Mulai 26 Januari 2018, Damri JA Connection Buka Rute Depok ke Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma

Sejak awal tahun lalu, layanan transportasi bus dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) bertambah dengan dirilisnya Jakarta Airport Connexion atau JA Connection oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Layanan ini mendapat sambutan positif dari pengguna jasa, lantaran JA Connection mengambil segmen pasar dari calon penumpang yang berada di kawasan hotel atau mal di kawasan Jabodetabek menuju Bandara Soetta dan sebaliknya. Dan terkait JA Connection, ada kabar baik datang dari Perum Damri.

Baca Juga: Bus Bandara Kini Lewati Jalur Mall dan Hotel Jabodetabek

Ya, BUMN yang melayani sektor moda transportasi bus ini dijadwalkan akan membuka rute baru untuk JA Connection. Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com, layanan ini akan mulai beroperasi per tanggal 26 Januari 2018 dengan rute Depok – Bandara Soetta dan Bandara Halim Perdanakusuma. Rencananya, Damri akan menggunakan DMall sebagai titik pemberangkatan dan pemberhentian terakhir.

Sumber: Damri

Untuk pemberangkatan paling pagi menuju Bandara Soetta dimulai pukul 04.00 WIB dan pemberangkatan terakhir pada pukul 20.00 WIB. Rute yang dilewati layanan ini adalah DMall – Jl. Margonda Raya – UI – Universitas Pancasila – Jl. Raya Lenteng Agung – Tol Tanjung Barat – Tol Dalam Kota – Tol Sedyatmo – Bandara Soetta.

Soal harga pun, Damri tidak mematok harga setinggi Kereta Bandara Soetta. Cukup merogoh kocek senilai Rp45.000 untuk sekali perjalanan menggunakan layanan Jabodetabek Airport Connection (JA Connexion) ini.

Berbeda dengan layanan pendahulunya, kini Damri menghadirkan rute tambahan yang akan menghubungkan Depok dan Bandara Halim Perdanakusuma. Dengan skema yang hampir sama dengan rute Depok – Bandara Soetta, yang membedakan hanyalah harga dan jalan yang dilewati.

Baca Juga: Perum DAMRI Hadirkan Bus High Deck dengan Pengalaman Pesawat Terbang

JA Connexion Depok – Bandara Halim akan melewati rute DMall – Jl. Margonda Raya – Jl. Ir. H. Juanda – Tol Cijago – Tol Jagorawi – Cawang – Bandara Halim. Melihat jaraknya yang tidak sejauh Bandara Soetta, Damri mematok harga Rp30.000 untuk rute ini.

Bagi Anda yang hendak kembali menuju Depok, dua layanan baru ini melakukan pemberangkatan terakhir dari masing-masing bandara pada pukul 22.30 WIB. Patut diingat, pemberangkatan baik dari atau menuju bandara dilakukan setiap satu jam sekali. Jadi, jangan sampai ketinggalan bus ya!

Jepang Punya Taksi Khusus Ibu Hamil, Indonesia Punya Taksi Khusus Kaum Difabel!

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika selama berkendara menggunakan transportasi umum seperti Bus TransJakarta atau Commuter Line Jabodetabek, kita harus mendahulukan tempat duduk kepada orang tua, penyandang disabilitas, dan ibu hamil. Mengingat kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk berdiri dalam waktu yang cukup lama, mereka masuk ke dalam kategori penumpang prioritas. Khusus untuk ibu hamil, ternyata ada lho jasa transportasi yang melayani ibu hamil!

Baca Juga: KA Ekonomi Premium “Wijayakusuma,” Dilengkapi Gerbong Untuk Difabel

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman rocketnews24.com, ada taksi di Prefektur Iwate, Jepang yang menyediakan layanan khusus untuk ibu hamil. Bukan membantu bersalin, melainkan layanan ini membantu mengantar ibu hamil ke rumah sakit atau bidan, hingga mengantar ibu hamil yang berada dalam kondisi darurat seperti hendak melahirkan, pendarahan, atau masalah kehamilan lainnya. Di awal kemunculannya pada tahun 2012 silam, layanan ini sempat booming dan menjadi tren, khususnya di Prefektur Iwate.

Tidak hanya itu, para ibu  hamil di Tokyo juga dapat melakukan pra-pendaftaran untuk layanan persalinan khusus dengan beberapa perusahaan taksi paling populer di kota ini. Adapun cikal bakal layanan ini dinakhodai oleh perusahaan taksi terkemuka asal Tokyo, Nihon Kotsu Co., menggandeng para bidan untuk membagikan ilmunya kepada pengemudi taksi tentang persalinan dan bagaimana merawat ibu hamil dalam perjalanan ke rumah sakit.

Terbukti, lebih dari 20.000 pengemudi mendaftar pendidikan non-formal tersebut. Ini menunjukkan bahwa tingginya minat orang Jepang terhadap pelayanan pada ibu hamil. Hingga kini, sudah banyak pengemudi taksi biasa yang dapat memberikan pelayanan kepada ibu hamil. Lalu, bagaimana caranya para ibu hamil menggunakan layanan khusus ini? Para ibu hamil cukup mendaftarkan diri kepada perusahaan taksi terkait, dimana setelah itu, si penyedia jasa akan memprioritaskan layanannya. Layaknya kebanyakan taksi, layanan taksi khusus ibu hamil ini akan dikenakan biaya per-meter, dengan biaya pendaftaran di awal berkisar antara US$3,7 atau yang setara dengan Rp50.000 saja.

Sankyu Taxi

Kini, Nihon Kotsu Co. mulai memiliki saingan. Adalah perusahaan taksi lokal, Furusato Kotsu yang mengoperasikan taksi “Sankyu”, layanan yang hampir serupa dengan yang dimiliki Nihon Kotsu Co. Mungkin namanya terdengar mirip dengan ucapan terima kasih dalam bahasa Inggris, namun filosofi sebenarnya dari pengangkatan nama ini adalah penggabungan dari San (persalinan) dan Kyu (membantu/menyelamatkan). Jadi, sudah jelas Taksi Sankyu ini dikhususkan untuk siapa dan tujuan apa.

Tidak hanya pengemudinya saja yang diberikan pembelajaran, modanya pun didandani sedemikian rupa sehingga kapanpun situasi darurat kehamilan terjadi, sang pengemudi dapat memberikan pertolongan pertamanya langsung dari dalam mobil. Handuk dan sprei tahan air merupakan gear wajib yang tidak pernah absen dari bangku penumpang.

Sumber: detik

Jika layanan ini hadir di Indonesia, nampaknya tidak akan ada kasus terpaksa melahirkan di sarana transportasi, dengan segala keterbatasan orang-orang yang ada di sekitarnya. Alih-alih memberikan layanan khusus untuk ibu hamil, salah satu perusahaan taksi terkemuka dalam negeri, Blue Bird malah membuat layanan yang memprioritaskan kaum difabel. Life Care Taxi, adalah layanan khusus yang disuguhkan oleh Blue Bird untuk memanjakan para penyandang disabilitas atau lansia.

Untuk modanya, tentu Blue Bird tidak menggunakan mobil jenis sedan sepeti kebanyakan taksi, melainkan Nissan Serena. Dikarenakan layanan ini termasuk dalam kategori istimewa, maka si penyedia modanya pun tidak mau setengah-setengah dalam menyanggupi permintaan Blue Bird. Nissan Serena yang digunakan sebagai armada layanan Life Care Taxi telah melewati tahap modifikasi pada bagian seat penumpang.

Baca Juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi

Kursi penumpang diciptakan khusus untuk memudahkan akses naik-turun para penyandang disabilitas dan manula. Tidak hanya itu, penambahan kursi khusus di baris tengah sebelah kiri yang dapat naik-turun secara otomatis dengan digerakkan oleh tombol maupun remote. “Saat ini hanya di Nissan Serena yang sanggup dimodifikasi untuk mengakomodir kebutuhan kaum difabel atau manula,“ ungkap Presdir PT. Nissan Motor Indonesia, Steve Ardianto, dikutip dari sumber berbeda.

Adapun layanan istimewa dari Blue Bird ini diresmikan pada jaman DKI Jakarta berada di bawah kepemimpinan Jokowi – Basuki Tjahja Purnama (Ahok), tepatnya pada 10 September 2014.

Nanyang University Punya Bus Kampus Elektrik? Unpad dan UI Juga Punya Tapi…

Hadirnya moda transportasi darat di dunia perkuliahan memang dapat menunjang mobilitas para mahasiswa. Selain tidak perlu capek berjalan, efisiensi waktu menjadi pertimbangan utama yang melatarbelakangi hadirnya sarana transportasi di kampus-kampus yang memiliki luas wilayah super besar. Seperti langkah yang diambil oleh Nanyang Technological University (NTU), dimana salah satu kampus yang namanya sudah mendunia ini menghadirkan sarana transportasi untuk mengangkut orang-orang di sekitaran kampus.

Baca Juga: “Bus Sekolah Gratis,” Aplikasi Monitoring Bus Sekolah di Jakarta

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (24/1/2018), mengingat efisiensi waktu menjadi poin penting dalam hadirnya sarana transportasi tersebut, universitas yang berada di Singapura ini diketahui tengah bereksperimen dengan Electric Vehicle (EV) berbentuk shuttle yang hanya membutuhkan waktu 20 detik saja untuk melakukan pengisian ulang daya hingga penuh!

NTU-Blue Solutions Flash Shuttle, merupakan nama dari moda yang memiliki 22 seat yang dirilis pada 22 Januari silam, hasil kerja sama NTU dan BlueSG, layanan carsharing berbasis kendaraan listrik pertama asal Singapura. Tidak seperti EV lain yang hanya mengandalkan baterai dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengisian daya, moda ini dilengkapi dengan supercapacitors dan baterai Lithium-Metal-Polymer (LMP) yang dikembangkan oleh Blue Solutions. Inilah yang menjadikan NTU-Blue Solutions Flash Shuttle unggul dalam hal waktu pengisian daya.

Presiden NTU, Subra Suresh mengatakan bahwa kehadiran EV berbentuk shuttle bus ini dapat meminimalisir pencemaran lingkungan. “Penggunaan kendaraan listrik yang berfungsi sebagai angkutan umum tengah dikembangkan di seluruh dunia, karena ini menunjukkan bahwa sistem transportasi menjadi lebih efisien dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” tutur Subra.

Dalam ‘penampilan’ perdananya, membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk menentukan rute uji coba dari kendaraan  yang mampu menempuh jarak hingga 30km dalam sekali charge ini. Rencananya, NTU-Blue Solutions Flash Shuttle ini akan beroperasi di NTU hingga dua tahun ke depan.

Jika diperhatikan, tidak hanya Nanyang yang menyediakan sarana transportasi untuk keperluan mobilitas mahasiswa di sana. Sebut saja Universitas Padjadjaran (Unpad) yang berlokasi di Jatinangor, Jawa Barat yang juga menyediakan layanan serupa, walaupun modanya masih menggunakan mesin diesel. Moda berbentuk bus gandeng tanpa kaca tersebut melayani mobilitas mahasiswa dan staf kampus yang hendak melakukan perjalanan dari gerbang pejalan kaki menuju masing-masing fakultas dan rektorat dengan rute yang sudah ditentukan sebelumnya. Para penumpangnya pun tidak dipungut biaya sepeserpun untuk menggunakan moda ini.

Baca Juga: “Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend

Seperti halnya Unpad, Universitas Indonesia (UI) juga memiliki layanan serupa yang namanya telah lebih dahulu tenar dibandingkan kedua layanan di atas. Adalah Bikun yang merupakan singkatan dari Bis Kuning, sudah mulai melayani mahasiswa UI sejak tahun 1988 silam. Berbeda dengan Unpad yang hanya memiliki satu rute saja, Bikun memiliki dua rute yang diinisialkan dengan rute merah dan biru. Walaupun titik awal dan akhir perjalanan dari kedua rute ini sama, hanyalah titik pemberhentiannya saja yang berbeda-beda.

Saking melegendanya, nama Bikun juga diangkat menjadi sebuah coffee shop yang berada di dalam Fakultas Hukum. Uniknya lagi, coffee shop tematik ini berdiri di atas kerangka Bikun yang sudah tidak beroperasi lagi. Meski telah menjadi identitas UI Depok, pengelolaan Bikun dilakukan secara outsourcing, dan sayangnya pengoperasian Bikun telah berakhir pada tahun 2015.

Enam Teknologi Ini Jadi Benchmark Kemajuan Bandara di 2018

Tidak bisa dipungkiri, bandara merupakan salah satu gerbang masuk menuju suatu negara atau kota yang secara tidak langsung mencerminkan keseluruhan keadaan di destinasi tersebut. Hadirnya sejumlah teknologi mutakhir dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang turut menyeret bandara untuk mengadopsi beberapa di antaranya. Sebut saja teknologi face recognizing (pemindai wajah) yang tengah dikembangkan di beberapa bandara yang akan memudahkan para penumpang untuk melewati proses pemeriksaan imigrasi.

Baca Juga: Baidu Rambah Teknologi Pengenalan Wajah di Bandara

Banyak bandara di seluruh dunia secara aktif turut terlibat dalam uji coba teknologi mutakhir pada tahun 2017 kemarin, dan banyak pihak yang berharap agar beberapa dari proyek tersebut akan terus dikembangkan pada tahun 2018 ini. Berikut, KabarPenumpang.com himpun enam teknologi penting yang sekiranya bakal menghiasi bandara di seluruh dunia, dikutip dari laman tnooz.com (2/1/2018).

Cybersecurity
Ancaman kejahatan cyber memang semakin masif dewasa ini, inilah yang menjadi sisi negatif perkembangan jaman. Kerjasama berkelanjutan antara pemerintah dan pemangku kepentingan industri lainnya yang akan membantu pengembangan sumber daya. Namun ancaman cyber ini akan terus berlanjut dan memerlukan tinjauan yang hati-hati terhadap infrastruktur pertahanan. Maka dari itu, peningkatan kesadaran staf terhadap ancaman kejahatan cyber amat diperlukan.

Pengembangan Teknologi Blockchain
Penelitian SITA (Société Internationale de Télécommunications Aéronautiques) tentang teknologi blockchain yang dilakukan bekerjasama dengan British Airways, Heathrow, Geneva Airport dan Miami International Airport mengungkapkan beberapa keuntungan menggunakan Blockchain sebagai sumber keabsahan data tertinggi dalam dunia penerbangan. Teknologi Blockchain berguna untuk memastikan bahwa informasi yang tersimpan pada paspor digital hanya dapat dilihat oleh pemiliknya saja. Mengingat kompleksnya teknologi ini, diharapkan bandara-bandara terkait dapat mempelajari lebih lannjut tentang teknologi ini, mengingat pengaplikasiannya yang diprediksi tidak dapat diterapkan dalam satu atau dua tahun ke depan.

Pengembangan Otomasi dan Self-Service
Pengembangan teknologi ini dipercaya oleh sejumlah pihak dapat meningkatkan efisiensi waktu penumpang. Contohnya adalah waktu antrean penumpang di imigrasi yang dapat dialokasikan untuk kesibukan lain jika menggunakan teknologi pemindai wajah, dan seterusnya. Menurut Global Passenger Survey yang dilakukan oleh IATA, mereka mendapati sebagian besar penumpang menikmati otomasi yang perlahan hadir di beberapa bandara, seperti teknologi boarding pass elektrik, self-boarding, hingga gerbang imigrasi otomatis.

Pengembangan NEXTT
International Air Transport Association (IATA) dan Airports Council International (ACI) berkolaborasi dalam prakarsa NEXTT untuk bandara di masa yang akan datang. Sementara untuk mewujudkannya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua dekade. Di sini, IATA dan ACI berharap beberapa konsep NEXTT dapat menjadi bagian dari pengalaman penerbangan penumpang pada tahun 2020 kelak. Idenya adalah merencanakan masa depan otomasi lebih besar dan transportasi alternatif dengan lebih banyak fungsi perjalanan dipindahkan dari bandara. Kehadiran NEXTT memerlukan peninjauan terhadap praktik penanganan penumpang dan kargo, serta peraturan yang mengatur operasi maskapai dan bandara.

Baca Juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

Baggage Tracking
Beberapa bandara dan penyedia jasa layanan penerbangan telah mempersiapkan elemen yang menunjang kehadiran dari teknologi baggage tracking, seperti alat pemindai, tag Radio-Frequency Identification (RFID), hingga kesesuaian data. Baggage tracking merupakan bagian dari IATA Resolution 753 yang mulai berlaku pada tahun 2018. Pihak bandara harus bekerja sama dengan perusahaan penerbangan untuk memastikan bahwa infrastruktur penanganan bagasi mereka dapat mendukung pelacakan secara live.

Fokus pada Pelanggan
Dalam kasus ini, pelanggan bandara tidak hanya seputaran penumpang saja, melainkan pihak maskapai pun masuk ke dalam kategori pelanggan bandara. Dengan kata lain, pembenahan yang selama ini terjadi di bandara bukan semata-mata untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpang, melainkan kepada pihak maskapai juga.

Jelang Pembukaan Rute Baru, Inilah Sejumlah Tantangan Yang Menerpa Garuda Indonesia

Maskapai plat merah kebanggaan Ibu Pertiwi, Garuda Indonesia menyampaikan target pendapatannya tahun 2018 ini setelah sebelumnya sempat anjlok. Terlepas dari permasalahan internal yang tengah menderu, Flag Carrier Indonesia ini menargetkan pendapatan bersih sebesar $8,7 juta atau yang setara dengan Rp115,8 miliar.

Baca Juga: Mulai 29 Januari 2018, Garuda Indonesia Layani Rute Denpasar – Zhengzhou dan Denpasar – Xi’an

Guna mencapai target tersebut, Garuda Indonesia berencana untuk membuka beberapa rute baru yang dinilai potensial, walaupun langkah ini bisa dibilang tidak mudah mengingat minimnya SDM yang terintergrasi.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, maskapai yang tergabung dalam Skyteam ini menemukan masalah yang cukup vital dalam merealisasikan rencana pembukaan rute baru mereka, Denpasar, Bali menuju Zhengzhou dan Xi’an, Cina. “Karena kami kekurangan penerbang, jadi kami negosiasi, boleh enggak kurangin dulu 1 hari lah (hari liburnya), misalnya dalam sebulan, tentunya dengan adanya kompensasi,” ujar Direktur Operasional Garuda Indonesia, Triyanto Moeharsono.

Pernyataan tersebut jelas menampik pemberitaan miring yang beredar belakangan ini terkait pengurangan jam istirahat pilot. Guna mengatasi solusi yang bersifat temporer tersebut, pihak Garuda berencana untuk menambah SDM baru. “Bakal ada penambahan SDM, kalau pengurangan jam terbang enggak ada,” imbuhnya.

Menurut Triyanto, untuk mempersiapkan satu penerbang butuh waktu pelatihan kurang lebih selama satu tahun, sehingga masalah kekurangan pilot tidak dapat diselesaikan dalam waktu cepat. Pada tahun ini, Garuda Indonesia akan menambah 122 penerbang baru.

Mantan Vice President (VP) Operation Planning & Control Garuda Indonesia ini membenarkan adanya penambahan jam kerja pilot, namun dirinya percaya bahwa para penerbang tidak ada masalah dan operasional hingga kini masih berjalan dengan lancar.

“Saya yakin teman-teman itu sangat profesional. Kalau kita lihat ontime performa (penerbangan) kami,” ungkap Triyanto. “Kami percaya apa yang dilakukan teman-teman dan manajamen adalah demi kebaikan Garuda Indonesia,” timbalnya.

Semakin tinggi pohon, maka semakin besar pula terpaan anginnya. Mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan situasi yang tengah dialami Garuda Indonesia saat ini. Merujuk pada pemberitaan miring yang sudah disinggung di atas, Triyanto mengatakan bahwa sudah ada diskusi yang dilakukan oleh pihak internal Garuda dengan Serikat Pekerja Garuda Indonesia (Sekarga) yang berujung pada lahirnya Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

“Apa yang diinginkan (Sekarga) sudah kita kembalikan sesuai aturannya dan ini butuh waktu. Artinya ini proses, enggak berapa lama lagi kami akan in line (selaras) dengan apa yang diharapkan (Sekarga),” terang Triyanto.

Baca Juga: Garuda Indonesia Sabet Posisi Empat di Best Economy Class Airlines

Selain masalah internal, faktor eksternal pun turut menghambat laju Garuda dalam mengimplementasikan rute barunya tersebut. Melonjaknya harga minyak bumi dan letusan Gunung Agung di Bali menjadi dua bayang kelam yang terus membuntuti Garuda. Walhasil, ‘tahap penyembuhan’ Garuda Indonesia masih terombang-ambing.

Sementara itu dikutip dari sumber terpisah, Helmi Imam Satriyono selaku Director of Finance and Risk Management Garuda Indonesia tetap optimis bahwa tahun ini Garuda dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara signifikan. “Target peningkatan volume penumpang sebesar 9-10% per tahun. Ditambah dengan pembukaan rute baru dan peningkatan bisnis di sektor kargo,” tuturnya.

Stasiun Lebak Jero, Suguhkan Pemandangan Cantik Hingga Jalur Elok Berbentuk “S”

Pemandangan alam dengan gunung dan hamparan hijau seringkali menjadi latar belakang sebuah jalur kereta atau stasiun. Bahkan dijadikan objek foto bagi para pecinta fotografi. Mungkin sudah tak asing lagi bagi penikmat fotografi, dengan stasiun Lebak Jero yang memiliki latar belakang dengan pemandangan yang indah.

Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Memiliki lintasan rel membentuk huruf S serta gunung yang menjadi latar belakangnya, membuat para pecinta fotografi berlomba-lomba untuk mendapatkan foto yang indah dan menarik dari stasiun ini dari berbagai sudut pandang atau angle.

Kabarpenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, stasiun Lebak Jero bukanlah stasiun besar, karena hanya memiliki satu bangunan kecil dan sederhana dengan ukuran 4×3 meter. Disebelahnya terdapat sebuah bangunan berdinding kayu yang dimanfaatkan untuk ruang tunggu penumpang.

Jalur bentuk S di stasiun Lebak Jero

Dibangun tahun 1920, stasiun ini berlokasi di area perbatasan Karangtengah, Kadungora, Garut dengan Ciherang, Nagreg, Bandung. Stasiun Lebak Jero sendiri merupakan stasiun paling timur di Kabupaten Bandung dan memiliki ketinggian +818 meter di atas permukaan laut dan masuk Daerah Operasional II Bandung.

Dilengkapi dengan dua jalur dimana jalur 2 adalah sepur lurus, stasiun ini juga memiliki rel langsir terpendek di Jawa Barat yang hanya mampu menampung lima gerbong. Jika melebihi lima gerbong, biasanya kereta akan diarahkan ke jalur terminus untuk menempatkan bagian belakangnya di garis terminus yang berlawanan dimana masinis harus menggerakkan kereta.

Sayangnya stasiun kecil ini hanya disinggahi oleh satu kereta api yakni KA Simandra yang melayani perjalanan di koridor Purwakarta-Cibatu dan kereta lainnya hanya melintas. Bahkan stasiun ini memiliki fungsi sebagai stasiun persilangan.

Pemandangan stasiun Lebak Jero

Jika bertanya tentang warung atau kios, jawabannya tidak ada. Selain kecil, stasiun ini bisa dikatakan tidak lagi memiliki nilai komersial karena hanya ada dua baris bangku di ruang tunggu dan loket kecil tempat penjualan tiket.

Nilai historis di stasiun ini cukup jelas dimana stasiun ini masih menggunakan sisa-sisa peninggalan belanda dari bangunan stasiunnya, wesel, peralatan layanan sinyal hingga sinyalnya sendiri. Stasiun ini juga pernah dipugar hanya saja dibagian atap dan dinding ruang tunggu. Untuk sampai ke stasiun ini, jangan pernah berharap melalui jalan besar dan beraspal. Sebab untuk sampai ke stasiun ini harus melalui gang perkampungan sempit sejauh 700 meter dan melewati jalanan licin dengan tanjakan curam sejauh 100 meter.

Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Kendaraan pun hanya motor dan sepeda, tapi sampai di stasiun ini, Anda akan dihadapkan dengan lintasan utama yang juga sebagai halaman depan stasiun. Tak hanya itu, lelah dan sulitnya jalur terbayarkan dengan pemandangan alam dan sejuknya udara di stasiun Lebak Jero ini.

Anda Ketinggalan Penerbangan? Jangan Keburu Panik, Ikuti Langkah Ini!

Terjebak kemacetan lalu lintas menjadi hal yang menakutkan dalam perjalanan menuju bandara, keringat dingin ataupun panik bisa terjadi karena takut tertinggal pesawat, lantaran jika tertinggal pesawat bukan hanya tiket saja yang hangus melainkan perjalanan pun tertunda.

Baca juga: Terpaksa Menginap di Bandara? Siapa Takut!

Panik dan stress mungkin tak bisa dihindari jika Anda mengalami kejadian tersebut, namun itu bukan akhir dari segalanya, ada beberapa hal yang sebaiknya dapat Anda lakukan setelah dipastikan Anda tertinggal pesawat. KabarPenumpang.com merangkum dari laman travelandleisure.com (22/1/2018), jika terlambat mala sebaiknya langsung hubungi pihak maskapai untuk mengetahui langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya dan mereka akan memandu untuk membuat Anda sedikit tenang dalam menghadapi situasi tersebut.

“Jika seorang pelancong tahu akan tertinggal penerbangan, baiknya penumpang tersebut memberi tahu maskapai. Sebagian besar penerbangan saat ini memiliki kursi cadangan  pada penerbangan berikutnya yang bisa dimanfaatkan,” ujar Kelly Kincaid salah seorang pramugari. Dia mengatakan, memberitahukan pada pihak maskapai juga meningkatkan kesempatan calon penumpang untuk diberi rebook pada penerbangan berikutnya jika ada kursi yang memungkinkan atau kosong. Jika hanya terlambat, bukan berarti pelancong harus menyerah begitu saja.

Baiknya Anda periksa secara online atau check in online untuk mengetahui apakah masih ada peluang untuk mengejar penerbangan teserbut bahkan saat sudah sampai di bandara. Biasanya gate penerbangan masih terbuka 10-15 menit sebelum keberangkatan, jadi bersiaplah Anda untuk berlari mengejar pesawat.

Tapi, bagaimana jika tidak bisa mengejar penerbangan tersebut? Hal ini tergantung pada maskapai penerbangan, pelancong mungkin akan dikenakan biaya rebooking untuk naik kepesawat lain. Beberapa maskapai penerbangan juga mengenakan biaya tiket untuk penerbangan yang baru.

JetBlue salah satu maskapai yang mencoba untuk memberi kemudahan dengan harga tiket yang tidak berbeda jauh bahkan setara dengan tiket pesawat sebelumnya yang tertinggal. Apalagi jika Anda sudah melakukan konfirmasi sebelum terlambat.

Sedangkan Southwest tidak mengenakan biaya perubahan, tetapi pelancong harus bisa mengikuti perbedaan tarif yang disediakan. Untuk Anda yang tertinggal pesawat, baiknya juga melihat papan jadwal penerbangan.

Anda bisa mencari perjalanan selanjutnya dengan maskapai yang sama untuk menghindari biaya tambahan. Kemudian bisa ke bagian check in atau agen penerbangan di bandara untuk membantu mempercepat prosesnya.

Keterlambatan memang menjadi hal yang paling dihindari pelancong. Sebab selain waktu, uang pun terkuras karena untuk membeli tiket pesawat tidaklah murah. Namun, bagaimana jika terlambat apakah uang Anda kembali? Ini sering menjadi pertanyaan para pelancong dan jawabannya adalah uang Anda tidak akan kembali.

“Ada yang disebut dengan aturan. Pada dasarnya aturan itu bisa digunakan untuk dikenakan biaya pada hari yang sama jika terkonfirmasi atau biaya standby, bukan biaya perubahan ongkos jika penumpang menyatakan keterlambatan mereka karena ban kempes, kecelakaan atau hal sejenis,” ujar Kincaid.

Baca juga: Bosan Menunggu, Pria Ini Buka Pintu Darurat dan Niat Lompat dari Sayap Pesawat

Hal tersebut sama seperti maskapai saat menghindari kompensasi penumpang untuk pembatalan terkait cuaca. Meskipun kebijakan ini jarang dipublikasikan di situs maskapai penerbangan, The Points Guy mencatat bahwa sebagian besar operator domestik di AS, termasuk American Airlines, Delta Air Lines dan United Airlines, akan mengakomodasi pelancong yang tiba dalam waktu dua jam setelah keberangkatan awal mereka, tanpa membayar biaya atau menelan tarif yang naik.

Sedangkan untuk barang bawaan yang sudah masuk dalam penerbangan dan Anda tertinggal saat transit. Pelancong bisa langsung menghubungi pihak maskapai agar barang bawaan Anda di simpan sampai Anda mengambilnya di bandara tersebut.

 

Larangan Dilonggarkan, Maskapai Cina Kini Izinkan Penumpang Aktifkan Smartphone di Pesawat

Penggunaan smartphone oleh penumpang sempat dilarang dalam penerbangan maskapai di Cina. Hal ini dikarenakan adanya keputusan Administrasi Sipil Cina atau Civil Administration of China (CAAC). Namun, baru-baru ini CAAC melonggarkan peraturan tersebut dan membuat beberapa maskapai besar di Negeri Tirai Bambu mulai mengizinkan penumpang kembali menggunakan smartphone mereka. Meski begitu, smartphone hanya boleh digunakan jika dalam kondisi mode pesawat.

Baca juga: Lempar Koin ke Mesin, China Southern Airlines Alami Delay 5 Jam

Beberapa maskapai besar yang sudah memperbolehkannya adalah China Eastern Airlines dan Hainan Airlines. Selain itu Air China baru memperbolehkan penumpangnya menyalakan smarphone mereka dalam pesawat pada hari Minggu kemarin.

KabarPenumpang.com melansir dari laman zdnet.com (21/1/2018), Air China sendiri menjadi maskapai  terakhir diantara empat maskapai besar di Cina yang melonggarkan peraturan dalam penerbangannya. Diketahui, sampai minggu lalu, ponsel diharuskan untuk benar-benar dalam kondisi mati saat penerbangan di setiap maskapai Cina.

Kini setelah diperbolehkannya kembali atau adanya kelonggaran peraturan tersebut, maskapai-maskapai Cina yang sudah menawarkan layanan WiFi dalam penerbangan mereka kembali memanfaatkan pasar besar tersebut. Hingga kini tiga maskapai besar yakni China Southern Airlines, Cina Eastern Airlines dan Air China melaporkan adanya kenaikan penumpang di tahun 2017 lalu.

Hingga kini ada 112 pesawat Cina yang sudah dilengkapi dengan layanan WiFi dalam penerbangannya oleh Cina Telecom yang merupakan salah satu operator telekomunikasi utama di Negeri Tirai Bambu ini. China Southern Airlines menawarkan layanan WiFi untuk penumpang di 15 pesawat Airbus A330-300.

Layanan yang diberikan China Southern secara cuma-cuma alias gratis bagi penumpang di kelas satu dan bisnis. Sedangkan kelas ekonomi, untuk mendapatkan pelayanan gratis harus mengajukannya 24 jam sebelum keberangkatan.

Tak hanya itu, China Eastern Airlines juga sudah melengkapi 74 pesawatnya dengan layanan WiFi untuk semua rute internasional jarak jauh dan 166 rute domestik. Sedangkan Hainan Airlines memberikan layanan WiFi di 17 pesawat lainnya.

Baca juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base

Untuk Air China sendiri memilih solusi hiburan dan konektivitas inflight (IFEC) dari Panasonic Avionics untuk armada pesawat Airbus A350. Berdasarkan ketentuan perjanjian tersebut, Panasonic akan menyediakan hiburan eX3 untuk 10 pesawat Air China A350.

Meski begitu, sampai saat ini beberapa maskapai penerbangan Cina dikatakan mempertimbangkan untuk mengizinkan penggunaan ponsel pada penerbangan mereka.

Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

Dalam laporan tahunannya, PT Angkasa Pura II menyebut bahwa Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) selama tahun 2017 telah melayani 63 juta pergerakan penumpang. Dan capaian tersebut adalah level tertinggi untuk bandara di Indonesia. Nah, sebagai perbandingan adalah Bandara Changi di Singapura yang dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia. Ada berapa juta penumpangkah yang dilayani Changi selama tahun 2017?

Baca juga: Sepanjang 2017, Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma Layani 70 Juta Penumpang

Bandara Changi baru saja mencatatkan ada 62,2 juta penumpang yang terbang selama 2017 lalu. Angka ini membuat kenaikan enam persen dari tahun lalu. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (23/1/2018), bahwa adanya peningkatan jumlah penumpang karena naiknya frekuensi penerbangan ke destinasi yang ada di Cina dan India. Dimana ada sepuluh jalur baru yang dibuat Singapura dan kota-kota di Cina dengan maskapai Heibei. Penerbangan ini sendiri pertama kalinya melayani Harbin, Shijiazhuang dan Yantai. Tak hanya itu ke India juga ada empat destinasi baru ke Delhi, Bangalore, Chennai dan Coimbatore dengan JetAirways dan IndiGo.

Saat ini untuk bandara tersibuk, Changi masih menepati urutan ke enam dalam lalu lintas internasional. Namun, direktur pengelola Changi Airport Group (CAG) Lim Ching Kiat mengtakan, ini bukan hanya permainan angka. “Bisnis bandara berarti ketika kita bertumbuh, bandara regional juga akan tumbuh, karena penerbangan harus dimulai dari salah satu bandara regional. Begitu Changi tumbuh, kita akan melihat bandara Kuala Lumpur, Bangkok, Jakarta dan Manila tumbuh dengan kecepatan yang sama. Secara keseluruhan itu bagus untuk daerah, dan itu bagus untuk Changi,” ujarnya.

Adanya perkembangan ini, International Air Transport Association kemudian memperkirakan kawasan Asia Pasifik akan bertumbuh dari 2,5 miliar menjadi 8,5 miliar penumpang dalam sepuluh tahun kedepan. Pada tahun 2036 mendatang, Cina, India dan Indonesia diperkirakan masuk dalam lima besar pasar perjalanan udara di dunia.

Untuk melayani pertumbuhan ini, CAG melakukan pengembangan proyek Changi East yang akan menjadi Terminal 5. Diharapkan nantinya dapat menambah kapasitas 50 juta penumpang pertahun pada tahap awal. Diketahui, pekerjaan pada sistem runway ketiganya akan di buka pada 2020 mendatang. Lim mengatakan, untuk penanganan kargo, Changi tumbuh sebesar 7,9 persen dan melebihi angka 2,13 juta ton pada tahun sebelumnya.

Bandara Changi telah mengembangkan kemampuan penanganan kargo dengan fokus pada kapasitasnya agar aman dan cepat dalam menangani obat-obatan, produk yang mudah rusak dan surat eCommerce. Kenaikan jumlah penumpang juga dikarenakan bandara Changi memberikan akses sambungan untuk moda darat dan lautnya.

Tahun 2017 kemarin, penumpang dari bandara Changi bisa terhubung dengan pelabuhan ferry Tahan Merah dengan menyediakan bus antar jemput dengan biaya rendah. Selain itu, Lim menambahkan, pihak bandara akan melakukan kolaborasi dengan perusahaan pelayaran untuk mendatangkan lebih dari 600 ribu pengunjung dalam empat tahun.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Hadirkan Kemewahan dan Teknologi Tinggi

Tak hanya di sekitaran Asia, Lim mengatakan, banyaknya destinasi di Eropa juga akan membuka peluang dimana tahun lalu, Norwegian Airlines mulai mengoperasikan penerbangan biaya rendahnya ke bandara Gatwick London. Selain itu Scoot juga memulai penerbangannya langsung ke Athena. Adapun untuk memperkuat koneksi Singapura ke Eropa Timur, penerbangan ke Munich, Berlin dan Warsawa juga dibuka.

Beli Sepatu Adidas Dapat Tiket Gratis Naik Transportasi Umum di Berlin

Dikenal sebagai produsen perlengkapan olahraga kondang asal Negeri Bavaria, Adidas baru saja membuat ratusan pecinta sepatu berlogo tiga garis tersebut rela berkemah di depan salah satu toko resminya di Berlin pada Selasa (16/1/2018) kemarin.

Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Bukan dalam rangka diskon besar-besaran atau bagi-bagi sepatu gratis, melainkan ratusan pecinta sneakers ini rela mengantre demi mendapatkan tiket perjalanan gratis dengan menggunakan kendaraan umum selama setahun penuh! Lho, kok bisa?

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Adidas baru saja merilis sneakers teranyarnya yang diberi nama EQT 93/Berlin. Lalu, apa kelebihan dari sepatu yang dibanderol dengan harga 180 Euro atau yang setara dengan Rp2,9 juta ini?

Antrian Warga Berlin di Depan Store Adidas. Sumber: istimewa

Ternyata, Adidas telah terlebih dahulu bekerja sama dengan otoritas transportasi Berlin, Berliner Verkehrsbetriebe Gesellschaft (BVG) yang menyematkan kode tiket terusan untuk sarana transportasi umum di kota Berlin pada bagian lidah sepatunya.

Dengan menggunakan Adidas EQT 93/Berlin, para penggunanya mendapatkan akses menggunakan hampir semua sarana transportasi di salah satu kota terbesar di Jerman (Zona A dan B) tersebut secara gratis hingga 31 Desember 2018. Wow!

Jika dihitung-hitung, total ongkos transportasi umum yang mesti dikeluarkan dalam setahun mencapai 761 Euro atau yang setara dengan Rp12,4 juta. Wajar saja jika Berliners rela menginap bahkan tiga hari sebelum sepatu dengan warna dasar putih ini dirilis. Salah satu alasan yang mendasari para Berliners ini rela menginap di depan store adalah karena keterbatasan jumlah sepatu yang dijual, yaitu hanya 500 pasang saja. Mereka pun hanya diperbolehkan untuk mengantongi satu pasang sepatu saja per orang.

Baca Juga: Mengenal Chip Memori di Dalam Tiket Elektronik

Dikutip dari laman The Local, hingga Selasa (16/1/2018) tercatat sebanyak 550 orang sudah mengular dengan rapinya hanya untuk membawa pulang sepasang sepatu spesial ini. Selain kode tiket terusan yang berada di bagian lidahnya, sepatu yang merupakan pengembangan dari seri EQT Support 93/17 ini memiliki motif heelcup yang menyerupai jok angkutan massal di Berlin, yaitu kombinasi warna merah, abu-abu, biru, dan hitam.

Kalau hal serupa terjadi di Jakarta, relakah Anda mengantre seperti yang dilakukan oleh warga Berlin?