Mudahkan Transportasi Warga, Aplikasi Moovit Resmi Hadir di Semarang

Tak perlu lagi antri panjang di halte bus, demikian diutarakan pihak pengelola Trans Semarang atas hadirya aplikasi Moovit di kota Lumpia. Khususnya pada jam sibuk, warga pengguna Trans Semarang dapat mengetahui dengan persis kapan dan bus koridor berapa yang akan mereka naiki. Dengan Moovit yang dapat ditaman di smatphone Android dan iOS, para penumpang tidak perlu lagi berdesak-desakan menunggu di halte, pasalnya mereka bisa mengecek kedatangan bus, termasuk beberapa pilihan moda transportasi.

Baca juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

Bertepatan dengan HUT RI Ke-72, Moovit telah digadang Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang untuk memudahkan para pengguna jasa BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang. Moovit sendiri merupakan aplikasi yang diperkenalkan di Indonesia pertama kalinya oleh Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ). Aplikasi ini telah digunakan oleh 70 juta pengguna di 1400 kota pada 77 negara dengan pilihan 47 bahasa serta didukung berbagai komunitas lokal. Pengelola BRT Trans Semarang menggandeng Moovit Indonesia dalam penggunaan aplikasinya untuk mengetahui lokasi BRT di koridor I sampai IV.

Sebelum diluncurkan, aplikasi Moovit sudah diuji coba di lapangan dan mendapat hasil cukup baik, bus datang lebih awal sekitar 30 detik hingga dua menit dari waktu yang ditentukan aplikasi. “Bisa memantau waktu kedatangan bus di berbagai tempat. Saya sarankan lima menit datang ke shelter lebih awal dari waktu kedatangan di aplikasi. Aplikasi besutan Silicon Valley ini membantu memperoleh informasi pilihan rute, posisi armada, waktu kedatangan, waktu tempuh, dan titik transit,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang Ade Bhakti.

Baca juga: TransJakarta Terintegrasi KWK dengan Kartu seharga Rp15 ribu di Jam Sibuk

Sebelum digunakan di Semarang, Moovit terlebih dahulu digunakan di Jakarta dan mengakomodir sejumlah angkutan umum seperti angkot, KCJ, TransJakarta, Damri, termasuk JR Connecxion dan angkutan bandara JAConnexion. Adanya kerjasama ini juga untuk mendukung program SemaranG Smart City dan menciptakan transportasi massal yang aman, nyaman dan murah.

Moovit adalah aplikasi buatan Amerika Serikat yang telah mendunia, di Indonesia Moovit setidaknya sudah diunduh oleh 120 ribu pengguna. Sementara khusus untuk Semarang, sebelum peluncuran Moovit malah sudah dipakai oleh 8 ribu pengguna. Setelah Jakarta dan Semarang, Moovit rencananya akan merambah ke 13 kota lain, diantaranya Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya.

Semester I 2017, PT ASDP Raih Pendapatan Rp1,25 Triliun

Meski diakui ada pelemahan pada daya beli di masyarakat, PT ASDP Indonesia Ferry selaku pengelola pelabuhan dan penyedia jasa penyeberangan ferry menyebut bahwa pada Semester I 2017 kinerja keuangan perusahaan tetap dalam kondisi baik, bahkan pendapatan berhasil tumbuh tujuh persen dibandingkan pada Semester yang sama di tahun lalu.

Baca juga: Beroperasi 2018, PT ASDP Lakukan Ground Breaking Pembangunan Dermaga Eksekutif Merak – Bakauheni

“Kami optimis bahwa di Semester II tahun ini pendapatan ASDP akan melonjak secara signifikan. Untuk pendapatan Semester I-2017 ASDP mencapai Rp 1,25 triliun. Perseroan terus mendorong supaya pendapatan bisa mencapai Rp2,7 triliun dan labanya bisa tembus Rp260 miliar pada tahun ini. Pendapatan biasanya naik lebih signifikan di semester II. Meski ada kenaikan tarif, permintaan pelanggan dan antusiasme masyarakat untuk menggunakan jasa kapal ASDP nyatanya makin bagus,” ujar Faik Fahmi, direktur utama PT ASDP Indonesia Ferry, dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (17/8/2017).

Faik menyebutkan saat ini manajemen ASDP tengah mengupayakan transformasi bagi perusahaan demi peningkatan kesejahteraan seluruh karyawan tanpa terkecuali. “Pengembangan bisnis sedang dijalankan oleh Perusahaan, di mana kita tidak lagi sekedar mendukung konektivitas, tidak hanya menjalankan bisnis as usual, di bidang penyeberangan dan kepelabuhanan, tetapi juga dilakukan pengembangan bisnis penunjang dan penguatan penyeberangan di lintas-lintas pariwisata, long distance ferry, hingga pada perbaikan performasi untuk mendukung program pemerintah di bidang logistik nasional,” jelasnya.

Baca juga: KMP Legundi – Long Distance Ferry, Kapal RoRo Terbesar di Indonesia

Terdapat beberapa program quick win yang harus didukung oleh seluruh lini karyawan diantaranya adalah pengembangan area komersial Labuan Bajo berupa hotel dan marina, pengembangan fasilitas dermaga eksekutif di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, peningkatan sejumlah fasilitas pendukung di Pelabuhan serta pembangunan sistem IT guna mendukung kinerja Perusahaan.

Saat ini ASDP memiliki 202 lintasan yang dilayani dan 145 kapal yang ada. Perusahaan telah menjalankan 3 (tiga) peran sekaligus yaitu Pertama, sebagai korporasi Negara yang memberikan keuntungan dan deviden melalui jasa penyeberangan dan jasa kepelabuhanan. Kedua, sebagai infrastruktur Negara yang menyediakan jaringan transportasi publik antar pulau baik bagi daerah yang sudah dan sedang berkembang, serta Ketiga, sebagai agen pembangunan di mana ASDP menyediakan jaringan tranportasi publik bagi wilayah pulau terpencil (jauh) dan terluar (perbatasan).

“Dengan ketiga peran yang dimiliki ASDP tersebut, tentunya banyak kelebihan yang menjadi kekuatan kita untuk berkompetisi dalam industri penyeberangan. Bisnis yang dijalankan oleh Perusahaan terbilang stabil dan terus tumbuh dan mendapat dukungan dari Pemerintah. Namun, di balik semua kelebihan yang dimiliki oleh Perusahaan, kita tidak boleh lengah dan berhenti berinovasi,” tuturnya lagi.

Sambut HUT RI Ke-72, PT ASDP Buka Layanan Tiket Online di Tujuh Lintasan

Setelah sebelumnya menggelar layanan tiket online dan berjadwal pada rute penyeberangan ferry Merak – Bakauheni dan Ketapang – Gilimanuk, PT ASDP Indonesia Ferry kini meningkatkan layanan penjualan tiket online pada lintasan lain, yakni Gresik – Bawean, Bawean – Paciran, Paciran – Garongkong, Surabaya – Lembar, Kayangan – Poto Tano, Lembar – Padang Bai, dan Padang Bai – Nusa Penida. Peluncuran layanan tiket online pada beberapa lintasan tersebut dilakukan bertepatan dengan momentum HUT RI Ke-72.

Baca juga: Pantau Trafik di Area Pelabuhan, PT ASDP Maksimalkan Penggunaan Drone

Dikutip KabarPemumpang.com dari siaran pers (17/8/2017), saat ini PT ASDP mengelola 202 lintasan yang dilayani dan 145 kapal yang ada. Perusahaan telah menjalankan 3 (tiga) peran sekaligus yaitu Pertama, sebagai korporasi Negara yang memberikan keuntungan dan deviden melalui jasa penyeberangan dan jasa kepelabuhanan. Kedua, sebagai infrastruktur Negara yang menyediakan jaringan transportasi publik antar pulau baik bagi daerah yang sudah dan sedang berkembang, serta Ketiga, sebagai agen pembangunan di mana ASDP menyediakan jaringan tranportasi publik bagi wilayah pulau terpencil (jauh) dan terluar (perbatasan).

“Dengan ketiga peran yang dimiliki ASDP tersebut, tentunya banyak kelebihan yang menjadi kekuatan kita untuk berkompetisi dalam industri penyeberangan. Bisnis yang dijalankan oleh Perusahaan terbilang stabil dan terus tumbuh dan mendapat dukungan dari Pemerintah. Namun, di balik semua kelebihan yang dimiliki oleh Perusahaan, kita tidak boleh lengah dan berhenti berinovasi,” ujar Faik Fahmi, direktur utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) saat menjadi inspektur Upacara Peringatan HUT RI ke 72 di Padang, Sumatera Barat.

Baca juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar

Terkait peringatan HUT RI Ke-72, pada 17 Agustus 2017 PT ASDP menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Perairan Selat Sunda dalam pelayaran reguler KMP Batumandi dari Merak menuju Bakauheni. Upacara Peringatan HUT RI ke 72 di KMP Batumandi dipimpin Direktur Pelayanan dan Fasilitas PT ASDP Christine Hutabarat, yang dihadiri oleh tamu undangan mitra kerja Gapasdap, Kepolisian Sektor Pelabuhan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Biro Klasifikasi Indonesia, dan diikuti oleh segenap karyawan PT ASDP Cabang Merak maupun kantor pusat serta penumpang umum KMP Batumandi.

Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat Keamanan

Sebuah asosiasi mengatakan bahwa beberapa staf bandara memiliki akses masuk ke dalam pesawat tanpa harus melewati tahap pemeriksaan awal. Sementara itu penumpang akan melewati satu tingkat pemeriksaan kembali mengingap penangkapan sejumlah orang yang diduga teroris pada beberapa waktu yang lalu. Australian Federation of Air Pilots (AFAP) mengatakan bahwa selama ini penanganan terhadap orang-orang katering, kontraktor, serta teknisi dianggap terlalu santai di beberapa bandara di Ibu Kota.

Baca Juga: Bandara Kopenhagen Tempati Peringkat Teratas Untuk Pemeriksaan Keamanan

Tentu saja para kru maskapai dan ground crew tidak melewati pemeriksaan awal, layaknya para penumpang. Marcus Diamond selaku pejabat keamanan dan teknis AFAP mengtakan bahwa kru pesawat juga harus melewati proses pemeriksaan serupa layaknya seorang penumpang. “Kami menghimbau agar kru pesawat juga diwajibkan melewati proses pemeriksaan awal di bandara-bandara besar di Australia,” ungkapnya sebagaimana yang KabarPenumpang.com lansir dari laman abc.net.au (2/8/2017).

“Di satu bandara, Anda akan menemukan petugas yang siap untuk melakukan pengecekkan terhadap aviation security card (ASIC card)  serta tas yang akan dibawa oleh kru maskapai selama mengudara. Setelah lolos pemeriksaan tersebut, mereka baru diperbolehkan masuk ke dalam pesawat,” terang Marcus. Ia mengatakan biasanya kru maskapai merupakan orang yang sudah terkenal, mereka pun sudah sangat lama berada di dalam sistem tersebut. “Merekapun memiliki banyak cek serta akses keamanan, namun sering kali mereka memiliki akses yang lebih sedikit ke maskapai mereka sendiri ketimbang para penumpang,” lanjutnya.

Marcus sendiri mengaku sistem keamanan yang diberlakukan di bandara Sydney tidak seketat bandara di Brisbane. “Brisbane memiliki keamanan yang jauh lebih ketat di bandara Internasional daripada di bandara domestik,” pungkas Marcus. Satu poin yang menjadi titik berat Marcus adalah konsistensi dalam akses ke airside, baik untuk kru maskapai  maupun ground crew.

Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Serikat Buruh Transportasi mengatakan bandara di wilayah Australia juga merupakan risiko keamanan yang utama. Direktur penerbangan Shane O’Brien mengatakan bahwa beberapa bandara kecil di beberapa negara bagian tidak memiliki skrining keamanan, dan bisa menjadi pintu masuk untuk barang-barang berbahaya. “Sebagian banda regional memiliki skrining di tempat, tapi masih ada juga yang tidak memilikinya,” ungkap Shane.

“Teroris biasanya memiliki perencanaan yang sangat matang dan sangat teliti, jika kami tidak memperketat keamanan, maka kita semua tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya jika salah satu dari mereka ikut dalam penerbangan Anda,” tegas Shane.

Adapun himbauan untuk memperketat keamanan di bandara ini berkat Komisaris Polisi Ian Stewart yang bertugas di Queensland. Ia mengatakan keempat pria yang ditangkap di Sydney ini diduga berencana untuk meledakkan sebuah pesawat, atau tujuan lainnya yang akan merugikan banyak pihak.

Gelar HUT Ke-72 RI di Palu, Angkasa Pura I Serahkan Bantuan Rp1,6 Miliar

Dalam acara puncak program “BUMN Hadir Untuk Negeri,” PT Angkasa Pura I (Persero) sekalu pengelola bandara di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur, bersama Danareksa melaksanakan acara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-72 Republik Indonesia di Sulawesi Tengah. Dalam kesempatan tersebut, Angkasa Pura I menyerahkan secara simbolis bantuan Bedah Rumah Veteran RI senilai Rp1,6 miliar untuk 40 rumah.

Baca juga: Semester I 2017, Laba PT Angkasa Pura I Naik 61 Persen

Penyerahan bantuan diberikan langsung Direktur Utama Angkasa Pura I, Danang S. Baskoro kepada perwakilan veteran Provinsi Maluku, pada saat berlangsungnya upacara peringatan HUT Ke-72 RI di Kantor Pelindo 4, Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (17/8/2017) pagi.

“Sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab sosial perusahaan, Angkasa Pura I melakukan bedah rumah yang tidak layak huni bagi 40 rumah veteran RI dari Provinsi Maluku. Kami berharap melalui kegiatan ini kami dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para veteran yang telah berjasa sangat besar bagi bangsa Indonesia di masa lalu,” ujar Danang, dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Dari 40 rumah Veteran RI di Provinsi Maluku, total ada 12 rumah yang akan direnovasi di Desa Liang, 9 rumah di Desa Ureng, 15 rumah di Desa Larike, 1 rumah di Desa Piru, 2 rumah di Desa Kairatu, 1 rumah di Desa Makariki, dan 8 rumah di Desa Masohikilo.

Hadir dalam kesempatan itu antara lain Direktur Angkasa Pura I Danang S. Baskoro, Direktur Operasi Angkasa Pura I Wendo Asrul Rose, Direktur Utama Danareksa Heru D. Adhiningrat, dan Staf Ahli Menteri BUMN Sahala Lumban Gaol.

Danang S. Baskoro selaku Inspektur Upacara mengatakan bahwa kegiatan “BUMN Hadir Untuk Negeri” di Provinsi Sulawesi Tengah ini merupakan tanggung jawab yang diberikan kepada Angkasa Pura I dan Danareksa. “Kami diberi amanat untuk menggelar berbagai rangkaian kegiatan sebagai wujud nyata bahwa BUMN Indonesia ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Hal ini juga merupakan upaya BUMN untuk memelihara keharmonisan dan keberlanjutan perusahaan dengan lingkungannya, mendekatkan BUMN dengan masyarakat, sekaligus wujud penerapan tanggung jawab sosial perusahaan,” kata Danang.

Kegiatan “BUMN Hadir Untuk Negeri” di Sulawesi Tengah antara lain berupa Program Siswa Mengenal Nusantara (31 Juli – 5 Agustus), jalan sehat 5 km (13 Agustus), Bedah Rumah Veteran, serta aneka lomba 17-an dan hiburan rakyat (17 Agustus).

Petualangan, 47 Negara Dilalui Tanpa Penerbangan Selama 3 Tahun

Pernah membayangkan berkeliling dunia tanpa menggunakan pesawat? Ternyata ini dilakukan oleh Tyral Dalizt seorang wisatawan asal Australia yang berkunjung ke 47 negara selama tiga tahun terakhir tanpa menggunaan pesawat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari travelandleisure.com (9/8/2017), Dalitz seorang wisatawan yang awalnya bekerja di peternakan di Australia dan menyewa van untuk camping setelah lulus dari unversitas, serta menghabiskan perjalanan selama enam bulan untuk berkeliling Australia. “Saya menyadari bahwa sebagian petualangan terjadi saat Anda beralih dari titik A ke titik B, bukan dari mana Anda berakhir,” kata Dalitz.

Baca juga: Trans-Siberia, Kereta Yang Mengubah Takdir Cinta

Nyatanya hal tersebut yang membuat dirinya memutuskan berangkat sejak tahun 2014 untuk bepergian dengan kapal layar, kereta api, mobil, motor bahkan berjalan kaki. Ia mengatakan, justru bagian tersulit dari petualangannya adalah keluar dari negara asalnya, Australia.

Tyral Dalitz (www.travelandleisure.com)

Kemudian, dirinya mendengar dari beberapa pelancong backpacker bahwa bisa menggunakan kapal pesiar untuk menjelajah tanpa membayar dengan menjadi awak kapal atau kru dalam perjalanan kapal tersebut. Dalam melakukan perjalanannya, Dalitz menjadi petugas di bagian Find a Crew, CrewSeekers, dan Crewbay. Terakhir dirinya berhubungan dengan pasangan pensiunan untuk membantu di kapal dalam mengarungi Samudera Hindia dari Australia menuju Singapura.

“Saat Anda menumpang kapal, Anda harus berkontribusi. Jadi Anda mungkin diminta untuk bekerja secara gratis, tapi begitu Anda memasuki komunitas berlayar, Anda bisa membuka banyak pintu,” kata Dalitz.

Baca juga: Italia (1) : Menjajal Transportasi di Venesia, Tak Beda Jauh dengan TransJakarta

Kemudian, dari perjalanannya tersebut, dirinya mengikuti perjalanan yang terorganisir untuk kelompok kapal yang berlayar dengan beragam rute. Dimana dalam perjalanan tersebut, Dalitz mengunjungi Indonesia melalui Malaysia. Saat itu ada rally Sail Malaysia dan Dalitz bertemu dengan seseorang yang mengajaknya untuk naik kapal menuju Phuket. Sesampainya di Thailand, dirinya melakukan perjalanan darat menaiki kendaraan menuju Chiang Mai hingga sampai di Kamboja.

Kemudian Dalitz bertemu seorang pria lokal di perbatasan Vietnam dan Kamboja, pria tersebut menawarkan untuk mengantar Dalitz ke Vietnam dengan sebuah sepeda taksi. Perkiraan perjalanan yang ditempuh cukup jauh, bila dikukur dengan tenaga sepeda, kira-kira dibutuhkan sekitar 9000 kali genjotan.

Berada di Vietnam, dirinya kemudian membeli sebuah sepeda motor, alasannya motor dianggap murah karena bisa dijual kembali ke bengkel. Motor tersebut digunakan Dalitz untuk berkeliling menjelajahi Vietnam.

Tyral Dalitz (www.travelandleisure.com)

“Berada di atas sepeda masih menjadi salah satu sorotan utama bagi saya, karena ini seperti tingkat kebebasan yang lain karena Anda bisa pergi ke manapun Anda inginkan dan kapan pun, sedangkan dengan menumpang Anda harus mengandalkan untuk mendapatkan tumpangan,” katanya.

Kemudian, dirinya kembali bertualang dari Hanoi menuju Cina menggunakan kereta api. Ini adalah pengalaman pertamanya menggunakan kereta melewati negara tersebut sebelum dirinya menggunakan kereta Trans-Mongol ke Moskow, Rusia. “Kami pergi di musim semi ketika ada banyak tanaman hijau dan kami mendapatkan pemandangan hutan pinus besar dengan desa-desa yang berisi rumah kayu dan gubuk,” katanya.

Baca juga: Travel Advice, Jangan Samakan dengan Travel Warning

Sesampainya di Eropa, Dalitz menggunakan bus untuk berkeliling dan sampai ke lingkaran Kutub Utara lewat Finlandia guna melihat Aurora. Selama satu tahun di Eropa, dirinya kembali berlayar melintasi Samudera Atlantik ke Kepulauan Canary di Karibia, berlanjut ke Terusan Panama dan Hawaii sebelum pergi ke Amerika Utara tempatnya berada saat ini.

Saat Dalitz melanjutkan perjalanannya yang anti mainstream ini, Ia mengatakan bahwa Kanada kemungkinan akan menjadi negara berikutnya yang akan dikunjungi. Dia juga saat ini berpartisipasi dalam usaha pemecahan rekor lainnya, The Longest Swim, di mana dia akan mencoba berenang dari Tokyo ke San Francisco.

Ada Patung Gadis Hiasi Bus di Seoul, Ada Apa Ya?

Ada pemandangan yang sedikit tak biasa mana kala terdapat sebuah patung seorang gadis belia di dalam bus yang beroperasi di sekitaran Ibu Kota Korea Selatan, Seoul, Senin (14/8/2017) kemarin. Tidak hanya terdapat di dalam satu bus saja, melainkan setiap bus di Seoul pun memiliki patung yang serupa. Adapun patung-patung tersebut berbentuk seorang wanita yang mengenakan pakaian tradisional Hanbok, dengan posisi tangan memegangi lutut mereka dan bertelanjang kaki.

Baca Juga: Agar Tidak Terjatuh Saat Turun dari Bus, Ini Dia Tipsnya!

Sedikit aneh memang melihat kehadiran patung-patung tersebut tepat sehari sebelum peringatan kemerdekaan Korea Selatan dari Jepang pada tahun 1910 hingga 1945 silam. Ternyata, fakta yang ditemui KabarPenumpang.com dari laman shanghaidaily.com (15/4/2017), patung-patung tersebut melambangkan budak seks semasa jaman penjajahan. Menurut sejarawan lokal, kurang lebih ada sekitar 200.000 wanita yang dipaksa “bekerja” untuk tentara Jepang selama Perang Dunia II. Ternyata, tidak hanya dari Korea, wanita Cina pun turut dijadikan “wanita penghibur” oleh tentara Jepang.

Keberadaan “wanita penghibur” ini merupakan masalah emosional yang sangat megganggu hubungan diplomatik diantara dua negara tetangga di Asia ini dalam beberapa dekade ke belakang. Bagi kebanyakan warga Korea Selatan, ini merupakan bentuk pelanggaran yang sangat berat yang pernah dilakukan oleh Jepang selama masa penjajahan.

Baca Juga: Tempel Tusuk Gigi di Bangku Bus, Warga Paruh Baya Ini Siap Dipidana

Tentu saja, keberadaan patung-patung tersebut mengundang amarah di Tokyo, yang mendesak untuk segera menyingkirkan simbol budak seks tersebut dari Kedutaan Besar Jepang di Seoul. Ini terjadi setelah Jepang menandatangani kesepakatan dengan pihak Korea Selatan pada tahun 2015 silam dan mengajukan dana sebesar 1 miliar Yen atau setara dengan Rp121 miliar sebagai permohonan maaf yang ditujukan untuk pembangunan yayasan bagi budak seks yang masih hidup. Pihak Tokyo seakan kebingungan ketika nota perdamaian sudah ditandatangani, namun warga Korea Selatan masih saja mengungkit masa lalu kelam tersebut.

Namun, seakan tidak memperdulikan amarah Negeri Matahari Terbit, perusahaan bus kota tersebut mengatakan ingin memasang patung-patung tersebut di lima jalur berbeda yang beroperasi di pusat kota Seoul untuk menjaga kenangan tersebut tetap menyala. Kepala Dinas Lalu Lintas Dong-A, Rim Jin-Wook mengatakan patung ini memiliki nilai sejarah yang amat tinggi. “Ini dirancang untuk mengingatkan warga Korea Selatan tentang penderitaan yang telah dilewati oleh wanita-wanita tersebut,” jelasnya.

“Kami tidak ingin warga kami melupakan sejarah, sekelam apapun itu,” terang Rim seraya menambahkan bahwa patung-patung tersebut akan di keluarkan dari bus pada akhir September mendatang dan akan dipajang di tempat umum. Bus-bus yang melewati Kedutaan Besar Jepang akan sedikit memaparkan sejarah kelam dari budak seks tersebut melalui sistem audio yang terpasang di dalam moda tersebut.

Baca Juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik

“Sangat menyedihkan ketika melihat patung gadis ini, karena sebagian besar dari mereka terlihat sepantar denganku,” ujar Jennifer Lee, seorang mahasiswa berusia 19 tahun. “Ini membuatku takut membayangkan apa yang dialami wanita-wanita ini,” tambahnya. Dari situ, sejumlah aktivis mendesak pemerintah setempat untuk menjadikan tanggal 14 Agustus sebagai hari peringatan bagi “wanita penghibur” tersebut.

Tahun 2019, Bandara Notohadinegoro Siap Didarati Boeing 737

Notohadinegoro, inilah nama bandara yang terletak di Jember, Jawa Timur. Untuk mencapai bandara yang melayani lalu lintas penerbangan domestik ini dibutuhkan jarak tujuh kilometer dari pusat kota Jember. Sampai saat ini Notohadinegoro baru sebatas melayani penerbangan dengan pesawat propeller, dan baru dilayani satu maskapai yakni Garuda Indonesia dengan pesawat ATR-72 600 untuk rute Jember – Surabaya.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Dengan infrastruktur yang masih terbatas, bandara yang beroperasi penuh pada 16 Juli 2014 ditangani oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Jember. Dengan panjang landasan pacu 1.560 meter. KabarPenumpang.com merangkum bahwa bandara di Jember ini memiliki areal seluas 120 hektar dan menjadi bandara umum sipil pertama di Indonesia yang di bangun sendiri oleh pemerintah kabupaten setempat dengan kekuatan APBD Jember.

Dirunut dari sejarahnya, adanya bandara ini untuk mempersingkat perjalanan dari Surabaya ke Jember atau sebaliknya, yakni hanya butuh waktu tempuh 30 menit. Sebagai perbandingan, rute Jember – Surabaya melalui jalan darat bisa ditempuh empat hingga tujuh jam. Selain mempersingkat perjalanan, bandara ini juga diharapkan menjadi penyambung dan pendukung sektor pariwisata Jember.

Saat ini, untuk memajukan sektor pariwisata, Bandara Notohadinegoro akan dilakukan pengembangan. Hal ini dikatakan oleh Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Jember (13//8/2017) kemarin. Diantara pengembangan untuk bandara ini mencakup perpanjangan landas pacu, dan perluasa terminal yang pengerjaannya akan dimulai tahun 2018. Pemkab Jember merencanakan perpanjanhan landasan pacu menjadi 2.600 x 45 meter.

Diharapkan proyek perluasan Bandara Notohadinegoro akan selesai pada tahun 2019. Rencananya lagi, bandara ini akan menjadi bandara embarkasi Haji. Tak hanya itu, nantinya pada landasan pacu akan dipasang ILS (Instrument Landing System) sehingga bandara ini mampu untuk didarati pesawat jet sekelas Boeing 737 dan pesawat ukuran yang lebih besar lainnya. Dengan ILS,  memungkinkan pesawat untuk melakukan lepas landas dan pendaratan di malam hari.

Terkait dengan anggaran, pemerintah menyebut akan mendukung sebagian anggaran untuk perluasan Bandara Notohadinegoro, anggaran yang disiapkan pemerintah khusus perluasan bandara ini sekitar Rp300 – Rp450 miliar. Jokowi berharap, seusai pengembangan, Bandara Jember akan mempermudah konektivitas daerah lain dengan kawasan di Jawa Timur itu. Konektivitas tersebut akan memacu arus investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah Jember.

Baca juga: Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi

Pembangunan bandara ini diprakarsai dan dibangun di era pemerintahan Samsul Hadi Siswoyo sebagai Bupati Jember. Pembangunan dimulai pada tahun 2003 yang telah dianggarkan sejak tahun 2001 dengan menggunakan dana APBD sebesar Rp.30 Miliar. Bandara Notohadinegoro diresmikan pada tahun 2005 dengan panjang landas pacu kala itu masih 1.200 meter.

 

Rajai Pasar Low Cost Carrier, Tigerair Kini Satu Naungan Dengan Scoot

Scoot, maskapai LCC (Low Cost Carrier) untuk penerbangan jarak jauh yang berada dibawah naungan Singapore Airlines, beberapa waktu lalu mengumumkan bergabung dengan Tigerair untuk menyatukan brand dan lisensi operasi di bawah merek Scoot yang disempurnakan.

Baca juga: Serba Serbi Check In Online di Masing-Masing Maskapai Penerbangan

Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofindia.indiatimes.com (2/8/2017), dengan adanya penggabungan merek ini, CEO Scoot, Lee Li Hsin mengumumkan adanya tarif promosi satu arah dari Trichy (India) ke Singapura, Bali, Hong Kong dan Sydney dengan potongan harga tambahan. Lee mengatakan, setelah berhasil memulai operasinya di India tahun 2015 lalu, Scoot siap untuk mengambil destinasi baru yang selama ini dilayani Tigerair.

Rute dan destinasi baru tersebut yakni Bangalore, Hyderabad, Kochi, Trichy dan Lucknow yang sudah dimulai pada 25 Juli lalu. “Scoot sangat yakin untuk memberikan yang lebih baik untuk para penumpang,” ujar Lee.

Dalam penggabungan ini, Scoot akan kembali menambahkan lima destinasi baru pada Juni 2018 mendatang, yakni ke Honolulu, Inggris dan Harbin di Timur Laut Cina. Tiga sisanya adalah destinasi jarak dekat sepeti Kuching dan Kuantan di Malaysia serta Palembang di Indonesia.

Sebenarnya, penggabungan ini sudah dimulai sejak Mei 2016 lalu antara Scoot dengan Tigerair, namun baru terkait pada sistem pemesanan, jadwal dan sambungan penerbangan, jenis pesawat, gerai check ni serta layanan call center. Sehingga akhirnya pada 25 Juli 2017 kemarin Scoot dan Tigerair bergabung dengan satu merek Scoot.

Adapun yang berubah dari penggabungan ini yakni kode penetapan yang dulunya TZ di ganti menjadi TR. Merger ini merupakan bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang serta memungkinkan pengalaman perjalanan yang lebih lancar bagi semua pelanggan.

Baca juga: Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia

Pada penggabungan kedua maskapai LCC ini, jadwal penerbangan akan tetap sama, dimana penerbangan akan sesuai jadwal. Segala macam terkait check in pun tidak dibedakan. Jenis armada yang dioperasikan Scoot yakni pesawat badan lebar Boeing 787 Dreamliner, sementara dari Tigerair ada Airbus 320 yang akan dirubah eksterior serta catnya sesuai dengan ciri khas milik Scoot.

Layani Akses Terminal 2 dan 3, Skytrain di Soetta Resmi Diuji Coba

Menunggu pengoperasian penuh pada bulan September 2017, per 13 Agustus lalu Automated People Mover System (APMS) atau Skytrain sudah mulai diuji coba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Uji coba yang dilakukan ini akan berlangsung selama sebulan penuh untuk mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan.

Skytrain yang diuji coba di Soetta saat ini melayani Track A dari Terminal 3 ke Terminal 2 atau sebaliknya. Nantinya, jika uji coba selesai maka pada pertengahan September mendatang, Skytrain akan langsung beroperasi untuk melayani perpindahan penumpang dikedua terminal tersebut. Ini merupakan tahap pertama pengoperasian Skytrain dengan melayani Track A dengan panjang lintasan 1.700 m. Tahap selanjutnya, Skytrain akan menghubungkan ketiga terminal dengan integrated building yang juga terkoneksi dengan terminal bus dan stasiun kereta bandara yang memiliki total panjang lintasan dua track mencapai 3.050 meter.

Baca juga: Angkasa Pura II: Skytrain Akan Jadi Hadiah di HUT RI Ke-72

“Pemerintah berharap agar Skytrain dapat segera dioperasikan dengan tetap mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan serta pelayanan. Kehadiran Skytrain di Bandara Soetta ini dapat menjadi percontohan bagi bandara lainnya agar semakin berkembang khususnya demi meningkatkan pelayanan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya, yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (15/8/2017).

Pada uji coba ini, President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan, uji coba Skytrain merupakan sinergi BUMN yang melibatkan tiga pihak yakni Wijaya Karya yang melakukan uji fungsi dan pengoperasian lintasan Track A. PT LEN dan Woojin yang menguji fungsi dan pengoperasian kereta dan tentu AP II yang menguji standar maintenance procedure.

“Kami berharap pada masa uji coba ini segala kemungkinan dapat dipelajari, sehingga pelayanan pada penumpang tetap dapat terjaga. Beroperasinya Skytrain jelas akan meningkatkan standar pelayanan internasional pada Bandara Soetta untuk bisa berkompetisi dengan bandara-bandara terbaik di dunia ataupun kawasan regional Asean,” ujar Awaluddin.

Gratis 
Awaluddin menambahkan, bahwa penggunaan Skytrain oleh penumpang pesawat atau pengunjung bandara sama sekali tidak dikenakan biaya tambahan. Skytrain ini menggunakan teknologi Automated Guided Transit (AGT) yang dimana bergerak tanpa bantuan pengemudi.

AGT menggunakan roda pengarah tambahan di sisi kiri dan kanan unit kendaraan yang menempel pada dinding beton. Saat ini diketahui, sudah ada tiga rangkaian yang masing-masing memiliki dua gerbong sudah berada di terminal tiga Bandara Soetta, tetapi pada uji kali ini baru mencoba satu rangkaian.

Baca juga: Mengenal Skytrain di Changi, Benchmark APMS di Bandara Soekarno-Hatta

Pada Skytrain, terdapat dua pintu di setiap trainsetnya dan tempat duduk yang tersedia hanya sedikit. Hanya ada enam tempat duduk dengan empat bangku prioritas dan dua tempat duduk untuk umum. Dengan desain seperti ini, memang disengaja untuk penumpang berdiri agar barang-barang muat dibawa. Dalam masa uji coba, kecepatan Skytrain kurang dari 30 km per jam dan masih dijalankan oleh operator (masinis).