidak terlalu banyak, namun angka tersebut merupakan cikal bakal kesuksesan pesawat ini di masa yang akan datang.

Sumber: airportspotting.com

Untuk saat ini, Boeing 737-100 memang sudah tidak beroperasi lagi, mengingat teknologinya yang sudah tidak berterima dengan perkembangan jaman dewasa ini. Tapi jika Anda hendak melihat pesawat berjuluk ‘Baby Boeing’ ini, Anda bisa mengunjungi Seattle’s Museum of Flight yang berada di Amerika.

Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!

Sementara untuk generasi selanjutnya, seperti Boeing 737-200 dan lain-lain, Anda masih bisa melihatnya mengudara, walaupun jumlahnya sudah tidak terlalu banyak. Ternyata, kecilnya persentase kecelakaan dari keluarga Boeing 737-lah yang akhirnya menjawab pertanyaan, “Mengapa Boeing 737 menjadi pesawat paling sukses di dunia aviasi?”.

Dari jutaan penerbangan yang sudah dilakukan oleh generasi awal dari pesawat ini, tercatat hanya 0,89 persen kecelakaan fatal yang pernah terjadi. Didasarkan pada awalan yang sangat baik, maka bukan suatu hal yang sulit bagi Boeing untuk tetap melanjutkan tren positif mereka di generasi-generasi selanjutnya.

The Causey Arch, Jembatan Kereta Tertua yang Kini Masih Bisa Dilihat Keberadaanya

Berbicara tentang kereta api, banyak hal yang bisa dinikmati yakni, jalurnya, kereta, lokomotif hingga stasiun. Namun, tak terlepas dari jalur, jembatan kereta juga menjadi satu hal yang menarik untuk diperbincangkan.

Baca juga: Grand Danyang-Kunshan, Jembatan Kereta Yang Panjangnya Melebihi Jarak Jakarta-Bandung!

Di Indonesia sendiri terdapat banyak jembatan kereta baik itu yang memiliki dua jalur atas bawah hingga yang tertinggi. Ternyata, ada jembatan lainnya yang bisa menjadi keunikan jalur kereta itu sendiri, salah satunya adalah The Causey Arch.

Jembatan kereta ini berada di dekat jembatan Stanley di County Durham, Inggris bagian utara. The Causey Arch merupakan jembatan kereta api tertua yang masih ada di dunia. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, jembatan ini merupakan saksi dan kunci warisan industri Inggris.

The Causey Arch sendiri dibangun oleh tukang batu bernama Ralph Wood pada tahun 1725-1726 silam. Pembangunannya sendiri didanai oleh sebuah konsorsium pemilik batu bara lokal yang dikenal sebagai Grand Allies dengan biaya £12 ribu atau sekitar Rp232 juta. Selesainya pembangunan jembatan ini pada 1726 membuat The Causey Arch menjadi jembatan dengan rentang lengkung terjauh yakni 31 meter. Rekor panjang lengkung terjauh tersebut, dipegang oleh The Causey Arch selama 30 tahun hingga 1756.

Pembangunan jalur kereta ini untuk pengangkutan batu bara dari Arch menuju ke sungai Tyne. Selama masa jayanya, jalur ini sendiri diketahui dilewati lebih dari 900 gerobak yang ditarik oleh kuda melintasi jembatan tersebut setiap harinya.

Namun, setelah Ralph merangcangnya, dia ketakutan jika lengkungan jembatan tersebut akan runtuh dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tetapi, ketakutannya tersebut justru tak terjadi, bahkan jembatan The Causey Arch sendiri masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Sayangnya, meski sempat digunakan dan populer, jembatan tersebut tak lagi digunakan setelah Tanfield Colliery hancur karena kebakaran pada 1739. Bahkan, kini jembatan tersebut berada di Causet Arch Picnic Area dan terdapat sebuah prasasti yang tertulis “Ra. Wood, mason 1727”.

Baca juga: Sakalibel, Jejak Sejarah Jembatan Kereta Kedua Terpanjang di Indonesia

Jembatan tersebut sempat dipulihkan dan diperkuat pada 1980-an. Ada serangkaian jalur umum yang indah di sekitar area dan Causey Burn yang membentang di bawahnya. Pertambangan dekat jembatan adalah tempat yang populer bagi pemanjat tebing lokal. Causey Burn sendiri mengalir ke Beamish Burn yang kemudian mengalir ke River Team yang akhirnya dibuang ke Sungai Tyne.

DriveHER, Ride Sharing dengan Pengemudi Wanita dan Khusus Bagi Penumpang Wanita

Aplikasi ride sharing seperti Uber, Lyft hingga InstaRyde dan lainnya yang kini beredar di dunia lebih di dominasi oleh pengemudi pria. Sedangkan untuk pengemudi wanita sangat jarang atau hanya sekian persen dari pria.

Baca juga: “Ojek Online” Hadir di Melbourne, Tawarkan Mobilitas Tinggi dan Rendah Emisi

Pada 16 Maret 2018 kemarin, baru saja diluncurkan aplikasi ride sharing dengan pengemudi wanita. KabarPenumpang.com melansir dari laman inbrampton.com (16/3/2018), bahwa ride sharing yang bernama DriveHER tersebut akan hadir di jalanan GTA atau Greater Toronto Area.

Adanya aplikasi ini dibuat untuk mendorong keamanan, pemberdayaan, komunitas, kejujuran dan hal lainnya. “Prioritas kami adalah memastikan keamanan setiap wanita dalam perjalanan mereka. Baik itu penumpang maupun pengemudinya,” ujar DriveHER melalui situs web perusahaannya.

DriveHER mengatakan, di industri taksi Kanada pengemudi di dominasi oleh pria dan bila di rata-ratakan sebanyak 81,5 persen. Hal ini membuat DriveHER ingin mengubah hal tersebut untuk memberdayakan wanita untuk berada di belakang kemudi.

“Aplikasi DriveHER sendiri, adalah konsep yang jelas dan menarik. Jadi kami akan melihat seberapa besar daya tarik masyarakat dengan adanya aplikasi ride sharing ini,” kata DriveHER.

DriveHER sendiri tidak akan menaikkan harga dan memiliki fitur unik dimana perusahaan memiliki rencana untuk terhubung ke tempat penampungan dan menyediakan tumpangan kendaraan gratis bagi wanita dan anak-anak yang melarikan diri dari tindakan kekerasan rumah tangga. Aplikasi ride sharing ini menambahkan, jika ada penumpang pria yang ikut dalam mobil mereka dengan memiliki arah yang sama namun berbeda tujuan, pengemudilah yang menentukan akan seperti apa.

“Mereka (pengemudi) bisa memutuskan untuk membawa mereka atau merujuk ke layanan lain seperti Uber atau taksi konvensional lainnya,” kata DriveHER.

Baca juga: Tanpa Tarif Batas Jadi Senjata Ompreng.com Menangkan Pasar Ride-Sharing

Mereka menambahkan, bila pengemudi mengangkut penumpang pria tersebut, maka penumpang itu harus keluar terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk keselamatan penumpang wanita dimana mereka akan keluar yang paling terakhir.

Saat ini, DriveHER sudah membuka perekrutan untuk mengemudi bersama mereka. Tak hanya itu, perusahaan tersebut juga memiliki rencana untuk memperluas layanannya ke seluruh Kanada.

Grabr, Aplikasi yang Mampu Konversikan Ruang Kosong di Koper Menjadi Uang!

Jika selama ini layanan ride-sharing seperti halnya Uber sudah berhasil menetaskan ribuan hingga jutaan layanan yang memudahkan mobilitas para penumpang di seluruh dunia, maka pernahkah Anda mendengar soal luggage-sharing? Dari namanya saja, mungkin Anda sudah bisa menebak bahwa layanan ini berhubungan dengan penumpang, barang bawaan, dan sebuah layanan. Tapi sebenarnya, apa sih layanan luggage-sharing ini?

Baca Juga: Agar Barang Bawaan Tak Kena Denda, Cermati Ketentuan dari Bea Cukai di Bandara!

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au, sebuah startup yang bermarkas di San Francisco, Grabr, mengembangkan sebuah aplikasi dimana para penggunanya bisa menitipkan barang yang mereka bawa kepada orang lain dalam sebuah penerbangan. Jika selama ini Anda lebih sering menitipkan barang yang Anda bawa kepada rekanan atau keluarga, dengan Grabr, Anda bisa menitipkan barang bawaan tersebut kepada orang lain yang berperan sebagai kurir.

Secara garis besar, penggunaan aplikasi ini dapat menguntungkan para penumpang yang membawa barang bawaan berlebih, pun tidak merugikan penumpang lain yang masih memiliki banyak ruang di dalam kopernya. Seperti halnya menyewakan ruang kosong yang berada di dalam kopernya, maka si penumpang yang menitipkan barang bawaannya ini diwajibkan untuk membayar sesuai dengan dana yang sudah disepakati sebelumnya, dan Grabr akan memotong 7 persen dari dana tersebut sebagai laba perusahaan.

Guna menghindari tindakan kriminal yang mungkin terjadi, pihak Grabr tidak akan terlebih dahulu menurunkan dana yang sudah dibayarkan oleh pihak penyewa sampai kedua belah pihak bertemu kembali dan mengembalikan barang yang dititipkan. Ketika barang yang dititipkan sudah kembali kepada empunya dan dana sewa sudah masuk ke akun si pemberi sewa, maka tujuan dari hadirnya aplikasi ini pun bisa dibilang sudah tercapai.

“Dengan menggunaka Grabr, penyewa bisa menghemat paling sedikit 30 persen ketimbang mereka harus membayar kelebihan beban kepada pihak maskapai,” ungkap Michele Chanin, kepala dari Grabr Brazil. Sadar akan kemungkinan terjadinya kecurangan di dalam pengoperasiannya, Chanin menyebutkan bahwa aplikasi Grabr memiliki tautan ke situs web lembaga bea cukai di seluruh dunia. “Pengguna tetap harus mematuhi peraturan bea cukai yang berlaku di suatu daerah,”terang Michele.

Baca Juga: Ini Alasan Pentingnya Plastik Wrap Untuk Barang Bawaan

Grabr, yang bersaing dengan aplikasi lain termasuk PiggyBee dan Backpack, telah mengawasi lebih dari 350.000 pengiriman secara global sejak operasi dimulai, mulai dari Moskow hingga ke Ho Chi Minh City. Walaupun belum begitu mendunia, namun aplikasi ini sangat berkembang di Brazil, mengingat ada banyak barang yang tidak diperjual-belikan di negara pencetak pemain bola handal tersebut.