Wajib Tahu! Ada 4 Stasiun yang Berganti Nama di Wilayah Daop 2 Bandung

Menggunakan kereta api lewat jalur selatan Jawa Barat sudah pasti merasakan sensasi yang berbeda. Mulai dari melihat pemandangan yang indah sampai melewati bangunan cagar budaya kereta api yang masih aktif digunakan. Nah, bicara soal stasiun kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung ternyata ada beberapa stasiun yang berdiri sejak era kolonial Belanda pernah mengganti namanya. Tak hanya manusia yang bisa mengganti nama, alasan stasiun mengganti nama tersebut salah satunya sebagai tolak bala. Berikut nama-nama stasiun yang kabarpenumpang rangkum.

Persilangan dua kereta api di Stasiun Cirahayu. (Foto: Dok. Istimewa)

1. Halte Gandamirah (Karangsari)
Stasiun ini awalnya merupakan perhentian kecil bernama Kiarabaok, terletak di kilometer 207+650 atau sekitar 180 meter di selatan letak stasiun saat ini. Dilansir dari iklan yang dimuat di surat kabar de Preangerbode pada 17 Mei 1899, Perhentian Kiarabaok dibuka pada 5 Juni 1899.

Pembukaan ini didasarkan pada keinginan warga Desa Kiarabaok (sekarang Karangsari) dan Dungusitu yang menginginkan dibukanya stasiun antara Stasiun Leles dan Leuwigoong. Setidaknya pada tahun 1935, telah tercatat sebuah perhentian bernama Gandamirah yang dibuka di antara Leles dan Leuwigoong. Perhentian tersebut naik status menjadi stasiun dan berganti nama pada tahun 1980-an.

Kini Stasiun Karangsari merupakan stasiun kereta api kelas III yang terletak di Karangsari, Leuwigoong, Garut. Kelebihan dari stasiun ini memiliki keindahan panorama hamparan sawah yang sangat luas.

2. Stasiun Bendul (Sukatani)
Stasiun Sukatani merupakan stasiun kereta api kelas III yang terletak di Sukatani, Sukatani, Purwakarta. tepatnya tak jauh dari Jalan Raya Plered-Purwakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +226 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung. Perubahan nama Stasiun Sukatani sebelumnya adalah Halte Bendul. Diubahnya nama tersebut ternyata tetjadi insiden saat masih berstatus halte.

Melansir dari laman Roda Sayap, insiden terjadi pada Kamis malam tepatnya tanggal 11 April 1968 pukul 22.15 WIB, sebuah lokomotif seri CC5002 yang sedang berhenti di jalur 2 Halte Bendul tiba-tiba meledak. Kejadian tak diduga tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa termasuk masinis dan kru lainnya yang berada dilokasi tersebut. Ledakan kuat yang terdengar hingga radius 50 kilometer dari lokasi tersebut mengakibatkan hancurnya bangunan stasiun dan terlemparnya boiler hingga ke udara. Kejadian saat sebelum ledakan terjadi akibat kegagalan sistem savety valve atau akibat adanya sumbatan pada sistem perpipaan boiler.

Pasca insiden terjadi dan bangunan yang hancur tersebut kemudian dibangun kembali. Sisa bangunan yang tersisa akhirnya dirobohkan dan bangunan yang baru didirikan. Nama “Bendul” kemudian diganti menjadi “Sukatani” yang sampai saat ini menjadi nama stasiun aktif hingga kini dilewati kereta dari Jakarta ke Bandung maupun sebaliknya.

3. Stasiun Malangbong (Bumiwaluya)
Stasiun Bumiwaluya terletak di Desa Citeras, Malangbong ini merupakan stasiun kereta api kecil atau stasiun kelas III ini berada di ketinggai +641 meter diatas permukaan laut. Dahulu, stasiun ini dikenal dengan sebutan Stasiun Malangbong karena berada di Kecamatan Malangbong.

Awalnya dijalankan 3 KA yang menggunakan 60 gerbong angkutan pasir galunggung yang termasuk salah satu KA barang yang memiliki volume yang besar yakni gerbong berkapasitas 9 meter kubik. Rangkaian KA Pasir Galunggung ini biasanya ditarik oleh 2 unit lokomotif CC 201 dalam posisi double traksi. Namun, ada hal berbeda saat itu, karena posisi lokomotif bagian depan menarik dan ada di bagian belakang untuk mendorong.

Formasi ini digunakan antara Stasiun Pirusa hingga Kiaracondong/Padalarang, kemudian rangkaian dipecah menjadi 2 rangkaian. Memasuki tahun 1987, insiden pun terjadi yakni satu rangkaian isian pasir Galunggung yang ditarik lokomotif seri CC 201 17 terguling di Stasiun Malangbong. Lokomotif dan rangkaian terguling yang mengakibatkan ringsek dan rusak parah. Akibat insiden tersebut, nama Malangbong diganti menjadi Bumiwaluya.

4. Stasiun Trowek (Cirahayu)
Stasiun ini berlokasi 500 meter di sebelah barat laut Jembatan Trowek yang menjadi lokasi anjlokan kereta api gabungan Galuh dan Kahuripan pada 24 Oktober 1995. Panorama stasiun ini dikelilingi gunung. Akses stasiun ini cukup sukar karena berjarak 3 km dari Jalan Raya Tasikmalaya, serta harus mendaki bukit-bukit curam.

Nama stasiun ini dahulunya adalah Trowek (TWK) dan berstatus sebagai halte (stasiun kecil) sejak awal dibukanya. Halte tersebut dibuka pada 15 Oktober 1907 dan awalnya digunakan untuk melayani penumpang dan barang komoditas.

Insiden yang harus mengganti nama dari Trowek menjadi Cirahayu ini adalah tanggal 30 April 1964, pukul 20.00, KA 40 tiba-tiba meluncur ke belakang tanpa kendali saat hendak menanjak dari Stasiun Cipeundeuy menuju Stasiun Ciawi. Saat itu, kereta api berhenti di muka sinyal masuk Trowek, tetapi kereta akhirnya meluncur ke belakang dari km 241+4/5 hingga terguling di km 238+9/0 pada lereng penentu 20‰ sehingga menyebabkan 24 tewas (termasuk 8 pegawai PNKA) dan 75 luka parah.

Kejadian terakhir yang tak jauh dari Stasiun Cirahayu adalah pada 4 April 2014, kereta api Malabar jurusan Bandung–Malang dengan lokomotif penariknya saat itu adalah CC206 13 55 asuhan depo lokomotif Bandung mengalami kecelakaan pada lintasan antara Stasiun Cirahayu dan Stasiun Ciawi.

Kecelakaan terjadi karena tanah penyangga rel mengalami longsor. Karena beratnya medan, evakuasi lokomotif dan dua kereta eksekutif sempat terhambat. Akibat dari kejadian tersebut, Stasiun Cirahayu dijadikan sebagai tempat pengafkiran kereta penumpang yang rusak.

Dalam Waktu Dekat, ASDP Mulai Operasikan Jatra II Gunungsitoli-Sibolga

Perjalanan dari Gunungsitoli di Pulau Nias menuju ke Sibolga, biasanya menggunakan kapal cepat atau kapal motor untuk mengangkut penumpang. Namun, dalam waktu dekat akan bertambah dengan kapal motor penumpang (KMP) dari PT ASDP Indonesia Ferry.

Pelayaran tersebut akan menggunakan KMP Jatra II dan akan mulai berlangsung perjalanan perdananya pada Jumat (13/6/2025) pukul 19.30 WIB. Perjalanan perdana tersebut akan dimulai dari Pelabuhan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Kehadiran KMP Jatra II yang menghubungkan Pelabuhan di Gunungsitoli dan Sibolga merupakan kepedulian ASDP. Selain itu juga merespon aspirasi masyarakat di Pulau Nias.

Baca juga: Libur Nasional dan Cuti Bersama, ASDP Imbau Masyarakat Beli Tiket Lebih Awal

Tak hanya itu, perjalanan Gunungsitoli-Sibolga dan sebaliknya juga untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di Kepulauan Nias. Kehadiran KMP Jatra II juga guna meningkatkan konektivitas serta kemajuan ekonomi dan pariwisata di Kepulauan Nias serta Provinsi Sumatera Utara.

Untuk perjalanan perdananya, ASDP akan menggunakan satu unit. Yang mana nantinya akan bertambah setelah dilakukan evaluasi oleh PT ASDP.

Perjalanan menggunakan kapal milik ASDP ini akan memakan waktu hingga delapan jam perjalanan. Alternatif ini cocok bagi mereka yang membawa kendaraan atau ingin perjalanan lebih ekonomis, tetapi memakan waktu lebih lama.

Sebagai informasi, selain KMP Jatra II, Gunungsitoli-Sibolga juga dilayanai kapal cepat milik Wira Fast 9 (Wira Jaya Logitama Lines). Kapal cepat ini menyediakan layanan dengan kapasitas 115 penumpang dan waktu tempuh sekitar 3,5 jam dengan tarif tiket sekitar Rp312 ribu.

Jadwal keberangkatan kapal cepat dari Sibolga pukul 09.00 WIB dan dari Gunungsitoli pukul 14.00 WIB. Bahkan ada beberapa travel agent juga menyediakan layanan transportasi rute Sibolga-Gunungsitoli, termasuk antar jemput dari dan ke Pelabuhan.

Sedangkan dengan tarif Rp50 ribu per orang, termasuk asuransi, perjalanan Gunugsitoli-Sibolga juga bisa menggunakan KM (kapal motor) Sabuk Nusantara 37 menawarkan transportasi yang ekonomis bagi penumpang. Kapal ini mampu menampung hingga 300 penumpang, dan tiket dapat dibeli langsung melalui operator kapal yang ditunjuk oleh KSOP Gunungsitoli.

ASDP Siap Kembangkan Waterfront Tourism Kelas Dunia

Stasiun Barat Menjadi Magetan – Hilangnya Bangunan Ikonik Bersejarah, Kini Berubah Modern nan Megah

Magetan. Ya, inilah stasiun kereta api yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun. Stasiun ini memiliki fasilitas dasar yang memadai, seperti ruang tunggu, loket tiket, dan area parkir. Selain itu, beberapa layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini menghubungkan Magetan dengan kota-kota lain di Pulau Jawa, seperti Madiun, Yogyakarta, dan Surabaya.

Meski stasiun ini masih menjadi sorotan akibat insiden kecelakaan kereta api dengan pengendara bermotor di perlintasan Magetan, namun ternyata stasiun ini punya riwayat sejarah yang panjang. Stasiun ini juga telah diubah namanya yang semula bernama Stasiun Barat. Kita ulas disini, yuk.

Stasiun Magetan dibangun pada masa kolonial Belanda dengan nama Stasiun Barat. Pada awalnya, stasiun ini didirikan untuk mendukung pengangkutan hasil pertanian dan perdagangan di wilayah Magetan dan sekitarnya. Seiring berkembangnya zaman, stasiun ini semakin ramai digunakan sebagai pusat mobilitas masyarakat.

Pembangunan jalur rel kereta api yang menghubungkan Madiun-Paron (sekarang Stasiun Ngawi)-Sragen-Solo Balapan sejauh sekitar 97 km yang dibangun pada 1883-1884 dan direnovasi pada era 1930-an. Semakin padatnya aktifitas operasional pengangkutan bahan baku tebu dan hasil produksi gula dari PG Poerwodadie, pabrik gula yang dibangun tahun 1832 berjarak sekitar 5 km dari Stasiun Barat milik Nederlandsche Handel Maatschapij (NHM).

Diketahui, setiap infrastruktur yang dibangun pemerintahan Hindia Belanda, umumnya untuk dua kepentingan, yaitu untuk kepentingan militer atau ekonomi, khususnya jalur distribusi hasil dari alam yang dikeruknya, baik dari pertambangan, perkebunan, pertanian dan lain-lainnya.

Begitu juga dengan pendirian stasiun Barat yang sudah pasti dirancang jauh-jauh hari juga, setidaknya untuk mendukung operasional dua aset penting pemerintahan penjajah Hindia Belanda di sekitarnya, yaitu Pabrik Gula Poerwodadie, PG Rejosari dan Lanud Iswahyudi.

Posisi dan peran Stasiun Barat cukup strategis dalam perang Asia Pasifik, khususnya bagi pasukan dan alutsista perang milik sekutu yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, karena satu-satunya jalur suplai bahan bakar menuju ke pangkalan militer ini hanya bisa melalui persimpangan jalur kereta di stasiun Barat dan sudah pasti kontrol operasionalnya juga ada di dalam Stasiun Barat.

Peron Stasiun Barat. (FOTO: Dok. Istimewa)

Perkembangan jalur kereta api yang semakin maju, membuat Stasiun Barat berubah total di tahun 2015. Bangunan lama stasiun, termasuk bangunan utama yang ikonik, gudang dan bangunan-bangunan pendukung lainnya dirobohkan tanpa sisa, karena terkena proyek penambahan jalur rel kereta.

Sedangkan bangunan baru yang menggantikan fungsi bangunan lama dibangun dengan gaya artistik modern, jauh lebih besar dan megah. Sayangnya, sama sekali tidak meninggalkan jejak arsitektur bangunan lama yang tentu saja memberi kenangan mendalam pada masyarakat sekitar, termasuk saya dan juga teman-teman masa kecil.

Penggantian nama tersebut merupakan usulan Pemerintah Daerah setempat dengan maksud mengenalkan wilayah Magetan bagi penumpang kereta api jarak jauh yang melintas. Perlu diketahui, Stasiun Magetan ini tidak serta merta lokasinya dekat dengan Pusat Kota Magetan.

Begitu turun kereta tidak langsung sampai Kota Magetan. Melainkan masih ada jarak 20 km lagi yang harus ditempuh untuk bisa menuju pusat kota. Secara jarak, Stasiun Magetan beda dengan Gubeng, Jombang, Mojokerto, Madiun, Yogyakarta, Gambir yang terletak di pusat kota. Stasiun Barat digantikan dengan Stasiun Magetan.

Stasiun Barat Jadi Stasiun Magetan, Ternyata Pernah Punya Percabangan ke Lanud Iswahjudi

Kalahkan Menara Eiffel, Jembatan Chenab di India Jadi Jembatan Tertinggi di Dunia

Selain terkenal penumpangnya yang berjubel saat menggunakan kereta api, Negara India pun memiliki jalur kereta api yang penuh dengan ketegangan. Seperti jalur kereta api saat melewati jembatan laut yang dikenal dengan nama Pamban Bridge (Jembatan Pamban). Jembatan tersebut terletak di Selat Palk, yang menghubungkan kota Rameswaram di Pulau Pamban menuju daratan India.

Jembatan ini sebetulnya telah dibuka pada 24 Februari 1914, dan menjadi jembatan laut pertama dan terpanjang di India, sampai akhirnya Pemerintah India meresmikan Bandra-Worli Sea Link pada tahun 2010.

Dunia telah dibuat merinding oleh pembangunan jembatan yang luar biasa tersebut. Komentar yang beragam dari warganet pun turut membanjiri saat menyaksikan video tersebut, salah satunya cukup berbahaya jika adanya badai yang menghempas area tersebut. Praktis bisa menghancurkan jembatan tersebut oleh hantaman ombak yang lebih besar.

Selain Jembatan Pamban yang terkenal dengan ekstremnya tersebut, warganet juga kembali dihebohkan oleh negara yang sama karena telah membangun jembatan kereta api yang lebih ekstrem. Bahkan jembatan itu digadang-gadang telah mengalahkan ketinggiannya dengan menara Eiffel yang ada di Perancis.

Ya, Jembatan Chenab di Jammu dan Kashmir adalah jembatan kereta api tertinggi di dunia. Jembatan ini diresmikan oleh Perdana Menteri India Narendra Modi pada hari Jumat. Jembatan ini berdiri setinggi 359 meter di atas Sungai Chenab dengan panjang 1.315 meter. Tingginya kira-kira 29 meter lebih tinggi dari puncak Menara Eiffel.

Madhavi Latha pembuat jembatan Kereta Api Tertinggi di dunia. (Foto: Dok. Istimewa)

Proyek ini merupakan bagian dari Jalur Kereta Api Udhampur-Srinagar-Baramulla (USBRL) sepanjang 272 km dan disetujui pada tahun 2003. Salah satu kontributor utama keberhasilan pembangunan jembatan tersebut adalah Profesor G Madhavi Latha. Seorang profesor di Institut Sains India (IISc) di Bengaluru, ia terlibat selama 17 tahun dalam proyek Jembatan Chenab sebagai konsultan geoteknik.

Jembatan ini merupakan bagian dari jalur kereta api pertama yang menghubungkan Kashmir ke seluruh India. Jembatan ini menghabiskan biaya sebesar US$160 juta atau sekitar Rp2,6 triliun.

Jembatan Kereta Api Chenab lebih dari sekadar jembatan biasa, tetapi merupakan simbol bergengsi tentang seberapa jauh India dan para insinyur perkeretaapiannya telah berkembang sejak satu mil pertama rel kereta api negara itu mulai beroperasi lebih dari 150 tahun yang lalu.

Jembatan ini pun dipuji sebagai kemenangan besar bagi pemerintahan Partai Bharatiya Janata pimpinan Modi. Pemerintahannya telah menggelontorkan miliaran dolar untuk meningkatkan jaringan transportasi lama dan ketinggalan zaman di India, sebagai bagian dari visinya untuk mengubah negara tersebut menjadi negara maju pada tahun 2047.

Chenab, Jadi Kondang Karena Ada Jembatan Kereta Tertinggi di Dunia

Mau Naik Kereta Murah ke Blitar via Jalur Selatan? Ini Solusinya

Naik kereta api ke berbagai kota khususnya Pulau Jawa bagian timur sekarang banyak sekali pilihan. Mulai dari harga yang paling tinggi seperti kereta kelas eksekutif sampai dengan tarif bersubsidi yakni kelas ekonomi pun ada. Beragam masyarakat sebagai pengguna setia kereta api juga sudah bisa memilih rute yang akan dilewati untuk sampai di kota tujuan.

Seperti halnya Kota Blitar yang merupakan sebuah kota terletak di bagian Selatan provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah barat daya Surabaya dan 80 km sebelah barat Malang. Selain disebut sebagai Kota Proklamator dan Kota Patria, kota ini juga disebut sebagai Kota Peta (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepemimpinan Soeprijadi, Laskar Peta melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang mengilhami timbulnya perlawanan menuju kemerdekaan di daerah lain.

Tugu selamat datang di Kota Blitar. (Foto: Dok. Blitarkota.go.id)

Kota Blitar juga sangat bagus untuk destinasi wisata ke berbagai tempat yang sudah ramai dikunjungi wisatawan. Nah, untuk menuju ke sana sangat menyenangkan jika menggunakan kereta api. Apalagi diperjalanan disuguhkan dengan pemandangan yang indah dan fasilitas yang nyaman bagi penumpang karena harga yang wajar sekelas premium ataupun eksekutif. Namun, bagaimana jika kamu bepergian ke Kota Blitar dengan kereta api tapi ingin berhemat dengan budget yang murah? Kabarpenumpang akan beritahu solusinya.

Ada berbagai cara menggunakan kereta api menuju destinasi Kota Blitar yang praktis dan murah dari Jakarta. Hal yang pertama kamu lakukan adalah memesan tiket kereta api melalui aplikasi Access by KAI di ponsel. Kemudian kamu pilih rute Stasiun Pasar Senen – Stasiun Kiaracondong, lalu kamu pilih Kereta Api (KA) Cikuray. Nah, menggunakan KA Cikuray adalah waktu yang paling tepat untuk menggunakan kereta api pertama dari Jakarta. Harga tiket KA Cikuray sangat murah untuk perjalanan 2 jam, yakni Rp45.000 saja. Keberangkatan KA Cikuray dari Stasiun Pasar Senen adalah pukul 17.20 WIB dan tiba di Stasiun Kiaracondong pukul 21.00 WIB.

Papan nama KA Kahuripan rute Kiaracondong – Blitar. (Foto: Dok. Istimewa)

Solusi berikutnya, jika kamu ingin tiketnya lebih murah lagi, bisa menggunakan KA Commuter Walahar rute Stasiun Cikarang – Stasiun Purwakarta. KA ini diberangkatkan dari Stasiun Cikarang. Waktu yang pas untuk keberangkatan kamu adalah pukul 13.26 WIB dari Stasiun Cikarang dan tiba di Stasiun Purwakarta pukul 14.50 WIB dengan harga tiket Rp4.000. Saat tiba di Stasiun Purwakarta, kamu harus lakukan boarding lagi untuk melanjutkan kereta berikutnya, yakni KA Commuter Garut. Keberangkatan Stasiun Purwakarta pukul 16.25 WIB sampai Stasiun Kiaracondong pukul 19.19 WIB dengan tarif Rp8.000.

Saat tiba di Stasiun Kiaracondong kamu sudah merasa lega dan mungkin memanfaatkan waktu untuk mencicipi kuliner yang ada di sekitar stasiun. Untuk menuju ke Stasiun Blitar, kamu bisa menggunakan kereta api bersubsidi yang tentu saja dengan tarif sangat murah, yaitu Rp84.000 saja dengan KA Kahuripan. KA Kahuripan merupakan kereta api jarak jauh kelas ekonomi subsidi dengan rute Kiaracondong – Blitar pp. Keberangkatan dari Stasiun Kiaracondong pukul 22.20 WIB dan tiba di Stasiun Blitar pukul 12.05 WIB. Sedangkan dari Stasiun Blitar pukul 17.10 WIB dan tiba di Stasiun Kiaracondong pukul 07.15 WIB. Bagaimana, tertarik menggunakan KA Murah ke Blitar dari Jakarta?

Inilah Asal Usul Nama KA Penataran-Dhoho yang Paling Jadi Andalan Masyarakat Jawa Timur. Penasaran?

Menggunakan Kereta Api (KA) Lokal yang beroperasi di Jawa Timur ini, tentu masyarakat sudah tak asing lagi dengan namanya. Melewari jalur kantong mulai dari Stasiun Surabaya Kota menuju Stasiun Kertosono kemudian melewati Stasiun Malang sampai dengan Stasiun Bangil dan berakhir kembali di Stasiun Surabaya Kota menjadikan KA Lokal ini paling andalan bagi masyarakat khususnya Kota Surabaya dan sekitarnya.

Ya, KA Lokal (saat ini sebagai KA Commuter) Penataran – Dhoho memang tak asing lagi ditelinga. Sejak dulu, KA ini sudah sangat digemari sebagai transportasi yang praktis dan murah. Apalagi saat itu pembelian tiket tidak bisa menentukan tempat duduk alias bebas tempat duduk tidak seperti saat ini. Tak heran, saat KA Penataran-Dhoho ini memasuki stasiun, penumpang pun berebut memasuki kereta mengharapkan masih adanya kursi yang kosong.

Nah, penamaan untuk KA Penataran-Dhoho ini ternyata ada dalam sejarah, lho. Kereta api ini memiliki dua nama dalam satu rangkaian, yaitu Penataran dan dahulu sempat memiliki tambahan nama menggunakan kata “Rapih” Dhoho. Kedua nama KA tersebut diambil dari nama candi yang ada di kota Blitar dan Kediri. Dahulu rangkaian ini akan berganti nama di Stasiun Blitar, dari Blitar menuju Gubeng via Kertosono akan menjadi Rapih Dhoho dan dari Blitar menuju Gubeng via Malang menjadi Penataran.

Plat KA Penataran-Dhoho. (Foto: Dok. Kompas)

Pergantian di Stasiun Blitar tersebut karena penumpang wajib membeli tiket kembali jika ingin meneruskan perjalanannya menggunakan KA dengan rangkaian yang sama. Namun pada Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2025 ini untuk KA Penataran melintasi dari Stasiun Surabaya Kota, Stasiun Wonokromo, Stasiun Bangil, Stasiun Malang, Stasiun Blitar, Stasiun Kertosono, Stasiun Mojokerto, Stasiun Wonokromo, dan berakhir kembali di Stasiun Surabaya Kota. Untuk penamaan KA Dhoho perjalanan mengarah rute sebaliknya dari KA Penataran.

Sebagai tambahan bahwa nama penambahan Rapih pada KA Dhoho itu sendiri merupakan singkatan dari Rangkaian Terpisah. Yang mana dulunya rangkaian ini juga melayani rute dari kertosono menuju Madiun dengan ditarik lokomotif lain dari Kertosono. Namun karena terdapat kereta api KRD lokal dari Madiun menuju Gubeng, maka rangkaian gerbong via Madiun tidak lagi beroperasi.

Kemudian untuk nama Dhoho sendiri diambil dari sebuah nama kerajaan di Kediri, yaitu Dhaha atau Daha. Kota Daha sudah berdiri sebelum Kerajaan Kediri didirikan, yang kemudian menjadi ibu kota di zaman Kerajaan Kediri. Lokasi Kerajaan Kediri yaitu di tepi Sungai Brantas, daerah antara Kediri hingga Blitar. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api.

Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga pada tahun 1042. Mengulik sejarahnya, pada tahun 1513, Daha menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Lalu untuk nama “Penataran” diambil dari nama candi peninggalan Raja Kertajaya (Srengga) dari Kerajaan Kediri yang terletak di Kabupaten Blitar.

Saat ini rangkaian KA Penataran-Dhoho berjumlah 7 kereta dalam 1 rangkaian dengan susunan di belakang lokomotif untuk kereta makan dan pembangkit atau KMP. Di belakangnya KMP adalah kereta satu sampai dengan kereta enam. Lokomotif untuk KA Penataran-Dhoho ini akan dilangsir setiap berada di Stasiun Kertosono. Dengan harga tiket mulai dari Rp10.000 hingga Rp30.000, masyarakat Jawa Timur akan menikmati sensasi perjalanan yang murah, praktis, efisien dan juga merasakan perjalanan yang bersejarah.

Mengenal Kereta Api Lokal yang Super Murah dan Wajib Kalian Tahu

 

PT DI Kembangkan Kemampuan Manufaktur Komponen CN235-220 di Dalam Negeri 

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sepakati Framework Agreement (FA) dengan Perusahaan teknologi kedirgantaraan terkemuka asal Jerman, Heggemann, pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defence 2024 Expo & Forum yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Perjanjian ini mencakup kerja sama Joint Marketing untuk program pengembangan Landing Gear dan Engine Air Intake untuk pesawat CN235-220.

Dokumen FA ini ditandatangani secara simbolis oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Chief Executive Officer Heggemann, Christian Howe.

Kesepakatan ini merupakan langkah strategis dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional, khususnya dalam pembangunan kemampuan manufaktur komponen landing gear dan engine air intake secara mandiri di dalam negeri. Dengan begitu, PTDI tidak hanya memperkuat rantai pasok industri lokal, tetapi juga memastikan keberlanjutan dan daya saing program pesawat CN235-220 agar tetap mampu berkontribusi secara signifikan di pasar global.

Kolaborasi ini juga diharapkan dapat mendorong peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) serta mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen, sehingga dapat memperkuat posisi industri kedirgantaraan nasional.

“Melalui kolaborasi ini, PTDI terus berkomitmen untuk membangun ekosistem dirgantara yang kuat dan mandiri. Kami percaya bahwa sinergi dengan mitra internasional seperti Heggemann akan mempercepat penguasaan teknologi strategis dan menjaga relevansi produk-produk unggulan Indonesia di pasar global,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kerja sama ini menjadi bukti nyata bahwa PTDI terus memperkuat posisi sebagai pelaku utama dalam industri pertahanan dan dirgantara nasional, sekaligus menghadirkan solusi teknologi yang adaptif terhadap kebutuhan nasional dan internasional di masa mendatang.

CN-235 Sukses di Pasar Militer Tapi Lesu di Pasar Sipil Komersial, Ini Sebabnya!

Usianya Satu Abad, Mengulik Turntable Stasiun Malang yang Dioperasikan Manual Hingga Saat Ini

Turntable merupakan sebuah alat untuk memutar sarana kereta/lokomotif. Saat era lokomotif uap masih banyak digunakan, beberapa perusahaan kereta api memerlukan cara untuk memutar lokomotif untuk perjalanan kembali karena operasi kereta tidak diatur untuk mundur dalam jarak jauh dan di beberapa lokomotif kelajuan tertingginya lebih rendah dibandingkan kelajuan saat mundur.

Turntable juga pernah digunakan untuk memutar kereta observasi sehingga ujung ruang jendelanya menghadap bagian belakang kereta. Saat ini turntable masih terus digunakan dan wajib saat lokomotif akan melakukan perjalanan dinas seperti pada lokomotif yang hanya memiliki satu kabin. Terlebih era modern seperti saat ini, teknologi sudah semakin canggih, salah satunya pada turntable yang berada di Depo Cipinang dengan menggunakan mesin.

Namun di era modern saat ini masih banyaknya turntabel yang aktif masih digerakkan secara manual yakni menggunakan tenaga manusia dengan didorong. Tak Cuma itu usia dari turntable pun ada yang mencapai satu abad dan masih aktif digunakan untuk lokomotif yang akan melakukan perjalanan dinas. Salah satu diantaranya adalah turntable yang berada di Depo Malang.

Menurut pemerhati sejarah kereta api, Tjahjana Indra Kusuma mengatakan, bahwa pemasangan turntable di Stasiun Malang bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Bangil-Malang.

Proses putar lokomotif di tuntable Stasiun Malang. (Foto: Dok. Tribun Jatim)

Pada awalnya, perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) membuka terlebih dahulu jalur kereta api Surabaya-Bangil- Pasuruan pada tahun 1878. Lalu di tahun 1879, dibuka jalur kereta dari Bangil-Sengon-Lawang-Malang. Saat itu kehadiran turntable di Stasiun Malang tersebut, memiliki peranan vital dalam menunjang perkeretapian SS. Menurutnya, Pemasangan turntable, tentunya memiliki spesifikasi disesuaikan dengan lokomotif yang beroperasi di Indonesia. Dan fungsinya adalah, untuk memutar lokomotif.

Meski turntable tersebut telah berusia satu abad, namun pengoperasiannya masih digerakkan dengan tenaga manual atau sepenuhnya dikendalilan oleh orang. Cara kerjanya pun seperti turntable pada umumnya, yakni lokomotif yang akan diputar, masuk terlebih dahulu di turntable.

Setelah dipastikan posisinya sudah benar dan terkunci, maka sudah bisa diputar. Diputarnya pakai tenaga orang, dan ada empat orang yang memutar. Meski sudah berusia sangat lama, turntable yang berada di Malang ini tetap dirawat dengan baik. Sehingga, pelaksanaan memutar lokomotif dapat berjalan dengan lancar dan tidak pernah menemui kendala sama sekali.

Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

Penumpang KA BIAS Nantinya Bisa Naik dari Stasiun Caruban, Berikut Penjelasannya

Masyarakat khususnya warga Madiun pastinya sudah nyaman menggunakan alternatif kereta menuju bandara di Kota Solo. Ya, menggunakan KA BIAS (Bandara Internasional Adi Sumarmo) menjadi andalan penumpang sebagai transportasi yang efisien dan praktis untuk melakukan perjalanan transit menggunakan transportasi udara.

KA BIAS resmi dioperasikan pada 2 November 2024 melewati stasiun pemberhentian seperti Stasiun Bandara Adi Soemarmo, Kadipiro, Solo Balapan, Solo Jebres, Sragen, Walikukun, Ngawi, Magetan, dan Madiun. Selain terkoneksi dan terintegrasi dengan Bandara, KA BIAS juga memberi kemudahan karena masyarakat dapat melanjutkan perjalanan baik dengan Kereta Jarak Jauh atau layanan Commuterline seperti di stasiun Solojebres dan Solobalapan.

Namun baru-baru ini informasi mengenai KA BIAS pun kembali santer di media sosial. Seperti postingan media sosial Facebook/@medhioen.ae yang mengusulkan bahwa KA BIAS berharap untuk pemberhentian terakhir tak hanya sampai Stasiun Madiun melainkan hingga Stasiun Caruban.

Di akun media sosialnya pun sampai membuat survei untuk masyarakat khususnya warga Madiun dan sekitarnya untuk bersama-sama mewujudkan usulan tersebut. Sang pengunggah pun berpendapat bahwa alasan dibuatnya survei tersebut karena menurutnya masyarakat yang berada di wilayah Caruban agar bisa merasakan naik kereta api dan tidak harus naik/turun di Stasiun Madiun.

Namun setelah dilihat terhadap postingan tersebut, komentar warganet pun beragam. Ada yang setuju dan ada yang beralasan lain seperti dilihat dulu keoptimalan sarananya, bahkan ada yang berharap hingga Stasiun Kertosono karena masih wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun.

Menanggapi hal tersebut Pemerintah Kabupaten Madiun resmi mengajukan usulan perpanjangan rute Kereta Api Bandara Internasional Adi Soemarmo (BIAS) hingga Stasiun Caruban ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Langkah ini disebut sebagai tindak lanjut dari aspirasi masyarakat yang menginginkan akses transportasi langsung ke bandara dari ibu kota baru Kabupaten Madiun.

Surat pengusulan perpanjangan rute ke Kemenhub sudah dikirimkan. Saat ini pihaknya tinggal menunggu respons pusat. Dinas Perhubungan (Dishub) telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop VII Madiun.

Hasil survei internal menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen masyarakat menyatakan antusias dan mendukung rute diperpanjang hingga Caruban. Surat pengusulan perpanjangan rute ke Kemenhub sudah dikirimkan.

Saat ini pihaknya tinggal menunggu respons pusat. Jika memang masyarakat antusias gunakan KA BIAS, semoga usulan ini bisa terlaksana dan masyarakat yang berada di wilayah Caruban bisa merasakan praktisnya menggunakan kereta api.

KA BIAS Akan Perpanjang Rute Sampai Wonogiri, Ini Kata Jenderal Perkeretaapian

70 Bus Listrik Zhongtong Tiba, Damri: “Transportasi Berkelanjutan”

Dewasa ini, bus listrik semakin banyak digunakan oleh perusahaan transportasi massal. Penggunaan kendaraan listrik ini guna membantu mengurangi polusi udara dan suara.

Seperti Perum Damri yang baru saja menerima kedatangan 70 bus listrik besutan Cina. Bus-bus ini rencananya akan mulai beroperasi akhir Juni 2025 untuk memperkuat armada layanan transportasi massal yang ramah lingkungan di Indonesia.

Kehadiran bus listrik, dikatakan Head of Corporate Communication Damri Atikah Abdullah, untuk memperkuat komitmen mereka dalam mendukung transportasi public ramah lingkungan. Adapun 70 bus listrik ini merek Zhongtong dan armada terbaru tersebut akan dioperasikan di koridor PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

Penambahan bus listrik ini merupakan bagian dari rencana beroperasinya 200 unit hingga akhir 2025. Ini juga adalah bagian dari rencana strategis Damri dalam memperluas armada bus listriknya yang kini telah mencapai ratusan unit.

Atikah menyebutkan, dengan hadirnya bus listrik Zhongtong ini, Damri akan semakin memperkuat perannya sebagai pelopor transportasi berkelanjutan di Indonesia khususnya Jakarta. Kedatangan bus listrik Zhongtong juga menjadi bukti nyata dukungan Damri terhadap program pemerintah dalam percepatan transisi energi bersih dan target Net Zero Emission pada 2060 mendatang.

Bus-bus listrik ini juga bukan hanya ramah lingkungan dengan emisi nol. Tetapi juga menawarkan kenyamanan serta efisiensi tinggi bagi para pengguna transportasi public di Ibu Kota Jakarta.

Sebagai informasi, bus listrik Zhongtong yang akan dioperasikan memiliki kapasitas baterai yang mampu menempuh jarak hingga 250 kilometer dengan sekali pengisian daya, serta dilengkapi teknologi terkini yang menjamin performa optimal dan pengisian baterai yang efisien. Fasilitas pengisian daya yang memadai juga telah disiapkan di beberapa depo Damri di Jakarta untuk mendukung operasional armada ini.

Dengan penambahan ini, lanjut Atikah, menggenapkan total unit bus listrik Damri sebanyak 316 unit dan 116 di antaranya telah beroperasi di koridor TransJakarta. Setiap bus listrik dapat menggantikan bus berbahan bakar diesel yang menghasilkan emisi CO2 sekitar 1,5 hingga dua ton per hari tergantung jarak tempuh.

Sehingga bisa dikatakan 316 armada bus listrik, mampu mengurangi emisi CO2 secara signifikan dan mencapai ribuan ton per tahunnya.

Bus Zhongtong – Lain di Indonesia, Lain di Cina