Bukan Sekedar Wacana, Elon Musk Unggah Foto Terowongan Transportasi LA ke Jejaring Sosial

Beberapa waktu yang lalu, CEO dari The Boring Company, Elon Musk menyatakan idenya untuk membangun sebuah terowongan di bawah tanah Los Angeles yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi untuk masalah kemacetan di kota tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Elon menjawab semua keraguan warga LA. Setelah pada bulan Juli kemarin ia sudah mengantongi ijin dari walikota LA, kini The Boring Company mulai ‘melubangi’ bawah tanah LA yang menandakan bahwa ide Elon ini bukan hanya sekedar isapan jempol semata.

Baca Juga: Elon Musk Hadirkan Solusi Transportasi Canggih Berbasis Travelator

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (30/10/2017), Elon menunggah beberapa foto di media sosial yang menunjukkan perkembangan dari terowongan bawah tanah tersebut. Di foto itu sudah tampak bentuk kasar dari terowongan yang rencananya akan digunakan oleh mobil, sepeda, dan pejalan kaki, lengkap dengan juntaian kabel yang mungkin akan digunakan untuk memasok energi listrik di dalamnya.

Elon mengatakan bahwa hingga saat ini, terowongan tersebut panjangnya baru 500 kaki atau setara dengan 152,4 meter, namun dalam waktu tiga atau empat bulan mendatang, panjangnya harus sudah mencapai 2 mil atau setara dengan 3,2 km. Elon berharap, tahun depan terowongan ini sudah mencakup keseluruhan jalan raya Interstate 405, yang membentang dari LAX ke The 101.

Dalam kesempatan yang berbeda, CEO dari SpaceX ini mengatakan bahwa akan ada jalan keluar di setiap mil dari terowongan ini. Jika digambarkan, mungkin terowongan ini meniru konsep jalan bebas hambatan, namun berada di bawah tanah.

Baca Juga: Elon Musk, CEO SpaceX Ini Paparkan Ide Entaskan Masalah Kemacetan

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, di dalam terowongan ini nantinya mobil tidak akan berjalan seperti biasa, namun akan diangkut ke atas mesin yang berbentuk seperti papan seluncur dan akan mengantarkan mobil tersebut mengarungi terowongan dengan kecepatan 150 mph atau setara dengan 241 km per jam.

Sebelumnya, Elon mengatakan bahwa terowongan ini akan menghubungkan New York dan Washington DC hanya dalam waktu 29 menit saja. Jika tidak menemukan kendala dalam pengerjaannya, terowongan ini akan menjadi yang terpanjang di dunia, mengalahkan rekor yang saat ini dipegang oleh Gotthard Base Tunnel, sebuah jalur kereta api yang membentang sepanjang Pegunungan Alpen di Swiss dengan panjang kurang lebih 35,5 mil atau setara dengan 57 km.

AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh

AirAsia X maskapai penerbangan jarak jauh dengan biaya rendah (LCC) atau long-haul budget airline baru saja merayakan ulang tahun yang ke sepuluh di Surfers Paradise yang teletak di Gold Cost, Queensland, Australia. Awalnya maskapai ini memulai penerbangan dengan tiga rute pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Gold Coast pada tahun 2007. kini setelah sepuluh tahun tak terasa sudah ada sebelas penerbangan pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Gold Coast. Selain itu juga ada rute lainnya yang menghubungkan Gold Coast dan Auckland sebanyak tujuh penerbangan.

Baca juga: Mulai 7 November 2017, AirAsia Pindah Ke Terminal 4 Bandara Changi

KabarPenumpang.com melansir dari laman goldcoastbulletin.com.au (27/10/2017), Ketua Pariwisata Gold Coast Paul Donovan mengatakan bahwa Gold Coast dan AirAsia punya hubungan yang sangat baik, dimana Gold Cost adalah tujuan pertama AirAsia X. Sementara dari pihak Negara Bagian Queensland, AirAsia X juga punya arti penting, pasalnya maskapai dengan logo silang merah ini adalah pembuka penerbangan rute jarak jauh nonstop pertama dari Gold Coast.

Saat itu, Paul memimpin sebuah delegasi ke Kuala Lumpur, termasuk dalam rombongan CEO Pariwisata dan Peristiwa Queensland Leeanne Coddington dan Menteri Pariwisata Negara Margaret Keech untuk memperkenalkan Gold Coast sebagai tujuan wisata. Setelah bertemu dengan pendiri AirAsia X Tony Fernandes, ketiganya akhirnya membuat kesepakatan untuk tiga kali penerbangan pulang pergi dalam seminggu.

Livery AisAsia X 10 tahun (Gold Coast Bulletin)

Sejak itu, AirAsia X dan pesawat berwarna merah putihnya yang khas kini telah menerbangkan total 2,4 juta penumpang antara Gold Coast dan Kuala Lumpur. Bahkan, AirAsia X juga telah menerbangkan 400.000 penumpang antara Auckland di Selandia Baru dan Gold Coast dalam 20 bulan terakhir.

Baca juga: Tingkatkan Pelayanan, AirAsia Gaet Inmarsat Untuk Pengadaan On Board Broadband

CEO AirAsia X Malaysia Benyamin Ismail mengatakan bahwa perusahaan penerbangan tersebut akan menata ulang jadwal penerbangan dengan rute Gold Coast setelah Commonwealth Games pada bulan April tahun depan. Commonwealth Games adalah ajang olimpiade untuk negara-negara persemakmuran Inggris yang diikuti oleh 55 negara.

“Commonwealth Games akan menjadi hal yang besar untuk kita. Saya pikir Gold Coast sebenarnya masih sangat menarik untuk orang-orang di dunia yang tahu tentang hal itu dan apa yang ditawarkannya, dan ini menjadi tugas kami untuk memasarkannya,” kata Ismail, Ia menambahkan bahwa maskapai penerbangan selalu berusaha meningkatkan konektivitas.

Dia mengatakan, satu hal yang penting adalah mencoba dan meningkatkan jumlah penerbangan yang AirAsia miliki dengan alasan dan memperluas koneksi ke semua rute. CEO Gold Coast Tourism Martin Winter mengatakan bahwa kedatangan wisawatan dari AirAsia X menunjukkan ketahanan ketika Krisis Keuangan Global saat AirAsia X hadir 10 bulan setelah penerbangan perdana ke Gold Cost.

Saat ini AirAsia X melayani 22 rute penerbangan jarak jauh, armada AirAsia X terdiri dari 22 unit Airbus A330-300, dan sedang dalam proses pemesanan untuk Airbus A330-900Neo dan Airbus A350-900. Dalam penerbangan menuju ke Australia, AirAsia X menjadikan Bandara Ngurah Rai sebagai titik transit.

 

Setarakan Kaum Minoritas, Formulir Tiket Kereta di India Akan Tambah Kolom T Untuk Transgender

Dewan Kereta Api India tengah berusaha untuk memodifikasi formulir reservasi yang mereka gunakan, bukan merubah desain atau format pengisian, melainkan merubah satu kolom baru di bagian jenis kelamin. Nantinya, formulir reservasi tersebut akan memiliki 3 opsi jenis kelamin, M (Male) untuk laki-laki, F (Female) untuk perempuan, dan T untuk Transgender. Dengan begitu, kaum Transgender sekarang akan memiliki pilihan untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai gender ketiga.

Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern

Dalam sebuah surat yang dilayangkan oleh Dewan Perkeretaapian, formulir pemesanan tiket dan pembatalan akan diubah dari pilihan Transgender (Male/Female) yang diterapkan dulu, menjadi simbol T saja, tanpa menyebutkan jenis kelaminnya sekarang. Menurut surat tersebut, Kementerian Sosial dan Pemberdayaan saat ini tengah menangani berbagai isu transgender dan sebuah undang-undang yang diusulkan mengenai RUU Transgender pada tahun 2016 tengah ditinjau oleh komite parlemen.

“Masalahnya tengah ditinjau dan ini nantinya akan diselesaikan oleh Kementerian Sosial. Nantinya sistem akan menangkap jenis kelamin transgender dengan kode T saja, bukan T (M/F) seperti yang disarankan sebelumnya,” tulis surat tersebut pada 17 Oktober silam, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (30/10/2017).

Dalam kasus ini, Mahkamah Agung di India secara mengejutkan mengeluarkan status gender ketiga yang dieruntukkan bagi kaum transgender pada tahun 2014 silam. Sebelumnya, mereka harus mengisi jenis kelamin mereka kolom pria atau wanita, tanpa ada opsi untuk transgender. Mengikuti putusan tersebut, banyak dokumen pemerintah seperti paspor, kartu ransum, formulir bank dan kartu identitas pemilih telah mencantumkan ‘TG’ (gender ketiga), ‘Lain-lain’ atau ‘T’ (transgender) untuk melengkapi pilihan yang ada sebelumnya.

Khusus untuk kereta api sendiri, kolom gender mencantumkan opsi T (M/F) yang mulai eksis pada tahun 2016 silam. Melihat ada kejanggalan di dalamnya, sejumlah aktifis mulai protes karena masih terkesan memaksa kaum transgender untuk memilih jenis kelamin biner, pria atau wanita.

Baca Juga: Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an

Kasus ini berkaitan erat dengan kasus yang diajukan oleh Atri Kar, seorang transgender pertama dari Benggala Barat yang hadir untuk ujian pegawai negeri sipil. Dari situ, Atri meminta intervensi pengadilan untuk menegakkan haknya untuk berpartisipasi dalam proses seleksi SBI sebagai seorang transgender.

Ya, memang kasus seperti ini tidak bisa disebut sebagai hal yang sepele, mengingat kaum transgender juga memiliki hak yang sama di mata hukum. Mungkin, Indonesia akan sulit menerima perbedaan semacam ini, di mana setiap individu memiliki pandangan masing-masing terhadap kaum transgender, dan tidak menutup kemungkinan juga kaum ini malah akan dikucilkan, padahal derajat mereka sama.

Satu Dekade Lebih ‘Terlantar,’ The Last Concorde Akhirnya Huni Rumah Barunya

Walaupun sudah kurang lebih 14 tahun tidak beroperasi, namun masih banyak orang yang cinta dan berharap Concorde kembali mengudara. Untuk mengatasi kerinduan para penggemarnya terhadap pesawat supersonik bersayap delta tersebut, seorang mantan chief engineer pesawat terbang di Inggris, John Britton mendirikan sebuah museum yang di dalamnya memamerkan pesawat Concorde yang terakhir mengudara pada tahun 2003 silam.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (16/10/2017), museum yang dibuka pada pertengahan bulan November ini akan memuaskan kerinduan para pecinta Concorde. Tidak hanya itu, John juga mengatakan bahwa pengunjung museum dapat naik dan menikmati kemegahan dari G-BOAF, pesawat Concorde yang terakhir mengudara. Sebelumnya, pesawat yang juga dikenal dengan Alpha Foxtrot ini terlantar begitu saja di landas pacu yang tidak terpakai di dekat Bristol, Inggris.

Aerospace Bristol, nama dari museum ini, terletak di Filton Airfield, dimana lokasi tersebut merupakan tempat yang bersejarah bagi Concorde sendiri. Tidak hanya G-BOAF, museum tersebut juga diketahui merawat beberapa pesawat dan komponen lainnya yang sudah pensiun dari dunia kedirgantaraan, seperti pesawat terbang, helikopter, rudal, satelit dan banyak lainnya.

“Saya merupakan orang yang melihat langsung ketika pesawat ini terbang pertama kali dari Filton. Saya juga menyaksikan secara langsung pada saat pendaratan terakhirnya. Sangat sedih ketika mendengar G-BOAF mematikan mesin untuk terakhir kalinya,” kenang John. “Kehadirannya di museum ini sangat brilian,” imbuhnya.

Lebih lanjut, John memaparkan bahwa pengunjung dapat menapaki jejak sejarah dari pesawat berhidung pointed tersebut dan menyaksikan proyeksi dramatis tentang sejarah Concorde di dalam pesawat. “Pengunjung juga dapat merasakan sensasi terbang dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari pesawat jet biasa,” tulis laman resmi museum tersebut, aerospacebristol.org.

“Concorde memiliki kekuatan untuk memukau dan terlihat menakjubkan di ‘rumah’ barunya; Kami merancangnya sedemikian rupa layaknya sebuah pameran kelas satu, dengan tujuan untuk menceritakan prestasi kedirgantaraan Bristol dari tahun 1910 hingga era modern seperti saat ini, dan ada juga interaksi interaktif yang menyenangkan untuk membuat semua pengunjung tertarik dan merasa terhibur,” tutur Lloyd Burnell, Executive Director di Aerospace Bristol.

Baca Juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Kembali pada 2 Maret 1969, dimana pesawat Concorde pertama kali membelah cakrawala dan sontak mencuri perhatian seantero jagat. Bagaimana tidak, pada waktu itu, Concorde merupakan pesawat yang mampu mengudara dengan kecepatan 1.350 mil per jam atau setara dengan 2.180 km per jam. Namun amat disayangkan ketika pesawat tersebut harus mematikan mesin selamanya setelah mengalami kecelakaan tragis yang menewaskan seluruh awak dan penumpang maskapai pada 24 Oktober 2003 silam. Pesawat di bawah naungan British Airways yang sudah 27 tahun mengabdi tersebut mengakhiri catatan perjalanannya di bandara Heatrow, London.

32 Tahun Mengangkasa, Inilah Kaleidoskop Emirates

Tak terasa, sudah 32 tahun Emirates menyelami dunia penerbangan internasional. Siapa yang menyangka, dibalik nama besar Emirates sekarang, perusahaan yang berbasis di Dubai ini hanya mengeluarkan modal awal sebesar USD$10 juta. Namun kini, maskapai berjuluk restoran terbang ini sudah berkembang sangat pesat. Dewasa ini, sebuah literatur menyebutkan bahwa Emirates melayani 190 makanan per menit yang dilayani oleh 23.000 awak kabin dengan 590 penerbangan setiap harinya.

Baca Juga: Atasi Kebosanan Selama Penerbangan, Emirates Rancang Program Khusus Untuk Anak

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (25/10/2017), berikut adalah kaleidoskop perjalanan Emirates menghiasi langit dunia.

1985
Tepatnya pada tanggal 25 Oktober, Emirates pertama kali melakukan perjalanan udaranya dari Dubai ke Karachi, Pakistan. Menggunakan Boeing 737-300 dan mengangkut 133 penumpang, penerbangan EK600 dengan konfigurasi dua kelas tersebut menjadi yang pertama menyapa angkasa luas di bawah nama Emirates kala itu. Pada awalnya, maskapai ini hanya menggunakan dua pesawat saja, yaitu Boeing 737-300 dan Airbus A300B4-200 yang  dipinjamkan oleh Pakistan International Airlines. The Royal Family’s Dubai Royal Air Wing juga diketahui menyediakan dua armada Boeing 727-200 Adv. untuk menambah daya gedor dari maskapai ini.

1989
Emirates mulai melebarkan rute penerbangannya, dengan menambahkan penerbangan menuju Bangkok, Manila dan Singapura. Walaupun pada tahun 1986, Emirates juga telah menambahkan beberapa destinasi baru, seperti Colombo, Dhaka, Amman, dan Kairo.

1991
Membuka rute penerbangan menuju Hong Kong. Selama dekade pertama pengoperasiannya, Emirates mencatat pertumbuhan yang sangat kuat, dengan rata-rata 30%.

1992
Walaupun baru seumur jagung, tapi Emirates mampu menjadi maskapai pertama yang memperkenalkan kembali layanan seat-back televisions. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan Emirates untuk lebih memanjakan para penumpangnya.

1993
Emirates mulai menawarkan layanan round-the-world pada musim gugur. Layanan ini tersedia berkat kemitraan yang mereka jalin dengan US Airways.

1995
Di usianya yang menginjak enam tahun, Emirates menambah enam Airbus A300s dan delapan Airbus A310 ke dalam list armadanya. Tidak hanya itu, di tahun ini juga Emirates tercatat sudah menyediakan 37 destinasi penerbangan yang tersebar di 30 negara.

1998
Emirates meluncurkan Sky Cargo. Meskipun Emirates selalu menyediakan layanan kargo yang menggunakan kapasitas di dalam pesawat penumpangnya, maskapai ini sekarang diperluas dengan penyewaan pesawat terbang, awak kapal, hingga perawatan dan asuransi.

1999
Emirates menerima pengiriman Boeing 777-200 pertamanya dan menjadi maskapai pertama yang menunjukkan rekaman live take-off dan landing.

2000
Emirates menjadi maskapai pertama di dunia yang melakukan pemesanan terhadap Airbus A380, dan setahun berselang, Emirates dinobatkan sebagai operator Airbus A330 terbesar di dunia.

2004
Maskapai ini melakukan penerbangan non-stop pertamanya, dari Dubai ke New York. Penerbangan 14 jam tanpa henti ini menjadikan Emirates sebagai layanan penerbangan non-stop pertama di Timur Tengah.

2008
Emirates kembali menjadi yang maskapai pertama di dunia yang memungkinkan penumpang menggunakan ponsel selama masa penerbangannya menuju Maroko kala itu.

2009
Maskapai yang mempekerjakan sebanyak 64,768 pada periode 2016-2017 ini kembali menyabet penghargaan sebagai operator Boeing 777 terbesar di dunia.

Baca Juga: Penumpang Emirates Kini Bisa Mandi Shower Selama Penerbangan, Khusus Kelas Satu Lho!

2014
Catatan yang menyebutkan bahwa Emirates Flight Catering sudah menyediakan sekitar 38 juta makanan per tahun membuat publik tercengang. Dengan catatan tersebut, Emirates menjadi maskapai yang mampu mengoperasikan layanan dapur terbesar di dunia.

2015
Emirates pernah menerima empat pesawat baru sekaligus dalam satu hari. Terhitung sejak tahun 2000 hingga 2015, maskapai ini mencatat pertumbuhan armada sebesar 636 persen.

2017
Pada bulan Juli, Emirates dan Flydubai menjalin sebuah kemitraan yang akan meningkatkan jumlah destinasi yang mereka layani, semula dari 157 destinasi menjadi 216 destinasi.

Tiket Online Ferry ASDP: Animo Menurun Pasca Lebaran, Optimis Meningkat di Liburan Akhir Tahun

Tidak ada yang memungkiri, sektor pelayaran penumpang di Indonesia erat kaitannya dengan musim mudik Lebaran. Ratusan ribu orang berbondong-bondong menuju pelabuhan untuk bisa menyebrang dan melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya. Dalam mengatasi lonjakan penumpang yang terjadi beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 2017 kemarin, PT ASDP Indonesia Ferry membuat sebuah inovasi yaitu berupa sistem pembelian tiket online, dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya. Lalu, apakah tren tiket online tersebut masih menguat hingga hari ini?

Baca Juga: Sambut HUT RI Ke-72, PT ASDP Buka Layanan Tiket Online di Tujuh Lintasan

“Secara garis besar, animo masyarakat memang belum sebesar ketika Hari Raya Idul Fitri kemarin,” ungkap Rizki Dwianda, VP Pelayanan PT ASDP ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (30/10/2017). Rizki menambahkan bahwa peluncuran perdana sistem online di PT ASDP ini sendiri sudah memenuhi target. “Kami menargetkan penjualan 20 persen tiket online dari dua cabang kami pada Lebaran kemarin, dan target tersebut terpenuhi,” imbuhnya.

Kurangnya animo masyarakat terhadap sistem tiket online tidak lantas membuat PT ASDP menyudahi inovasinya dalam penjualan tiket tersebut, karena PT ASDP beranggapan bahwa pembelian tiket di sektor mereka berbeda dengan moda transportasi lain. “Bisa dibilang musiman, tapi sebagai persiapan menjelang Natal dan Tahun Baru 2018, kami berharap penjualan tiket online tersebut merangkak naik ke angka 30 persen,” ujarnya.

Menurut Rizki, rute perlintasan Merak – Bakauheni masih menjadi primadona di sektor penyebrangan hingga saat ini. “Dari total 29 rute yang ada, rute Ketapang – Gilimanuk juga sudah mulai meningkat dan siap disusul oleh rute  Lembar – Surabaya,” papar Rizki. “Tahun 2018 kami menargetkan semua cabang kami sudah mulai menerapkan sistem penjualan tiket online. Rute selanjutnya yang akan menerapkan sistem penjualan tiket online adalah Jepara – Karimun Jawa, rencananya dibuka pada bulan Desember mendatang,” tambahnya.

Namun, Rizki menyadari bahwa mengembangkan sistem penjualan tiket secara online tidaklah mudah dan diperlukan beberapa tahapan proses. “Secara umum, tantangannya berasal dari kesiapan sistem dan lain-lain, tapi masalah terbesar lain yang dihadapi oleh BUMN ini adalah bagaimana cara kami untuk mengedukasi para pengguna jasa, mengingat pangsa pasar kami sedikit berbeda dengan moda lain,” terangnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, PT ASDP menggandeng beberapa perusahaan lain seperti PT Pos Indonesia untuk bisa menunjang sistem penjualan tiket online yang tengah mereka kembangkan. “Kami sadar bahwa pangsa pasar kami tidak semuanya bisa mengakses pembelian tiket online melalui gadget yang mereka miliki, maka dari itu kami bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dan menjadikannya sebagai salah satu channel kami untuk bisa lebih ‘merangkul’ para penumpang,” jelas Rizki.

Baca Juga: “Waroeng ASDP,” Model Kantin Baru di Kapal Ferry Yang Hangat dan Higienis

Sebelumnya, ada beberapa isu yang melatarbelakangi PT ASDP dalam meluncurkan sistem penjualan tiket online kepada para penggunanya, salah satunya adalah isu kapasitas. “Bagi yang sudah beli tiket online, mereka tidak perlu berbondong-bondong datang ke pelabuhan untuk mengantri beli tiket, walaupun peranan cuaca juga sangat berpengaruh terhadap operasional kami. Bisa dibilang, para penumpang yang beli tiket online ini sudah memastikan seat, terlepas dari kondisi cuaca tersebut.” tutup Rizki.

Dari sisi user interface, tiket online yang disajikan PT ASDP masih terbilang konvensional, yakni belum berwujud aplikasi, pengguna jasa untuk melakukan pemesanan atau reservasi tiket masih diarahkan lewat browser ke situs indonesiaferry.co.id.

American Airlines Diskriminasi Orang Kulit Hitam, NAACP Turun Tangan

National Association for Advancement of Colored People (NAACP) mengajukan tuduhan kepada American Airlines terkait masalah diskriminasi terhadap orang Afrika-Amerika yang menaiki penerbangan maskapai tersebut. Tuduhan yang dilayangkan terkait hak asasi manusia dimana budaya korporat tentang ketidakpekaan rasial dan bias ras terhadap orang-orang Afrika-Amerika.

Baca juga: Berat Badan Dianggap Berlebih, Awak Kabin Ini Ajukan Tuntutan ke Maskapai

KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (25/10/2017), bahwa NAACP memperingatkan orang Afrika-Amerika jika mereka bisa mendapatkan perlakuan tidak sopan, diskriminatif dan tidak aman saat bepergian dengan American Airlines. Hal ini membuat NAACP membuat keputusan untuk menerbitkan peringatan tersebut dengan mengikuti pola insiden yang mengganggu dan atas laporan penumpang tersebut khusus untuk American Airlines.

Ada beberapa insiden yang terjadi pada orang Afrika-Amerika saat menggunaka American Airlines yakni dimana seorang pria Afrika-Amerika menjadi korban diskriminasi oleh penumpang lain dan terpaksa menyerahkan kursinya. Selain itu ada pula penumpang kulit hitam yang duduk di kelas satu kemudian diturunkan dari kabin sedangkan temannya tetap duduk di kelas satu.

Seorang ibu dan putrinya juga dikeluarkan dari penerbangan karena meminta kereta dorong dipindah dari tempat sebelum kereta tersebut jatuh dan terguling. Beberapa insiden ini cukup menjatuhkan karena layanan pelanggan seperti membedakan warna kulit, kebangsaan, agama hingga jenis kelamin.

Namun, NAACP mengatakan insiden ini kemungkinan hanya fenomena pucak gunung es dan menganggap sebagai budaya perusahaan yang tidak dapat diterima dan mengklaim bahwa perilaku tersebut terjadi secara acak. Sebagai tanggapan masalah ini, beberapa penumpang American Airlines yang menggunakan media sosial memberikan hashtag #Happened2MeOnAA untuk menyoroti insiden lain yang diduga melakukan perilaku diskriminatif.

Tapi, dengan adanya ini American tampak bingung dengan tuduhan tersebut, Doug Parker yang merupakan CEO American Airlines menulis surat terbuka kepada staf dan mengatakan dirinya kecewa. Parker mengatakan, sebenarnya prioritas utama dari awak kabin dan staf lainnya adalah membawa orang-orang bersama mereka dalam penerbangan.

Baca juga: Diskriminasi Penumpang Israel, El Al Tolak Turunkan Dana Kompensasi

Diketahui surat tersebut berisi, “Kami terbang melintasi perbatasan, dinding dan stereotip untuk menghubungkan orang-orang dari berbagai ras, agama, kebangsaan, latar belakang ekonomi dan orientasi seksual. Kami membuat dunia menjadi tempat yang lebih kecil dan lebih inklusif. Serta kami melakukannya dengan profesional dan aman setiap hari untuk lebih dari 500 ribu pelanggan di lima benua.”

Parker menambahkan, bahwa maskapainya telah menghubungi pihak NAACP untuk secepatnya mendiskusikan masalah tersebut dan mengatakan bahwa American tidak mentolerir diskriminasi dalam bentuk apapun. Dia juga meminta serta mendesak stafnya untuk memperlakukan pelanggan dengan hormat serta bertindak secara profesional dan aman.

NAACP merupakan organisasi hak sipil tertua di Amerika Serikat, yang didirikan di Springfield, Illinois pada tahun 1909. Dengan lebih dari 500 ribu anggota di Amerika Serikat, kelompok tersebut mengatakan bahwa misinya adalah untuk memastikan masyarakat di mana setiap orang memiliki hak yang sama tanpa diskriminasi berdasarkan ras.

United Airlines Buka Rute Direct Flight Terjauh, Los Angeles – Singapura

United Airlines kini mengukuhkan status sebagai maskapai yang melayani rute direct flight terjauh dari Amerika Serikat. Dengan adopsi pesawat wide body terbaru Boeing 787-9 Dreamliner, United Airlines kini telah melayani rute penerbangan langsung jarak jauh (nonstop) dari Los Angeles ke Singapura dengan jarak 14.000 km. Penerbangan ini memakan waktu tempuh selama 17 jam 55 menit.

Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia

Jarak dan lamanya waktu tempuh ini melampaui jarak terjauh United Airlines sebelumnya yang berangkat dari San Francisco menuju Singapura dalam waktu 17 jam 15 menit nonstop. KabarPenumpang.com melansir dari laman forbes.com (29/10/2017), penerbangan sebaliknya atau kembali dari Singapura menuju Los Angeles dengan United Airlines terpaut dua jam yakni hanya 15 jam 15 menit.

Rute baru ini dilayani satu kali dalam sehari menggunakan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner. Konfigurasi dalam penerbangan lintas Pasifik ini terdiri dari tiga kelas dengan total 252 kursi, komposisinya terdiri dari kelas ekonomi sebanyak 116 kursi, kelas ekonomi plus 88 kursi dan kelas bisnis 48 kursi. Pelayanan penerbangan rute Los Angeles tujuan Singapura ini di buka pada 29 Oktober 2017 kemarin.

Kilas balik ke tahun 2013, Singapore Airlines justru sudah pernah melayani rute penerbangan trans pasifik nonstop ke Los Angeles. Namun akhirnya rute tersebut dihentikan lantaran penggunaan pesawat Airbus A340-500 dipandang kurang efisien. Sebagai informasi Airbus A340 adalah pesawat dengan empat mesin, sementara Boeing 787 hanya disokong dua mesin.

Dengan berhentinya rute Singapura – Los Angeles yang dilayani Singapore Airlines, maka saat itu turut berakhir penerbangan nonstop trans atlantik dari Singapura ke New York yang juga dilayani oleh Singapore Airlines. Tetapi penerbangan kedua tujuan ini masih tetap ada dengan sistem transit dan bukan lagi perjalanan panjang nonstop.

Setelah adanya rute nonstop yang dibuka baru oleh United Airlines, Singapore Airlines juga mengumumkan rencananya  kembali mengudara melayani rute New York dan Los Angeles nonstop pada tahun 2018 mendatang. Diperkirakan, Singapore Airlines akan menggunakan pesawat Airbus A350-900ULR pertamanya.

Antara United Airlines dan Singapore Airlines punya kesamaan dalam rute lainnya, kedua maskapai kini melayani direct flight dari Singapura – San Francisco, dengan menempuh jarak 13.600 km. United Airlines menggunakan Boeing 787-9, sementara Singapore Airlines menggunakan Airbus A350-900.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Pesawat ini merupakan varian ultra jarak jauh dari generasi berikutnya. Rencananya Singapore Airlines akan membagi kursi pesawat menjadi dua kelas yakni kelas ekonomi premium dengan 94 kursi dan kelas bisnis sebanyak 68 kursi.

Penerbangan United Airlines dengan rute baru ini, bisa dikatakan menjadi rute dengan jarak tempuh terjauh dan waktu terlama dibandingkan rute penerbangan maksapai lainnya yang juga memiliki rute nonstop.

Dublin Port Kedatangan Ferry Ro-Ro Terbesar di Dunia “MV Celine”

Pada hari Senin lalu (23/10), Dublin Port di Irlandia kehadiran tamu istimewa yang juga menjadi bagian dalam sejarah moda laut. Ya, pelabuhan tersebut kedatangan MV Celine, ferry pengangkut bersistem Roll-on/roll-off (ro-ro) terbesar di dunia. Bukan sengaja datang, newbuild raksasa tersebut disinyalir telah melakukan debut perjalanan menuju Rotterdam menyusul sebuah perjalanan pengiriman.

Baca Lagi: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman afloat.ie, Operator CLdN ro-ro SA (Cobelfret Ferries) menyambut MV Celine dari galangan kapal Korea Selatan ke pelabuhan Belanda dimana lalu lintas barang akan diangkut menggunakan kapal raksasa yang berkapasitas 8000 lane meter ini. Selain itu, kapal dengan panjang 234 meter dan lebar 38 meter ini akan menjadi kapal ro-ro terbesar yang pernah bersandara di Dublin Port, dimana kapal itu juga akan beroperasi dari pelabuhan Zeebrugge di Belgia.

M.V. Celine merupakan kapal roro shortsea terbesar yang pernah ditugaskan oleh perusahaan yang berbasis di Luxembourg tersebut. Dari segi penampilannya sendiri, kapal ini lebih mirip dengan modern car-carrier dibandingkan dengan desain pendahulunya yang lebih banyak mengandalkan desain kapal ferry bertingkat terbuka, kecuali untuk beberapa seri kapal dalam beberapa tahun belakangan ini.

Menurut Dublin Port Company, MV Celine mampu membawa lebih dari 600 unit pengangkutan, dimana angka tersebut mendekati dua kali ukuran ferry terbesar yang dioperasikan oleh pelabuhan tersebut. Laman sumber menambahkan bahwa kehadiran kapal ini mengacu pada Ulysess, kapal pesiar raksasa asal Irlandia yang mampu melayani Holyhead.

Pihak Dublin Port mengakui adanya kenaikan jumlah volume sebanyak 30 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Perusahaan pelabuhan tersebut juga menyoroti MV Celine, terutama mengingat penggunaan newbuild ini akan meningkatkan kapasitas angkut untuk mengatasi permintaan terhadap layanan kontinental langsung.

Baca Juga: BC Ferries Operasikan Kapal Ferry Pertama dengan Bahan Bakar Ganda

Chief Executive Dublin Port, Eamonn O’Reilly memprediksi bahwa pelabuhan tersebut akan menambahkan lebih banyak layanan baru ke benua Eropa pada tahun 2018 mendatang. Berdasarkan rekap yang dimiliki oleh Dublin Port Company, sektor ro-ro mengindikasikan pertumbuhan yang sangat pesat dengan 736.462 unit pengangkutan dalam rentang waktu sembilan bulan pertama, atau meningkat sebesar 5,3 persen dari tahun sebelumnya. Dari presentasi tersebut, layanan ro-ro antara Irlandia dan Inggris-lah yang menunjukkan pertumbuhan pesat.

Namun, volume penggangkutan kendaraan impor baru mengalami penurunan sebesar 5,5 persen selama periode tersebut, itu berarti peningkatan terjadi dalam kasus impor kendaraan bekas dari Inggris menuju Irlandia.

Wanita Hamil Viralkan Video di MRT dan Jadi Bahan Pembicaraan Netizen Singapura

Seorang wanita yang disebut-sebut sedang hamil mengunggah sebuah video ke media sosial untuk mempermalukan pasangan muda karena duduk di salah satu kursi yang sudah ‘dipersiapkan’ di dalam MRT (Mass Rapid Transit). Sayangnya bukan menerima dukungan, video yang diunggah wanita hamil ini justru tak diterima oleh netizen.

Baca juga: Teganya Penumpang Kereta Bikin Seorang Ibu Menyusui Sambil Berdiri

Salah satunya adalah netizen yang diduga menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi dalam kereta tersebut. Netizen tersebut saat menemukan video, mengatakan dirinya berada disitu saat video tersebut direkam. Dia mengklaim bahwa wanita hamil tersebut sudah duduk di kursi lain yang tepat berada di depan sepasang muda mudi tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari laman mothership.sg (23/10/2017), wanita hamil itu masih terus mencari kesalahan sepasang muda mudi tersebut. Menurut saksi mata, wanita hamil tersebut ingin yang duduk di tempat muda mudi itu adalah suaminya, namun sang pemuda yang merupakan pacar si perempuan tersebut mendatangi dan duduk disebelahnya.

“Kasus ini khas Singapura. Dia adalah wanita hamil dengan empat orang anak dan bersama suami, ibunya serta asistennya di kereta. Dia sudah menyiapkan kursi yang dicadangkan tepat di seberang orang ini saat dia merekam video tersebut. Jadi saat itu pasangan muda mudi turun, kemudian sang suami mengambil tempat duduk yang telah ‘disiapkan’ bahkan dia sempat memarahi asistennya yang tidak cukup cepat mendapatkan tempat duduk di kereta.”

Beberapa orang lainnya yang menanggapi video tersebut mengatakan si wanita bisa mencoba meminta kursi tersebut dengan baik. Biasanya dengan bertanya sudah cukup, tetapi dengan mengambil video seperti ini justru membuat sesuatu hal yang biasa saja menjadi tidak sopan.

Mengecam seseorang dalam video yang diviralkan di media sosial juga bukanlah contoh yang terbaik untuk mendidik anak. Sebenarnya kursi bisa saja diberikan jika memang orang tersebut sangat membutuhkan.

Baca juga: Tak Mau Ikut Antrian, Calon Penumpang Bergaya Difabel di Bandara

Seperti kursi prioritas yang memang diperuntukan untuk orang tua, penyandang cacat serta wanita hamil. Sebelum diminta kursi prioritas ini pastinya akan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Sebab siapapun yang berada di dalam kereta berhak mendapatkan kursi bila membutuhkan dan bisa meminta dengan sopan untuk kursi tersebut. Namun sayangnya, wanita hamil ini justru mengambil jalan lain dengan mudah memviralkan video dan dikecam netizen yang melihatnya.