Kena PHK, Mantan Pilot Malindo Air Rambah Bisnis Kuliner

0
Setelah dipecat mantan pilot Malindo Air buka usaha kuliner (nst.com.my)

Seorang pilot yang bekerja selama 20 tahun di tiga maskapai dengan jam terbang lebih dari 13 ribu terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK beberapa hari lalu. Meski begitu dirinya tak berpikir pendek dan langsung mengalihkan masalah itu dengan cara yang unik untuk mendapat penghasilan baru.

Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online

Kapten Azrin Mohamad Zawawi adalah pilot itu dan dia mengatakan pepatah ‘Jika ada kemauan, ada jalan’. Sebab setelah dirinya di PHK, Azrin memutuskan untuk menguji keterampilan kulinernya dalam gemerlap seragam pilot putih-hitam lengkap dengan tanda pangkat empat batang di pundaknya, topi, dasi dan celemek merah.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari nst.com.my (3/11/2020), Azrin membuka warung yang bernama Kapten Corner di Boom Town Cafe di USJ 11, Subang Jaya, Malaysia. Dia mengatakan meski terpukul keras dalam mengelola keuangan di kehidupannya, dirinya memutuskan untuk menggunakan keterampilan kuliner yang dipelajari setelah meninggalkan sekolah lebih dari dua dekade lalu.

“Daripada mengeluh tentang kehilangan pekerjaan dan menghadapi penderitaan yang tidak diinginkan, saya berkonsultasi dengan keluarga saya tentang bisnis kios, yang membutuhkan investasi yang dapat dikelola. Mereka semua mendukung dan inilah saya,” kata Azrin, yang akan berulang tahun ke-44 besok,” kata Azrin.

Ia menambahkan, ibu mertuanya, Rohime Abdul Rahman, adalah juru masak utama, sedangkan ia dan istrinya Latun Noralyani Meor Aminudin melengkapi dirinya dalam menjalankan warung tersebut. Bahkan, Azrin mengaku ayahnya, Mohamad Zawawi Ahmad, yang sangat mendukung idenya untuk mengelola warung sendiri.

“Ayah saya tahu betul bahwa tidak ada yang tahu seperti apa masa depan industri penerbangan akibat Covid-19. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia pesimis tentang situasi yang segera kembali normal dan kapan saya akan mengenakan seragam pilot saya lagi. Itulah mengapa saya memutuskan untuk mengenakan seragam lengkap saya untuk menjalankan bisnis warung saya yang menyajikan makanan lezat seperti kari mee, bihun sup, laksa utara dan rujak buah,” kata Azrin.

Bahkan sebelum dia menyadarinya, media sosial sudah ramai dengan kejenakaannya. Azrin mengungkapkan bahwa kiosnya hanya bisa mengumpulkan pendapatan kotor rata-rata RM1500 setiap hari, dibandingkan dengan perkiraan pendapatan pilot bulanan RM50 ribu.

“Tapi saya yakin bisnis akan meningkat dengan publisitas media sosial. Saya sangat ingin tetap bertahan karena biaya overhead saya sekitar RM30 ribu sebulan untuk memelihara rumah, mobil, sekolah pribadi anak-anak, pengeluaran pribadi, dan hal-hal tak terduga lainnya. Ini benar-benar peringatan untuk semua orang, termasuk saya dan keluarga saya. Saya tidak pernah menyangka skenario ini. Sebelumnya, kami mengalami pandemi SARS (sindrom pernafasan akut parah) yang hanya berlangsung satu tahun. Kami mengira Covid-19 akan sama, tapi tidak demikian,” kata Azrin.

Azrin termasuk di antara 2200 awak dan staf Malindo Air yang dilayani dengan surat pengunduran diri pada 30 Oktober. Begitu pula dengan puluhan ribu pilot di seluruh dunia yang telah di-PHK atau harus menerima pemotongan gaji yang besar dan hilangnya fasilitas.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Hidup, Dua Pilot Indonesia Alih Profesi Jadi Pedagang Mie Ayam dan Kopi Keliling

Azrin memulai karir terbangnya dengan MAS pada tahun 2000 sebagai co-pilot pertama di de Havilland Twin Otter, kemudian Fokker 50, Boeing B737-400 dan B777-200. Dia kemudian pindah ke Firefly pada tahun 2012 sebagai kapten di B737NG. Pada 2015, ia bergabung dengan Lion Air dan berbasis di Jakarta, Indonesia selama tiga tahun, sebelum terbang ke Malindo Air selama lima tahun enam bulan.

“Jabatan terakhir saya di Malindo sebagai pemeriksa rating tipe untuk B737NG,” ujarnya.

Leave a Reply