Sangat Ikonik! Satu-satunya Panorama di Pesisir Laut Utara, Paling Digemari Penumpang KA

Perjalanan sangat identik dengan panorama gunung, sawah, pedesaan, dan pantai. Terlebih yang membuat nyaman penumpang dalam melihat pemandangan adalah saat berjalan di siang hari karena tentu saja dapat melibat secara rinci meskipun kereta api berjalan secara cepat. Nah, dari perjalanan tersebut tentu ada pemandangan yang terkenal luar biasa indah, bahkan menjadi ikonik di daerah tersebut.

Salah satunya berada di jalur utara Pulau Jawa. Selain menawarkan pemandangan yang indah, tak jauh dari lokasi tersebut juga terdapat stasiun kereta api (KA) yang hingga kini masih aktif untuk melayani perjalanan KA. Ya, stasiun ini adalah Stasiun Plabuan. Jika kalian pernah mendengar nama stasiun tersebut, pasti yang terlintas adalah panorama hamparan laut utara yang luas.

Perjalanan kereta api yang melewati Kabupaten Batang ini tentu mengasyikkan karena rel yang melintas persis di sisi Laut Jawa. Nah, Stasiun Plabuan inilah satu-satunya stasiun KA yang berada pinggir pantai di Indonesia. Lokasinya berada di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Pengoperasian stasiun dengan elevasi hanya +4 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini ada di bawah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang.

Rangkaian kereta api melewati pesisir laut di area Stasiun Plabuan. (Foto: Dok. Instagram/@muhammadpuguhmadani)

Sebenarnya stasiun ini sudah eksis sejak lama, yiatu tahun 1898. Fungsinya adalah sebagai tempat pengisian air bagi lokomotif pada zaman dahulu yang masih memakai tenaga uap. Jadi tentu saja banyak kereta api yang singgah di Stasiun Plabuan ini.

Hingga memasuki awal tabun 2000-an, Stasiun Plabuan masih melayani naik dan turun penumpang. Bahkan stasiun ini masih melayani pembelian tiket secara langsung. KA yang berhenti di Stasiun Plabuan adalah KA Kaligung yang masih menggunakan rangkaian Kereta Rel Diesel (KRD). Sisanya merupakan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) yang berhenti, namun hanya berhenti menunggu pergantian jalur dengan KA lainnya.

Sangat disayangkan, saat memasuki pembangunan jalur ganda (double track) , Stasiun Plabuan sudah tak melayani naik dan turun penumpang lagi. Meskipun stasiun ini masih aktif beroperasi, namun hanya melayani perjalanan KA yang melintas secara langsung saja.

Disisi lain pihak dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) sadar betul akan keunikan dan keindahan dari stasiun ini. Karena saat menggunakan kereta api khususnya kelas eksekutif maupun wisata, setiap kali akan melintas di Stasiun Plabuan, kondektur memberitahu bahwa kereta akan melewati jalur tepi laut. Jadi, sebagai penumpang ini momen paling berharga dan tentu saja bisa menyiapkan kamera untuk mengabadikan keindahannya.

Mengingat sudah tidak ada kereta api yang berhenti di Stasiun Plabuan, mau tidak mau untuk berkunjung ke stasiun ini pun harus mencari cara lain. Biasanya untuk bisa ke tempat itu, masyarakat memakai kendaraan pribadi seperti kendaraan roda dua atau roda empat.

Akses menuju Stasiun Plabuan pun kini lebih mudah. Bisa dari Jalan Raya Alas Roban dengan patokan keluar melalui Pasar Plelen serta memasuki Hutan Siluwok atau nantinya bisa melalui keluar Gerbang Tol KIT Batang – Gringsing yang sebentar lagi akan dibuka untuk umum.

Bagaimana, kalian berminat menikmati keindahan laut dari sudut pandang Stasiun Plabuan?

[Video] Stasiun Plabuan – Stasiun Aktif di Indonesia yang Berdiri Kokoh di Tepi Laut Jawa

Menikmati ‘Slow Travel’ Berkelas: Mengintip Kemewahan Kereta Wisata Ikonik The Vietage di Vietnam

The Vietage adalah satu-satunya gerbong kereta mewah yang beroperasi di Vietnam. Kereta ini menawarkan pengalaman perjalanan yang unik dan sangat eksklusif, jauh dari hiruk pikuk jalur kereta komuter biasa, dengan mengedepankan konsep slow travel yang mewah dan penuh nostalgia.

Dioperasikan oleh jaringan hotel dan resor mewah Anantara, The Vietage bukan sekadar alat transportasi, melainkan destinasi itu sendiri, yang membawa penumpang melintasi pemandangan paling indah di Vietnam Tengah.

The Vietage pertama kali diluncurkan pada tahun 2020 oleh Anantara Hotels, Resorts & Spas. Proyek ini bertujuan untuk mengisi ceruk pasar wisata mewah di Vietnam dengan menawarkan rute kereta api yang dramatis, menghubungkan resor-resor Anantara yang terletak di sepanjang pantai Vietnam Tengah.

Gerbong mewah ini secara teknis merupakan gerbong tunggal yang dimodifikasi secara eksklusif dan kemudian disambungkan ke salah satu rangkaian kereta komersial milik Vietnam Railways (sering disebut Reunification Express). Konsep ini memungkinkan penumpang menikmati rute bersejarah dengan privasi dan layanan bintang lima.

Konsep utama The Vietage adalah “Slow Travel”—menekankan pada pengalaman menikmati pemandangan dan pelayanan daripada kecepatan tiba. Perjalanan ini dirancang sebagai pelengkap bagi wisatawan kelas atas yang menginap di properti mewah di Da Nang, Hoi An, Quy Nhon, atau Nha Trang.

The Vietage menjanjikan pengalaman intim dan eksklusif, karena kereta ini hanya terdiri dari satu hingga dua gerbong eksklusif dengan kapasitas penumpang yang sangat terbatas, yang mana maksimal 12 penumpang per perjalanan. Terdapat enam bilik pribadi yang luas di setiap gerbong, yang masing-masing dapat menampung dua orang. Setiap tempat duduk diletakkan di sisi jendela panorama.

Layanan Bintang Lima
Santapan Gourmet termasuk dalam tiket adalah hidangan gourmet tiga menu yang disiapkan oleh koki, menampilkan perpaduan rasa Vietnam dan Perancis. Penumpang disuguhi minuman sepuasnya (free-flow) yang meliputi anggur pilihan, mocktail, cocktail khas, bir, dan minuman ringan.

Gerbong dilengkapi dengan area bar duduk yang mewah di mana penumpang dapat bersosialisasi dan menyaksikan mixologist menyiapkan minuman. Layanan pijat gratis (biasanya pijat kepala dan bahu selama 15-30 menit) tersedia di area spa mini di dalam gerbong.

Orient Express, ‘Berjuta Cerita’ dari kereta Mewah Legendaris Eropa

Stasiun Tulungagung Diperluas! PT KAI Siap Mulai Proyek Perombakan Atasi Lahan Sempit Akhir Tahun 2025

Stasiun Tulungagung, merupakan stasiun besar yang berada di antara petak Stasiun Ngujang dengan Sumber Gempol. Stasiun yang berada di lokasi strategis ini, menawarkan akses yang strategis untuk perjalanan ke destinasi wisata dan fasilitas umum di sekitarnya.

Stasiun yang memiliki ketinggian kurang lebih 85 meter dari permukaan laut ini memiliki emplasemen jalur rel kereta api tiga jalur aktif dan satu jalur non-aktif (jalur 4). Hingga kini, Stasiun Tulungagung merupakan salah satu stasiun kelas besar dengan fasilitas prasarana yang terbilang komplit.

Dari arsitektur bangunannya saja, Stasiun Tulungagung merupakan stasiun cagar budaya dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Ornamen-ornamen gaya khas jaman kolonial Belanda masih terawat dan kokoh hingga bisa dilihat masyarakat saat ini.

Beberapa fasilitas yang cukup tersedia di stasiun ini membuat para calon penumpang kereta api merasa terbantu. Namun, Stasiun Tulungagung masih terkendala dengan sempitnya lahan karena bagian depan langsung menghadap jalan raya.

Bagian depan Stasiun Tulungagung yang langsung menghadap jalan raya. (Foto: Dok. Istimewa)

PT KAI wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun memang berencana akan merombak area tersebut yang dimulai pada Desember 2025 hingga Januari 2026 dengan fokus pada area depan stasiun.

Setelah itu, proyek akan dilanjutkan ke sisi selatan dan utara, dengan target penyelesaian menyeluruh pada tahun 2028. Selain menata ulang akses keluar-masuk, PT KAI juga akan menambah fasilitas pendukung untuk mitigasi risiko penumpang.

Dalam proses penataan arus lalu lintas di sekitar stasiun, PT KAI akan berkoordinasi erat dengan Dinas Perhubungan Tulungagung agar rekayasa lalu lintas bisa berjalan aman dan minim gangguan bagi masyarakat.

Hingga kini pergerakan masyarakat pengguna kereta api untuk naik dan turun di Stasiun Tulungagung masih terkendali. Diketahui banyak kereta api yang berhenti di stasiun ini, seperti kereta api jarak jauh (KAJJ) dan kereta lokal (commuter Dhoho) untuk mengantar masyarakat menuju destinasi kota tujuan di Pulau Jawa.

PT KAI pun berharap dengan keberadaan Stasiun Tulungagung sebagai salah satu simpul transportasi utama di wilayah selatan Jawa Timur bisa semakin representatif, aman, dan sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan pemerintah.

Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

Hari Ini, 78 Tahun Lalu, Chuck Yeager Jadi Orang Pertama Terbang Melebihi Kecepatan Suara

Pada hari ini, 78 tahun lalu, bertepatan dengan 14 Oktober 1947, kapten pilot Angkatan Udara AS, Chuck Yeager menjadi orang pertama yang berhasil terbang melebihi kecepatan suara. Pesawat penelitian yang ia juluki Glamorous Glennis, Bell X-1, berhasil terbang Mach 1 lebih. Peristiwa bersejarah ini terus ditutupi oleh Amerika Serikat (AS) karena proyek ini sangat rahasia sampai tahun berikutnya.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Jet NASA X-15 Jadi Pesawat Pertama yang Melesat 4,675 Km Per Jam!

Dilansir Space.com, sebelum ditugaskan menjadi pilot uji pesawat supersonik  Bell X-1 dan berhasil menjadi orang pertama terbang melebihi kecepatan suara, Chuck Yeager melalui pasang-surut selama berkarir menjadi pilot Angkatan Udara AS.

Yeager diketahui lahir pada tahun 1923 dari keluarga sederhana. Sejak kecil tak terpintas dalam benaknya akan menjadi pilot. Tetapi, siapa nyana, garis tangan menuntunnya ke sana. Itu dimulai pada tahun 1941 saat tergabung dalam korps Angkatan Darat AS untuk Perang Dunia II.

Pada tahun Juli 1942, ia dimutasi ke Angkatan Udara dan ditugaskan mengikuti pelatihan penerbangan. Ternyata ini keputusan sangat tepat. Dengan cepat, Yeager tumbuh menjadi seorang penerbang andal dengan bakat-bakat terpendam yang dimiliknya.

“Dia memiliki penglihatan 20/10 yang luar biasa, koordinasi fisik yang luar biasa, dan kemampuan luar biasa untuk tetap fokus dalam situasi stres. Sifat-sifat itu ditambah dengan garis kompetitif dan pemahamannya tentang mesin menarik perhatian instrukturnya,” bunyi tulisan dalam laman chuckyeager.com.

Di tahun 1943, Yeager masuk ke medan Perang Dunia II, menerbangkan 64 misi termpur selama 270 jam di Eropa. Ia sempat tembak jatuh pada 5 Maret 1944, di atas Bordeaux, Perancis. Ajaibnya, ia selamat.

Usai perang, ia ditugaskan sebagai asisten maintenance di bagian pesawat tempur di Divisi Uji Penerbangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara AS di Wright Field, Ohio, AS. Di sini, ia mendapat kesempatan menerbangkan pesawat tempur yang sedang dikembangkan. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat tersebut, yang notabene masih dalam tahap penelitian, menyita perhatian petinggi USAF.

Setelahnya bisa ditebak, ia amat diandalkan dalam berbagai kesempatan, seperti di gelaran air show, dan berbagai kegiatan lainnya. Puncaknya, ia dipilih sebagai pilot uji pesawat penelitian Bell X-1 (dalam artikel lain disebutkan Bell XS-1) untuk terbang melebihi kecepatan suara.

Misi dimulai. Pada 10 Oktober 1947, ia berhasil menerbangkan Bell X-1. Tetapi belum sesuai harapan karena masalah pada pitch sehingga pesawat sulit dikontrol. Saran dari tim mekanik, Yeager harus menggerakkan horizontal tail Bell X-1 agar pesawat bisa terbang lurus dan terkontrol.

Pada 14 Oktober 1947, Yeager kembali menerbangkan pesawat Bell X-1. Ia mengikuti betul saran dan tim mekanik dan berhasil. Pesawat terbang stabil dan mencapai kecepatan Mach 0,83, 0,88, dan 0,92. Sempat stuck, Yeager menambah ketinggian di 42 ribu kaki dan kecepatan bertambah menjadi Mach 0,98.

Ia kemudian menaikkan lagi ketinggiannya menjadi 43 ribu dan pesawat berhasil mencapai kecepatan Mach 1 dan mencatatkan dirinya sebagai orang pertama yang terbang melebihi kecepatan suara (kecepatan supersonik).

Baca juga: Dituduh Promosi Ilegal, Airbus Diperkarakan Eks Pilot AS

Begitu juga dengan pesawatnya, Bell X-1 yang menjadi pesawat pertama melebihi kecepatan suara atau pesawat supersonik pertama. Ia pun dianugerahi penghargaan bergengsi, Collier Trophy, gelar yang menandakan penerimanya sukses melakukan pencapaian terbesar dalam sejarah, yang salah satunya juga diterima oleh Wrigh Bersaudara.

Setelah keberhasilan itu, Yeager terus diberi tugas-tugas menantang dalam rangka menguji pesawat yang jauh lebih cepat dari Bell X-1, salah satunya XF-104 Lockheed. Yeager terus melakukan itu sampai memasuki masa pensiun dan meninggal pada akhir tahun 2020 di usia 97 tahun. Adapun pesawat Bell X-1 tetap abadi dan digantung di Smithsonian Air and Space Museum.

Bagi Masyarakat Kereta Penolong Tidak Diharapkan untuk Beroperasi, Kenapa?

Identik dengan warna kuning. Ya, inilah yang disebut-sebut sebagai kereta penolong. Kereta ini memang sangat diharapkan dan diperlakukan khusus jika terjadi masalah atau peristiwa saat adanya kecelakaan kereta api. Layaknya manusia yang perlu pertolongan saat alami kejadian yang diluar dugaan, kereta penolong ini juga selalu hadir dengan membawa peralatan lengkap saat pasca kejadian.

Kereta penolong mayoritas memang berwarna kuning. Alasannya, karena untuk meningkatkan visibilitas dan agar mudah dikenali dalam situasi darurat. Warna kuning dipilih karena lebih mencolok dan dapat menarik perhatian lebih cepat di antara lingkungan yang ramai atau saat terjadi insiden, seperti kecelakaan atau bencana. Selain itu, warna ini juga menjadi identitas unik kereta tersebut dan memiliki julukan seperti “Pikachu” di kalangan masyarakat.

Saat bencana atau insiden pada kereta api terjadi, tentu dengan datangnya kereta penolong ini selalu menyedot perhatian masyarakat. Karena kereta jenis ini hanya keluar pada saat hal diluar dugaan tersebut.

Uniknya, ada sebuah unggahan di media sosial dari masyarakat yang mengetahui tentang adanya kereta penolong ini sempat disebutkan bahwa kereta tersebut merupakan kereta yang tidak diharapkan untuk beroperasi.

Karena kalau kereta ini keluar dari ‘garasinya’ berarti ada kondisi darurat yang mengganggu perjalanan kereta api. Dan itu prosesnya bisa lama, atau bisa juga hanya beberapa jam saja.

Kereta penolong jenis KRD. (Foto: Dok. KAI)

Kelengkapan yang dimiliki kereta penolong ini juga tak main-main. Banyaknya alat untuk evakuasi kereta/lokomotif yang mengalami kejadian seperti kecelakaan atau anjlok harus tersedia.

Fasilitas evakuasi tersebut antara lain tabung pemadam (APAR), tangga barang atau luncuran, tangga orang, alat pengelasan untuk memotong besi, fasilitas alat angkut dan alat berat untuk kasus kereta api yang anjlok.

Selain itu, ada pula fasilitas lainnya di kereta penolong berfungsi untuk mengevakuasi korban diantaranya ruang obat, ruang kru medis, ruang tindakan yang berfungsi sebagai tempat melakukan tindakan medis seperti operasi ringan dan sebagainya. Ruang resusitasi yang berfungsi sebagai tempat untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti nafas, ruang pasien, gudang alat kesehatan, dan toilet.

Kereta penolong memang ada berbagai macam jenisnya. Ada yang hanya sebuah kereta biasa yang perlu ditarik lokomotif, dan bahkan ada pula kereta penolong dengan jenis Kereta Rel Diesel (KRD) yang mampu berjalan sendiri dengan kecepatan maksimal 100 km/jam. Biasanya yang sangat dibutuhkan adalah kereta penolong jenis KRD tersebut dengan julukan ‘pikachu’.

Kereta ini diproduksi oleh Balai Yasa Yogyakarta yang menggunakan metode alih fungsi dari KRD. Oleh sebab itu, dengan adanya KRD ini bisa lebih cepat tiba dilokasi kejadian. Kehadiran kereta api penolong ini juga menjadi inovasi KAI di sisi keselamatan penumpang dan kru kereta saat dalam kondisi darurat.

Yuk, Kenalan dengan Djoko Tingkir – Sang Kereta Penolong

“Tragedi Qatar Airways: Penumpang Vegetarian Meninggal Tersedak Usai Diberi Makanan Berdaging”

Seorang penumpang berusia 85 tahun meninggal dunia di penerbangan Qatar Airways setelah ia menerima makanan non-vegetarian meskipun sebelumnya telah memesan makanan vegetarian. Keluarga korban telah mengajukan tuntutan hukum yang menuduh maskapai lalai.

Seperti dikutip NDRV World, dalam sebuah insiden yang disayangkan, penumpang lanjut usia tersedak hingga meninggal dunia di penerbangan Qatar Airways dari Amerika Serikat setelah dilaporkan disuruh oleh kru untuk “makan mengelilingi daging” dari hidangan non-vegetarian.

Setelah menyadari kesalahan tersebut, penumpang segera memberitahu awak kabin. Alih-alih mengganti makanan, pramugari dilaporkan menyarankan pria itu untuk “makan mengelilingi daging” (eat around the meat). Tak lama setelah itu, pria tersebut dilaporkan mulai tersedak dan kolaps di tengah penerbangan. Meskipun telah dilakukan upaya bantuan, ia tidak dapat diselamatkan.

Susul Singapore Airlines, Qatar Airways Luncurkan Menu Vegetarian

Insiden tragis ini telah memicu kemarahan global dan mendorong gugatan hukum atas tuduhan wrongful death (kematian akibat kelalaian) terhadap maskapai.

Keluarga penumpang mengajukan gugatan terhadap Qatar Airways, menuduh maskapai lalai. Gugatan tersebut menuduh bahwa awak kabin gagal memberikan bantuan medis yang memadai dan tidak mengalihkan pesawat ke bandara terdekat untuk perawatan darurat.

Perwakilan hukum keluarga berpendapat bahwa kesalahan penyajian makanan dan kurangnya intervensi medis yang tepat waktu secara langsung berkontribusi pada kematian pria tersebut.

Qatar Airways dalam hal ini telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang berduka dan menyatakan bahwa mereka sepenuhnya bekerja sama dengan pihak berwenang dalam investigasi yang sedang berlangsung. Maskapai juga menegaskan kembali komitmennya terhadap keselamatan penumpang dan mengumumkan bahwa mereka sedang meninjau prosedur internal untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Insiden ini menggarisbawahi pentingnya kepatuhan maskapai terhadap preferensi diet penumpang, terutama bagi mereka yang memiliki batasan kesehatan atau agama, serta menyoroti perlunya protokol darurat medis yang kuat di pesawat jarak jauh. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang akuntabilitas keselamatan dan layanan dalam penerbangan.

Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

10 Stasiun Kereta Api Paling Ikonik di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Turis Asing

Kereta api, itulah transportasi umum yang selalu digemari seluruh warga masyarakat karena praktis dan efisien. Seperti di jalur Jawa dan Sumatera, kereta api tentu menjadi andalan masyarakat untuk mengunjungi kota-kota yang bisa dijangkau dengan mudah. Tak hanya masyarakat di Indonesia, warga asing khususnya luar negeri.

Akhir-akhir ini banyak turis asing memanfaatkan perjalanan berkeliling Indonesia dengan kereta api. Beberapa konten di media sosial mereka bahkan menggambarkan suasana di kereta api saat melakukan travelling, seperti interior kereta, suasana bangunan stasiun, dan fasilitas lengkap untuk penumpang. Tak lupa kebersihan dan keamanan di area kereta api juga digambarkan oleh mereka.

Selain menawarkan pemandangan alam Indonesia, turis asing ini juga sangat favorit dengan kekaguman bangunan stasiun kereta api. Diketahui stasiun-stasiun kereta api di Indonesia lebih banyak bangunan cagar budaya yang berdiri sejak era kolonial Belanda. Karena itulah mereka sangat senang dengan ukiran dan bangunan yang masih terawat hingga kini.

Nah, berikut ini ada 10 stasiun yang digemari turis asing saat melakukan perjalanan dengan kereta api, periode Januari hingga September 2025:

Beberapa turis asing senang setelah menggunakan kereta kelas eksekutif. (Foto: Dok. KAI)

1. Stasiun Yogyakarta: 103.620 turis asing
2. Stasiun Gambir: 90.102 turis asing
3. Stasiun Bandung: 55.459 turis asing
4. Stasiun Pasar Senen: 30.420 turis asing
5. Stasiun Surabaya Gubeng: 24.164 turis asing
6. Stasiun Malang: 21.403 turis asing
7. Stasiun Semarang Tawang: 17.941 turis asing
8. Stasiun Probolinggo: 17.449 turis asing
9. Stasiun Surabaya Pasar Turi: 10.974 turis asing
10. Stasiun Solo Balapan: 10.297 turis asing

Lebih lanjut disampaikan, sebaran stasiun favorit turis asing tersebut menujukkan jaringan kereta api Indonesia yang menghubungkan kota-kota besar. Dengan demikian, menjadi penggerak konektivitas wisata antarwilayah.

Peningkatan kunjungan tertinggi ternyata terjadi pada Juli 2025 dengan 89.526 turis asing menggunakan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Momen ini bertepatan dengan musim liburan global, serta berbagai agenda pariwisata nasional seperti festival budaya dan musik. Sehingga semakin mempopularkan perjalanan dengan kereta api.

Banyak wisatawan asing memilih kereta api karena perjalanan lebih nyaman, bebas macet, dan terintegrasi dengan transportasi lanjutan. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan yang berkelas dunia. Apalagi fasilitas kereta api saat ini semakin lengkap dan nyaman, membuat mereka betah untuk menikmatinya selama di perjalanan.

Selain Mudik, Stasiun Yogyakarta Menjadi Tujuan Destinasi Wisata Favorit Saat Lebaran

Resmi Berlaku! EU Entry/Exit System (EES) Mengubah Perjalanan ke Schengen: Siapa yang Terkena Dampak?

Uni Eropa telah meluncurkan Sistem Masuk/Keluar (Entry/Exit System – EES), sebuah sistem perbatasan digital baru yang akan secara fundamental mengubah cara warga negara non-UE bepergian ke Wilayah Schengen.

EES adalah sistem TI otomatis yang dirancang untuk mendaftarkan warga negara non-UE, baik yang bebas visa maupun yang memerlukan visa jangka pendek, setiap kali mereka melintasi perbatasan eksternal dari 29 negara yang berpartisipasi di Eropa.

Tujuan Utama EES adalah menggantikan cap paspor manual. EES secara bertahap akan menggantikan sistem lama pencap paspor manual. Dengan ESS dapat meningkatkan keamanan membantu mengidentifikasi pemalsuan dokumen dan pencurian identitas. ESS juga dapat melacak kepatuhan visa. Secara otomatis menghitung dan memantau masa tinggal 90 hari dalam periode 180 hari, sehingga lebih mudah mendeteksi orang yang overstay (melebihi batas waktu tinggal).

Perancis Mungkin Ubah Aturan Visa Schengen, Ini Dampaknya Bagi Pelancong!

Dalam jangka panjang, EES diharapkan dapat memperlancar dan mempercepat proses kontrol perbatasan. EES mulai diperkenalkan secara bertahap (phased implementation) sejak 12 Oktober 2025. Sementara implementasi penuh sistem ini dijadwalkan akan beroperasi penuh di semua titik perbatasan eksternal negara-negara partisipan pada 10 April 2026.

EES berlaku untuk semua warga negara non-UE yang mengunjungi Wilayah Schengen untuk tinggal jangka pendek (maksimal 90 hari dalam periode 180 hari). Ini termasuk pelancong dari negara-negara yang dibebaskan visa (seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Singapura, dll., dan juga Indonesia jika bepergian dengan visa Schengen).

Pihak yang Dikecualikan adalahnwarga negara UE dan wilayah EEA (Islandia, Liechtenstein, Norwegia), kemudian [pemegang izin tinggal jangka panjang atau kartu penduduk yang dikeluarkan oleh negara UE/Schengen.

Proses EES akan menggabungkan otomatisasi (kios layanan mandiri) dengan interaksi petugas perbatasan, terutama pada kunjungan pertama. Pada kunjungan pertama Anda ke Wilayah Schengen setelah EES berlaku.

Sebaiknya Anda Tahu, Tujuh Negara ini Dikenal Paling Sulit Mengeluarkan Visa untuk Pelancong

Fiks! Tahun 2027, KRL Akan Beroperasi di Bandung, Begini Rutenya

Kereta Rel Listrik atau dikenal sebagai KRL saat ini terus wara wiri melayani penumpang di Jabodetabek yang dikelola oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Wilayah Jabodetabek ini melayani 5 rute KRL yang setiap harinya beroperasi, yaitu rute Bogor, Rangkasbitung, Tangerang, Tanjung Priok, dan Cikarang. Masyarakat pun dibuat mudah dalam menggunakan transportasi yang ramah lingkungan, praktis, dan efisien.

Berbagai informasi mengenai transportasi KRL yang sangat terjangkau tersebut, ternyata ada pula yang beredar kabar soal elektrifikasi di wilayah lainnya. Tak lain dan tak bukan, pemerintah benar-benar serius akan membangun KRL di wilayah Bandung.

Ya, wilayah yang termasuk Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, memang sudah melayani transportasi lokal yaitu Commuter Line Bandung Raya dengan rute Padalarang – Bandung – Cicalengka pp.

Perjalanan kereta lokal tersebut melayani setiap harinya mulai dari pagi hari hingga tengah malam. Namun untuk rangkaian kereta ini masih membutuhkan sarana penarik rangkaian kereta yakni lokomotif.

Seperti diketahui, tak hanya untuk sarana angkutan perkotaan saja, Commuter Line Bandung membutuhkan lokomotif. Tapi tak menutup kemungkinan, untuk perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) pun tetap dibutuhkan, apalagi saat momen libur panjang.

Nah, dari situlah pemerintah memfokuskan sarana KRL harus beroperasi di Daop 2 Bandung tersebut. Menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, untuk proyek elektrifikasi perkotaan Bandung Raya itu, pihaknya membutuhkan waktu dua tahun untuk merealisasikannya.

Saat ini, jalur eksisting-nya baru dilayani KA Commuter Line Bandung Raya dengan sarana peruntukan kereta jarak jauh. Dengan elektrifikasi, KRL (Kereta Rel Listrik) Bandung Raya siap beroperasi. Dan Kemenhub sepakat akan melakukan elektrifikasi jalur Padalarang-Cicalengka tersebut.

Proyek elektrifikasi sepanjang 42 Km itu ditargetkan rampung pada 2027. Harapannya nanti masyarakat Jabar, khususnya di Bandung, yang semula jarak tempuh 40 Km ditempuh 2 jam, bisa hanya 1 jam.

Stasiun-stasiun yang nantinya dilewati oleh KRL pada rute Bandung Raya ini adalah sebagai berikut:

Stasiun Bandung.

– Stasiun Padalarang
– Stasiun Gadobangkong
– Stasiun Cimahi
– Stasiun Cimindi
– Stasiun Andir
– Stasiun Ciroyom
– Stasiun Bandung
– Stasiun Cikudapateuh
– Stasiun Kiaracondong
– Stasiun Gedebage
– Stasiun Cimekar
– Stasiun Rancaekek
– Stasiun Haurpugur
– Stasiun Cicalengka

Selain itu, Pemprov Jabar memiliki komitmen mempercepat pembangunan infrastruktur, khususnya mereaktivasi kereta api. Yang sudah disepakati tadi oleh Kemenhub dan PT KAI jalur dari Padalarang ke Cicalengka.

Proyek KRL Bandung Raya sebenarnya juga sudah masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS), Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub yang dirancang untuk direalisasikan hingga tahun 2030.

Dalam dokumen RIPNAS tersebut, DJKA Kemenhub merancang proyek jalur ganda (double track), sekaligus elektrifikasi jalur kereta api pada lintas Padalarang (Kabupaten Bandung Barat)–Bandung (Kota Bandung)–Cicalengka (Kabupaten Bandung).

Enggak Mau Desak-desakan? Yuk, Ikuti Tips Naik KRL di Jam Paling Sibuk Agar Tetap ‘Survive’

Hari Ini, 53 Tahun Lalu, Tragedi Miracle of the Andes dan Aksi Kanibalisme 16 Penumpang Selamat Terjadi

Pada hari ini, 53 tahun lalu, bertepatan dengan 13 Oktober 1972, kecelakaan pesawat Fairchild Uruguayan Air Force flight 571, terjadi. Pesawat yang disewa tim rugby ini kecelakaan usai menabrak Pegunungan Andes sebelum jatuh di lembah terpencil dan menewaskan 29 dari 45 penumpang. 

Baca juga: Dikira Tewas Kecelakaan Pesawat, Pilot Brasil Selamat Usai 38 Hari Terjebak di Hutan Amazon


Ajaibnya, penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup selama dua bulan sebelum diselamatkan petugas pada 22 Desember, sekalipun dengan cara memakan mayat korban tewas.

Dilansir Britannica, tragedi, yang juga disebut Miracle of the Andes atau El Milagro de los Andes dalam bahasa Spanyol, bermula saat tim rugby Old Christians Club menyewa pesawat untuk penerbangan dari Montevideo, Uruguay, ke Santiago, Chili.

Pada 12 Oktober, pesawat turboprop Fairchild bermesin ganda meninggalkan Bandara Internasional Carrasco, dengan membawa 40 penumpang, terdiri dari pemain, staf, keluarga, serta guide, dan lima kru. Total ada 45 orang.

Berhubung cuaca buruk terjadi saat mendekati Pegunungan Andes, pesawat mendarat di Mendoza, Argentina. Melihat peta, sebetulnya jarak antara Mendoza dengan Santiago sangat dekat. Hanya saja, keduanya dipisahkan Pegunungan Andes.

Karena pesawat yang digunakan tak didesain terbang melebihi ketinggian pengunungan itu sendiri di angka 6.900 meter, pilot pun memillih jalar memutar lewat selatan ke Pass of Planchón, melewati celah tebing Pegunungan Andes dan memutar balik dengan aman menuju Santiago.

Sekitar pukul 3 waktu setempat di hari berikutnya atau pada 13 Oktober, pilot melapor ke ATC bahwa mereka sudah mencapai Curicó, Chili, 178 km di selatan Santiago. Pilot menyebut mereka sudah berhasil melewati tebing dan berada segaris lurus dengan Santiago di utara. Dengan laporan itu, ATC pun mengizinkan kru menurunkan ketinggian untuk persiapan approach. Sayangnya itu keliru.

Pukul 3.30 sore waktu setempat, pesawat tak bisa dihubungi dan diyakini mengalami kecelakaan. Pencarian pun dilakukan. Dasarnya adalah lokasi terakhir yang dilaporkan pilot, di sekitar Curicó.

Ini yang menjadikan proses pencarian sangat sulit. Setelah delapan hari, pencarian dihentikan karena nihil. Tak ada jejak apapun. Ini tentu wajar mengingat lokasi pencarian keliru mengingat lokasi kecelakaan sebetulny adalah di lembah terpencil di perbatasan Argentina dan Chili. Sudah begitu, salju turun sepanjang hari dan mempersulit pencarian pesawat yang juga berwarna putih.

Saat pencarian dihentikan, sebetulnya, jumlah penumpang selamat mencapai 33 orang dan korban tewas sebanyak 12 orang. Tetapi, di tengah cuaca ekstrem di Pegunungan Andes di ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut dan memang sedang memasuki musim dingin mulai Oktober sampai akhir Desember, satu per satu korban selamat berguguran.

Seminggu pertama, 33 korban selamat itu bertahan hidup di sekitar lokasi kecelakaan dengan perbekalan yang ada, permen, anggur, dan lainnya. Setelah itu semua habis, barulah aksi kanibalisme oleh korban selamat terhadap korban tewas terjadi.

Pada tanggal 29 Oktober, kesaksian korban selamat menyebut, dari semula 33 orang selamat menjadi tinggal 19. Pada tanggal 12 Desember, itu berkurang menjadi 16 orang.

Sadar kondisi tak akan berubah, tiga korban selamat pun bergerak mencari bantuan. Tetapi, itu menjadi dua lantaran satu lainnya balik ke lokasi semula. Setelah melewati perjalanan sulit, mereka pun berhasil bertemu dengan tiga penggembala di desa Los Maitenes, Chili, pada 20 Desember.

Namun, orang Chili berada di seberang sungai, yang suaranya membuat sulit mendengar. Tetapi, para penggembala berjanji balik lagi keesokan harinya.

Baca juga: Viral! Usai Tewas dalam Kecelakaan Pesawat 45 Tahun Lalu, Kakek ini Pulang ke Rumah

Pagi-pagi keesokan harinya, orang-orang Chili muncul kembali, dan kedua kelompok berkomunikasi dengan menulis di atas secarik kertas yang dililitkan ke batu dan melemparkannya ke air. Salah satu bunyi catatannya ialah, “Kami datang dari pesawat yang jatuh di pegunungan.”

Pihak berwenang diberitahu dan pada 22 Desember dua helikopter dikirim ke lokasi. Enam orang yang selamat diterbangkan ke tempat yang aman, tetapi cuaca buruk menunda delapan orang lainnya untuk diselamatkan sampai hari berikutnya.