Hubungkan Terminal 2 dan T5, Proyek Terowong Bawah Tanah Bandara Changi Singapura Rampung

Proyek ambisius perluasan Bandara Changi Singapura kembali mencatatkan tonggak sejarah penting. Changi Airport Group (CAG) baru saja mengumumkan penyelesaian konstruksi utama terowong bawah tanah sepanjang 1,7 kilometer yang menghubungkan Terminal 2 (T2) dengan Terminal 5 (T5) yang akan datang.

Penyelesaian infrastruktur ini memastikan bahwa Bandara Changi akan tetap beroperasi sebagai satu ekosistem bandara yang terintegrasi penuh, meskipun skalanya terus membesar.

Rekor Terowong Terbesar di Singapura
Dalam proyek ini, terdapat tiga terowong utama yang dibangun tepat di bawah salah satu landasan pacu (runway) aktif. Yang menarik, terowong khusus penanganan bagasi dalam proyek ini memiliki diameter penggalian sebesar 12,3 meter, menjadikannya terowong bor terbesar di Singapura pada saat pembangunannya.

Tiga terowong tersebut memiliki fungsi spesifik:
Dua Terowong Penumpang: Akan menampung sistem automated people mover (mirip Skytrain saat ini) untuk mengangkut penumpang antar terminal.

Satu Terowong Bagasi: Dilengkapi dengan sistem penanganan bagasi otomatis berkapasitas tinggi.

Sistem transportasi di terowong ini dirancang untuk kecepatan dan kenyamanan. Nantinya, akan ada armada kereta otomatis yang menghubungkan T2 dan T5 dengan waktu tempuh hanya sekitar empat menit. Setiap kereta mampu menampung hingga 96 penumpang beserta tas mereka.

Untuk sektor logistik, sistem bagasi di terowong ini diprediksi mampu menangani hingga 3.000 tas per jam. Saat ini, terowong tersebut bahkan sudah dimanfaatkan secara cerdas dengan pemasangan ban berjalan (conveyor belt) untuk mengangkut tanah galian dari T2 ke T5 guna menghindari kemacetan truk di area operasional bandara.

Dr. Wen Dazhi, Senior Vice President Changi East Construction, menjelaskan bahwa tantangan terbesar proyek ini adalah melakukan pengeboran di bawah jalur taksi (taxiway) pesawat yang sedang aktif. Tim teknis harus memastikan gangguan permukaan yang minimal agar operasional penerbangan harian di Bandara Changi tidak terganggu sama sekali.

Menuju Terminal 5 di Tahun 2030-an
Terminal 5, yang baru saja memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Mei lalu, dijadwalkan rampung pada pertengahan 2030-an. T5 diprediksi akan menambah kapasitas Bandara Changi hingga 50 juta penumpang per tahun.

Selain terhubung dengan terminal lama, T5 juga akan menjadi pusat transportasi darat yang terintegrasi dengan stasiun MRT baru yang menghubungkan jalur Thomson-East Coast Line dan Cross Island Line, memudahkan akses langsung dari bandara menuju pusat kota Singapura seperti Orchard dan Marina Bay.

Layanan Imigrasi di Bandara Changi Sabet Peringkat Terbaik di Dunia

S

Mengenal NOTAM (Notice to Airmen): Sejarah, Fungsi, dan Cara Kerjanya dalam Penerbangan

Dalam dunia penerbangan, perubahan sekecil apa pun di bandara atau ruang udara harus diketahui oleh pilot sebelum mesin pesawat dinyalakan. Informasi penting ini disampaikan melalui sistem yang disebut NOTAM (Notice to Airmen)—yang kini mulai bertransformasi menjadi Notice to Air Missions agar lebih inklusif.

Sistem NOTAM bermula dari tradisi pelaut. Dahulu, para pelaut menggunakan Notice to Mariners untuk menginfokan bahaya di laut (seperti karang yang baru ditemukan atau mercusuar yang mati).

Pada tahun 1947, melalui kesepakatan internasional di bawah ICAO (International Civil Aviation Organization), sistem serupa diadopsi untuk penerbangan. Awalnya, NOTAM disebarkan melalui teleprinter, yang menjelaskan mengapa hingga saat ini format penulisan NOTAM identik dengan huruf kapital dan singkatan-singkatan yang tampak rumit (untuk menghemat bandwidth pengiriman pesan pada masa lalu).

NOTAM diterbitkan untuk memberi tahu personel penerbangan tentang kondisi, perubahan, atau bahaya dalam fasilitas, layanan, prosedur, atau gangguan di ruang udara. Contohnya meliputi penutupan landasan pacu (runway) karena perbaikan, lampu navigasi bandara yang mati, latihan militer atau peluncuran roket di wilayah tertentu, sampai adanya aktivitas abu vulkanik dari gunung berapi.

Akibat Abaikan NOTAM, Pesawat ini Bikin Presiden AS Joe Biden Dievakuasi dari Rumah Pribadi

Penerbitan NOTAM tidak bisa dilakukan sembarangan. Di setiap negara, otoritas penerbangan nasional bertanggung jawab atas hal ini. Yang menerbitkan NOTAM umumnya adalah otoritas bandara/maskapai, AIS (Aeronautical Information Service): Unit ini bertugas mengolah data sebelum dipublikasikan, dan AirNav Indonesia, Untuk konteks Indonesia, AirNav berperan sentral dalam mengelola dan menyebarkan NOTAM kepada pengguna ruang udara di seluruh Nusantara.

Sebelum terbang, pilot wajib melakukan briefing dan membaca seluruh NOTAM yang relevan dengan rute penerbangannya. Pada pre-flight briefing, pilot mendapatkan paket dokumen yang berisi daftar NOTAM aktif di bandara asal, bandara tujuan, hingga bandara alternatif.

Selain itu pilot modern menggunakan aplikasi digital seperti Jeppesen atau ForeFlight yang secara otomatis menampilkan NOTAM pada peta digital. Masyarakat atau pengamat penerbangan bisa mengecek NOTAM melalui situs resmi penyedia layanan navigasi udara atau aplikasi pelacak penerbangan pihak ketiga.

Catatan Menarik, pada Januari 2023, kerusakan pada sistem NOTAM di Amerika Serikat sempat menyebabkan seluruh penerbangan domestik di negara tersebut mengalami grounded (berhenti total) selama beberapa jam. Ini membuktikan betapa vitalnya pesan singkat ini bagi mobilitas dunia.

NOTAM Dikeluarkan, Wilayah Udara Karachi dan Lahore Alami Gangguan Sinyal GPS Parah

Stasiun Soreang: Dulu Ramai Penumpang, Kini Jadi Gudang Makanan

Seperti tak ada habisnya, soal jalur kereta api non aktif di Pulau Jawa makin penting untuk di bahas. Apalagi wilayah Provinsi Jawa Barat terkenal dengan banyaknya jalur kereta api yang dahulu ramai dilintasi saat era Kolonial Belanda dan sekarang tinggal cerita saja.

Sejarah perkeretaapian yang kental dengan bangunan serta peninggalan lainnya sangat identik untuk dibahas. Maka dari itu pentingnya menjaga kelestarian bangunan dan infrastruktur kereta api hingga dijadikan sebagai cagar budaya agar tidak hilang ditelan usia.

Seperti halnya jalur kereta api di kawasan Bandung ini. Beberapa lokasi terdapat jalur cabang kereta api menuju ke berbagai daerah di kawasan tersebut. Ya, informasi dari tersebar di media sosial ada beberapa bangunan stasiun yang hingga kini masih dapat dilihat, namun kadang keberadaannya sedikit memprihatinkan.

Umumnya masyarakat khususnya yang berdomisili di kawasan Bandung tentu mengenal Stasiun Soreang. Ya, Stasiun Soreang yang dulunya menjadi simpul penting jalur kereta api Bandung – Ciwidey justru kini terbengkalai, tak lagi aktif melayani perjalanan kereta.

Berdiri sejak 13 Februari 1921, Stasiun Soreang dengan kode SRG ini merupakan bagian dari segmen pertama jalur Bandung–Ciwidey. Namun, kini bangunan kecil yang dulunya ramai oleh penumpang itu hanya dijadikan gudang makanan. Bahkan, papan nama stasiun nyaris tak terlihat, tertutup oleh bangunan baru yang berdiri di sekelilingnya.

Kondisi sekitar stasiun pun tak kalah memprihatinkan. Bekas rel dan emplasemen kereta kini tenggelam di balik deretan toko bangunan dan rumah warga. Jalur rel yang dahulu membentang hingga Stasiun Banjaran dan Bandung kini berubah menjadi gang sempit, terhimpit pemukiman padat. Bahkan, rel di sebagian titik masih bisa terlihat, meski sebagian besar telah tertutup aspal dan bangunan permanen.

Ironisnya, di saat kebutuhan akan transportasi publik terus meningkat di Kabupaten Bandung, khususnya akses dari dan ke Ciwidey sebagai destinasi wisata populer, jalur kereta api justru dibiarkan mangkrak.

Diketahui pula berbagai bangunan bersejarah di Stasiun Soreang ini juga masih tersedia. Seperti halnya Tandon air tua dan talang air peninggalan zaman lokomotif uap masih berdiri meski mulai berkarat. Talang air ini dulunya digunakan untuk mengisi air ke lokomotif, dan kini menjadi saksi bisu sejarah perkeretaapian di wilayah selatan Bandung.

Stasiun Soreang kini hanya menjadi nama yang nyaris terlupakan di tengah deretan bangunan padat. Namun harapan tetap ada jika pemerintah mau melihat lebih jauh potensi dan kebutuhan transportasi warga Kabupaten Bandung yang terus meningkat.

Masyarakat berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, segera melakukan reaktivasi jalur Bandung – Soreang – Ciwidey. Tak hanya sebagai solusi kemacetan dan transportasi publik, pengaktifan kembali jalur ini juga bisa membuka potensi ekonomi dan wisata di wilayah selatan Bandung.

Hampir Terlupakan, Sejarah di Majalaya Punya Kisah Jalur Kereta Api yang Bikin Melongo

Menelusuri Jejak Jalur KA Dayeuhkolot – Majalaya: Daftar 9 Stasiun & Halte Era Staatspoorwegen

Belum puas membahas tentang Stasiun Majalaya, rasanya masih ada yang kurang untuk dikupas secara lengkap. Ya, beberapa waktu lalu kabarpenumpang telah membahas keberadaan Stasiun Majalaya yang kini hanya dikenang sebagai nama jalan dan ares pasar tradisional. Nama Jalan Stasiun di daerah Majalaya ternyata masih menyimpan cerita sejarah yang masih menarik untuk dibahas.

Diketahui bahwa jalur Bandung – Majalaya harus mati terlebih dahulu pada masa pemerintahan Jepang. Tepatnya tahun 1943. Jepang membongkar rel yang ada di jalur Bandung menuju Majalaya tujuannya untuk di pindahkan ke jalur Saketi – Bayah.

Menurut artikel dari laman Kompasiana bahwa saat jalur Dayeuhkolot – Majalaya masih aktif Jenis rel yang di gunakan pada jalur arah Majalaya menggunakan rel ukuran tipe R30 atau tipe yang sedikit agak kecil.

Berbeda dengan jalur Dayeuhkolot – Ciwidey relnya cenderung sedikit besar, kemungkinan di perkirakan menggunakan tipe rel R40 mungkin dari segi faktor topologi atau lingkungan menuju arah Ciwidey yang berupa pegunungan serta sedikit menanjak sehingga di butuhkan lokomotif yang sedikit agak besar untuk memuat barang dan penumpang, berbeda dengan arah Majalaya yang sedikit agak datar.

Pada saat Jalur Dayeuhkolot – Ciwidey selesai di bangun dan berhasil di operasikan, pihak Staatspoorwegen ( SS ) ingin membangun jalur pintas antara Dayeuhkolot – Majalaya. Jalur penghubung tersebut di taksir menelan biaya yang tidak sedikit lebih tepatnya f1.776.000 yang kemudian dibuka pada 3 Maret 1922.

Diantara jalur kereta api Dayeuhkolot – Majalaya ini dibangun pula stasiun dan halte pemberhentian untuk masyarakat yang tinggal di daerah yang bisa dijangkau. Berikut ini daftar stasiun maupun halte pemberhentian:
1. stasiun Dayeuhkolot ( DYK ) KM 11+780
2. halte cilelea ( CLL ) KM 14+639
3. halte Manggahang ( MGH ) KM 15+712
4. halte Jelekong ( JLK ) KM 18+541
5. halte ciheulang ( CHL ) KM 20+274
6. halte paneureusan ( PEU ) KM 21+224
7. stasiun Ciparay ( CRY ) KM 23+641
8. halte Cibungur ( CIB ) KM 26+726
9. stasiun Majalaya ( MJA ) KM 29+222

Sejarah perkeretaapian segmen jalur Dayeuhkolot – Majalaya memang sedikit sumber yang mengetahui tentang jalur kereta api Dayeuhkolot – Majalaya. Karena pemberhentian pengoperasian jalur ini relatif cukup singkat. Berbeda dengan jalur Dayeuhkolot – Ciwidey yang relatif cukup lama, dalam beberapa pemberitaan yang menyebutkan jalur tersebut akan di aktifkan kembali.

Memang sedikit sulit mengingat banyaknya jumlah penduduk yang memungkinkan akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit belum lagi ganti rugi serta relokasi bagi masyarakat terdampak, namun ada beberapa sedikit bukti yang menunjukkan bahwa dulu kereta api sempat melintasi kawasan di bandung selatan masih bisa terlihat dengan berupa patok SS ( staatspoorwegen ) nama perusahaan kereta api masa kolonial Belanda.

Merasakan Nuansa Khas Vintage Stasiun Gundih di Jalur Penghubung Semarang-Solo

Inilah Perbedaan Airlines dan Airways di Dunia Penerbangan

Dari data Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), di dunia, ada sekitar 5.000 maskapai penerbangan, baik itu maskapai penerbangan kecil, menengah, hingga maskapai penerbangan besar, dilihat dari jumlah armada, reputasi, dan layanan. Ada begitu banyak ragam dari klasifikasi (kecil, menengah, dan besar) tersebut. Namun, satu hal yang pasti, mayoritas dari mereka pastinya menggunakan nama airlines atau airways sebagai bagian dari nama perusahaan mereka.

Baca juga: 7 Persamaan dan Perbedaan First Class dengan Business Class

Penggunaan airlines dan airways oleh maskapai terkadang membuat penumpang pesawat sedikit bertanya-tanya alasan dibalik itu. Namun, pada umumnya, mereka menganggap airlines dan airways hanya penggunaan kata saja, adapun maknanya sama.

Sebetulnya, menganggap sama makna airlines dan airways tidak ada salahnya. Tetapi, tidak semudah itu pula mengambil kesimpulan dari penggunaan airlines dan airways.

Dirunut dari sejarah, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, di masa lalu, sebelum era penerbangan muncul, moda transportasi hanya tersedia di lautan. Terminologinya, sebelum bisa benar-benar berpindah dari satu titik ke titik lainnya, terlebih dahulu harus dibuat jalur atau garis perjalanan.

Di sini, kata “line” kemudian mulai massif digunakan dan pada akhirnya melakat pada nama perusahaan dengan penambahan huruf “r” ataupun “s”. Misalnya, Ocean Liner, Black Ball Line, ataupun American President Lines.

Ketika kereta muncul, terminologi transportasi laut disadur, dimana kereta api terlebih dahulu dibuatkan jalur sebelum bisa pergi dari satu titik ke titik lain. Namun, pada fase ini, jalur kereta api sudah mulai mengadopsi kata “way” dan menyebut nama jalurnya sebagai railway.

Saat era penerbangan datang, sebuah pesawat yang menyediakan layanan atau rute antara dua titik di sebuah jalur disebut “air liner”. Tetapi, ada pula yang menyebut bahwa airlines atau airliner mengacu pada sebuah maskapai penerbangan yang mengoperasikan pesawat. Sedangkan airways lebih spesifik, mengacu pada rute khusus maskapai di sebuah jalur penerbangan.

Tak lupa, ada pendapat yang menyebut airlines merupakan bahasa Inggris-AS adapun airways merupakan Inggris-British. Itu mengapa airways lebih banyak digunakan ketimbang airlines di Inggris dan sebaliknya, airlines jauh lebih banyak digunakan ketimbang airways di Amerika Serikat.

Dari sinilah, kemudian maskapai penerbangan terbelah dan dengan berbagai pertimbangan menggunakan airlines ataupun airways, seperti Singapore Airlines serta Qatar Airways. Di luar airlines dan airways, sebetulnya ada pula maskapai yang menggunakan teknik penyebutan lain, seperti penggunaan “Air” baik di depan ataupun di belakang kata lain, seperti Korean Air dan Air France; Aviation, seperti Grant Aviation; ataupun Air Lines yang diadopsi oleh maskapai asal AS, Delta Air Lines. Bahkan, ada maskapai tak menggunakan embel-embel airlines, airways, air lines, air, ataupun aviation, seperti Emirates.

Dari penggunaan di luar airways dan airlines, terindikasi bahwa ada peran branding atau marketing di balik keputusan sebuah maskapai penerbangan mencatut airlines, airways, ataupun istilah lainnya. Bagi seorang calon penumpang, entah itu airlines ataupun airways, asalkan bisa mengantar mereka sampai ke tempat tujuan, mungkin dengan pertimbangan lain seperti layanan dan tiket murah, itu tak akan jadi masalah.

Namun, bagi sebuah perusahaan, penggunaan airlines dan airways ataupun brand lainnya dipercaya erat kaitannya dengan kesuksesan maskapai. Airlines umumnya dipercaya bisa mendatangkan lebih banyak penumpang dan keuntungan. Sedangkan airways umumnya dipercaya terdengar lebih mewah dan berkelas ketimbang airlines.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Setidaknya, ada tujuh perbedaan makna airways dan airlines. Tentu ini dari perspektif sejarah dan terminologi penggunaannya.

1. Airlines lebih disukai namun airways lebih menarik dan terdengar lebih berkelas.
2. Airlines mengoperasikan pesawat sedangkan airways mengoperasikan pesawat pada rute-rute yang telah ditentukan.
3. Airways merupakan pesawat dengan mesin piston kecil, sedangkan airlines sebaliknya.
4. Airlines terbang lebih tinggi dibanding airways.
5. Airways terbang lebih di jarak yang pendek dibanding airlines.
6. Airways juga bermakna pemenang sedangkan airlines tak ada makna lain.
7. Airways juga dikenal sebagai jalur pesawat di langit sementara airlines tidak berarti demikian.

Akomodir Mobilitas Masyarakat Pada Malam Pergantian Tahun, KAI Perpanjang Waktu Layanan LRT Jabodebek

Sebagai upaya mendukung kelancaran mobilitas masyarakat pada malam tahun baru, KAI memperpanjang waktu layanan LRT Jabodebek khusus pada 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Pada periode tersebut, layanan LRT Jabodebek akan beroperasi hingga pukul 01.44 WIB dini hari.

“Layanan LRT Jabodebek akan beroperasi pada tanggal 31 Desember 2025 akan berlanjut hingga tanggal 1 Januari 2026 pukul 01.44 WIB,” ujar Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika Putra.

Ia menjelaskan bahwa pada kondisi normal, waktu layanan LRT Jabodebek dimulai pada pukul 05.12 WIB hingga 23.02 WIB. Namun pada periode tersebut, layanan diperpanjang sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan mobilitas masyarakat yang diperkirakan meningkat. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen KAI dalam menyediakan layanan transportasi publik yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan bagi seluruh pengguna.

Jadwal Keberangkatan LRT Jabodebek

Periode 31 Desember 2025 malam – 1 Januari 2026 dini hari

Keberangkatan Stasiun Dukuh Atas – Jatimulya
31 Desember : 22.07 | 22.19 | 22.32 | 22.44 | 22.57 | 23.09 | 23.22 | 23.34 | 23.47 | 23.59
1 Januari : 00.12 | 00.24 | 00.37 | 00.49

Keberangkatan Stasiun Dukuh Atas – Harjamukti
31 Desember : 22.01 | 22.13 | 22.26 | 22.38 | 22.51 | 23.03 | 23.16 | 23.28 | 23.41 | 23.53
1 Januari : 00.06 | 00.18 | 00.31 | 00.43 | 00.56

Keberangkatan Stasiun Harjamukti – Dukuh Atas
31 Desember : 22.11 | 22.24 | 22.36 | 22.49 | 23.01 | 23.14 | 23.26 | 23.39 | 23.51
1 Januari : 00.04 | 00.16

Keberangkatan Stasiun Jatimulya – Dukuh Atas
31 Desember : 22.02 | 22.15 | 22.27 | 22.40 | 22.52 | 23.05 | 23.17 | 23.30 | 23.42 | 23.55
1 Januari : 00.07

“Setelah layanan dini hari selesai, operasional akan kembali berjalan normal pada pagi hari sesuai jadwal yang berlaku,” jelas Radhitya.

Tarif Off Peak Berlaku
KAI juga menerapkan tarif Off Peak mulai 31 Desember 2025 pukul 20.00 WIB hingga selesainya jam operasional dini hari 1 Januari 2026. Pada 1 Januari 2026, tarif Off Peak juga berlaku sepanjang jam operasional. Dengan skema ini, penumpang dikenakan:
– Rp 5.000,- pada saat tap in;
– Rp 700,- per kilometer;
– tarif maksimal Rp 10.000,- per perjalanan.

Cuma Dua Hari! Sambut Tahun Baru: MRT, LRT, dan Trans Jakarta Gratis

Pengemudi Bus AKAP Malam, Korbankan Waktu Demi Antar Penumpang

Peran pengemudi bus sudah dipastikan tidak bisa lepas dari kendaraan yang dikemudikannya. Bahkan untuk perjalanan bus antar kota antar provinsi (AKAP) pun terkadang pengemudi tidak hanya satu melainkan bisa hingga dua orang tergantung lamanya perjalanan.

Baca juga: Inilah Deretan Fasilitas Nyaman di Bus AKAP, Siap Memanjakan Bus Mania

Namun, tahukah Anda bahwa para pengemudi bus ini memiliki sisi menarik yang bisa diceritakan? Para pengemudi bus biasanya merelakan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, padahal mereka mengantarkan para penumpang untuk bertemu keluarga di tujuan.

Untuk hal ini, KabarPenumpang.com pun kemudian bertanya kepada pengemudi bus AKAP secara random. Mereka mengaku ketika mengemudikan bus, memiliki rintangan serta masalah yang dinamis selama perjalanan dan ini bukanlah hal baru bagi pengemudi bus.

Masalah itu ialah risiko keselamatan, kejahatan, pemalakan hingga kejadian di luar akal sehat manusia. Maka para pengemudi bus ini mengatakan, skill dan pengalaman sangat diperlukan dalam mengemudikan bus AKAP apalagi yang melaju di malam hari.

Skill ini tidak tiba-tiba dimiliki, melainkan berkembang beriringan dengan banyaknya pengalaman yang dimiliki seorang driver bus malam. Wahyu Yudha Perwira, seorang pengemudi bus AKAP mengatakan, semua pekerjaan pasti ada risikonya, tapi para driver bus yang lebih sering menghabiskan hari-hari di jalan raya, memiliki resiko yang lebih banyak.

Belum lagi ketika bus mengalami kerusakan di perjalanan, seringkali pengemudi dan kru menjadi sasaran emosi penumpang. Seperti kata pepatah, pembeli adalah raja, banyak penumpang yang tidak mau tau kondisi di jalan raya.

“Kadang penumpang ada yang pengertian ada yang enggak, terutama di jalan raya kan kita gak ada yang tau kondisinya, mesin rusak juga kan di luar kendali kita meskipun sudah ada pengecekan rutin,” ujar Wahyu.

“syukur-syukur penumpang mau ngerti kondisi di jalan, kalo gak bisa ngerti, habis kita diomelin penumpang. Kita kan juga gak mau mengalami kerusakan armada, repot juga soalnya,” tambahnya.

Meski begitu, dibalik itu semua, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri ketika mereka berhasil mengantar penumpang sampai tujuan. Senyum sumringah terpancar di wajah pengemudi bus malam ketika mereka sudah sampai di tujuan dengan selamat seperti ada perasaan lega dan plong.

Baca juga: Ugal-ugalan dan Setel Musik Keras Kode Ada Pencopet di Bus AKAP?

“Disatu sisi kita puas banget lega juga kalo sampe tempat tujuan bisa kumpul keluarga, meskipun kita juga sedih sih karena jarang kumpul sama keluarga,” tuturnya. (Senna Aditya)

Bagi Penggemar Bus, Sebutan Mudik adalah Touring

Anda mungkin mengira jika seseorang bepergian dengan bus antar kota pastilah orang tersebut sedang mudik atau menuju ke sebuah kota untuk sebuah keperluan. Apalagi jika perjalanan tersebut melewati rute yang jauh dan memakan waktu yang cukup lama, bahkan lebih dari satu hari.

Baca juga: Sebelum Naik Bus AKAP, Sebaiknya Ketahui Dulu Tarif Tiketnya

Nyatanya, bagi seorang penggemar bus, bepergian dengan bus antar kota bukanlah dalam rangka mudik atau ada keperluan di sebuah daerah tujuan. Seorang penggemar bus bahkan tak jarang menempuh perjalanan berhari-hari demi merasakan sensasi naik bus antar kota.

Rute bus Medan – Jember atau Jakarta – Bima yang jelas-jelas memakan waktu tempuh berhari-hari misalnya, rela ditempuh oleh penggemar bus untuk memuaskan hasrat mereka menaiki bus. Bukan tanpa sebab, bagi para penggemar bus hal ini merupakan sebuah kepuasan tersendiri.

Ada rasa penasaran yang seakan menyala dan juga perasaan tertantang ketika dihadapkan dengan rute bus antar kota yang super jauh. Hal ini disebut touring, oleh para penggemar bus. Tidak penting ada keperluan di tempat tujuan atau tidak, karena perjalanan naik busnya yang terpenting.

Biasanya ketika ada bus baru yang baru rilis dari karoseri atau ada perusahaan otobus baru, pada penggemar bus juga tak mau ketinggalan momen tersebut dan seringkali langsung memesan tiket untuk touring pada hari keberangkatan perdana bus tersebut. Bahkan seorang penggemar bus, rela melakukan sebuah perjalanan putar kepala (tektok) untuk ‘hanya’ menikmati perjalanan dengan bus.

Jadi semisal perjalanan pagi dari Jakarta menuju Solo, berangkat dari Jakarta jam 8 pagi, lalu sampai di solo sekitar pukul 17.00 WIB, dan jam 18.00 WIB atau hanya berjarak satu jam dari jam kedatangan, langsung kembali lagi pulang ke Jakarta.

Meski terkesan nyeleneh, ritual touring ini bisa dibilang dilakukan secara rutin dan jadi sebuah agenda tetap bagi para penggemar bus. Tersambungnya tol trans jawa juga menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Karena dengan adanya tol, waktu tempuh perjalanan bisa jadi lebih cepat.

Baca juga: Terminal Jati Kudus, Rumah Bagi Bus Malam Premium

Selain itu, perusahaan otobus antar kota sekarang memiliki jam keberangkatan yang lebih bervariatif. Tidak hanya berangkat siang hari, bus antar kota baik dari barat maupun timur kini menyediakan jam keberangkatan pagi dan malam. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)

Hampir Terlupakan, Sejarah di Majalaya Punya Kisah Jalur Kereta Api yang Bikin Melongo

Jejak sejarah perkeretaapian tak hanya membuat kagum yang mempelajarinya, namun sangat digemari apalagi sampai ditelusuri. Seperti halnya bekas jalur kereta api yang terkadang sudah hampir terlupakan bahkan sama sekali tidak terlihat aset-aset perkeretaapian yang tertinggal. Bahkan hanya sebuah nama saja, sudah bisa dipahami bahwa dahulu sempat ada jalur kereta api.

Layaknya jalur kereta api yang ada di daerah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari sekilas namanya tentu masyarakat khususnya yang tinggal di Kabupaten Bandung sudah mengetahui letaknya kawasan tersebut. Majalaya juga memiliki pasar tradisional yang digadang-gadang ternyata dekat sekali dengan bekas jalur kereta api. Kok bisa?

Ya, pasar tradisional di Majalaya ternyata memiliki nama jalan yang unik yakni Jalan Stasiun. Jalan ini merupakan satu-satunya pengingat bagi generasi masa kini sekaligus menjadi petunjuk bahwa pernah ada stasiun kereta api di Majalaya. Keberadaan stasiun ini sedikit demi sedikit terlupakan, setelah Jepang menguasai. Mereka membongkar jalur kereta api yang berasal dari Stasiun Dayeuhkolot tersebut, sampai tidak bersisa.

Dikutip dari laman Bandung Sejarah menjelaskan bahwa di tahun 1920, perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) memulai pengerjaan jalur yang menghubungkan Stasiun Dayeuhkolot (dahulu disebut Citeureup) dan Stasiun Majalaya.

Stasiun Dayeuhkolot dibangun sebagai bagian dari pengerjaan jalur Bandung-Soreang yang dimulai tahun 1917 dan selesai tahun 1921. Dari Stasiun Dayeuhkolot, SS mengambil percabangan ke arah timur, di lokasi setelah jembatan kereta api Citarum. Jalur sepanjang 17 km ini melewati Jelekong, Cangkring, Ciheulang, dan Ciparay.

Usulan untuk membangun jalur kereta api ke Majalaya telah muncul sejak 1882. F. L. Isasca mengajukan rencana membangun jalur dari Bandung ke Kopo (Soreang) dengan percabangan menuju Majalaya di Bojongsari.

Begitu pula dengan G. G. Kan yang ingin menghubungkan Bandung dengan Majalaya dan Cicalengka melalui Dayeuhkolot. Rencana ini kemudian diteruskan oleh R. A. Eekhout serta W. J. P. den Bosch – P. Landberg pada tahun 1893 dan 1898.

Saat itu, pemerintah melihat kawasan Majalaya dan Ciparay sebagai daerah yang makmur dan menyimpan potensi ekonomi yang besar. Selain memiliki pasar yang cukup penting, terdapat pusat-pusat pertanian yang terletak di kawasan sebelah timur Sungai Citarum.

Menurut sejarawan Agus Mulyana, banyaknya penduduk di distrik Ciparay dan onderdistrik Majalaya turut menjadi alasan pembangunan jalur ini. Di Ciparay, kereta api akan diandalkan untuk mengangkut barang dari perkebunan-perkebunan di dataran tinggi sekitar dan bagian timur Pangalengan.

Tidak ada upacara besar yang digelar saat peresmian jalur kereta api Dayeuhkolot–Majalaya, pada 3 Maret 1922. Hanya upacara slametan yang digelar beberapa hari sebelumnya oleh para staf konstruksi.

Setelah pembukaan, jalur ini melayani 10 perjalanan kereta api yang hasilnya memuaskan dan memenuhi target pendapatan yang diinginkan. Pada perkembangannya, jalur ini dilayani 12 perjalanan kereta api di tahun 1926, dengan melewati melewati 5 stasiun, yakni Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Ciparay, dan Cibungur.

Sempat menjadi tulang punggung transportasi di Bandung selatan, jalur kereta api Dayeuhkolot akhirnya harus menyerah kepada zaman. Perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang menjadi penyebabnya. Jalur ini kemudian dibongkar sampai tidak bersisa.

Meskipun ada wacana untuk menghidupkan kembali Stasiun Majalaya dengan menghubungkannya ke Cicalengka di masa pendudukan Jepang, stasiun ini akhirnya tidak pernah tersambung kembali ke jaringan rel. Perlahan, bangunan stasiun pun raib, dilupakan, dan tinggal menyisakan nama jalan.

Kisah Stasiun Majalaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian dari sejarah sosial dan ekonomi wilayah Bandung selatan. Ia menjadi saksi bisu betapa pentingnya konektivitas dalam membangun wilayah. Dan meskipun kini hanya tersisa nama di atas papan jalan, Majalaya pernah menjadi akhir dari sebuah perjalanan kereta yang penuh harapan.

Inilah “Hendrik”, Terowongan Kereta Terpendek di Indonesia

Cuma Dua Hari! Sambut Tahun Baru: MRT, LRT, dan Trans Jakarta Gratis

Kabar menggembirakan jelang tahun baru tak melulu soal kemeriahan malam pergantian tahun. Tapi kabar lainnya yang paling ditunggu dan dinanti adalah soal transportasi umum. Ya, masyarakat yang ingin menggunakan Mass Rapid Transit (MRT), Light Rapid Transit (LRT), dan Trans Jakarta tidak dipungut biaya alias gratis.

Pemberlakuan gratis ketiga layanan transportasi umum tersebut selama 2 hari mulai tanggal 31 Desember 2025 dan 1 Januari 2026. Meskipun gratis, saldo penumpan nantinya akan terpotong Rp1 rupiah untuk pendataan. Potongan saldo terjadi saat penumpang melakukan tap.

Langkah ini diambil agar masyarakat yang merayakan malam pergantian tahun di Jakarta dapat pulang ke rumah masing-masing dengan aman. Meskipun pemerintah mengetahui bahwa nantinya bakal ada potensi penumpukan massa di sejumlah stasiun atau halte seperti halnya saat perhelatan Jakarta Light Festival beberapa waktu lalu. Namun dia meyakini hal tersebut dapat tertangani.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga menggelar panggung hiburan untuk perayaan tahun baru 2026. Ada delapan panggung yang tersebar di sejumlah titik. Perayaan tahun baru 2026 di Jakarta digelar pada Rabu (31/12), mulai pukul 18.00 WIB hingga Kamis (1/1/2026), pukul 01.00 WIB.

Adapun beberapa lokasi panggung hiburan yang akan digelar di berbagai titik jalan di Jakarta, sebagai berikut:
• Lapangan Banteng
• MH Thamrin
• Sarinah
• Bundaran HI
• Dukuh Atas BNI 46
• Semanggi
• BEI/SCBD
• FX Sudirman

Untuk mendukung kelancaran kegiatan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan menerapkan rekayasa lalu lintas. Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo menyatakan, sebanyak 33 ruas jalan akan ditutup secara situasional, dengan pengalihan arus lalu lintas mulai pukul 18.00 WIB hingga 01.00 WIB.

Penutupan dan pengalihan arus lalu lintas tersebut dilakukan guna menjaga keamanan serta kelancaran mobilitas masyarakat selama berlangsungnya perayaan malam tahun baru di berbagai pusat keramaian Jakarta.

Pemerintah memastikan kepada masyarakat untuk selalu menjaga ketertiban saat acara malam pergantian tahun berlangsung. Meskipun tim keamanan dari berbagai pihak telah diturunkan, namun pemerintah yakin acara malam pergantian tahun tetap berjalan lancar dan kondusif.

Serta bagi masyarakat pengguna transportasi umun seperti MRT, LRT, dan Trans Jakarta untuk mematuhi peraturan dan arahan dari petugas saat bertransportasi. Agar kenyamanan dan keamanan bisa dipertahankan.

Tak Hanya Satu, Ada 4 Stasiun MRT Singapura yang Terkenal Angker