Tangki Toilet Kosong Saat Mendarat, Patut Diduga Pesawat Buang Kotoran di Udara

Pengadilan lingkungan India, akan mulai memberikan denda pada maskapai yang mengosongkan tangki toilet mereka saat berada di udara sebesar 50.000 rupee atau £600. Langkah ini diambil setelah seorang pensiunan jenderal mengkalim bahwa maskapai penerbangan sering membuang limbah manusia di rumahnya dekat dengan Bandara Internasional Indira Gandhi Delhi.

Baca juga: Toilet di Pesawat, Fungsi Sama Aturan Sedikit Beda

Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, kementerian penerbangan India mengkonfirmasi bahwa kotoran tersebut berasal dari rumah pria itu tetapi belum dibuktikan secara jelas apakah ada juga yang berasal dari pesawat yang sedang terbang. Tetapi, pihak pengadilan kemudian memutuskan kepada pihak berwenang untuk melakukan inspeksi langsung terhadap pesawat-pesawat, apakah tangki limbah pesawat telah dikosongkan di udara.

Inspeksi yang dilakukan tersebut dengan memeriksa tangki pembuangan kotoran yang tidak kosong saat mendarat. Bila setiap pesawat yang diperiksa ternyata tangki limbah kosong, maka harus membayar denda sebesar £600. Para prosedur standar, ground crew bandara dalam unit lavatory service akan mengosongkan tangki limbah setelah pesawat mendarat. Namun, seringkali terjadi insiden kebocoran, sehingga kotoran dari tangki dibuang ke daerah pemukiman. Perihal tangki kosong atau penuh, tentu harus dilihat berapa jumlah penumpang yang dibawa dan jarak penerbangan, jadi ketentuan ini tak bisa dipukul rata.

Tak hanya laporan dri seorang jenderal yang merasa rumahnya terkena ceceran kotoran dari pesawat, seorang wanita India pun menderita luka parah pada bahunya saat terkena jatuhan sepotong es besar dari langit. Ahli penerbangan mengatakan bahwa material tersebut adalah kristal biru. Ini merupaka nama yang diberikan untuk limbah manusia yang beku dan terbentuk di toilet pesawat terbang. Nama ini juga merujuk pada istilah bahan kimia biru yang digunaakan di toilet.

Diketahui, ada sekitar 25 kasus limbah manusia yang jatuh dari pesawat di Inggris dari laporan setiap tahunnya. Sedangkan masalah es biru ini tidak terbatas pada India. Tahun lalu, dua orang pensiunan di Wiltshire mengatakan bahwa kristal kuning dan cokelat telah jatuh dan menembus atap rumah mereka.

Baca juga: Setiap Pintu Toilet di Kabin Pesawat Ternyata Punya “Kunci Rahasia”

“Tidak ada cara untuk membuang isi toilet selama penerbangan,” jelas Patrick Smith, seorang pilot dan penulis Cockpit Confidential. Smith mengatakan, krista; biru tersebut akan disedot ke dalam tangki truk saat berada di bandara dan pengemudi truk dengan sembunyi-sembunyi membuang sampah tersebut ke selokan belakang tempat parkir.

“Seorang pria di California pernah memenangkan sebuah tuntutan hukum setelah potongan-potongan es biru jatuh dari sebuah pesawat dan menabrak langit-langit perahu layarnya. Kebocoran, memanjang dari pasak eksterior toilet, menyebabkan limpasan untuk membekukan, membangun, dan kemudian jatuh seperti bom es neon.

Sebelum dekade 80-an, kotoran manusia memang akan dibuang saat pesawat sedang mengangkasa, namun sejak 1982, setelah James Kemper menemukan toilet modern dengan sistem hisap dan sedikit air, kotoran manusia tidak lagi dibuang selagi terbang, sistem ini pertama kali digunakan pada pesawat Boeing pada tahun 1982.

“Tidak mungkin membuang kotoran dari toilet saat pesawat terbang. Baru saat pesawat mendarat di bandara tujuan, cairan biru dan kotoran di dalam toilet disedot oleh truk pengangkut kotoran dan dibuang di tempatnya,” jelas Patrick Smith. Saat dipindahkan itu, semua kotoran itu sudah berwarna biru dan nyaris berbentuk cair seutuhnya. Pada beberapa kasus, suhu dingin di angkasa membuat cairan kotoran yang sudah tercampur desinfektan itu membeku sehingga disebut kristal biru.

“Double Bubble,” Konsep Pesawat Unik Berbahan Bakar Ramah Lingkungan

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Friends of the Earth pada tahun 2009 silam, secara mengejutkan muncul fakta yang menunjukkan bahwa perjalanan via udara merupakan penyebaran zat-zat berbahaya tercepat di dunia. Hingga saat ini, biofuel masih diujicoba untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan tersebut, namun dengan prediksi lalu lintas udara akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035 mendatang, tentu seluruh perusahaan terkait perlu mempertimbangkan suatu perubahan mendasar untuk membuat langkah yang signifikan.

Baca Juga: Bicara Dimensi dan Bobot, Lima Pesawat Ini Masih Juara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com, pesawat D “double bubble” diperkenalkan oleh pihak MIT (Massachusetts Institute of Technology) kepada NASA sebagai pesawat yang mampu mengurangi polusi di udara dan meningkatkan sekitar 70 persen penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan, penurunan tingkat kebisingan, tingkat emisi nitrogen oksida (NOx) yang lebih rendah, hingga penggunaan landas pacu yang lebih pendek.

D “double bubble” ini memiliki sayap yang panjang dan ramping, ekor yang pendek, dan sesuai dengan namanya, mengganti badan pesawat pada umumnya dengan fuselage parsial yang ditempatkan berdampingan. Untuk urusan mesin, D “double bubble” menyimpan mesin di bagian belakang fuselage, tidak seperti kebanyakan pesawat yang menyimpannya di bagian sayap. Penyimpanan mesin ini merupakan pengaplikasian dari teknik Boundary Layer Ingestion (BLI).

“Berbagai studi yang diperkuat dengan analisa mendetail telah menunjukkan bahwa propulsor yang memanfaatkan lapisan batas (boundary layer) memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar secara signifikan,” ungkap salah seorang teknisi NASA,  David Arend, dilansir dari sumber terpisah. “Jika desain dan teknologi baru ini dapat disempurnakan, maka propulsor BLI akan mengeluarkan daya dorong dengan daya masuk yang lebih sedikit,” imbuhnya.

Baca Juga: Eva Air Tampilkan Tema Hello Kitty di Boeing 777-300ER

Walau disinyalir dapat meminimalisir penggunaan bahan bakar, namun pengaplikasian BLI akan menurunkan laju pesawat hingga 10 persen dibandingkan dengan pesawa sekelas Boeing 737, yang rencananya akan digantikan oleh D “double bubble”.

Proyek yang dipimpin MIT ini merupakan hasil dari kontrak senilai US$2,1 juta yang diberikan oleh NASA pada tahun 2008 silam sebagai bagian dari program penelitian aeronautika yang bertujuan untuk mengoperasikan pesawat yang lebih ramah lingkungan pada tahun 2035 mendatang.  Diketahui, Boeing, GE Aviation dan Northrop Grumman juga ikut serta dalam program ini.

Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia

Negeri Kangguru patut berbangga karena maskapai kebanggaan mereka, Qantas Airways dianugerahi predikat maskapai teraman di dunia oleh Situs pengulas penerbangan, Airlineratings.com tertanggal 5 Januari 2017. Penyematan gelar tersebut bukan tanpa alasan, pihak Airlineratings.com melihat tidak adanya catatan kecelakaan selama 96 tahun pengabdian mereka di dunia aviasi. Perlu diketahui, ini merupakan tahun ke empat maskapai berjuluk “The Flying Kangaroo” tersebut menduduki peringkat puncak maskapai teraman di dunia.

Baca Juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (6/1/2017), predikat membanggakan ini juga telah diakui oleh pihak British Advertising Standards Association, yang menyebutkan bahwa Qantas merupakan salah satu maskapai senior yang mengedepankan aspek keamanan penumpang. Dalam mencari jawara di kategori ini, Airlineratings.com mendata sebanyak 425 maskapai, dan memberikan mereka bintang tujuh jika mereka lolos penilaian di bidang keselamatan. 148 maskapai mendapatkan nilai tinggi dalam penilaian ini, namun 50 lainnya mendapat penilaian yang kurang baik.

Diketahui dari laman sumber, Airlineratings.com mempertimbangkan beberapa faktor dalam pemberian bintang terhadap ratusan maskapai tersebut, seperti catatan kecelakaan, hingga sertifikasi dari International Air Transport Association (IATA) untuk beberapa maskapai yang terdaftar dalam penerbangan di Uni Eropa. Sementara itu, penilaian akan berkurang jika ada maskapai yang hanya mengoperasikan pesawat buatan Rusia.

Ketika penilaian tersebut sudah mengerucut ke angka 20, pihak Airlineratings.com turut membandingkan sejarah penerbangan dan keunggulan masing-masing maskapai. Selain induk perusahaan dari Jetstar Airways ini, beberapa nama lain yang juga masuk ke dalam jajaran maskapai dengan penerbangan teraman di dunia adalah Air New Zealand, Etihad, Finnair, KLM, Lufthansa, Swiss, dan United Airlines. Secara mengejutkan, nama American Airlines dan Emirates terdepak dari peringkat 20 besar maskapai teraman di dunia, padahal tahun lalu, keduanya sempat mejeng di jajaran tersebut.

Dilansir dari sumber terpisah, Qantas juga memimpin dalam hal pemantauan mesin secara real-time di seluruh armadanya dengan menggunakan komunikasi satelit. Cara tersebut memungkinkan maskapai untuk mendeteksi masalah sebelum menjadi isu keamanan pesawat membesar.

Baca Juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London

“20 maskapai teraman yang kami rangkum selalu berada di garis depan inovasi keselamatan, keunggulan operasional dan peluncuran pesawat baru yang lebih maju,” ungkap Geoffrey Thomas, editor dari laman AirlineRatings.com. “Mereka selalu mengedepankan keselamatan selama penerbangan,” imbuh Geoffrey.

Sementara itu, nasib buruk dialami Afghanistan, Nepal, Suriname, dan Indonesia karena ke-empat negara ini harus rela mendapatkan hanya satu bintang dari AirlineRatings.com karena penyedia layanan penerbangannya tidak mengedepankan nilai-nilai keamanan. Itu berarti, ada banyak yang mesti dibenahi dari dunia aviasi dalam negeri agar penilaian tersebut bisa membaik dan mengembalikan kepercayaan orang-orang untuk menggunakan maskapai domestik.

Bandara Nusawiru, Penunjang Wisata Pangandaran dan Olahraga Dirgantara

Tak banyak kesibukan di Nusawiru, namun bandara yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Perhubungan Jawa Barat ini mempunyai ke khasan tersendiri, berlokasi tak jauh dari kawasan pantai, menjadikan keindahan Nusawiru dari ketinggian angkasa menarik hati bagi para penggemar olahraga dirgantara, tak heran bila di Nusawiru cukup lekat dengan aktivitas skydiving.

Baca juga: Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi

Tak itu saja, di bandara yang punya landas pacu 1.400 meter ini juga terdapat dua sekolah penerbangan, yakni Bandung Pilot Academy dan Perkasa Pilot Academy. Meski bukan berstatus bandara militer, instansi TNI dan Polri cukup sering menggunakan bandara ini sebagai basis latihan penerjunan (terjun payung). Padahal jika disinggung dari aspek keamanan, dekatnya lokasi bandara dengan perairan kurang baik. Untuk itu dalam setiap kegiatan penerjunan selalu melibatkan komponen SAR.

Bandara Nusawiru berlokasi di Cijulang, yang titiknya tak jauh dari lokasi wisata Pangandaran tepatnya di kabupaten Ciamis. Untuk menuju Nusawiru, dari Green Canyon berjarak sekitar enam kilometer, dari pantai Batu Karas 12 km dan 30 km dari Pananjung. Saat ini penerbangan dari Nusawiru dioperasikan oleh PT ASI Pujiastuti Aviation dengan pesawat Susi Airnya yang melayani rute ke Jakarta, Bandung, Cilacap dan Bandar Lampung.

Bandara Nusawiru tampak atas terlihat laut di depannya

Dari kapasitas, bandara seluas 50 hektar ini baru dapat didarati pesawat sekelas CN-235, ATR-72, NC-212, dan pesawat caravan. Nusawiru sempat ditutup pada masa reformasi, dan buka kembali pada tahun 2004 dengan sebuah maskapai penerbangan merpati Airlines, namun tidak bertahan lama.

Dengan fasilitas menara pengawas penerbangan (ATC), Bandara Nusawiru saat ini memiliki panjang landasan pacu masih 1.400 meter. Namun, Pemprov Jabar berhasil membebaskan lahan untuk perluasan runway tersebut sepanjang 800 meter, sehingga menjadi 2.200 meter. Bila panjang runway hingga 2200 meter, maka akan sama dengan panjang runway milik bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Nantinya jika landasan pacu sudah di perpanjang, maka bandara Nusawiru akan bisa disinggahi oleh pesawat berbadan menengah sekelas Airbus 320 dan Boeing 737-200. Pengembangan Bandara Nusawiru juga dilirik oleh beberapa negara karena posisinya yang strategis di wilayah selatan Jawa. Selain itu Nusawiru direncanakan akan menjadi titik utama destinasi wisata Jawa Barat Selatan karena potensi yang besar.

Baca juga: Bandara Blimbingsari, Andalkan Konsep Green Airport dan Kearifan Lokal

Sekertaris Daerah jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan Australia Selatan sudah beberapa kali join meeting dan menyampaikan permintaan resmi pada Pemprov Jabar untuk melakukan penerbangan langsung ke Nusawiru. “Dari Australia Selatan lebih dekat ke Pangandaran, potensi penumpangnya tinggi,” ujar Iwa yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com (13/3/2017). Pengembangan penerbangan wilayah selatan ini sudah menjadi target Pemprov Jabar untuk potensi ekonomi dan wisata. Diketahui, selain Australia Selatan dan empat negara Asean, ada empat provinsi di Cina yang juga bisa menjadi pasar potensial penerbangan ke selatan Jawa.

Pihak Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang kini menggarap proyek Bandara Majalengka kini mulai merespon bandara udara Nusawiru untuk dikembangkan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai Bandara Nusawiru di Pangandaran, Jawa Barat perlu dikembangkan. Menurut Budi, wilayah Jawa Bagian Selatan merupakan daerah yang sangat potensial dikembangkan potensi wisatanya karena itu dibutuhkan akses yang mudah ke sana. Terkait dengan Bandara Nusawiru, Menhub mengatakan bahwa Bandara ini harus diberi kesempatan untuk dibuka aksesnya ke kota-kota lain seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali dan sejumlah kota lainnya.

Terowongan Notog “Baru,” Siap Tembus Jalur Kereta Purwokerto-Kroya dengan Rel Ganda

Merujuk ke sejarahnya, terowongan kereta ini dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staats Spoorwegen (SS) direntang tahun 1914 hingga 1915, terowongan Notog terletak di Kabupaten Banyumas, Kecamatan Patikraja, Jawa Tengah ini merupakan salah satu terowongan lengkung yang ada di Indonesia. Walaupun ‘hanya’ memiliki panjang 260 meter, kita tidak dapat melihat ujung terowongan dikarenakan bentuk terowongan yang berbelok di dalam bukit.

Baca Juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

Tercatat, ada 19 terowongan kereta api yang tersebar di Jawa dan Sumatera, dua diantaranya dibangun pasca kemerdekaan Indonesia, yaitu Terowongan Eka Bakti Karya dengan panjang 850 meter dan Terowongan Dwi Bakti Karya dengan panjang 400 meter, keduanya dibangun pada tahun 1969 pada jalur kereta Malang-Blitar, Jawa Timur.

Ternyata, sejarah kembali terukir mana kala tiga buah terowongan kini tengah di bangun di Banyumas. Walaupun bukanlah terowongan pertama yang dibangun pasca kemerdekaan, namun salah satu dari terowongan ini akan memiliki double track atau jalur rel ganda. Adalah terowongan Notog baru yang hingga kini masih dalam pengeboran, sedangkan dua terowongan lainnya di bangun di daerah Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Ketiga terowongan di wilayah Banyumas ini menghungkan jalur rel Purwokerto-Kroya.

Merah: Terowongan Notog baru, Biru: Terowongan Notog lama. Sumber: istimewa

Berbeda dengan pembangunan yang pertama di era kolonial, terowongan Notog baru ini sudah menggunakan alat modern guna mempercepat waktu pembangunannya. “Kami berharap pada bulan Desember 2017 atau Januari 2018 sudah bisa tembus sehingga dapat segera dilakukan pengecoran beton,” tutur Apri Setiawan, General Manager Infrastruktur PT PP (Persero) yang dipercaya untuk mengembangkan proyek tersebut.

Selain itu, perkembangan jaman dan pola kerja yang berbeda dengan jaman Belanda membuat para pekerja terowongan ini seolah menangkis mentah-mentah soal rumor mengenai banyaknya korban jiwa yang berjatuhan ketika membangun terowongan Notog yang lama. Maka tidak heran jika ditemukan beberapa makam di atas terowongan Notog. Disinyalir, makam-makam tersebut merupakan tempat peristirahatan para pekerja yang tewas tersebut.

Pembangunan Terowongan Notog baru. Sumber: radarbanyumas.co.id

Apri mengaku, dalam pembangunan terowongan yang memiliki panjang 550 meter dengan diameter 9,3 meter yang sengaja dibangun agar bisa menampung dua rel ini, menghabiskan dana kurang lebih sekitar Rp 155,89 miliar. Didukung dengan 40 tenaga kerja yang terdiri dari delapan orang warga lokal sebagai helper, dan sisanya merupakan tenaga ahli, Apri berharap pembangunan terowongan ini rampung sepenuhnya pada Desember 2018. Pada awalnya, pembangunan terowongan ini ditargetkan selesai pada tahun 2017, namun terpaksa dijadwal ulang karena keterbatasan anggaran sehingga ditargetkan selesai pada akhir tahun 2018.

Baca Juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman pressreader.com (28/4/2017), bentuk dari terowongan Notog baru ini pun akan sama seperti pendahulunya, yaitu melengkung, dikarenakan mengikuti kontur bukit. Terowongan lama pun lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi pengeboran terowongan baru. “Jarak antara terowongan lama dan terowongan baru sekitar 300 meter, dan aman untuk konstruksi,” terang Apri. Untuk masalah ketahanan, Apri mengatakan terowongan ini mampu beroperasi hingga 100 tahun setelah pembangunan rampung.

Pembangunan terowongan dengan double track ini ditujukan untuk mendukung proyek jalur ganda yang akan membentang dari Purwokerto hingga Kroya. Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, Ixfan Hendriwintoko mengatakan jika proyek pembangunan jalur ganda selesai, tidak menutup kemungkinan ada penambahan rangkaian kereta api. “Dengan adanya jalur rel ganda, memungkinkan ada penambahan jumlah KA yang melintas.” Ujarnya dilansir dari sumber terpisah.

INKA CC300, Mampu Lintasi Banjir, Inilah Lokomotif Diesel Karya Anak Bangsa

Setelah PT Dirgantara Indonesia mampu memproduksi pesawat terbang dan PT Pindad sukses merilis kendaraan lapis baja (panser), kini giliran BUMN manufaktur kereta dan gerbong PT INKA menghadirkan karya unggulannya berupa lokomotif diesel hidraulik rancangan dalam negeri, DH CC300. Dengan warna merah yang mencolok, lokomotif made in Indonesia ini akan sangat mudah dikenali.

Lokomotif DH CC300 adalah hasil pengembangan yang dilakukan oleh PT INKA, menanggapi permintaan dari Direktorat Jendral Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada tahun 2009 lalu. Diketahui, Lokomotif CC 300 merupakan salah satu lokomotif diesel hidraulik di Indonesia yang digunakan khusus untuk keperluan dinas Ditjen Perkeretaapian.

Baca Juga: General Electric CC206, Generasi Lokomotif Termodern PT KAI

Walaupun lokomotif ini menggunakan mesin diesel milik salah satu perusahaan multinasional Amerika, Caterpillar, desain dan integrasi sistemnya murni hasil pemikiran insinyur Indonesia. Lokomotif dengan panjang 14,1 meter, lebar 2,6 meter, tinggi 3,6 meter, dan berat 84 ton ini dapat berlari di kecepatan maksimal 120 km per jam. Daya mesin dari Lokomotif CH CC300 ini adalah 2500 HorsePower (HP) dan memiliki gaya traksi sebesar 270 kN pada saat lokomotif mulai bergerak dari keadaan berhenti total. Dengan begitu, Lokomotif CC300 memiliki daya mesin yang lebih besar dari pesaingnya kala itu, CC206 buatan General Electric.

Tidak heran jika lokomotif dengan lebar gauge 1.067 mm dan menggunakan mesin diesel Caterpillar tipe 3512B HD ini pertama kali dioperasikan di wilayah Sumatera. Di sini, kereta api banyak digunakan untuk mengangkut hasil tambang, seperti batu bara dan lain-lain. Lokomotif ini diketahui dapat menarik 15 hingga 30 gerbong sekaligus.

Kelebihan lain dari lokomotif ini adalah desainnya yang memungkinkan untuk menerjang banjir. Lokomotif DH CC300 memiliki sistem kelistrikan terintegrasi dengan penggerak diesel hidrolik yang diletakkan di bagian atas lokomotif, sehingga memungkinkan kereta tetap melaju walau kondisi rel tergenang banjir setinggi 1 meter.

Inilah yang menjadi keunggulan yang ditawarkan oleh PT INKA jika dibandingkan dengan lokomotif sejenis buatan General Electric (GE), Amerika Serikat. Ketika lokomotif buatan GE menerjang banjir, tidak menutup kemungkinan akan terjadi korsleting karena sistem kelistrikan lokomotif asal Negeri Adikuasa ini terletak di bagian bawah.

Berbeda dengan lokomotif lainnya, lokomotif berbahan bakar high-speed diesel ini sudah dilengkapi dengan genset di dalamnya, sehingga tidak perlu lagi menarik 1 gerbong khusus untuk genset (gerbong genser) yang biasa kita lihat di kereta penumpang diesel pada umumnya. Genset ini nanti berfungsi untuk membangkitkan fasilitas elektronik di dalam kereta, seperti penerangan dan AC.

Baca Juga: Terima Tawaran dari Taiwan, PT INKA Siap-Siap Kembali “Kebanjiran” Order

Lokomotif dengan kapasitas bahan bakar 3.800 liter ini juga dilengkapi dengan kamera monitor pengintai. Kamera ini diletakkan di sisi kanan dan kiri lokomotif. Penambahan kamera ini tentunya akan membantu tugas Masinis untuk mengawasi keadaan penumpang di belakangnya tanpa perlu harus menengok ke belakang. Masinis cukup melihat dari layar monitor yang terdapat di dalam kabin.‎

Untuk kandungan komponen di dalam lokomotif, Direktur Produksi PT INKA, Hendy Hendratno Adji mengaku ada komponen yang harus didatangkan dari luar negeri seperti mesin penggerak (propulsi). Meski mengimpor mesin propulsi, INKA sendiri yang menentukan spesifikasi dan jenisnya. “Untuk komponen propulsi, kita memang masih beli dari luar negeri, tapi pemilihan komponen tersebut kita cari dan sesuaikan dengan hasil rancangan kita sendiri,” ujarnya. Sampai saat ini PT INKA telah memproduksi lima unit lokomotif CC300 pesanan Kemenhub.

Bandara Soekarno-Hatta Kini Dilengkapi AOCC Sebagai Command Center Real Time

Pendirian Airport Operation Control Center (AOCC) untuk mendukung Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi smart connected airport telah dilakukan dan diresmikan penggunaannya oleh PT Angkasa Pura II (Persero) Senin (11/9/2017) kemarin. AOCC adalah hasil kolaborasi dengan para pemangku kepentingan di bandara yang terdiri dari empat unsur yakni Airport Operator, Airline Operator, Air Navigation dan Authorities seperti karantina, bea cukai, imigrasi, kepolisian dan lainnya.

Baca juga: Airport Digital Cinema, Teknologi Baru Angkasa Pura II

Dalam pendirian AOCC, stakeholder terlibat karena mengintegrasikan pengelolaan seluruh sumber daya di bandara Soetta agar bisa beroperasi secara efektif dan efisien sehingga mengakomodir terwujudnya keselamatan, keamanan, pemenuhan atas regulasi dan pelayanan. Secara umum, fungsi AOCC yakni sebagai command center dalam mengawasi operasional di sisi udara dan darat serta mencakup seluruh aktivitas kedatangan dan keberangkatan di bandara.

“AOCC merupakan salah satu upaya AP II dalam mengimplementasikan sistem teknologi informasi di bandara atau kami sebut dengan pembangunan soft infrastructure. Pembangunan soft infrastructure ini guna mengimbangi pembangunan hard infrastructure seperti pembangunan terminal, apron, dan sebagainya yang telah kami lakukan. AOCC juga membutuhkan integrasi dari sistem yang dimiliki masing-masing stakeholder bandara sehingga dapat berjalan secara maksimal,” ujar Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (11/9/2017).

Awaluddin mengatakan, pendirian AOCC sendiri didasari dari pertumbuhan industri yang cukup signifikan setiap tahunnya dan membuat dinamika operasional semakin beragam. Dengan adanya AOCC maka seluruh aktivitas bandara bisa di pantau secara real time dari pusat kendali.

“Karena real time, kami optimis seluruh aspek berjalan dengan lancar sesuai regulasi disertai terciptanya ketepatan waktu atau punctuality pada operasional yang berujung pada peningkatan pelayanan kepada maskapai dan juga penumpang pesawat,” ujar Awaluddin.

AOCC di Bandara Soetta dilengkapi sejumlah modul seperti Airport Operation Database (AODB), Airport Management System (AMS), Resources Management System (RMS), Network Management System (NMS), Airport Security System (ASS), dan Facility Engineering Management System (FEMS). Dapat disampaikan, AODB berfungsi menyimpan data operasi kebandarudaraan, lalu AMS dan RMS berfungsi memonitor dan mengendalikan operasional bandara beserta pengaturan penggunaan resources seperti parking stands, boarding lounge, dan check-in counter.

Baca juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Sementara itu, NMS menampilkan kinerja jaringan dan perangkat teknologi informasi dalam mengelola serta mendistribusikan data operasi ke sejumlah stakeholder, dan FEMS berfungsi untuk memonitor, mengendalikan dan mengelola kehandalan fasilitas-fasilitas utama bandara. Di samping modul-modul tersebut, fasilitas yang terdapat di AOCC antara lain CCTV room, Emergency Situation Room, Meeting Room, dan Airport People Movers System Control Room.

“AOCC juga merupakan pusat koordinasi seluruh stakeholder bandara seperti maskapai, imigrasi, bea dan cukai, karantina, otoritas bandara, tenant, kepolisian, transportasi antarmoda, operator kargo, dan sebagainya, sehingga sesuai dengan konsep dalam industri bandara dikenal dengan Airport Collaboration Decision Making atau A-CDM,” kata Awaluddin.

Sementara itu Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Yurlis Hasibuan mengatakan, AirNav mendukung penuh pembentukan AOCC ini dan pihaknya siap mengintegrasikan sistem yang dimiliki Airnav dengan sistem di AOCC guna mendukung keselamatan dan keamanan.

Kasubdit Penyelenggaraan dan Pelayanan Bandara Udara Kementerian Perhubungan Agustono mengatakan, “AOCC perlu menyatukan SOP di antara stakeholder, kami juga akan mendukung dari sisi regulasi terkait dengan pendirian AOCC ini.”

Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan jumlah penumpang pesawat mencapai sekitar 60 juta orang per tahun merupakan bandara tersibuk di Indonesia, di mana saat ini AP II tengah melakukan berbagai pengembangan di bandara tersebut guna meningkatkan daya saing diantara bandara-bandara lain di kawasan Asean. Pengembangan yang dilakukan di samping pembangunan secara fisik juga mencakup pembangunan sistem teknologi informasi guna menjadikan bandara ini sebagai Smart Airport.

Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Sebanyak 1.300 pergerakan pesawat per hari atau 76 pergerakan pesawat per jam dengan jumlah penumpang sekitar 170.000 per hari, dan akan semakin tumbuh ke depannya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta membutuhkan pendekatan dari sisi teknologi informasi guna memastkan kelancaran operasional dan tetap terjaganya pelayanan sehingga prioritas pembangunan AOCC ada di bandara ini.

Mau Naik Kereta Bawah Tanah? Ternyata Ada Etikanya

Pada Maret 2019, rencananya warga DKI Jakarta sudah dapat menikmati layanan MRT (Mass Rapid Transit) di Jakarta. Itu artinya untuk pertama kali dalam sejarah 72 tahun Republik ini, ada kereta bawah tanah untuk melayani penumpang secara komuter. Sebagai angkutan yang bakal happening, animo masyarakat dipecaya akan sangat besar pada MRT, terlebih bila nanti tarif yang dikenakan terbilang kompetitif dan pas dengan kocek kebanyakan warga.

Baca juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik

Sebagai negara di Asia Tenggara yang baru akan memulai menggunakan kereta bawah tanah, ada etika yang harus dijaga oleh para pengguna jasa. Etika yang ada pun pastinya akan berbeda negara yang satu dengan yang lain. KabarPenumpang.com merangkum dari gentlemansgazette.com (4/8/2017), ada beberapa etika khusus untuk pengguna jasa kereta bawah tanah yang bisa dicontoh oleh warga Jakarta nantinya.

1. Punya tiket yang bisa langsung digunakan
Sebelum masuk ke gerbang tiket, Anda harus memiliki tiket sebelumnya. Bila Anda membeli di mesin tiket dan tidak mengerti, berpindah dan jangan sungkan untuk bertanya pada petugas agar tidak salah. Anda juga bisa bertanya pada petugas tentang rute yang akan Anda tuju sebelum salah membeli tiket. Untuk MRT Jakarta nantinya mestinya tidak akan ada kesulitan ini, mengingat tidak ada interchange station, karena tahap pertama MRT Jakarta baru melayani rute Lebak Bulus – Bunderan HI.

2. Berada di sebelah kanan saat di eskalator
Untuk menunggu baiknya ada di sebelah kanan saat berada di eskalator stasiun bawah tanah. Karena bila berada di sebelah kiri, justru akan membuat Anda kesusahan dan mengganggu akses orang lain yang terburu- buru dan bisa dianggap menghalangi jalan mereka.

3. Berada di baris sesuai keberangkatan kereta
Pastikan Anda berada di baris yang tepat untuk menunggu kereta bawah tanah Anda.

4. Tunggu sebelum masuk kereta bawah tanah
Di banyak kota besar dunia, ada jutaan penumpang yang mencoba masuk ke kereta bawah tanah sebelum penumpang yang dari dalam akan turun. Anda baiknya tunggu sampai penumpang dari dalam kereta turun baru naik ke kereta. Sebab, bila Anda memaksa bukannya aman bisa-bisa malah terjatuh dan tegeser jauh dari pintu.

5. Saling mendorong
Kejadian ini banyak terjadi di kereta bawah tanah, contohnya Jepang yang memiliki pengguna kereta bawah tanah sampai tidak bisa masuk dan akhirnya petugas mendorong penumpang yang padat tersebut agar pintu bisa tertutup.

6. Biarkan pintu tertutup
Jangan pernah menahan pintu kereta untuk menunggu orang yang sedang berlari menuju kereta. Jika Anda sempat melakukan hal tersebut, ini akan mengganggu dan menunda keberangkatan kereta Anda dan kereta berikutnya.

7. Gunakan tempat duduk sesuai fungsinya
Tempat duduk sebelah Anda adalah hak orang lain. Jangan letakkan tas Anda untuk menghalangi orang lain untuk duduk.

8. Pertimbangkan orang lain
Saat Anda duduk, ternyata ada orangtua, anak kecil ataupun penyandang disabilitas. Baiknya Anda berikan tempat duduk, tawarkan dengan Anda berdiri dan mengisyaratkan agar mereka bisa duduk di tempat Anda.

Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

9. Jangan buang sampah sembarangan dan jaga bau badan
Sebagai seorang penumpang, baiknya jangan pernah meninggalkan apapun di kereta biak itu sampah dan bekas makanan, koran atau hal lainnya. Bila Anda tahu bahwa bau badan, gunakan deodorant sebelum naik kereta.

10. Bicara dengan volume lebih kecil
Saat menggunakan headphone, kecilkan suaranya jangan sampai orang lain mendengarnya. Sebab, bisa saja orang yang mendengar terganggu dengan suara tersebut. Bila Anda mengangkat telepon di dalam kereta, baiknya Anda juga mengecilkan suara agar tidak di cap sebagai penumpang yang tidak tahu sopan santun.

11. Tidak tidur
Biasanya, akibat perjalanan jauh atau kelelahan, banyak penumpang yang tertidur dalam kereta. Jangan juga menjadikan kereta bawah tanah ini bukanlah rumah tetapi alat transportasi massal yang digunakan banyak orang. Untuk kasus MRT Jakarta, jarak antara Stasiun Lebak Bulus hingga Bunderan HI hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

12. Jangan merokok
Ini larangan paling besar bagi Anda perokok. Sebab, kereta yang menjadi transportasi umum adalah tempat yang bersih dan bebas asap rokok.

Perangi Polusi, Australia Selatan Manfaatkan Energi Terbarukan dari Hidrogen

Sebagai bentuk aksi nyata dalam memerangi masalah polusi, Negara Bagian Australia Selatan berencana untuk menggunakan hidrogen sebagai energi terbarukan untuk bahan bakar kendaraan di sana. Setelah sebelumnya berencana untuk menghadirkan jalan tol khusus electric vehicle, kini negara bagian dengan ibu kota Adelaide ini kembali mendobrak dengan ide briliannya. Bahkan, ide pengunaan energi terbarukan tersebut menuai pujian dari Tesla.

Baca Juga: Serap Pengguna Mobil Listrik Lebih Banyak, Queensland Gratiskan Electric Super Highway

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gizmodo.com.au (10/9/2017), pemerintah negara bagian mencetuskan idenya untuk menghadirkan “Hydrogen Roadmap”. Roadmap dirancang untuk mempercepat investasi di bidang infrastruktur hidrogen dan teknologi di negara bagian. Mereka menyatakan, hidrogen dapat dihasilkan dari sumber terbarukan, seperti angin atau matahari, melalui proses yang disebut elektrolisis. Berarti, sudah jelas bahwa energi terbarukan dan produksi hidrogen akan memperkuat masa depan energi di Australia Selatan.

Roadmap menunjukkan bagaimana aset energi terbarukan negara dapat digunakan untuk menarik investasi internasional dalam produksi hidrogen. Pemerintah mengatakan hadirnya Roadmap akan mempercepat transisi Australia Selatan ke pasar ekonomi zero carbon. Selain itu, hal ini juga akan menargetkan pasar ekspor luar negeri, dan menetapkan Australia Selatan sebagai tempat uji coba untuk teknologi hidrogen.

Menteri Energi Negara Bagian Australia Selatan, Tom Koutsantonis mengatakan hidrogen juga membuka kesempatan untuk menciptakan industri baru di Australia Selatan. “Jika kita mulai bergerak dari sekarang, maka Australia Selatan dapat menjadi pelopor di dunia dalam transisi menuju pasar ekonomi hidrogen yang lebih bersih, aman dan berkelanjutan,” ungkap Tom dilansir dari sumber lain.

Baca Juga: Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney

Menurut Tom, penumpang bus di Adelaide juga akan dapat menikmati moda bertenaga hidrogen seperti bus yang menggunakan bahan bakar lokal dalam kurun waktu dua tahun ke depan. “Rencananya, dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan, seluruh warga di negara bagian Australia Selatan yang hendak berkendara dari Ceduna ke Mt. Gambier sudah menggunakan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Stasiun pengisian bahan bakar hidrogen pun nantinya akan kami siapkan di seluruh negara bagian,” tambahnya.

Mendukung pernyataan yang dirilis oleh Roadmap, CEO Siemens Australia dan NZ, Jeff Connolly mengatakan bahwa hidrogen dapat dibuat dengan kapasitas energi berlebih yang didorong oleh energi terbarukan. “Jika Australia dapat menemukan cara untuk mengekspor energi terbarukan, maka kita juga bisa mengaplikasikannya di bisnis ekspor batubara dan gas. Selain itu, kita juga bisa mempertahankan peran kita sebagai negara adidaya pengekspor energi di masa yang akan datang.” Tutup Jeff.

Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

Berangkat dari prototipe beberapa tahun lalu, kini Augmented Reality (AR) atau realitas tertambah telah mulai diadaptasi oleh industri dirgantara, tidak hanya menyangkut pelayanan penumpang oleh petugas di bandara dan awak kabin, pihak manufaktur pesawat yang membangun struktur, desain dan penanganan masalah ikut pula menjadi pemanfaat AR. Penggunaan AR saat ini menyoroti beberapa cara dimana industri penerbangan menggunakan dan mengevaluasi kasus teknologi realitas yang diperluas dan virtual.

AR sendri sebenarnya teknologi yang disempurnakan dengan komputer ke dunia nyata pengguna, seperti membaca panel kokpit. Penggunaan AR ini biasanya digunakan seperti visual menikmati kacamata biasa. Dan sampai saat ini, sudah ada sembilan perusahaan penerbangan yang saat ini sudah memanfaatkan teknologi AR dalam mempermudah perkerjaannya.

Baca juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

1. Pratt & Whitney Canada
Perusahaan pembuat mesin jet pesawat ini sejak tahun 2002 telah mengumumkan kesepakatan dengan IBM dan Dassault System untuk menjadi perusahaan pertama di industri penerbangan untuk mengembangkan mesin dengan teknologi digital selama proses perencanaan dan pembuatan. Pada April 2017, United Techologies Research Center meluncurkan kolaborasi dengan Divisi Pelatihan Pelanggan Pratt & Whitney untuk berinvestasi dalam pelatihan pemeliharaan mesin virtual reality untuk para mekanik penerbangan.

Menurut Bruce Hall, general manager divisi pelatihan pelanggan Pratt, perusahaan saat ini melakukan pengujian beta di lingkungan kelas penggunaan headset dan kontrol sensor tangan yang memungkinkan mekanika hampir berjalan di dalam mesin GTF untuk memeriksa bagian dan melihat mesin yang sedang berjalan di gerakan.

2. Aero Glass
Perusahaan penerbagan yang satu ini memiliki headset yang dapat digunkan oleh pilot untuk melihat informasi dan kontrol kokpit seperti cara membaca altimeter, tekanan bahan bakar, suhu dan oli dalam layar yang berada di bagian layar headset. Pada Oktober 2016 lalu, Aero Glass menjadi berita utama saat pihak Airbus Bizlab memilih teknologi mereka sebagai salah satu solusi untuk membantu proposi bisnis.

3. Air France
Pada 1 Agustus lalu, Air France mulai menguji sistem hiburan immersive dengan menggunakan headset AR yang bisa digunakan penumpang untuk menonton film 3D, 2D hingga serial televisi. Headset ini merupakan hasil kemitraan maskapai milik Perancis ini dengan SkyLights. Percobaan penggunaan headset ini di penerbangan dengan Airbus A340 dari bandara Charles de Gaulle menuju St Martin. Akhir uji coba ini nantinya baru bisa dilucurkan pada penerbangan lain di bulan berikutnya.

4. Air New Zealand
Air New Zealand, bekerja sama dengan IT-provider-provider Dimension Data, sedang menguji beta penggunaan HoloLens untuk awak kabinnya. Maskapai ini membayangkan masa depan dimana awak kabin yang memakai headset HoloLens dapat menampilkan informasi penumpang pada headset seperti rincian penerbangan, waktu sejak terakhir dilayani dan bahkan keadaan emosional penumpang.

5. Bell Helicopter
Pada ajang Heli Expo 2017, Bell Helicopter secara terbuka mengumumkan untuk pertama kalinya helikopter konsep FCX-001 futuristiknya, dengan framework yang dibuat dari bahan yang berkelanjutan, sistem tenaga hibrida, sistem kecerdasan pilot buatan dan bilah rotor morphing, berubah agar sesuai dengan penerbangan yang berbeda. Deskripsi Bell tentang fitur kokpit virtual mencatat bahwa perusahaan melihat pilot masa depan mengendalikan helikopter dengan bantuan AR dan sistem bantuan komputer intelijen buatan. Ini akan menempatkan pilot helikopter masa depan dalam peran sebagai petugas keselamatan, dengan sistem bantuan komputer terbang bersama mereka. Bell melihat konsep kokpit virtual sebagai batu loncatan untuk moda helikopter nirawak di maa depan.

6. TAE Aeroscape
Maret lalu, TAE Aeroscape dari Australia menerima penghargaan Inovasi Industri Sipil Aerospace untuk teknologi Fountx, sebuah solusi yang memungkinkan teknisi penerbangan untuk berkolaborasi dengan ahli produk dari jarak jauh. Fountx menggunakan sistem audio visual secara real time yang terdiri dari headset operator dan panduan relay mengenai penyelesaian tugas tertentu. Teknologi ini bisa memberikan bantuan, misalnya kepada Royal Malaysian Air Force dan Royal Thai Navy dalam memperbaiki mesin turbin, yang keduanya merupakan klien TAE. TAE juga baru-baru ini terpilih untuk memberikan dukungan bagi mesin jet tempur F-35 yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik.

7. Airbus
Airbus mendanai tes penerbangan untuk mengevaluasi sistem kesadaran situasi (situation awareness) DS Electronis and Brober Security SFERION yang menggunkan operasional SferiSense 500 Lidar pada tahun 2016 kemarin. Sistem ini dipasang pada helikopter Mi-2 dengan menggandeng pihak University of Iowa’s Operators Performance Laboratory (OPL) Tujuannya untuk mendemonstrasikan dan menguji sistem terpadu dalam uji coba penerbangan pada situasi khusus di Yuma Proving Ground.

8. Boeing
Boeing telah mengumumkan dua investasi terakhir untuk armada HorizonX yang didirikan awal tahun ini untuk berinvestasi di perusahaan pemula, lantaran teknologi penerbangan baru yang disebut-sebut menimbulkan gangguan. Posisi investasi terbaru Boeing dalam kelompok investor mendanai video immersive C360 Technologies yang berbasis di Pittsburgh. Boeing hanya memberikan sedikit rincian tentang penggunaan kemampuan C360 di masa depan, namun menyatakan bahwa hal itu merupakan “aplikasi ruang angkasa yang potensial,” mencakup “sistem otomasi yang lebih mumpuni dan platform lanjutan lainnya.

Baca juga: Staf Bandara Changi Resmi Gunakan Kacamata Augmented Reality

9. Japan Airlines
Japan Airlines pertama kali menguji penggunaan Google Glass untuk operasi perawatan mereka di stasiun Honolulu pada tahun 2014 dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Selama uji coba, staf pemeliharaan dapat menerima saran dan instruksi melalui audio selama operasi serta informasi real-time foto atau video yang dapat dibagi dengan rekan kerja dari lokasi.

Namun, ketika Google memindahkan Google Glass dari pasar komersial, maskapai Jepang tersebut pindah dan menemukan penggunaan baru untuk headset HoloLens Microsoft tahun lalu. Jepang menggunakan headset realitas virtual HoloLens untuk melatih mekanik mesin baru dan awak pesawat.