Salah Duduk Usai dari Toilet, Penumpang Emirates Sampai Tak Makan Selama 8 Jam Penerbangan

Seorang pria berusia 71 tahun asal Nigeria mengklaim dirinya ditinju, mulut ditutup dan diikat oleh awak pesawat Emirates Airlines. Hal itu dirasakannya selama delapan jam selama penerbangannya dari Dubai menuju Chicago. Saat itu, pria tersebut berangkat untuk bertemu dengan istri serta anak-anaknya yang sudah bermigrasi ke Ameriika Serikat empat bulan lalu.

Baca juga: Salah Paham, Penumpang IndiGo Airways Adu Jotos dengan Petugas di Apron

KabarPenumpang.com melansir dari laman news.com.au (1/2/2018), pemicu adanya masalah ini berawal dari David Ukesone menduduki kursi yang salah dan awak kabin memintanya untuk pindah. Diketahui, dalam penerbangan dengan Emirates, Ukesone awalnya duduk di kursi 35D. Selama penerbangan diduga Ukesone ke toilet tetapi saat kembali lupa dan duduk bukan kursi 35D.

Saat itulah seorag awak kabin mendekatinya dan meminta untuk pindah dan membuat Ukesone bingung. Dia mengatakan ini adalah tempat duduknya yang benar. Ukesone sendiri sebenarnya bisa berbicara dan mengerti bahasa Inggris, namun terkadang sulit memahami selain aksen orang Nigeria.

“Dia diminta untuk pindah dan dia ingin membawa tasnya ke kompartemen di atasnya. Mereka mengatakan kepadanya bahwa dia berada di kursi yang salah dan mereka menanganinya untuk memindahkan Ukesone tetapi disitu emosi sudah meningkat,” ujar pengacara Howard Schaffner.

Karena tidak ada tanggapan, pengacara mengklaim bahwa ada seorang awak kabin yang memukul kliennya tersebut dan meninggalkan luka di wajah. Schaffner juga mengatakan, kliennya tersebut tidak diberi makan selama delapan jam penerbangan, sebab mulutnya ditutup plester.

Akibat kejadian ini, Emirates Airlines kemudian mengonfirmasi dan mengatakan Ukesone tidak bisa diatur, sehingga awak kabin terpaksa menahannya. Emirates mengatakan melalui sebuah pernyataan, pihaknya bisa memastikan penumpang EK235 penerbangan dari Dubai ke Chicago pada 23 Januari harus diamankan oleh awak kabin karena perilaku penumpang yang tidak baik selama penerbangan. Penumpang itu kemudian diserahkan ke pihak berwenang saat tiba di Chicago.

“Keamanan penumpang dan kru kami sangat penting dan tidak akan terganggu. Kami ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada penumpang lain dalam penerbangan untuk memahami mereka, khususnya individu-individu yang telah membantu awak kapal kami dalam penerbangan,” ujar pernyataan tersebut.

Setelah tiba di Bandara Internasional Chicago O’Hare, Ukesone kemudian dibawa pihak kepolisian Amerika Serikat dan perbatasan untuk diamankan. Kemudian dibawa ke rumah sakit untuk perawatan dari luka yang didapatnya di pesawat. Keluarga Ukesone yang menunggu di bandara tidak diberitahu hingga beberapa jam kemudian. Setelah mendapat informasi, mereka menemui pria 71 tahun itu dirawat dirumah sakit.

Baca juga: Selundupkan Emas di Toilet Pesawat, Warga Jepang Berusaha Hindari Pajak Barang Mewah

Schaffner menegaskan, saat terjadi insiden dalam pesawat, kliennya sama sekali tidak menggunakan obat apapun, tidak meminum alkohol dan tidak memiliki riwayat penyakit jiwa. Dia menambahkan, kliennya juga tidak menuntut atas perlakuan di dalam pesawat. “Tidak ada pernyataan kami akan mengajukan tuntutan hukum,” ujar Schaffner.

Jelang Asian Games 2018, Pekerjaan MRT Jakarta Dibekukan Sejenak

Ketika PT MRT Jakarta (PT MRTJ) tengah disibukkan dengan penyelesaian fase I yang rencananya akan diluncurkan pada Maret 2019 mendatang, nampaknya agenda tersebut akan sedikit terganggu oleh perhelatan olahraga terbesar se-Asia, Asian Games. Tahun lalu, perusahaan yang tengah menghadirkan sistem metro pertama di Indonesia ini sempat optimis bahwa MRT dapat digunakan ketika ajang Asian Games 2018 berlangsung.

Baca Juga: Satu Tahun Jelang Peluncuran, Ini Dia Perkembangan Terbaru dari MRT Jakarta!

Sebagaimana pantauan KabarPenumpang.com pada acara Forum Jurnalis dan Blogger MRT Jakarta yang diadakan Selasa (27/2/2018) kemarin, Diretur Utama PT MRTJ, William P Sabandar mengatakan bahwa proyek MRT tidak akan mengganggu keberlangsungan ajang Asian Games 2018 yang rencananya dihelat pada bulan Agustus mendatang. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Willy tersebut mengaku akan ‘membekukan‘ sementara proyek pembangunan MRT.

“MRT belum beroperasi. Tapi, kita memastikan bahwa bagian Sudirman-Thamrin itu tidak ada pekerjaan langsung selama Asian Games,” tutur William. “Kita ingin memastikan bahwa Asian Games tidak dihambat oleh pekerjaan MRT Jakarta,” imbuhnya.

William juga menambahkan bahwa pihaknya akan membongkar semua seng-seng penutup proyek selama perhelatan Asian Games 2018 berlangsung. Tidak hanya itu, trotoar yang selama ini turut terkena imbas dari proyek ini pun akan dirapikan. Semua itu dilakukan semata-mata demi mengharumkan nama Jakarta yang menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini.

Perlu digaris bawahi, ‘pembekuan’ proyek MRT Jakarta ini tidak berlaku di keseluruhan jalur. Hanya proyek yang berlangsung di daerah Sudirman – Thamrin saja yang diliburkan untuk sementara waktu. Hingga saat ini, kesiapan fase I MRT Jakarta yang membentang dari Lebak Bulus – Bunderan HI ini sudah mencapai angka 91,86 persen. Jika semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah diagendakan sebelumnya, William optimis peluncuran MRT Jakarta fase I ini tidak akan ngaret.

Baca Juga: PT MRT Jakarta Siap Jajal Pembangunan Fase 2, Tapi….

Pada kesempatan itu juga, William memaparkan tentang armada yang nantinya akan digunakan oleh MRT Jakarta. Ia mengatakan bahwa dua rangkaian kereta yang akan beroperasi di rute Lebak Bulus – Bunderan HI berada dalam status siap kirim dan sesuai agenda, kereta tersebut akan tiba di Jakarta pada akhir Maret 2018 mendatang. Kita tunggu saja!

Nekad Merokok di Kabin Sebelum Mengudara, Ini Tanggapan Pihak Citilink Indonesia

Dunia aviasi Indonesia sempat menjadi sorotan publik dunia beberapa waktu yang lalu. Sayangnya, bukan pemberitaan positif yang berhasil mencuri perhatian global, melainkan pemberitaan yang kurang mengenakkan. Pemberitaan ini dilandaskan pada sebuah video berdurasi pendek yang menampilkan seorang penumpang maskapai Citilink diciduk petugas keamanan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta karena kedapatan merokok di dalam kabin.

Baca Juga: Pertama di Asia, Citilink Raih “Four Stars Low Cost Airline” dari Skytrax

Sebagaimana lansiran KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, peristiwa yang terjadi pada Minggu (25/2/2018) ini melanda maskapai dengan nomor penerbangan QG 156 dengan rute Bandara Internasional Halim Perdanakusuma – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali sekitar pukul 25.35 WIB. “Menurut laporan yang kami terima, saat keluar dari boarding gate menuju pesawat terbang, penumpang yang bersangkutan terlihat merokok bahkan diteruskan saat menaiki tangga pesawat,” tutur VP Corporate Communication Citilink, Benny S. Butarbutar, Kamis (1/3/2018).

Dalam video berdurasi singkat yang tersebar luas di dunia maya tersebut, terlihat seorang pria beradu argumen dengan sejumlah petugas keamanan  bandara yang berusaha untuk menurunkannya dari kabin. Pria berkacamata tersebut tetap pada pendiriannya bahwa merokok di dalam kabin itu tidak akan berdampak apa-apa.

Petugas keamanan bandara yang semula bersikap persuasif mulai meningkatkan nada pembicaraannya ketika pria ini terus bersikukuh dengan statemennya. “Ini semua delay karena bapak, loh. Kita udah ngomong baik-baik,” begitu tutur salah satu petugas bandara yang turun tangan menyelesaikan masalah tersebut.

Selang beberapa waktu, akhirnya si penumpang tersebut mau turun dari pesawat dengan pengawalan dari petugas. Dengan begitu, secara otomatis ia mengurungkan niatnya untuk menyambangi Pulau Dewata malam itu.

Menurut Benny, kondisi tersebut sangat membahayakan penerbangan, khususnya keselamatan dan keamanan para penumpang yang berada dalam kabin. Terlebih, pria yang disinyalir bernama Iwan Limau ini merokok ketika pesawat tengah mengisi bahan bakar. Walaupun terlapis dinding kabin yang sangat tebal, namun hal tersebut tetap melanggar aturan di dunia penerbangan global.

Baca Juga: Perluas Segmen Pasar, Citilink Gandeng Ikatan Alumni Universitas

“Yang bersangkutan tidak sadar bahwa perbuatan yang ia lakukan berdampak dan jika terjadi (kecelakaan), akan sangat berbahaya,” tambahnya via telepon. “Perilakunya jelas-jelas dapat mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan. Dalam industri penerbangan, kami harus bisa memastikan tidak ada satupun aturan keselamatan yang dilanggar sehingga operasional penerbangan dapat berjalan dengan aman, lancar dan nyaman,” ungkap Benny.

Disinggung soal hukuman apa yang diberlakukan kepada Iwan, Benny enggan berkomentar lebih jauh soal itu. “Kita edukasi saja, belum ke hukuman,” tutupnya singkat. Ada-ada saja ya!

Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Jetlag atau penyesuaian terhadap zona waktu biasanya terjadi pada penumpang dalam penerbangan jarak jauh. Biasanya jetlag berlangsung satu hingga dua hari setelah sampai di tujuan. Hal ini terkadang tak bisa dihindari para pelancong sehingga banyak dari mereka yang memilih penerbangan malam untuk menghindari jetlag.

Baca juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik

Namun terkadang jetlag juga tetap terjadi meski menggunakan penerbangan malam atau dengan waktu istirahat yang cukup dalam perjalanan. Baru-baru ini Qatar Airways memperbaharui pesawatnya uuntuk penumpang ekonomi, bisnis maupun kelas satunya. Pesawat Airbus A350-1000 milik Qatar Airways ini pertama kali mengudara dari Doha menuju ke London pada Sabtu, 24 Februari 2018 kemarin.

KabarPenumpang.com melansir dari laman mentalfloss.com (27/2/2018), bahwa Qatar Airways telah membuat perubahan besar dalam pesawat ini untuk membuat penumpang nyaman dalam penerbangan jarak jauh. Di kelas satu dan bisnis diberikan peningkatan yang besar dan kelas ekonomi mengalami perombakan dengan teknologi tinggi.

Di dalam kabin A350-1000 milik Qatar Aiways ini akan diberikan pencahayaan amient 16 juta LED yang bisa meminimalisir efek jetlag dengan membuat penumpang merasa terjaga dan mengantuk pada saat yang tepat. Pesawat ini juga akan memiliki tekanan dan kelembaban kabin yang lebih baik, sehingga para penumpang tidak akan kekurangan cairan atau dehidrasi selama penerbangan. Selain itu juga diberikan pebagian zona suhu kabin, dimana akan ada pembagian suhu yang akan dirasakan penumpang dalam kabin seperti bagian depan akan mendapat suhu tinggi dan semakin kebelakang menghangat.

Tak hanya itu, Qatar Airways juga memberikan filter udara kelas rumah sakit bagi penumpang yang sakit saat melakukan perjalanan dengn A350-1000 nya. Nantinya, udara tersebut akan steril guna membersihkan kuman yang tersebar di udara.

Baca juga: Jurus Awak Kabin Emirates Taklukan Si Kecil di Penerbangan Jarak Jauh

Namun, perubahan terbanyak dan terbaik adalah pada kelas bisnis yang akan membawa pengalaman baru pada para penumpang. Dimana di dalam kabin bisnis pun, penumpang yang duduk berdampingan bisa membuat tempat tidur double dengan melepas panel privasi mereka.

Remajakan Armada, MRT Singapura Adopsi Kursi Lipat Guna Antisipasi Lonjakan Penumpang

Jika Indonesia masih disibukkan dengan proses pembangunan jaringan Mass Rapid Transit (MRT) pertamanya, berbeda dengan negara lain yang sudah melakukan beberapa inovasi terharap moda transportasi berbasis massal ini. Sebut saja salah satu negara yang menjadi pionir hadirnya MRT, Singapura kini tengah mengakali bagaimana caranya untuk mengatasi lonjakan penumpang ketika peak hours. Karena tidak bisa dipungkiri, MRT menjadi moda andalan warga Singapura untuk mobilisasi.

Baca Juga: Versi Terbaru SMRConnect, Mampu Informasikan Kepadatan Penumpang di Jalur MRT Singapura

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (28/2/2018), sebanyak 12 rangkaian tengah disiapkan oleh pihak SMRT sebagai armada pertama yang memiliki kursi lipat. Adapun tujuan dari pengadaan moda ini adalah untuk menciptakan lebih banyak ruang untuk berdiri ketika kereta tengah mengular di jam sibuk. Dengan begitu, masalah terkait kepadatan penumpang di jam-jam khusus diharapkan dapat diatasi.

Diketahui, kereta yang nantinya akan beroperasi di North-South dan East-West Lines (NSEWL) ini memiliki empat deret kursi lipat berkapasitas tiga penumpang. Tentu tidak semua kursi di dalam gerbong SMRT bisa dilipat, dengan eksistensi penumpang prioritas padajam sibuk sebagai pertimbangan utamanya. Jika semua kursi di desain dapat dilipat, dapat dibayangkan jika ada seorang tua renta atau ibu hamil yang dipaksa berdiri berdesak-desakan selama perjalanan. Tentu hal tersebut akan menurunkan ‘nilai’ dari SMRT itu sendiri.

Kursi inovatif ini pun hanya akan dilipat pada periode puncak jam sibuk, yaitu pagi  dan sore. Sebagai penumpang, Anda tidak bisa sembarangan melipat atau menurunkan kursi ini, hanya orang-orang tertentu seperti masinislah yang dapat mengubah mode dari kursi ini.

Tidak hanya itu, SMRT juga kini akan dilengkapi dengan logo Land Transport Authority (LTA) untuk pertama kalinya, dimana kereta ini akan dihiasi oleh garis merah dan hijau yang selama ini menjadi  warna identitas dari NSEWL, dengan latar belakang warna putih.

Adapun ke 12 rangkaian kereta baru ini tengah dirakit oleh Kawasaki Sifang Consortium yang ada di Cina. Pihak LTA sendiri mengatakan telah menempatkan sejumlah insinyurnya di pabrik di Qingdao untuk memastikan apakah produkyang mereka hasilkan telah memenuhi tingginya kriteria standar secara konsisten selama masa perakitan dan pengujian kereta api.

Baca juga: Muat Lebih Banyak Penumpang di Jam Sibuk, Kereta Komuter di New York Adopsi Kursi Lipat

Menurut informasi dari laman sumber, kereta tersebut telah dikirim ke Singapura untuk dilakukan uji coba lanjutan. Jika tak ada aral melintang, kereta ini akan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2018 ini. Tidak hanya mendatangkan kereta baru, LTA juga akan menarik sejumlah kereta yang sudah beroperasi lebih dari 30 tahun, guna melakukan  peremajaan.

Hadirkan Aksi Baku Tembak, Facebook Minta Maaf Atas Promosi Game VR “Bullet Train”

Facebook belum lama ini menyatakan meminta maaf karena telah menunjukkan demo sebuah permainan baku tembak untuk perangkat Oculus Rift di Konferensi Aksi Politik Konservatif. Demo dari game VR (Virtual Reality) berjudul Bullet Train (kereta peluru) ini dinilai beberapa pihak kurang pantas untuk menjadi bahan konsumsi publik, terlebih lagi di kala Amerika Serikat sedang dirundung situasi duka akibat peristiwa penembakan sekolah di Florida belum lama ini.

Baca juga: Indonesian Train Simulator, Rasakan Sensasi Menjadi Masinis Kereta Indonesia

Dalam sebuah pernyataan resmi, VP Facebook divisi VR, Hugo Barra meminta maaf dan mengatakan pihaknya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun. “Mengingat peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Florida, kami memutuskan untuk menyingkirkan demo ini demi menghormati korban dan keluarga mereka,” tulis Barra melalui akun Twitter pribadinya. Dalam tweet lainnya juga menuliskan pesan yang sama. Barra menambahkan dengan jelas “Kami menganggap ini keliru.”

Industri game sering berjuang secara internal untuk memasarkan dan menampilkan video game kekerasan menyusul penembakan massal di dunia nyata. Setelah adanya penembakan klub malam Pulse tahun 2016 lalu, presiden Asosiasi Perangkat Lunak Hiburan, Mike Gallagher mengatakan kepada Ars bahwa penerbit di Electronic Entertainment Expo telah mengambil langkah untuk bersikap peka terhadap suasana hati nasional saat ini dan jenis-jenis itu.

Baca juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

Namun,perbandingan internasional untuk pengeluaran per kapita pada permainan kekerasan dan pembunuhan terkait senjata menunjukkan korelasi negatif antara keduanya. Dimana analisis meta tentang studi kekerasan video game tidak menemukan kaitan nyata antara kekerasan layar khayal dan perilaku agresif yang sebenarnya. Studi longitudinal jangka panjang terhadap anak-anak dari tahun 90-an hanya menunjukkan peningkatan kecil dalam masalah perilaku bagi anak-anak yang bermain video game kekerasan. Namun penelitian lain menunjukkan bahwa pemain video game kekerasan benar-benar menjadi tidak peka terhadap kekerasan, setidaknya dalam jangka pendek.

Ekspansi di 2018, Lion Air Group Ajukan Pembukaan 68 Rute Baru Domestik dan Internasional

Menjadi maskapai terbesar di Indonesia saat ini, Lion Air Group kembali melebarkan sayapnya di dunia penerbangan baik internasional maupun domestik. Dengan jumlah armada yang besar, strategi ekspansi pun terus dilakukan, salah satunya dengan rencana pembukaan 68 rute baru. Rute baru tersebut di usulkan Lion Air Group melalui operator bandara yakni PT Angkasa Pura I (AP I) untuk diteruskan ke Kementerian Perhubungan pada tahun ini. Usulan ke 68 rute baru ini untuk penerbangan dalam negeri atau domestik dan internasional.

Baca juga: Lion Air Hengkang dari INACA, Alasan Yang Belum Terungkap

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, melalui Corporate Communication Lion Air Group Ramaditya Handoko mengatakan, bahwa pembagian rute dari 68 usulan ini adalah 60 rute penerbangan domestik dan delapan lainnya internasional. Pembagian rute domestik yakni Lion Air akan membuka 15 rute, Batik Air 13 rute dan Wings Air 32 rute.

Sedangkan untuk pembagian rute internasional, Lion Air dan Wings Air akan membuka masing-masing dua rute dan Batik Air akan membuka empat rute baru. “Pengembangan rute di wilayah AP I dipilih untuk membantu meningkatkan sektor pariwisata nasional,” ujar Rama.

Rama menambahkan, ekspansi yang dilakukan tidak hanya dengan membuka rute baru, melainkan Lion Air Group juga menambah frekuensi penerbangan pada Lion Air dengan 15 rute dan Batik Air 17 rute. Selain usulan pembukaan rute baru dan menambah frekuensi penerbangan, Lion Air juga kembali membuka dua rute yang dulunya ditutup.

Rute tersebut adalah dari Ternate menuju Makassar dan Makassar menuju Jakarta. Untuk memenuhi kebutuhan pengembangan rute dan frekuensi penerbangan, Lion Air Group akan menerima 36 unit pesawat dimana 20 unitnya jenis ATR72 500/600.

Baca juga: Bandara Lombok Dibuka Pagi Ini, Lion Air JT 651 Menjadi Penerbangan Perdana

Empat unit Boeing 737 MAX 9, dua unit Boeing 737-900ER, tiga unit Airbus A320, empat unit Boeing 737-800 dan tiga unit Boeing 737 MAX8. “Tiga unit pesawat jenis Airbus A320 sudah diterima sejak Januari 2018 yang dikirim langsung dari pabrikan Airbus di Toulouse, Prancis dan Hamburg, Jerman,” jelas Rama.

Sekedar Ingin Meregangkan Tubuh, Model dan Pelatih Yoga Terpaksa Turun dari Pesawat

Seorang model yang juga pelatih yoga asal Amerika Seriktat, Jen Selter dan saudaranya terpaksa diturunkan dari sebuah penerbangan. Wanita berusia 24 tahun dengan tubuh seksi ini diturunkan dari pesawat karenakan dirinya mencoba berdiri dan berbaring di lorong kabin pesawat American Airlines.

Baca juga: Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (29/1/2018), bahwa saat itu Selter berdebat dengan awak kabin dan pilot pesawat tersebut. Kemudian anggota keamanan juga mendatangi dirinya untuk membawa Selter dan saudara perempuannya turun dari pesawat.

Diketahui, sebelum Selter dan saudaranya diturunkan dari pesawat, pada penerbangan American Airlines dari Miami ke New York pada Sabtu 27 Januari 2018 telah tertunda selama 90 menit. Penundaan penerbangan ini terjadi dikarenakan ada masalah teknis.

Saat itu sebenarnya Selter hanya ingin meregangkan tubuhnya dengan gerakan yoga. Dia berdiri dan meraih sesuatu di kompartemen atas setelah sebelumnya ada penumpang yang diizinkan ke toilet akibat penundaan penerbangan tersebut. Namun, awak kabin yang melihat itu meminta Selter untuk kembali duduk dan pertengkaran terjadi. Seorang awak kabin kemudian bertanya apakah Selter ingin turun dari pesawat, Selter menjawab ya.

Selter mengatakan, pertanyaan tersebut seperti menyindir dirinya. Kemudian turun bersama anggota keamanan dan menawarkan akomodasi namun ditolak. Bahkan ada penumpang lain yang akhirnya ikut turun dengan dirinya karena menganggap perlakuan kepada Selter dan saudaranya adalah hal yang tak pantas.

Sebenarnya, masalah yang terjadi terbilang sepele, dimana seorang penumpang hanya ingin meregangkan otot karena lelah duduk menunggu. Mungkin untuk awak kabin dan yang lainnya ini adalah hal yang bisa diterima dengan mudah. Tahun 2013 lalu kebijakan yoga dalam penerbangan bisa menjadi satu pilihan peregangan tubuh termasuk dalam menghindari Deep Vain Thrombosis (DVT).

Bahkan ada buku yang menuliskan tentang yoga di dalam pesawat dan tidak heran pose yoga ekstrem bisa terlihat di beberapa tempat dalam kabin. Bisa dikatakan melakukan yoga dalam pesawat semakin populer belakangan ini.

Diketahui, saat ini penerbangan yang berbasis di Amerika Serikat bermasalah dengan keputusan yoga dalam kabin, tetapi tidak untuk Cathay Pasific yang memutuskan untuk merangkul tren tersebut. Cathay bekerja sama dengan Pure Yoga mengembangkan serangkaian video yang bisa diikuti penumpang di monitor tempat duduk mereka. Cathay mengatakan, ada enam video yang mudah diikuti dan dibuat untuk dilakukan di kursi.

Baca juga: Lakukan Olahraga Selama Perjalanan, Hindari Keram dan Bantu Bakar Kalori

“Kita semua tahu, bahwa duduk dalam jangka panjang dan waktu yang lama bisa membuat tidak nyaman. Kebutuhan untuk bangun, bergerak dan memperlancar aliran darah dalam tubuh sangat penting selama penerbangan. Yoga adalah cara baru untuk melakukannya,” jelas Simon Cuthbert yang bekerja di departemen hiburan dalam penerbangan Cathay.

Jelang Pensiun, JR West Pamerkan Kereta Peluru Tematik, Shinkansen 500 EVA “Evangelion”

Bagi Anda para pecinta film anime, mungkin Anda tidak asing lagi dengan serial kartun Neon Genesis Evangelion. Film hasil garapan rumah produksi Gainax and Tatsunoko ini berkisah tentang interaksi seorang remaja bernama Shinji Ikari dengan makhluk bio mekanis bernama EVA. Shinji dituntut agar mampu mengendalikan EVA, yang merupakan satu-satunya senjata untuk melawan kedigdayaan musuh bernama Angel.

Baca Juga: Dari Rusia Hingga Singapura, Inilah Deretan Kereta Tematik Unik dari Seluruh Dunia!

Namun, yang kali ini akan kami bahas di sini bukanlah tentang film Neon Genesis Evangelion, melainkan sebuah kereta Shinkansen di Jepang yang bertemakan Evangelion. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman crunchyroll.com (28/1/2018), kereta peluru Shinkansen Type 500 EVA yang bertemakan Evangelion ini pertama dipamerkan ke hadapan publik pada tahun 2015 kemarin. Tak ayal, banyak pecinta kereta dan anime yang terperangah dengan kehadiran kereta yang dikelola oleh West Japan Railway Co. (JR West) ini.

Pada awalnya, kereta tematik ini hanya akan beroperasi dari November 2015 hingga musim semi 2016, tujuannya semata-mata hanya untuk promosi franchise. Namun di akhir masa pengoperasiannya, sang operator melihat kesuksesan besar-besaran dari kampanye ini dan mereka memutuskan untuk memperpanjang masa pengoperasian dari Shinkansen Type 500 EVA ini selama kurun waktu 18 bulan ke depan. Ramainya penumpang dari kereta yang mengular dari Hakata menuju Shin-Osaka ini menjadi tolak ukur operator apakah kereta ini meraih kesuksesan apa tidak.

Jika dihitung-hitung, masa pengoperasian kereta bernuansa ungu khas film kartun Neon Genesis Evangelion ini akan mengakhiri masa pengabdiannya pada musim semi tahun 2018 ini, tepatnya pada tanggal 13 Mei mendatang. Sebelum mengakhiri masa tugasnya, pihak Kyoto Railway Museum akan mengadakan pameran terhadap Shinkansen Type 500 EVA ini, yang dibuka tanggal 24 Februari hingga 7 Mei 2018 atau seminggu sebelum kereta ini  memasuki masa pensiunnya.

Untuk bisa menikmati kereta ini untuk yang terakhir kalinya, pengunjung akan dikenai biaya 1.200 yen (sekitar Rp154.000) untuk dewasa, 1.000 yen (sekitar Rp128.000) untuk mahasiswa dan pelajar SMA, 500 yen (Rp64.000) untuk pelajar SMP, dan 200 yen (sekitar Rp26.000) untuk pelajar sekolah dasar.

Baca Juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang

Desain hidung kereta yang runcing, dengan balutan warna ungu yang identik dengan robot EVA-01 ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta kereta dan anime di Jepang. Kegilaan mereka akan dua hal tersebut seolah terjawab sudah dengan hadirnya Shinkansen Type 500 EVA, walaupun sebentar lagi mereka akan merasa kehilangan karena masa operasi kereta ini hanya tinggal menghitung hari saja.

Selain desainnya yang unik, Shinkansen Type 500 EVA ini juga  dinobatkan sebagai kereta penumpang pertama di Jepang yang beroperasi dengan kecepatan maksimum 300 kilometer per jam.

PT MRT Jakarta Siap Jajal Pembangunan Fase 2, Tapi….

Belum selesai dengan fase pertama yang menghubungkan Lebak Bulus dan Bunderan HI, PT MRTJ sudah mulai mempersiapkan untuk pembangunan fase 2. Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P Sabandar mengatakan rencananya fase 2 ini akan mulai digarap pada akhir tahun 2018 mendatang. Menurut studi kelayakan yang diadakan pada tahun 2013 silam, rencananya pembangunan fase 2 ini akan mengular dari Sarinah (Thamrin) menuju Kampung Bandan yang masuk ke dalam territorial Jakarta Utara.

Baca Juga: Satu Tahun Jelang Peluncuran, Ini Dia Perkembangan Terbaru dari MRT Jakarta!

Berdasarkan hasil pantauan KabarPenumpang.com pada acara Forum Jurnalis dan Blogger MRT Jakarta, Selasa (27/2/2018), di bilangan Menteng Jakarta Pusat, William mengutarakan rencananya untuk melakukan groundbreaking fase 2 pada bulan Desember 2018. “Kita harap appraisal mission di Februari ini sudah dimulai. Agustus 2018 mulai tender. Dan November itu sudah contract signing untuk fase II dan Desember mudah-mudahan sudah bisa dilakukan groundbreaking,” paparnya.

Berbanding terbalik dengan fase 1 yang didominasi oleh elevated section, William menandaskan bahwa rute yang membentang dari Sarinah hingga Kampung Bandan akan didominasi oleh underground section. “Nantinya, hanya stasiun Kampung Bandan yang elevated, sisanya underground,” tukas William. Adapun stasiun-stasiun yang nantinya akan berada di bawah tanah maksud William adalah: Stasiun Sarinah, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok dan Stasiun Kota.

Mengingat kemungkinan masalah pembangunan fase 2 akan datang dari faktor geografis, maka PT MRTJ sudah memperhitungkan segala sesuatunya agar proses pembangunan fase 2 ini dapat berjalan dengan lancar. “Nantinya untuk yang Sawah Besar dan Mangga Besar ini akan vertikal. Jadi tidak kiri dan kanan tapi atas dan bawah. Kira-kira ini kondisi yang kita siapkan,” ujar William. Hal yang dimaksud di sini merupakan eksistensi terowongan fase 1 yang dibuat vertikal, sedangkan terowongan fase 2 akan dibuat bertingkat (horizontal).

Penerapan terowongan bertingkat itu merupakan salah satu hasil kajian dari tim konsultan Basic Engineering Design yang sebelumnya digandeng PT MRT Jakarta. Tidak hanya itu, Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar yang semula direncanakan berada di bawah sungai pun akan bergeser menjadi di bawah Jalan Gadjah Mada. “Ini untuk kemudahan konstruksi, sehingga tidak diperlukan pengalihan sungai,” ungkap William.

Baca Juga: Dinilai Punya Kinerja Terbaik, Sejumlah Kontraktor MRT Jakarta Raih SHES Award 2018

Menyinggung soal pendanaan yang sempat meradang di tubuh PT MRTJ, William menegakan bahwa saat ini pihaknya masih membahas mengenai kesepakatan pinjaman atau pendanaan dengan pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) yang juga akan menjadi salah satu sumber pembiayaan proyek MRT Jakarta fase 2. Dalam hal ini, William menyebutkan bahwa hal yang menghambat kesepakatan pendanaan adalah terkait soal pembebasan lahan. “Minggu ini delegasi JICA akan ke Jakarta. Diharapkan financial close akan selesai dalam beberapa bulan ke depan.” Tutupnya di akhir pertemuan.

Sementara itu, terkait penyelenggaraan Asian Games 2018 yang akan dihelat pada bulan Agustus mendatang, William menegaskan bahwa pembangunan MRT tidak akan mengganggu perhelatan akbar tersebut. “MRT (saat Asian Games) belum beroperasi. Tapi, kita memastikan bahwa bagian Sudirman-Thamrin itu tidak ada pekerjaan langsung selama Asian Games,” kata William.