Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab

Kedatangan pesawat Airbus A380 ke-100 milik maskapai yang ber-homebase di Dubai ini disambut oleh CEO dan President Emirates Airlines HH Sheik Ahmed bin Saeed Al-Maktoum dan Sir Tim Clark pada 12 September lalu. Kedatangan pesawat A380 juga menandakan sudah sepuluh tahun sejak Emirates mulai menerbangkan pesawat andalannya ini.

Baca juga: 32 Tahun Mengangkasa, Inilah Kaleidoskop Emirates

KabarPenumpang.com merangkum dari paddleyourownkanoo.com (3/11/2017), Sheik Ahmed berkomitmen bahwa Emirates tetap akan menggunakan Airbus A380. Diketahui komentar ini mengikuti spekulasi dimana Airbus mungkin akan menghentikan super jumbo karena sedikitnya pembelian dari maskapai lain.

Sir Tim Clark mengatakan selain memiliki Airbus A380, pihaknya juga tertarik jika Airbus mengembangkan versi Neo yang sudah ada saat ini. Sementara itu, Airbus sendiri sudah siap untuk melakukan proyek tersebut dengan merancang ulang aspek pesawat agar lebih hemat bahan bakar.

Dubai AirShow yang akan diadakan di Uni Emirat Arab akhir November 2017 ini, Sheikh Ahmed mengatakan akan mengumumkan sebuah hal baru untuk Airbus A380-nya. Dimana Airbus terbaru yang dimiliki Emirates ini didukung dengan empat mesin Rolls Royce Trent 900 dengan lounge onboard ikonik.

Airbus A380 ke-100 ini nantinya memiliki 14 suite kelas satu yang pernah memenangkan penghargaan desain internasional dan 76 kursi kelas bisnis yang tersebar di kabin atas. Sedangkan kabin utama diisi dengan 436 kursi kelas ekonomi.

Ada yang unik dari Airbus A380 ke-100 yang dimiliki Emirates ini, yakni akan dibalut livery pesawat dengan gambar Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, presiden pertama Uni Emirat Arab. “Ini adalah saat yang luar biasa bagi Emirates, Airbus dan banyak mitra kami yang terlibat dalam program A380,” ujar Sheikh Ahmed.

Baca juga: Lebih Mewah dan Super Mahal, Singapore Airlines Sulap Suite Kelas Satu di Airbus A380

Dia mengklaim bahwa keterlibatan Emirates dalam proyek ini telah mengamankan pekerjaan ribuan orang di seluruh dunia dan memberikan konstribusi signifikan terhadap ekonomi negara-negara dimana pesawat ini mengudara. “Tidak ada keraguan bahwa A380 memiliki dampak positif yang besar pada manufaktur kedirgantaraan dan industri penerbangan yang lebih luas, mendukung ratusan ribu pekerja serta menstimulasi inovasi dan pengembangan produk baru,” ujarnya.

Awalnya Airbus A380 dirancang untuk memenuhi kebutuhan maskapai penerbangan yang berkembang pesat untuk masuk ke bandara slot constrined seperti London Heathrow dan New York JFK. Namun Sheikh Ahmed mengatakan, bahwa pesawat tersebut menstimulasi pertumbuhan penumpang di bandara sekunder seperti Manchester bahkan di Mauritius.

Emirates menerima Airbus A380 nya pada tahun 2008 lalu dan menjadi pesawat komersial pertama yang memiliki shower di kabin serta memperkenalkan kembali konsep bar dan lounge di pesawat terbang. Hingga kini dari sejak diperkenalkan, sudah lebih dari 85 juta penumpang telah terbang bersama A380 Emirates.

Jika Terjadi Perkelahian di Kabin, Pilot Bisa Berlakukan Prosedur Pendaratan Darurat

Pada 3 November 2017, pesawat Boeing 777 United Airlines dengan nomer UA808 yang membawa 212 penumpang belum lama lepas landas dari Beijing menuju Washington Dulles, namun dalam kondisi ‘darurat’ pesawat harus kembali ke Beijing Capital International Airport pada pukul 19.00 waktu setempat setelah tiga jam mengudara. Kembalinya pesawat United Airlines tersebut nyatanya bukan disebabkan karena masalah teknis pada pesawat, pangkal musababnya justru lantaran terjadi pertengkaran di dalam kabin.

Baca juga: Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat

KabarPenumpang.com melansir dari laman wjla.com (5/11/2017), adanya pertengkaran sebenarnya sudah ditenangkan oleh awak kabin. Namun, keduanya menolak untuk tenang dan akhirnya awak kabin mengeluarkan peringatan tingkat ancaman dua, dimana kasus ini melibatkan pemukulan dan awak kabin menyatakan gagal mengatasi situasi.

“Penerbangan dengan nomor UA808 dari Beijing ke Washington Dulles dan kembali ke Beijing setelah seorang penumpang memulai pertengkaran dengan awak kabin yang menyebabkan masalah keamanan,” ujar Direktur Komunikasi United Airlines, Frank Benanti, melalui sebuah email.

Dia mengatakan, penumpang yang membuat masalah tersebut kemudian saat diturunkan sudah langsung ditunggu pihak kepolisian untuk mengamankannya di pintu pesawat dan penumpang tersebut bersedia diamankan tanpa ada perlawanan.

Namun, tidak diketahui apakah penumpang tersebut diinterogasi atau ditahan pihak kepolisian setempat. Sedangkan penumpang lainnya diberi akomodasi hotel dan voucher makan serta diterbangkan kembali ke Washington pada keesokan harinya.

Kejadian yang sama seperti ini pernah terjadi di maskapai berbiaya rendah asal Singapura, Scoot pada 2014 lalu. Suami istri yang menjadi penumpang di dalamnya bertengkar. Hal ini akhirnya membuat pesawat tersebut terpaksa mendarat darurat di Bali.

Baca juga: Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa?

Pertengkaran ini terjadi di pesawat dengan nomor penerbangan TZ1 yang berangkat dari Sydney, Australia menuju Singapura. Perkelahian antara suami istri ini sangat sengit dan membuat tulang lengan sang istri cedera parah dan sang suami juga terluka lumayan serius.

Akibat kejadian tersebut, pilot Scoot mengambil keputusan untuk mendaratkan pesawat darurat di Bali. Akibatnya pesawat Scoot tiba di Singapura dua jam lebih lambat yang seharusnya tiba di Singapura pukul 18.50 menjadi 20.50 waktu setempat.

Menanti Putusan Kenaikan Tarif Batas Bawah, Citilink Bersiap Meningkatkan Pelayanan

Sebagai salah satu penyedia layanan jasa di sektor penerbangan berbiaya rendah (LCC), Citilink Indonesia mengaku satu suara terhadap rencana penerapan tarif batas atas dan bawah yang diajukan oleh Indonesian National Air Carriers Association (INACA). Penerapan tarif batas bawah ini sendiri nantinya akan berimbas pada kenaikan tarif penerbangan di kelas ekonomi.

Baca Juga: Rangkul Bank Mandiri, Citilink Indonesia Luncurkan E-Money Untuk Segala Transaksi. Efektifkah?

Vice President Corporate Communication Citilink, Benny S. Butarbutar mengatakan bahwa penerapan tarif batas bawah ini memiliki latar belakangnya sendiri. “Kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam penerapan tarif batas bawah adalah untuk menjaga ‘iklim’ penerbangan sendiri dalam kondisi kondusif,” ujar Benny kepada KabarPenumpang.com, Selasa (7/11/2017). “Tekanan ekonomi global mempengaruhi perkembangan lanjutan dari industri aviasi sendiri,” imbuhnya.

Sebut saja melambungnya harga avtur menjadi salah satu alasan INACA mengajukan penerapan tarif batas bawah. “Ini akan membantu agar pihak maskapai punya nafas untuk menjaga bisnisnya, standar safe nya sudah pasti dijaga,” tutur Benny. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa industri penerbangan termasuk salah satu lahan bisnis yang rumit, maka dari itu pihak Citilink berharap agar pemerintah dapat segera memutuskan putusan soal pemberlakuan tarif batas bawah ini. “Mungkin mulai diberlakukan awal tahun 2018 mendatang, seperti kado tahun baru buat maskapai,” tukasnya.

“Jika penumpang (demand) naik, dan pihak maskapai bisa meningkatkan efisiensi, maka itu sudah menunjukkan sebuah nilai yang sangat bagus … Daripada kita mesti perang tarif melulu dengan operator lain, nantinya yang dirugikan juga penumpang, dimana imbasnya juga akan berujung ke penyedia jasa lain,” terang Benny menanggapi pernyataan bahwa dunia penerbangan merupakan industri yang sangat sensitif.

Benny yakin bahwa pemerintah juga tidak akan lepas tangan dalam industri penerbangan, mengingat keruntuhan dunia aviasi akan menjadi momok yang menakutkan jika pemerintah tidak turun tangan.

Dari segi penumpang sendiri, penetapan tarif batas bawah ini akan berimbas pada naiknya harga tiket. Menanggapi hal tersebut, Benny mengatakan kenaikan tarif tersebut nantinya akan diikuti dengan penambahan pelayanan, baik selama penerbangan maupun ketika di darat. “Tentu akan ada peningkatan pelayanan dan kemudahan yang kami layangkan untuk para penumpang. Kami sedang mengusahakan untuk mengadakan fasilitas WiFi onboard yang bisa dinikmati penumpang selama dalam perjalanan.” Tutup Benny.

Baca Juga: Citilink Indonesia Buka Rute Bandara Halim Perdanakusuma – Silangit

Dilansir dari sumber lain, penetapan tarif batas atas dan bawah tiket pesawat masih diatur dalam Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas Dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga berjadwal Dalam Negeri. Tarif batas atas pada tiket pesawat kelas ekonomi ini sendiri dihitung berdasarkan komponen tarif jarak. Sementara itu untuk penetapan tarif batas bawah serendah-rendahnya 30 persen dari batas atas sesuai dengan kelompok pelayanan yang diberikan. Sementara usulan yang diajukan INACA kepada pemerintah adalah kenaikan tarif batas bawah sebesar 10 persen.

Inilah Alasan Mengapa Tiket Penerbangan Langsung Jarak Jauh Lebih Mahal

Mana yang lebih murah antara penerbangan langsung (direct flight) dan penerbangan tak langsung (transit)? Ini biasanya pertanyaan yang kerap dilontarkan dari para calon penumpang pesawat yang memilih bepergian hemat dengan rute jarak jauh. Sebenarnya itu adalah pertanyaan klasik, dimana jawaban sederhananya merujuk antar hukum penawaran dan permintaan.

Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Dimana jika sebuah permintaan banyak maka penawaran harga akan menyesuaikan dan sebaliknya jika permintaan sedikit maka penawaran harga akan bisa melambung tinggi.

KabarPenumpang.com melansir dari smartertravel.com, rute penerbangan langsung seperti judi, sebab maskapai harus memiliki permintaan pasar yang konsisten untuk melakukan perjalanan di rute yang tepat. Ini biasanya tidak ada masalah pada penerbangan jarak jauh yang memiliki rute lintas negara dengan tujuan kota-kota besar.

Namun bagaimanan jadinya jika rute yang dibuka bukanlah rute jalur kota besar melainkan ke kota kecil? Pastinya biaya akan semakin mahal dan beragam risiko yang harus diperhitungkan. Biasanya pemecahan masalahnya adalah dengan membuka rute penerbangan transit untuk menghubungkan kota besar ke kota kecil dan kemudian berganti pesawat.

Bagi pihak maskapai, secara teoritis penerbangan tidak langsung merupakan sistem yang lebih murah dan dapat diandalkan karena menghindari risiko rute direct flight dengan permintaan yang tidak bisa selalu diandalkan. Jika dilihat dari sudut pandang penumpang, teori penawaran dan permintaan adalah masalah kenyamanan yang sederhana dan maskapai penerbangan tahu hal ini dengan jelas. Dari aspek layanan, penerbangan langsung jarak jauh umumnya dilayani oleh maskapai full service, artinya ada beban biaya layanan yang telah mengacu pada suatu standar internasional.

Baca juga: United Airlines Buka Rute Direct Flight Terjauh, Los Angeles – Singapura

Pada penerbangan langsung setiap maskapai menggunakan pesawat berbadan lebar. Sebab bukan hanya bisa mengangkut penumpang dengan jumlah banyak, tetapi mampu menampung bahan bakar yang cukup juga dalam sekali penerbangan.

Sementara benefit yang ditawarkan untuk penumpang layanan direct flight adalah bisa mengurangi waktu tiba dan tidak rentan pada masalah penundaan atau disfungsi. Selain itu pesawat yang lebih besar cenderung lebih nyaman dan memiliki fasilitas yang lebih baik dibandingkan jet regional yang kebanyakan menggunakan kelas narrow body dengan luas kabin yang terbatas.

Dengan penerbangan langsung, penumpang akan mendapat ketenangan pikiran dan kesempatan tiba tepat waktu dengan barang bawaan yang tak harus berpindah-pindah di bandara transit. Sampai saat ini ada beberapa maskapai yang melakukan penerbangan langsung jarak jauh dengan layanan penuh seperti Emirates, Qantas, Qatar, Singapore Airlines dan baru-baru ini Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia menggunakan pesawat Boeing 777-300ER nya baru saja membuka rute penerbangan Jakarta ke Inggris. Sebenarnya dalam beberapa kasus pun penerbangan transit bukanlah sebuah ketidaknyamanan, melainkan juga memiliki nilai plus dimana jika singgah di suatu hub lebih lama, penumpang bisa berkeliling di area mall bandara.

Sebagai gambaran, perbedaan tarif antara penerbangan langsung dan transit diketahui memiliki rentang yang cukup jauh, dimana rute direct flight bisa dikenakan ongkos tarif lebih tinggi US$60-US$150 dibandingkan rute transit.

Hong Kong Segera Realisasikan Tekonologi Pengenalan Wajah di Bandara

Bandara Chek Lap Kok adalah nama lain dari Bandara Internasional Hong Kong atau Hong Kong Intenational Airports. Otoritas bandara ini berencana memperkenalkan teknologi baru untuk pengenalan wajah di bandara ini. Diperkirakan tekologi pengenalan wajah akan hadir sebelum akhir tahun 2018 mendatang. Adanya pengenalan wajah ini sebenarnya untuk memudahkan para pelancong yang melalui HKIA agar tidak perlu repot mengeluarkan paspor di beberapa pos pemeriksaan bandara.

Baca juga: Bandara Internasional Hong Kong Sabet Predikat “Bintang Lima” dari Skytrax

KabarPenumpang.com melansir thestandard.com.hk (3/10/2017), sebelum ada teknologi pengenalan wajah ini, pelancong harus melewati tiga kali pemeriksaan di HKIA. Pertama di konter check in maskapai, kemudian di area pintu masuk terbatas sebelum ruang tunggu dan terakhir di gerbang sebelum menaiki pesawat.

Nantinya jika sudah terealisasi mesin pengenalan wajah ini, pengecekan paspor hanya akan dilakukan satu kali yakni di konter check in. Kemudian di konter chek in, para pelancong akan diambil fotonya dan bisa melalui pos kedua di area terbatas dan gerbang keberangkatan tanpa perlu mengeluarkan paspor lagi.

Rencananya, mesin pengenalan wajah merupakan salah satu penyempurnaan yang diumumkan oleh chief executive otoritas red Lam Tin Fuk pada konferensi dan pameran teknik Internasional Hong Kong yang ketiga. Dalam memperkenalkan teknologi pengenalan wajah ini, pihak otoritas mengatakan, bahwa akan mengerjaan lima aspek termasuk penggunaan data yang besar dan robot untuk memfasilitasi Smart Airport dalam sepuluh tahun kedepan.

“Awal tahun depan, kami akan membangun kemampuan real time dalam analisis penumpang dan manajemen hubungan pelanggan. Kami juga akan menggunakan analisis data untuk meningkatkan kemampuan prediksi kami untuk beberapa sistem kami, seperti pemacu rel otomatis orang-orang penggerak, dan sistem penanganan bagasi,” kata Lam.

Pihak otoritas bandara juga mengatakan, peningkatan pengenalan wajah ini akan hadir pada bulan depan. Dalam menggunakan pengenalan wajah ini, adalah yang pertama digunakan oleh otoritas bandara tetapi teknologi ini sudah digunakan oleh bagian imigrasi bandara.

Awal bulan November ini, departemen imigrasi meluncurkan Smart Depature di bandara untuk turis asing yang mengunjungi Hong Kong. Nantinya setelah datang, para pelancong akan dipotret di pos pemeriksaan imigrasi.

Setelah melalui pemeriksaan di imigrasi pelancong bisa memindai paspor mereka di jalur e-Learning Smart Enabled dan memiliki potret lain yang di ambil untuk perbandingan di banding tanpa harus ke pos pemeriksaan manual. Ini akan mengurangi keterlambatan 30 detik saat keberangkatan.

Baca juga: Rancang Ruang Bagasi Unik, Kelompok Mahasiswa Hong Kong Raih Penghargaan dari Airbus

Sayangnya sistem ini hanya tersedia bagi pelancong asing dari sekitar 70 negara dan bukan Hongkongers atau mereka yang bepergian dengan dokumen perjalanan darat. Pada konferensi, sekitar 30 perusahaaan memamerkan inovasi terbarunya termasuk demonstarasi menggunakan teknologi realitas yang meningkat dalam desain bangungan dan pemeliharaan bandara.

Peserta pameran mengatakan bahwa pihaknya sedang mengerjakan kacamata yang akan menggabungkan teknologi pengenalan wajah. Sedangkan peserta lain mengatakan sedang merancang sebuah robot yang akan membawa belanjaan penumpang di toko bebas bea ke gerbang keberangkatan.

Autonomous Rail Rapid Transit, Pelampiasan Cina Setelah Gagal Dengan Straddling Bus?

Memang, tidak melulu sebuah gagasan untuk setiap masalah dapat berterima dan akhirnya menjadi solusi. Sama seperti yang terjadi di Cina beberapa waktu yang lalu, dimana sebuah Transit Elevated Bus yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk masalah kemacetan yang ada kini tidak lagi beroperasi. Awalnya saja bus ini seperti sudah diragukan oleh banyak pihak, ternyata hipotesa mereka terjawab sudah dengan dibongkarnya jalur uji coba di Qinhuangdao.

Baca Juga: Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (22/7/2017), proyek pengadaan moda raksasa berjuluk Straddling Bus yang diumumkan pada musim panas tahun lalu ini awalnya memang mendapat banyak pujian karena solusi yang coba mereka tawarkan. Namun pujian tersebut perlahan redup setelah perusahaan penyedia Straddling Bus ini mulai menemukan masalah kelayakan dan investasi.

Straddling Bus sendiri merupakan sebuah moda yang akan berjalan ‘mengangkang’ di atas moda darat lain, dimana kaki-kaki dari Straddling Bus ini akan dipasangkan di setiap ujung jalan dan memiliki lampu lalu lintasnya sendiri. Ide pengadaan Straddling Bus ini muncul pertama kali pada tahun 2010 silam. Ide tersebut lalu dimasak matang-matang dan mulai diperkenalkan ke publik dalam perhelatan Beijing International High-Tech Expo 2016.

Rel Straddling Bus Mulai Dilepas. Sumber: istimewa

Namun sayangnya, hanya beberapa hari setelah uji coba yang banyak dipuji di kota Qinhuangdao, provinsi Hebei, semua uji coba telah dihentikan dan keraguan mulai muncul. Banyak yang mempertanyakan kapabilitas dari bus tersebut, dari mulai cara mereka melewati banyaknya jembatan di Beijing hingga daya tahan baterai yang digunakannya. Lebih parahnya lagi, ada juga kebingungan tentang apakah proyek tersebut pernah disetujui oleh pemerintah daerah dan bahkan ada dugaan bahwa pengadaan bus ini merupakan bentuk penipuan investasi.

Terlepas dari itu semua, Straddling Bus dianggap tidak layak untuk beroperasi dan akhirnya proyek tersebut dibatalkan pada bulan Juni 2017 kemarin karena kekhawatiran tentang kelangsungan hidup bus ini.

Baca Juga: AS Ikuti Cina Gunakan Teknologi Rel Virtual dalam Autonomous Rail Transit

Setelah ide pengadaan bus ‘mengangkang’ tersebut kandas, kini otoritas berwenang di Negeri Tirai Bambu mulai menaruh fokus pada Autonomous Rail Rapid Transit (ART) yang rencananya akan mulai beroperasi pada tahun 2018 mendatang. ART sendiri merupakan kereta yang berjalan di rel virtual dengan kecepatan maksimum 70 km per jam dan mampu menampung kurang lebih 300 penumpang di tiga gerbongnya.

Sistem transportasi futuristik ini menggunakan jalur rel virtual dan sudah melakukan uji cobanya di jalan raya daerah Zhuzhou di Provinsi Hunan pada bulan Juni kemarin. ART bergerak menggunakan sensor hi-tech untuk mengumpulkan informasi perjalanan dan mengidentifikasi trotoar yang ada di jalanan. ART diklaim akan menggunakan tenaga baterai yang bebas dari polusi. Kita tunggu saja sepak terjang dari moda ini!

Lebih Mewah dan Super Mahal, Singapore Airlines Sulap Suite Kelas Satu di Airbus A380

Singapore Airlines, maskapai terbesar kedua di dunia ini meluncurkan suite kelas satu terbaru yang ada di kabin pesawat Airbus A380. Pada suite kelas satu ini terlihat kemewahan seperti hotel bintang lima dengan double bed, lemari pakaian pribadi, pencahayaan yang sesuai dan televisi layar datar 32 inchi.

Baca juga: Singapore Airlines Borong 39 Unit Boeing ‘Wide Body’ Senilai US$13,8 Miliar

KabarPenumpang.com merangkum dari independent.co.uk (2/11/2017), dengan adanya suite kelas satu ini membuat penumpang merasakan pengalaman berbeda dari yang lainnya dan memberikan kenyamanan yang lebih dari biasanya. Namun, untuk merasakan kenyamanan dan kenikmatan ini, uang yang dikeluarkan para penumpang tidaklah sedikit yakni £9.500, atau setara Rp168 juta untuk penerbangan Singapura-Sydney-Singapura.

Kelas Bisnis di Singapore Airlines (www.paddleyourownkanoo.com)

Suite ini hanya ada enam dalam setiap pesawat baru, selain tempat tidur ada pula jok kulit, pintu geser, kompartemen tempat menyimpan tas dan dua kamar mandi. Dalam kamar mandi ini pun tersedia meja rias.

Selain enam suite kelas satu, ada pula kelas bisnis dengan 78 kursi, dimana setiap bangku memiliki ruang 25 inci dengan kursi yang bisa di ubah menjadi tempat tidur. Untuk penumpang kelas ekonomi premium bisa merasakan kursi dengan luas 19,5 inchi dengan tambahan headphone serta layar monitor.

Kelas Ekonomi Premium di Singapore Airlines (www.paddleyourownkanoo.com)

Bahkan, Singapore Airlines juga memanjakan penumpang kelas ekonomi yang memberikan tempat duduk dengan rancangan ergonomis. Untuk kelas ekonomi premium ada 44 kursi dan kelas ekonomi ada 343 kursi. Singapore Airlines menghabiskan US$850 juta untuk mengupgrade pesawat A380 nya yang terbaru ini.

Baca juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru

“Investasi signifikan yang kami lakukan dengan pengenalan produk kabin baru menunjukkan komitmen kami untuk terus berinvestasi pada produk dan layanan, pendekatan jangka panjang kami untuk memastikan kami mempertahankan posisi kepemimpinan kami, dan kepercayaan kami akan masa depan layanan penuh premi perjalanan udara. Produk kabin baru adalah puncak dari empat tahun kerja, melibatkan penelitian pelanggan yang ekstensif dan kemitraan yang erat dengan para perancang dan pemasok kami. Kami yakin bahwa hasilnya akan benar-benar ‘membuat’ pelanggan kami, dan memastikan bahwa kami terus memberi mereka pengalaman perjalanan yang tak tertandingi,” kata CEO Singapore Airlines Mr Goh Choon Phong.

Kelas Ekonomi di Singapore Airlines (www.paddleyourownkanoo.com)

Diketahui, SQ221 akan menjadi pesawat yang pertama dari lima pesawat Airbus A380 yang baru dipesan dengan menampilkan kabin baru dan akan terbang pada 18 Desember 2017 mendatang dari Singapura ke Sydney. Sisanya Airbus A380 milik Singapore Airlines akan terbang mulai tahun 2018 ke Auckland, Beijing, Frankfurt, Hong Kong, London, Melbourne, Mumbai, New Delhi, New York, Paris, Shanghai, Sydney dan Zurich.

Selain kabin mewah kelas satunya, Airbus A380 milik Singapore Airlines terbaru ini juga akan menambahkan WiFi dengan kecepatan tinggi dengan sistem broadband Inmarsat GX Aviation dalam waktu dekat dan semuanya dapat dinikmati secara gratis.

 

Persiapan Musim Salju, Translink ‘Selimuti’ Ban Pada Armada Bus

Guna mempersiapkan musim salju yang sebentar lagi akan tiba, Translink, penyedia layanan bus di Kanada akan mengubah skema persiapan musim dingin kali ini guna meminimalisir pengulangan masalah yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Ini merupakan bentuk nyata dari peningkatan pelayanan kepada para penyedia jasa layanan transportasi, yang secara otomatis juga akan berimbas kepada para penumpang yang menggunakan jasa mereka.

Baca Juga: 10 Poin Penting Sistem Keselamatan di Bus

Sebagaimana dihimpun KabarPenumpang.com dari laman vancouversun.com (2/11/2017), Tire Socks akan digunakan untuk bus di Gunung Burnaby, Kanada. Juru bicara Translink mengatakan bahwa tahun lalu salah satu layanan mereka menghadapi cuaca yang amat buruk selama musim dingin. “Metro Vancouver mengalami cuaca yang sangat buruk tahun lalu, sehingga itu menimbulkan masalah tersendiri bagi kami, apakah penumpang akan mempecayai layanan kami atau malah ketakutan,” ungkap juru bicara TransLink, Chris Bryan.

Chris mengatakan bahwa selama ini Translink tetap beroperasi bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun, walaupun ia tidak bisa memungkiri bahwa layanan mereka tetap perlu peningkatan. “Tahun ini kami tengah mempersiapkan untuk semua kemungkinan, bahkan yang terburuk sekalipun,” tukasnya bijaksana.

Penggantian ban merupakan langkah yang ditempuh oleh Translink setelah sebelumnya sebuah perusahaan ban menawarkan produk anyarnya yang berupa Tire Socks tersebut. “Ban ini direkomendasikan kepada kami oleh produsen ban sebagai ban terbaik untuk dijalankan dalam kondisi seperti ini,” kata Jonathan Leskewich, manajer teknik pemeliharaan Coast Mountain Bus Company (CMBC) milik Translink.

Dilansir dari laman sumber, Translink merupakan otoritas bus transit pertama di Amerika Utara yang menguji coba penggunaan Tire Socks ini empat armada yang beroperasi di antara stasiun Production Way-University dan Simon Fraser University, dimana rute tersebut disinyalir sebagai jalur yang paliing sering dilanda cuaca buruk.

Baca Juga: 10 Peraturan Lalu Lintas Unik Ini Siap Membuat Anda Kernyitkan Dahi

“Ini adalah teknologi yang cukup baru – terutama untuk bus transit – tapi kami benar-benar optimis dengan Tire Socks ini,” kata Simon Agnew, seorang insinyur pemeliharaan di CMBC.

Punya Beragam Peran dan Spesifikasi, Inilah Jenis-Jenis Kapal RoRo

Bagi Anda yang sering menggunakan jasa penyebrangan laut dengan menggunakan ferry, tentu Anda sedikit banyaknya tahu tentang keberadaan berbagai macam kapal jenis RoRo (Roll on Roll off) di pelabuhan. Selain dikenal dapat mengangkut penumpang, kapal RoRo juga terkenal ampuh untuk mengangkut beragam moda darat, mulai dari sepeda motor hingga kereta api sekalipun. Selama bertahun-tahun, beberapa kemajuan teknologi telah terjadi di dalam kapal penghubung antar pelabuhan ini, berikut KabarPenumpang.com himpun beberapa jenis RoRo yang dilansir dari laman marineinsight.com.

Baca Juga: Yuk Kenali “Ganasnya” Laut Dengan Level Sea State

Pure Car Carrier (PCC) dan Pure Car and Truck Carrier (PCTC) RoRo Ship

Sumber: youtube.com

Sesuai dengan namanya, PCC dikhususkan untuk mengangkut mobil; sedangkan PCTC tidak hanya mampu mengangkut mobil tapi juga truk dan beragam variasi kendaraan roda empat lainnya. Dari tampilan fisik, kedua kapal ini cukup mencolok ketika berada di atas air mengingat ukurannya yang bisa dibilang sangat besar. Biasanya PCC dan PCTC digunakan untuk pengiriman kendaraan baru antar pulau.

Container Vessel + RoRo (ConRo) Ship

Sumber: containerst.com

Ini merupakan penggabungan antara truk container dengan RoRo. Interior kapal semacam ini dirancang sedemikian rupa sehingga keseluruhan beban yang diangkut oleh kapal ini dapat didistribusikan secara merata dan seimbang. Daya angkut maksimum kapal ConRo ini sendiri dapat mencapai angka 20.000 hingga lebih dari 50.000 DWT (Dead Weight Tonnes).

General Cargo + RoRo (GenRo) Ship

Sumber: citadelshipping

Sebuah kapal kargo dengan daya angkut normal yang dilengkapi dengan fasilitas RoRo disebut Genro. Ukurannya sendiri terbilang lebih kecil dari dua jenis kapal di atas dengan perkiraan daya angkut 2.000 hingga 30.000 DWT.

RoPax

Sumber: knudehansen.com

RoPax merupakan istilah yang diberikan kepada kapal RoRo yang tidak hanya bisa mengangkut mobil, tapi juga menyediakan fasilitas yang dapat menunjang kehidupan para pelayar di atas kapal. RoPax tidak hanya digunakan sebagai istilah teknis, tapi juga nama kapal ini kerap kali didefinisikan sebagai ferry yang mengangkut kendaraan dan penumpang yang menghubungkan dua pelabuhan.

Baca Juga: Dublin Port Kedatangan Ferry Ro-Ro Terbesar di Dunia “MV Celine”

Complete RoRo Ship

Sumber: marineinsight.com

Kapal jenis ini tidak memiliki hatchways, dan sering kali digunakan di laut lepas. Walaupun bernama Complete RoRo Ship, tapi kapal ini hanya dapat mengangkut antara 2.000 hingga 40.000 DWT, tidak sebesar ConRo Ship.

Pada prinsipnya kapal Ro-Ro adalah kapal yang bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga, sehingga disebut sebagai kapal roll on – roll off. Oleh karena itu, kapal ini dilengkapi dengan pintu rampa yang dihubungkan dengan moveble bridge atau dermaga apung ke dermaga. Secara keseluruhan, kapal RoRo juga tidak hanya digunakan untuk kepentingan sipil saja, melainkan di sektor angkatan laut juga menggunakan kapal ini, biasanya untuk mengangkut barang-barang penting yang berasal dari laut.

KA Taruna Express, Kenangan Kereta Khusus Pesiar Taruna Akademi Militer Magelang

Selain terkenal dengan keberadaan Candi Borobudur dan asal kuliner Kupat Tahu, Magelang sejak lama identik sebagai kota pendidikan militer. Dengan Lembah Tidar-nya yang legendaris, Magelang sejak dulu terkenal sebagai basis Akademi Militer, institusi yang mencetak perwira-perwira di lingkungan TNI AD. Karena terdapat ratusan kadet atau taruna di Akmil, maka otoritas Akmil dan PT KAI pada dekade 70-an bekerja sama menghadirkan layanan kereta khusus yang disebut “KA Taruna Express.”

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Sesuai namanya, Taruna Express memang dipentukkan untuk mobilitas para taruna, khususnya untuk tujuan Magelang-Yogyakarta, dimana Kota Gudeg tersebut memang menjadi tujuan utama para taruna untuk melakukan pesiar (berlibur). Berdasarkan catatan sejarah, KA Taruna Express diresmikan pada 30 November 1972. Peresmian dan inisiatif hadirnya Taruna Express tak terlepas dari gagasan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo yang kala itu menjabat Gubernur Akabri Udarat (Umum dan Darat). Lantaran hanya diperuntukkan untuk berlibur para taruna, jadwal perjalanan kereta tak seperti kereta umum, persisnya Taruna Express hanya berjalan di hari Minggu dan hari pesiar.

Sayangnya fasilitas yang bisa dinikmati para taruna tak berlangsung lama, saat banjir lahar dingin dari Gunung Merapi menghantam jembatan Krasak diperbatasan antara Jawa Tengah dan DIY pada bulan Desember 1976, maka tamat pula perjalanan Taruna Express. Padahal boleh dibilang, ini pertama kali ada layanan kereta khusus di Indonesia, terlebih yang terkait dengan fasilitas pendidikan. Bahkan secara khusus dibangun Stasiun Lembah Tidar, yang berdekatan dengan terminal bus di kompleks Akademi Militer.

Sejarah perkeretaapian di Magelang di mulai dengan pembangunan dan beroperasinya jalur KA Yogyakarta-Magelang pada 1 Juli 1898. Jalur ini dioperasikan oleh NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) yang merupakan salah satu perusahaan KA swasta Belanda yang tergabung dalam VS (Veerenigde Spoorwegbedrigs). Jalur ini menghubungkan Yogyakarta-Sleman-Tempel-Muntilan-Blabak dan Magelang.

Baca juga: Pembangunan (Kembali) Jalur KA Yogyakarta – Magelang, Hidupkan Nostalgia Era 70-an

Kini ditengah upaya untuk mendorong sektor wisata, terutama akses menuju kawasan Candi Borobudur, pemerintah tengah melakukan berbagai kajian untuk menghidupkan kembali rute yang penuh nostalgia tersebut. Karena membutuhkan investasi yang besar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memperkirakan proses pembangunan jalur KA ini baru akan selesai di tahun 2020 atau 2021.