Sebagai salah satu pionir penyedia jasa layanan transportasi berbasis aplikasi, nama Gojek di Indonesia tentu sudah santer terdengar. Dari mulai pemberitaan soal penolakan yang terjadi di sejumlah wilayah, hingga yang paling baru adalah mendapat suntikan dana segar dari perusahaan mesin pencari nomor wahid sejagad, Google. Tak ayal, pendanaan berjumlah triliunan rupiah tersebut akan dipergunakan sebaik-baiknya untuk mengembangkan bisnis yang dikembangkan oleh Nadiem Makarim ini.
Baca Juga: Ini Dia Alasan Ojek Online Belum “Naik Kelas”
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, tidak tanggung-tanggung, Google menggelontorkan dana senilai US$1,2 miliar atau setara dengan Rp16 triliun kurs sekarang. Dengan begitu, Google berhasil mengalahkan nilai investasi yang sebelumnya ditanamkan oleh Tencent Holdings Ltd., perusahaan konglomerat asal Negeri Tirai Bambu, senilai US$150 juta atau yang setara dengan Rp2 triliun berdasarkan kurs saat ini.chi
Dengan pendanaan fantastis dari Google, Gojek seolah memiliki amunisi baru untuk kembali bersaing di dalam industri penyedia jasa layanan transportasi berbasis aplikasi, menghadapi dua seteru abadinya, Grab dan Uber. Pasalnya, Indonesia merupakan negara di kawasan Asia Tenggara dengan penduduk terbanyak, sehingga Google menilai bahwa Tanah Air ke depannya akan menjadi pasar yang sangat potensial untuk kelas bisnis seperti yang dijalankan oleh Gojek.
Tidak hanya Google, investor asal Singapura, Temasek Holdings, KKR & Co, Warburg Pincus LLC dan platform online asal Cina Meituan-Dianping pun akan berpartisipasi dalam suntikan dana tersebut. Kabarnya rencana pendanaan ini sudah dibuka sejak tahun lalu dan rencananya akan rampung dalam beberapa pekan mendatang.
“Investasi Google akan membuka ruang bisnis baru bagi Gojek,” ujar salah seorang sumber, dikutip dari laman cnnindonesia.com (18/1/2018). Namun, masing-masing perusahaan tersebut belum mau membuka kartu as mengenai jumlah investasiyang mereka tanamkan.
Baca Juga: Soal Keputusan MA, Menhub Perjuangkan Nasib Taksi Online dalam 3 Bulan
Pada 17 Agusus 2017 kemarin, Gojek juga sempat mendapatkan kucuran dana investasi senilai Rp1,32 triliun dari platform e-commerce terkemuka asal Cina yang sekaligus rival terbesar Alibaba, JD.com. Walaupun di awal kemunculannya hingga kini Gojek masih menuai kontroversi di sejumlah daerah di Tanah Air, namun perusahaan yang mengawali karirnya sebagai penyedia ojek daring ini tetap melangkah maju hingga kini, Gojek sudah sukses melebarkan sayap dengan menyediakan jasa lainnya seperti GoCar, GoSend, GoFood, hingga GoClean.
Melengkapi layanan self check in kiosk yang sudah lebih dulu hadir pada 10 November 2017, kini di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta ditambahkan fasilitas pendukung yang disebut self baggage scale.
Baca juga: ‘Self Check In Kiosk’ Kini Hadir di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta
Saat ini di Bandara Soekarno-Hatta tengah dilakukan uji coba baggage scale atau timbangan bagasi untuk layanan self check in kiosk. “Alat itu dikombinasikan dengan layanan self baggage drop di curbside atau di selasar Terminal 1C. Sehingga nantinya bagi penumpang yang membawa bagasi, tidak perlu lagi repot untuk antre panjang di counter check in, selain itu dalam waktu dekat ini perangkat baggage scale juga akan diadakan di Terminal 2” ujar Haerul Anwar, manajer Humas PT Angkasa Pura II yang dikutip KabarPenumpang.com melalui siaran pers, Kamis (18/1/2018).
Diketahui penggunaan self baggage ini sudah bisa digunakan untuk penumpang maskapai Citilink dan Batik Air di Terminal 1C. Ternyata tak hanya melakukan uji coba pada self baggage drop di curbside Terminal 1C, di Terminal 3 juga AP II menghadirkan vending machine yang bisa memudahkan penumpng melakukan transaksi. Sehingga penumpang bisa memanfaatkan berbagai macam fasilitas dan teknologi baru yang disediakan oleh AP II.
“Jadi jangan khawatir, jika penumpang lupa membayar tagihan listrik dan pengisian pulsa, saat ini telah tersedia empat vending machine di Terminal 3 kedatangan serta di tempat pengambilan bagasi,” terang Haerul.
Untuk terus konsisten merealisasikan bandara yang memberikan pengalaman perjalanan dengan teknologi digital, AP II juga telah menancapkan walking distance digital Information.
“Upaya ini untuk lebih memudahkan pengguna jasa dalam beraktivitas dan berbisnis. Kami senang pengguna jasa dapat memanfaatkan teknologi dengan tepat yang akan mendapatkan manfaat kebaikan dari penggunaan teknologi,” tuturnya.
Sesuai dengan program utama korporasi, untuk menciptakan sebuah Airport digital journey experience, AP II secara berkelanjutan mensosialiasikan ditetapkannya bahwa e-boarding pass sudah berlaku dan tidak boleh lagi ada penolakan dari petugas Aviation Security (Avsec), tanpa harus dicetak.
Baca juga: Sepanjang 2017, Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma Layani 70 Juta Penumpang
“Tentunya, dengan adanya e-boarding pass, para pengguna jasa semakin dimudahkan. Pasalnya, penumpang cukup menunjukkan e-boarding pass yang terpampang pada layar smartphone mereka, kepada petugas boarding atau kepada petugas Avsec” tutupnya.
Kejadian yang tak diinginkan menimpa seorang mahasiswi Texas Tech ketika memberikan salam hormat kepada Red Raider saat berada di bandara. Salam itu merupakan simbol Guns Up atau tangan di bentuk seperti pistol dan diangkat ke atas. Simbol ini biasa digunakan oleh mahasiswa Texas Tech dan para alumninya. Karena simbol ini, Diana Durkin di datangi oleh pihak Transportation Security Administration (TSA) bandara.
Baca juga:Waspada! Oknum Tidak Dikenal Lemparkan Penipuan Berhadiah Tiket Pesawat via WhatsappKabarPenumpang.com melansir dari laman khou.com (12/1/2018), pada tanggal 6 Januari 2018, Durkin sedang berada di jalur TSA bandara Hobby dan melihat seorang rekan Red Raider. Karena dia menggunakan kaus Texas Tech, kemudian Durkin dengan refleks mengangkat tangan dan membuat simbol tersebut, tapi ternyata hal tersebut tak disukai oleh pihak TSA.
“Saya melihat ada yang menggunakan kaus Texas Tech dan saya pikir, oh ya ampun! Saya juga dari Texas Tech. Saya mengangkat tangan dan saya melakukan simbol Guns Up tersebut dan saya senang. Tapi seorang petugas TSA menepuk bahuku dan mengatakan saat diriku mengangkat tangan dengan simbol tersebut karena itu sebuah sinyal senjata,” ujar Durkin.
Diana Durkin (nydailynews.com)
Akibat hal tersebut, Durkin diamankan dan dimintai keterangan oleh pihak TSA kemudian dilepaskan setelah diperingatkan. Setelah itu, kemudian Durkin berkicau di akun Twitternya tentang peringatan yang didapatnya di bandara.
“Di jalur keamanan bandara dan saya melihat seseorang mengenakan hoodie Texas Tech dan saya melihat mereka dan melakukan senapan tangan. TSA sekarang menarik saya ke samping untuk berbicara dengan saya: ((diana (@dianadurkin) 6 Januari 2018,” kicau Durkin.
Dari kicauannya di Twitter tersebut, saat tiba di Lubbock, Tweetnya sudah di like oleh lima ribu orang.
“Saya seperti, Oh, ini pasti salah seperti Twitter yang glitching,” kata Durkin.
Baca juga: Tangkal Masuknya Penumpang Mabuk, Inggris Perketat Peredaran Alkohol di Bandara
Kini, tweet tersebut sudah disukai sebanyak 40 ribu orang dan telah di bagikan ribuan kali. Durkin mengaku, dirinya tidak pernah berharap mendapat perhatian sebanyak itu. “Aku merasa seperti selebriti. Saya pergi ke kampus dan banyak orang yang meminta foto bersama saya,” ujarnya.
PT Angkasa Pura II menyampaikan pada para penumpang maskapai AirAsia untuk memperhatikan gate dan terminal keberangkatan mereka. Sebab pertanggal 22 Januari 2018 pukul 03.00 WIB, rute penerbangan internasional AirAsia berpindah dari Terminal 2E ke Terminal 3 bandara Soetta.
Baca juga: Canangkan Pembayaran Non Tunai, AirAsia Luncurkan Dompet Elektronik “BigPay”
Namun, untuk penerbangan rute domestik AirAsia tidak berpidah dan tetap beroperasi di Terminal 2F. Dari perpindahan yang dilakukan ini, semua jadwal penerbangan AirAsia baik domestik maupun internasioanl tidak ada perubahan.
“AirAsia tengah mempersiapkan perpindahan penerbangan internasional ke Terminal 3. Kami akan mendukung secara penuh proses perpindahan AirAsia ke Terminal 3” ujar Branch Communication Manager Soekarno-Hatta International Airport Haerul Anwar yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (18/1/2018).
AP II berharap para pengguna jasa dapat menikmati adanya peningkatan fasilitas yang diberikan di Terminal 3 Internasional. “Para penumpang kami harapkan untuk memperhatikan gate dan signage yang ada. Karena perpindahan tersebut hanya Internasional saja, sedangkan untuk route domestik tetap di Terminal 2F, sebagai informasi tambahan konter check in dan penyerahan bagasi AirAsia terletak pada konter D 13-18 di area keberangkatan Terminal 3,” jelas Haerul.
Selain itu pihak AirAsia juga berharap agar penumpang yang berangkat melalui Terminal 3 untuk tiba tiga jam sebelumnya dan melalukan proses check in melalui airasia.com atau aplikasi mobile dan mencetak boarding pass sebelum keberangkatan.
Sebelumnya, Garuda Indonesia, Saudi Arabian Airlines, Vietnam Airlines, Korean Airlines, Xiamen Airlines, China Airlines dan China Southern telah lebih dahulu beroperasi di Terminal 3. Pergerakan penumpang internasional di Bandara Soetta sepanjang 2017 diketahui tembus mencapai 14,718,973 penumpang. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 12 persen jika banding dengan tahun 2016.
Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears
“Sesuai dengan program utama korporasi, untuk menciptakan sebuah Airport digital journey experience, PT Angkasa Pura II secara terus menerus mensosialiasikan diterapkannya e-boarding, tentunya, dengan adanya e-boarding pass, para penumpang semakin dimanjakan karena cukup menunjukkan e-boarding pass yang terpampang pada layar smartphone kepada petugas boarding atau kepada petugas Avsec,” kata Haerul.
Mungkin teknologi face recognition atau yang akrab disebut pemindai wajah ini masih terdengar asing di Indonesia, namun sudah berkembang pesat di negara-negara lain. Ambil contoh beberapa bandara di luar negeri yang sudah menggunakan teknologi pemindai wajah untuk mempercepat proses imigrasi. Tentu teknologi mutakhir semacam ini sudah terbukti dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupannya secara lebih efisien.
Baca Juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di Bandara
Memang, jika dikembangkan secara bijak, teknologi modern seperti pemindai wajah ini dapat diselipkan pada kehidupan sehari-hari yang dapat menunjang kehidupan para aktor yang bergelut di dalamnya. Seperti yang dilakukan oleh Cina, dimana otoritas Negeri Tirai Bambu memberlakukan teknologi pemindai wajah ini di hampir semua sektor kehidupan masyarakatnya.
Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman chicagotribune.com (7/1/2018), seorang bernama Mao Ya menjadi satu dari sekian banyak warga Cina yang merasakan efisiensi penggunaan teknologi pemindai wajah dalam kesehariannya. “Jika saya membawa kantung belanja di kedua tangan, saya tidak perlu lagi repot-repot mencari kunci untuk masuk ke dalam apartemen. Cukup menegakkan kepala di depan pintu, dan pintu apartemen akan terbuka,” tuturnya.
“Teknologi ini juga dapat memudahkan anak perempuan saya yang berumur lima tahun untuk masuk ke dalam apartemen, karena sebelumnya ia sering sekali kehilangan kunci,” imbuh wanita berumur 40 tahun tersebut. Teknologi pemindai wajah menjadi topik perbincangan panas di ranah teknologi baru di China. Sebut saja bank, bandara, hotel dan bahkan toilet umum, semuanya mencoba untuk memverifikasi identitas setiap orang dengan menganalisis wajah mereka. Tapi diantara semuanya, otoritas keamanan negara Cina menjadi yang paling antusias untuk merangkul teknologi baru ini.
Pihak kepolisian Cina mengutarakan bahwa penggabungan teknologi pemindai wajah dan kecerdasan buatan dapat memudahkan tugas mereka dalam mencari pelaku tindak kriminal, memprediksi tindak kejahatan yang mungkin akan terjadi, mengkoordinir pekerjaan pelayanan darurat, menganalisis, hingga mengawasi perilaku orang-orang yang melakukan gerak-gerik mencurigakan.
Andai terrealisasi, hampir dapat dipastikan tingkat kriminalitas di salah satu negara yang menyumbang jumlah penduduk terbesar di dunia ini akan berangsur menurun. Pemerintah juga berharap pada tahun 2020 mendatang, Cina akan mulai menggunakan jaringan pengawasan video, dimana sistem “Eye of God” ini melakukan pemantauan di setiap titik, saling terintegrasi, dan bekerja 24/7.
Baca Juga: Tak Hanya di Imigrasi Bandara, Restoran Cepat Saji Mulai Adopsi Pemindai Wajah Untuk Pemesanan
Jika di teknologi pemindai wajah di Cina sudah menyebar di keseharian warganya, maka berbeda dengan yang terjadi di Amerika, dimana teknologi serupa secara khusus ‘dipekerjakan’ oleh petugas kepolisian dalam melakukan tugasnya. Ambil contoh kasus yang ditangani oleh kepolisian Chicago, dimana mereka berhasil mengidentifikasi dan pihak pengadilan menjatuhkan hukuman kepada seorang pencuri berkat campur tangan teknologi pemindai wajah pada tahun 2014 silam.
Walaupun sempat menuai pro dan kontra hingga isu penyalahgunaan Hak Asasi Manusia di awal kemunculannya, namun teknologi pemindai wajah tidak akan hilang, dan ini menjanjikan untuk menjadi alat ampuh untuk mempertahankan kontrol masyarakat Tionghoa yang terkenal bejibun ini.
Siapa yang tak kenal dengan Jatinegara? Wilayah yang terletak di Jakarta Timur ini hampir setiap hari ramai dengan masyarakat baik yang ingin belanja ke pasar maupun hanya sekedar lewat atau menuju stasiun. Tapi, tahukah Anda stasiun Jatinegara dulu juga pernah seramai jalanan dan pasar Jatinegara?
Baca juga: Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta
Ya, karena dulu semua penumpang yang akan bepergian memulai tujunnya dari stasiun Jatinegara ke berbagai tempat. Baik tujuan Jabodetabek ataupun kereta jarak jauh di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur.
Sebab stasiun ini adalah tempat bertemunya tiga jalur kereta yakni Pasar Senen, Manggarai dan Bekasi serta dilewati ratusan kereta api setiap harinya. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa stasiun Jatinegara merupakan stasiun kereta api kelas satu.
Stasiun tersebut berada di antara Jatinegara dan Matraman tepatnya di Kelurahan Pisangan Baru, Matraman, jakarta Timur. Terletak di ketinggian +16 meter diatas permukaan laut, stasiun Jatinegara masuk dalam Daerah Operasional I Jakarta.
Stasiun Jatinegara awalnya bernama Staats Spoorwegen (SS) kemudian menjadi Meester Cornelis, diambil dari panggilan murid kepada seorang guru yang mengajar, mendirikan sekolah dan berkotbah di kawasan tersebut yakni Cornelis Senen. Kemudian pada masa penjajahan Jepang yang tidak suka adanya istilah Belanda.
Nama tersebut diganti menjadi Jatinegara dengan arti Negara Sakti sebutan dari Pangeran Jayakarta yang dulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum. Stasiun ini dibangun sejak tahun 1910 dan diperkirakan dirancang oleh seorang arsitek bernama Ir S Snuyff dan telah mengalami renovasi namun tidak menghilangkan bentuk asli dari bangunan stasiun itu sendiri.
Sayangnya stasiun Jatinegara sudah berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat ini tidak lagi menaikkan penumpang keluar Jabodetabek dan hanya bisa menurunkan penumpang saja. Karena hal tersebut, maka stasiun Jatinegara menjadi lebih sepi.
Stasiun Jatinegara tempoe doeloe
Namun, stasiun ini menjadi gerbang kedatangan berbagai penumpang kereta dari arah timur Jawa yakni Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah hingga kereta dari Jawa Barat. Tak hanya itu, stasiun Jatinegara sendiri menjadi stasiun favorit bagi penumpang yang akan mengunjungi kota jakarta bagian Timur dan Selatan atau bisa dikatakan lebih dekat dibanding turun di stasiun Gambir atau Senen.
Mirisnya, meski menjadi stasiun favorit penumpang turun karena letaknya yang strategis, jalanan depan stasiun Jatinegara ini bisa dikatakan tidak layak. Sebab banyak angkutan umum yang ngetem, bahkan bila malam hari, pedagang ramai berjualan di depan stasiun ini sehingga membuat jalanan sulit untuk dilewati kendaraan.
Memang meski sepi penumpang ke luar kota, tetapi penumpang KRL masih tetap meramaikan stasiun ini. Sebab penumpang KRL tujuan Jabodetabek masih bisa naik dan turun dari stasiun ini.
Baca juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa
Diketahui, KRL sendiri sudah ada di Jakarta sejak tahun 1925 dan saat itu pengelolaannya dipegang oleh Belanda. Bukan hanya di wilayah Jakarta, namun di seluruh Jawa di kuasai oleh Belanda. Namun sejak kemerdekaan RI, kereta api telah diambil alih oleh pemerintah sejak tanggal 28 September. Sehingga pada tanggal tersebut diperingati Hari Kereta Api Indonesia.
Meninggalkan seorang bayi atau anak kecil di dalam mobil sendirian dengan keadaan terkunci merupakan sebuah kesalahan besar. Di Amerika Serikat, seorang anak tercatat tewas sepuluh hari sekali yang diakibatkan sengatan panas kendaraan. Biasanya dikarenakan pengasuh atau orang tua lupa bahwa anak tersebut tertinggal di kursi belakang saat turun dari mobil.
Baca juga: Stiker “Baby on Board” Ternyata Bisa Picu Kecelakaan Lalu LintasKabarPenumpang.com melansir dari laman businesswire.com (9/1/2018), Guardian Optical Techonologies mencari solusi tersebut dengan teknologi patent pending yang canggih untuk mengingatkan penumpang tersebut sadar akan apa yang ada di kendaraan supaya lebih aman dan tidak lagi terjadi hal fatal. Dengan menggunakan sensor ini bisa memantau seluruh isi mobil.
Sistem otomatis Guardian juga bisa mendeteksi detak jantung hingga gerakan sekecil apapun. Sistem ini dibuat untuk bekerja dengan berbagai macam perangkat baik perangkat keras maupun lunak pada otomotif. Salah satunya adalah sistem keamanan bawaan seperti sabuk pengaman dan airbag.
Adaya teknologi ini juga mampu membuat pengemudi sadar akan kondisi yang terjadi di mobil mereka dan bisa menghindari kesalahan manusia yang berbahaya. Sebab teknologi Guardian yang diadopsi ini belum bisa ditandingi teknologi manapun serta mampu menyelamatkan sekitar 37 kehidupan anak setiap tahunnya.
“Guardian didedikasikan untuk melindungi pegemudi dan penumpang, jadi kejadian dimana bayi dan anak-anak dibiarkan dalam mobil panas adalah area yang sangat sensitif bagi kita, dan kita berkomitmen untuk menghindari. Tragedi seperti ini dapat dicegah, dan kami menawarkan teknologi terobosan yang bisa membantu mereka. Misalnya, jika bayi dibiarkan sendirian di dalam mobil yang panas, sistem Guardian berpotensi memicu serangkaian alarm langsung, yang menyebabkan penyejuk udara dihidupkan, dan seruan untuk bantuan datang dari keluar,” kata pendiri dan CEO Gil Dotan.
Guardian menggabungkan pengenalan gambar video 2D, pemetaan kedalaman 3D dan analisis gerak optik mikro untuk selalu memindai, melacak penghuni serta benda di mana saja di dalam kendaraan, menggunakan komponen otomotif kelas rendah, sebuah industri yang pertama. Sensor tersebut mengidentifikasi lokasi dan dimensi fisik semua orang di dalam mobil, membedakan orang dari objek dengan mendeteksi getaran mikro, sistem dapat mendaftar dalam beberapa kasus, kehadiran bahkan tanpa penglihatan langsung.
Baca juga: Coba Peruntungan, Sony Ciptakan Mobil Otonom Futuristik!
Teknologi Guardian menggunakan pembelajaran mesin bersama dengan pengaturan optiknya yang unik. Bersifat real time, didukung big data yang komprehensif dari analisis gerak dan masukan 3D serta digabungkan dengan analisis citra umpan video sensor, maka outputnya dapat memberikan analisis lengkap tentang kendaraan pengemudi dan penumpang.
Travis Kalanick, salah satu pendiri dan mantan CEO Uber meminta maaf pada pegemudi Uber Fawzi Kamel beberapa jam setelah video dirinya yang berargumen menjadi viral. Karena hal ini, Kalanick kemudian bersama beberapa eksekutif Uber lainnya memikirkan gagasan untuk meminta maaf serta membeli mobil pengemudi tersebut untuk menyelesaikan masalah.
Baca juga: Travis Kalanick dan Garrett Camp, Dua Inovator Dibalik Nama Besar Uber
Dalam video yang viral pada Februari 2017 lalu, Kamel mengeluh bahwa dirinya membeli mobil khusus untuk dikendarai Uber, tapi perusahaan tersebut menurunkan harga sehingga membuat dirinya sulit mencari penghasilan. Kalanick mengklaim Uber tidak menurunkan tarif pada layanannya.
“Anda tahu apa? beberapa orang tidak suka bertanggung jawab atas omong kosong mereka sendiri. Mereka menyalahkan segalanya dalam hidup mereka pada orang lain,” ujar Kalanick yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman recode.net (16/1/2018).
Setelah beberapa jam video tersebut muncul, Kalanick meminta maaaf kepada pengemudi tersebut dan kurang dari 48 jam kemudian dirinya kembali bertemu lagi dengan Kamel. Sebelum benar-benar menyelesaikan masalahnya, Kalanick bertemu dengan para petinggi Uber lain untuk mendiskusikan membeli dua mobil Kamel untuk memperbaiki masalah yang diucapkan dalam video tersebut.
Di sebuah apartemen mewah di San Francisco, Kalanick menghabiskan waktu selama satu jam dengan Kamel dan mengungkapkan penyesalan dan perilakunya saat itu serta banyak masalah yang mereka diskusikan dalam video tersebut.
“Travis bertemu dengan Kamel dan melakukan diskusi di mobil Kamel, di mana dia meminta maaf atas perilakunya dan keduanya melakukan diskusi yang konstruktif. Travis menghargai percakapan itu dan menganggapnya lebih memahami perspektif masing-masing orang. Pertemuan berakhir dengan catatan positif, dan Travis menghargai keterbukaan dan pemberian maaf dari Kamel,” kata juru bicara Kalanick dalam sebuah pernyataan.
Dalam video tersebut juga Kamel sempat berargumen “Tapi orang tidak mempercayaimu lagi. Saya kehilangan US$97 ribu karena Anda. Aku bangkrut karena Anda mengubahnya setiap hari.”
Tapi setelah pertemuan tersebut, tidak jelas apakah Kalanick benar-benar mengajukan tawaran pada Kamel atau tidak. Namun, seorang sumber mengatakan, mantan penasihat hukum Salle Yoo bertindak cepat dan memperjelas bahwa Kalanick harus menggunakan uangnya sendiri dan memberi perantara kesepakatan dengan penasihat hukumnya sendiri bukan melalui Uber.
Baca juga: Uber Tak Lagi Ilegal di Uni Eropa, Indonesia Kapan Bisa Terapkan Aturan Serupa?
Atas masalah ini pihak Uber dan Kamel pun tak berkomentar apapun. Argumen antara Kalanick dengan Kamel bukan hanya momen penting bagi mantan CEO Uber tersebut, melainkan bagi karyawan dan yang jelas adalah hubungan perusahaan dengan pengemudi membutuhkan perbaikan. Beberapa bulan sebelum Kalanick mengundurkan diri sebagai CEO Uber (Juni 2017) dan video tersebut viral, Uber sendiri sudah mulai melakukan kampanye agar pengemudi kembali bersama mereka.
Jika selama ini Anda disuguhkan berita mengenai kehadiran sejumlah bus listrik dari berbagai penjuru dunia, maka yang ini akan sedikit berbeda walaupun masih dalam koridor yang sama. Selain kehadirannya dipercaya dapat mengurangi tingkat polusi yang belakangan ini semakin memburuk, bus listrik juga dikenal handal dalam menaklukan medan berbukit, karena motor listrik akan bekerja lebih baik ketimbang mesin diesel pada tanjakan.
Baca Juga: Berevolusi, Black Cab London Akan Gunakan Semi-Electric Vehicle
Soal tingkat kebisingan yang dihasilkan, bus listrik juga jauh melesat meninggalkan bus diesel. Maka wajar saja jika banyak perusahaan otobus lokal maupun mancanegara yang lalu beralih meninggalkan penggunaan armada bus diesel. Dalam pemberitaan sebelumnya, sebuah manufaktur bus asal Negeri Tirai Bambu, BYD berhasil merajai produksi bus listrik di seluruh dunia, dan salah satu produk yang terkena imbas dari revolusi besar-besaran ini adalah bus double-decker.
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, Transport for London (TfL) menjadi penyedia jasa layanan transportasi pertama yang mengoperasikan bus double-decker bertenaga listrik pertama di dunia. Bekerja sama dengan BYD, TfL sekaligus memesan lima model yang berbeda, dan masing-masingnya mampu menempuh perjalanan sejauh 180 mil atau yang setara dengan 290 km dalam sekali charge.
Pimpinan dari TfL mengatakan bahwa bus bisa terus beroperasi sepanjang hari tanpa perlu mengisi ulang daya. Sama seperti yang sudah dijabarkan di atas, pimpinan TfL juga mengatakan bahwa penggunaan bus double-decker (bus tingkat) bertenaga listrik dapat menurunkan tingkat emisi karbon dan turut serta membantu memperbaiki kualitas udara di London. Sebagai proyek percontohan, TfL mulai mempekerjakan bus ini para April 2016 silam, dan menuai respon positif.
Diperkirakan, kehadiran bus tingkat bertenaga listrik ini menelan dana sebesar £350.000 atau yang setara dengan Rp6,4 miliar kurs sekarang. Mungkin masih terlalu dini untuk merombak secara keseluruhan armada bus diesel yang kini mengabdi untuk TfL, namun kehadiran bus double-decker bertenaga listrik ini akan bersanding dengan armada berbahan diesel yang sudah ada, mengikuti peluncuran bus The New Routemaster, yang menggunakan sistem “hop-on-hop-off”.
Baca Juga: Routemaster, Si Double Decker Merah Ikon Kota London
Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh bus double-decker bertenaga listrik yang dioperasikan oleh TfL ini membuat beberapa otoritas transportasi dari berbagai dunia menjadikan TfL sebagai acuan, tidak terkecuali India. Dikutip dari sumber berbeda, TfL telah menyetujui program berbagi ilmu dengan India tentang bagaimana cara menerapkan praktik terbaik untuk meningkatkan efisiensi transportasi umum, membagikan pengalamannya tentang bus listrik, hingga pemberlakuan sistem smart ticketing.
“Transportasi umum yang baik sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan seiring dengan meningkatnya permintaan, penting bahwa perbaikan perlu dilakukan. Penandatanganan kerja sama ini akan memungkinkan kita memperbaiki transportasi dengan berbagi pengalaman dalam menangani beberapa masalah seperti ini,” ungkap Chief Technology Officer di TfL, Shashi Verma, dikutip dari laman cityam.com (12/1/2018).
Dalam mengakhiri serangkaian investigasi yang terjadi selama tahun 2017 kemarin, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan forum pertemuan yang betajuk “Capaian Kinerja Investigasi Keselamatan Transportasi Tahun 2017”.
Baca juga: KNKT: Standar Karet Rem Indonesia Mengaju Pada Jerman
Selain memaparkan hasil investigasi kecelakaan multi-moda, acara yang dipimpin langsung oleh Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono ini merupakan bentuk tanggung jawab KNKT kepada masyarakat.
Berdasarkan pantauan langsung KabarPenumpang.com, acara yang diadakan di Aula KNKT, Kamis (18/1/2018) turut dihadiri oleh sejumlah Kasubkom terkait, seperti Kasubkom Penerbangan, Kasubkom LLAJ, Kasubkom Pelayaran, dan Kasubkom Perkeretaapian.
Dari keempat moda yang diinvestigasi oleh KNKT, Kereta Api menjadi moda yang paling sedikit mengalami kecelakaan selama tahun 2017, dengan jumlah 7 kasus. Dari 7 kasus tersebut, hanya ada satu kasus tabrakan dan enam lainnya merupakan kasus kereta anjlok.
Walaupun jumlah kasus kecelakaan kereta api yang terjadi pada tahun 2017 ini mengalami peningkatan sebanyak satu kasus, namun ini merupakan tahun kedua KNKT menginvestigasi kasus tanpa adanya korban jiwa maupun luka.
Sedangkan Kasubkom Penerbangan, Capt. Nurcahyo Utomo, Dip. TSI mengatakan ada satu kasus yang paling menonjol selama tahun 2017, dimana pesawat Batik Air PK-LBS bertabrakan dengan pesawat ATR 42-500 (PK-TNJ) milik maskapai Trans Nusa di Bandara Halim Perdanakusuma pada 4 April silam.
Baca juga: Kecelakaan Terus Berulang, Rekomendasi KNKT Sebagian Besar Tak Diindahkan
Menurut Capt Nurcahyo, tabrakan ini terjadi lantaran adanya miss communication, penyalahan aturan, hingga tata pencahayaan dan kondisi lingkungan yang tidak memadai.