Layani Akses Terminal 2 dan 3, Skytrain di Soetta Resmi Diuji Coba

Menunggu pengoperasian penuh pada bulan September 2017, per 13 Agustus lalu Automated People Mover System (APMS) atau Skytrain sudah mulai diuji coba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Uji coba yang dilakukan ini akan berlangsung selama sebulan penuh untuk mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan.

Skytrain yang diuji coba di Soetta saat ini melayani Track A dari Terminal 3 ke Terminal 2 atau sebaliknya. Nantinya, jika uji coba selesai maka pada pertengahan September mendatang, Skytrain akan langsung beroperasi untuk melayani perpindahan penumpang dikedua terminal tersebut. Ini merupakan tahap pertama pengoperasian Skytrain dengan melayani Track A dengan panjang lintasan 1.700 m. Tahap selanjutnya, Skytrain akan menghubungkan ketiga terminal dengan integrated building yang juga terkoneksi dengan terminal bus dan stasiun kereta bandara yang memiliki total panjang lintasan dua track mencapai 3.050 meter.

Baca juga: Angkasa Pura II: Skytrain Akan Jadi Hadiah di HUT RI Ke-72

“Pemerintah berharap agar Skytrain dapat segera dioperasikan dengan tetap mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan serta pelayanan. Kehadiran Skytrain di Bandara Soetta ini dapat menjadi percontohan bagi bandara lainnya agar semakin berkembang khususnya demi meningkatkan pelayanan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya, yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (15/8/2017).

Pada uji coba ini, President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan, uji coba Skytrain merupakan sinergi BUMN yang melibatkan tiga pihak yakni Wijaya Karya yang melakukan uji fungsi dan pengoperasian lintasan Track A. PT LEN dan Woojin yang menguji fungsi dan pengoperasian kereta dan tentu AP II yang menguji standar maintenance procedure.

“Kami berharap pada masa uji coba ini segala kemungkinan dapat dipelajari, sehingga pelayanan pada penumpang tetap dapat terjaga. Beroperasinya Skytrain jelas akan meningkatkan standar pelayanan internasional pada Bandara Soetta untuk bisa berkompetisi dengan bandara-bandara terbaik di dunia ataupun kawasan regional Asean,” ujar Awaluddin.

Gratis 
Awaluddin menambahkan, bahwa penggunaan Skytrain oleh penumpang pesawat atau pengunjung bandara sama sekali tidak dikenakan biaya tambahan. Skytrain ini menggunakan teknologi Automated Guided Transit (AGT) yang dimana bergerak tanpa bantuan pengemudi.

AGT menggunakan roda pengarah tambahan di sisi kiri dan kanan unit kendaraan yang menempel pada dinding beton. Saat ini diketahui, sudah ada tiga rangkaian yang masing-masing memiliki dua gerbong sudah berada di terminal tiga Bandara Soetta, tetapi pada uji kali ini baru mencoba satu rangkaian.

Baca juga: Mengenal Skytrain di Changi, Benchmark APMS di Bandara Soekarno-Hatta

Pada Skytrain, terdapat dua pintu di setiap trainsetnya dan tempat duduk yang tersedia hanya sedikit. Hanya ada enam tempat duduk dengan empat bangku prioritas dan dua tempat duduk untuk umum. Dengan desain seperti ini, memang disengaja untuk penumpang berdiri agar barang-barang muat dibawa. Dalam masa uji coba, kecepatan Skytrain kurang dari 30 km per jam dan masih dijalankan oleh operator (masinis).

Akhirnya! Prototipe N-219 Sukses Terbang Perdana Hari Ini

Jelang HUT Kemerdekaan RI Ke-72, ada kabar yang membanggakan datang dari dunia penerbangan, pasalnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) selaku BUMN Strategis pagi ini telah sukses melakukan flight test perdana pada pesawat twin engine turbo propeller produksi dalam negeri, N-219 di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara Jalan Pajajaran Bandung, Rabu (16/8/2017).

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Berhasil terbang selama lebih kurang 30 menit, penerbangan perdana prototipe N-219 dengan nomer registrasi PK-XDT diawaki Kapten Esther Gayatri Saleh, Chief Test Pilot PTDI sebagai Pilot In Command (PIC) dan Kapten Adi Budi Atmoko sebagai First Officer (F0). Acara flight test prototipe N-219 disaksikan oleh Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso beserta seluruh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris PT DI.

N-219 adalah pesawat angkut ringan dengan kapasitas 19 penumpang yang dilengkapi dua mesin turbo propeller Pratt&Whitney Canada PT6A-42. Meski pengembangannya didasarkan atas kesuksesan NC-212, namun dari segi rancangan pesawat ini lebih identik dengan pesawat DHC-6 Twin Otter. Keduanya sama-sama mengusung desain sayap tinggi (high wing), begitu pun tampak sisi moncong yang mirip.

Disasar untuk memenuhi pasar penerbangan perintis, N-219 punya kemampuan STOL (short take-off and landing), yakni untuk lepas landas hanya dibutuhkan jarak panjanhg landasan 465 meter, dan untuk mendarat hanya butuh 510 meter. Guna memenuhi kebutuhan maskapai perintis, pesawat ini bisa mendarat di landasan tanah. Kabarnya untuk urusan roda, PT DI memasoknya dari perusahaan pembuat ban Achilles.Rancang bangun N-219 pertama kali diperlihatkan pada 12 November 2015. Dalam penggarapannya, dilakukan bersama antara PT DI dan LAPAN, peran LAPAN sebagai pusat uji coba dan riset N-219.

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis

Dirancang handal untuk medan perintis dengan biaya operasional relatif rendah, menjadikan N-219 tak hanya dilirik pasar penerbangan sipil. TNI dikabarkan telah memesan N-219 untuk kebutuhan satu skadron, dengan jumlah antara 9 – 15 unit. Meski belum dirilis spesifikasi untuk varian intai maritim, namun bila melihat dari kemampuan payload yang mencapai 2,3 – 2,5 ton, maka urusan mofikasi dan adopsi perangkat sensor/radar jadi lebih mudah. Dalam versi standar, di dalam radome terdapat radar cuaca, maka seperti halnya pada Twin Otter varian intai maritim, maka dibawah radome atau di depan nose landing gear bisa disematkan modul radar atau sensor electro optics.

Semester I 2017, Laba PT Angkasa Pura I Naik 61 Persen

Sebagai pengelola dari 13 bandara di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, PT Angkasa Pura I atau dikenal juga sebagai Angkasa Pura Airports, terus mengalami pertumbuhan pesat. Sebut saja belum lama ini tiga bandara dibawah pengelolaan bisnis Angkasa Pura Airports masuk sebagai 10 peringkat besar bandara di dunia. Dan melanjutkan kabar atas kinerja postif perusahaan, Angkasa Pura Airports telah mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 61 persen pada Semester I 2017.

Baca juga: Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia

Persentase pertumbuhan laba tersebut dicapai dengan membandingkan periode yang sama pada tahun lalu (2016). Dari sisi nilai keuntungan, PT Angkasa Pura I di Semester I 2017 telah meraup laba sebesar Rp885 miliar, naik dibanding laba pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp550 miliar.

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (16/8/2017), kenaikan laba bersih perusahaan tidak terlepas dari pendapatan usaha yang tumbuh 17 persen pada semester I 2017. Angkasa Pura I berhasil meraup pendapatan Rp3,4 triliun tahun ini, sedangkan pada periode yang sama 2016 lalu hanya meraih Rp 2,9 triliun. Bisnis aeronautika berkontribusi sebesar sekitar 60 persen dari total pendapatan atau Rp 2,05 triliun. Angka ini naik 20,6 persen dari pencapaian semester I 2016 lalu yang hanya Rp 1,7 triliun. Sementara bisnis non-aeronautika tercatat sebesar Rp 1,35 triliun, atau naik 13,5 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,19 triliun.

“Pertumbuhan laba yang cukup signifikan ini antara lain disebabkan oleh pertumbuhan trafik dibanding tahun sebelumnya. Menurut data kami, pergerakan pesawat tumbuh 2,3 persen; pergerakan penumpang naik 4,3 persen, sedangkan kargo meningkat 15,6 persen. Peningkatan trafik disebabkan adanya penambahan rute baru di beberapa bandara, baik domestik maupun internasional. Selain itu, mulai beroperasinya Hotel Novotel Bali Airport yang dikelola oleh anak perusahaan Angkasa Pura I, yaitu Angkasa Pura Hotel dan penerapan skala prioritas dalam realisasi biaya operasional memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba ini,” jelas Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro.

Baca juga: Macet Parah Menuju Bandara, Bangalore Tawarkan Layanan Antar Jemput via Helikopter

Sampai akhir tahun ini, Tahun 2017 ini, Angkasa Pura I menargetkan meraup laba bersih sebesar Rp1,17 triliun, atau naik sekitar 28 persen dari target tahun 2016 lalu. “Strategi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan Program Collaborative Destination Development (CDD) dengan pemangku kepentingan di beberapa daerah untuk bersama-sama mengembangkan potensi tujuan wisata daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan trafik penumpang ke daerah,” terang Danang.

Selain itu, Danang S. Baskoro menambahkan, Angkasa Pura I juga secara pro-aktif menawarkan pembukaan rute baru dari dan menuju bandara-bandara Angkasa Pura I bagi maskapai global dengan memberikan insentif potongan harga atau menggratiskan biaya pendaratan. Pengoptimalan kinerja anak perusahaan juga dilakukan untuk mencapai target yang telah ditentukan.

Panasonic Uji Coba Kursi Roda Otonom di Bandara Haneda

Penyandang disabilitas, para lansia dan penumpang pesawat berkebutuhan khusus sebentar lagi akan dimudahkan saat berada di bandara Haneda, Tokyo. Pasalnya, manufaktur elektronik asal Negeri Sakura, Panasonic baru-baru ini telah memperkenalkan kursi roda listrik yang nantinya akan ditempatkan di bandara-bandara utama di seluruh wilayah, hal ini terkait ajang Olimpiade 2020 yang akan mengambil lokasi di Jepang.

Baca juga: Fasilitasi Olimpiade 2020, Tokyo Canangkan Penggunaan Mobil Otonom

Ingin agar solusinya siap pada waktunya, Panasonic kini tengah melakukan serangkaian percobaan kursi roda listriknya di Bandara Internasional Haneda. KabarPenumpang.com melansir dari digitaltrends.com (9/8/2017), uji coba kursi roda listrik dilakukan untuk melihat tempat yang mudah di akses oleh pengunjung dan penumpang. Penggunaan kursi roda ini nantinya akan menggunakan aplikasi smartphone khusus. Apalagi kursi roda biasanya langsung dibutuhkan saat penumpang tiba di bandara untuk melakukan perjalanan dengan pesawat atau setelah penumpang keluar dari pesawat terbang.

kursi roda listrik buatan Panasonic (www.digitaltrends.com)

Beberapa hal terjadi yakni kursi roda tersebut mengantar penumpang dan membantu mereka menuju meja check in. Kemudian mengantar penumpang menuju ke gate sesuai permintaan penumpang dan perjalanan berakhir hingga ke gate yang ditentukan. Kemudian setelah mengantar, kursi roda tersebut kembali membantu pengunjung lainnya.

Setelah jam operasional bandara berakhir, kursi roda listrik tersebut sudah diatur otomatis untuk menuju ketempat pemeliharaan dan penyimpanan. Juru bicara Panasonic mengatakan, kursi roda otonom menggunakan perangkat lunak pemetaan dan sensor built in agar tidak menabrak penumpang lain, koper atau semua hambatan lain yang dapat diharapkan saat bandara sangat sibuk.

Baca juga: Sensor 3D Vayyar, Pasangan Cocok Untuk Mobil Otonom

Kursi roda akan diuji di Haneda sampai Maret 2018 dengan tujuan untuk melihat beberapa kekurangan yang mungkin terjadi versi. Sebelum ini, di tahun 2016, raksasa mobil Jepang, Nissan meluncurkan kursi mengemudi sendiri yang disebut ProPilot. Juru bicara Nissan mengatakan, ProPilot adalah konsep produk yang menunjukkan perkembangan mobil dengan kursi mengemudi sendiri.

Nissan mendemonstrasikan bagaimana kursi itu bisa berguna bagi pelanggan yang antri di luar restoran yang sibuk. Dengan, katakanlah, enam kursi diatur dalam antrean, pelanggan bisa duduk dan menunggu sampai mereka mencapai garis depan. Ketika seseorang mengosongkan kursi pertama untuk memasuki restoran, kursi kosong secara otomatis melaju ke bagian belakang jalur sehingga orang baru bisa duduk, sementara lima kursi yang tersisa, dan orang-orang yang duduk di dalamnya, secara otomatis mengarah ke bagian depan Garis di luar pintu masuk ke restoran.

Baca juga: Lihat Dampak Pada Kota, iCity-CATT Akan Tinjau Teknologi Pada Mobil Otonom

Perusahaan menyarankan agar ProPilot bisa menghilangkan kebosanan dan ketegangan fisik yang antri.

Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

PT Kereta Cepat Indonesia Cina (PT KCIC) masih saja berkutat dengan masalah pembebasan lahan untuk jalur kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Lamanya pergerakan dalam pembebasan lahan ini membuat relasi Indonesia dalam proyek ini, Cina seakan tidak sabar untuk segera melanjutkan proyek ini ke tahapan selanjutnya. Hingga ada pernyataan yang mengatakan, “Perlukah Beijing mempimpin proyek ini, atau bisa saja Beijing mengundurkan diri menjadi partner”.

Baca Juga: Tidak Gunakan APBD, Pembangunan Kereta Cepat Tersandung Masalah Pembebasan Lahan

Proyek senilai lebih dari US$5 miliar ini merupakan sebuah konsorsium perusahaan dari dua negara, yang juga bertanggung jawab atas konstruksi serta pengoperasiannya. Ini juga merupakan kartu As Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan infrastuktur transportasi di Indonesia.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (10/8/2017), dalam sebuah pertemuan pada akhir bulan Juli kemarin, Presiden Jokowi mempertanyakan kinerja Menteri Transportasi dan pejabat terkait lainnya mengenai minimnya progress dari proyek kereta cepat Jakarta – Bandung ini.

Sejak menghadiri seremoni groundbreaking pada bulan Januari 2016 lalu, namun orang nomor satu di Indonesia ini tidak melihat adanya perkembangan signifikan dari proyek ini. Pihak PT KCIC juga mengaku belum menerima pinjaman yang disepakati dengan sebuah bank di Cina pada bulan Mei kemarin karena pihak KCIC telah gagal memenuhi persyaratan yang diajukan, salah satunya adalah urusan mengakuisisi lahan yang diperlukan.

Ada sedikit kecurangan yang dilirik Jokowi manakala pihak konsorsium mengklaim sudah berhasil mengakuisisi 85 persen lahan yang dibutuhkan pada bulan Januari lalu, namun angka tersebut tidak sama dengan laporan yang masuk pada bulan Juli kemarin, yaitu hanya sebesar 55 persen. Dari situ, Presiden Jokowi menganggap pihak PT KCIC telah melebih-lebihkan angka perkembangan pembebasan lahan tersebut.

Baca Juga: CRH380A, Kereta Tercepat Kedua di Dunia, Siap Layani Jalur Jakarta – Bandung

Pinjaman dari pihak Cina tidak akan cair sebelum PT KCIC berhasil mengakuisisi 100 persen lahan yang hendak dijadikan prasarana transportasi tersebut, dan memaksa pihak Indonesia untuk mempertimbangkan konsesi tambahan untuk mendapatkan dana dengan lebih cepat. Konsorsium tersebut sebelumnya diberi hak untuk mengoperasikan kereta cepat Jakarta – Bandung tersebut selama 50 tahun, terhitung sejak tanggal 31 Mei 2019.

Namun karena hampir tidak mungkin proyek ini selesai pada 2019, maka pihak Indonesia setuju untuk merevisi ketentuan kesepakatan tersebut menjadi 50 tahun terhitung sejak tanggal selesainya pembangunan. Dengan begitu, pihak Cina memiliki lebih banyak waktu untuk menutup investasinya.

Ada juga beberapa pihak menyarankan agar Cina menaikkan sahamnya menjadi sekitar 90 persen dari yang saat ini hanya 40 persen, dan meminta Cina untuk memimpin proyek tersebut. Diketahui sebelumnya, pihak Indonesia akan menjalin kerja sama dengan menghadirkan bullet train khas Jepang, Shinkansen. Namun tawaran Cina tentang kemitraan publik – swasta tanpa biaya membuat pihak Indonesia tergoda, dan lalu meninggalkan Jepang. Kontrak tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden Jokowi pada bulan Oktober 2014 silam.

Baca Juga: Sistem Deteksi Dini Bencana Lengkapi Teknologi Kereta Cepat Jakarta – Bandung

Konsorsium tersebut mendesak pemerintah untuk menanggung biaya jika proyek tersebut gagal. Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa kaitan kereta api pada dasarnya merupakan inisiatif bisnis swasta terlepas dari fakta bahwa perusahaan yang memimpin proyek tersebut adalah milik negara.

Bak berjalan di atas treadmill, proyek ini hampir tidak menunjukkan kemajuan di lapangan dalam kurun waktu dua tahun ke belakang. Bahkan, sempat tersiar kabar bahwa ada pembicaraan yang menjurus ke perubahan rute. Lalu, bagaimana nasib proyek ini ke depannya?

Antara Viaduct, MRT dan Pergeseran Makna

Proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang tengah dikerjakan di sejumlah titik di Jakarta Selatan kerap kali menimbulkan kemacetan. Walaupun sebagian jalur MRT tersebut merupakan jalur bawah tanah, namun untuk jalur Lebak Bulus – Senayan yang tengah digarap tersebut lebih banyak menggunakan viaduct, dimana nantinya moda MRT akan beroperasi di atas jembatan. Hingga kini, PT. MRT Jakarta (PT MRTJ) masih berusaha untuk menuntaskan pembangunan jalur MRT yang diketahui sudah hampir rampung tersebut.

Baca Juga: Barelang, Jembatan Dengan Seribu Nama dan Cerita

Adapun William Sabandara selaku Direktur Utama PT MRT Jakarta mengutarakan ambisinya yang percaya proyek ini akan selesai dalam waktu dekat. “Kami masih optimis hingga akhir tahun ini perkembangan dapat mencapai angka 93 persen,” ujarnya seperti yang diliput KabarPenumpang.com, Senin (14/8/2017). Sedangkan Agung Wicaksono selaku Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakartra, menyampaikan kesiapan operasi MRT secara keseluruhan per tanggal 4 Agustus kemarin. “Kini kita sudah berada di posisi 25,58 persen. Termasuk kesiapan institusi, mitra dan sumber daya manusia,” jelas Agung.

Memang, secara fisik jembatan-jembatan yang nantinya akan digunakan sebagai lintasan MRT sudah mulai menghiasi beberapa titik di Ibu Kota, khususnya daerah Jakarta Selatan. Viaduct yang digunakan oleh MRT ini merupakan salah satu solusi yang ditempuh mengingat ketidaktersediannya lahan di darat. Proyek moda transportasi masa depan Jakarta ini, khususnya di pengerjaan fisik, tengah fokus terhadap box girder dan parapet. Setelah itu semua selesai, maka pekerjaan akan dilanjutkan pada pemasangan rel, pengerjaan track sleeper, dan pemasangan OCS.

Baca Juga: Cikubang, Jembatan Kereta Terpanjang di Indonesia

Berbicara soal viaduct, beberapa dari Anda mungkin masih menerka-nerka apa sih viaduct itu. Viaduct sendiri merupakan sebuah jembatan atau jalan di atas jalan raya, jalan kereta api, di atas lembah atau sungai yang lebar. Secara etimologis viaduct berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti melalui jalan atau menuju sesuatu arah. Dengan kata lain, viaduct sendiri merupakan sebutan lain untuk sebuah jembatan.

Sumber: istimewa

Melirik ke kota dengan julukan Paris van Java, Bandung, kota ini juga memiliki sebuah viaduct yang dimana istilah tersebut sudah menjadi identifikasi kawasan. Viaduct di Bandung sendiri terkenal karena dijadikan salah satu latar pengambilan gambar dari beberapa sinetron Tanah Air. Adapun moda yang melintasi di atas viaduct Bandung adalah kereta api yang mengarah ke stasiun Kiaracondong yang terletak di Bandung Timur. Letaknya tidak terlalu jauh dari Stasiun Bandung, dan disinyalir sudah berdiri tegak sejak era kolonial Belanda.

Baca Juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Lain halnya dengan di Surabaya, dimana viaduk diasosiasikan dengan jalan kereta api melintasi samping Tugu Pahlawan atau jalan kereta api yang melintasi Jalan Kertajaya. Dengan kata lain, sudah terjadi pergeseran makna dari istilah viaduct sendiri.

Pemerintah Berencana Pangkas Pajak Penjualan Sedan, Jalanan Bakal Tambah Macet?

Kendaraan jenis sedan hingga saat ini masih termasuk barang mewah dengan pajak yang diberikan terbilang tinggi. Akibat tingginya ini, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berencana memotong pajak penjualan domestik yang bertujuan untuk mencegah agar produksi tidak tenggelam atau hilang.

Baca juga: Atasi Masalah Polusi, Inggris Larang Mobil Diesel dan Bensin di Tahun 2040

Rencana penurunan pajak pejualan sedan domestik ini juga dalam upaya untuk mempromosikan negara Indonesia di pasar mobil Asia Tenggara sebagai pusat manufaktur sedan. Dikarenakan sedan masuk dalam kategori barang mewah maka dikenakan pajak lebih tinggi sekitar 30 sampai 40 persen. Adapun rencana pemotongan pajak penjualan sedan ini telah dimasukkan dalam revisi Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang mewah yang akan segera diajukan ke parlemen.

“Berapa pengurangannya dan dampaknya akan dibahas lebih lanjut sebelum keputusan diambil,” kata Pemimpin studi kebijakan pendapatan di bidang keuangan Kantor Kebijakan fiskal Kementerian, Goro Ekanto yng dikutip KabarPenumpang.com dari reuters.com (14/8/2017).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, dengan memotong pajak, pemerintah berharap bisa membuat produsen mobil memproduksi lebih banyak sedan bukan hanya untuk pasar domestik tetapi juga untuk di ekspor keluar negeri.

“Kami berharap dapat meningkatkan potensi untuk mengekspor sedan dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan membawa pajak pada sedan agar selaras. Di pasar global, permintaan sedan jauh lebih tinggi daripada SUV MPV (versus multi-purpose vehicles)  dan SUV (sport utility vehicle),” kata Hartanto.

Baca juga: Serap Pengguna Mobil Listrik Lebih Banyak, Queensland Gratiskan Electric Super Highway

Indonesia mengenakan pajak penjualan 30 persen atas penjualan sedan dengan kapasitas silinder hingga 1.500 sentimeter kubik (cc), sementara penjualan sedan 1.500-3.000 cc dikenai pajak sebesar 40 persen. Sebaliknya, penjualan MPV yang lebih kecil saat ini dikenakan pajak sebesar 10 persen, sementara model yang lebih besar dikenai pajak sebesar 20 persen.

Sejumlah merek menjual sedan di Indonesia, termasuk Honda Motor dan Toyota Motor yang memiliki pangsa terbesar dari total penjualan mobil di Tanah Air. Namun produsen mengatakan bahwa perbedaan tarif telah membuat mereka enggan memproduksi sedan di Indonesia, yang melampaui Thailand sebagai pasar mobil terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir dan tumbuh sebagai basis produksi regional.

Asosiasi Produsen Mobil Negara (Gaikindo) telah mengusulkan agar tarif penjualan sedan lebih kecil dikurangi menjadi 10 persen agar sesuai dengan MPV. Sebanyak 533.903 kendaraan, termasuk sedan, dijual di pasar domestik pada semester pertama 2017, naik 0,3 persen dari tahun lalu. Pada 2016, sedan menyumbang sekitar dua persen dari 1,1 juta mobil yang terjual.

Baca juga: Sensor 3D Vayyar, Pasangan Cocok Untuk Mobil Otonom

“Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak sedan jika tarif pajaknya terpotong, namun industri harus fokus pada pasar domestik terlebih dahulu, sebelum ekspor,” kata ketua umum Gaikindo Jongkie Sugiarto.

Meski rencana diatas mendapat sambutan hangat dari dunia industri, tak sedikit yang mengkhawatirkan kian macetnya kondisi jalan raya bila biaya pajak mobil diturunkan. Disisi lain, untuk menakan angka kemacetan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempertimbangkan kenaikan tarif parkir hingga Rp50.000 per dua jam, yang akan diberlakukan pada Oktober mendatang.

17 Agustusan, PT KAI Gratiskan Tarif Semua Kereta Komuter di Jawa dan Sumatera

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang akan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi pecinta kereta, pasalnya PT Kereta Api Indonesia (Persero) akan menggratiskan seluruh biaya perjalanan kereta komuter yang terdiri dari KRL (Kereta Rel Listrik), Kereta Rel Listrik (KRL), dan kereta api lokal lainnya.

Baca juga: Jadwal dan Tarif Kereta Komuter di Jawa dan Sumatera

Dirangkum KabarPenumpang.com, tiket kereta gratis pada 17 Agustus 2017 bisa dinikmati penumpang dan pecinta kereta pada 33 kereta api lokal dengan 199 perjalanan dan 918 perjalanan KRL. Pada penggratisan tiket ini, kapasitas penumpang yang bisa diangkut mencapai 1.216.349 orang yang terbagi atas 150.827 penumpang di kereta lokal dan 1.065.522 untuk penumpang KRL.

“Memperingati hari kemerdekaan, maka masyarakat harus merdeka juga dalam menggunakan kereta api,” ujar Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro di Balai Yasa, Manggarai yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com (15/8/2017).

Baca juga: Oktober 2017, Stasiun ‘Modern’ Bekasi Timur Siap Beroperasi Layani Jalur KRL

Edi mengatakan, langkah perseroan menggratiskan tiket perjalanan KA lokal dan KRL ini merupakan persembahan dari PT KAI dalam memperingatai Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72 tahun. Untuk diketahui, tiket gratis ini tidak bisa dipesan, melainkan harus ‘dibeli’ tiga jam sebelum keberangkatan atau go show di stasiun langsung.

Memang dikatakan membeli tiket, tetapi harga yang akan tercantum di tiket Rp0 dan tidak berlaku untuk pemesanan H-7 sebelum keberangkatan. Tetapi, bila penumpang yang tidak tahu dan sudah membeli tiket jauh-jauh hari, bisa menggembalikan langsung ke stasiun dengan harga tiket full.

Baca juga: Rebutan Kursi Sampai Jambak-Jambakan di KRL Jabodetabek

Berikut daftar kereta api lokal yang bebas biaya tiket perjalanan tanggal 17 Agustus 2017:
1. Cut Meutia Kruengmane – Kruenggeukeuh
2. Sri Lelawangsa Medan – Binjai
3. Sibinuang Padang – Pariaman
4. Lembah Anai Kayutanam – Lubukalung
5. Kertalaya Kertapati – Indralaya
6. Seminung Tanjungkarang – Kotabumi
7. Way Umpu Tanjungkarang – Kotabumi
8. Lokal Merak Rangkasbitung – Merak
9. Jatiluhur Cikampek – Tanjungpriok
10. Cilamaya Ekspres Purwakarta – Tanjungpriok
11. Walahar Ekspres Purwakarta – Tanjungpriok
12. Pangrango Bogor – Sukabumi
13. Bandung Raya Ekonomi Cicalengka – Padalarang
14. Patas Bandung Raya Cicalengka – Padalarang
15. Cibatuan Cibatu – Purwakarta
16. Siliwangi Cianjur-Sukabumi
17. Kedung Sepur Semarangponcol – Ngrombo
18. Kaligung Semarangponcol – Brebes
19. Blora Jaya Semarangponcol – Cepu
20. Prameks Solobalapan – Kutoarjo
21. Batara Kresna Purwosari – Wonogiri
22. Kalijaga Solobalapan – Semarangponcol
23. Dhoho Surabayakota – Blitar
24. Dhoho Penataran Surabayakota – Blitar
25. Penataran Surabayakota – Blitar
26. Penataran Dhoho Surabayakota – Blitar
27. Tumapel Surabayakota – Malang
28. Jenggala Sidoarjo – Mojokerto
29. Ekonomi lokal sb-kts Surabayakota – Kertosono
30. Ekonomi lokal sda-bj Sidoarjo – Bojonegoro
31. KRD sgu-pr Surabayakota – Porong
32. KRD sbi-lmg Surabayapasarturi – Lamongan
33. Pandanwangi Jember – Banyuwangi
34. KRL Jabodetabek Semua rute.

Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati

Jika Anda melewati daerah perempatan Fatmawati, Jakarta Selatan, Anda akan melihat sebuah jembatan yang melintang di atas tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) TB Simatupang. Jembatan ini berdiri seiring dengan melajunya proyek Mass Rapid Transit yang tengah dikerjakan oleh PT MRT Jakarta. Mungkin sebagian dari Anda akan bertanya-tanya mengenai pembangunan jembatan tersebut, karena diketahui, pembangunan jembatan tersebut sama sekali tidak mengganggu lalu lintas di tol lingkar luar Jakarta. Adapun, PT MRT Jakarta menyebutnya sebagai Special Bridge.

Baca Juga: Sistem Tiket MRT Jakarta Mengacu Ke Singapura, Paling Jauh Ditaksir U$1

Perwakilan konsorsium kontraktor Tokyu-Wijaya Karya yang menangani pengerjaan Stasiun Fatmawati, Sony, mengatakan Special Bridge tersebut memiliki panjang kurang lebih sekitar 170 meter dengan ketinggian 25 meter dari permukaan jalan tol. Jembatan ini berkelok dari arah Jl. TB Simatupang menuju Jl. Fatmawati.

Berdasarkan hasil pantauan KabarPenumpang.com di lapangan, Senin (14/8/2017), Silvia Halim selaku Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta mengatakan tidaklah memungkinkan jika ada kolom atau pilar jembatan di tengah jalan tol. “Sehingga ada bentang panjang sejauh 77 meter melintasi jalan tol JORR,” ungkapnya.

Proses penyatuan jembatan di titik tengah.

Maka dari itu, tambah Sony, diperlukan sebuah metode khusus untuk memasang jembatan tersebut sehingga tidak mengganggu lalu lintas di jalan tol JORR tersebut. “Kami memasang Special Bridge dengan cara cor di tempat (di atas jembatan). Balance Cantilever dengan sistem Form Traveler yang memungkinkan beton box-nya menggantung di atas dan akan bergerak maju,” terang Sony. Balance Cantilever sendiri merupakan metode pengerjaan jembatan dari kedua sisi secara segmental dan akan bertemu di titik tengah. Sedangkan Form Traveler merupakan alat yang digunakan untuk menopang/menggantung material guna pengecoran beton box tersebut.

Baca Juga: MRT Jakarta: Mulai Lakukan Fase Pertama Pembangunan Interior Stasiun

Lebih lanjut, Sony mengatakan penggunaan metode ini merupakan alternatif pemasangan jembatan dengan metode konvensional, yaitu dengan cara memasang beton pra-cetak (precast). “Tidak mungkin kami menggunakan cara seperti itu, karena metode konvensional tersebut membutuhkan pilar di tengah tol JORR,” tukasnya. “Supaya proyek ini tetap jalan, kami menyiasatinya dengan menggunakan metode Balance Cantilever tersebut. Ada beberapa hal yang kami pertimbangkan agar proyek MRT ini bisa tetap jalan dan cepat rampung,” kata Sony.

Sony mengaku, pihaknya melakukan pengerjaan jembatan di atas jalan tol JORR ini kurang lebih selama empat bulan, dimana tiap satu segmen atau setara dengan empat meter membutuhkan waktu pengerjaan selama sembilan hari. Kini, keberadaan jembatan di tingkat teratas jalur transportasi di persimpangan Jl. TB Simatupang – Jl. Fatmawati ini sudah rampung. “Kini kami sedang memasang parapet (dinding besi yang bisa meredam suara MRT) di sepanjang jembatan yang berbelok 90 derajat tersebut.” Tutup Sony.

Akankah Masalah Keamanan Jadi Penghalang Perluasan Hubungan Indonesia – Filipina?

Layanan kapal ferry roll-on roll-off (ro-ro) untuk rute Davao-General Santos (Mindanao) -Bitung (Indonesia) telah ditahan selama beberapa minggu sekarang karena volume kargo yang lebih rendah. Asian Marine Transport Corp. (AMTC), yang mengoperasikan layanan ini, saat ini tengah mempertimbangkan sebuah kapal dengan kapasitas hanya 100 kontainer untuk menggantikan kapal dengan kapasitas 500 kontainer yang digunakan sejak pelayaran perdananya.

Baca Juga: Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman business.mb.com.ph (8/8/2017), layanan mingguan anyar ini merupakan sebuah usaha di bawah naungan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Ro-Ro Project dan Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines-East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA). Layanan yang menghubungkan Mindanao di Filipina dan Sulawesi di Indonesia ini diluncurkan pada 30 April lalu yang diresmikan oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dan Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Konsul Jenderal Indonesia Berlian Napitupulu mengatakan pemerintah Indonesia menggandakan usaha yang berkoordinasi dengan sektor bisnis kedua negara untuk memperluas hubungan dan meningkatkan perdagangan. Diketahui, Konsulat Indonesia di Davao baru-baru ini mengakhiri pameran tiga hari yang menampilkan produk dan acara networking Indonesia untuk bisnis kedua belah pihak. Konsulat juga berencana membawa pengusaha Filipina ke Bitung bulan Agustus ini untuk mengeksplorasi peluang kemitraan yang masih tersembunyi.

Lebih lanjut, Berlian mengatakan butuh seorang penengah dalam usaha tersebut. “Harus ada seseorang untuk mengkonsolidasi kargo diantara kedua belah pihak, di Indonesia dan Mindanao,” ujarnya seperti yang tertera di laman sumber. “Saya berharap kedua belah pihak dapat menjalin kerja sama ini, banyak kepentingan kami yang kompatibel,” tambah Berlian.

Departemen Perdagangan dan Industri Filipina sebelumnya mengatakan bahwa rute tersebut akan memberikan akses lebih besar bagi pengusaha lokal, terutama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), untuk terlibat dalam perdagangan internasional, serta merangsang bidang pembangunan lainnya seperti pariwisata dan lain-lain. Tidak hanya itu, akses yang diberikan oleh Departemen Perdagangan dan Industri Filipina juga meliputi promosi pembentukan jaringan penerbangan langsung, serta peningkatan dari segi aurs investasi. Di sisi lain, produk yang akan turut dipasarkan meliputi makanan, minuman, pakaian, serta barang elektronik.

Baca Juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Rute Davao – General Santos – Bitung merupakan alternatif yang lebih cepat daripada rute Manila – Jakarta – Bitung, yang memakan waktu sekitar tiga sampai lima minggu pengiriman. Sementara pengiriman langsung melalui layanan baru ini hanya akan memakan waktu satu setengah hari berlayar, namun waktu tersebut tidak termasuk masa tinggal di pelabuhan. Pelayaran perdana dimulai dari Kudos Port di Sasa, Davao, kemudian singgah di General Santos International Port sebelum menuju ke pelabuhan akhir di Bitung, Manado, Indonesia.

Lokasi layanan baru ini seolah mengingatkan kita tentang Pulau Miangas, sebuah pulau yang secara geografis terletak di wilayah paling utara dari Indonesia. Secara administratif, pulau yang berjarak 77 Km dari Pulau Mindanao ini merupakan bagian dari kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Dilansir dari sumber terpisah, pada bulan Mei kemarin, seorang pemerhati masalah perbatasan Sulawesi Utara, Pitres Sombowadile meminta pihak TNI untuk terus siaga terkait dengan kondisi di Kota Marawi, Filipina yang sempat memanas akibat aksi baku tembak antara militer dengan kelompok bersenjata jaringan ISIS. Menurutnya, wilayah perbatasan di sebelah utara Indonesia sangat terbuka. Oleh karena itu, demonstrasi kesiagaan menjadi penting agar bisa mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan tersebut.

Baca Juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia

Lebih lanjut, antisipasi tersebut sejalan dengan imbauan Kementerian Luar Negeri RI yang meminta semua WNI yang berada di Filipina untuk terus wasapada, meski Marawi bukan tempat konsentrasi WNI di negara itu.