Penuh dan Antre Imigrasi, Kapal Ferry dari Johor ke Tanjungpinang Delay

Musim libur Lebaran telah usai, pelancong maupun pemudik kembali pulang untuk melanjutkan aktivitas pekerjaan mereka. Bukan hanya terminal maupun stasiun kereta yang dipenuhi perantau dan pelancong, Pelabuhan di Indonesia pun juga ramai.

Seperti di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, Kepulauan Riau yang kembali dipadati oleh penumpang yang tiba dari Malaysia dan Singapura. Jessica Windi Sari, mahasiswi asal Tanjungpinang ini tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura pada 3 April 2025 kemarin.

Ia mengatakan, kapal ferry yang ditumpanginya dari Pelabuhan Stulang Johor penuh oleh pelancong dan masyarakat Indonesia. Bahkan Jessi mengaku, saat tiba di Pelauhan Sri Bintan pura, antrean Panjang jelas terlihat tak lama dirinya keluar dari kapal.

“Jadi Jessi itu naik kapan dari Johor ke Tanjungpinang, nah pas keluar kapal, pelabuhan ramai karena ternyata kapal dari Singapura juga baru tiba,” ujar Jessi kepada KabarPenumpang.com.

Dia menjelaskan, ramainya Pelabuhan Sri Bintan Pura karena perjalanan kapal ferry baik dari Johor maupun Singapura delay atau terlambat.

Baca juga: Pelabuhan Sri Bintan Pura Tambah Dua Kapal Ferry di Momen Mudik Lebaran

“Di Pelabuhan Johor itu delay satu jam karena memang pas cap paspor di imigrasi ramai puoll,” ungkapnya.

Meski begitu, Jessi mengaku bila saat di kapal tidak berdesakan. Pasalnya tiket yang terjual dengan penumpang kapal sama totalnya dengan jumlah kursi di kapal ferry.

“Sesuai kursi di kapal ferry sih ka untuk penumpangnya. Jadi nggak desak-desakan dan semua penumpang duduk. Paling ya sama seperti di Johor desak-desakan pas mau keluar kapal dan cap paspor di imigrasi Pelabuhan Sri Bintan Pura,” ujarnya.

Baca juga: Electric Supply Boat Meluncur di Batam, PaxOcean Siap Lanjut Hadirkan Electric Tug Boat Pada Juni 2025

Sri Bintan Pura sendiri merupakan salah satu pelabuhan di Kepulauan Riau yang melayani angkutan kapal ferry penumpang menuju ke Johor, Malaysia dan Singapura. Perjalanan dari Sri Bintan Pura dari Stulang Laut Johor memakan Waktu sekitar tiga jam.

Tiketnya pun cukup terbilang murah yakni kisaran RM100-RM200 atau sekitar Rp373 ribu sampai Rp747 ribu.

Electric Supply Boat Meluncur di Batam, PaxOcean Siap Lanjut Hadirkan Electric Tug Boat Pada Juni 2025

Jembatan KA Leuwi Jurig, Benarkah Menyimpan Misteri?

Selain pemandangannya indah, Jembatan Leuwi Jurig merupakan jembatan satu-satunya yang terpanjang dan tertinggi di jalur selatan antara petak Stasiun Cipeuyeum dengan Stasiun Rajamandala.

Jembatan yang hanya dilewati KA Siliwangi dengan rute Cianjur-Cipatat ini berada diperbatasan antara Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat. Jembatan Leuwi Jurig ini berada di atas Sungai Citarum yang di bangun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda ini dinamakan jembatan kereta api Leuwi Jurig.

“Leuwi” sendiri merupakan sebuah kata yang di ambil dari bahasa Sunda yang berarti lubuk. Lubuk menurut geografis memiliki arti bagian terdalam sebuah sungai atau cekungan didalam dasar sungai. Sedangkan kata “jurig” memiliki arti yaitu hantu.

Bentang jembatan awal yang memiliki rasuk berukuran kecil namun sangat rapat di ubah menggunakan rangka yang berukuran besar namun jarang. Rangka yang di gunakan untuk bentang jembatan baru merupakan rangka hasil dari pembongkaran jembatan Cisomang generasi ke-1. Perancangan bentang jembatan di lakukan di balai jembatan Kiaracondong. Setelah perancangan selesai barulah baja-baja rasuk di angkut menuju lokasi jembatan dan perakitan dilakukan di samping jembatan.

Perbandingan Jembatan Leuwi Jurig dulu dan sekarang. (Foto: Dok. Istimewa)

Dari sejarah yang melegenda, Staatspoorwegen ( SS) yang merupakan perusahaan kereta api negara Hindia-Belanda sudah mulai mengoperasikan Jembatan ini sekitar tahun 1884. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 160 meter dengan 2 buah penyangga di tengahnya. Selama ini jembatan kertas api Leuwi Jurig sudah mengalami satu kali perubahan.

Perubahan dilakukan pada tahun 1936 meliputi perubahan pada bentang jembatan dan juga pada penyangga jembatan. Pada awal dibangun tiang jembatan menggunakan rangka baja, tetapi sebelum penggantian bentang jembatan terlebih dahulu penyangga jembatan di ganti dengan kontruksi beton. Barulah setelah tiang jembatan di rubah berikutnya penggantian meliputi bentang jembatan.

Dari segi mistis jembatan ini juga termasuk kedalam jembatan kereta api yang sangat angker. Dari namanya saja sudah mewakili keangkeran jembatan ini. Warga sering mendengar tabuhan gamelan, suara orang berbincang-bincang. Bahkan menurut warga bila kita mempunyai mata batin yang kuat, setiap sore kita bisa melihat keramaian layaknya pasar di sekitar tepi aliran sungai Citarum. Warga juga pernah melihat sosok tengkorak terbang di atas kali Citarum.

Secercah Cerita di Balik Jembatan Cincin Yang Melegenda

Menurut kepercayaan warga bahwa jangan sampai sendirian lebih dari pukul lima sore di sekitar tepi sungai Citarum. Tidak di sebutkan apa yang akan terjadi bila melebihi pukul lima sore. Kemungkinan pandangan kita akan di perlihatkan terhadap sosok-sosok penghuni astral di sekitar sungai.

Fyi, di jembatan Leuwi Jurig sendiri sering terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan. Banyaknya kecelakaan saat proyek renovasi beberapa tahun lalu, hingga suara-suara tanpa ada wujudnya. Bahkan beberapa tahun terakhir ada anak kecil yang terjatuh dari atas jembatan saat bermain.

Menurut orang yang memiliki kelebihan dalam ilmu gaib, bahwa penghuni jembatan masih meminta satu korban seorang anak kecil di area itu. Bahkan katanya untuk menjaga dari hal-hal yang tidak di inginkan, kabarnya setiap tahun petugas KAI sering melakukan syukuran di area jembatan. Ini berguna juga untuk memperlancar perjalanan kereta api yang melintas di jembatan ini. Untuk segi fotografi, Jembatan Leuwi Jurig juga menyimpan keindahan panorama bukit dan jurang di sekitar jembatan yang sayang jika terlewatkan. Karena akses jalan menuju jembatan tidak begitu sulit. Mau coba telusuri?

Alas Roban, Jalur Tengkorak Penuh Mistis di Jawa Tengah

Eva Air Mekarkan Armada dengan Tambah Jumlah Pesanan Airbus A350-1000 dan A321neo

Eva Air, maskapai asal Taiwan, telah menandatangani kontrak pemesanan (firm order) untuk enam pesawat berbadan lebar A350-1000 dan tiga pesawat lorong tunggal A321neo, menyusul komitmen yang diumumkan pada Maret 2025. Dengan tambahan ini, total pesanan pesawat Eva Air bertambah menjadi 24 unit pesawat A350-1000 dan 18 unit pesawat A321neo.

“Penambahan pesawat baru ini menegaskan komitmen kami terhadap keberlanjutan penerbangan dan pengalaman perjalanan udara yang menyenangkan bagi penumpang. Pesawat A350-1000 dan A321neo merupakan standar tertinggi di kelasnya masing-masing, menghadirkan efisiensi sekaligus kenyamanan bagi para penumpang. Seiring dengan rencana ekspansi armada dan jaringan kami, kami berharap dapat memaksimalkan jangkauan dan efisiensi pesawat-pesawat ini untuk memperkuat posisi kami di pasaran,” ujar Clay Sun, President of Eva Air.

“Pesanan baru dari Eva Air kembali menegaskan daya tarik A350-1000 Long Range Leader sebagai panutan dalam hal penerbangan antar benua, dan A321neo sebagai pemimpin di bidang efisiensi untuk penerbangan regional. Kami sangat menghargai kepercayaan EvaA Air terhadap pesawat generasi terbaru kami dan siap mendukung integrasi pesawat-pesawat ini ke dalam armada mereka untuk mendukung kelancaran operasional di masa depan,” kata Benoît de Saint-Exupéry, Airbus EVP Sales of the Commercial Aircraft business.

A350 merupakan pesawat berbadan lebar paling modern dan efisien di dunia, yang sekaligus menjadi standar baru untuk penerbangan antar benua. Pesawat ini menawarkan kemampuan terbang jarak jauh terpanjang dibanding pesawat komersial lainnya yang ada di pasaran saat ini. Ditenagai oleh mesin generasi terbaru dari Rolls-Royce, A350 mampu terbang hingga 9.700 mil laut atau 18.000 kilometer tanpa henti, dengan efisiensi konsumsi bahan bakar dan pengurangan emisi karbon 25% lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.

Sebagaimana pesawat Airbus lainnya, pesawat A350 sudah mampu beroperasi dengan campuran bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) hingga 50%. Airbus menargetkan seluruh pesawatnya dapat beroperasi dengan 100% SAF pada tahun 2030.

Hingga saat ini, keluarga A350 telah mengantongi lebih dari 1.360 pesanan dari 60 pelanggan di seluruh dunia. Lebih dari 640 unit telah beroperasi di 38 maskapai, terutama pada pelayanan rute jarak jauh.

Sementara itu, A321neo merupakan bagian dari keluarga A320neo yang menggabungkan berbagai teknologi terbaru, termasuk mesin generasi baru, Sharklets, serta efisiensi kabin yang menghasilkan penghematan bahan bakar hingga 20%. Sejak diluncurkan pada 2016, A321neo telah mencatatkan lebih dari 6.800 pesanan dari lebih dari 90 pelanggan, menguasai lebih dari 80% pangsa pasar di segmennya.

Eva Air – Anak Perusahaan Evergreen Group yang Kerap Pasang Livery Lucu di Armadanya

“Serasa Bandara”, Inilah Terminal Bus Tangkoko di Bitung

​Terminal Tangkoko, yang terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara, memiliki sejarah panjang dalam mendukung sistem transportasi di wilayah tersebut. Awalnya, Kota Bitung memiliki Terminal Mapalus yang berlokasi di Kelurahan Wangurer Timur, Kecamatan Madidir.

Pada tahun 1998, pemerintah setempat memutuskan untuk merelokasi terminal tersebut ke lokasi baru di Jalan H. Tumundo, Kecamatan Matuari. Terminal baru ini mulai beroperasi dan diresmikan pada awal Januari 2000 dengan nama Terminal Tangkoko, menempati lahan seluas 2,064 hektar dengan luas bangunan 4.200 m².

Terminal Tangkoko sendiri memiliki posisi yang strategis dan merupakan terminal tipe A yang melayani berbagai rute antarkota antarprovinsi. Di mana rute bus menghubungkan Bitung denga kota-kota di Sulawasi dan daerah lainnya.

Terminal ini diresmikan pada 11 April 2011 lalu oleh Kementerian Perhubungan. Kehadirannya memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di Bitung, khususnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Baca Juga: Tarif Rp15 Ribu, Penginapan Murah di Terminal Pulo Gebang Dilengkapi AC dan Shower

Memiliki konsep desain dari bentukan Gunung Tangkoko yang menjadi nama terminal tersebut. Denah bangunan pun memaksimalkan penggunaan ruang yang dibuat untuk terminal ini.

Kementerian Perhubungan sendiri membuat Terminal Tangkoko sebagai terminal “serasa bandara” yang melayani penumpang bus dan juga menduking konektivitas KEK Bitung dan KSPN Manado-Likupang.

Melalui berbagai tahap perkembangan dan modernisasi, Terminal Tangkoko terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan menjadi bagian integral dalam sistem transportasi di Sulawesi Utara.

Adapun fasilitas yang dimaksud antara lain seperti ruang tunggu berpendingin udara yang dilengkapi dengan tenant seperti makanan dan penjual UMKM, ruang kesehatan dan laktasi, fasilitas difabel, ATM gallery, photo booth, mesin antrian, mesin survey kepuasan masyarakat, free wifi dan port charger, voice direction/announcement.

Terminal tersebut juga dilengkapi dengan beberapa kerajinan kesenian yang semakin menambah keindahannya dengan adanya lumosan mural pada tembok terminal, galeri seni di dalam terminal karya seniman lokal, serta tulisan filosofi “SI TOU TIMOU TUMOU TOU” yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan orang lain.

Terminal 1 Bandara Soetta Kini Dikhususkan untuk Maskapai Berbiaya Murah (LCC)

Korea Utara dan Rusia Bangun Jembatan Raksasa Sepanjang 4,6 Km

Punya rasa kebersamaan yang kuat akibat hujan sanksi internasional, Korea Utara dan Rusia dikabarkan membangun jembatan raksasa senilai £77 juta untuk menghubungkan kedua negara

Seperti dikutip mirror.co.uk, jembatan sepanjang 2,92 mil (sekitar 4,6 km) akan selesai pada akhir tahun 2026 dan bakal menghubungkan Korea Utara bagian utara dengan Rusia timur, dekat kota Vladivostok.

Sebuah jembatan mobil raksasa senilai £77 juta sedang dalam pengerjaan, yang akan dibangun di samping jembatan kereta api yang sudah ada.

Jembatan Tumangang – Jembatan Kereta Penghubung Antara Rusia dan Korea Utara

Membentang di Sungai Tumen, yang berfungsi sebagai perbatasan alami antara Rusia, Korea Utara, dan Cina, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas di wilayah tersebut.

Dalam sebuah langkah yang mengejutkan, Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin menandatangani sebuah dekrit pada bulan Februari, menyerahkan proyek ambisius tersebut kepada sebuah perusahaan yang relatif tidak dikenal dan kurang berpengalaman yang berbasis di Sochi bernama TonnelYuzhStroi, sebagaimana dilaporkan oleh NK News.

Meskipun konstruksi belum dimulai, lampu hijau diberikan setelah perjalanan Vladimir Putin ke Korea Utara pada tahun 2024.

Masih dalam tahap persiapan, jembatan penyeberangan baru akan dibangun di samping “Jembatan Persahabatan” bersejarah yang telah menghubungkan kedua negara bagian yang dikelola dengan ketat ini dengan kereta api sejak tahun 1959 “Pembangunan jembatan belum dimulai,” Alexander Matsegora, Duta Besar Rusia untuk Korea Utara, mengonfirmasi dalam sebuah percakapan dengan RIA Novosti.

Ia menjelaskan bahwa kedua pihak saat ini tengah terlibat dalam pekerjaan awal, yang meliputi penyelesaian rencana desain, penyusunan tim konstruksi, dan pengaturan peralatan.

Setelah Empat Tahun Terhenti, Jalur Kereta Rusia dan Korea Utara Dibuka Kembali

Selain Mudik, Stasiun Yogyakarta Menjadi Tujuan Destinasi Wisata Favorit Saat Lebaran

Mudik menggunakan kereta api ternyata penumpang lebih dominan pada rute dengan tujuan Yogyakarta. Tak heran banyaknya rangkaian kereta api yang melewati Yogyakarta termasuk kereta api tambahan yang disediakan PT KAI untuk memenuhi kebutuhan perjalanan.

KAI mencatat pada periode angkutan Lebaran sejak 21 Maret hingga 1 April 2025, jumlah penumpang KA jarak jauh yang berangkat dari Stasiun Yogyakarta mencapai 86.027 orang, sedangkan yang datang mencapai 89.491 orang. Lalu, pada arus balik 2-4 April, penumpang KA jarak jauh berangkat dari Stasiun Yogyakarta mencapai 34.431 orang, sedangkan yang datang 38.550 orang.

Salah satu keunggulan stasiun tersebut yakni adanya integrasi dengan berbagai moda transportasi lainnya. Selain kereta api jarak jauh juga terdapat layanan kereta rel listrik (KRL) relasi Yogyakarta-Palur dan KA Lokal Prambanan Ekspres yang menawarkan perjalanan dengan tiket terjangkau ke Stasiun Kutoarjo di Kabupaten Purworejo. Pada libur Lebaran dan arus balik dari 1-4 April 2025, pengguna KAI Commuter di Stasiun Yogyakarta meningkat signifikan.

Lokomotif Diesel Hidraulik D301 22 Kini Jadi Koleksi Stasiun Tugu Yogyakarta

Integrasi antara KRL, KA lokal, KA Bandara dan KA jarak jauh sangat membantu pemudik dari berbagai daerah di sekitar Yogyakarta. Termasuk juga pemudik yang datang ke Yogyakarta dengan pesawat, bisa melanjutkan perjalanan menggunakan KA untuk menuju Stasiun Yogyakarta dan meneruskan perjalanan ke kota tujuan.

KAI mempercayakan pengelolaannya kepada KAI Bandara yang juga merupakan anak perusahaan KAI. Total penumpang yang dilayani oleh KA Bandara pada periode masa Angkutan Lebaran dari 21 Maret hingga 4 April 2025 di Stasiun Yogyakarta sebanyak 128.488 penumpang, dengan rata-rata 8.566 penumpang KA Bandara setiap hari.

Ramainya pengunjung di Yogyakarta, makin dimudahkan dengan sarana menuju ke berbagai lokasi favorit. Dari Stasiun Yogyakarta tersedia pick-up point untuk angkutan online, selain itu tidak jauh dari stasiun juga terdapat halte bus Trans Jogja untuk angkutan lanjutan. Lokasi stasiun yang strategis di pusat kota, dekat dengan Jalan Malioboro yang ikonik, semakin menambah daya tarik

Stasiun Yogyakarta sebagai pusat transportasi dan pariwisata. Dengan tingginya minat masyarakat untuk menggunakan kereta api di Stasiun Yogyakarta, KAI mendorong para pemangku kepentingan untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas, baik di dalam kota maupun menuju luar kota.

Setelah Revitalisasi, Stasiun Tugu Akan Mampu Tampung 14 Ribu Penumpang

Yuk Kenali, Rambu-rambu Kereta Api yang Sering Kita Lihat Saat Diperjalanan

Selain rambu lalu lintas jalan raya, ternyata kereta api juga memiliki rambu-rambunya tersendiri. Rambu-rambu atau istilah marka yang dimiliki kereta api ini biasa disebut juga dengan semboyan. Nah, saat diperjalanan tentunya kita pernah jumpai sekilas rambu/marka kereta api, kira-kira apa arti dan fungsinya ya? Kabarpenumpang akan merangkumnya berikut ini:

• Marka Bertuliskan S35
Papan rambu bertuliskan S35 sangat sering dijumpai berada di pinggir rel kereta api. Papan ini biasanya ditempatkan pada jalur menikung, saat hendak memasuki terowongan, sebelum melewati jembatan dan perlintasan, dan didaerah keramaian masyarakat yang menyeberang rel. Saat masinis melihat rambu ini, tugasnya harus membunyikan klakson di lokomotif. Fungsinya untuk memperingatkan bahwa kereta api akan lewat. Dahulu papan rambu S.35 ini ditulis lengkap dengan kata “Semboyan 35”, bahkan tiang rambu tersebut menggunakan rel bekas dan papannya dari bantalan rel bekas pula.

• Batas Berhenti Kereta
Marka batas berhenti kereta api adalah semboyan 10G yang menunjukkan batas berhenti kereta api di stasiun. Pada papan marka semboyan 10G ini memiliki gambar berupa tanda plus (+) berwarna putih dengan warna dasar hitam. Marka ini biasanya di tempatkan dibagian ujung peron stasiun dekat dengan sinyal kereta api. Setiap masinis harus memposisikan keretanya mendekati marka tersebut. Ini berguna agar bagian belakang kereta tetap aman saat berhenti atau tidak bersinggungan dengan kereta api yang datang dari arah yang berlawanan.

• Papan Semboyan 8
Semboyan Kereta Api yang berupa dua papan putih yang diletakkan sejajar di sebelah kanan rel dengan jarak di antara dua papan sejauh 30 meter. Semboyan ini berarti jarak kereta api dengan sinyal masuk stasiun di depan tinggal 1000 meter, masinis harus bersiap untuk mengikat rem bila sinyal di depan menandakan bahaya. Jika kita melihat papan tersebut, pastinya kereta api akan memasuki stasiun. Biasanya papan Semboyan 8 ini dibuat memanjang hingga menyentuh tanah dan diposisikan dekat sambungan rel. Jadi saat masinis melewati Semboyan 8 otomatis suara yang dihasilkan memantul keras agar masinis terdengar keras pantulan suara tersebut. Namun kini papan tersebut dibuat tidak menyentuh tanah dan terlihat lebih rapi.

• Rambu Kelandaian Jalan Rel
Rambu ini biasa berbentuk papan penunjuk arah bila jalan rel kereta api menanjak ataupun menurun. Bentuknya berupa plat besi ukuran persegi panjang bercat hitam dan putih yang dipasang dengan tiang besi di pinggir kanan jalan rel. Rambu kelandaian ini seringkali dijumpai saat diperjalanan baik pada jalur kereta api mendatar maupun di daerah pegunungan. Ada beberapa petunjuk dari rambu kelandaian ini, yaitu dari datar ke menanjak, dari datar ke menuru, dari menurun ke mendatar, menanjak terus, dan menurun terus.

• Rambu Batas Kecepatan
Rambu ini memberi tanda bahwa kecepatan kereta api harus sesuai dengan rambu yang terlihat oleh masinis. Rambu atau tanda ini berupa angka yang berarti batas kecepatan yang diijinkan. Nah, rambu ini disebut Semboyan 2. Biasanya pada Semboyan 2 berupa angka yang ditulis dalam bentuk satuan yakni angka 1 sampai 10, bahkan terkadang ada yang tertulis menggunakan tanda koma, misalnya 1,5. Nah, angka tersebut merupakan kecepatan maksimal kereta api yang berarti angka 1 artinya 10 km/jam, sampai dengan 10 yang berarti 100 km/jam. Untuk kecepatan tertinggi biasanya sudah bisa mencapai maksimal 120 km/jam khususnya untuk jalur dengan kontur tanah mendatar dan maksimal 70 km/jam untuk jalur dengan kontur menanjak dan turunan bahkan tikungan.

• Rambu Batas Kecepatan Darurat
Rambu yang satu ini merupakan rambu batas kecepatan yang dipasang pada saat keadaan darurat. Biasanya saat terjadi pasca bencana maupun jalur sedang dalam perbaikan. Rambu ini dinamakan Semboyan 2A dan 2B. Semboyan 2A adalah semboyan sementara yang berupa satu bendera hijau atau satu rambu berbentuk bulat yang berwarna hijau yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam. Sementara Semboyan 2B, mengisyaratkan bahwa kereta api harus berjalan dengan kecepatan terbatas dan hati-hati.

Semboyan 2B adalah semboyan sementara yang berupa dua bendera hijau atau dua rambu berbentuk bulat yang berwarna hijau, atau petugas yang membawa lampu yang direntangkan sejajar dada yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam.

Jelajah Stasiun Lebak Jero, Terpencil dan Pemandangannya Bikin Melongo

Siapa tak kenal dengan stasiun yang memiliki ekssotik pemandangan disekelilinnya. Ya, Stasiun Lebak Jero merupakan stasiun satu-satu yang sangat digandrungi oleh masyarakat yang doyan akan pemandangan indah. Stasiun yang erada di ketinggian +818 mdpl ini sebagai stasiun aktif tertinggi kedua setelah Stasiun Nagreg.

Stasiun ini terletak di tengah-tengah pegunungan, seperti jalur selatan Jawa Barat pada umumnya. Kereta api yang melewati Stasiun Lebak Jero lebih dominan dengan rute dari Bandung sampai dengan Yogyakarta hingga Surabaya. Ada juga beberapa dari arah Jakarta sampai dengan tujuan akhir Garut dan Banjar.

Digadang-gadang stasiun kecil ini ternyata sudah berusia 130 tahun dan menjadi saksi bisu sejarah perkereta apian di jalur selatan. Dibangun dalam satu proyek besar pembangunan jalur KA dari Bogor, Bandung, Cibatu, Garut, hingga Yogyakarta oleh Staatsspoorwegen (SS). Pembangunannya dimulai pada dekade 1880-an dan stasiun ini dibangun antara tahun 1884-1889. Jalur KA Bandung-Garut baru diresmikan pada 14 Agustusb 1889 yang jika dihitung umurnya, Stasiun Lebak Jero sudah berusia lebih dari 130 tahun.

Lebak Jero, Spot Foto yang Tak Tertandingi

Stasiun ini pernah melayani penumpang, tak heran pernah ada rangkaian Kereta Api Lokal rute Purwakarta-Cibatu yang berhenti di Stasiun Lebak Jero. Keberadaan penumpang yang naik dan turun pun sempat terbantu di sini. Namun sangat disayangkan dengan okupansinya yang sedikit, sekitar tahun 2015 Stasiun Lebak Jero sudah tak melayani penumpang KA Lokal lagi dan praktis tak ada satu pun kereta api yang berhenti hingga saat ini. Meski memiliki 2 jalur, saat ini Stasiun Lebak Jero tak melayani persilangan antar kereta api, kecuali dalam keadaan yang benar-benar darurat. Sistem persinyalan mekanik di stasiun ini menambah suasana heritage yang makin terasa. Rumah-rumah pedesaan di bagian bawah bukit serta menjulangnya Bukit Mandalawangi, makin menambah daya tarik bagi penikmat fotografi.

Saat ini Stasiun Lebak jero masih menjadi daya tarik bagi penikmat fotografi terutama para pecinta kereta api. Walaupun sudah tak melayani naik dan turun penumpang, namun akses menuju stasiun ini pun cukup mudah. Dari Jalan Raya Nagrek-Garut terdapat papan bertuliskan Stasiun Lebak Jero.

Masuk menuju jalan kearah stasiun pub bisa di lewati menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat. Yang cukup memacu adrenalin, akses menuju stasiun harus ditempuh berjalan kaki yang melewati beberapa anak tangga menuju ke atas. Jika sudah mencapai stasiun, biasakan meminta izin terlebih dahulu kepada petugas stasiun supaya aman dalam mengambil foto. Selamat Hunting, Ya!

Stasiun Lebak Jero, Suguhkan Pemandangan Cantik Hingga Jalur Elok Berbentuk “S”

Ganti Nama jadi Green SM, Bikin Penumpang Xanh SM Bingung

Awal beroperasi di Ibu Kota Jakarta, taksi listrik asal Vietnam ini bernama Xanh SM. Namun beberapa hari ini body taksi tersebut namanya berganti menjadi Green SM.

Namun apakah pergantian nama ini berpengaruh dengan jumlah penumpang Xanh SM yang kini menjadi Green SM? Ternyata iya, dan penggantian ini cukup banyak mengurangi penumpang taksi asal Vietnam tersebut.

KabarPenumpang.com mewawancarai salah seorang pengemudi Green SM. Pengemudi ini mengatakan, adanya perubahan nama dari Xanh menjadi Green dikarenakan komplain pelanggan yang mengaku sulit menyebutkan kata Xanh.

“Kan Xanh mungkin susah dibaca ya, tapi banyak yang baca jadi ‘San’. Anggap saja begitulah dan ini cukup mudah untuk dibaca,” kata dia lagi.

Pengemudi itu mengatakan, karena komplain itu maka pengelola menggantinya menjadi Green. Menurut pengemudi yang tak mau disebutkan namanya tersebut, penggantian nama juga membuat pelanggan Xanh cukup bingung.

“Penggantian nama ini bikin pelanggan Xanh berkurang. Mereka bingung dengan namanya yang sekarang jadi Green. Padahal nama itu sudah dikenal baik oleh masyarakat,” ungkap pengemudi tersebut.

Dia mengaku, penggantian nama ini seperti memperkenalkan kembali Xanh SM yang sudah beroperasi sejak Desember 2024 lalu dengan nama Green SM. Menurutnya, perubahan nama tanpa edukasi yang kuat juga membuat banyak pelanggan tak sadar bahwa Green SM adalah versi baru dari Xanh SM.

Sepinya penumpang juga dikarenakan banyak yang mengira Green SM adalah pemain baru yang belum terpercaya. Hal ini pula yang membuat banyak pengemudi hanya duduk menunggu orderan.

“Saya bingung saat lihat kok namanya berubah. Pas awal Xanh SM. Kok jadi Green SM,” kata Susi seorang pelanggan Xahnh.

Dia mengatakan tahu penggantian nama ini karena tidak sengaja melihat taksi Xanh menjadi Green. Susi mengaku awalnya bingung dengan nama itu.

“Saya pikir taksi baru. Tapi kok seperti taksi yang biasa saya pesan ya. Saya tanya sama supirnya, katanya ganti nama gara-gara pelanggan komplain susah nyebut Xanh,” aku Susi.

Untuk diketahui, Xanh SM atau Green SM memiliki pool taksi di beberapa lokasi yakni Cinere, Kapuk, Rajawali Selatan (Kemayoran), dan yang terbaru di Joglo.

Si Tosca dari Vietnam, Ini Dia Taksi Listrik Xanh SM

Mengenang 11 Tahun Tragedi Kecelakaan KA Malabar. Ternyata Ada Hal Aneh Saat Evakuasi

Pada tahun 2014 lalu atau lebih tepatnya 11 tahun lalu tragedi memilukan terjadi pada perkeretaapian Indonesia. Ya, tragedi KA Malabar yang mengalami kecelakaan akibat tanah longsor di Kabupaten Tasikmalaya itu terjadi pada 4 April 2014. Kejadian yang menewaskan 3 orang itu merupakan kejadian yang tak pernah hilang dari benak masyarakat. Proses evakuasinya sendiri pun memakan hampir 1 bulan. Kejadian ini kemudian dikenang dengan nama Kecelakaan KA Malabar.

Melansir dari berbagai sumber media, saat itu, Kereta Api Malabar (KA 86) membawa 7 gerbong yang terdiri dari kereta penumpang, kereta makan, dan kereta bagasi dengan total 360 penumpang. Kecelakaan ini disebabkan oleh longsornya tanah di km 244, Kampung Terung RT 05 RW 09, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Penyebab kereta api terguling dan kemudian jatuh ke jurang adalah karena hujan lebat yang mengguyur lokasi dengan durasi yang lama.

Tragedi KA Malabar (Foto: Dok. Istimewa)

Berdasarkan situs Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, guyuran hujan dengan intensitas tinggi itu mengakibatkan tanah disekitar rel kereta api menjadi labil. Sayangnya, rel tidak mampu menahan beban KA Malabar yang melintas saat itu. Akibatnya lokomotif bernomor seri CC 206 13 55 terlebih dahulu tergelincir sembari menyalakan klakson darurat, bersamaan dengan 2 kereta kelas eksekutif. Diketahui, dua unit kereta kelas eksekutif yang jatuh tersebut bernomor seri K1 0 67 27 dan K1 0 67 22. Sedangkan lokomotif CC206 13 55 yang terperosok lalu keluar rel.

Lokasi kecelakaan ini pun menyulitkan upaya penyelamatan atas kecelakaan ini. Sampai 1 unit kereta bernomor seri K1 0 67 22 pun harus dirucat di lokasi terdekat yaitu Stasiun Cirahayu yang berada di sebelah barat dari lokasi kejadian. Sedangkan K1 0 67 27 dapat diselamatkan setelah dipasangkan bogie sementara dan diperbaiki besar-besaran di Balai Yasa Manggarai. Butuh waktu satu jam untuk berkendara dari Kota Tasikmalaya untuk sampai daerah Gentong. Para petugas penyelamat juga harus berjalan kaki di atas rel untuk sampai ke lokasi anjloknya kereta. Karena perjalanan kereta api saat itu masih belum bisa dilewati dan harus memutar lewat jalur utara tepatnya lewat Cirebon.

Untuk para korban yang selamat pada insiden tersebut langsung dipindahkan ke Stasiun Cirahayu, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi kecelakaan. Melansir berita kompas (5/4/2014) dari tiga korban yang tewas (yang diketahui saat itu) kecelakaan KA Malabar di ruas Ciawi-Cirahayu itu salah satu korban berasal dari Malang, Jawa Timur. Korban merupakan pegawai PT KAI kantor pusat Bandung yang bernama Ayu Dyah Kusumaningrum yang masih berusia 27 tahun. Di Malang, korban tinggal di Jalan Pendowo Nomor 11 Kecamatan Lawan, Kabupaten Malang. Diberitakan korban lain yang meninggal dunia dalam tragedi bernama Sri Hartanto (60), asal Sleman, Yogyakarta, dan Kharis Budi Cahyono, asal Jambon, Ponorogo.

Dari kejadian memilukan tersebut ternyata ada hal yang terbilang cukup aneh saat melakukan evakuasi. Dari saksi petugas penyelamat sempat menuturkan bahwa ada kejadian yang terbilang aneh, tepatnya menjelang malam. Ternyata beberapa kru melihat ada cahaya seperti lampu yang berkedip di bagian kabin lokomotif. Padahal lokomotof sudah dalam keadaan terperosok ke jurang dan tak ada satupun cahaya lampu yanh bisa menyala. Apalagi kondisi mesin memang sudah tidak hidup.

Beberapa hari kemudian kejanggalan yang kedua. Saat cuaca sedang hujan lebat, petugas mengevakusi lokomotif yang terperosok dan telah memisahkan bogie-nya, namun peristiwa tak terduga terjadi bahwa lokomotif meluncur makin dalam ke jurang. Ini pun makin menyulitkan evakuasi. Dan kejadian yang ketiga, saat lokomotif diangkat dan ingin dipindahkan ke atas menggunakan dua buah crane yang dikirim dari Jakarta, tali baja tiba-tiba putus, lalu lokomotif terpelanting dan jatuh kembali ke jurang.

Setelah beberapa hari tepatnya minggu ketiga pasca kejadian, petugas membuat gundukan tanah menuju ke arah lokomotif yang terperosok guna mempermudah evakuas. Dengan berhati-hati dan memakan waktu lebih dari 2 jam, akhirnya lokomotif bisa di evakuasi dengan selamat. Selanjutnya lokomotof tersebut dibawa menuju ke Balai Yasa Yogyakarta untuk di perbaiki lebih lanjut. Dan hingga saat ini lokomotif seri CC 206 13 55 sudah beroperasi menarik rangkaian kereta api di lintas Pulau Jawa.

KA Wijayakusuma Dinobatkan Sebagai Kereta Api dengan Okupansi Tertinggi (193 Persen), Posisi Kedua KA Malabar