Hadirnya moda transportasi darat di dunia perkuliahan memang dapat menunjang mobilitas para mahasiswa. Selain tidak perlu capek berjalan, efisiensi waktu menjadi pertimbangan utama yang melatarbelakangi hadirnya sarana transportasi di kampus-kampus yang memiliki luas wilayah super besar. Seperti langkah yang diambil oleh Nanyang Technological University (NTU), dimana salah satu kampus yang namanya sudah mendunia ini menghadirkan sarana transportasi untuk mengangkut orang-orang di sekitaran kampus.
Baca Juga: “Bus Sekolah Gratis,” Aplikasi Monitoring Bus Sekolah di Jakarta
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (24/1/2018), mengingat efisiensi waktu menjadi poin penting dalam hadirnya sarana transportasi tersebut, universitas yang berada di Singapura ini diketahui tengah bereksperimen dengan Electric Vehicle (EV) berbentuk shuttle yang hanya membutuhkan waktu 20 detik saja untuk melakukan pengisian ulang daya hingga penuh!
NTU-Blue Solutions Flash Shuttle, merupakan nama dari moda yang memiliki 22 seat yang dirilis pada 22 Januari silam, hasil kerja sama NTU dan BlueSG, layanan carsharing berbasis kendaraan listrik pertama asal Singapura. Tidak seperti EV lain yang hanya mengandalkan baterai dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengisian daya, moda ini dilengkapi dengan supercapacitors dan baterai Lithium-Metal-Polymer (LMP) yang dikembangkan oleh Blue Solutions. Inilah yang menjadikan NTU-Blue Solutions Flash Shuttle unggul dalam hal waktu pengisian daya.
Presiden NTU, Subra Suresh mengatakan bahwa kehadiran EV berbentuk shuttle bus ini dapat meminimalisir pencemaran lingkungan. “Penggunaan kendaraan listrik yang berfungsi sebagai angkutan umum tengah dikembangkan di seluruh dunia, karena ini menunjukkan bahwa sistem transportasi menjadi lebih efisien dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” tutur Subra.
Dalam ‘penampilan’ perdananya, membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk menentukan rute uji coba dari kendaraan yang mampu menempuh jarak hingga 30km dalam sekali charge ini. Rencananya, NTU-Blue Solutions Flash Shuttle ini akan beroperasi di NTU hingga dua tahun ke depan.
Jika diperhatikan, tidak hanya Nanyang yang menyediakan sarana transportasi untuk keperluan mobilitas mahasiswa di sana. Sebut saja Universitas Padjadjaran (Unpad) yang berlokasi di Jatinangor, Jawa Barat yang juga menyediakan layanan serupa, walaupun modanya masih menggunakan mesin diesel. Moda berbentuk bus gandeng tanpa kaca tersebut melayani mobilitas mahasiswa dan staf kampus yang hendak melakukan perjalanan dari gerbang pejalan kaki menuju masing-masing fakultas dan rektorat dengan rute yang sudah ditentukan sebelumnya. Para penumpangnya pun tidak dipungut biaya sepeserpun untuk menggunakan moda ini.
Baca Juga: “Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend
Seperti halnya Unpad, Universitas Indonesia (UI) juga memiliki layanan serupa yang namanya telah lebih dahulu tenar dibandingkan kedua layanan di atas. Adalah Bikun yang merupakan singkatan dari Bis Kuning, sudah mulai melayani mahasiswa UI sejak tahun 1988 silam. Berbeda dengan Unpad yang hanya memiliki satu rute saja, Bikun memiliki dua rute yang diinisialkan dengan rute merah dan biru. Walaupun titik awal dan akhir perjalanan dari kedua rute ini sama, hanyalah titik pemberhentiannya saja yang berbeda-beda.
Saking melegendanya, nama Bikun juga diangkat menjadi sebuah coffee shop yang berada di dalam Fakultas Hukum. Uniknya lagi, coffee shop tematik ini berdiri di atas kerangka Bikun yang sudah tidak beroperasi lagi. Meski telah menjadi identitas UI Depok, pengelolaan Bikun dilakukan secara outsourcing, dan sayangnya pengoperasian Bikun telah berakhir pada tahun 2015.
Tidak bisa dipungkiri, bandara merupakan salah satu gerbang masuk menuju suatu negara atau kota yang secara tidak langsung mencerminkan keseluruhan keadaan di destinasi tersebut. Hadirnya sejumlah teknologi mutakhir dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang turut menyeret bandara untuk mengadopsi beberapa di antaranya. Sebut saja teknologi face recognizing (pemindai wajah) yang tengah dikembangkan di beberapa bandara yang akan memudahkan para penumpang untuk melewati proses pemeriksaan imigrasi.
Baca Juga: Baidu Rambah Teknologi Pengenalan Wajah di Bandara
Banyak bandara di seluruh dunia secara aktif turut terlibat dalam uji coba teknologi mutakhir pada tahun 2017 kemarin, dan banyak pihak yang berharap agar beberapa dari proyek tersebut akan terus dikembangkan pada tahun 2018 ini. Berikut, KabarPenumpang.com himpun enam teknologi penting yang sekiranya bakal menghiasi bandara di seluruh dunia, dikutip dari laman tnooz.com (2/1/2018).
Cybersecurity
Ancaman kejahatan cyber memang semakin masif dewasa ini, inilah yang menjadi sisi negatif perkembangan jaman. Kerjasama berkelanjutan antara pemerintah dan pemangku kepentingan industri lainnya yang akan membantu pengembangan sumber daya. Namun ancaman cyber ini akan terus berlanjut dan memerlukan tinjauan yang hati-hati terhadap infrastruktur pertahanan. Maka dari itu, peningkatan kesadaran staf terhadap ancaman kejahatan cyber amat diperlukan.
Pengembangan Teknologi Blockchain
Penelitian SITA (Société Internationale de Télécommunications Aéronautiques) tentang teknologi blockchain yang dilakukan bekerjasama dengan British Airways, Heathrow, Geneva Airport dan Miami International Airport mengungkapkan beberapa keuntungan menggunakan Blockchain sebagai sumber keabsahan data tertinggi dalam dunia penerbangan. Teknologi Blockchain berguna untuk memastikan bahwa informasi yang tersimpan pada paspor digital hanya dapat dilihat oleh pemiliknya saja. Mengingat kompleksnya teknologi ini, diharapkan bandara-bandara terkait dapat mempelajari lebih lannjut tentang teknologi ini, mengingat pengaplikasiannya yang diprediksi tidak dapat diterapkan dalam satu atau dua tahun ke depan.
Pengembangan Otomasi dan Self-Service
Pengembangan teknologi ini dipercaya oleh sejumlah pihak dapat meningkatkan efisiensi waktu penumpang. Contohnya adalah waktu antrean penumpang di imigrasi yang dapat dialokasikan untuk kesibukan lain jika menggunakan teknologi pemindai wajah, dan seterusnya. Menurut Global Passenger Survey yang dilakukan oleh IATA, mereka mendapati sebagian besar penumpang menikmati otomasi yang perlahan hadir di beberapa bandara, seperti teknologi boarding pass elektrik, self-boarding, hingga gerbang imigrasi otomatis.
Pengembangan NEXTT
International Air Transport Association (IATA) dan Airports Council International (ACI) berkolaborasi dalam prakarsa NEXTT untuk bandara di masa yang akan datang. Sementara untuk mewujudkannya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua dekade. Di sini, IATA dan ACI berharap beberapa konsep NEXTT dapat menjadi bagian dari pengalaman penerbangan penumpang pada tahun 2020 kelak. Idenya adalah merencanakan masa depan otomasi lebih besar dan transportasi alternatif dengan lebih banyak fungsi perjalanan dipindahkan dari bandara. Kehadiran NEXTT memerlukan peninjauan terhadap praktik penanganan penumpang dan kargo, serta peraturan yang mengatur operasi maskapai dan bandara.
Baca Juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFIDBaggage Tracking
Beberapa bandara dan penyedia jasa layanan penerbangan telah mempersiapkan elemen yang menunjang kehadiran dari teknologi baggage tracking, seperti alat pemindai, tag Radio-Frequency Identification (RFID), hingga kesesuaian data. Baggage tracking merupakan bagian dari IATA Resolution 753 yang mulai berlaku pada tahun 2018. Pihak bandara harus bekerja sama dengan perusahaan penerbangan untuk memastikan bahwa infrastruktur penanganan bagasi mereka dapat mendukung pelacakan secara live.
Fokus pada Pelanggan
Dalam kasus ini, pelanggan bandara tidak hanya seputaran penumpang saja, melainkan pihak maskapai pun masuk ke dalam kategori pelanggan bandara. Dengan kata lain, pembenahan yang selama ini terjadi di bandara bukan semata-mata untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpang, melainkan kepada pihak maskapai juga.
Maskapai plat merah kebanggaan Ibu Pertiwi, Garuda Indonesia menyampaikan target pendapatannya tahun 2018 ini setelah sebelumnya sempat anjlok. Terlepas dari permasalahan internal yang tengah menderu, Flag Carrier Indonesia ini menargetkan pendapatan bersih sebesar $8,7 juta atau yang setara dengan Rp115,8 miliar.
Baca Juga: Mulai 29 Januari 2018, Garuda Indonesia Layani Rute Denpasar – Zhengzhou dan Denpasar – Xi’an
Guna mencapai target tersebut, Garuda Indonesia berencana untuk membuka beberapa rute baru yang dinilai potensial, walaupun langkah ini bisa dibilang tidak mudah mengingat minimnya SDM yang terintergrasi.
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, maskapai yang tergabung dalam Skyteam ini menemukan masalah yang cukup vital dalam merealisasikan rencana pembukaan rute baru mereka, Denpasar, Bali menuju Zhengzhou dan Xi’an, Cina. “Karena kami kekurangan penerbang, jadi kami negosiasi, boleh enggak kurangin dulu 1 hari lah (hari liburnya), misalnya dalam sebulan, tentunya dengan adanya kompensasi,” ujar Direktur Operasional Garuda Indonesia, Triyanto Moeharsono.
Pernyataan tersebut jelas menampik pemberitaan miring yang beredar belakangan ini terkait pengurangan jam istirahat pilot. Guna mengatasi solusi yang bersifat temporer tersebut, pihak Garuda berencana untuk menambah SDM baru. “Bakal ada penambahan SDM, kalau pengurangan jam terbang enggak ada,” imbuhnya.
Menurut Triyanto, untuk mempersiapkan satu penerbang butuh waktu pelatihan kurang lebih selama satu tahun, sehingga masalah kekurangan pilot tidak dapat diselesaikan dalam waktu cepat. Pada tahun ini, Garuda Indonesia akan menambah 122 penerbang baru.
Mantan Vice President (VP) Operation Planning & Control Garuda Indonesia ini membenarkan adanya penambahan jam kerja pilot, namun dirinya percaya bahwa para penerbang tidak ada masalah dan operasional hingga kini masih berjalan dengan lancar.
“Saya yakin teman-teman itu sangat profesional. Kalau kita lihat ontime performa (penerbangan) kami,” ungkap Triyanto. “Kami percaya apa yang dilakukan teman-teman dan manajamen adalah demi kebaikan Garuda Indonesia,” timbalnya.
Semakin tinggi pohon, maka semakin besar pula terpaan anginnya. Mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan situasi yang tengah dialami Garuda Indonesia saat ini. Merujuk pada pemberitaan miring yang sudah disinggung di atas, Triyanto mengatakan bahwa sudah ada diskusi yang dilakukan oleh pihak internal Garuda dengan Serikat Pekerja Garuda Indonesia (Sekarga) yang berujung pada lahirnya Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
“Apa yang diinginkan (Sekarga) sudah kita kembalikan sesuai aturannya dan ini butuh waktu. Artinya ini proses, enggak berapa lama lagi kami akan in line (selaras) dengan apa yang diharapkan (Sekarga),” terang Triyanto.
Baca Juga: Garuda Indonesia Sabet Posisi Empat di Best Economy Class Airlines
Selain masalah internal, faktor eksternal pun turut menghambat laju Garuda dalam mengimplementasikan rute barunya tersebut. Melonjaknya harga minyak bumi dan letusan Gunung Agung di Bali menjadi dua bayang kelam yang terus membuntuti Garuda. Walhasil, ‘tahap penyembuhan’ Garuda Indonesia masih terombang-ambing.
Sementara itu dikutip dari sumber terpisah, Helmi Imam Satriyono selaku Director of Finance and Risk Management Garuda Indonesia tetap optimis bahwa tahun ini Garuda dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara signifikan. “Target peningkatan volume penumpang sebesar 9-10% per tahun. Ditambah dengan pembukaan rute baru dan peningkatan bisnis di sektor kargo,” tuturnya.
Pemandangan alam dengan gunung dan hamparan hijau seringkali menjadi latar belakang sebuah jalur kereta atau stasiun. Bahkan dijadikan objek foto bagi para pecinta fotografi. Mungkin sudah tak asing lagi bagi penikmat fotografi, dengan stasiun Lebak Jero yang memiliki latar belakang dengan pemandangan yang indah.
Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia
Memiliki lintasan rel membentuk huruf S serta gunung yang menjadi latar belakangnya, membuat para pecinta fotografi berlomba-lomba untuk mendapatkan foto yang indah dan menarik dari stasiun ini dari berbagai sudut pandang atau angle.
Kabarpenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, stasiun Lebak Jero bukanlah stasiun besar, karena hanya memiliki satu bangunan kecil dan sederhana dengan ukuran 4×3 meter. Disebelahnya terdapat sebuah bangunan berdinding kayu yang dimanfaatkan untuk ruang tunggu penumpang.
Jalur bentuk S di stasiun Lebak Jero
Dibangun tahun 1920, stasiun ini berlokasi di area perbatasan Karangtengah, Kadungora, Garut dengan Ciherang, Nagreg, Bandung. Stasiun Lebak Jero sendiri merupakan stasiun paling timur di Kabupaten Bandung dan memiliki ketinggian +818 meter di atas permukaan laut dan masuk Daerah Operasional II Bandung.
Dilengkapi dengan dua jalur dimana jalur 2 adalah sepur lurus, stasiun ini juga memiliki rel langsir terpendek di Jawa Barat yang hanya mampu menampung lima gerbong. Jika melebihi lima gerbong, biasanya kereta akan diarahkan ke jalur terminus untuk menempatkan bagian belakangnya di garis terminus yang berlawanan dimana masinis harus menggerakkan kereta.
Sayangnya stasiun kecil ini hanya disinggahi oleh satu kereta api yakni KA Simandra yang melayani perjalanan di koridor Purwakarta-Cibatu dan kereta lainnya hanya melintas. Bahkan stasiun ini memiliki fungsi sebagai stasiun persilangan.
Pemandangan stasiun Lebak Jero
Jika bertanya tentang warung atau kios, jawabannya tidak ada. Selain kecil, stasiun ini bisa dikatakan tidak lagi memiliki nilai komersial karena hanya ada dua baris bangku di ruang tunggu dan loket kecil tempat penjualan tiket.
Nilai historis di stasiun ini cukup jelas dimana stasiun ini masih menggunakan sisa-sisa peninggalan belanda dari bangunan stasiunnya, wesel, peralatan layanan sinyal hingga sinyalnya sendiri. Stasiun ini juga pernah dipugar hanya saja dibagian atap dan dinding ruang tunggu. Untuk sampai ke stasiun ini, jangan pernah berharap melalui jalan besar dan beraspal. Sebab untuk sampai ke stasiun ini harus melalui gang perkampungan sempit sejauh 700 meter dan melewati jalanan licin dengan tanjakan curam sejauh 100 meter.
Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta
Kendaraan pun hanya motor dan sepeda, tapi sampai di stasiun ini, Anda akan dihadapkan dengan lintasan utama yang juga sebagai halaman depan stasiun. Tak hanya itu, lelah dan sulitnya jalur terbayarkan dengan pemandangan alam dan sejuknya udara di stasiun Lebak Jero ini.
Terjebak kemacetan lalu lintas menjadi hal yang menakutkan dalam perjalanan menuju bandara, keringat dingin ataupun panik bisa terjadi karena takut tertinggal pesawat, lantaran jika tertinggal pesawat bukan hanya tiket saja yang hangus melainkan perjalanan pun tertunda.
Baca juga: Terpaksa Menginap di Bandara? Siapa Takut!
Panik dan stress mungkin tak bisa dihindari jika Anda mengalami kejadian tersebut, namun itu bukan akhir dari segalanya, ada beberapa hal yang sebaiknya dapat Anda lakukan setelah dipastikan Anda tertinggal pesawat. KabarPenumpang.com merangkum dari laman travelandleisure.com (22/1/2018), jika terlambat mala sebaiknya langsung hubungi pihak maskapai untuk mengetahui langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya dan mereka akan memandu untuk membuat Anda sedikit tenang dalam menghadapi situasi tersebut.
“Jika seorang pelancong tahu akan tertinggal penerbangan, baiknya penumpang tersebut memberi tahu maskapai. Sebagian besar penerbangan saat ini memiliki kursi cadangan pada penerbangan berikutnya yang bisa dimanfaatkan,” ujar Kelly Kincaid salah seorang pramugari. Dia mengatakan, memberitahukan pada pihak maskapai juga meningkatkan kesempatan calon penumpang untuk diberi rebook pada penerbangan berikutnya jika ada kursi yang memungkinkan atau kosong. Jika hanya terlambat, bukan berarti pelancong harus menyerah begitu saja.
Baiknya Anda periksa secara online atau check in online untuk mengetahui apakah masih ada peluang untuk mengejar penerbangan teserbut bahkan saat sudah sampai di bandara. Biasanya gate penerbangan masih terbuka 10-15 menit sebelum keberangkatan, jadi bersiaplah Anda untuk berlari mengejar pesawat.
Tapi, bagaimana jika tidak bisa mengejar penerbangan tersebut? Hal ini tergantung pada maskapai penerbangan, pelancong mungkin akan dikenakan biaya rebooking untuk naik kepesawat lain. Beberapa maskapai penerbangan juga mengenakan biaya tiket untuk penerbangan yang baru.
JetBlue salah satu maskapai yang mencoba untuk memberi kemudahan dengan harga tiket yang tidak berbeda jauh bahkan setara dengan tiket pesawat sebelumnya yang tertinggal. Apalagi jika Anda sudah melakukan konfirmasi sebelum terlambat.
Sedangkan Southwest tidak mengenakan biaya perubahan, tetapi pelancong harus bisa mengikuti perbedaan tarif yang disediakan. Untuk Anda yang tertinggal pesawat, baiknya juga melihat papan jadwal penerbangan.
Anda bisa mencari perjalanan selanjutnya dengan maskapai yang sama untuk menghindari biaya tambahan. Kemudian bisa ke bagian check in atau agen penerbangan di bandara untuk membantu mempercepat prosesnya.
Keterlambatan memang menjadi hal yang paling dihindari pelancong. Sebab selain waktu, uang pun terkuras karena untuk membeli tiket pesawat tidaklah murah. Namun, bagaimana jika terlambat apakah uang Anda kembali? Ini sering menjadi pertanyaan para pelancong dan jawabannya adalah uang Anda tidak akan kembali.
“Ada yang disebut dengan aturan. Pada dasarnya aturan itu bisa digunakan untuk dikenakan biaya pada hari yang sama jika terkonfirmasi atau biaya standby, bukan biaya perubahan ongkos jika penumpang menyatakan keterlambatan mereka karena ban kempes, kecelakaan atau hal sejenis,” ujar Kincaid.
Baca juga: Bosan Menunggu, Pria Ini Buka Pintu Darurat dan Niat Lompat dari Sayap Pesawat
Hal tersebut sama seperti maskapai saat menghindari kompensasi penumpang untuk pembatalan terkait cuaca. Meskipun kebijakan ini jarang dipublikasikan di situs maskapai penerbangan, The Points Guy mencatat bahwa sebagian besar operator domestik di AS, termasuk American Airlines, Delta Air Lines dan United Airlines, akan mengakomodasi pelancong yang tiba dalam waktu dua jam setelah keberangkatan awal mereka, tanpa membayar biaya atau menelan tarif yang naik.
Sedangkan untuk barang bawaan yang sudah masuk dalam penerbangan dan Anda tertinggal saat transit. Pelancong bisa langsung menghubungi pihak maskapai agar barang bawaan Anda di simpan sampai Anda mengambilnya di bandara tersebut.
Penggunaan smartphone oleh penumpang sempat dilarang dalam penerbangan maskapai di Cina. Hal ini dikarenakan adanya keputusan Administrasi Sipil Cina atau Civil Administration of China (CAAC). Namun, baru-baru ini CAAC melonggarkan peraturan tersebut dan membuat beberapa maskapai besar di Negeri Tirai Bambu mulai mengizinkan penumpang kembali menggunakan smartphone mereka. Meski begitu, smartphone hanya boleh digunakan jika dalam kondisi mode pesawat.
Baca juga: Lempar Koin ke Mesin, China Southern Airlines Alami Delay 5 Jam
Beberapa maskapai besar yang sudah memperbolehkannya adalah China Eastern Airlines dan Hainan Airlines. Selain itu Air China baru memperbolehkan penumpangnya menyalakan smarphone mereka dalam pesawat pada hari Minggu kemarin.
KabarPenumpang.com melansir dari laman zdnet.com (21/1/2018), Air China sendiri menjadi maskapai terakhir diantara empat maskapai besar di Cina yang melonggarkan peraturan dalam penerbangannya. Diketahui, sampai minggu lalu, ponsel diharuskan untuk benar-benar dalam kondisi mati saat penerbangan di setiap maskapai Cina.
Kini setelah diperbolehkannya kembali atau adanya kelonggaran peraturan tersebut, maskapai-maskapai Cina yang sudah menawarkan layanan WiFi dalam penerbangan mereka kembali memanfaatkan pasar besar tersebut. Hingga kini tiga maskapai besar yakni China Southern Airlines, Cina Eastern Airlines dan Air China melaporkan adanya kenaikan penumpang di tahun 2017 lalu.
Hingga kini ada 112 pesawat Cina yang sudah dilengkapi dengan layanan WiFi dalam penerbangannya oleh Cina Telecom yang merupakan salah satu operator telekomunikasi utama di Negeri Tirai Bambu ini. China Southern Airlines menawarkan layanan WiFi untuk penumpang di 15 pesawat Airbus A330-300.
Layanan yang diberikan China Southern secara cuma-cuma alias gratis bagi penumpang di kelas satu dan bisnis. Sedangkan kelas ekonomi, untuk mendapatkan pelayanan gratis harus mengajukannya 24 jam sebelum keberangkatan.
Tak hanya itu, China Eastern Airlines juga sudah melengkapi 74 pesawatnya dengan layanan WiFi untuk semua rute internasional jarak jauh dan 166 rute domestik. Sedangkan Hainan Airlines memberikan layanan WiFi di 17 pesawat lainnya.
Baca juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base
Untuk Air China sendiri memilih solusi hiburan dan konektivitas inflight (IFEC) dari Panasonic Avionics untuk armada pesawat Airbus A350. Berdasarkan ketentuan perjanjian tersebut, Panasonic akan menyediakan hiburan eX3 untuk 10 pesawat Air China A350.
Meski begitu, sampai saat ini beberapa maskapai penerbangan Cina dikatakan mempertimbangkan untuk mengizinkan penggunaan ponsel pada penerbangan mereka.
Dalam laporan tahunannya, PT Angkasa Pura II menyebut bahwa Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) selama tahun 2017 telah melayani 63 juta pergerakan penumpang. Dan capaian tersebut adalah level tertinggi untuk bandara di Indonesia. Nah, sebagai perbandingan adalah Bandara Changi di Singapura yang dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia. Ada berapa juta penumpangkah yang dilayani Changi selama tahun 2017?
Baca juga: Sepanjang 2017, Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma Layani 70 Juta Penumpang
Bandara Changi baru saja mencatatkan ada 62,2 juta penumpang yang terbang selama 2017 lalu. Angka ini membuat kenaikan enam persen dari tahun lalu. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (23/1/2018), bahwa adanya peningkatan jumlah penumpang karena naiknya frekuensi penerbangan ke destinasi yang ada di Cina dan India. Dimana ada sepuluh jalur baru yang dibuat Singapura dan kota-kota di Cina dengan maskapai Heibei. Penerbangan ini sendiri pertama kalinya melayani Harbin, Shijiazhuang dan Yantai. Tak hanya itu ke India juga ada empat destinasi baru ke Delhi, Bangalore, Chennai dan Coimbatore dengan JetAirways dan IndiGo.
Saat ini untuk bandara tersibuk, Changi masih menepati urutan ke enam dalam lalu lintas internasional. Namun, direktur pengelola Changi Airport Group (CAG) Lim Ching Kiat mengtakan, ini bukan hanya permainan angka. “Bisnis bandara berarti ketika kita bertumbuh, bandara regional juga akan tumbuh, karena penerbangan harus dimulai dari salah satu bandara regional. Begitu Changi tumbuh, kita akan melihat bandara Kuala Lumpur, Bangkok, Jakarta dan Manila tumbuh dengan kecepatan yang sama. Secara keseluruhan itu bagus untuk daerah, dan itu bagus untuk Changi,” ujarnya.
Adanya perkembangan ini, International Air Transport Association kemudian memperkirakan kawasan Asia Pasifik akan bertumbuh dari 2,5 miliar menjadi 8,5 miliar penumpang dalam sepuluh tahun kedepan. Pada tahun 2036 mendatang, Cina, India dan Indonesia diperkirakan masuk dalam lima besar pasar perjalanan udara di dunia.
Untuk melayani pertumbuhan ini, CAG melakukan pengembangan proyek Changi East yang akan menjadi Terminal 5. Diharapkan nantinya dapat menambah kapasitas 50 juta penumpang pertahun pada tahap awal. Diketahui, pekerjaan pada sistem runway ketiganya akan di buka pada 2020 mendatang. Lim mengatakan, untuk penanganan kargo, Changi tumbuh sebesar 7,9 persen dan melebihi angka 2,13 juta ton pada tahun sebelumnya.
Bandara Changi telah mengembangkan kemampuan penanganan kargo dengan fokus pada kapasitasnya agar aman dan cepat dalam menangani obat-obatan, produk yang mudah rusak dan surat eCommerce. Kenaikan jumlah penumpang juga dikarenakan bandara Changi memberikan akses sambungan untuk moda darat dan lautnya.
Tahun 2017 kemarin, penumpang dari bandara Changi bisa terhubung dengan pelabuhan ferry Tahan Merah dengan menyediakan bus antar jemput dengan biaya rendah. Selain itu, Lim menambahkan, pihak bandara akan melakukan kolaborasi dengan perusahaan pelayaran untuk mendatangkan lebih dari 600 ribu pengunjung dalam empat tahun.
Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Hadirkan Kemewahan dan Teknologi Tinggi
Tak hanya di sekitaran Asia, Lim mengatakan, banyaknya destinasi di Eropa juga akan membuka peluang dimana tahun lalu, Norwegian Airlines mulai mengoperasikan penerbangan biaya rendahnya ke bandara Gatwick London. Selain itu Scoot juga memulai penerbangannya langsung ke Athena. Adapun untuk memperkuat koneksi Singapura ke Eropa Timur, penerbangan ke Munich, Berlin dan Warsawa juga dibuka.
Dikenal sebagai produsen perlengkapan olahraga kondang asal Negeri Bavaria, Adidas baru saja membuat ratusan pecinta sepatu berlogo tiga garis tersebut rela berkemah di depan salah satu toko resminya di Berlin pada Selasa (16/1/2018) kemarin.
Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh
Bukan dalam rangka diskon besar-besaran atau bagi-bagi sepatu gratis, melainkan ratusan pecinta sneakers ini rela mengantre demi mendapatkan tiket perjalanan gratis dengan menggunakan kendaraan umum selama setahun penuh! Lho, kok bisa?
Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Adidas baru saja merilis sneakers teranyarnya yang diberi nama EQT 93/Berlin. Lalu, apa kelebihan dari sepatu yang dibanderol dengan harga 180 Euro atau yang setara dengan Rp2,9 juta ini?
Antrian Warga Berlin di Depan Store Adidas. Sumber: istimewa
Ternyata, Adidas telah terlebih dahulu bekerja sama dengan otoritas transportasi Berlin, Berliner Verkehrsbetriebe Gesellschaft (BVG) yang menyematkan kode tiket terusan untuk sarana transportasi umum di kota Berlin pada bagian lidah sepatunya.
Dengan menggunakan Adidas EQT 93/Berlin, para penggunanya mendapatkan akses menggunakan hampir semua sarana transportasi di salah satu kota terbesar di Jerman (Zona A dan B) tersebut secara gratis hingga 31 Desember 2018. Wow!
Jika dihitung-hitung, total ongkos transportasi umum yang mesti dikeluarkan dalam setahun mencapai 761 Euro atau yang setara dengan Rp12,4 juta. Wajar saja jika Berliners rela menginap bahkan tiga hari sebelum sepatu dengan warna dasar putih ini dirilis. Salah satu alasan yang mendasari para Berliners ini rela menginap di depan store adalah karena keterbatasan jumlah sepatu yang dijual, yaitu hanya 500 pasang saja. Mereka pun hanya diperbolehkan untuk mengantongi satu pasang sepatu saja per orang.
Baca Juga: Mengenal Chip Memori di Dalam Tiket Elektronik
Dikutip dari laman The Local, hingga Selasa (16/1/2018) tercatat sebanyak 550 orang sudah mengular dengan rapinya hanya untuk membawa pulang sepasang sepatu spesial ini. Selain kode tiket terusan yang berada di bagian lidahnya, sepatu yang merupakan pengembangan dari seri EQT Support 93/17 ini memiliki motif heelcup yang menyerupai jok angkutan massal di Berlin, yaitu kombinasi warna merah, abu-abu, biru, dan hitam.
Kalau hal serupa terjadi di Jakarta, relakah Anda mengantre seperti yang dilakukan oleh warga Berlin?
PT Angkasa Pura I membuka rangkaian kegiatan survei kepuasan pelanggan jasa bandara pada tahun 2018 yang akan dilakukan di 13 bandara Angkasa Pura I, bekerja sama dengan The Indonesian National Air Carriers Association (INACA). Survei ini merupakan upaya Angkasa Pura I dalam mengutamakan kepuasan pelanggan melalui peningkatan pelayanan.
Baca juga: Peragaan Busana Batik dan Kebaya Ramaikan Ruang Tunggu Bandara Ahmad Yani
Pembukaan rangkaian kegiatan survei kepuasan pelanggan ini dilakukan di Bandara Ahmad Yani Semarang pada Selasa (23/1) yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanuddin. Rangkaian kegiatan survei yang bertujuan untuk mengukur indeks kepuasan pelanggan atau customer satisfaction index (CSI) di bandara-bandara Angkasa Pura I ini berlangsung sejak Januari hingga April 2018.
“Sebagai perusahaan yang memberikan pelayanan publik, kepuasan pelanggan merupakan faktor paling penting sekaligus tujuan utama dari seluruh kegiatan perusahaan. Pengukuran indeks kepuasan pelanggan atau customer satisfaction index di 13 bandara Angkasa Pura I bertujuan untuk mendorong peningkatan pelayanan terhadap pengguna jasa bandara melalui berbagai inovasi layanan,” kata Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Israwadi.
Alat survei di toilet bandara (Angkasa Pura I)
Sementara itu, Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanuddin mengatakan, “Survei ini merupakan upaya berkelanjutan untuk melakukan perbaikan layanan dengan mendengar suara pengguna jasa bandara. Jadi hal ini merupakan suatu hal yang baik sekali. Survei kepuasan pelanggan yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir berdampak pada adanya peningkatan pelayanan yang ditindaklanjuti oleh Angkasa Pura I”.
Contohnya adalah, lanjut Tengku Burhanuddin, pembangunan terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang yang dilakukan untuk mengakomodir saran-saran yang didapat dari survei sebelumnya. “Diharapkan dengan adanya terminal baru nanti, pelayanan menjadi lebih baik lagi dan menjawab kebutuhan para pelanggan jasa Bandara Ahmad Yani Semarang dan dapat meningkatkan citra Provinsi Jawa Tengah,” kata Tengku Burhanuddin.
Terkait inovasi yang tengah dan sudah dilakukan Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandara Ahmad Yani Semarang, General Manager Bandara Ahmad Yani Semarang Maryanto mengatakan bahwa selain pembangunan terminal baru yang masih berlangsung, juga telah dilakukan berbagai inovasi pelayanan baik di sisi udara maupun sisi darat.
“Tahun lalu Bandara Ahmad Yani hanya mencapai nilai CSI sebesar 4,17, masih di bawah target yang ditetapkan sebelumnya yaitu 4,18. Namun kami telah melakukan beberapa pembenahan yaitu penambahan 2 pintu gerbang tol untuk akses keluar menjadi total 4 pintu, penambahan luasan parkir, penambahan petugas di area pick-up zone dan drop zone, pelaksanaan overlay runway, peningkatan kecepatan wifi terminal bandara menjadi 20 Mbps, thematic event, game, live music, photo booth, reading room, pembagian souvenir pada momen tertentu, dan pemasangan PC tablet di toilet bagi pelanggan untuk melakukan penilaian terhadap kenyamanan toilet. Kami berharap dengan berbagai pembenahan dan inovasi layanan yang sudah dilakukan, hasil survei kepuasan pelanggan dapat memuaskan,” terang Maryanto.
Pada 2018 ini, survei dilakukan mulai dari 23 Januari hingga 8 April 2018 di 13 bandara, yaitu Bandara Adisutjipto Yogyakarta dan Bandara Ahmad Yani Semarang pada 23-25 Januari 2018, Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Sam Ratulangi Manado pada 6-8 Februari 2018, Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin pada 23-25 Februari 2018, Bandara El Tari Kupang pada 14-16 Maret 2018, Bandara Adi Soemarmo Solo pada 16-18 Maret 2018, Bandara Lombok Praya pada 21-23 Maret 2018, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada 23-25 Maret 2018, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan Bandara Pattimura Ambon pada 28-30 Maret 2018, dan Bandara Frans Kaisiepo Biak pada 6-8 April 2018.
Pengkuran CSI dilakukan setiap tahun oleh tim independen dari INACA dengan menggunakan metode survei kuesioner dan wawancara terhadap penumpang, air crew, station manager, konsesioner, dan perusahaan kargo di bandara. Selain menggunakan metode survei dan wawancara, metode lain yang digunakan yaitu observasi dan focus group discussion (FGD). Observasi dilakukan terhadap terminal penumpang, apron, landasan, dan terminal kargo. Sementara FGD dilakukan bersama station manager atau ground handling, konsesioner, dan perwakilan perusahaan kargo.
Sebagai informasi, aspek yang diukur pada survei CSI untuk penumpang yaitu akses dari dan menuju bandara, pelayanan informasi bandara, pemeriksaan keamanan, pelayanan check-in, pelayanan imigrasi dan bea cukai, fasilitas berbelanja, fasilitas terminal, lingkungan, dan area kedatangan. Sementara aspek yang diukur dari air crew, station manager, konsesioner, kargo yaitu segala aspek yang terkait pelayanan, fasilitas, dan petugas di lapangan.
CSI Angkasa Pura I Tahun 2017 Raih Hasil Memuaskan
Pada 2017, Angkasa Pura I meraih tingkat kepuasan pelanggan (CSI) yang memuaskan dengan nilai rata-rata 4,25 (sangat puas) dari skala 5. Nilai rata-rata ini naik 0,27 poin dari nilai 3,98 (puas) pada 2016. Pada 2017, bandara dengan nilai CSI tertinggi yaitu Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan dengan nilai 4,7. Sementara nilai CSI terendah didapat oleh Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan nilai 3,89.
Baca juga: Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia
“Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan merupakan salah satu bandara Angkasa Pura I dengan inovasi layanan terbaik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penghargaan, baik tingkat internasional maupun nasional, yang pernah diraih Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Contohnya yaitu meraih peringkat pertama di kategori bandara dengan 5-15 juta penumpang pada penilaian ASQ Triwulan 2 2017 oleh Airport Council International. Selain itu Bandara SAMS Sepinggan juga meraih Penghargaan Pelayanan Prima Utama dari Kementerian Perhubungan sejak 2014 hingga 2016. Berbagai Inovasi layanan yang mengantar Bandara SAMS Sepinggan meraih penghargaan yaitu airport cinema, layanan bagi penumpang berkebutuhan khusus atau difabel, teknologi baggage handling system (BHS), reading corner, kid zone, dan lainnya,” ujar Israwadi.
Sementara itu, lanjut Israwadi, Bandara Adisutjipto Yogyakarta mendapat nilai CSI terendah disebabkan oleh kondisi lack of capacity di mana bandara yang idealnya melayani 1,7 juta penumpang per tahun dipaksa harus melayani 7,8 juta penumpang per tahun. “Di tengah kondisi seperti ini, merupakan tantangan besar bagi Bandara Adisutjipto untuk memberikan pelayanan yang sangat baik karena keterbatasan yang ada. Walaupun begitu kami tetap melakukan inovasi pelayanan di Bandara Adisutjipto agar penumpang tetap merasa nyaman, sambil menunggu selesainya pembangunan Bandara Internasional Baru Yogyakarta di Kulonprogo resmi beroperasi,” kata Israwadi.
Israwadi mengharapkan survei ini dapat menjadi tolak ukur untuk menaikkan tingkat layanan dan menginisiasi berbagai inovasi layanan baru ke depannya demi kepuasan para pengguna jasa bandara.
Sejak beroperasinya kereta bandara Soekarno-Hatta pada 26 Desember 2017 hingga Januari 2018 ini, PT Railink mengklaim setiap harinya ada 1.600-1.700 orang yang menggunakan jasa kereta . Jika ditotal dari Desember hingga saat ini mencapai 75 ribu penumpang yang sudah diangkut KA Basoetta.
Baca juga:PT Railink Patok Dua Skema Tarif Untuk Kereta Bandara Soekarno-Hatta
Padahal dari kabar yang tersiar, KA bandara ini justru sepi dari penumpang bahkan hanya ada satu atau dua penumpang saja. Namun, Humas PT Railink Diah Suryandari menampik kabar yang mengatakan KA bandara sepi peminat. Diah mengatakan, sepinya peminat KA bandara bisa saja terjadi tetapi hanya di jam-jam tertentu. Seperti halnya saat perjalanan pertama atau perjalanan terakhir di malam hari.
“Mungkin yang dimaksud sepi itu di jam-jam yang tidak favorit seperti subuh atau malam hari,” ujar Diah yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.
Sampai saat ini pihak Railink masih melihat perkembangan dari penumpang KA bandara dan belum bisa jelas dikarenakan belum sebulan beroperasi. Selain itu penumpang dari stasiun Manggarai juga belum bisa terangkut dikarenakan masih dalam tahap pembangunan.
Tak hanya itu, KA bandara sendiri dioperasikan untuk memudahkan akomodasi pebisnis yang hendak bepergian. Tetapi perjalanan bisnis tersebut dari Januari hingga Februari belum bisa diprediksi ramai atau tidaknya. “Kita akan lihat ke depan, akan lebih ramai atau tidak,” lanjutnya.
Diketahui, dari 272 kursi dalam satu rangkaian setiap perjalanan terisi 15-20 persennya. Dinilai stabil, dalam tiga minggu terakhir, membuat PT Railink memberlakukan tarif baru yakni Rp35 ribu untuk sekali jalan dari stasiun Batu Ceper menuju stasiun bandara atau sebaliknya dan tarif flat Rp70 ribu dari stasiun Sudirman Baru (BNI City) menuju bandara atau sebaliknya.
Baca juga: Begini Cara Beli Tiket Kereta Bandara Soekarno-Hatta
Dengan adanya kestabilan ini pula, pihak Railink menambah perjalanan yang sebelumnya 42 menjadi 50 perjalanan setiap harinya. PT Railink juga mengubah jadwal keberangkatan dari stasiun Sudirman Baru menjadi pukul 06.51, 11.51, 14.51, 17.51, 20.51, dan 23.06 WIB. Dari Soekarno-Hatta, pemberangkatan pukul 06.10, 13.10, 16.10, 19.10, dan 22.10 WIB.