First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama

Walaupun dunia penerbangan kini dengan mudah dapat dijangkau oleh banyak kalangan, tapi masih ada saja masyarakat yang belum berani untuk bepergian dengan si burung besi ini. Ada beberapa hal yang mendasari penilaian tersebut, semisal ketakutan mereka untuk mengudara, hingga dana yang terkesan mencekik bagi sebagian kalangan. Nah, khusus untuk mengatasi ketakutan yang sudah disinggung di atas, Anda bisa mencicipi sensasi mengudara tanpa harus benar-benar mengudara lho!

Baca Juga: Emirates Hadirkan Aplikasi Augmented Reality di Udara, Bisa Diakses dari Smartphone Android dan iOS

Ya, tidak bisa dipungkiri memang bepergian dengan menggunakan pesawat terbang merupakan cara tercepat untuk sampai di tujuan. Pada hakikatnya, pesawat tetaplah berada di ranah transportasi umum, maka tidaklah heran jika Anda menemukan sejumlah gangguan di dalamnya. Mulai dari penumpang yang ‘mengganggu’, hingga jeritan si buah hati yang rewel seolah sudah menjadi pemandangan yang biasa di dunia penerbangan. Kendati demikian, para penyedia jasa penerbangan tetap tidak kehilangan segmen pasarnya.

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (23/2/2018), First Airlines dari Jepang menawarkan pengalaman mengudara ‘buatan’ melalui virtual reality airline. Cara kerjanya adalah penumpang penerbangan virtual ini akan memasuki ruangan dengan desain menyerupai kabin pesawat yang dilengkapi dengan beberapa buah layar.

Ketika semua calon penumpang sudah menempati tempat duduknya masing-masing, mereka akan dipersilakan untuk mengenakan kacamata Virtual Reality (VR) dan headset khusus guna menunjang penerbangan buatan tersebut. Nantinya penumpang akan mendengarkan semua suara yang biasa kita dengar di dalam kabin, mulai dari suara mesin, percakapan antar penumpang, instruksi keselamatan yang disampaikan oleh kepala awak kabin, hingga informasi terkait navigasi oleh kapten penerbangan.

Tidak berhenti sampai di situ, para penumpang ini juga akan menerima suguhan makanan dari awak kabin yang bertugas. Cukup menarik bukan? Jika sudah sampai di tujuan, penumpang akan turun tanpa harus berurusan dengan petugas imigrasi dan bea cukai. Karena ingatlah, ini hanya penerbangan virtual. Manajer First Airlines, Hirokai Ab menuturkan bahwa tawaran perjalanan virtual ini ditujukan untuk menarik pelanggan.

Baca Juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

“Bagi saya, melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat bukanlah hal yang mudah, apalagi terkait dengan masalah pendanaan dan waktu,” ungkap Hirokai. “Untuk mengatasinya,saya pikir menyajikan layanan penerbangan virtual merupakan jalan keluar yang cukup keren,” imbuhnya.

Nah, berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman resmi First Airlines, total perjalanan virtual ini akan memakan waktu sekitar 111 menit. Menyinggung soal dana, First Airlines memiliki beberapa paket penerbangan virtual, dimana rentang harga yang ditawarkan mulai dari 4980 yen atau yang setara dengan Rp636.230 hingga 5980 yen atau yang setara dengan Rp763.988. Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mencoba layanan penerbangan virtual ini?

Transport of London Inginkan Perusahaan Taksi Berbagi Data Untuk Keselamatan Penumpang

Badan transportasi di London atau Transport of London (TfL) baru-baru ini meninginkan perusahaan taksi berbagi data untuk memberikan keselamatan penumpang. Sehingga layanan taksi baik konvnsional maupun online harus memastikan keselamatan penumpang dan keamanan data jika ingin terus beroperasi di London.

Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi

KabarPenumpang.com melansir dari laman sea.pcmag.com (17/2/2018), bahwa TfL juga mengajukan aturan baru yakni mengharuskan perusahaan taksi menunjuk seorang staf yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pengemudi dan penumpang. Selain itu, staf ini juga nantinya akan membantu polisi dalam penyelidikan kejahatan apapun yang terjadi.

Perusahaan juga harus mempermudah pelanggan untuk mengajukan keluhan dan membiarkan penumpang memilih layanan ride sharing sesuai kendaraan yang akan mereka gunakan. Selain itu juga, TfL mendesak Uber untuk menghadirkan taksi khusus wanita di ibu kota Inggris itu sebagai rencana kebijakan baru mereka.

“Ada peningkatan jumlah layanan yang muncul di London yang mencakup ride sharing yang berpotensi untuk mempengaruhi bagaimana orang bergerak di sekitar kota. Tren ini telah menciptakan tantangan bagi otoritas transportasi di seluruh dunia, termasuk bagaimana menerapkan undang-undang perizinan yang ada, mengelola dampak lebih banyak kendaraan yang bergerak di sekitar kota dan memastikan layanan yang aman dan nyaman untuk semua orang,” kata TfL.

Diketahui, pada September lalu, TfL menolak untuk memperbaharui lisensi Uber dan mengatakan perusahaan aplikasi taksi tersebut tidak layak. Sebab kurangnya tanggung jawab perusahaan dalam keselamatan publik.

“Kami ingin London berada di garis depan inovasi dan teknologi baru serta menjadi rumah alami bagi perusahaan baru yang menarik untuk membantu London dalam menyediakan layanan yang lebih baik da terjangkau,” ujar Walikota London Sadiq Khan setelah adanya keputusan dari TfL.

Khan menambahkan, semua perusahaan di London harus berjalan sesuai peraturan dan mampu memenuhi standar tinggi yang pihaknya berikan. Hal ini yang terpenting adalah menyangkut keamanan dan memberikan layanan inovatif sehingga tidak harus mengorbankan pelanggan.

Baca juga: Data Penumpangnya ‘Disandera,’ Uber Didesak Untuk Segera Usut Tuntas

Dengan adanya keputusan ini membuat Uber mengumumkan bahwa mereka telah menyiapkan hotline telepon yang bisa dihubungi setiap hari bagi penumpang yang ingin mengajukan keluhan setelah melakukan perjalanan dengan mengendarai taksi.

Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!

Bagi sebagian orang, melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan pesawat akan berdampak pada kondisi kesehatannya yang menurun pasca Ia turun dari pesawat. Lalu, kenapa bisa terjadi seperti itu? Apakah sebelum mengudara, kondisi kesehatannya memang sedang tidak prima? Atau ada faktor lain yang melatarbelakangi fenomena ini? Walaupun sakit yang kebanyakan orang alami setelah turun dari pesawat hanyalah flu, namun fenomena ini menarik untuk dibahas.

Baca Juga: Waspada! Inilah Lokasi Favorit Bakteri di Dalam Kabin Pesawat

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz (5/10/2017, hipotesa yang paling mudah dicerna terkait pertanyaan di atas adalah karena kita selama penerbangan berada di dalam satu ruang sempit bersama ratusan orang lainnya selama berjam-jam, dan memungkinkan kuman berkembang biak dengan sangat cepat.

Namun pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak International Air Transport Association (IATA) yang menyebutkan bahwa filter HEPA yang berada di dalam kabin dapat menyingkirkan 99.9995 persen kuman dan mikroba di udara. Ditambah lagi, udara yang ada kabin hanyalah setengah sirkulasi udara. Setengah lainnya adalah udara segar yang dipompa dari luar.

Dengan adanya filter udara yang berada di kabin, bukan berarti udara di dalam kabin tidak bisa menularkan Anda penyakit. Jika Anda duduk bersebelahan dengan orang yang sedang terkena flu, maka kemungkinan besar Anda juga akan tertular.

seat-back tray. Sumber: cntraveler.com

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Travelmath, seat-back tray tables merupakan sarang dari bakteri. Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan rata-rata 155 Colony-Forming Units (CFU) per inci persegi. Angka tersebut jauh di bawah tombol flush toilet yang mencapai 265 CFU per inci persegi, dan tentu saja nilai tersebut mengindikasikan bahwa spot tersebut jauh dari kata bersih.

“Salah satu tempat di pesawat terbang yang merupakan tempat berkembang biaknya bakteri E.coli,” ungkap Drexel Medicine, sebuah otoritas yang berafiliasi dengan Philadelphia’s Drexel University College of Medicine. Sebenarnya, para ahli kesehatan menyarankan untuk memasang pamphlet berisikan himbauan untuk tidak menyentuh apapun selama berada di WC, dan menganjurkan untuk menggunakan kertas tissue saat hendak menutup kran dan menekan tombol flush.

seat-back pockets. Sumber: southwestaircommunity.com

Tidak hanya di seat-back tray tables, bakteri dan kuman juga disinyalir kerap kali menjadikan seat-back pockets sebagai sarang mereka. Statemen tersebut didukung oleh sebuah studi yang dilakukan oleh Auburn University yang menemukan bahwa bakteri dapat bertahan di seat-back pockets hingga seminggu.

Terlepas dari masalah bakteri dan kuman yang bersemayam di kabin pesawat, faktor penyesuaian tubuh dengan lingkungan baru pun memegang peranan aktif dalam kasus penumpang yang sakit setelah turun dari pesawat ini. “Permasalah yang paling mendasar dari jet lag adalah terganggunya sistem tubuh yang disebabkan oleh perbedaan waktu,” ungkap salah satu Profesor dari University of Sydney, Steve Simpson.

Baca Juga: Ini Yang Harus Dilakukan Kala Sakit Punggung Mendera di Perjalanan Jarak Jauh

Tubuh membutuhkan waktu setidaknya 24 jam untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, didukung oleh beberapa isyarat, seperti cahaya matahari, suhu, dan makanan yang masuk. Jadi, sudah jelas bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi kondisi tubuh setibanya kita dari perjalanan jauh.

Rayakan Ulang Tahun ke-100 , Kereta Ini Didandani Karakter Kartun Thomas!

Siapa sih yang tidak kenal karakter kartun berbentuk kereta biru bernama Thomas? Ya, karakter utama dalam serial TV anak-anak berjudul Thomas and Friends (dulu bernama Thomas The Tank Engine and Friends, lalu berganti menjadi Thomas the Tank Engine) ini memang banyak digemari oleh segmen pasarnya dari seluruh dunia. Tapi tahukah Anda, di Inggris ada sebuah Tank Engine yang disulap menyerupai karakter Thomas lho! Penasaran?

Baca Juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman atlasobscura.com (21/2/2018), adalah Douglas, sebuah kereta dari Gwynedd, Wales Utara yang pada tahun 2018 ini tepat berusia 100 tahun merubah tampilannya hingga menyerupai karakter Thomas the Tank Engine. Pada awal kemunculannya, kereta Douglas ini mengabdi kepada Britain’s Royal Air Force selama 28 tahun pertamanya.

Pada tahun 1954, kereta ini dipindah tugaskan ke Talyllyn Railway, sebuah jalur sempit yang dipelihara di Wales yang membentang sejauh 7.25 mil (11,67km) dari Tywyn di pantai Mid-Wales ke Nant Gwernol dekat desa Abergynolwyn. Selama masa beroperasinya, kereta ini telah digunakan oleh beberapa volunteer, salah satunya adalah Pendeta Wilbert Awdry, pencipta buku ‘Thomas the Tank Engine’.

Namun siapa sangka kebanyakan cerita yang selama ini dipaparkan di film Thomas and Friends merupakan kisah nyata yang diambil semasa Douglas mengabdi kepada Pendeta Wilbert Awdry. Setiap persimpangan yang selalu menjadi latar belakang dari film Thomas and Friends, dimana kereta dengan ciri khas livery biru tersebut bercengkrama dengan teman-temannya sesama tank engine, divisualisasikan oleh Pendeta Wilbert dalam bentuk kartun.

Nah, untuk memperingati 100 tahun pengabdiannya di dunia perkeretaapian Britania Raya, maka Douglas diubah penampilannya sehingga kini ia berbalutkan cat warna biru pada bagian body dan hitam pada bagian mesinnya, persis Thomas. Sebelum di cat warna biru, Douglas sempat di cat dengan warna lain yang juga identik dengan film Thomas and Friends.

Baca Juga: Dari Rusia Hingga Singapura, Inilah Deretan Kereta Tematik Unik dari Seluruh Dunia!

Di dalam filmnya, Thomas digambarkan sebagai lokomotif LB&SCR E2 class yang menggunakan bahan bakar batu bara. Thomas dan beberapa teman lainnya seperti Duncan, Peter, James, dan Skarloey beroperasi di sekitaran North Western Railway, yang menggunakan setting waktu pada tahun 1915 silam. Lucu ya!

Boleh Saja Gunakan Celana Dalam ‘Side A-Side B’, Asalkan….

Mungkin hal ini terdengar sedikit tabu, tapi pada kenyataannya,menggunakan celana dalam ‘side A-Side B’ bukan hanyalah sekedar bercandaan belaka. Istilah seperti ini akrab di kalangan traveler yang malas untuk mencuci pakaiannya, bahkan celana dalamnya sendiri.

Baca Juga: Jangan Sembarang Buka Sepatu di Dalam Kabin Pesawat, Inilah Sebabnya!

Jika dikaitkan dengan dunia transportasi, penggunaan celana dalam ‘side A-side B’ mungkin saja terjadi pada penumpang yang terpaksa menempuh perjalanan jauh, dimana pakaian yang mereka bawa diletakkan di bagasi. Jadi, mau tidak mau, mereka harus menggunakan kedua sisi celana dalamnya selama menempuh perjalanan tersebut.

Tapi, apa tidak jorok ya menggunakan kedua  sisi celana dalam? Apakah ada efek sampingnya jika kita menggunakan celana dalam ‘side A-side B’? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, dimana beberapa dokter menyampaikan tidak ada salahnya menggunakan celana dalam seperti  ini, namun  tetap ada ketentuan dan aturan yang mesti diperhatikan.

Sebut saja Dr. Abraham Arimuko, SpKK, dari RSPAD Gatot Subroto yang menyarankan agar mengganti celana dalam karena dikhawatirkan ada kuman  yang bersarang di sisi lainnya. “Bisa saja kuman di side B bisa pindah ke side A,” ungkapnya sambil tertawa, dikutip dari laman detik.com (1/4/2015). Ia menyarankan bila celana dalam sudah lama digunakan dan mulai mengeluarkan bau, ada baiknya untuk segera menggantinya.

Serupa tapi tak sama dengan pendapat yang diutarakan oleh Dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, dari D&I Skin Centre Bali. Ia menyebutkan bahwa hal ini kerap kali dilakukan oleh pria, terutama ketika kondisinya sedang kepepet. “Kalau kepepet dan bagian luarnya kering ya nggak apa-apa,” tuturnya kegelian. “Tapi kalau ternyata bagian luarnya itu lembab, sebaiknya diganti,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Dr. Nyoman menyarankan untuk mengganti celana dalam dua kali dalam sehari. Namun saran ini tidak berlaku bagi setiap orang yang mudah berkeringat. Jadi, jika Anda masuk ke dalam golongan orang yang mudah berkeringat, maka disarankan untuk  mengganti celana dalam lebih dari dua kali sehari.

Baca Juga: Hendak Mengudara? Jangan Konsumsi Obat-Obatan Jenis Ini, Berbahaya!

“Normalnya dua kali cukup. Kalau untuk perempuan dilihat penggantiannya tergantung ada lembab atau keputihan. Kalau gitu sebaiknya diganti lebih sering, karena lembabnya itu bisa bikin jamur berkembang biak,” papar dr Nyoman.

Jadi, kalau kondisinya tidak  terlalu kepepet, selalu sempatkan untuk mengganti celana dalam Anda ya!

‘Cicil’ Pemasangan WiFi Onboard di Penerbangan Domestik, Qantas Targetkan Rampung di Akhir 2018

Dalam usahanya untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpang, Qantas Airways mengungkapkan bahwa mereka telah memasangkan Wi-Fi di armada penerbangan domestiknya. Adapun pemasangan WiFi ini dilakukan secara bertahap, yaitu satu pesawat per-minggu. Dengan  begitu, pihak flag carrier Australia ini memprediksi pemasangan tersebut akan selesai sepenuhnya pada akhir tahun 2018 ini.

Baca Juga: Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman zdnet.com (22/2/2018), diketahui maskapai berlogo kangguru ini memiliki 22 pesawat Boeing 737-800 yang dilengkapi dengan teknologi konektivitas. Angka tersebut setara dengan 30 persen dari keseluruhan armada Boeing 737 yang mereka miliki. “Dengan Qantas Domestic, kami melihat keuntungan dari investasi untuk menghasilkan pertumbuhan margin melalui perbaikan dan peningkatan layanan seperti menghadirkan jaringan WiFi dan upgrade kabin,” ungkap CEO Qantas, Alan Joyce.

Menurut kabar yang beredar, Qantas akan memasangkan WiFi di seluruh armada Airbus 330 dan Boeing 737 yang ada di rute penerbangan domestik mereka. Pihak Qantas telah mengungkapkan sebuah pandangan yang lebih jauh mengenai kehadiran WiFi di dalam penerbangan yang mereka layani. “Kami sedang menunggu teknologi yang lebih baik, yang memungkinkan kami untuk memasang WiFi berkecepatan tinggi untuk rute internasional yang kami layani,” imbuh Alan.

Maskapai asli Negeri Kangguru ini secara komersial telah meluncurkan free-in-flight Wi-Fi dalam mode beta on-board pada armada Boeing 737 VH-XZB, yang melayani penerbangan domestik Melbourne, Sydney, dan Brisbane pada awal April2017 silam. Peluncuran tersebut dilakukan setelah melewati serangkaian uji coba langsung sebelumnya. Hasilnya tidak mengecewakan, kecepatan download berkisar antara 2,57 Mbps hingga 7,24 Mbps. Sedangkan kecepatan upload berkisar antara 0,26 Mbps hingga 0,61 Mbps.

Perkembangan demi perkembangan terus dilakukan oleh Qantas, hingga pada uji coba yang dilakukan pada awal bulan Februari 2018 kemarin, Qantas berhasil mengkoneksikan sekitar 140 penumpang dengan jaringan WiFi terbarunya. Hasilnya pun mengejutkan, dimana kecepatan download berkisar antara 7Mbps hingga 12Mbps.

Baca Juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London

Pertumbuhan angka tersebut semakin mendekatkan Qantas dengan ekspektasinya di awal, dimana kecepatan download mampu mencapai angka 20 Mbps. Untuk masalah penyedia layanan WiFi, Qantas menambatkan pilihannya pada perusahaan komunikasi yang berbasis di California, ViaSat. Sementara untuk fasilitas hiburan dalam penerbangan, Qantas bekerja sama dengan sejumlah perusahaan ternama, seperti Foxtel, Stan, Netflix, dan Spotify.

Qantas memprediksi, setelah pemasangan sistem WiFi baru di armada Airbus 330 dan Boeing 737 rampun pada akhir tahun 2018 ini, sekitar 15 juta penumpang Qantas setiap tahunnya dapat menkmati layanan WiFi on-board berkecepatan tinggi secara gratis. Kita tunggu saja!

42 Tahun Mati Suri, Stasiun Bringin Jadi Sarang Burung Walet

Mungkin stasiun ini tak setenar Tawang, Ambarawa atau Tugu, stasiun yang berada di daerah terkucil ini seperti hilang dari peradaban. Nama yang disandangnya pun tak lagi sekokoh perawakannya. Stasiun kecil bernama Bringin ini sekarang sudah tidak aktif dan terletak di Desa Bringin, Semarang.

Baca juga: Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bendono Punya Segudang Cerita

Jika pertama kali melihat bangunan stasiun ini Anda akan mengatakan lebih cocok sebagai latar film horor. Sebab sejak tak lagi berfungsinya stasiun bringin bangunan berubah menjadi sarang walet. Tapi entah siapa yang mengubah bangunan stasiun dan rumah dinas kepala stasiun menjadi sarang walet.

Bangunan stasiun Bringin dan rumah dinas kepala stasiun yang berubang menjadi sarang walet (Jejak Kolonial)

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa kayu kusen daun pintu dan jendela stasiun ini pun raib entah kemana. Bagian jendela, pintu dan loket ditutup dengan tembok baru seolah menghilangkan keaslian dari stasiun. Padahal bangunan asli stasiun Bringin terbuat dari kayu jati dan papan nama stasiun Bringin sendiri juga sudah hilang entah kemana.

Terlepas dari itu semua, pada masa jayanya stasiun yang berada dekat dengan pasar Bringin merupakan stasiun yang ramai. Selain itu fungsi dibangunnya stasiun ini juga untuk memperlancar usaha perkebunan pada masa pemerintahan kolonial Belanda masa itu yakni kopi, teh, tembakau dan lainnya.

Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur Kedungjati-Ambarawa dan mulai beroperasi sejak 21 Mei 1873 dibawah operasional Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM). Dulu, stasiun ini juga ikut mengembangkan wilayah Bringin dan sekitarnya meski berada di wilayah terpencil karena lokasi yang cukup jauh dari jalan utama antarkota.

Stasiun Bringin sendiri memiliki arsitektur bangunan yang agak mirip dengan stasiun Tuntang yang juga berada di jalur Kedungjati-Ambarawa. Hanya ada beberapa perbedaan pada detai bangunan dimana atap stasiun Tuntang berbentuk pelana sedangkan Bringin berbentuk perisai.

Awal abad ke 20, stasiun ini di pugar oleh NIS yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan penumpang. Kini, meski kondisi bangunan rusak bentuk stasiun Bringin masih sedikit terlihat bentuknya dengan dua beranda, salah satunya bagian depan untuk membeli tiket dan belakang untuk peron dan ruang tunggu penumpang.

Alkmaar atau alat pengatur sinyal (WordPress)

Tiang kayu untuk menyanggah atap peron masih terlihat antik, lantai tegel khas stasiun kolonial Belanda masih membekas dan sebuah alat pengatur sinyal Alkamaar masih ada meski berkarat. Sayang sejak robohnya jembatan kereta api yang menghubungkan Kedungjati-Ambarawa, stasiun dan jalur ini kemudian ditutup tahun 1976.

Baca juga: Stasiun Gondanglegi, Dari Jalur Trem Hingga Rumah Kapling

Saat ini 42 tahun sudah stasiun Bringin mati suri, dan hampir sama dengan stasiun yang berada di jalur Kedungjati-Ambarawa menanti rencana pengoperasian kembali. Namun entah kapan realisasi perjalanan kereta ini akan kembali beroperasi.

Lagi, Calon Penumpang Kedapatan Selundupkan Emas ke Dalam Botol Suplemen Makanan

Setelah pada pemberitaan sebelumnya sekelompok orang di Jepang terpaksa diamankan pihak yang berwajib karena telah melakukan usaha penyelundupan emas batangan seberat lima kilogram senilai Rp 2,8 miliar, kini giliran Uni Emirat Arab yang memergoki kasus serupa. Perbedaannya hanya  terletak pada fisik emas dan jumlah pelakunya saja. Adalah petugas Bandara Internasional Sharjah yang berhasil memergoki aksi ilegal ini.

Baca Juga: Selundupkan Emas di Toilet Pesawat, Warga Jepang Berusaha Hindari Pajak Barang Mewah

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman khaleejtimes.com (30/1/2018), seorang pria diamankan petugas bandara yang berkode SHJ tersebut karena kedapatan melakukan percobaan penyelundupan emas dalam bentuk bubuk senilai Dh100,000 atau yang setara dengan Rp372 juta ke dalam botol suplemen makanan.

Direktur Kepolisian Sektor Bandara Sharjah, Letnan Kolonel Mattar Al Ketbi, menyebutkan bahwa tersangka yang ditengarai berdarah Asia tersebut ditangkap oleh petugas bea cukai saat ia berusaha keluar dari Uni Emirat Arab. Lebih lanjut, Letkol Mattar Al Ketbi menambahkan bahwa pria  ini hendak kembali pulang  ke negara asalnya.

Para petugas bea cukai mencurigai botol suplemen makanan yang ‘bersembunyi’ di balik pakaian sang tersangka. Untuk memastikannya, petugas lalu melakukan pemeriksaan dan menemukan bubuk emas yang berada dalam botol tersebut. Alhasil, pria ini harus rela digelandang ke pos pemeriksaan guna diinterogasi dan mengakui perbuatan ilegal tersebut.

Selama proses interogasi, pria yang identitasnya dirahasiakan ini bertindak kooperatif dengan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas kepolisian. Ia mengaku membeli serbuk emas tersebut dan menunjukkan bon pembeliannya. Kepada petugas, ia berdalih melakukan aksi ini karena enggan untuk membayar pajak barang mewah di negara asalnya.

Baca Juga: Waspada! Sindikat Maling Koper Merajalela di Bandara Hong Kong

Guna memberi efek jera kepada tersangka dan pelajaran bagi orang lain yang berusaha untuk melakukan hal serupa di masa yang akan datang, pria berdarah Asia ini harus mendekam di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Tidak lupa, kepolisian sektor bandara pun meperingatkan kepada semua lapisan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan yang menentang hukum.

Di Bandara Schiphol, Calon Penumpang Bisa Pesan Makanan Online Yang Diantar via Kurir

Penumpang yang terbang dari bandara Schiphol sekarang bisa lebih mudah untuk mendapatakan makanan saat menunggu di bandara. Hal ini bisa dilakukan penumpang tanpa harus ke restoran atau kedai makanan yang ada di terminal bandara yakni hanya dengan melalui smartphone mereka.

Baca juga: Tak Perlu Periksa Keamanan Lagi, Penumpang dari Singapura Bisa Melenggang Saat Transit di Bandara Schipol Amsterdam

KabarPenumpang.com melansir dari laman hospitalityandcateringnews.com (21/2/2018), bahwa baru-baru ini Bandara Internasional Schiphol bersama perusahaan pengirimanan makanan Deliveroo meluncur sebuah pengalaman baru memesan makanan. Dimana nantinya penumpang yang terbang dari concoures E bisa dengan mudah memesan makanan dan minuman melalui telepon genggam mereka.

Dengan adanya cara mudah penumpang memesan makanan, menjadikan Schiphol bandara pertama di Eropa yang melayani delivery food di gerbang untuk penumpang perseorangan. CEO HMSHost International, Walter Seib mengatakan, pihaknya menciptakan tempat dan lingkungan dimana para tamu menjadi pusat perhatian. Selain itu penumpang juga bisa mendapat pengalaman, keramahan dan rasa nyaman.

Kurir pesan antar makanan Deliveroo di bandara Schiphol (www.hospitalityandcateringnews.com)

“Perkembangan teknologi yang inovatif membantu kami menjangkau semua tamu kami di lingkungan yang sibuk seperti bandara dan ini membuat proses perjalanan menjadi lebih mudah dan efisien,” ujar Seib.

Dia mengatakan, dengan Food Delivery at the Gate yang dimiliki perusahaannya, juga bekerjasama dengan mitra bisnis di Schiphol dan sebuah cakupan di European Airports. Menurutnya, dengan cara ini, pihaknya mencoba menjangkau lebih banyak lagi pelancong yang ingin menikmati makanan mereka tanpa terburu-buru sebelum naik pesawat.

“Kami juga memperhatikan dengan seksama kebutuhan para tamu kami. Makanya kami menciptakan Places To Be,” jelas Seib.

Diketahui, pelancong bisa memesan berbagai makanan melalui aplikasi Deliveroo atau situs web setiap hari dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 20.30 waktu setempat. Makanannya disiapkan di Kebaya dan di The Market, The Grill and The Oven yang terletak di Pasar Makanan Street Schiphol, yang dikirim oleh HMSHost International.

“Schiphol selalu mencari cara terbaik untuk melayani penumpangnya. Penumpang menghabiskan waktu yang relatif lama di pintu gerbang mereka. Inisiatif ini memungkinkan kami untuk memperluas layanan yang kami berikan kepada penumpang kami. Selain itu, ada sisi praktis dari inisiatif ini,” kata Tanja Dik, Direktur Consumer Products & Services.

Selama bertahun-tahun Schiphol telah menyambut lebih banyak penumpang. Tahun lalu lebih dari 68 juta orang dari ratusan negara datang melalui bandara. Faktanya adalah ruang untuk gerai ritel dan F & B di terminal dan dermaga terbatas.

Baca juga: Empat Bandara di Belanda Bersiap Manfaatkan Energi Angin

“Itulah sebabnya kami mengemukakan konsep inovatif seperti ini dan terus memperhatikan tren perkembangan teknologi dan digital. Jika kita melihat peluang, kita kemudian akan menerapkannya dengan harapan bisa meningkatkan pengalaman penumpang lebih jauh lagi. Kami sangat ingin mendengar umpan balik penumpang kami,” ujar Tanjak.

Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah

Nampaknya aturan mengenai tempat duduk prioritas di moda transportasi umum, seperti kereta, berlaku di setiap negara, tidak terkecuali Inggris. Aturan ini menyebutkan bahwa kita harus memprioritaskan wanita hamil, manula, penyandang disabilitas, dan ibu yang tengah menggendong anak untuk duduk, walaupun bangku tersebut sudah terisi. Namun apa jadinya jika ada seseorang yang berusaha untuk menegakkan peraturan di atas, malah mendapatkan umpatan yang menjurus rasisme?

Baca Juga: Pembunuh Rasis Beraksi Lagi di Kereta Komuter Portland

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (21/2/2018), seorang wanita yang tengah berada dalam layanan kereta bawah tanah London, Tube, terpaksa menarik tombol darurat ketika ia tengah berdebat dengan seorang pria. Perdebatan tersebut ditengarai karena sang pria melontarkan kata-kata kasar kepada wanita ini.

Padahal, wanita bertopi ini sebelumnya meminta dengan halus agar si pria berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada seorang ibu yang tengah hamil. “Permisi, bolehkah Anda memberikan tempat duduk kepadanya (Ibu hamil),” tutur sang wanita sembari menepuk bahu si pria. Namun jawaban yang diterima oleh wanita ini sangatlah tidak layak. “Jangan sentuh saya,” jawabnya sembari menyisipkan kata-kata kasar.

Alih-alih memberikan tempat duduknya, pria  ini malah melontarkan  kata-kata yang tidak sepantasnya kepada wanita berkulit agak gelap tersebut. “Dia menyebut saya monyet dan saya ingin memenjarakannya karena tidak berlaku sopan,” ungkap wanita yang identitasnya enggan dibongkar ini. Naik pitam, perdebatan di antara keduanya pun tak terelakkan.

Sembari menarik tombol darurat yang ada di gerbong tersebut, wanita ini terus menimpali setiap umpatan kasar yang dilontarkan si pria. “Saya ingin mereka (petugas) datang, menangkap Anda, dan mendeportasikan Anda!” ucap si wanita dalam rekaman yang berhasil diabadikan oleh salah seorang penumpang lain di dalam gerbong yang sama.

Cekcok yang terjadi di antara keduanya berlangsung sengit dan menyita perhatian para penumpang lain. “Sayalah korbannya, bukan dia,” teriak si wanita dalam video yang berdurasi  kurang dari satu menit itu. Tidak tinggal diam, beberapa penumpang lain yang tidak terlibat dalam cekcok ini berusaha untuk mencegah si wanita ini untuk menekan tombol darurat, namun hasilnya sia-sia.

Baca Juga: Bising, Masyarakat London Keluhkan Layanan Night Tube

Dengan membawa beberapa buah kantong belanjaan, wanita ini terus berusaha untuk menghalau penumpang lain yang mencoba untuk mencegahnya menekan tombol darurat. Hingga saat ini, belum ada kejelasan tentang kelanjutan dari cekcok yang terjadi di Jubilee Line, jalur kereta bawah tanah yang menghubungkan Stratford di London timur dan Stanmore di pinggiran barat laut Inggris ini.