Menyoal Kepadatan Penumpang Kereta di Inggris, Desainer ini Adopsi Konsep Kursi Bar dan Jemuran

Tingkat kepadatan penduduk di suatu kota dapat diproyeksikan dari padatnya angkutan umum yang ada di kota tersebut. Semakin banyak penduduk, maka semakin padat pula penumpang di jaringan kereta kota itu. Berbicara soal kepadatan di jaringan kereta suatu kota, sudah barang tentu hal seperti ini menjadi pertimbangan operator kereta untuk mengatasi masalah kepadatan penumpang di dalam rangkaian kereta, terutama ketika jam sibuk.

Baca Juga: Muat Lebih Banyak Penumpang di Jam Sibuk, Kereta Komuter di New York Adopsi Kursi Lipat

Sebagai contoh, baru-baru ini UK’s Department of Transport mengamati bahwa banyak jalur komuter yang secara rutin mengangkut penumpang sekitar dua kali lipat melebihi kapasitas yang disediakan. Paul Priestman selaku pendiri dari perusahaan desain PriestmanGoode mengatakan bahwa tingkat kepadatan yang terjadi di kereta dilatarbelakangi oleh hadirnya kursi yang kurang fleksibel. “Penggunaan kursi tradisional di kereta, dimana penumpang menjulurkan kakinya ke arah tengah, itu terlalu memakan ruang,” ungkap Paul, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman wired.com.

Berkaca dari situ, Paul bersama tim akhirnya berupaya untuk mendesain ulang kembali kursi-kursi di dalam jaringan kereta di Inggris. The Horizon dan the Island Bay, merupakan dua kursi yang dirancang Paul bersama timnya, dimana mereka meyakini bahwa dengan menggunakan kursi ini, ketersediaan ruang di dalam kereta akan meningkat.

Dengan menggunakan kursi yang mengadopsi desain dari kursi bar ini, penumpang harus duduk sedikit lebih tinggi ketimbang kursi konvensional. Dengan dudukan bokong yang dibuat lebih tinggi, penumpang akan duduk sedikit lebih tegak. Ini akan berdampak pada berkurangnya ruang yang semula digunakan oleh kaki penumpang. Dengan begitu, kapasitas angkut gerbong pun secara otomatis akan bertambah.

Jika dalam kondisi mendesak atau memprioritaskan penyandang disabilitas, kursi ini pun dapat dilipat. Ketika kursi sedang terlipat, penumpang pun akan tetap dapat bersandar, mirip seperti bangku jemuran handuk yang dewasa ini banyak ditemui di stasiun-stasiun di Ibukota. Paul meyakini, dengan menggunakan kursi multi-desain ini dapat meningkatkan kapasitas penumpang hingga 30 persen.

Baca Juga: Bangku “Jemuran Handuk” di Stasiun Komuter, Tak Ramah Bagi Lansia dan Kaum Difabel

Terkait ketersediaan ruang lebih pada bagian kaki, Paul mengatakan bahwa ruang tersebut dapat digunakan untuk menyimpan barang bawaan para penumpang. Jika kursi seperti ini turut diadopsi di Commuter Line Jabodetabek, mungkin masalah kepadatan penumpang yang terjadi juga bisa teratasi ya!

Intip Kerlap Kerlip Wisata Kereta Api Khas Negeri Sakura

Selain terkenal dengan industri film kartunnya yang mendunia, Jepang juga beken dengan dunia perkeretaapiannya. Sebut saja Shinkansen, salah satu pionir kereta cepat di dunia ini banyak dijadikan benchmark oleh beberapa negara lain. Saking cintanya akan jaringan perkeretaapiannya, banyak warga Jepang yang tergabung dalam satu komunitas yang mengatasnamakan dirinya sebagai pecinta kereta (railway geeks).

Baca Juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang

Tapi, jangan kira Jepang hanya memiliki kereta yang secara harfiah ditugaskan untuk mengantar penumpang saja. Jika ditelisik lebih dalam, ada banyak lho jenis kereta di Negeri Sakura yang mengemban dua tugas sekaligus ; Mengantarkan penumpang, dan memberikan pelayanan khusus kepada para penumpangnya. Kira-kira, layanan apa saja ya yang disuguhkan oleh perkeretaapian Jepang ini? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tsunagujapan.com, inilah beberapa kereta yang menyuguhkan layanan khusus di dalam perjalanannya.

Sanriku Railroad

Sumber: tsunagujapan.com

Berbeda dengan kebanyakan kereta yang memiliki tempat duduk konvensional, Sanriku Railroad memiliki satu layanan yang dikenal dengan kotatsu train. Dalam bahasa Jepang, kotatsu sendiri merupakan meja yang pada bagian bawahnya memiliki sistem penghangat ruangan dan pada bagian sisi-sisinya dilengkapi dengan kain tebal semacam selimut.

Dengan atmosfer yang kental dengan nuansa rumah khas Jepang, membuat kereta yang mengular di Prefektur Iwate ini selalu ramai ditumpangi oleh para penumpang yang biasanya didominasi oleh wisatawan.

Tohoku Emotion

Sumber: jreast.co.jp

Jika Sanriku Railroad memiliki nuansa rumah khas Jepang yang sangat kental, maka berbeda dengan Tohoku Emotion yang terkenal dengan Tohoku Restaurant Railroad-nya. Sesuai dengan namanya, kereta ini mengambil tema utama restoran ala Jepang yang siap mengantarkan Anda dari Hachinohe di Aomori menuju Kuji di Iwate.

Alih-alih menggunakan makanan siap saji yang tinggal dipanaskan, Tohoku Restaurant Railroad memiliki ruang khusus dimana para juru masak dapat meracik langsung makanan yang dipersan oleh para penumpang.

Sagano Sightseeing Railroad

Sumber: tsunagujapan.com

Jika Anda belum pernah merasakan sensasi berkereta di alam terbuka, nampaknya menjajal perjalanan menggunakan Trolly Train akan membuat pengalaman pertama Anda sangat berkesan. Bagaimana tidak, kereta yang menghubungkan Sagano Station dan Kameoka Station dalam waktu 25 menit ini turut menyertakan gerbong khusus di akhir rangkaiannya. Gerbong khusus ini didesain tanpa menggunakan kaca, dan penumpang dapat merasakan kesejukan alam selama perjalanan. Tertarik mencobanya?

Baca Juga: Jelang Pensiun, JR West Pamerkan Kereta Peluru Tematik, Shinkansen 500 EVA “Evangelion”

JR Kyushu

Sumber: tsunagujapan.com

Kereta yang menghubungkan Kumamoto dan Hitoyoshi di Kyushu ini akan menggiring Anda menuju era 70-an, dimana nuansa klasik sangat mendominasi seisi kereta. Dengan turut pula menyematkan prasmanan hingga ruang khusus untuk membaca, satu titik yang menjadi daya tarik para penumpang adalah bagian lokomotifnya yang sangat klasik nan elegan.

Google Maps Hadirkan Fitur yang Siap Dukung Kaum Difabel

Sebagai salah satu mesin pencarian terbesar di dunia saat ini, sudah selayaknya perusahaan sebesar Google terus melakukan peningkatan di segala lini. Hal ini semata-mata dilakukan untuk meningkatkan pelayanannya dan semakin menjauhkan diri dari para pesaingnya. Melalui salah satu aplikasi andalannya, Google Maps, perusahaan yang berbasis di California, Amerika ini baru saja merilis fitur yang mampu memudahkan aksesibilitas dari para penyandang disabilitas.

Baca Juga: Dilema Penyandang Disabilitas di Transportasi Publik

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (16/3/2018), kehadiran tangga dan eskalator di prasarana transportasi seperti stasiun dan halte bus memang terbukti memudahkan bagi sebagian orang, namun tidak bagi para penyandang disabilitas. Ambil contoh bagi pengguna kursi roda, tentu kehadiran tangga atau eskalator akan menjadi problematika tersendiri bagi mereka. Para pengguna kursi roda membutuhkan bidang datar yang agak landai agar dirinya bisa naik ke tempat yang lebih tinggi.

Walaupun dewasa ini belum terlalu banyak prasarana transportasi yang dilengkapi dengan aksesibilitas bagi kaum difabel, namun mereka berjanji untuk menambahkan jalur khusus bagi para penyandang disabilitas ini. Melalui fitur terbarunya di Google Maps ini, Google berharap dapat memudahkan perjalanan kaum difabel, khususnya bagi mereka yang menggunakan kursi roda.

Sumber: newatlas

Di dalam aplikasi Google Maps, Anda bisa menekan tombol “Option” dan mencentang pilihan “Wheelchair Accessible”. Dengan begitu, Google secara otomatis akan menyortir lokasi mana saja yang menyediakan akses khusus bagi para penyandang disabilitas ini. Jika ditelaah lebih jauh lagi, sebenarnya langkah yang diambil Google dalam menghadirkan fitur terbarunya ini adalah untuk menyeimbangkan sarana transportasi berbasis massal seperti kereta dan bus yang sudah menyediakan ruang khusus bagi para penyandang disabilitas di dalamnya.

Baca Juga: Perusahaan Bus di California Hadirkan Peta Audio dan Tactile Untuk Kaum Difabel

Namun, fitur terbaru ini belum bisa dinikmati oleh kaum difabel di seluruh dunia. Pasalnya, hingga saat ini, para pengguna Google Maps yang berada London, New york, Tokyo, Mexico City, Boston, dan Sydney saja yang baru bisa mengakses fitur “Wheelchair Accessible” ini. Kedepannya, Google berharap bisa menerapkan fitur ini di seluruh dunia. Dengan harapan, dapat memudahkan aksesibilitas dari para pengguna kursi roda.

Ceroboh! United Airlines Salah Terbangkan Anjing yang Tengah Sakit

Lagi, nama United Airlines menjadi sorotan publik dunia. Maskapai asal Negeri Paman Sam yang terkenal kontroversial ini kembali harus dihadapkan pada cercaan warganet setelah salah menerbangkan seekor anjing. Seharusnya, anjing berjenis German Shepherd ini dikirim ke Wichita, Kansas, Amerika Serikat, namun pada kenyataannya anjing peliharaan ini malah sampai di Jepang! Lho, kok bisa?

Baca Juga: Penutup Mesin Boeing 777 Lepas, United Flight 1175 Lakukan Pendaratan Darurat!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman CNN (15/3/2018), kejadian ini bermula ketika keluarga Swindle, empunya si anjing, hendak berpindah dari Oregon menuju Wichita bersama Irgo, anjing kesayangan mereka yang berusia 10 tahun. Semuanya berjalan lancar, sampai pada Selasa (13/3/2018), salah saeorang anggota keluarga yang bernama Kara Swindle berencana untuk menjemput Irgo di fasilitas kargo milik United Airlines di Kansas City.

Alih-alih bertemu dengan Irgo, Kara malah mendapati seekor anjing berjenis Great Dane. Kara yang bingung lalu protes ke pihak United, dan mereka menjelaskan bahwa anjing tersebut seharusnya dikirim menuju Jepang. Irgo dan anjing berjenis Great Dale tersebut sama-sama transit di Denver, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan mereka sesuai dengan tujuannya masing-masing.

“Mereka tidak tahu di mana anjing itu (Irgo) berada. Mereka tidak tahu sampai pukul 02.30 pagi pada Rabu kemarin, saat pesawat mendarat di Jepang,” ungkap Kara. Lebih lanjut, Kara sangat khawatir akan kesehatan anjingnya tersebut. Pasalnya, Irgo baru pertama kali mengudara dan dirinya tidak memiliki persediaan air dan makanan yang cukup untuk melakukan perjalanan lebih dari 16 jam menuju Jepang. Kondisi tersebut diperparah dengan kondisi Irgo yang tengah didera infeksi telinga.

Angin baik berhembus di keluarga Swindle manakala mereka mendapat kabar dari pihak United yang mengatakan Irgo telah sampai di Bandara Narita dalam keadaan sehat dan siap diterbangkan pada Kamis (15/3/2018) malam waktu setempat. Pihak United pun menjamin bahwa perjalanan Irgo akan didampingi oleh dokter hewan hingga ia tiba di tujuan.

Baca Juga: Tega! United Airlines Seret Keluar Penumpang Yang Tengah Berkabung

Atas kejadian ini, United meminta maaf kepada kedua belah pihak (keluarga Swindle dan pemilik anjing Great Dale) dan berjanji untuk menyelidiki penyebab tertukarnya kedua anjing tersebut. “Ada kekeliruan ketika di Denver sehingga dua hewan peliharaan dikirim ke tujuan yang salah,” aku salah satu manajemen United.

Taman Hiburan di Jepang Tawarkan Sensasi Bermalam di Dalam Sebuah Polong yang Mengambang!

Dapatkah Anda bayangkan bermalam di sebuah taman hiburan? Mungkin sebagian dari Anda akan berpikir dua kali untuk menghabiskan malam di tempat seperti ini, yang notabene ramai di siang hari dan sepi ketika malam menjelang. Namun jangan salah, sebuah taman hiburan di Jepang berencana untuk membuka layanan bermalam di sebuah pulau yang terletak tidak terlalu jauh taman hiburan tersebut. Wah, seperti apa ya kira-kira sensasinya?

Baca Juga: Gerbong dan Lokomotif Ini Disulap Menjadi Sebuah Penginapan Luxury!

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (12/3/2018), Huis Ten Bosch yang berada di Sasebo, Prefektur Nagasaki, Jepang akan segera membuka layanan bermalam di sebuah polong berbahan dasar fiber. Polong berdiameter 6,4m tersebut akan mengambang di air dan memberikan sensasi tersendiri bagi para pengunjungnya. Mengingat fungsinya sebagai kamar hotel, maka tidak heran jika pihak taman hiburan mendesain polong ini sedemikian rupa sehingga kelak pengunjung dapat merasakan kenyamanan ketika bermalam di sana.

Interior di Dalam Polong. Sumber: asia.nikkei.com

“Saya ingin para tamu memiliki pengalaman yang luar biasa, menikmati pemandangan yang luar biasa dari luar jendela,” ungkap salah satu pejabat di taman hiburan tersebut, Hideo Sawada. Mungkin beberapa dari Anda langsung berpikiran, “Bagaimana jika polong ini terbalik?” Tentu saja hal tersebut sudah masuk ke dalam perhitungan pihak taman hiburan sebelumnya. Dengan menggunakan teknologi khusus, pihak taman hiburan menjamin bahwa kekhawatiran pengunjung tersebut tidak akan terjadi.

Para pengunjung yang hendak mencoba sensasi bermalam di tempat ini akan masuk ke dalam polong, dan nanti polong tersebut akan ditarik menuju pulau dengan menggunakan sebuah perahu. Perjalanan menuju pulau ini akan dilakukan pada malam hari, dan diperkirakan sampai di pulau tersebut pada pagi hari. Sesampainya di pulau, tamu dipersilakan untuk menikmati sarapan yang sudah disiapkan dan menikmati sisa waktu mereka di dalam polong tersebut.

Adapun polong yang mampu menampung dua hingga tiga tamu ini direncanakan mulai beroperasi pada musim panas tahun ini, mengingat pihak taman hiburan masih mempersiapkan beberapa hal guna menunjang kelangsungan operasi polong tersebut. Walau masih belum beroperasi, namun pihak hotel berencana untuk mengembangkan polong yang bisa bergerak sendiri di masa yang akan datang.

Baca Juga: Lama Tak Terpakai, Gerbong Tua Ini Disulap Jadi Kamar Hotel Mewah

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mencoba sensasi bermalam di dalam polong ini? Pastikan kocek Anda cukup tebal, karena harga yang ditawarkan untuk bermalam di hotel sensasional ini berkisar antara US$473 (Rp6,5 juta) sampai US$946 (Rp13 juta).

Ukur Kepuasan Pelanggan Melalui Polling, HappyOrNot Sebut Bandara ini Sebagai yang Paling ‘Bahagia’ di Dunia!

Guna mendapatkan predikat sebagai bandara terbaik, kepuasan penumpang menjadi salah satu faktor penting selain pelayanan yang diberikan oleh petugas bandara itu sendiri. Mulai dari kebersihan, keramahan petugas, dan banyak aspek lain yang bisa menjadi bahan penilaian untuk menentukan, apakah bandara tersebut pantas mendapatkan titel sebagai yang terbaik atau tidak.

Baca Juga: Haneda, Bandara Terbersih di Dunia Cerminan Budaya Jepang

Nah, guna menyortir kepuasan pelanggan akan pelayanan yang telah diberikan, sebuah perusahaan asal Finlandia, HappyOrNot Ltd. menyediakan perangkat yang dapat mewakili aspirasi pelanggan. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz (15/3/2018), perangkat ini tersusun dari empat ekspresi wajah, dimana masing-masing ekspresi tersebut memiliki warna yang berbeda-beda.

Warna hijau tua mewakili ekspresi gembira; Hijau mewakili ekspresi senang; Merah muda mewakili ekspresi kurang puas, dan Merah untuk mewakili perasaan tidak puas. Mungkin bisa dibilang, fitur yang saat ini sudah tersebar di 160 bandara di 36 negara ini mirip dengan fitur serupa yang biasa Anda temui di mini-market, namun HappyOrNot memiliki tampilan yang lebih elegan dan menarik perhatian.

“Ide untuk mengadakan HappyOrNot ini muncul 15 tahun yang lalu, ketika saya tidak bisa menyuarakan ketidakpuasan akan toko game yang ada di Finlandia,” ungkap CEO HappyOrNot Ltd., Heikki Väänänen. “Teknologi kami memungkinkan hubungan antara konsumen dengan pengembangan bisnis. Pelanggan bisa merasa lebih dihargai, dan perusahaan dapat memperbaiki dan menyempurnakan layanan mereka,” tandasnya.

Tentu saja perangkat HappyOrNot yang tersebar di 160 bandara tersebut tidak hanya sebatas hiburan atau pelengkap saja, melainkan aspirasi pelanggan yang dituangkan dengan cara menekan tombol ekspresi tersebut dapat direkap. Dari situ, otoritas yang terkait dapat memantau reaksi pelanggan akan layanan yang sudah mereka berikan sebelumnya. Data yang dihadirkan memiliki beberapa rupa, mulai dari diagram hingga grafik.

“Di sebagian besar bandara, bagian pemeriksaan keamanan adalah titik yang paling memuaskan bagi para penumpang. Baggage Claim merupakan bagian yang paling membuat penumpang tidak nyaman,” tutur Heikki. Lalu bagaimana jika ada pengunjung yang tidak secara serius menanggapi mesin polling ini, semisal ia menekannya secara berkali-kali di tombol yang berbeda? “Sistem kami akan menyortirnya dan menambahkan catatan pada data tersebut,” jelasnya.

Baca Juga: Berada di Atas Awan, Daocheng Yading Jadi Bandara Tertinggi di Dunia!

Heikki membocorkan, dari 36 negara yang memasang perangkat HappyOrNot, Exeter Airport yang berada di Inggris tercatat sebagai bandara yang memiliki rating kebahagiaan tertinggi di antara semuanya. “Mungkin pelayanan mereka yang hebat dapat dijadikan panutan.” Tutupnya.

Tingkatkan Kualitas Layanan, MRT Singapura Gandeng McLaren Gunakan Teknologi Formula 1

Moda transportasi massal semakin hari semakin berkembang dengan adanya minat ditambah antusias masyarakat yang menggunakannya setiap hari. Kehadiran Mass Rapid Transit (MRT) di Singapura yang menunjang transportasi masyarakatnya membuat SMRT selaku operator berupaya meningkatkan kualitas layanannya.

Baca juga: Tempatkan Tenaga Ahli di Kereta Nirawak, MRT Singapura Mampu Saingi Kinerja Sistem Metro Taipei

SMRT baru-baru ini menggandeng McLaren Applied Technologies yang merupakan bagian dari tim Formula 1 (F1) untuk bekerja sama dalam solusi pemantauan motor, rem, sistem pneumatik dan gearbox di kereta MRT Singapura. SMRT mengatakan, data yang ada nantinya digunakan untuk pengambilan keputusan sehingga layanan bisa lebih optimal.

KabarPenumpang.com melansir dari channelnewsasia.com (15/3/2018), bahwa pemantauan semacam ini menurut SMRT biasa digunakan oleh mobil balap F1 untuk memberikan informasi penting yang berasal dari pengambilan data secara spesifik dan real time pada kru dan teknisi F1.

“Di Singapura, SMRT telah merintis pengembangan sensor pemantauan kondisi rel untuk meminimalkan gangguan pada layanan komuter kami, mengoptimalkan kinerja kereta api dengan mendeteksi dan memperbaiki masalah yang muncul lebih dini. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan McLaren Applied Technologies untuk meningkatkan kemampuan ini lebih jauh, menggabungkan keahlian teknik kami di bidang kereta api dengan kemampuan mereka yang terbukti memanfaatkan sensor, telemetri dan perangkat lunak di motorsport,” ujar CEO SMRT Desmond Kuek.

Kuek mengatakan, teknologi McLaren ini akan disesuaikan dan dipasang pada kereta SMRT akhir tahun 2018. Sementara itu, McLaren Group Acting CEO Dick Glover mengatakan, pihaknya sangat antusias dan menyambut baik kerja sama dengan SMRT.

“Kami sangat antusias untuk mengikuti langkah pertama ini di Singapura bersama SMRT, bekerja sama untuk menyesuaikan teknologi motorsport kami yang telah terbukti untuk mengoptimalkan kinerja armada dan memberikan perbaikan berkesinambungan terhadap pengalaman penumpang,” ujar Glover.

Baca juga: Remajakan Armada, MRT Singapura Adopsi Kursi Lipat Guna Antisipasi Lonjakan Penumpang

Diketahui, MRT Singapura kini mulai berbenah setelah beberapa masalah yang membuat layanannya terganggu pada tahun 2017 kemarin. Salah satunya adalah terowongan MRT yang tergenang banjir antara stasiun Bishan dan Braddell dan melumpuhkan perjalanan MRT selama 20 jam.

Tak hanya itu, masalah tabrakan antar sesama kereta MRT pada November 2017 lalu juga mengakibatkan 29 orang luka-luka. Sehingga operasional di jalur stasiun Joo Koon menuju Tuas Link dihentikan seharian.

Akibat Masalah Teknis di Terminal 1 dan 2, Bandara Sydney Tak Beroperasi Beberapa Jam

Bandara Sydney (Kingsford Smith Airport) di New South Wales, Australia dilaporkan baru-baru uini mengalami masalah teknis pada Terminal 1 dan Terminal 2. Masalah ini membuat penumpukan penumpang bukan hanya di dalam melainkan membuat antrian mengular hingga keluar.

Baca juga: Gara-Gara Listrik Mati, Bandara Sydney Menuai Delay Panjang

KabarPenumpang.com melansir dari laman zdnet.com, juru bicara bandara Sydney mengatakan bahwa masalah ini membuat mereka tidak bisa memproses pelanggan. Kesalahan yang ada terkait dengan sistem dan mempengaruhi beberapa kamera, pintu bandara hingga alarm. Hal ini membuat pihak bandara tidak bisa memproses untuk memastikan keselamatan penumpang yang akan terbang. Pihaknya juga mengatakan agar penumpang mengecek pada maskapai masing-masing karena masalah ini.

“Kami mengalami masalah teknis di T1 dan T2 yang menyebabkan gangguan pemrosesan dan penundaan penumpang. Dan kami berupaya meyelesaikan masalah ini secepat mungkin dan terimakasih atas kesabaran Anda,” kata pihak bandara melalui akun Twitter mereka.

General manager of corporate affairs Bandara Sydney,  Sally Fielke mengatakan, Terminal 3 beroperasi penuh, sedangkan di T1 dan T2 hanya mempengaruhi penerbangan keluar. “Kami mengalami penundaan keluar sementara. Kami akan memulai beberapa pemrosesan manual sehingga penerbangan bisa mulai bergerak,” katanya.

Pihak bandara juga memberitahukan, agar penumpang tidak dulu ke T1 dan T2 sampai pemberitahuan lanjutan. Akibat masalah teknis ini selain penumpang yang terlantar, beberapa maskapai seperti Jetstar, Virgin dan Tiger terkena dampaknya.

Dalam tweet yang dituliskan Virgin Australia, Jumat pukul 08.40 waktu setempat, pemeriksaan keamanan di bandara mulai kembali dibuka dan beroperasi secara normal. “Jalur keamanan di bandara Sydney sekarang sudah kembali beroperasi pada muatan  normal menyusul masalah teknis yang sebelumnya terjadi. Akibatnya beberapa layanan Virgin Australia mungkin akan terpengaruh,” tulis maskapai tersebut di akun Twitternya.

Baca juga: Buntut Penangkapan Teroris di Sydney, Seluruh Bandara di Australia Alami Penumpukan Penumpang

Diketahui gangguan yang terjadi pada hari Jumat itu, datang 24 jam setelah terminal domestik mengalami masalah dengan persediaan air, dimana para pelancong mengeluh bahwa toilet menyala tidak sama dengan biasanya. Masalah ini terjadi di T2 dan T3.

Selain itu kejadian masalah teknis pada teknologi informasi bandara Sydney juga pernah terjadi bulan September 2017 lalu. Penundaan penerbangan selama dua jam lebih karena sistem Airservices terkena masalah.

Korea Selatan Minat Bangun Jaringan Kereta di Sumatera Utara

Kabar menggembirakan datang dari provinsi Sumatera Utara, dimana sebuah perusahaan umum asal Korea, Korea Rail Network Authority (KRNA) secara terang-terangan menyatakan minatnya untuk melakukan investasi dengan membangun sistem transportasi kereta di provinsi yang terkenal dengan Danau Tobanya tersebut.

Baca Juga: Sumatera Utara Ternyata Punya 10 Bandara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (15/3/2018), manajer umum otoritas untuk divisi luar negeri KRNA, Park Dae-geun menyebutkan bahwa perusahaan tersebut tertarik untuk berinvestasi di provinsi Sumatera Utara setelah dirinya bertemu dengan sekretaris daerah (sekda), Ibnu S. Hutomo. Dirinya mengatakan bahwa provinsi tersebut membutuhkan sistem transportasi yang lebih baik dan cepat, mengingat pertumbuhan populasi dan ekonomi yang terhitung cepat.

“Pemerintah Sumatera Utara berkeinginan untuk mengembangkan jalur kereta api untuk menghubungkan Medan dari Pematang Siantar ke daerah resor Danau Toba di Bandara Parapat dan Silangit di Tapanuli Utara,” tutur Ibnu menyambut baik niatan dari pihak Korea tersebut. “PT KAI hanya menghubungkan Medan dan Pematang Siantar saja,” tandasnya.

Entah minatnya untuk mengadakan sarana transportasi di provinsi Sumatera Utara dilandaskan pada upaya untuk melebarkan sayap perusahaan atau bukan, namun seperti yang diketahui bersama, KRNA merupakan salah satu pengembang dari proyek pengadaan Light Rapid Transit (LRT) di Jakarta.

Lebih lanjut, Ibnu menandaskan bahwa menghadirkan moda transportasi yang andal merupakan prioritas pemerintah, terutama dalam upayanya untuk mengakomodasi wisatawan domestik dan mancanegara yang bertandang ke Tanah Batak.

Akhir tahun lalu, PT Angkasa Pura II menyelesaikan renovasi di Bandara Silangit sebagai salah satu upaya untuk menarik wisatawan dan mempromosikan Danau Toba sebagai destinasi wisata utamanya. Renovasi tersebut mencakup perpanjangan landasan pacu hingga 2.650m dari 2.400m, perluasan kapasitas apron dan terminal bandara dengan total investasi US$27,7 juta atau yang setara dengan Rp369 miliar.

Baca Juga: Mau ke Pulau Samosir? Ini Pilihan Rutenya

Apron baru ini dipercaya mampu menampung dua pesawat Boeing 737-500 dan empat pesawat Boeing 737-900 ER. Sementara terminal yang telah direnovasi akan mampu menampung penumpang hingga 1 juta orang, yang sebelumnya hanya mampu menampung 36.500 penumpang setiap tahunnya. Selain untuk tujuan wisata, Ibnu juga mengatakan pemerintah pun berencana akan membangun jalur kereta api yang menghubungkan beberapa daerah lain, seperti Binjai, Deli Serdang, dan Karo.

Pramugari Emirates Lompat dari Pesawat, Akhirnya Tewas Sehari Setelah Jalani Perawatan

Pesawat Emirates Boeing 777 yang terparkir di landasan pacu Bandara Internasional Entebbe Uganda sempat mengalami keterlambatan keberangkatan menuju Dubai pada Rabu (14/3/2018) lalu. Hal ini disebabkan seorang pramugari melompat dari pintu dan langsung menghujam ke permukaan aspal apron. Akibat aksi nekadnya, sang pramugari mengalami luka parah.

Baca juga: Lakukan Pendaratan Darurat, Penumpang Southwest Airlines Dibuat Bingung dengan Sosok Misterius di Sayap

KabarPenumpang.com merangkum dari laman dailymail.co.uk (15/3/2018), bahwa penerbangan EK729 tersebut tiba di Entebbe sekitar pukul dua siang waktu setempat dan di jadwalkan kembali ke Dubai pukul 15.25. Saat itu penumpang tengah bersiap untuk masuk ke pesawat untuk pemberangkatan berikutnya ke Dubai.

Sejumlah saksi yang melihat kejadian tersebut sempat melihat pramugari itu berbincang dengan rekan kerjanya sebelum melompat keluar. Kemudian dia menjepit botol kaca di dagunya sebelum melompat dari pesawat yang memiliki tinggi lebih dari 15 meter tersebut.

“Lututnya hancur dan tubuhnya luka karena terkena pecahan dari botol yang dibawanya itu,” ujar seorang saksi yang tidak disebutkan namanya tersebut.

Kemudian pramugari tersebut dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan pihak Emirates bersama keamanan setempat melakukan penyelidikan untuk mencari penyebabnya. Sayangnya, pramugari yang belum diidentifikasi nama dan kewarganegaraanya tersebut meninggal pada Rabu malam setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Juru bicara Ugandan Civil Aviation Authority (CAA), Vianney Luggya mengatakan, pramugari tersebut meninggal karena luka serius di bagian kepalanya. Diketahui, pramugari tersebut dengan sengaja membuka pintu keluar dan melompat dari pesawat.

Baca juga: Ceroboh, Pramugari Ini Jatuh ke Tarmak dan Alami Patah Tulang

“Kami bisa memastikan bahwa anggota awak kabin kami terjatuh dari pintu yang terbuka sembari menyiapkan pesawat untuk penumpang bisa naik dan berangkat dari Entebbe pada tanggal 14 Maret. Anggota kabin kami yang cedera tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat. kami menyediakan semua dukungan dan perawatan yang mungkin bagi kru kami yang terkena dampak dan akan memperpanjang kerja sama kami dengan pihak berwenang untuk menyelidiki kasus ini,” ujar juru bicara Emirates.

Dari foto yang beredar di media sosial menunjukkan, wanita tersebut mengenakan seragam Emirates, terbaring telungkup di aspal dan aliran darah tersebar di sekitar kepalanya.