Damri Buka Rute Botani Square-Plaza Senayan Sehari 3 Kali PP

Layanan transportasi antara Jakarta – Bogor kini bertambah lagi, yakni Perum Damri dengan menggunakan bus Premiumnya melayani trayek baru keberangkatan Bogor tujuan Jakarta. Keberangkatan akan di mulai dari Pool Damri di Botani Square ke Plaza Senayan, Jakarta Selatan mulai di uji coba 31 Oktober 2017 sampai 10 November 2017 mendatang.

Baca juga: Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan

Jadwal keberangkatan bus dari Bogor mulai pukul 05.00, 05.30 da 06.00 WIB dan akan kembali ke Bogor berangkat dari Jakarta pukul 16.00, 16.30 dan 17.00 WIB. Direktur Sumber Daya Manusia dan Administrasi Umum Damri, Sardiyo Sardi mengatakan, pada saat uji coba pertama keberangkatan pukul 05.00 hanya mengangkut dua orang, pukul 05.30 mengangkut tiga orang dan pukul 06.00 juga mengangkut tiga orang.

“Selanjutnya akan terus beroperasi, namun dalam perjalananya akan dilakukan evaluasi. Jika dalam perjalanan jumlah penumpangnya banyak jadwalnya pun akan ditambah,” ujar Sardiyo yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (31/10/2017).

Diketahui, uji coba pada hari pertama pihak Damri mendapat pengawalan kepolisian dengan menggunakan vooridjer dan selanjutnya akan beroperasi tanpa pengawalan. Sardiyo mengatakan, bus ini akan masuk jalur tol dan sampai di Jakarta bus akan masuk ke jalur TransJakarta.

Baca juga: Bangun Apartemen di Kawasan Stasiun Bogor, Proyek TOD Masih Terganjal Izin

Kedepannya, pihak Damri berharap, pelaksanaan perjalanan ini bisa dibantu oleh Pemerintah kota Bogor. Hal ini agar masyarakat bogor yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi menuju Jakarta menjadi beralih menggunakan transportasi massal.

“Kami berterima kasih kepada Pemkot Bogor yang akan membantu untuk mempromosikan,” ucap Sardiyo.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, trayek bus Premium ini disediakan bagi masyarakat Bogor yang biasa berangkat ke Jakarta menggunakan kendaraan pribadi dan sebaliknya. “Dalam sepuluh hari kedepan bus ini akan uji coba dengan tarif Rp 35 ribu,” kata Arya.

Menurut Arya, tren masyarakat yang akan menggunakan moda transportasi bus premium ini diprediksi akan meningkat, sama halnya seperti saat uji coba bus premium di Bekasi. “Tren seperti yang di Bekasi semakin diminati, dan pastinya armadanya akan ditambah lagi ke depan,” kata Arya.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bogor, Jimmy Hutapea, mengatakan, uji coba bus premium Bogor-Jakarta dari tanggal 31 Oktober hingga 10 November, dengan jadwal pemberangkatan tiga kali dalam satu hari dari Bogor dan sebaliknya.

“Untuk tahap uji coba BPJT menyiapkan tiga unit bus, dengan jadwal berangkat tiga kali dari Bogor tujuan Jalarta dan kedatangan Jakarta-Bogor pun tiga kali dalam satu hari,” kata Jimmy.

Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Tanggal 31 Oktober 2017 kemarin, Garuda Indonesia mulai membuka rute langsung dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Jakarta tujuan Bandara Heathrow Inggris. Layanan tersebut tentunya didukung oleh PT Angkasa Pura II yang melakukan penebalan atau ovelay pada landasan pacu atau runway utara di Bandara Soetta.

Baca juga: Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Overlay tersebut akan membuat ketebalan landasan pacu utara agar nilai pavement classification number (PCN) menjadi 131 yang akan diselesaikan secara bertahap. Direktur utama AP II muhammad Awaluddin mengatakan, penebalan landasan pacu ini akan bernilai Rp310 miliar dan ditargetkan selesai pada semester ke II tahun 2018 mendatang. Kekuatan runway di setiap bandara berbeda-beda, dalam bahasa penerbangan kekuatan runway/bangunan lainnya di bandara lebih dikenal dengan sebutan PCN. PCN juga ditentukan sesuai dengan kebutuhan suatu bandara, dilihat dari pesawat apa yang akan menggunakan runway bandara tersebut, semuanya ada hitung-hitungannya.

“Hal ini menjadi bagian dari pengembangan east cross taxiway dan pendukung rencana pergerakan pesawat sebanyak 86 pesawat per jam atau program improve runway capacity atau IRC 86,” ujar Awaluddin.

Penebalan landasan pacu ini berguna untuk mendukung penerbangan langsung pesawat berbadan lebar Garuda Indonesia sekelas Boeing 777 saat kondisi maksimal alias penuh dengan penumpang dan bahan bakarnya. Jika penuh atau dengan kapasitas maksimum, berat lepas landas Boeing 777-300ER seberat 350 ton untuk penerbangan langsung ke London.

Merujuk ke belakang, sejak tibanya armada Boeing 777-300ER Garuda Indonesia di tahun 2013 memang sudah mencabangkan penerbangan langsung Jakarta – London. Namun saat itu PCN di Bandara Soetta hanya 108-120 dan tidak mampu untuk di lalui Boeing 777-300ER dengan kondisi penuh sehingga harus mengurangi sebanyak 90 penumpang untuk bisa lepas landas.

Secara teori, untuk mampu menerbangkan pesawat Boeing 777-300ER dengan kondisi penuh atau maksimal, PCN overlay landasan pacu harus punya ketebalan 150. Pada 28 Juli 2017 terjadi kasus lapisan landas pacu terkelupas di Bandara Halim Perdanakusuma. Insiden tersebut terhadi setelah tinggal landasnya pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia adalah yang melayani kloter pertama jemaah Haji dengan rute penerbangan langsung ke Arab Saudi.

Baca juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43

Hal ini membuat penerbangan kloter selanjutnya mau tidak mau di alihkan Bandara Soetta dan beberapa penerbangan langsung harus tertunda sementara perbaikan landasan pacu tersebut. Padahal dari kacamata AP II, Bandara Halim sebenarnya memungkinkan untuk digunakan pesawat tersebut apalagi penerbangannya hanya ke Arab Saudi bukan London.

Kembali tentang penerbangan Garuda Indonesia rute Jakarta – London, meski direct flight kini telah digelar dari Jakarta, sejarah penerbangan rute jarak jauh dengan Boeing 777-300ER sejatinya telah dimulai pada 8 September 2014, namun saat itu lewat transit di Amstrerdam, Belanda, tujuannya pun di London ke Bandara Gatwick. Baru kemudian pada Maret 2016, tujuan di London dipindah ke Bandara Heathrow, dan untuk transitnya pun diubah dengan singgah di Singapura. Sementara dari London Heathrow menuju Jakarta akan dilayani secara non-stop dengan frekuensi sebanyak lima kali per minggu.

Respon Cepat Insiden Jatuhnya Beton Proyek MRT di Jalan Wijaya II, Inilah Hasil Investigasinya

Jumat malam kemarin (3/11/2017), di persimpangan Jalan Panglima Polim dan Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan, sempat ditutup beberapa saat yang mengarah ke Fatmawati maupun ke Panglima Polim. Pengguna jalan pun dialihkan melalui jalan lain di sekitarnya. Pangkal penutupan jalan tersebut terkait insiden beton proyek MRT atau OCS Parapet yang jatuh di area tersebut.

Baca juga: Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Insiden malam itu menimpa motor pengendara motor Honda Scoopy warna hitam-cokelat dan mobil Daihatsu Xenia berwarna putih. Kondisi motor Honda Scoopy rusak parah sedangkan mobil Avanza mengalami kerusakan di bagian belakang. Atas kejadian yang tak diinginkan tersebut, manajemen PT MRT Jakarta langsung melakukan investigasi dan tindakan penanganan secara cepat. Sabtu sore ini (4/11/2017), PT MRT Jakarta merilis secara resmi hasil investigasi yang dituangkan dalam siaran pers. Hasil yang ditemukan dalam investigasi tersebut:

  1. Pada pukul 20.50, material OCS Parapet (tembok pembatas jalur layang) dengan berat 3 ton mulai diangkat dengan Truck Mounted Crane untuk dipasang di jalur kereta layang , ketika pengangkatan OCS Parapet tersebut di ketinggian 20 cm dan melakukan pemindahan, namun dengan tiba-tiba kondisi boom (lengan crane) goyang sehingga Operator gagal untuk mengontrol posisi boom yang mengakibatkan boom memanjang sehingga radius boom melebihi yang seharusnya sampai dengan ± 8 m, dan kemudian mengakibatkan Crane tidak dapat berdiri dengan stabil saat mengangkat OCS. Hal ini menyebabkan material OCS yang sedang diangkat terjatuh.
  2. Pukul 20.52 terjadi insiden yaitu jatuhnya OCS di atas jalan raya yang mengenai mobil dan sepeda motor (pengendara sepeda motor menghindari jatuhnya OCS tersebut). Pada saat kejadian, tim konstruksi dibawah girder, belum mempersiapkan traffic management (memasang barikade dan rambu lainnya) karena pada waktu itu, pekerjaan diatas girder seharusnya masih pada tahap handling material yang belum berdampak pada lalu lintas dibawah girder.
  3. OCS Parapet ini menimpa kendaraan bermotor roda dua dan membentur mobil Daihatsu Xenia.
  4. Pengendara motor atas nama Pak Syamsudin hanya mengalami Luka memar dan lecet dan korban telah diberi obat dan diperban pada bagian kaki oleh pihak RS. Korban sudah diijinkan untuk pulang malam itu juga.
  5. Terdapat kerusakan pada bagian belakang (sisi kiri) mobil, yaitu lampu belakang sebelah kiri dan kaca sebelah kiri pecah serta goresan pada badan mobil sebelah kiri. Kondisi pengendara mobil tidak mengalami luka.
  6. Semua kerugian material dan biaya pengobatan ditanggung seluruhnya oleh kontraktor.
  7. Kejadian ini terjadi akibat kondisi pekerjaan Lifting Plan yang dibuat tidak spesifik untuk pekerjaan pemasangan parapet dari atas girder dan tidak mengikuti Risk Assessment – Job Safety Analysis dan Lifting Plan yang sudah tercantum dalam Method Statement, yaitu lifting boom yang terlalu panjang. Selain itu kurang adanya pengawasan dari Supervisor di lapangan mengakibatkan kejadian ini.
  8. Atas kejadian ini PT MRT Jakarta mengambil tindakan dengan memperbaiki lifting plan dan method statement untuk instalasi OCS parapet diatas girder, agar lebih detail dan spesifik, melakukan re-training untuk seluruh Operator, melakukan re-training mengenai lifting operation untuk seluruh pekerja, melakukan traffic management sebelum melakukan pengangkatan, yaitu pada saat mulai persiapan pekerjaan lifting, memperbaiki sistem komunikasi dan koordinasi serta komando yang jelas untuk setiap grup pekerjaan pemasangan parapet, menambah jumlah flagman yang mengatur traffic management dan melakukan perbaikan pada struktur yang terdampak dari kejadian.
  9. Atas insiden ini pihak PT MRT Jakarta melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem safety (keselamatan kerja) guna memperbaiki seluruh sistem dan metode kerja dalam proses pengerjaan proyek MRT Jakarta.

Muat Lebih Banyak Penumpang di Jam Sibuk, Kereta Komuter di New York Adopsi Kursi Lipat

Beragam usaha dilakukan operator kereta komuter untuk bisa mengangkut penumpang secara maksimal di jam-jam padat (peak hours). Namun faktanya antara kebutuhan dan kapasitas sulit untuk sejalan di momen tersebut, alhasil pada peak hours lazim terlihat antrian penumpang yang mengular panjang di peron stasiun.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors

Pun lebih-lebih di dalam kabin kereta, sudah jamak bila ratusan penumpang saling tergencet hingga kehabisan nafas. Penambahan jumlah rangkaian dan frekuensi perjalanan menjadi jurus standar yang biasa diupayakan, tapi toh strategi tersebut ada batasannya, operator kereta tak bisa sembarangan menambah jumlah rangkaian dan frekuensi perjalanan.

Berangkat dari kasus di atas, MTA (Metropolitan Transportation Authority) selaku pengelola layanan transportasi bus dan MRT (Mass Rapid Transit) di New York, AS, menerapkan gagasan yang sederhana tapi memberi efek besar. Ini tak lain dengan memasang bangku model lipat di dalam kereta komuter bawah tanah “L Train.” Dengan model bangku lipat maka otomatis kabin kereta bisa lebih banyak diisi oleh penumpang, tentunya penumpang disini harus berdiri, terkecuali penumpang penyandang disabilitas.

Dikutip KabarPenumpang.com dari nydailynews.com (24/10/2017), pihak MTA menyebut untuk tahap awal sedang diuji coba pada dua rangkaian perjalanan. Pejabat MTA mengonfirmasi bahwa pada jam-jam sibuk seperti pulang kantor lebih banyak penumpang yang berdiri, itu pun sudah melebihi dari daya muat yang seharusnya. Agar memberi ketegasan, bangku lipat akan dikunci oleh petugas pada jam-jam sibuk, dan kunci akan dilepas pada jam-jam lengang.

Di tahap awal, MTA mencoba foldable seat ini untuk rute jarak pendek dari stasiun Third Ave. Penerapan kursi lipat ternyata juga terkait dengan urusan keamanan, pasalnya akibat usaha berdesakan penumpang masuk ke dalam kereta, tak jarang ada insiden di sekitar pintu otomatis. Dengan adanya kursi lipat, maka akan lebih banyak penumpang yang bisa dibawa dan pergerakan lalu lintas penumpang di kabin kereta menjadi lebih lapang.

Rasanya-rasanya ide penerapan kursi lipat di New York bisa menjadi contoh untuk KRL Jabodetabek. Bagaimana, Apakah Anda setuju?

Kata Profesor Universitas Oxford, “Jangan Buru-Buru Berikan Kursi Pada Orang Tua di Bus Atau Kereta”

Judul di atas terkesan provokatif, maklum mengacu ke nilai kesopanan dan aturan yang diberlakukan oleh penyedia wahana transportasi, golongan orang tua (lanjut usia) harus mendapat prioritas untuk mendapat tempat duduk, bahkan pakem yang berlaku orang yang lebih muda dan sehat lumrahnya memberi kursi bagi orang tua. Namun lain halnya dengan Sir Muir Gray, profesor yang juga tergolong lanjut usia dari Universitas Oxford ini punya pandangan yang berbeda.

Baca juga: Berusia 104 Tahun, Baiq Mariah Asal Lombok Jadi Jemaah Haji Tertua di Dunia

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (18/10/2017), Muir Gray mengatakan bahwa jangan buru-buru memberikan tempak duduk kepada orang tua di bus atau kereta. Gray berpendapat bahwa menjadi tua bukan berarti aktvitas harus diturunkan. “Justru kita harus mendorong aktivitas fisik seiring bertambahnya usia, salah satunya membuat mereka berdiri adalah latihan yang bagus untuk ketahanan fisik,” ujar Muir Gray. Ia menambahkan, usia tua seharusnya tidak dilihat sebagai waktu untuk sekedar bersantai. “Kita perlu menantang gagasan bahwa orang tua harus beristirahat,” tambah Muir.

Meski begitu, Ia menyebut bahwa setelah usia 65 tahun seseorang akan mengalami kemunduran dalam fisik, termasuk ortopedinya. Idealnya para manula tetap harus menjaga aktivitas, minimal latihan moderat selama 150 menit setiap minggunya.

Baca juga: Dari Jepang Hingga Bandung Tawarkan Sensasi Makan di Atas Bus

Dalam hal berbeda, memberi tempat duduk pada orang tua bisa dianggap hal yang buruk, bahkan bisa dikira melakukan pelecehan, ini terjadi dalam budaya Jepang. Alasannya, orang tua di Jepang tidak suka bila anak muda menganggap mereka perlu dibantu atau lebih tepatnya, mereka tidak suka dikasihani. Umumnya di setiap negara, termasuk di Indonesia, untuk manula, ibu hamil, ibu membawa balita dan penyandang disabilitas akan dimasukkan sebagai penumpang prioritas.

Berkaca kembali ke pernyataan Sir Muir Gray, tentu harus disikapi secara bijaksana dan melihat situasi serta kondisi yang ada di sekitaran.

Angkasa Pura I Gandeng KNKT dan Undip Kembangkan Aplikasi Monitoring Ketinggian Air di Runway

PT Angkasa Pura I (Persero) pengelola 13 bandara di Indonesia Tengah dan Timur meluncurkan inovasi baru berbasis teknologi informasi melalui pengembangan aplikasi alat pengukur ketinggian air di permukaan landasan pacu atau runway. Dalam pengembangan aplikasi tersebut, AP I bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Universitas Diponegoro (Undip).

Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

Direktur Utama AP I, Danang S Baskoro mengatakan, aplikasi ini dibuat sebagai upaya untuk memberikan informasi akurat, cepat, otomatis dan real time terkait kondisi landasan pacu khususnya pada saat hujan ke bagian air traffic control (ATC) dan pilot.

“Kita perlu suatu sistem peralatan monitoring yang dapat memantau kondisi tingkat ketinggian genangan air di permukaan runway secara real time dan dapat memberikan sinyal keamanan untuk lepas landas maupun mendarat,” jelas Danang yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (3/11/2017).

Danang S. Baskoro mengatakan, Angkasa Pura I bersama KNKT dan Undip berkomitmen untuk merancang dan membuat sistem peralatan monitoring ketinggian genangan air pada runway di Bandara Ahmad Yani Semarang sebagai upaya peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan. Pengembangan aplikasi monitoring ini terkait dengan aktivitas pemeriksaan keberadaan air di runway, termasuk pada saat hujan, sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan.

Lebih spesifik, pemeriksaan keberadaan air ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan yang diperlukan ke depannya. Sementara itu, kegiatan pemeliharaan atau program pemeliharaan fasilitas sisi udara (runway, taxiway, dan apron) merupakan kewajiban operator bandar udara yang diatur dalam Peraturan Dirjen Perhubungan Udara Nomor KP 94 Tahun 2015.

Sebagai informasi, kegiatan pemeliharaan tersebut meliputi inspeksi rutin, pengujian kinerja perkerasan, perbaikan kerusakan, rehabilitasi, dan pembuatan laporan ke regulator. Sementara inspeksi bertujuan untuk memeriksa kondisi permukaan perkerasan terutama pada area pergerakan (movement area) agar layak dan aman digunakan bagi operasional penerbangan.

Baca juga: Bebaskan Landing Fee Bagi Maskapai Baru, Angkasa Pura I Dukung Sektor Wisata NTT

Kegiatan inspeksi meliputi pemeriksaan material asing berbahaya atau foreign object debris (FOD), pemeriksaan kerusakan struktur perkerasan, termasuk di dalamnya pemeriksaan keberadaan air di runway. Pemeriksaan keberadaan air di runway merupakan salah satu hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kemanan penerbangan.

Runway yang tergenang air pada saat hujan memiiki efek hydroplaning, yaitu kondisi di mana pada saat pendaratan, roda pesawat mengambang di permukaan air yang mengakibatkan rem pesawat tidak bekerja secara efektif dan tidak mampu mengurangi kecepatan pesawat serta kemudian dapat mengakibatkan pesawat kehilangan kendali sehingga dapat mengakibatkan pesawat keluar dari badan runway.

Peneliti – Bus Rapid Transit Dapat Bersaing Dengan Transportasi Berbasis Massal Lainnya

Hadirnya beberapa moda transportasi baru yang dapat memudahkan masyarakat dalam berkendara merupakan bentuk nyata kepedulian pemerintah akan warganya. Di dalam negeri sendiri, Commuter Line Jabodetabek (KRL) merupakan sebuah bukti efisiensi masyarakat dalam berkendara menggunakan transportasi umum, ditambah lagi dengan sistem Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) yang hingga kini masih dalam tahap pembangunan.

Baca Juga: SAPTCO Percayakan Armada Mercedes Benz Untuk Operasikan BRT

Tidak hanya KRL, Jakarta sendiri memiliki ‘sistem semi’ Bus Rapid Transit (BRT), yaitu TransJakarta. Dibilang ‘semi’ karena jalur khusus untuk TransJakarta ini terkontaminasi oleh pengguna jalan lain, sehingga jalur yang seharusnya bersih dari pengguna jalan lain, malah ikut-ikutan macet karena penumpukkan kendaraan pribadi di jalur khusus tersebut. Jika ditarik kesimpulan, KRL bisa dibilang lebih efisien ketimbang sistem ‘semi’ BRT yang ada di Ibukota, ditinjau dari segi penghematan waktu perjalanan, kenaikan permintaan dari pengendara, dan perubahan pembangunan perkotaan. Lalu, jika digunakan pendekatan yang sama, apakah melulu sistem transportasi massal berbasis kereta akan terus merajai sistem transportasi umum?

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thecityfix.com (23/10/2017), peneliti Transport Review Jesper Ingvardson dan Otto Nielsen dari Technical University of Denmark menyebutkan bahwa kehadiran BRT kerap kali dikaitkan dengan ‘sepupu’ mereka yang lambat, bus lokal. Namun dalam beberapa kasus, BRT dianggap jauh lebih ekonomis dan mengungguli sistem rel.

Studi pun dilakukan oleh Jesper dan Otto dengan melihat apakah BRT dapat mengurangi waktu perjalanan dan memberikan keuntungan (frekuensi bus, kualitas stasiun, jenis kendaraan dan sistem informasi pengguna) terhadap para penggunanya sendiri. Ada variasi besar di sistem BRT mengenai waktu tempuh, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang luas, namun secara keseluruhan, Jesper dan Otto melihat adanya penurunan dari dua objek studi tersebut.

Jesper dan Otto mengatakan bahwa Metrobüs di Istanbul,Bus-VAO di Madrid, dan South Miami-Dade Busway di Florida sebagai contoh BRT yang tidak mengalami penurunan waktu tempuh. Metrobüs di Istanbul menujukkan penghematan waktu perjalanan sebesar 65 persen, jalur Bus-VAO di Madrid menghasilkan penghematan 33 persen dan South Miami-Dade Busway hanya 10 persen.

Keuntungan pengguna sistem BRT di ketiga tempat pun bervariasi: 150 persen di Istanbul, 85 persen di Madrid dan 50 persen di Miami. Poin menarik dari studi ini adalah pengaruh kehadiran BRT terhadap pengemudi. Di 13 kota di mana Jesper dan Otto mempelajari BRT, jumlah pengendara yang bergeser dari perjalanan mobil berkisar antara 5 persen (Stockholm) sampai 40 persen (Adelaide), dengan rata-rata sebesar 17 persen.

Baca Juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Jesper dan Otto, mereka berkesimpulan bahwa sistem BRT dapat bersaing dengan kompetitornya, yaitu LRT dan sistem Metro, karena mereka berpendapat bahwa perbandingan diantara seluruh objeknya tidakah terlalu  signifikan. Mungkin akan beda cerita jika Jesper dan Otto mengamati kondisi transportasi di Jakarta, mungkin penilaiannya akan berbeda.

Meriahkan Ulang Tahun ke-14, Sriwijaya Air Group Berikan Diskon Tiket 14 Persen

Sriwijaya Air Group akan merayakan ulang tahun ke-14 nya pada 10 November 2017 mendatang. Dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya ini, Sriwijaya Air Group (Sriwijaya Air dan NAM Air) memberikan diskon 14 persen dari harga awal untuk setiap pembelian tiket Sriwijaya Air dan Nam Air baik itu sekali jalan ataupun pulang pergi.

Baca juga: Sriwijaya Air Group ‘Sapa’ Tiga Kota di Kalimantan Barat

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber bahwa diskon ini berlaku untuk semua rute penerbangan kecuali rute dari Alor, Ende, Bajawa, larantuka, Ruteng, Roweleba. Senior Corporate Communications Manager Sriwijaya Air Group Agus Soedjono mengatakan, selain itu rute Kupang-Maumere-Kupan dan Kupang-Waingapu-Kupang serta Batam-Natuna-Batam juga tidak ada diskon.

“Program ini diberikan kepada pelanggan untuk ikut serta merasakan kegembiraan dalam rangka HUT ke-14 Sriwijaya Air Group pada 10 November 2017. Kami menyebutnya program spesial Ultahku Diskonmu,” jelasnya dalam siaran pers yang dikutip KabarPenumpang.com dari lampung.tribunnews.com (2/11/2017).

Agus mengatakan, diskon ini berlaku untuk pembelian tiket dari tanggal 25 Oktober sampai 10 November 2017 dengan periode terbang 9-11 November 2017. Dengan adanya program diskon ini, Sriwijaya mau mengajak konsumen sering terbang dengan biaya murah untuk keperluan wisata, bisnis, pendidikan, family trip dan lainnya. Program ini juga kedepannya diharapkan ikut menggerakkan roda perekonomian di kota tujuan Sriwijaya Air Group.

Diskon ini bisa didapatkan saat melakukan pembelian di agen Sriwijaya Air Group, baik itu agen online, website dan kantor perwakilan group. Program ini berlaku untuk semua tiket baik dewasa atau anak-anak dan tidak berlaku pada tiket bayi (infant).

Baca juga: Horee! Sriwijaya Air Akhirnya Buka Rute Menuju Raja Ampat

Tak hanya diskon, beberapa waktu lalu juga Sriwijaya Air Group membuka penerbangan dari Jakarta menuju Ketapang di Kalimantan Barat via Pontianak PP mulai 26 Oktober 2017. Penerbangan rute ini ada setiap hari dengan perpaduan pesawat antara Sriwijaya Air atau Nam Air.

Rute baru juga dibuka untuk penerbangan dari Jakarta ke kota Putussibau dan Sintang yang keduanya masih dalam Provinsi Kalimantan Barat. Penerbangan ke tiga kota ini pun bisa di lakukan dari kota besar di Jawa seperti Semarang, Yogyakarta dan Surabaya serta kota besar lainya di Indonesia.

Bangun Apartemen di Kawasan Stasiun Bogor, Proyek TOD Masih Terganjal Izin

Antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Waskita Karya Realty untuk membangun dan mengembangkan hunian berbasis transit oriented development atau TOD di stasiun kereta api Bogor, Jawa Barat. Bahkan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut sedianya dilakukan Presiden Jokowi pada 5 Oktober lalu. Namun acara tersebut dibatalkan, selain karena berbenturan dengan peringatan HUT TNI, rupanya masih ada persoalan yang harus diselesaikan dari proyek TOD.

Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan

“Pengembangan ini merupakan bisnis baru bagi Waskita terutama dalam hal utilitasi dan pemanfaatan tanah PT KAI,” ujar Direktur Utama Waskita karya, M Choliq yang dikutip KabarPenumpang.com dari lama thejakartapost.com (11/11/2017). Menurutnya model ini bisa membuat lahan KAI memiliki nilai komersial sekaligus mengembangkan wilayah yang lebih modern. Jika berhasil, maka bisa berlanjut ke proyek-proyek selanjutnya.

Selain itu, konsep TOD diharapkan bisa menyelesaikan backlog perumahan serta kemacetan lalu lintas di ibu kota dan sekelilingnya. Apalagi saat ini harga tanah di ibu kota bisa dikatakan semakin tidak terjangkau bagi masyarakat Jakarta sendiri.

Sehingga banyak warga Jakata yang akhirnya mulai mencari rumah di pinggiran kota Jakarta hingga keluar kota seperti Bogor. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan pada tahun 2016 kemarin, mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta keluarga yang ada di Jakarta kehilangan tempat tinggal.

Hal ini membuat mereka terpaksa harus hidup dalam perjanjian sewa atau rumah kontrak. Diketahui dari semua provinsi di Indonesia, Jakarta sendiri telah mencatat tingkat kepemilikian rumah terendah yakni 51,09 persen dari data yang ada.

Adapun nantinya proyek ini akan di bangun di atas lahan seluas 6,5 hektar dengan total bangunan sebanyak delapan gedung apartemen yang memiliki tinggi 18 lantai setiap gedungnya. Nantinya sebanyak 30 persen dari 1500 unit tersedia akan dialokasikan bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.

Sayangnya rencana ini justru menimbulkan banyak kontroversi terkait masalah kemacetan dan membuat kawasan Bogor semakin padat. “Di Stasiun Bogor memang akan dibangun kawasan berkonsep transit oriented development ( TOD), tapi kalau di dalam kawasan tersebut dibangun apartemen kurang tepat, bisa jadi lebih padat lagi nantinya,” ujar Pengamat Tata Ruang Kota dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ernan Rustiadi.

Baca juga: TransPakuan, Solusi Kemacetan Bogor yang Kurang Perhatian

Menurutnya dalam Perda kota Bogor No. 8/2011 tentang RTRW wilayah kota Bogor 2011-2031 secara umum filosofinya memetakan pusat keramaian kota ke daerah pinggiran. Jika dibangun apartemen justru kota Bogor akan menjadi pusat pemukiman, seharusnya yang benar adalah kepadatan yang berpusat di seputaran Kebun Raya Bogor harus diurai. Padahal sebenarnya Bogor sangat membutuhkan kawasan berkonsep TOD ini di Stasiun Bogor agar tidak terlalu padat.

Sementara menurut Kepala Dinas Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Bogor Denny Mulyadi, perizinan TOD Stasiun Bogor masih dalam proses analisis dampak lingkungan (Amdal) dan lalu lintas.

Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Pergerakan sirip atau flap pada sayap selalu menarik untuk diperhatikan dari jendela kabin. Tengok saja saat pesawat akan melakukan pendaratan, maka bisa dipastikan flap di sayap akan mengembang, dan memperlihatkan ruang kosong di bagian dalam sayap.

Flap digunakan pada pengaturan tertentu dengan memperhitungkan kondisi beban muatan pesawat, penumpang, runway dan hal lainnya. KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa sumber, flap juga memiliki fungsi untuk mengendalikan laju udara yang mengalir melalui sayap pesawat. Flap sendiri adalah permukaan yang berengsel pada tepi belakang sayap pesawat terbang biasa dan juga sering disebut sirip pesawat. Fungsi flap digunakan untuk menambah daya angkat dan setiap posisi.

Baca juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas

Pada 8 April 1995, ada kejadian yang tak pernah terlupakan, dimana flap pada sayap pesawat Boeing 747-200 Garuda Indonesia jatuh dari ketinggian 500 kaki (setara 152 meter) di sebuah lapangan Newgate Surrey satu menit sebelum mendarat di bandara Gatwick, London di Inggris. Untungnya, pilot mampu mengendalikan pesawat hingga mendarat dengan mulus di Gatwick dan 390 penumpangnya selamat tanpa mengalami cidera.

Insiden yang terjadi pada pesawat registrasi PK-GSE ini bukanlah hal yang pertama pada waktu itu, melainkan kejadian yang ketiga kalinya di dunia yang dialamai pesawat sejenis. Sedangkan pada Garuda Indonesia, ini adalah kali pertamanya terjadi pada penerbangan GA-976. Sayangnya, kejadian ini tidak terinci terkait copotnya flap pada Boeing 747-200 tersebut.

Dugaan saat itu adalah ausnya baut pemegang flap menjadi salah satu kemungkinan komponen terlepas dari kedudukannya di sayap kiri. Dengan kondisi ini, sebenarnya pesawat masih bisa lepas landas dan mendarat, tetapi membutuhkan jarak yang lebih jauh atau panjang untuk meluncur di landasan.

Nah, Anda harus tahu, bahwa untuk membetulkan sebuah flap yang terlepas dari sayap pesawat membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Selain itu, ternyata salah satu ujian untuk mendapat lisensi pilot, seorang calon pilot harus bisa lepas landas dan mendaratkan pesawat tanpa flap.

Baca juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Diketahui, pesawat Boeing 747-200 PK-GSE milik Garuda Indonesia ini buatan tahun 1982 dan menjadi salah satu dari dua jumbo Garuda Indonesia yang di jual pada pihak luar dan kembali disewa oleh Garuda Indonesia. Tahun 1994, sebelun Boeing 747-200 tersebut di jual, Garuda Indonesia memiliki enam Boeing 747-200 dan dua jumbo teranyar yakni 747-400.