Tips Sopan Buang Angin Selama Perjalanan, Intinya Harus Tetap “Dicicil”

Masuk angin memang perkara yang lumrah bagi semua orang, namun kasus ini menjadi tidak biasa ketika tubuh Anda sudah tidak kuasa lagi menampungnya. Ketika Anda berada di rumah, mungkin sendawa atau buang gas (kentut) tidaklah menjadi soal, tapi bagaimana ceritanya jika Anda terpaksa membuang senyawa amoniak ini di tempat umum, seperti sarana transportasi?

Tentu Anda tidak ingin dicap sebagai orang yang jorok karena buang gas sembarangan. Berikut, KabarPenumpang.com sarikan beberapa tips jitu untuk membuang gas di moda transportasi umum dihimpun dari laman wikihow.com.

Baca Juga: Ini Dia Jurus Jitu Atasi ‘Beser’ Selama Perjalanan Jarak Jauh

Keluarkan Gas di Perut Anda Secara Perlahan
Dua masalah yang kerap kali menjadi pertimbangan Anda untuk tidak membuang gas sembarangan adalah takut terdengar oleh orang lain dan bau semerbak yang ditimbulkan. Untuk masalah yang pertama, Anda bisa mengupayakannya dengan cara membuangnya secara perlahan. Notabene, kondisi di transportasi umum sangatlah berisik, jadi Anda bisa mengambil keuntungan dari kondisi ini.

Regangkan Anus Anda
Selain tips di atas, ada trik lain untuk meminimalisir bunyi yang ditimbulkan oleh proses pembuangan gas ini, yaitu dengan cara meregangkan anus. Anda bisa berpura-pura membenarkan tali sepatu atau aktifitas lain yang memaksa Anda untuk berjongkok di moda transportasi umum. Dilansir dari sumber lain, kerasnya bunyi kentut ini ditentukan oleh kecepatan gas dan luasnya dubur.

Buat Bunyi yang Lebih Keras dari Kentut Anda
Walaupun tips yang satu ini sering dijadikan bahan bercandaan, namun tetap terbukti ampuh lho! Ya, Anda bisa berpura-pura batuk atau berdeham sembari mengeluarkan senyawa amoniak ini. Jika Anda berniat untuk melakukan trik ini, pastikan jumlah gas yang Anda keluarkan juga seimbang dengan durasi batuk yang Anda lakukan, jangan sampai batuk Anda sudah selesai tapi gasnya masih keluar dan berbunyi, berbahaya!

Lepaskan Gas Saat Anda Berjalan
Anda bisa lakukan trik yang satu ini jikalau Anda tengah berjalan di peron atau halte bus. Tapi ingat, mengeluarkannya tetap dicicil ya!

Baca Juga: Tips Kenalan “Ampuh” di Moda Transportasi, Intinya Tidak Boleh Dipaksakan!

Hindari Keramaian
Bagi Anda yang kurang percaya diri untuk membuang gas sembarangan, ada baiknya Anda menjauh dari kerumunan terlebih dahulu untuk membuang gas. Anda bisa pergi ke toilet (jika tersedia) atau ke sudut ruangan (bordes atau sambungan bus gandeng).

Gunakan Pengharum Untuk Hilangkan ‘Jejak’
Ketika semua misi membuang gas diam-diam sudah selesai, sekarang saatnya pastikan gas yang Anda keluarkan bau atau tidak. Untuk berjaga-jaga, Anda bisa menyiapkan segala sesuatu yang memiliki aroma kuat, seperti minyak kayu putih, hand body lotion, atau bahkan parfum untuk menyamarkan bau gas tersebut.

Sembunyi dari Kondektur Tiket Kereta, Masih Bisakah?

Apa jadinya jika Anda tidak memiliki tiket tetapi ingin menaiki kereta api? Kucing-kucingan dengan petugas mungkin jadi solusinya, tapi seberapa lihai Anda mampu mengindari inspeksi dari kondektur kereta yang senantiasa wara-wiri di antara gerbong. Meski tak dianjutkan, ada beberapa lokasi favorit untuk itu, dan beberapa sekuel film Hollywood menampilkan adegan menghindari dari petugas kereta.

Baca juga: Terdesak Kereta Cepat, Parlemen Eropa Tinjau Kelayakan Bisnis Kereta Malam

KabarPenumpang.com melansir dari laman lifehacker.com.au, untuk menghindari inspeksi petugas jika Anda tidak memiliki tiket baiknya berdiri dan berdiamlah di dalam toilet kereta. Ya itulah yang sering diperlihatkan di film-film.

Taktik ini bisa dilakukan dengan mudah, sebab kebanyakan dari petugas kereta tidak memeriksa toilet dan berjalan melewati toilet begitu saja tanpa melirik sedikitpun. Ini mungkin menjadi suatu perbuatan yang tidak baik dan menjadi sebuah kejahatan. Namun, taktik ini dianggap bisa digunakan dan membantu penumpang yang ‘kepepet.’

Ide bersembunyi di toilet sudah barang tentu tidak sempurna. Ada opsi lain seperti beranjak pergi ke toilet atau bordes saat terlihat kondoktur mulai mengecek tiket di gerbong Anda. Namun perlu dicatat, kondektur bisa saja menegur Anda yang ‘pura-pura’ berdiam diri di bordes, pasalnya bordes adalah wilayah terlarang untuk ditumpangi.

Trik lain masih ada, seperti cobalah duduk manis di gerbong restorasi, membeli minum kopi atau teh panas, dipadang lumayan ampuh dari incaran kondektur atau petugas pengecekan tiket.

Memang hal seperti di atas sangat ironis, tetapi semua ini tergantung dari Anda baiknya seperti apa. Kebanyakan taktik di atas sering digunakan pada masa kereta api di Indonesia belum seketat seperti sekarang. Bahkan, bukan lagi bersembunyi, melainkan berbagi tempat dengan penumpang lain demi sampai ke tujuan. Saat ini dengan ketatnya pengecekan di stasiun kereta serta pemberlakuan peron sebagai zona sterilisasi, maka seorang penumpang tanpa tiket tidak akan bisa masuk ke stasiun, apalagi untuk bersembunyi dalam toilet kereta.

Baca juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank

Tak hanya itu, petugas kereta saat ini melakukan pengecekan penumpang juga hingga ke toilet dan petugas keamanan selalu bolak balik gerbong sekitar 15-30 menit sekali. Ini dilakukan bukan hanya untuk mengecek penumpang gelap, melainkan mengecek penumpang yang menyalahi aturan di kereta seperti merokok di dalam kereta.

Demi Keselamatan, Lebar Celah Peron ada Standarnya, Bagaimana dengan Indonesia?

Standar lebar pada celah peron, atau jarak antara tepi peron dan pintu kereta, merupakan elemen penting untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Banyak insiden terjadi terkait celah peron, seperti anak kecil yang terperok sampai risiko penumpang tersandung hingga terjatuh.

Baca juga: Sukima Mori, “Monster” yang Jaga Anak-anak Tidak Jatuh di Celah Antara Peron dan Kereta

Nah, tahukah Anda bahwa standar celah peron dapat bervariasi tergantung pada sistem kereta api dan negara, namun ada pedoman umum yang sering diterapkan.

1. Standar Internasional
Organisasi seperti UIC (International Union of Railways) merekomendasikan bahwa lebar celah peron tidak boleh lebih dari 75 mm (3 inci) secara horizontal dan 50 mm (2 inci) secara vertikal.

2. Standar di Inggris:
Di Inggris, Network Rail mengadopsi standar bahwa lebar celah horizontal tidak boleh melebihi 90 mm (3.5 inci).

3. Standar di Amerika Serikat
American Public Transportation Association (APTA) merekomendasikan lebar celah horizontal maksimum 76 mm (3 inci).

Kereta yang berbeda dan desain peron yang bervariasi dapat mempengaruhi lebar celah. Misalnya, peron melengkung cenderung memiliki celah yang lebih besar dibandingkan peron lurus. Pada stasiun di mana kereta melintas dengan kecepatan tinggi tanpa berhenti, celah yang lebih besar mungkin diperlukan untuk alasan keamanan.

Tinggi peron relatif terhadap pintu kereta juga mempengaruhi celah vertikal. Dalam beberapa kasus, peron yang lebih tinggi atau lebih rendah dari pintu kereta membutuhkan penyesuaian tambahan. Beberapa stasiun menggunakan gap fillers, perangkat yang mengisi celah antara peron dan kereta untuk mengurangi jarak dan meningkatkan keselamatan.

Beberapa stasiun menggunakan gap fillers, perangkat yang mengisi celah antara peron dan kereta untuk mengurangi jarak dan meningkatkan keselamatan. Desain modern dari peron dan kereta berusaha untuk meminimalkan celah melalui teknologi yang lebih canggih dan material yang lebih fleksibel. Banyak sistem kereta api mengedukasi penumpang tentang pentingnya berhati-hati saat melangkah masuk atau keluar dari kereta untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Kasus di Negara Berkembang
Ada beberapa alasan mengapa batas celah peron terasa kurang diperhatikan di negara berkembang, di antaranya negara berkembang sering menghadapi keterbatasan anggaran dan harus memprioritaskan pengeluaran untuk berbagai kebutuhan mendesak seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Akibatnya, investasi dalam perbaikan detail seperti lebar celah peron mungkin tidak menjadi prioritas utama.

Modernisasi stasiun dan sistem kereta api memerlukan dana besar. Negara berkembang mungkin tidak memiliki sumber daya finansial yang cukup untuk memperbarui infrastruktur sesuai dengan standar internasional.

Seperti halnya di Indonesia, infrastruktur kereta api yang dibangun pada era kolonial atau beberapa dekade yang lalu. Infrastruktur lama ini mungkin tidak dirancang dengan mempertimbangkan standar keselamatan dan kenyamanan modern, termasuk lebar celah peron. Teknologi yang lebih lama dan desain stasiun yang ketinggalan zaman mungkin tidak memungkinkan penyesuaian yang mudah untuk mengurangi lebar celah peron.

Kurangnya perhatian terhadap batas celah peron di negara berkembang sering disebabkan oleh keterbatasan anggaran, infrastruktur lama, regulasi yang kurang ketat, volume penumpang yang tinggi, dan fokus pada pembangunan cepat. Dengan investasi bertahap, kerjasama internasional, dan edukasi penumpang, negara berkembang dapat mulai mengatasi masalah ini untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang kereta api.

PKD di Stasiun India Berhasil Selamatkan Nyawa Penumpang Tua yang Jatuh ke Celah Peron

Antara Getafe dan Toulouse, Dua ‘Jantung’ Produksi Airbus

Pamor Getafe dalam industri dirgantara memang signifikan, namun jika dibandingkan dengan Toulouse di Perancis, ada beberapa perbedaan penting, selain kesamaan di antara keduanya yang menjadi fasilitas penting bagi jalur produksi Airbus di Eropa.

Baca juga: Mengenal Getafe, Kota Industri Dirgantara dari Negeri Matador yang Tersohor

Toulouse adalah markas besar Airbus dan pusat utama untuk pengembangan dan produksi pesawat mereka. Banyak dari pesawat komersial terbesar dan paling canggih di dunia, termasuk A320, A330, A350, dan A380, dirancang dan dirakit di sini. Toulouse memiliki skala operasi yang lebih besar dan lebih banyak investasi dalam fasilitas penelitian dan pengembangan dibandingkan dengan Getafe. Ini mencakup berbagai pusat penelitian, laboratorium, dan fasilitas produksi canggih.

Kota ini memiliki ekosistem industri yang sangat kuat, dengan banyak perusahaan pendukung, pemasok, dan institusi pendidikan yang berfokus pada dirgantara. Ini termasuk sekolah teknik terkemuka seperti ISAE-SUPAERO dan banyak universitas lain yang menawarkan program studi terkait dirgantara.

Toulouse juga memiliki pengaruh internasional yang lebih besar dalam industri penerbangan dan dirgantara, sering menjadi tuan rumah konferensi dan pameran industri global.

Getafe
eskipun tidak sebesar Toulouse, Getafe tetap merupakan pusat penting bagi Airbus, terutama dalam produksi dan perakitan komponen struktural pesawat. Getafe lebih berfokus pada produksi komponen tertentu seperti sayap dan bagian struktural lainnya, serta pusat perawatan dan perbaikan.

Getafe memainkan peran kunci dalam industri dirgantara Spanyol dan berkontribusi secara signifikan terhadap ekonomi lokal dan nasional. Kota ini juga memiliki institusi pendidikan dan program pelatihan yang bekerja sama dengan industri untuk menyediakan tenaga kerja yang terampil.

Dalam hal sejarah memulai produksi pesawat, Toulouse memiliki sejarah yang lebih tua dibandingkan dengan Getafe. Toulouse mulai mengembangkan industri penerbangan pada awal abad ke-20. Pada tahun 1917, perusahaan penerbangan terkenal, Latécoère, didirikan di Toulouse. Ini menandai awal dari era industri penerbangan di kota ini. Getafe juga mulai mengembangkan industri penerbangan pada awal abad ke-20, dengan pendirian Aeródromo de Getafe pada tahun 1911, yang menjadi salah satu lapangan terbang pertama di Spanyol.

Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

 

Mengenal Getafe, Kota Industri Dirgantara dari Negeri Matador yang Tersohor

Pamornya memang tidak setenar Toulouse di Perancis, namun Getafe yang terletak di selatan Madrid, dikenal sebagai pusat industri dirgantara yang penting di Spanyol. Dan ketika Indonesia berencana untuk mengakuisisi pesawat tanker multirole Airbus A330 MRTT (Mullti Role Tanker Transport), maka nantinya akan berkaitan dengan Getafe.

Baca juga: Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

Bagi PT Dirgantara Indonesia (DI), Getafe juga punya peran strategis, pasalnya rancangan pesawat angkut sedang CN-235 dan pesawat angkut ringan NC-212 Aviocar, juga terkait dengan kota Getafe, pasalnya Getafe adalah markas dari perusahaan dirgantara CASA (Construcciones Aeronáuticas SA), yang kemudian menjadi bagian dari Airbus.

Getafe bisa disebut sebagai kota industri dirgantara di Spanyol. Kota ini adalah rumah bagi beberapa fasilitas utama Airbus, termasuk pabrik dan pusat perawatan. Selain itu, Getafe juga memiliki sejarah panjang dalam industri penerbangan dan dirgantara, dengan berbagai perusahaan yang berkontribusi pada pengembangan dan produksi pesawat terbang serta komponen terkait.

Keberadaan fasilitas-fasilitas ini menjadikan Getafe sebagai salah satu pusat utama untuk industri dirgantara di Spanyol, bersama dengan kota-kota lain seperti Sevilla dan Cádiz yang juga memiliki peran penting dalam sektor ini.

Getafe mulai mengembangkan industri dirgantara pada awal abad ke-20. Salah satu momen penting adalah pendirian Aeródromo de Getafe pada tahun 1911, yang menjadi salah satu lapangan terbang pertama di Spanyol. Selama periode ini, Getafe mulai mendapatkan perhatian sebagai lokasi strategis untuk pengembangan industri penerbangan. Pendirian fasilitas militer dan pelatihan pilot meningkatkan pentingnya wilayah ini.

Pada fase perang saudara Spanyol (1936-1939), Getafe memainkan peran penting sebagai pusat operasi udara bagi pihak Republik. Setelah perang, fasilitas ini dimanfaatkan oleh pemerintah Franco untuk memperkuat angkatan udara Spanyol.

Dengan perkembangan industri penerbangan global, Getafe mulai menarik investasi dari perusahaan internasional. Pada tahun 1970, perusahaan CASA (Construcciones Aeronáuticas SA), yang kemudian menjadi bagian dari Airbus, mendirikan fasilitas di Getafe.

Airbus kini menjadi pemain utama di Getafe. Fasilitas di Getafe berfokus pada desain, produksi, dan perakitan komponen pesawat, seperti sayap dan bagian-bagian struktural lainnya. Getafe juga menjadi pusat untuk teknologi canggih dalam industri dirgantara, termasuk pengembangan material komposit dan teknik manufaktur mutakhir.

Kota ini juga didukung oleh infrastruktur yang kuat, termasuk jaringan transportasi yang baik dan fasilitas riset yang mumpuni. Adanya fasilitas ini menjadikan Getafe sebagai hub industri yang efisien dan inovatif. Getafe juga memiliki beberapa institusi pendidikan yang menawarkan program studi terkait dirgantara, bekerja sama dengan perusahaan seperti Airbus untuk menyediakan pelatihan dan riset.

Pesawat Tanker Airbus A330 MRTT Tiba di Jakarta, Bangkitkan Mimpi Konversi A330-200 Garuda Indonesia

ST Engineering Kembangkan Sistem Garbarata Otomatis

Bagi Anda yang sering menggunakan pesawat, tentu tidak asing dengan yang namanya boarding bridges atau yang dikenal sebagai Garbarata. Sebagai salah satu infrastuktur tambahan, kehadiran garbarata bisa dibilang penanda kemajuan dari suatu bandara, walaupun pada kenyataannya, tidak semua bandara memiliki garbarata. Kurangnya lahan parkir hingga padatnya jadwal penerbangan menjadi alasan mengapa beberapa bandara tidak menghadirkan garbarata yang terbukti dapat membantu penumpang untuk berpindah dari ruang tunggu bandara ke dalam pesawat tersebut.

Baca Juga: Quintiq Siap Otomatisasi Bandara Internasional Dubai

Namun, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (19/4/2017), sebuah perusahaan asal negeri tetangga, Singapore Technologies Engineering (ST Engineering) tengah mengembangkan garbarata otomatis yang diperkirakan akan memakan waktu lima hingga enam tahun. Direktur ST Engineering – NTU Corporate Lab., Paul Tan mengatakan kehadiran garbarata disebuah bandara harus mendapatkan perhatian lebih. Jika tidak, malah akan mengganggu jadwal hingga membahayakan penerbangan lain.

“Jika jembatan penyebrangan penumpang tidak dipasang dengan benar, dikhawatirkan akan mengganggu jadwal penerbangan, dan kemungkinan terburuknya adalah bisa menyebabkan kecelakaan yang merusak pesawat,” ungkap Paul. “Khususnya di Singapura, kehadiran garbarata akan sangat berguna jika cuaca sedang tidak bersahabat,” tambahnya.

Rencana pengadaan garbarata otomatis ini diharapkan dapat membantu operasional di suatu bandara. “Dengan memperkenalkan otomasi, kami menyediakan kemampuan kontrol presisi yang memungkinkan garbarata menancap secara otomatis ke pesawat, terlepas dari kondisi cuaca, sehingga menghilangkan risiko kerusakan potensial atau benturan dengan kendaraan darat,” tambah Tan.

Baca Juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva Air

Menurut Tan, garbarata ini menggunakan sistem yang telah disesuaikan sebelumnya berdasarkan jenis pesawat yang ada untuk menyelaraskan jembatan dengan pesawat. Ini akan memungkinkan garbarata beroperasi dalam kondisi cuaca buruk, baik siang maupun malam hari,” tuturnya. Faktanya, ST Engineering mulai berpikir tentang rangkaian solusi robotika di bandara sejak dua tahun yang lalu. “

Tepatnya saat banyak otoritas mulai mengenalkan robotika dan AI ke lingkungan bandara,” tutur Tan saat dirinya menghadairi pameran Robocraft Asia 2017. Langkah tersebut dilakukan saat otoritas penerbangan dan pelaku industri mendorong otomatisasi dan penggunaan teknologi dalam operasi sehari-hari, di tengah krisis tenaga kerja yang menderu. Pada bulan Januari lalu, Changi Airport Group (CAG) mengumumkan program kerja sama dengan Economic Development Board (EDB) senilai S$50 juta untuk mengembangkan solusi dalam sistem robotika dan sistem tak berawak di bandara.

“Sebagai bagian dari upaya ST Engineering untuk membantu Changi Airport dalam transformasi bandara, kami memfokuskan sistem robotika dan intelijen kami di semua sudut bandara,” kata Tan.

Adapun otomatisasi lain yang dicanangkan masuk menginvensi bandara antara lain traktor bagasi otomatis untuk menangani masalah bagasi, dan sistem smart wheelchair. Tan optimis, masuknya otomatisasi ke dalam sebuah bandara dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas hingga 50 persen. Selain itu, Tan pun yakin penyebaran “wabah” otomatisasi ini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. “Namun kami harus melakukan serangkaian uji coba hingga mendapatkan sertifikasi produk,” tutur Tan. “Dalam satu hingga dua tahun ke depan, nampaknya kami akan sibuk melakukan sejumlah uji coba sebelum akhirnya sistem ini bisa bergabung dengan aktifitas bandara.”tutupnya.

Perahu listrik Semi-submersible Bikin Ekowisata Bahari Bebas Emisi

Sebuah konsep ekowisata semi-submersible yang luar biasa yang membawa penumpang ke atas dan ke bawah air baru saja mendapat dorongan emisi nol berkat kemitraan baru antara Platypus Craft dan produsen motor tempel listrik Evoy.

Baca juga: Jet Shark – Wahana Air Hybrid, Bisa Berlayar di Atas dan Bawah Permukaan

Seperti namanya, Platypus akan menghabiskan waktu untuk beroperasi di atas permukaan dan bawah permukaan air. Kapal dua tempat duduk itu dapat berlayar ke tempat yang sangat menarik di lepas pantai tropis dan kemudian menurunkan bagian tengahnya di bawah permukaan untuk memungkinkan pilot dan penumpang – yang duduk seperti sepeda motor – menjelajahi perairan yang relatif dangkal tanpa perlu mengenakan tangki yang merepotkan.

Desain ini berarti bahwa petualang bawah air tidak perlu pengalaman atau pelatihan menyelam, karena kompresor di kapal akan memasok udara ke masker wajah khusus melalui selang yang dapat ditarik. Tentu saja, peralatan selam juga dapat disimpan di kapal, sehingga orang-orang dapat menjelajah jauh dari pod bawah air jika mereka menginginkannya.

Konsep asli dari Bertrand ini kemudian disempurnakan oleh arsitek angkatan laut Philippe Roulin, dengan rencana yang menyerukan agar seluruh kapal beroperasi dengan tenaga listrik baterai.

Setelah beberapa tahun, Bertrand membangun prototipe yang berfungsi dengan panjang 5,7 m (18,7 kaki) dan lebar 2,46 m (8 kaki). Sepasang motor tempel Torqeedo juga telah diperhitungkan, bersama dengan baterai 10 kW – meskipun versi pembakaran Merkuri akan ditawarkan sebagai opsi.

Pada tahun 2019, versi produksi pertama dijual ke operator tur Kaledonia Baru, Seascape. Buku pesanan juga dibuka secara resmi untuk edisi Blue Ocean untuk lima orang – yang ditawarkan dengan dua mesin tempel Mercury 50-hp atau mesin kembar 10-kW yang dipadukan dengan bank baterai 20-kWh.

Ide-ide segar terus mengalir, menghasilkan tender rekreasi Swordfish tahun 2020. Perbedaan utama antara iterasi ini dan pendahulunya adalah pod tengahnya tertutup daripada terbuka, yang memungkinkan hingga tujuh wisatawan bawah laut menjelajahi lingkungan perairan dengan kenyamanan ber-AC.

Trimaran Blue Ocean telah menyelesaikan lebih dari 400 km (347,5 mil laut) eksplorasi bawah air dalam lima tahun terakhir, dan telah terlibat dalam sejumlah misi lingkungan Blue Odyssey – termasuk satu di Prancis dan satu lagi di Corsica.

Penambahan sistem penggerak laut Evoy akan membuat Platypus jenis ini mampu melaju dengan kecepatan jelajah 15 knot (17 mph) di atas air – meskipun dapat melaju hingga 25 knot (~29 mph) jika diperlukan. Dengan pod penumpang diturunkan, kecepatan tersebut dipotong menjadi 3-5 knot (3,4 – 5,7 mph) untuk manuver bawah air yang lebih aman. Paket baterai di dalam kapal diperkirakan bagus untuk jarak tempuh antara 30 dan 80 mil laut per pengisian daya.

Inilah Nautilus, Desain Superyacht Hybrid, Bisa Jadi Kapal Permukaan dan Kapal Selam

61 Tahun Lalu Terbang Perdana, Ini Alasan Tupolev Tu-134 Gunakan “Glass Nose”

Hari ini 61 tahun lalu, bertepatan dengan 29 Juli 1963, adalah momen besar dalam dunia penerbangan Rusia, di masa kejayaan Uni Soviet tersebut, terbang perdana pesawat penumpang twin engine regional Tupolev Tu-134. Lantaran sudah uzur, saat ini sudah sangat jarang maskapai yang mengoperasikan Tu-134. Meski begitu, ada satu atau dua maskapai di Rusia yang masih menerbangkan Tu-134, sementara di luar negeri ada Air Koryo dari Korea Utara.

Selain punya keunikan, yakni sebagai satu-satunya pesawat penumpang dengan toilet yang dilengkapi jendela, Tu-134 juga dikenal masih mengadopsi ciri khas pesawat era jadoel, yakni dengan penggunaan glass nose ala pembom strategis zaman perang dingin. Penggunaan “glass nose” pada pesawat penumpang seperti Tupolev Tu-134 terutama dikaitkan dengan kebutuhan navigasi dan visibilitas.

Tupolev Tu-134 – Satu-satunya Pesawat Penumpang dengan Toilet yang Dilengkapi Jendela

Pada era sebelum teknologi navigasi canggih seperti GPS dan avionik modern, navigasi visual sangat penting, terutama untuk penerbangan di wilayah terpencil atau saat pendaratan di bandara dengan peralatan navigasi minimal. Glass nose memberikan visibilitas yang lebih baik bagi navigator untuk mengamati lanskap dan landmark.

Pada pesawat seperti Tupolev Tu-134, glass nose memberikan pandangan langsung ke depan dan ke bawah, yang sangat berguna bagi navigator yang bertugas memandu pesawat, terutama selama fase penerbangan rendah dan pendaratan. Beberapa pesawat menggunakan glass nose untuk menempatkan peralatan navigasi atau instrumen lainnya yang memerlukan pandangan langsung keluar pesawat. Ini termasuk perangkat seperti radar cuaca, peralatan pengintai, atau kamera.

Banyak pesawat penumpang awal, termasuk Tupolev Tu-134, dikembangkan dari atau dipengaruhi oleh desain pesawat militer. Pesawat pembom dan pengintai sering menggunakan glass nose untuk memberikan visibilitas yang lebih baik kepada kru, dan desain ini diteruskan ke beberapa pesawat penumpang awal.

Seiring dengan kemajuan teknologi navigasi, kebutuhan untuk glass nose berkurang. Navigasi berbasis radar dan sistem navigasi elektronik mengurangi ketergantungan pada pengamatan visual.

Varian selanjutnya dari Tupolev Tu-134 dan pesawat penumpang modern lainnya menghilangkan glass nose karena sudah tidak diperlukan lagi. Peningkatan dalam avionik dan sistem navigasi otomatis memungkinkan penerbangan yang lebih efisien dan aman tanpa perlu visibilitas tambahan dari glass nose.

Tupolev Tu-116 – Pesawat VVIP Soviet dari Plaftorm Pembom Strategis Tu-95 Bear

Sepanjang Semester Satu 2024, KAI Tutup 127 Perlintasan Sebidang, Masih ada 2.455 Titik yang Tidak Dijaga

PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus berupaya meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang. Upaya yang KAI lakukan untuk mewujudkan hal tersebut di antaranya dengan menutup sejumlah perlintasan sebidang.

Baca juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit

Pada tahun 2024 ini, hingga bulan Juli, KAI telah menutup 127 perlintasan sebidang. Sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 94 Tahun 2018 Pasal 2, perlintasan sebidang yang tidak memiliki Nomor JPL, tidak dijaga, dan/atau tidak berpintu yang lebarnya kurang dari 2 m harus ditutup atau dilakukan normalisasi jalur kereta api. Sementara selama periode 2020 s.d Juni 2024, KAI telah melakukan penutupan perlintasan sebidang liar dan rawan sebanyak 1.305 titik.

Dalam siaran pers, VP Public Relations KAI Anne Purba mengatakan, KAI terus berupaya menutup perlintasan sebidang yang tidak memenuhi regulasi. Pasalnya, perlintasan sebidang menjadi salah satu titik rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

”Sebelum pelaksanaan penutupan, tim KAI telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitarnya. Upaya penutupan perlintasan sebidang ilegal ini sejalan dengan aturan pada UU No:23 /2007 tentang Perkeretaapian, UU No : 22 /2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 94 Tahun 2018 pasal 5 dan 6,” kata Anne.

Keberadaan perlintasan sebidang di sebagian tempat melewati pemukiman warga dan daerah industri, sehingga rawan terjadi kecelakaan temperan. Dalam kurun 4 tahun terakhir (2020 – Juni 2024), terjadi banyak kecelakaan di perlintasan sebidang jalur kereta api yang merenggut korban manusia secara signifikan, yaitu sebanyak 1.353 kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan korban meninggal dunia sejumlah 395 orang, luka berat sejumlah 285 orang, dan luka ringan sejumlah 413 orang.

Anne mengatakan, setidaknya terdapat 4 dampak kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api:
1. Korban jiwa: Timbulnya korban jiwa meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan dari petugas, penumpang, dan pengguna jalan.
2. Kerusakan sarana kereta api: Kerusakan lokomotif, kereta, dan gerbong.
3. Kerusakan prasarana kereta api: Kerusakan rel, bantalan, jembatan, dan alat persinyalan.
4. Gangguan perjalanan kereta api dan pelayanan: Keterlambatan kereta api, penumpukan penumpang, pengalihan ke moda transportasi lain (overstappen).

Adapun upaya lain yang KAI lakukan untuk peningkatan keselamatan pada perlintasan sebidang dalam kurun waktu 2020 s/d 2024 diantaranya : sosialisasi keselamatan dengan melibatkan dishub, railfans, dan masyarakat, memasang 1.553 spanduk peringatan di perlintasan rawan, serta menertibkan 646 bangunan liar di sekitar jalur KA.

Selain itu, KAI juga mengusulkan pembuatan perlintasan tidak sebidang kepada pemerintah yaitu dengan membangun flyover atau underpass, serta melakukan perawatan dan perbaikan peralatan di perlintasan sebidang.

Sampai saat ini terdapat 4.254 titik perlintasan sebidang yang terdiri dari titik perlintasan terjaga sebanyak 1.799 (42%) dan titik perlintasan yang tidak terjaga sebanyak 2.455 (58%).

Jumlah Perlintasan Sebidang Liar di Indonesia, Tembus Angka 4.000!

65 Tahun Lalu, Qantas Jadi Maskapai Pertama di Luar AS Operasikan Boeing 707

Nyaris 65 tahun lalu atau pada 29 Juli 1959, Qantas mengukuhkan dirinya sebagai maskapai pertama di luar Amerika Serikat (AS) yang mengoperasikan pesawat Boeing 707, dengan memulai layanan dari Sydney ke San Francisco via Nadi, Fiji.

Baca juga: Hari ini, 64 Tahun Lalu, Boeing 707 Pelopor Desain Legendaris Terbang Perdana

Dunia tentu tahu bahwa Boeing 707 bukanlah pesawat biasa. Ia adalah salah satu pesawat jet widebody terpopuler ketika itu dengan desain yang lebih modern, jangkauan lebih jauh, menjanjikan pendapatan tiga kali lipat dari pesawat bermesin piston, dan mampu melesat di kecepatan 885 km per jam, Boeing 707 jelas tak bisa disaingi oleh pesawat sipil manapun saat itu.

Dilansir Airlineratings, sebelum Boeing 707 lahir, Boeing sudah lebih dahulu digdaya di pasar pesawat sipil global melalui Boeing 377 Stratocruiser, pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia. Namun, usai kemunculan de Havilland Comet, pesawat jet komersial pertama di dunia keluaran Britania Raya (Inggris) pada Juli 1949, kedigdayaan tersebut runtuh.

Boeing tak lantas diam dan hanya menjadi penonton dalam persaingan menjadi yang terbaik di ceruk pasar pesawat sipil. Terlebih momentumnya juga tepat, yakni dengan serangkaian kecelakaan yang menimpa de Havilland Comet pada tahun 1954 dan membuatnya perlahan tersingkir dari peta persaingan.

Setelah itu saingan asal Inggris itu musnah, pada tahun 1955 Boeing mulai memperkenalkan produk terbarunya berupa Dash 80 atau Boeing 707. Dua tahun berselang atau pada 20 Desember 1957, Boeing 707 pun resmi terbang perdana.

Di awal kehadirannya, Boeing 707 rupanya masih belum menarik perhatian maskapai. Padahal, dengan kemampuan kecepatan maksimum hingga 885 km per jam saat di udara, Boeing 707 jelas tak bisa disaingi oleh pesawat sipil manapun.

Namun, karena dimensi yang masih lebih kecil dibanding kompetitor senegaranya, Douglas DC-8, 707 akhirnya masih hanya gigit jari saja.

Barulah setelah Presiden Boeing Bill Allen menginstruksikan Tex Johnston, kepala uji coba Boeing, agar mengkonfigurasi ulang Boeing 707 menjadi beberapa lebih inci lebar dari DC-8, Boeing 707 mulai melejit.

American Airlines yang berbasis di Texas kala itu dilaporkan langsung memesan 50 jet. Begitu juga maskapi lainnya, termasuk Qantas yang memesan Boeing 707 versi special longer-range dan mengoperasikan penerbangan jarak jauh Sydney – San Francisco via Nadi, Fiji pada 29 Juli 1959.

Baca juga: Kala Kolaborasi Boeing 707 dan American Airlines Ubah Peta Penerbangan AS 62 Tahun Silam

Kehadiran Boeing 707 dibarisan armada benar-benar menarik banyak penumpang. Qantas pun menambah 22 Boeing 707, melengkapi tujuh pesawat yang sudah dipesan sebelumnya.

Tak berhenti sampai di situ, ketertarikan Qantas dengan Boeing 707, membuat pabrikan asal AS tersebut mendapat banyak pesanan lanjutan dari maskapai nasional Australia itu, mulai dari 65 B747, 39 B767, 120 B737, dan 8 B787.