Maskapai Ramai-ramai Berlakukan Bagasi Tangan Berbayar Saat Penerbangan Sepi, Untung atau Buntung?

0
Ilustrasi Bagasi Kabin. Sumber: istimewa

Di masa lalu, saat penerbangan sedang menggeliat, perlahan tapi pasti, maskapai global, dalam hal ini maskapai berbiaya hemat (LCC), mulai menerapkan bagasi berbayar; tak terkecuali maskapai LCC Indonesia, seperti Lion Air dan Citilink.

Baca juga: Hanya dari Biaya Bagasi, Maskapai Global Raup Untung Hingga Ratusan Triliun Rupiah

Kebijakan tersebut pun menimbulkan polemik dan citra negatif, seolah transportasi udara tak lagi ramah kantong. Alhasil, sempat terjadi penurunan jumlah penumpang sekalipun tak terlalu signifikan, di samping memang sudah memasuki low season.

Senada dengan itu, belum lama ini, easyJet mengumumkan bakal memberlakukan bagasi tangan (hand luggage) berbayar atau lebih tepatnya pengurangan dimensi bagasi tangan (hand baggage cuts), menyusul dua maskapai Eropa lainnya, Ryanair dan Wizz Air. Bedanya, bila bagasi berbayar menerapkan itu saat traffic penumpang tinggi, easyJet dan dua maskapai di lain justru menerapkan itu di tengah sepinya penerbangan penumpang.

Meski demikian, easyJet tetap kukuh pada pendiriannya. Disebutkan, peraturan bagasi tangan berbayar maskapai LCC asal Inggris itu mulai diterapkan pada 10 Februari 2021 mendatang.

“Untuk semua perjalanan mulai 10 Februari 2021, kursi yang Anda pesan akan menentukan tas apa yang dapat Anda bawa ke pesawat,” tulis easyJet dalam laman resminya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Saat peraturan bagasi tangan berbayar sudah diterapkan, penumpang dibatasi hanya boleh membawa satu tas kecil (ukuran maksimum 45 x 36 x 20 cm, termasuk handle dan roda). Tergolong kecil memang, namun seharusnya cukup untuk perjalanan singkat.

Andai kata penumpang menginginkan lebih, mereka bisa mendaftar keanggotaan maskapai atau membeli tiket dengan harga sedikit lebih mahal, untuk bisa meletakkan barang bawaan di kompartemen bagasi di atas kursi penumpang. Bila tidak atau tetap memilih hand luggage gratis, maka tak ada pilihan lain kecuali meletakkan tas yang sudah sesuai ketentuan di bawah kursi.

“Itu seharusnya cukup untuk membawa semua hal penting untuk perjalanan Anda atau untuk perjalanan singkat. Tidak ada batasan berat, tetapi kami meminta Anda untuk dapat mengangkat dan membawa sendiri tas Anda,” kata maskapai yang berbasis di Bandara London Luton itu.

Terlepas dari faktor ekonomi, dimana maskapai sangat mungkin mendapat uang lebih dari penumpang, pihak easyJet berkilah bahwa kebijakan itu diambil untuk mengatur sporadisitas penumpang dalam membawa bagasi tangan. Terlebih, sebagai maskapai LCC, penumpang kerap membludak (di masa normal dan new normal di momen tertentu) dan membuat stok kompartemen bagasi jadi menipis.

Tak jarang, hal itu sampai membuat kompartemen kabin kehabisan ruang sebelum seluruh tas bawaan penumpang diletakkan. Alhasil, awak kabin harus turun tangan untuk memaksimalkan tata letak bagasi sebelum pesawat lepas landas.

Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin

Hal itu pulalah yang membuat maskapai memutuskan penerapan kebijakan itu. Dengan mengurangi bawaan penumpang di dalam kabin, antrean penumpang di dalam kabin jadi berkurang dan persiapan sebelum lepas landas akan semakin cepat selesai.

“Kami membuat beberapa perubahan pada kebijakan tas kabin kami untuk membantu meningkatkan boarding dan ketepatan waktu serta memberikan kepastian kepada pelanggan tentang apa yang boleh mereka bawa ke pesawat,” tulis maskapai yang berbasis di Bandara London Luton itu.

LEAVE A REPLY