Efisiensi Biaya Operasional Jadi Alasan Utama Anjloknya Permintaan Terhadap Airbus A380

Walaupun masih ‘seumur jagung’ di dunia kedirgantaraan, namun nampaknya Airbus harus bersiap untuk menerima kenyataan pahit terhadap masa depan dari salah satu pesawat superjumbo double-deck nya, Airbus A380. Ada banyak hal yang melatarbelakangi gentarnya pihak Airbus untuk menghadapi seleksi alam di dunia kedirgantaraan global, salah satunya adalah masalah efisiensi pengoperasian pesawat yang mampu menampung 500 penumpang ini.

Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta

Dari namanya saja, pesawat ini sudah pasti bisa menampung jumlah penumpang yang lebih banyak daripada pesawat kelas jumbojet, sebut saja Boeing 747. Tidak melulu soal kapasitas penumpang yang sanggup mereka angkut dalam sekali penerbangan, Airbus A380 juga diketahui merupakan salah satu pesawat yang bisa menempuh jarak sejauh 15.200 km. Maka tidak heran jika pesawat ini kerap kali dijadikan armada yang melayani rute penerbangan langsung jarak jauh.

Namun dibalik semua keunggulannya tersebut, para penyedia jasa layanan penerbangan melihat kalau pesawat dengan empat mesin ini bisa dibilang tidak terlalu efisien. Perkembangan jaman yang tidak pernah berhenti ini akhirnya membuat para produsen pesawat mulai mengembangkan pesawat kecil yang mampu menempuh jarak terbang seperti yang dilakukan oleh Airbus A380.

Dari sinilah titik kehancuran Airbus A380 mulai muncul, manakala para penyedia jasa layanan ini lebih memilih pesawat narrow-body yang sudah berevolusi tersebut ketimbang Airbus A380, dimana pesawat-pesawat yang memiliki ukuran yang lebih kecil tersebut tentu saja lebih hemat bahan bakar (karena hanya menggunakan dua buah mesin) dan meningkatkan frekuensi penerbangan dari penyedia jasa layanan penerbangan.

“Mengingat situasi pemesanan terhadap A380 saat ini, pengiriman pada tahun 2019 mendatang hanya akan disesuaikan ke delapan pesawat saja,” ungkap salah satu juru bicara Airbus, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailypost.co.uk (27/7/2017). Pernyataan tersebut diluncurkan setelah Airbus menyatakan bahwa total pemesanan terhadap A380-nya terus mengalami penurunan. “15 pesawat pada tahun ini, 12 pesawat pada 2018, dan hanya delapan pada 2019,” tutur pihak Airbus.

Tapi, di sini Airbus bisa sedikit bernafas lega manakala Cina berencana untuk membeli A380 dalam partai besar. “Maskapai penerbangan Cina berpotensi membutuhkan antara 60 dan 100 pesawat A380 selama lima tahun ke depan, seiring dengan meningkatnya lalu lintas penumpang,” tukas kepala Airbus China, Eric Chen, dikutip dari laman arabnews.com (20/9/2017). Tentunya dengan jumlah pesanan tersebut akan mengimbangi perlambatan pesanan Airbus A380 oleh pelanggan terbesarnya, Emirates.

Baca Juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru

“Ketika saya melihat arus pasar, kenaikan jumlah penumpang, ketersediaan rute, dan faktor ekonomi, saya sepenuhnya yakin bahwa operator Cina memerlukan minimal 60 Airbus A380 selama lima hingga tujuh tahun ke depan,” tambah Eric. Kita tunggu saja perkembangan dari pesawat superjumbo double-deck ini.

Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

Perusahaan kereta milik Negeri Bavaria, Deutsche Bahn diketahui baru saja meluncurkan bus otonom yang akan membawa penumpang menuju stasiun kereta. Bus otonom ini menjadi penting karena ini merupakan yang pertama dalam sejarah perkeretaapian Jerman. Layaknya perusahaan penyedia layanan jasa lainnnya, tujuan utama dari pengadaan bus otonom ini adalah dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggannya. Selain itu, pengalaman para penggunanya juga akan meningkat seiring kehadiran bus ini.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thenational.ae (26/10/2017), bus ini masih belum beroperasi karena hingga saat ini masih dilakukan serangkaian uji coba untuk memantapkan moda ini kelak. Adapun lokasi uji coba moda ini adalah di Bad Birnbach, sebuah perbukitan di sebelah tenggara Jerman, tidak jauh dari perbatasan Ceko dan Austria.

Salah seorang juru bicara dari Deutsche Bahn mengatakan, bahwa bus mahakarya startup asal Perancis, EasyMile ini dapat mengangkut 12 orang dan akan menghubungkan pemandian, pusat kota, dan stasiun secara cuma-cuma alias gratis. “Kami baru saja memasukkan unsur otonom ke era baru transportasi,” tutur bos Deutsche Bahn, Richard Lutz.

Diketahui, operator kereta api ini juga telah meluncurkan anak perusahaannya, Ioki yang khusus dihadirkan untuk menguji moda transportasi masa depan tersebut, dengan fokus utama pada mobilitas bertenaga listrik.

Rencananya, bus ini akan mulai beroperasi pada tahun 2018 mendatang di jalur uji coba di beberapa kota di Jerman, termasuk kota terbesar kedua di sana, Hamburg. Deutsche Bahn berharap, bus ini dapat beroperasi layaknya layanan transportasi umum lainnya, dimana mereka bisa menjemut penumpang di rumah sesuai dengan permintaan dan membawanya ke stasiun di masa yang akan datang. Lebih lanjut, Deutsche Bahn juga berharap layanan bus otonomnya ini bisa mengambil penumpang di sepanjang jalan yang memiliki tujuan yang sama, seperti angkutan kota yang ada di Indonesia.

Sebagai informasi tambahan, Jerman bukanlah satu-satunya negara yang mengoperasikan bus otonom. Sebut saja sejumlah kota di Amerika, Asia, dan Eropa – termasuk Paris, Lyon, Las Vegas, dan Dubai sudah mulai bereksperimen dengan bus otonom semacam ini, walapun dalam skala yang kecil. Mereka semua melengkapi kendaraan di jalanan dengan moda transportasi otonom.

Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan, London Uji Coba Sistem Rem Otonom Pada Bus Umum

Lalu, ketika beberapa negara sudah mengaplikasikan moda otonom , kapan Indonesia bisa menerapkan hal serupa? Di sini bisa kita lihat, ketika Bus TransJakarta yang memiliki jalurnya sendiri untuk beroperasi dan masih sangat banyak pengguna jalan yang akhirnya lebih memilih untuk menggunakan jalur khusus tersebut. Sebuah ironi memang ketika pemerintah yang berusaha untuk mengentaskan kemacetan, namun masih saja disalahgunakan oleh banyak pihak. Padahal pelanggar inilah yang biasanya paling vokal menyuarakan bahwa Ibu Kota butuh sebuah inovasi yang bisa mengurai masalah kemacetan tersebut.

Dengan kata lain, Indonesia khususnya Jakarta masih belum mampu untuk mengoperasikan moda otonom, mengingat capability para pengguna jalan sendiri yang mesti diubah.

Punya Desain Unik, MRT Jakarta Beri Warna Berbeda di Tiap Stasiun

Malaysia punya High Speed Rail (HSR) yang setiap stasiunnya akan memberikan desain yang futuristik. Nah, hal yang sama juga akan dilakukan oleh PT MRT Jakarta yang akan resmi mengoperasikan unit Mass Rapid Transit  bulan Maret 2019 mendatang.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, untuk saat ini belum ada yang menggunakan tema bagunan hanya saja ada warna yang membedakan satu lainnya. Silvia mengatakan, kemungkinan untuk fase kedua akan ada dibuat sedikit tematik dari pada fase pertama ini. “Untuk fase pertama stasiun hanya warna dan ornamen rooftopnya saja sih yang dibedakan, soalnya menandakan sesuatu pada daerah dimana stasiun tersebut,” ujar Silvia yang diwawancarai KabarPenumpang.com, Selasa (31/10/2017).

Ia mengatakan, seperti stasiun di Lebak Bulus yang menjadi stasiun pertama dan berada di ujung selatan Jakarta ini. Desain dibuat dekat dengan elemen alam dengan nuansa warna yang di dominasi hijau dan gradasinya. Bentuk konstruksinya ramping sehingga mudah membaur dengan lingkungan sekitar.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

Untuk stasiun Fatmawati yang berada di areal tersibuknya Jakarta Selatan akan di dominasi warna biru yang membuat sejuk. “Warna biru kita ambil sebagai lambang elegan. Ibu Fatmwati kan ibu negara pertama jadi kita buat warna biru menampilkan gambaran beliau,” ujar Silvia.

Cipete Raya, yang menjadi stasiun ketiga di dominasi warna tanah yakni coklat yang memberikan kesan menenangkan dan membumi sebagai ciri khasnya. Stasiun Haji Nawi, akan didesain dengan secara modern yang menampilkan elemen identik budaya betawi.

Dibuat seperti ini untuk mengenang Haji Nawi yang berdarah Betawi dan seorang saudagar. Blok A yang dikenal sebagai area komersial dan bisnis akan diberikan warna abu-abu muda, kuning terang dan krem.

Warna ini dibuat karena merujuk pada satu unsur perdagangan tradisional masa lalu yakni pikulan kayu dan keranjang bambu. Stasiun Blok M yang dikelilingi taman yakni taman Ayodya dan Martha Tiahahu akan di dominasi warna hijau, abu-abu dan putih.

“Rooftop di stasiun Blok M juga akan dihiasi dengan ornamen pohon atau batang kayu untuk menegaskan stasiun ini,” tambah Silvia.

Sebagai stasiun di jalur layang terakhir, stasiun Sisingamangaraja terintegrasi dalam kompleks gedung Sekretariat ASEAN, dan gedung ini akan menjadi landmark area stasiun. Dengan mengangkat tema ASEAN yang multikulutur, persatuan dalam keberagaman, akan diberi warna cokelat alam dan gradasi abu-abu.

Untuk stasiun bawah tanah pertama, stasiun Senayan akan mendominasi warna coklat dan abu-abu agar menyatu dengan area sekitar. Gelora Bung Karno yang identik dengan olahraga, maka warna yang ditampilkan adalah kuning tua, putih dan abu-abu.

Berada di kawasan bisnis Sudirman, stasiun Bendungan Hilir, merupakan stasiun bawah tanah ketiga ini dikemas dengan konsep sungai dan aliran air. Bernuansa alam dan dominasi warna coklat akan mendukung. Stasiun Setia Budi dikonsep dengan elegan dan nuansa ketenangan di dominasi warna putih, keemasan dan coklat.

Baca juga: PT MRT Jakarta Resmi Jadi Operator Utama Kawasan Transit Oriented Development Fase 1

Stasiun Dukuh Atas, yang menjadi hub lima moda transportasi selain MRT ini dikemas dengan nuansa alam hutan terutama pohon besar. Warna coklat mendominasi stasiun ini.

Sebagai stasiun terakhir di fase satu ini, stasiun Bundaran HI akan mengusung konsep gaya hidup internasional karena terletak di area hotel internasional, pusat perbelanjaan, kantor kedutaan dan Bundaran HI sendiri yang menjadi ikonnya. Warna putih perak dan abu-abu akan cocok mendominasi gaya hidup perkantoran yang modern, internasional dan perdamaian dunia ini.

Terkena Gempa, Bandara Pattimura Dipastikan Beroperasi Normal

PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Pattimura Ambon memastikan pelayanan dan kegiatan operasional Bandara Pattimura Ambon tetap berjalan normal. Keputusan manajemen untuk tetap mengoperasikan dan memberikan pelayanan seperti biasa diambil berdasarkan hasil damage assesment dan inspeksi terhadap fasilitas sisi udara (airside) dan sisi darat (landside) Bandara Pattimura Ambon yang dilakukan sejak Selasa (31/10) malam hingga Rabu (1/11) pagi.

Baca Juga: Tahan Terpaan Bencana Alam, Jepang Perkenalkan Jembatan Darurat Multifungsi

“Berdasarkan assesment yang telah dilakukan dan kepercayaan penuh terhadap analisis dan prediksi yang dikeluarkan BMKG, kegiatan operasional dan pelayanan Bandara Pattimura Ambon tetap berjalan seperti biasa,” ungkap Direktur Operasi PT Angkasa Pura I Wendo Asrul Rose. Dihimpun KabarPenumpang.com dari siaran pers, damage assesment merupakan tahap yang dilakukan setelah terjadi bencana alam, termasuk gempa, untuk menilai kelayakan fasilitas bandara untuk beroperasi. Tahap ini merupakan bagian dari prosedur Airport Disaster Management Plan (ADMP) yang dikembangkan Angkasa Pura I untuk mengantisipasi dampak bencana terhadap kegiatan pelayanan bandara dan pemulihannya.

Seperti diketahui sebelumnya, gempa terjadi dengan pusat gempa kurang lebih 38 Km sampai 50 Km barat daya pulau Ambon antara pukul 18.31 WIT hingga 19.37 WIT dengan intensitas antara 5,2 SR hingga 6,2 SR sebanyak 6 kali pada 31 Oktober 2017 dan diikuti dengan rangkaian lainnya dengan intensitas lebih kecil mulai dini hari hingga pagi 1 November 2017. Gempa ini turut dirasakan di lingkungan Bandar Udara Internasional Pattimura.

Gempa ini juga mengakibatkan kerusakan ringan di beberapa titik, baik di terminal bandara maupun kantor administrasi Bandara Pattimura. Beberapa kerusakan di area bandara yaitu sedikit genting terminal yang rontok, sedikit plafon di jalur kedatangan dan keberangkatan sisi udara yang rontok, kaca tower yang pecah, dan prasasti di Gate 3 yang pecah. Namun kerusakan ringan tersebut tidak menimbulkan gangguan yang berarti terhadap kelangsungan operasional Bandara Pattimura sehingga pelayanan bandara tetap berjalan seperti biasa.

Terkait kerusakan ringan tersebut, saat ini pengelola Bandara Pattimura Ambon masih melakukan perbaikan. “Perbaikan terhadap kerusakan ringan akibat kejadian force majeur ini masih dilakukan dan akan berlangsung selama beberapa waktu ke depan. Kami mohon maaf kepada penumpang dan calon penumpang pesawat udara atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kegiatan perbaikan ini,” kata Wendo.

Baca Juga: Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Berkaitan dengan kemungkinan terjadi gempa susulan, PT Angkasa Pura I menghimbau kepada pengguna jasa agar tetap tenang sekaligus waspada selama berada di lingkungan bandara. “Kami menghimbau agar dalam situasi darurat selama berada di lingkungan Bandara Pattimura, pengguna jasa selalu mengikuti arahan petugas kami di lapangan dan menyempatkan diri untuk mencari tahu jalur evakuasi dan titik kumpul di sekitar lingkungan Bandara Pattimura,” kata Wendo.

Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Sebagai moda transportasi baru yang akan hadir di Jakarta Maret 2019 mendatang, PT MRT Jakarta menyelesaikan pemasangan box girder terakhirnya untuk jalur layang MRT. Pemasangan ini juga menandakan tersambungnya seluruh jalur layang dan bawah tanah MRT Jakarta sejauh 16 km.

Baca juga: PT MRT Jakarta Resmi Jadi Operator Utama Kawasan Transit Oriented Development Fase 1

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, jalur layang secara keseluruhan sudah tersambung setelah pemasangan box girder terakhir di seberang RS Siloam, Cilandak, Jakarta Selatan. Hal tersebut menandakan keseluruhan jalur MRT Jakarta dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI telah terhubung.

“Kami optimis MRT Jakarta akan beroperasi sesuai jadwal pada Maret 2019 mendatang dengan terhubungnya ini,” ujar Sabandar yang ditemui KabarPenumpang.com di proyek MRT Lebak Bulus (31/10/2017).

Tak hanya itu, untuk pembebasan lahan yang ada di Jalan Haji Nawi sudah bisa berjalan dengan baik dan gugatan PT MRT Jakarta juga sudah putus oleh Pegadilan Jakarta Selatan. Saat ini diketahui ada 13 stasiun MRT yang dibangun, dimana tujuh berada di stasiun layang dan enam sisanya di bawah tanah.

Pemasangan box girder terakhir jalur layang MRT Jakarta (Istimewa)

Terkait pembangunan stasiun, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan saat ini sedang membangun concourse commercial dan platform untuk penumpang. Silvia menambahkan, di area concourse akan menjadi area komersial baik itu bersama tenant yang akan memenuhi tempat tersebut dan penjual belian tiket untuk penumpang.

“Area concourse sendiri akan di isi oleh tempat penjualan tiket, sehingga penumpang bisa dengan mudah mendapatkan tiket. Area platform kita bangun untuk tempat penumpang menunggu kereta. Disini akan di tambah dengan pintu kaca setinggi kurang lebih 1,3 meter,” ujar Silvia.

Dia menambahkan, screen doors yang ada di platform nantinya akan terbuka secara bersamaan dengan terbukanya pintu kereta. Selain pemasangan dan pembuatan platform dan concourse area, Silvia menjelaskan pihak MRT Jakarta juga membuat sumpit penampungan air.

Gunanya adalah untuk mencegah banjir masuk ke dalam terowongan bawah tanah MRT Jakarta. “Jadi, kalau ada air yang akan masuk keterowongan di tampung disini kemudian nanti disedot keluar. Selain itu untuk yang bawah tanah kita juga antisipasi dengan membuat pintu masuk lebih tinggi dari jalan utama.”

Baca juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors

Silvia menjelaskan, pembuatan penampungan ini ada di semua stasiun bawah tanah terlebih yang rawan banjir seperti di Dukuh Atas, Bendungan Hilir dan Bundaran HI. Tak hanya sistem pencegah banjir, konstruksi bangunan MRT Jakarta juga dibuat tahan gempa.

Uniknya, kereta MRT Jakarta jika ada gangguan dan mati tiba-tiba, kereta masih bisa melaju sampai di stasiun berikutnya dan penumpang bisa di evakuasi. Tetapi jika memang mati di tengah-tengah dan kereta tidak bisa meluncur ke stasiun terdekat, maka penumpang bisa di evakuasi melalui kaca depan masinis.

“Kaca ini bisa di buka, jadi penumpang bisa keluar dan berjalan di rel sampai ke stasiun,” jelas Silvia.

Terowongan MRT di Singapura Kebanjiran? Ini Dia Penyebabnya!

Meski jauh berada di bawah tanah, jalur perlintasan kereta bawah tanah atau akrab dikenal sebagai Mass Rapid Transit (MRT) sudah dirancang sedemikian rupa agar tahan terhadap ancama banjir. Selain dilengkapi sistem saluran air yang maju, jalur lintasan sampai stasiun dilengkapi seal khusus. Jika pun sampai air sampai masuk, sistem pompa telah disapkan untuk kondisi darurat. Namun pada dasarnya risiko banjir sudah bisa di eliminasi sedari awal.

Tapi belum lama ini ada kabar yang mengejutkan datang dari Singapura, bahwa salah satu terowongan MRT di Negeri Pulau tersebut tepatnya di daerah stasiun Bishan, yang merupakan stasiun interchange, mengalami kebanjiran. Kok bisa? Bukankah segala sesuatunya di Singapura serba modern, tertib, teratur dan aman. Bahkan Singapore MRT (SMRT) telah dijadikan salah satu benchmark oleh PT MRT Jakarta.

Banjir ini setelah diselidiki disebabkan karena pemeliharaan sistem pompa yang tidak dilakukan dengan benar sejak Desember tahun 2016 lalu.

Baca juga: Stasiun MRT Singapura Siap Uji Coba Gerbang Tiket “Handsfree”

KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (31/10/2017), bahwa pemeliharaan tiga bulan sekali yang dilakukan tidak sebagaimana mestinya yang ditentukan dalam aturan manual SMRT. Hal ini didapat dari pernyataan yang disebarkan SMRT melalui sebuah siaran pers.

Ternyata catatan pemeliharaan terkait stasiun SMRT ini sudah ditandatangani dan diserahkan kepada pihak SMRT oleh pemelihara. Namun nyatanya dalam penyelidikan yang dilakukan pihak SMRT menujukkan tidak adanya persetujuan akses jalur yang dikeluarkan untuk pemeliharaan dan perawatan pompa di Bishan.

Diketahui juga ternyata pompa tidak diaktifkan, dimana hal tersebut sudah merupakan bagian dari prosedur perawatan. Manager dan staf yang bertanggung jawab atas pemeliharaan sistem pompa Bishan diberhentikan sementara dan diperbantukan untuk penyelidikan.

“Kami akan bekerjasama dengan regulator untuk memastikan proses yang harus diikuti. Integritas dan tanggung jawab oleh manager dan supervisor kami adalah kunci dan merupakan bagian dari nilai inti. Kami bertekad untuk memperbaiki hal ini dengan cepat dan tegas serta menerapkan serangkaian tindakan untuk melakukannya,” ujar juru bicara SMRT.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Adanya masalah ini membuat operator kereta melakukan perubahan pada tim management dan perawatan serta membentuk tim inspeksi tentang kesiapan bersama. Nantinya tim inspeksi ini akan melengkapi laporan ke sistem audit SMRT sendiri dan melaporkan secara independen ke audit dewan SMRT serta komite risiko.

“Ini akan memastikan bahwa pembaruan pemeliharaan dan aset diaudit diaudit dan dipantau secara sistematis,” kata SMRT.

SMRT nantinya juga akan melibatkan para ahli untuk membantu meningkatkan pengawasan pengendalian mutu dari semua kegiatan preventif dan melakukan pemeriksaan sistem secara menyeluruh terhadap sistem kritis untuk memasktikan bahwa pekerjaan pemeliharaan dilakukan sesuai dengan standar yang diterapkan/

“SMRT tidak memiliki toleransi terhadap kegagalan dalam pengawasan dan ketekunan atas tugas pemeliharaan. Kami tidak memaafkan tindakan ketidakjujuran dan kelalaian tanggung jawab, baik oleh manajemen atau staf. Semua orang yang bertanggung jawab akan ditindak secara tegas, terlepas dari pangkat dan posisi, oleh karena itu, rantai komando manajemen yang relevan di SMRT harus dimintai pertanggungjawabannya,” ujar Chairman SMRT Seah Moon Ming.

Land Transport Authority (LTA) atau Otoritas Transportasi Darat mengatakan dalam sebuah surat pernyataan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan investigasi SMRT terkait ditemukannya perawatan yang tidak dilakukan pada pompa induk di Bishan. LTA juga akan melakukan evaluasi hasil investigasi SMRT mengenai dugaan pemalsuan catatan pemeliharaan sebelum kejadian banjir terowongan secara independen.

“Sebagai regulator, Otoritas Angkutan Darat melihat adanya pelanggaran terhadap semua lisensi pengoperasian kereta api secara serius, termasuk yang berkaitan dengan pemeliharaan aset operasi kereta api,” kata otoritas tersebut.

Setelah hujan deras pada hari 7 Juli 2017, bagian dari Jalur Utara-Selatan antara stasiun Braddell dan Bishan MRT mengalami banjiri. Layanan kereta api terganggu selama lebih dari 20 jam, yang mempengaruhi lebih dari seperempat juta penumpang. SMRT telah mengumumkan sebelumnya bahwa lebih banyak tindakan pencegahan banjir akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

Gagalkan Penyelundupan Sabu-Sabu, Petugas Avsec Adi Sutjipto Diganjar Hadiah dan Penghargaan

0

Hari Kamis 20 Oktober lalu, ada peristiwa yang membuat geger Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Pangkal musababnya petugas aviaton security (avsec) pada pukul 13.06 WIB berhasil menggagalkan penyelundupan sabu-sabu, tidak tanggung-tanggung, temuan barang haram ini jika di total mencapai berat 3 kg dengan taksiran nilai mencapai Rp4,5 miliar.

Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

Seperti diwartakan, penggagalan penyelundupan sabu-sabu bermula ketika petugas avsec mendapati tiga orang yang dianggap mencurigakan saat memasuki Screening Check Point (SCP) 2 Terminal B. Petugas kemudian melakukan body screening, dan ternyata ditemukan empat bungkus sabu-sabu, masing-masing seberat 750 gram. Ketiga penumpang tersebut sedianya akan terbang dengan terbang menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ230 rute Pekanbaru-Yogyakarta-Balikpapan.

Selanjutnya petugas mengamankan ketiga orang tersebut. Pihak Angkasa Pura I lantas mengkoordinasikan temuan ini ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan POM AU. Sejumlah barang bukti juga diserahkan ke BNNP DIY.

Karena dianggap merupakan sebuah prestasi besar, manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Adi Sutjipto memberikan sertifikat penghargaan langsung oleh Direktur Utama, hadiah uang sebesar lima kali gaji, dan beberapa hadiah lainnya. Pemberian apresiasi dilakukan di kantor pusat PT Angkasa Pura I (Persero), Jakarta.

Baca juga: Tangkal Aksi Teror di Bandara, Angkasa Pura Airports Gandeng TSA

“Kami mengapresiasi keberhasilan tim avsec Angkasa Pura I yang dengan sigap berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu-sabu tersebut. Manajemen berharap tim avsec tetap mempertahankan kinerja yang baik dalam upaya melakukan pencegahan penyelundupan barang ilegal melalui pesawat udara, selain membantu menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan udara,” ungkap Direktur Utama PT Angkasa Pura I Danang S. Baskoro, dikutip dari siaran pers (30/10/2017).

Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Pada bulan Juni 2017 sistem Autonomous Rail Rapid Transit (ART) resmi dikembangkan oleh Cina dan digunakan pada kereta tanpa kabel listrik dan rel. Sistem transportasi futuristik ini menggunakan jalur rel virtual dan sudah melakukan uji cobanya di jalan raya daerah Zhuzhou di Provinsi Hunan.

Baca juga: AS Ikuti Cina Gunakan Teknologi Rel Virtual dalam Autonomous Rail Transit

KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (30/10/2017), kereta yang berjalan di rel virtual ini memiliki kecepatan maksimum 70 km per jam dan mampu menampung 300 penumpang di tiga gerbongnya. Adanya ART nantinya akan mempercepat transportasi umum di Zhuzhou sebelum dikembangkan di kota lainnya di Cina.

Utuk pembuatan ART ini biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dibandingkan dengan kereta bawah tanah biasanya dan hanya menghabiskan biaya sekitar 400 juta Yuan sampai 700 juta Yuan per kilometernya di Cina atau sekitar US$82 juta. Ini memang sedikit lebih mahal dari trem listrik yang menghabiskan 150 juta sampai 200 juta Yuan per kilometernya.

ART sendiri hanya sekitar seperlima dari investasi kereta api di Cina dan akan mulai resmi diluncurkan pada tahun 2018. Sistem ini juga diadopsi oleh Amerika Serikat tepatnya di Milwaukee County. DI AS, ART dibangun untuk menghubungkan perkantoran, sekolah dan tempat hiburan sepajang 14 km yang melalui pusat kota Wilwaukee, Near West Side dan Wauwatos. Dalam pembangunannya kereta ini akan berjalan di atas ban bukan di atas rel logam.

Ini dikarenakan ada kemunginanan aspek bus tanpa awak dianggap tidak praktis. Kemungkinan, ART yang ada di Cina dan Amerika Serikat akan berjalan bersamaan tahun 2018 mendatang, sebab keduanya menggunakan sistem yang dikembangkan oleh Chіnа Railway Rоlling Stоck Cоrp (CRRC).

Baca juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil

ART bergerak menggunakan sensor hi-tech untuk mengumpulkan informasi perjalanan dan mengidentifikasi trotoar yang ada di jalanan. ART diklaim akan menggunakan tenaga baterai yang bebas dari polusi.

Kereta tersebut diketahui mampu menempuh jarak sekitar 25,7 km setelah baterai terisi selama 10 menit. ART memiliki lebar 3,75 meter dan akan berjalan di jalur garis putus-putus. Opersional ART disebut-sebut mampu beroperasi hingga 25 tahun.

Sistem ART yang menggunakan rel virtual terlihat banyak menghemat dalam hal investasi infrastruktur, namun beberpa pengamat transportasi menyebut sistem rel virtual agak rentan dalam hal keamanan, yaitu rel virtual yang tak ubahnya adalah jalanan aspal biasa tak memberikan jalur eksklusif untuk moda angkut massa ini. Artinya jalur ART sangat rentan diserobot oleh kendaraan lain. Jika sudah begitu, rasanya ART kurang ideal diterapkan di Jakarta. Bagaimana menurut Anda?

Michio Suzuki – Bermula dari Mesin Tenun Hingga Digdaya di Pasar Otomotif Dunia

Lahir di Hamamatsu sebuah kota kecil yang terletak sekitar 200 km dari Tokyo, Jepang pada 10 Februari 1887, tidak ada yang menyangka bahwa kelak Michio Suzuki akan menjadi founder dari salah manufaktur transportasi multinasional, Suzuki. Michio, anak dari petani kapas ini sadar bahwa keluarganya berada jauh dari kata mapan, dan ia pun tumbuh menjadi seorang pekerja keras. Pada tahun 1909, tepat di usianya yang menginjak 22 tahun, Michio merancang sebuah alat tenun berbahan dasar kayu yang dioperasikan menggunakan pedal, dan mulai menjualnya.

Baca Juga: Iwasaki Yataro – Titisan Keluarga Samurai Yang Sukses Mendirikan Mitsubishi

Itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Suzuki Loom Works. Walaupun bisnis tersebut berjalan dengan lancar, namun Michio tidak lekas puas dan tetap mengembangkan mesin hasil temuannya tersebut untuk industri sutera. Pada 1920, Michio memutuskan untuk memperkenalkan bisnisnya itu di bursa efek. Tuntutan pasar yang semakin meningkat tiap harinya memaksa Michio memutar otak untuk mencari dana segar. Pendirian Suzuki Loom Manufacturing Company (Suzuki Jidosha Kogyo) pada bulan Maret 1920 dianggap sebagai cikal bakal Suzuki Motor Company.

Kucuran dana pun ia peroleh dan tidak menyia-nyiakan momentum tersebut, alhasil perusahaan tersebut berkembang pesat. Dua tahun berselang setelah pendiriannya, Suzuki Loom Manufacturing Company menjadi produsen alat tenun terbesar di Jepang dengan garmen dan pakaian jadi sebagai komoditas ekspor terbesarnya. Di tahun 1926 perusahaan tersebut mulai mengekspor alat tenunnya ke Asia Tenggara dan India, namun ketahanan alat tenun buatan Michio ini membuat permintaan terhadap alat tenun baru mulai menyusut. Dari situ, Michio kembali memutar otaknya untuk memperpanjang umur perusahaannya.

Bisa dibilang, sangat sedikit produsen sepeda motor atau mobil dari Jepang sebelum Perang Dunia II pecah, sebut saja Soichiro Honda yang membuat sepeda motor pada tahun 1947. Padahal berpuluh tahun sebelum itu, di Eropa sudah mulai memproduksi sepeda motor atau kendaraan lainnya secara massal. Walaupun pada awalnya Jepang lebih banyak meniru model yang sudah ada di Eropa, namun pada kenyataannya Jepang kini mendominasi pasar motor dunia. Jepang mengimpor 20.000 kendaraan setiap tahunnya, namun belum mampu memenuhi permintaan pasar terhadap kendaraan ringan yang murah. Di sini, Michio melihat titik terang untuk perusahaannya dan mulai terjun ke bidang otomotif.

Mesin tenun buatan Suzuki. Seumber: istimewa

Pada tahun 1938, Michio membuat prototipe mobil pertamanya, yang ia pelajari dan tiru dari Austin Seven. Tim peneliti dari Suzuki Loom Manufacturing Company membeli Austin Seven dari Inggris, lalu dipreteli dan dipelajari. Beberapa bulan berselang, mereka mampu membuat replika mobil Austin Seven versi Suzuki. Pada saat itu Jepang menjadikan pabrikan otomotif di Eropa sebagai mentor mereka, karena minimnya pengetahuan tentang bagaimana memproduksi mobil dan sepeda motor yang bagus.

Namun sayang, peperangan menghalangi Suzuki Loom Manufacturing Company untuk memproduksi Austin Seven versinya secara massal. Proyek tersebut pun terbengkalai. Kondisi pasca perang yang diharapkan dapat membangkitkan kembali perusahaan tersebut ternyata tidak sesuai dengan harapan. Struktur finansial yang berantakan pasca perang pada awal tahun 1950an hampir menghancurkan Suzuki Loom Manufacturing Company.

Salah satu produk Suzuki ketika awal menapaki karir sebagai manufaktur sepeda motor. Sumber: istimewa

Sebuah literatur mengatakan bahwa Shunzo, anak laki-laki Michio, memiliki ide untuk memasangkan mesin pada sepedanya ketika dia pulang dari perjalanan memancing pada suatu hari di musim gugur. Tanpa suatu tujuan khusus, dia berkutat dengan meja gambar di rumahnya dan mulai merancang sepeda bermotornya sendiri. Tidak pernah diketahui apakah cerita ini nyata atau tidak, tetapi yang pasti ide si anak menciptakan sepeda motor ini yang akan menyelamatkan perusahaan tersebut dari kehancuran.

Singkat cerita, Suzuki Loom Manufacturing Company berkembang menjadi sebuah perusahaan yang berhasil mengembangkan sepeda motornya. Kesuksesan tersebut ditandai dengan bergantinya nama perusahaan menjadi Suzuki Motor Co. Ltd pada Juni 1954. Salah satu tonggak kesuksesan Suzuki di dunia sepeda motor adalah T500 yang mereka ekspor ke Amerika dan Inggris dengan nama Titan untuk USA dan Cobra untuk Inggris pada tahun 1976. Kehadiran T500 dinilai cukup sukses dan terus dikembangkan menjadi GT500 yang terus diproduksi hingga tahun 1977.

Baca Juga: Gottlieb Wilhelm Daimler – Serap Ribuan Ilmu Jadi Kunci Kesuksesan Bapak Otomotif Asal Jerman Ini

Sayangnya, usia Michio yang sudah sangat tua memaksanya beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya pada 27 Oktober 1982. Perannya di dunia otomotif tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, andaikan Michio tidak bekerja keras kala itu, maka tidak akan ada merk Suzuki di jalanan dewasa ini.

Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya

Sebagai hub transit dari banyak maskapai internasional, bandara Internasional Dubai (DXB) di Uni Emirat Arab memang serba unggul dalam beragam fasilitas. Kabar terbaru malah menyebut Bandara Dubai akan dilengkapi sistem tenaga surya sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan. Pembaharuan atau retrofit energi ini akan dilakukan pihak bandara dengan mitra perusahaan layanan energi Etihad (Etihad ESCO) yang menggunakan basis panel PV (Photovoltaics).

Baca juga: Akuarium Virtual Pemindai Wajah Sapa Calon Penumpang di Bandara Dubai

KabarPenumpang.com melansir dari laman pv-tech.org (26/10/2017), berdasarkan kesepakatan keduanya baik antar Bandara Dubai dan Etihad ESCO yang dimiliki oleh Dubai Electricity and Water Authority (DEWA), maka solusi tenaga surya ini akan dipasang pada Terminal 1, 2 dan 3 Bandara Dubai. Tak hanya bandara, hotel milik bandara Dubai yang berada di Concourse B juga akan menggunakan teknologi PV solutions.

Pada praktik dan pengerjaannya, Etihad ESCO akan menawarkan dalam bentuk penghematan listrik dan air sekaligus solusi PV. Hal tersebut diharapkan kedepannya bisa membantu Bandara Dubai untuk menghemat konsumsi energi hingga 20 persen setiap tahun.

Wakil Ketua Dewan Energi dan Direktur Eksekutif Dubai dan CEO DEWA, HE Saeed Mohammed Al Tayer mengatakan, kesepakatan tersebut mendukung strategi pengelolaan side Dubai 2030 untuk mengurangi kebutuhan listrik dan air sebesar 30 persen di 2030 mendatang. Ini dilakukan dengan program seperti peraturan bangunan hijau.

Dimana segala sesuatu yang ada dan dihasilkan bandara seperti pendinginan distrik, air limbah yang diolah kembali, penghematan energi dan hal lainnya. Tak hanya itu, di bandara Dubai juga akan dipasang panel Photovoltaics di atap bandara untuk menghasilkan listrik dari tenaga surya.

“Kami senang bekerja sama dengan bandara Internasional Dubai dalam proyek strategis ini. Karena sejalan dengan tujuan kami untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Al Tayer.

Etihad ESCO saat ini melakukan perkuatan lebih dari 30 ribu bangunan di Emirat di tahap pertama proyek pengelolaan energi dan efisiensi. Bandara Dubai sendiri telah memasang panel PV di Dubai International dan Dubai World Central.

Baca juga: Implementasi Modular Data Center Complex, Huawei Sokong Dubai Jadi “Smart Airport”

DEWA baru-baru ini juga meluncurkan sebuah perusahaan investasi baru yang berbasis di Silicon Valley, California, yang akan mengadakan litbang dan inovasi dalam keberlanjutan dan energi terbarukan di antara fokus teknologi energinya. Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup dan DEWA telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memasang kafilah surya di gedung Kementerian di Dubai.

“Ini mendukung Visi UEA 2021 untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dalam hal kualitas udara, mengurangi jejak karbon, dan meningkatkan ketergantungan pada energi bersih,” kata Al Tayer.