Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

Perjalanan panjang nonstop selama lebih kurang 16 jam menjadi satu kekhawatiran yang cukup besar bagi para penumpang pesawat. Salah satunya adalah jika terjadi DVT (Deep Vein Thrombosis) atau Trombosis Vena Dalam, yakni penggumpalan dara di dalam pembuluh darah, yang umumnya menyerang daerah persendian di sekitar kaki.

Baca juga: Pentingnya Relaksasi di Perjalanan Jauh

Seperti baru-baru ini Qantas mengumumkan rencana rute penerbangan nonstop jarak jauh dari Perth menuju London di tahun 2018 mendatang, yang akan menjadi penerbangan nonstop terpanjang di dunia. Nantinya jika sudah terealisasi, penerbangan ini memakan waktu hingga 17 jam lamanya. Namun, dengan perjalanan nonstop ini, apa yang akan terjadi di tubuh Anda selain gejala DVT? KabarPenumpang.com merangkum dari independent.co.uk, bahwa banyak hal yang akan terjadi pada tubuh Anda dalam penerbangan jarak jauh, seperti:

1. Penerbangan mungkin membuat gigi sakit
Kebanyakan penumpang sudah terbiasa dengan sensasi yang muncul di telinga saat penerbangan akan lepas landas ataupun mendarat. Untuk mengurangi dengungan di telinga, Anda bisa menelan ludah atau menekan hidung untuk mengurangi tekanan dalam telinga. Dengan mekanisme yang sama, gelembung gas juga bisa menyebabkan gigi tidak nyaman selama penerbangan apalagi yang memiliki tambalan pada gigi.

2. Udara kabin tidak terlalu membawa pengaruh
Tekanan kabin tidak akan memperngaruhi pernapasan siapapun, kecuali penderita penyakit paru kronis dan sebagian besar efek perubahan tekanan cenderung lebih akan terasa pada penderita.

3. Jet lag
Efek paling serius dalam penerbangan jarak jauh adalah jet lag. Jet lag akan mempengaruhi seluruh fungsi fisik Anda termasuk tingkat kortisol. “Kortisol rendah atau tinggi pada waktu-waktu tertentu dalam sehari dan jika Anda membutuhkannya tinggi ketika rendah, tanggapan fisik dan mental Anda tidak akan memadai,” saran Dr Mike Townend, mantan ketua British Global And Travel Health Asosiasi dan dosen senior di University of Glasgow. Menurutnya, ini akan memakan waktu hingga 48 jam untuk mereka pulih dari penerbangan dan sebaikknya menunda untuk melakukan pertemua bisnis.

4. Latihan pergelangan kaki
Untuk mencegah DVT, penumpang yang duduk lama di pesawat bisa melakukan peregangan pada bagian tubuh terutama bagian kaki. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap orang dalam perjalaanan selama empat jam atau lebih harus bangun dari duduknya dan berjalan. Ini untuk melatih kaki dan pergelangan agar darah tidak menyumbat di pembuluh darah akibat penggumpalan yang terjadi.

5. Suara keras merusak pendengaran
Para pelancong dalam perjalanan jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton film atau mendengarkan musik. Namun mengingat kebisingan dari sesama penumpang dan mesin pesawat membuat Anda menaikkan volume suara musik atau film. Padahal ini bisa membuat pendengaran Anda rusak.

6. Kulit kering hingga dehidrasi
Setiap penumpang yang menaiki pesawat merasakan kulit kering dan juga tidak terhidrasi dengan baik. Hal ini dikarenakan, kelembaban di dalam kabin berada pada tingkat rendah. Para penumpang diharuskan lebih sering minum air putih untuk menghindari dehidrasi dan menggunakan pelembab untuk mengatasi kulit kering. Jauhkan teh, kopi hingga alkohol, minuman ini akan membuat Anda akan lebih merasakan dehidrasi.

Baca juga: Selain Banyak Minum, Dehidrasi di Pesawat Bisa Dicegah dengan Cara Ini

Debu Vulkanik Gunung Agung Mengarah ke Selatan dan Tenggara, Bandara Lombok Kembali Ditutup

Setelah penerbangan di Bandara Internasional Lombok dibuka pada Senin, 27 November 2017, kini kabar terbaru yang dirilis dari otoritas bandara di Nusa Tenggara Barat tersebut, menyatakan bahwa Bandara Lombok kembali ditutup, keputusan ini berdasarkan NOTAM B8909/17 yang dirilis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada 30 November 2017 dan berlaku mulai pukul 10.37 WITA sampai pukul 00.00 WITA.

Giliran Bandara Seattle Gunakan Jasa Robot Untuk Layani Calon Penumpang

Kembali, era robotika mulai digunakan di dunia aviasi dengan tujuan yang hampir sama dengan yang sudah ada sebelumnya di Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, yaitu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi tenaga di bandara. Adalah Seattle-Tacoma International Airport yang baru saja mengumumkan bahwa pihaknya akan menggunakan jasa robot yang akan disandingkan dengan pihak keamanan bandara.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Lebih lanjut, pihak bandara mengatakan bahwa program pengadaan robot tersebut berjalan bersamaan dengan American Association of Airport Executives Innovation Forum. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, robot dengan nama Tracey tersebut memberikan beberapa instruksi untuk melewati serangkaian pemeriksaan keamanan kepada para calon penumpang dalam bahasa Inggris. Tidak hanya bahasa Inggris, diketahui robot ini juga dapat memberikan informasi dalam enam bahasa yang berbeda. Robot ini akan secara otomatis mengganti bahasa jika didekati oleh calon penumpang yang berbicara kepadanya.

“Halo, nama saya Tracey. Ikuti instruksiku untuk mempercepat laju antrian dan alarm pemindai tubuh tidak berbunyi,” begitulah kira-kira yang diucapkan oleh Tracey, si robot pintar yang ditempatkan di bagian keamanan. Tracey akan mengingatkan penumpang untuk melepaskan jaket, membuka ikat pinggang, dan memastikan penumpang tidak membawa benda-benda berbahan besi di tas calon penumpang ketika hendak melewati bagian X-Ray.

Tidak sebatas sampai situ saja, Tracey juga dilengkapi dengan kamera dan diprogram untuk mengingatkan para calon penumpang yang memakai topi untuk melepasnya. Seorang juru bicara dari Seattle-Tacoma International Airport mengatakan bahwa penggunaan kamera tersebut tidak digunakan untuk merekam aktifitas di bandara dan tidak digunakan saat periode pengujian. “Kami mencoba untuk mengevaluasi apakah teknologi Tracey benar-benar dapat membantu kami memproses penumpang lebih cepat di jalur pemeriksaan keamanan,” papar David Wilson, direktur inovasi Sea-Tac International Airport.

David mengatakan bahwa salah satu alasan bandara tersebut menggunakan robot yang harganya berkisar antara US$20.000 hingga US$50.000 adalah karena jalur pemeriksaan keamanan kerap kali terhambat akibat sensor X-Ray berbunyi, yang menandakan ada calon penumpang yang lupa untuk melepas ikat pinggang atau kedapatan membawa benda logam di dalam tasnya.

Seorang juru bicara Sea-Tac mengatakan bahwa pada 2017, 97 persen penumpang berhasil melewati jalur pemeriksaan keamanan kurang dari 20 menit. Meski begitu, pejabat bandara mengatakan bahwa mereka mencoba untuk merampingkan angka tersebut lebih jauh lagi. Tidak hanya di Seattle, Bandara Internasional San Jose juga mempekerjakan sebuah robot yang dapat menjawab pertanyaan calon penumpang dan memberi petunjuk di dalam terminal.

Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon

Lain cerita dengan robot super cute yang ada di Bandara Internasional Incheon, Korea, dimana dua buah robot beda fungsi beroperasi untuk melancarkan perhelatan Olimpiade Musim Dingin mendatang. Satu adalah robot pemandu calon penumpang di bandara, sedangkan yang satunya lagi difungsikan sebagai  robot pembersih koridor bandara.

Inilah Yang Harus Dilakukan Pria Sejati di Dalam Kabin

Menggunakan pesawat terbang sebagai moda yang Anda pilih untuk menuju suatu destinasi terkadang menjadi hal yang menegangkan. Apalagi karena perlakuan sesama penumpang yang terkadang membuat perjalanan menjadi lebih bururk lagi.

Baca juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?

Salah satu halnya ialah dimana seorang penumpang pria yang kadang enggan membantu penumpang perempuan saat memasukkan barang mereka ke kompartemen atas. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (27/11/2017), bahwa dalam mendapatkan jawaban pembahasan ini dilakukan survei tentang kebiasaan paling menyebalkan yang dilakukan pria saat penerbangan dan bagaimana seharusnya mereka menyesuaikan diri.

Survei yang dilakukan pada 2000 responden oleh The Gentelman’s di seluruh Inggris dengan dua pertiganya pria menyatakan bahwa seorang pria harus menawarkan bantuan kepada sesama penumpang yang sedang berjuang untuk menyimpan barang bawaan di kompartemen kabin. Sebanyak 65 persen mengatakan terlalu banyak minum alkohol adalah salah satu masalah terbesar penumpang pria.

Hal ini bisa membuat seorang pria menjadi anti sosial di antara penumpang lainnya bahkan untuk teman duduknya. Dimana seorang pria tidak meminta izin saat akan duduk atau berbaring di kursi. Para penumpang pria tidak boleh menunjukkan ketidaksukaannya pada seorang anak yang menangis.

Ada 54 persen responden yang mengatakan penumpang pria banyak yang menaikkan sandaran tangan dan penumpang disebelahnya tidak menyukai hal tersebut. Sebenarnya, masalah manspreading pada umumnya tidaklah di sukai.

Seperti halnya jika Anda seorang pria yang gagah berani, seharusnya belajar untuk membantu orang lain dengan tidak memakan tempat di kompartemen kabin dan hal lainnya. Ada 20 persen wanita yang menjawab survei merasa manspreading adalah dosa utama. Saat deplaning juga baiknya seorang pria tidak mendorong atau membuat kekacaun. Baiknya bantu penumpang turun dengan menurunkan tas penumpang lainnya yang berada di kompartemen kabin.

British Airways baru-baru ini menangani tiket mid-fligh dan melakukan penyelidikan kepada penumpang di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis dan Italia terkait isu yang dimiliki kebanyak penumpang saat terbang. Dari survei yang dilakukan British Airways, 59 persen merasa nyaman dalam penerbangan.

Baca juga: Kerap Dilecehkan, Awak Kabin Beberkan Kelakuan Penumpang Mabuk

Namun, sebanyak 78 persen tidak menyukai penumpang lain melepas kaus kaki mereka. Dan 80 persen lainnya mengatakan bahwa dapat menerima jika dibangunkan dan harus melewati karena panggilan alam seperti ke toilet.

Lion Air Hengkang dari INACA, Alasan Yang Belum Terungkap

Sebagian besar maskapai di Tanah Air tergabung dalam wadah INACA, namun ada satu maskapai yang tidak lagi menjadi bagian dari INACA, ironisnya yang dimaksud adalah maskapai komersial terbesar di Indonesia, yakni Lion Air yang mengundurkan diri dari keanggotaannya dengan Indonesia National Air Carrier Association (INACA) pada 31 Juli 2015 silam.

Baca Juga: Lion Air Pesan 50 Unit Boeing 737 MAX 10 Senilai US$6,24 Miliar

Tidak diketahui pasti penyebab hengkangnya Lion Air dari Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia tersebut, baik INACA dan Lion Air enggan membeberkan alasan yang sahih terkait kejadian ini. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Presiden Direktur Lion Air yang kala itu menjabat sebagai Direktur Umum, Edward Sirait mengaku pihaknya sudah melayangkan surat pengunduran diri sementara dari keanggotaannya di INACA. “Karena ada ketidasepahaman dengan INACA, maka kami menyatakan mundur sementara. Suratnya sudah diberikan kepada INACA beberapa hari lalu,” papar Edo, panggilan akrab Edward, dikutip dari laman tribunnews.com (31/7/2015).

Dikutip dari sumber lain, pihak INACA pun tidak menampik pemberitaan yang sempat heboh di median tahun 2015 tersebut. Ketua INACA kala itu, M. Arif Wibowo membenarkan pernyataan tentang Lion Air yang hengkang dari keanggotaan INACA. “Iya benar (Lion Air keluar dari INACA),” tuturnya singkat. Ketika ditanya lebih mendalam soal alasan Lion mengundurkan diri dari keanggotaannya dengan INACA, Arif berkelit dan terkesan tidak mengetahui hal yang melatarbelakangi kejadian tersebut. “Oh, tanya ke Lion-lah. Tanya ke Lion, kok ke saya,” katanya.

Memang, beberapa pihak menyayangkan kepergian Lion dari INACA, padahal beberapa bulan sebelum surat pengunduran diri dilayangkan oleh pihak Lion, INACA mengaku siap memberikan bantuan kepada Lion Air jikalau dibutuhkan. Kala itu, Lion Air tengah dibelenggu soal penundaan penerbangan yang terjadi sejak Rabu 18 Februari 2015. “Kami dari asosiasi maskapai siap jika Lion Air membutuhkan bantuan,” tutur Arif dikutip dari sumber terpisah.

Baca Juga: Ikuti Jejak Garuda Indonesia, Lion Air Pensiunkan Boeing 747-400

Sejurus sesaat sebelum Lion mengundurkan diri dari keanggotaannya, INACA sempat mendesak pemerintah untuk memberi bantuan konkret kepada dunia aviasi Nasional, karena disinyalir ada 13 maskapai penerbangan nasional yang bergelar ekuitas negatif, salah satunya adalah Batik Air. Seperti yang kita ketahui  bersama, Batik Air merupakan salah satu anak perusahaan dari Lion Air Group. Jadi, apa yang sebenarnya melatarbelakangi hengkangnya Lion dari INACA?

Bagi Pramugari, Melayani Penumpang di Kelas Ekonomi Adalah Berkah

Adalah wajar bila setiap penumpang berpikir untuk menikmati penerbangan dengan kelas bisnis dan kelas satu, terlebih bila ada promosi dari maskapai untuk kedua kelas ini baik lewat penukaran miles atau penawaran menarik lainnya. Tapi tahukah Anda bahwa pramugari yang melayani terkadang tak merasa nyaman berada di kelas utama tersebut dan lebih memilih melayani penumpang di kelas ekonomi.

Baca juga: Diet Coke, Inilah Minuman Yang Dibenci Pramugari

Tentu ini menjadi pertanyaan menarik, dan ternyata penyebabnya lantaran penumpang yang berada di kelas bisnis ataupun kelas satu lebih ingin dilayani dan terkadang membuat para pramugari tak bisa beristirahat. KabarPenumpang.com merangkum dari laman thesun.co.uk, beberapa pramugari menyatakan bahwa melayani penumpang di kelas ekonomi merupakan pekerjaan terbaik. Pekerjaan pramugari di kabin kelas satu ataupun bisnis membuat mereka harus bekerja lebih keras dan jarang ada waktu untuk beristirahat. Mantan pramugari salah satu maskapai, Heather Wilde mengatakan, bahwa pekerjaan melayani di kabin ekonomi jauh lebih mudah dibanding kelas satu atau kelas bisnis.

Dia menambahkan, ketika terbang dengan kelas ekonomi semua akan berjalan lebih baik, pramugari paling senior di pesawat akan menangani semua pengumuman, dokumen dan stok. Kemudian mengecek pelayanan minuman dan makanan ringan, lorong kabin dan lainnya.

“Dalam pengalaman di kelas satu tidak ada waktu untuk beristirahat. Karena Anda harus melayani setiap penumpang setiap menit dalam penerbangan dan Anda harus bisa memastikan memberitahukan pengumuman pada waktu yang tepat. Sejujurnya ini membuat saya seperti pelayan di langit,” ujar Wilde.

Nuralia Mazlan yang juga seorang pramugari senior mengatakan, dirinya lebih baik melayani 100 penumpang di kelas ekonomi dibandingkan 16 penumpang kelas bisnis. Menurutnya, penumpang kelas ekonomi saat diberikan makanan dan minuman tidak banyak mengeluh. “Selesai penumpang makan dan minum, kami mengumpulkan sampah mereka. Sesudah selesai kami mematikan lampu kabin dan bersiap untuk tidur,” jelas Mazlan.

Dari berbagai pengalaman ini, beberapa anggota awak kabin mengatakan, rute yang dioperasikan pesawat bisa mendikte penumpang yang berada di kelas bisnis atau kelas satu. Misalnya seperti salah satu anggota Reddit bernama Emmadilemma yang mengatakan dirinya suka bekerja di kelas satu kecuali di penerbangan jarak jauh menuju Los Angeles, Amerika Serikat. Menurutnya, semua orang tujuan LAX merasa diri seperti putri dan pantas diperlakukan seperti selebriti. Untuk maskapai lainnya, penumpang kelas bisnis adalah yang paling kasar dengan rute tujuan dari New York ke London atau New York ke Miami.

Baca juga: Beragam Alasan Hidangan di Kabin Pesawat Tak Senikmat di Darat

“Pada penerbangan NYC-Florida semua orang mengira mereka adalah orang terpenting di dunia. Saya pernah mendapat 40 orang penumpang pria yang mengatakan bahwa mereka adalah pemilih makanan dan meminta saya untuk mengeluarkan kacang almond dari sajian makanan yang berupa campuran kacang atau hal lainnya,” ujar Brad salah satu pramugari.

Karena melayani penumpang di kelas satu atau kelas bisnis dirasa lebih menantang, umumnya untuk melayani kedua kelas tersebut dipilih pramugari yang sudah punya jam terbang tinggi, atau pramugari senior.

Setelah Dua Hari Ditutup! Siang Ini Bandara Ngurah Rai Kembali Dibuka

Setelah beberapa Notice to Airmen (NOTAM) memerintahkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ditutup akibat meletusnya Gunung Agung, siang tadi (29/11/2017) NOTAM baru pun terbit yang berisikan bandara terbaik di dunia versi ASQ tersebut sudah dibuka. Tentu ini menjadi angin segar bagi banyak penumpang yang sempat terlantar yang hendak meninggalkan atau menuju Bali. Turunnya level Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) dari merah ke level orange membuat otoritas bandara sepakat untuk membuka kembali layanannya pada Rabu (29/11/2017) sekitar pukul 15.00 WITA.

Baca Juga: Dua Hari Ditutup, PT Angkasa Pura I Lakukan Perbaikan dan Pemeliharaan Bandara Ngurah Rai

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, keputusan pengoperasian kembali bandara ini diambil setelah rapat yang diadakan di kantor Emergency Operation Centre (EOC) Bali pada pukul 13.00 WITA, yang diketuai oleh Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV sebagai regulator dengan seluruh stakeholder terkait.

“Kesimpulan, VONA sudah turun dari red ke orange. Terhitung mulai pukul 15.00 Wita Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai status opened (buka),” jelas Arie Ahsanurrohim selaku Communication and Legal Section Head PT Angkasa Pura I. Tentunya, pembukaan ini didasarkan pada NOTAM nomor A4298/17 yang diterbitkanoleh AirNav Indonesia.

Senada dengan Arie, Direktur Operasi AirNav Indonesia, Wisnu Darjono pun mengutarakan hal yang serupa. “Secara keseluruhan maka diputuskan Notam Closed Bandara I Gusti Ngurah Rai akan dicabut pada pukul 14.28 WITA (Airport Open). Dengan demikian penerbangan dari dan ke bandara I Gusti Ngurah Rai kembali beroperasi normal,” tukasnya dilansir dari laman liputan6.com (29/11/2017).

Baca Juga: Penutupan Sementara Bandara Ngurah Rai, 445 Penerbangan Terdampak

Sayangnya, situasi bottle neck membayang-bayangi para calon penumpang yang sempat terlantar selama beberapa hari ini. Corporate Secretary PT Angkasa Pura I, Israwadi mengatakan memang betul Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sudah dibuka, namun belum bisa langsung mengoperasikan penerbangan, baik domestik maupun mancanegara. “(Penerbangan pertama) belum ada, karena butuh waktu penerbangan mulai lagi,” tegas Israwadi dikutip dari laman viva.co.id. Ia menambahkan bahwa para petugas membutuhkan waktu sekitar tiga jam persiapan pasca NOTAM terbaru diterbitkan.

Salah Paham, Penumpang IndiGo Airways Adu Jotos dengan Petugas di Apron

Seorang penumpang maskapai IndiGo Airways yang baru mendarat di Bandara Internasional Indhira Gandhi India dipukuli di aspal apron oleh soerang staf lapangan dan terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial. Diketahui, karena pemukulan ini pihak IndiGo Airways juga sudah meminta maaf pada penumpang tesebut.

Baca juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana

Pemukulan tersebut terjadi pada 15 Oktober 2017 lalu dan penumpang yang menjadi korban bernama Rajiv Katiyal. KabarPenumpang.com melansir dari laman
foxnews.com, perkelahian terjadi antara Katiyal dengan staf saat diberitahukan untuk tidak membersihkan kopernya di samping pesawat terbang.

Namun, akibat kebisingan di apron, Katiyal nampaknya salah paham dengan staf tersebut dan mengira mereka bersikap kasar hingga menggunakan umpatan sebagai tanggapan terhadapnya. Staf tersebut menarik dan tidak memperbolehkan Katiyal naik ke dalam bus antar jemput, kemudian terjadi perkelahian antara keduanya.

Perkelahian keduanya direkam oleh staf kargo bandara Montu Karla. IndiGo Airways mengatakan bahwa Karla adalah penghasut dari perkelahian yang memberitahukan kepada staf junior untuk mencegah Katiyal naik bus antar jemput tersebut.

“Montu Kalra adalah pegawai kargo. Dia tidak punya alasan untuk mendekati area penumpang. Dia tidak punya alasan untuk mencegah pelanggan naik bus. Dia tidak punya alasan untuk menginstruksikan rekan-rekan lainnya,” kata Aditya Ghosh, Presiden dan Wholetime Director IndiGo.

Atas kejadian ini Ghosh meminta maaf kepada Katiyal melalui sebuah surat pernyataan. “Saya menyadari pengalaman tidak menyenangkan yang dialami penumpang kami dan melibatkan staf kami di bandara Delhi. Permintaan maaf pribadi saya karena ini tidak mencerminkan budaya kita.”

Dia juga mengatakan telah meminta maaf langsung kepada Katiyal. Di IndiGo, martabat penumpang dan staf sangat penting, setiap tindakan yang mengkompromikan martabat adalah masalah serius bagi pihak maskapai.

Baca juga: Sedang Gendong Anak, Penumpang Ini Malah Mendapat Bogem dari Petugas Bandara

“Dengan adanya pelanggaran kode etik, insiden ini diselidiki dan tindakan tegas dilakukan terhadap staf. Sekali lagi permintaan maaf pribadi dan tulus saya kepada penumpang yang terkena dampak,” ujarnya.

Setelah Uji Coba di Jepang, Satu Set Kereta MRT Jakarta Akan Tiba Maret 2018

Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan beroperasi pada Maret 2019 mendatang saat ini progres pembangunannya sudah mencapai 86,12 persen dan akan menjadi 90 persen di akhir Desember 2017 ini. Pengerjaan sisa sepuluh persen terakhir nantinya akan digunakan dalam pengetesan kereta di jalurnya.

Baca juga: ‘Kejar Setoran’, PT MRT Jakarta Larang Pengunjung Tengok Perkembangan Proyek

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, kereta MRT saat ini sudah siap dan akan mulai dicoba pada main track di Jepang. Sedangkan untuk test track kereta MRT ini sendiri bukan berdasarkan kecepatan melainkan uji coba kelaikan kereta yang nantinya akan dikirim ke Jakarta.

“Tanggal 18 Desember 2017 ini, satu set kereta kita sudah siap dan akan dicoba dan pengirimannya ke Jakarta akan mulai pada quarter pertama tahun 2018 mendatang,” ujar Sabandar di Bakoel Koffie, Selasa (28/11/2017).

Sabandar menjelaskan, rangkaian kereta yang akan datang ke Jakarta ini nantinya bertahap satu set sekali pengiriman dan dimulai pada Maret 2018 hingga Desember akhir 2018 mendatang. Direktur Konstruksi Silvia Halim menambahkan, pengiriman trainset sendiri akan dilakukan per dua minggu sekali dari Jepang menuju Jakarta menggunakan kapal laut. Total MRT Jakarta akan mendatangkan 16 set kereta dari Jepang.

Silvia mengatakan, nantinya sebelum dioperasikan, kereta tersebut akan disimpan di depo Lebak Bulus yang sudah dilengkapi dengan workshop. Depo ini sendiri ditargetkan akan selesai pada awal 2018.

“Depo kita saat ini sudah selesai 80 persen dan hal-hal yang diperlukan di depo juga sudah hampir rampung,” ujar Silvia yang diwawancarai KabarPenumpang.com, Selasa (28/11/2017).

Dia menambahkan, saat ini untuk pemasangan rel di track atau jalur MRT sendiri sudah selesai sepanjang 500 meter dari 36.000 meter dengan pembagian di elevated 400 meter dan underground 100 meter. Menurutnya, jika track ini sudah selesai di 2018, kereta MRT akan mulai dicoba dari Lebak Bulus hingga ke Bundaran HI.

Terkait masalah stasiun yang akan di bangun di jalan Haji Nawi, Silvia mengatakan, saat ini pembebasan lahan sudah selesai dan pengerjaan pembangunannya akan mulai di kerjakan. Namun, kemungkinan stasiun ini tidak akan bisa digunakan saat pertama kali MRT Jakarta diluncurkan pada Maret 2019 mendatang.

Baca juga: Punya Desain Unik, MRT Jakarta Beri Warna Berbeda di Tiap Stasiun

“Kita sudah mulai melakukan pengerjaan untuk stasiunnya, yang agak sulit itu untuk jalur kendaraan yang mengantar ke stasiun tersebut itu yang masih dalam proses. Untuk masyarakat sekitar jalan Haji Nawi sendiri sudah antusias menunggu kehadiran MRT Jakarta ini. Ada kemungkinan stasiun Haji Nawi akan bisa digunakan tidak jauh dari peluncuran MRT Pertama di Maret 2019 mendatang,” kata Silvia.

Tiru Kehigienisan Reska, PT ASDP Coba Peruntungan Tawarkan PopSo di Kapal Ferry

Tidak melulu setiap penumpang tertarik dengan penganan yang disajikan oleh moda yang ia tumpangi, mulai dari pesawat, kereta api, hingga kapal ferry. Tren membawa bekal untuk menangkal rasa lapar selama perjalanan nampaknya masih erat melekat di benak orang Indonesia, dengan alasan utama harga yang tidak ‘mencekik’ serta kehigienisan dari makanan itu sendiri.

Baca Juga: PT ASDP Mulai Bangun Fasilitas Pariwisata di Labuan Bajo

Namun, persepsi tentang makanan yang kurang higienis tersebut perlahan memudar pasca anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) yang menggeluti usaha katering, PT Reska Multi Usaha menggandeng PT. Nusapangan Sukses Makmur yang terkenal dengan produk makanan dalam kemasan siap santap, PopSo. PopSo sendiri memiliki beragam varian makanan yang terkenal higienis karena berbentuk makanan beku. Sebelum disajikan kepada penumpang, para petugas restorasi kereta api akan menghangatkan PopSo terlebih dahulu di dalam microwave selama beberapa menit, lalu disajikan kepada penumpang dalam keadaan panas.

Untuk soal harga, PopSo memang sedikit lebih mahal ketimbang makanan yang kerap kali ditemui di pinggir jalan. Untuk nasi goreng bakso saja, PT Nusapangan Sukses Makmur mematok harga Rp25.000 hingga Rp30.000, tergantung varian rasa yang kita pilih. Tak ayal, sebagian penumpang terkesan ogah-ogahan untuk membeli penganan ini. Namun sebagian lainnya malah antusias dengan tingkat kehigienisan dari PopSo itu sendiri dan visualisasi makanan yang terpampang di bagian tutup dari PopSo itu sendiri.

“Jujur saya tertarik dengan visualnya, walaupun saya tidak terlalu lapar pada saat itu. Dan ternyata pas dicoba, rasa dan makanan di dalamnya tidak sesuai dengan visualisasi tersebut,” ungkap salah satu penumpang Fajar Bisnis kepada KabarPenumpang.com, Jumat (24/11/2017). “Tapi untuk masalah higienis, memang harus saya akui. Bahkan sendok dan garpunya sudah tersedia di dalam kemasan yang masih disegel,” imbuh pria yang enggan menyebutkan identitasnya tersebut.

PopSo milik PT KAI. Sumber: istimewa

Berangkat dari poin higienis tersebut, PT ASDP Indonesia Ferry ingin mencoba peruntungan dengan menghadirkan PopSo di Waroeng ASDP, fasilitas kantin baru di kapal yang juga menyediakan layanan On Board Entertainment berupa akses WiFi. Di sini, hadirnya fasilitas kantin baru ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh PT ASDP untuk merubah stigma pengguna jasa ferry bahwa kantin di dalam kapal terkesan ‘jorok’, makanan yang disajikan terkesan tidak higienis, serta dilayani dengan petugas yang berpakaian tanpa seragam.

Tidak hanya layanan, Waroeng ASDP pun menyajikan tampilan anyar. Kantin ini sarat dengan unsur kayu, bahan marmer, serta penggunaan lampu LED strip white warm. “Hadirnya kantin ini diharapkan bisa memberikan kesan yang natural, hangat serta ramah. Saat ini (Waroeng ASDP) telah hadir di KMP Sebuku,” ujar Mario S Oetomo, Manager Humas PT ASDP.

Baca Juga: “Waroeng ASDP,” Model Kantin Baru di Kapal Ferry Yang Hangat dan Higienis

“Kami menggunakan produk dari Popso yang serupa di gerbong PT KAI, sehingga makanan cepat saji terjamin kualitas rasa dan kebersihannya,” tambah Mario.

Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa visi PT ASDP adalah untuk mencoba merubah paradigma penumpang tentang kantin dan penganan yang disajikan di kapal itu terkesan jorok. Maka dari itu, PT ASDP menggaet PT. Nusapangan Sukses Makmur dengan PopSo sebagai produk andalannya, agar bisa merealisasikan visinya tersebut. Tentunya, ini merupakan salah satu cara PT ASDP untuk meningkatkan layanan kepada para penumpangnya.