Gandeng Uber, NASA Siap Dorong Proyek Taksi Udara Otonom di Tahun 2020
Mengingat jalur darat kini sudah bisa dibilang tidak kondusif lagi untuk dilalui, salah satu oenyedia jasa layanan transportasi berbasis aplikasi, Uber tengah memastikan diri untuk meluncurkan salah satu layanan terbarunya, taksi udara. Pada awalnya, layanan taksi udara bernama Uber Elevate ini tertuang dalam proposal setebal 97 halaman pada tahun 2016 silam. Diyakini, ini merupakan salah satu opsi terbaik untuk mengentaskan masalah kemacetan yang semakin meradang.
Baca Juga: Selangkah Lagi, Uber Akan Operasikan Taksi Udara
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (9/11/2017), Uber mengungkapkan bahwa taksi udara dengan tipe Vertical Take-Off Landing (VTOL) ini akan mengubah secara mendasar bagaimana orang-orang bergerak di sekitar kota. Bukan tanpa saingan, Uber akan menghadapi Airbus dengan proyek CityAirbus-nya yang baru saja menguji Volocopter (moda udara otonom yang akan digunakan Airbus) pertamanya di Dubai pada bulan September kemarin, dan baru saja menjalani melakukan uji coba di Eropa.
Melihat ini merupakan peluang besar, badan antariksa Amerika Serikat, NASA mencoba untuk ikut bergabung untuk meramaikan bisnis pelayanan jasa modern seperti ini. Di sini, NASA menggaet Uber untuk saling bahu membahu melayani penumpang dengan menggunakan moda udara modern ini. Tujuan kerja sama ini diutarakan NASA adalah untuk saling melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut.
Dilansir dari sumber yang berbeda, Uber mengumumkan kesepakatan dengan badan antariksa tersebut pada hari Rabu (8/11/2017) untuk membantu mengembangkan sistem manajemen taksi udara otonom untuk mengatasi persaingan yang sudah mulai muncul. Diketahui, NASA sudah mengerjakan sistem serupa untuk moda tak berawak, dan mulai mengujinya tahun lalu.
Baca Juga: AirMap, Platform Pengatur Lalu Lintas Drone di Udara
Terlepas dari latar belakang yang membuat NASA dan Uber bekerja sama, satu titik baru ditambahkan oleh pihak Uber untuk menguji coba taksi otonomnya pada tahun 2020 mendatang, yaitu di Los Angeles. Dengan begitu, Dallas, Dubai, dan Los Angeles akan menjadi saksi penerbangan perdana taksi udara hasil kerja sama NASA dan Uber.
“Menggabungkan keahlian Uber dalam rekayasa perangkat lunak dengan pengalaman luas NASA di sektor udara untuk mengatasi kekurangan yang ada di layanan lain, merupakan langkah penting bagi Uber Elevate untuk terus berkembang,” ujar chief product officer Uber, Jeff Holden.
N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua
Bertepatan dengan momen Hari Pahlawan, pada 10 November 2017 bertempat di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, prototipe pesawat pertama N-219 karya anak bangsa hasil kerjasama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan LAPAN diberikan nama oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pemberian nama “Nurtanio” diambil dari nama Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo yang telah merintis pembuatan pesawat terbang di Tanah Air sejak tahun 1946.
Baca juga: Akhirnya! Prototipe N-219 Sukses Terbang Perdana Hari Ini
Nurtanio Pringgoadisuryo dikenal sebagai salah seorang perintis berdirinya industri pesawat terbang yang bekerja di Biro Perencana Konstruksi Pesawat di lingkungan Tentara Republik Indonesia berkedudukan di Madiun yang merupakan cikal bakal lahirnya industri dirgantara di Indonesia.
Harapannya setelah diberikan nama “Nurtanio” oleh Presiden Jokowi, seluruh proses sertifikasi prototipe pesawat N-219 dapat berjalan dengan lancar sehingga pesawat N-219 dapat menjadi solusi distribusi logistik nasional untuk mendukung program jembatan udara logistik nasional sebagaimana dituangkan dalam Perpres No. 70 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik Untuk Angkutan Barang Dari Dan Ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan.
Program tol laut selama ini dinilai masih belum mampu menjangkau distribusi barang hingga ke daerah pegunungan Papua. Disparitas harga masih terjadi di kawasan yang hanya bisa diakses dengan transportasi udara mengingat masih banyaknya Kota dan Kabupaten di Papua dan Papua Barat yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara karena keterbatasan akses jalur darat dengan kondisi bandara yang terletak pada elevasi yang cukup tinggi dengan panjang landasan ± 600 m. N-219 digadang secara khusus dirancang untuk daerah pegunungan Papua diharapkan dapat mendukung program Jembatan Udara karena dapat menjangkau daerah dengan kondisi georafis berbukit-bukit dengan landasan pendek dan tidak dipersiapkan.
Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis
Pesawat N-219 dapat menjadi solusi untuk membuka aksesibilitas dan konektivitas wilayah terdepan, tertinggal dan terluar di pegunungan Papua dan Papua Barat, sehingga program satu harga Pemerintah dapat terwujud. Dalam pengembangannya, pihak LAPAN bahkan telah merancang desain N-219 versi amfibi yang dapat melakukan pendaratan di air.
PT DI telah sukses melakukan uji terbang perdana pesawat N-219 pada tanggal 16 Agustus 2017, pesawat N219 merupakan pesawat penumpang dengan kapasitas 19 orang dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23. Proses rancang bangun, pengujian, sertifikasi hingga nantinya akan dilakukan proses produksi adalah hasil karya anak bangsa. Pesawat N219 memiliki kemampuan lepas landas di landasan pendek yang tidak dipersiapkan sehingga akan menjadi konektivitas antar pulau terutama di wilayah perintis.
Angkasa Pura II dan Telkomsel Hadirkan Airport ePayment
Airport epayment sistem merupakan layanan pembayaran non tunai di lebih dari 800 tenant yang berada di bandara-bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero). Ini adalah bisnis baru yang dirambah AP II melalui penerapan konsep smart airport di bandara-bandara yang dikelola AP II khususnya Bandara internasional Soekarno-Hatta.
Baca juga: ‘Self Check In Kiosk’ Kini Hadir di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta
Layanan Airport ePayment sistem ini bekerjasama dengan pihak ketiga salah satunya adalah dengan Telkomsel melalui TCash dan kedepannya dengan GoPay dan menyusul merek lainnya. Konsep smart airport lain yang diusung AP II juga akan memudahkan atau memberikan lebih banyak pilihan transportasi darat bagi penumpang pesawat misalnya di bandara Soetta yang sudah tersedia booth bagi penumpang yang memesan transportasi online GrabNow.
“Konsep smart airport melalui digitalisasi di bandara AP II daat ini tidak lagi hanya pada improving customer experience dan increasing operating efficiency, namun lebih dari itu kini sudah mulai masuk ke new revenue stream AP II ini memang baru tumbuh yang kami targetkan pendapatan kami mendapai Rp35 miliar pada 2018. Namun akan memiliki prospek sangat baik kedepannya dalam mendukung pendapatan perusahaan,” ujar Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (8/11/2017).
Dia mengatakan AP II optimis bisnis digital ini akan berkembang pesat setelah melakukan berbagai pertimbangan dari berbagai sisi yakni melihat pertumbuhan pasar, kemampuan perusahaan serta keunggulan industri itu sendiri. Awaluddin mengatakan, pihaknya juga telah melakukan analisis, dimana AP II memiliki peluang besar untuk meraih pendapatan dari bisnis baru yakni Airport epayment, Arport Big Data dan Airport ecommerce.
Penerapan smart airport melalui digitalisasi di bandara-bandara AP II dengan bandara Soetta menjadi pilot project karena infrastruktur yang sudah mendukung di samping bandara ini merupakan yang terbesar dan tersibuk di Indonesia.
Adapun jumlah fasilitas berbasis digital yang sukses diterpakan bandara Soetta kini juga sudah diimpelementasikan di Bandara Internasional Silangit meskipun memiliki kapasitas yang tidak terlalu besar, namun epayment untuk pembelanjaan di tenant komersial, bus ticketing vending machine, tourism information kiosk, smart baggage, self check in kiosk, airport bus schedule display dan lainnya.
Baca juga: Dengan Infrastruktur Baru, Bandara Silangit Kini Siap Terima Penumpang Internasional
Dalam waktu dekat AP II juga resmi memasuki binis Big Data melalui kerjasama dengan mitra usaha. Bisnis ini akan memanfaatkan besarnya potensi data pergerakan penumpang sekitar 100 juta pada tahun 2017 yang dimilik AP II mejadi lebih bernilai sehingga menciptakan lini bisnis atau pendapatan baru.
“Di era sekarang data merupakan aset baru dimana penguasaan terhadap data dan kemampuan mengekstraksi data menjadi informasi berniali memiliki manfaat cukup besar. AP II mempunyai data terkait dengan penerbangan yang begitu cepat berubah atau terbarui serta sangat beragam. Diperlukan pengelolaan data dan sistem analisis yang kompleks agar data mentah tersebut dapat menjadi bernilai. Secara umum data tersebut dapat meningkatkan nilai industri pariwisata, komersial dan lain sebagainya,” jelas Awaluddin.
‘Self Check In Kiosk’ Kini Hadir di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta
Tepat di Hari Pahlawan 10 November 2017, Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta menghadirkan layanan baru berupa self check in kiosk yang terletak di lobi. Hadirnya self check in kiosk memudahkan bagi penumpang rute domestik yang hanya membawa bagasi kabin. Pengadaan self check in kiosk ini dibuat PT Angkasa Pura II (Persero) untuk mempercepat dan mempermudah proses keberangkatan bagi maskapai Batik Air dan Citilink.
Baca juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta
KabarPenumpang.com merangkum dari siaran pers (9/11/2017), AP II selaku pengelola bandara Soetta sudah menyediakan 12 self check in kiosk di Terminal 1C sejak 3 November 2017 kemarin. Tak hanya itu, untuk membantu penumpang yang kesulitan menggunakan self check in kiosk, di lobi juga disiagakan personil bandara.
Self check ini kiosk ini tidak dapat digunakan oleh ibu hamil, membawa bayi, penumpang dengan gerakan terbatas, penumpang dengan kebutuhan khusus, penumpang dibawah 16 tahun, penerbangan transfer internasional dan jumlah penumpang lebih dari satu kali pemesanan. Penumpang dengan kriteria ini bisa melakukan check in di konter yang juga terdapat di Terminal 1C.
Direktur AP II Muhammad Awaluddin mengatakan self check in kiosk merupakan salah satu upaya AP II untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpang tiket domestik Batik Air dan Citilink. Pihaknya optimis dengan kebijakan baru ini akan mengurangi antrian di check in konter yang juga berdampak semakin mudah dan cepatnya proses keberangkatan bagi penumpang sehingga on time performance (OTP) bandara maupun maskapai semakin baik.
“Check in konter di Terminal 1C mulai tanggal 10 November nanti hanya tersedia bagi penumpang dengan bagasi untuk dimasukkan ke lambung pesawat dan juga penumpang dengan kasus tertentu seperti ibu hamil, penumpang berkebutuhan khusus, penumpang dengan bayi dan lainnya dimana kriteria penumpang dengan kasus-kasus tertentu itu dinyatakan di self check in kiosk maupun di area keberangkatan Terminal 1C,” jelas Awaluddin.
AP II mengatakan, menurut survei yang dilakukan SITA untuk pre journey experience, 57 persen responden mengatakan mereka memilih self check in kiosk ketika ingin terbang. Kebijakan AP II dalam penggunaan self check in kiosk ini nantinya juga akan diimplementasikan pada Terminal 1A dan 1B serta di seluruh bandara yang dikelola AP II serta merupakan bagian dari implementasi konsep pre journey smart airport untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang baik bagi para penumpang pesawat.
Untuk pre journey experience, AP II juga berencana mengimplementasikan eboarding pass dalam waktu dekat untuk maskapai-maskapai yang beroperasi di bandara AP II. Layanan perdana ini akan mulai dimanfaatkan Garuda Indonesia dimana nantinya bisa mendapatkan eboarding pass di smartphhone melalaui aplikasi Indonesian Airports yang dikelola AP II.
Baca juga: PT Angkasa Pura II Mudahkan Parkir Inap dengan Aplikasi “Parkir Inap Angkasa Pura II”
Selain implementasi smart airport pada proses pre journey, AP II juga telah mengimplementasikan beberapa konsep smart airport untuk proses on journey dan juga post journey pada aplikasi Indonesian Airports dimana penumpang bisa melihat detail penerbangan mereka serta gate keberangkatan dan juga penumpang bisa membook tiket taksi serta melihat jadwal bus, skytrain, shuttle bus dan memesan layanan parkir inap. Kedepannya, jadwal layanan kereta bandara juga akan menjadi fitur yang ada pada aplikasi Indonesian Airports.
Hady Syahrean – Sukses Hantarkan Layanan Haji Garuda Indonesia
Gantunglah mimpimu setinggi langit dan jangan pernah lelah untuk mengejarnya dan berdoa, maka kamu akan mendapatkannya. Nampaknya untaian kata bijak tersebut sudah dibuktikan oleh banyak orang sukses di muka bumi, salah satunya adalah Vice President SBU Umrah & Hajj Garuda Indonesia, Hady Syahrean. Impian awal dari pria kelahiran Medan, 18 April 1961 ini bisa dibilang tidak terlalu muluk-muluk, yaitu Ia hanya ingin bekerja di Garuda Indonesia.
Baca Juga: Benny S Butarbutar – Meski Jadi Orang Airlines, Profesi Wartawan Tetap di Hati
“Saya ada saudara juga yang kerja di Garuda, saya lihat kok enak banget sebulan sekali sebulan dua kali bisa pulang,” kenang Hady ketika ditanya soal cita-cita pertamanya oleh KabarPenumpang.com, Rabu (8/11/2017). “Awalnya saya melamar di bagian administrasi, tapi karena waktu tesnya tidak pas, saya coba buat ngelamar lagi sampai akhirnya diterima,” imbuhnya seraya mengenang masa lalunya.
Akhirnya pada November 1981, pria yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi di Universitas Krisnadwipayana selama beberapa semester ini pertama kali ditetapkan sebagai karyawan Garuda Indonesia di bagian reservasi. Empat tahun berselang, Ia dipromosikan untuk bekerja di bagian Ticketing Office. Hanya bertahan beberapa bulan di tahun yang sama, Ia lalu dipindahkan ke divisi Government Desk Garuda Indonesia.
Singkat cerita, ia diangkat menjadi General Manager Saudi Arabia dan Middle East Garuda Indonesia pada pertengahan tahun 1998. 6,5 tahun Hady lewati menjabat posisi sebagai orang nomor satu Garuda Indonesia di Arab Saudi. Banyak dinamika masalah yang bertubi menyerangnya dari berbagai sisi, namun hal tersebut tidak membuat kekuatan Hady melemah. Justru dinamika tersebut dijadikan Hady sebagai pelajaran berharga yang akhirnya membuat pria berpostur tegap ini kembali mendapatkan kenaikan jabatan menjadi Vice President SBU Umrah & Hajj Garuda Indonesia, terhitung sejak Mei 2005.
Terhitung, sudah lebih dari 12 tahun Hady menempuh suka dukanya menjadi seorang Vice President. Tentu waktu tersebut tidak bisa dibilang sebentar dan banyak problematika yang menderunya. “Jika ditanya tantangan terbesar, ya dinamika tersebutlah tantangan kami. Sebut saja regulasi di Timur Tengah setiap tahunnya kerap berubah. Ambil contoh ketika isu terorisme merebak, secara otomatis pengamanan di sana (Timur Tengah) menjadi lebih ketat,” paparnya.
“Tahun 1997 kami menerapkan sistem city check in yang terbukti ampuh untuk mengurai kepadatan penumpang di imigrasi, namun sistem tersebut diberhentikan pada tahun 2015 kemarin,” tambah Hady. ‘Masalah-masalah membangun’ lainnya tidak hanya datang dari sesama pemangku kepentingan saja, penumpang pun kerap kali berkontribusi terhadap perkembangan tubuh Garuda Indonesia sendiri.
“Bisa dibilang, 80 persen Jemaah Haji asal Indonesia belum pernah travelling,” ungkapnya. Tentu hal tersebut akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Garuda Indonesia, yang di depannya akan menjadi pelajaran tersendiri dalam menangani beragam jenis penumpang. Buah kerja keras Hady seolah terbayar dengan prestasi Garuda Indonesia mencatatkan level On Time Performance terbaik di Musim Haji 2017.
Baca juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik
“Hidup hanya sekali, nikmatilah. Perbanyak menolong dan memberi.” Itulah sepenggal kata mutiara dari seorang Hady Syahrean, seorang pekerja keras yang tidak pernah menyerah. Memang, tidaklah mudah untuk menduduki sebuah posisi yang tinggi di dalam suatu institusi. Diperlukan kerja keras, doa, dan tidak cepat putus asa. Semua hal tersebut sudah dibuktikan oleh Hady Syahrean, jadi, tetaplah bekerja keras untuk menggapai cita-cita!
Tol Cikampek Kian Padat, Organda Ajukan Pemberlakukan Aturan Ganjil Genap Bagi Kendaraan Pribadi
Akibat tingkat kepadatan trafik yang begitu tinggi, ruas jalan tol Cikampek tak jarang mengalami kondisi macet yang begitu parah, terlebih kini sedang ada pembangunan lintas jalur LRT (Light Rapid Transit) disisi jalan tol tersebut. Merespon keluhan pengguna jasa, pemerintah melalui BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) pada 16-20 Oktober 2017 telah melaksanakan uji coba pengaturan untuk arus kendaraan truk.
Baca Juga: Pacu Konektivitas Infrastruktur, Jokowi Minta Pelayanan di Pelabuhan Bakauheni Ditingkatkan
Dan setelah rampungnya masa uji coba, pihak Organda memberikan pernyataan lewat siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (9/11/2017), disebutkan bahwa hasil uji coba BPTJ belum menunjukkan hasil yang maksimal. Hasil evaluasi uji coba selama 5 hari tersebut menunjukkan pengurangan kendaraan sejumlah 1.706 unit, turun dari 32.141 ke 30.435. Selama periode uji coba, ruas tol tersebut dibuat steril dari truk golongan IV – V pada pukul 6 hingga 9 pagi—waktu yang sebenarnya krusial bagi pengiriman barang untuk mengejar closing time pelabuhan.
Ivan Kamadjaja, Ketua Angkutan Barang DPP Organda mengatakan, “Tol Jakarta Cikampek pendukung kawasan industri bisa lebih efektif jika ada pengaturan untuk kendaraan pribadi serta truk golongan II – III, misalnya dengan cara ganjil-genap yang sudah teruji di beberapa daerah lain dan juga pembuatan jalur khusus untuk bus.” Menurut Ivan, pendekatan tersebut akan mengoptimalkan laju kendaraan dan memberikan kenyamanan lebih bagi semua pengguna jalan.
Di satu sisi, Pemerintah menyatakan angkutan barang golongan IV – V sebagai penyebab kemacetan di area tersebut. Sementara, data BPTJ terkait proporsi kendaraan di simpang susun Cikunir selama bulan September 2017 menunjukkan bahwa ruas tol tersebut paling banyak dilalui oleh kendaraan golongan I (80,08%). Kawasan industri seyogyanya memprioritaskan akses jalan bagi kendaraan pendukung kegiatan usaha, termasuk kendaraan golongan IV dan V.
Kendati ukurannya yang besar dan terkesan memenuhi jalan, jumlah kendaraan berat yang melintas jauh lebih sedikit dibandingkan kendaraan pribadi yang berukuran kecil namun jumlahnya masif. Data Lalu Lintas Harian (LHR) PT. Jasa Marga (Persero) cabang Jakarta-Cikampek menjelaskan bahwa setiap bulannya ada sekitar 5 juta kendaraan golongan I yang melintas dari Cikampek hingga Bekasi Barat, sementara golongan II di bawah 800 ribu, dan sisanya di bawah 300 ribu; rata-rata harian mencapai 200 ribu kendaraan, sementara kapasitas harian resmi ruas tol tersebut adalah 92,000 kendaraan.
Baca Juga: Yang Sebaiknya Diketahui dari Tol Cipali dan Brexit
Melihat potensi solusi yang dihadirkan metode ganjil-genap di daerah Jakarta lainnya, Organda mengedepankan metode tersebut untuk diuji coba di arus tol Jakarta-Cikampek, khususnya untuk kendaraan pribadi. Hal ini dikarenakan kendaraan-kendaraan tersebut relatif lebih ringan, sehingga dapat melewati baik jalan arteri maupun jalan kawasan industri dengan risiko kerusakan jalan lebih kecil serta lebih aman jika dibandingkan dengan truk golongan IV – V yang jauh lebih berat.
Anggarkan Rp1,1 Triliun, Pemerintah Canangkan Jalur Rel Ganda Bogor-Sukabumi-Bandung
Jalur kereta api Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung akan dibangun dan diperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun jalur ganda kereta api ini mencapai Rp1,1 triliun. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan menurutnya pembiayaan ini akan berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN dengan skema jamak selama tiga tahun.
Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan
“Untuk tahap pertama itu 2018 akan kami keluarkan Rp200 miliar, tapi total Rp1,1 triliun, bertahap tiga tahun,” ujar Budi di Sukabumi, Selasa (7/11). Pembangunan proyek jalur kreta sepanjang 38 km ini rencananya akan dimulai pada 2018 dan akan selesai tahun 2019 mendatang. Dia mengatakan, dengan anggaran sebesar itu, proses pembangunan akan dilakukan secara bertahap.
Pada tahap pertama proyek akan difokuskan pada jalur kereta Sukabumi-Bogor kemudian Sukabumi-Cianjur dan terakhir Cianjur Sukabumi. Pertama yang dilakukan adalah mengurangi kemiringan jalur dan memperbaiki jalur-jalur curam serta miring seperti di Ciurug, Sukabumi.
Ini dilakukan agar bisa mempercepat waktu tempuh antara Bogor dan Sukabumi yang tadinya dua jam menjadi 1,5 jam. Waktu tempuh tersebut jauh lebih cepat dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi yang bisa mencapai Sukabumi dari Bogor hingga lima jam.
Sebenarnya, dengan ada jalur ganda rel kereta ini nantinya juga dioperasionalkan untuk membantu warga yang akan bepergian sekaligus juga mengangkut barang khususnya bahan pangan ke berbagai daerah.
“Dengan adanya fasilitas jalur ganda kereta api ini juga turut membantu meningkatkan arus wisatawan untuk datang ke Sukabumi,” tambah Budi.
Budi mengatakan, Presiden RI Joko Widodo sangat memperhatikan pembangunan di wilayah Jabar selatan khususnya Kota dan Kabupaten Sukabumi yang mempunyai potensi pariwisata, perdagangan, properti dan pangan. Sehingga dengan semakin meningkatnya kualitas dan pelayanan di bidang infrastruktur transportasi maka sudah pasti ekonomi di daerah ikut meningkat.
Baca juga: Bangun Apartemen di Kawasan Stasiun Bogor, Proyek TOD Masih Terganjal Izin
Akan tetapi, ia mengingatkan kepada warga Sukabumi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya agar mampu bersaing dan mempunyai jiwa kompetensi. Selain itu, Budi juga mengaku, akan meningkatkan kapasitas dengan menambahkan rangkaian kereta yang tadinya hanya enam kereta dalam satu rangkaian menjadi 12 rangkaian.
Dengan demikian, penumpang terangkut bisa naik dari 12 ribu orang per hari menjadi 96 ribu orang per hari. Sementara itu, saat ini perjalanan kereta api relasi Bogor-Sukabumi dilayani oleh KA Pangrango dengan jumlah perjalanan sebanyak tiga kali pulang pergi (PP).
Tuntas 2021, Bandara London City Rencanakan Pengembangan Senilai Rp7,1 Triliun
Bandara London City atau lebih dikenal sebagai London City Airport (LCY) menjadi salah satu dari enam bandara internasional yang ada di kawasan kota London, dan perlu diketahui status bandara ini bukan yang utama di London, LCY masih jauh peringkatnya di bawah Bandara Heathrow (LHR) dan Bandara Gatwick (LGW).
Dan belum lama berselang, Bandara London City yang lokasinya berjarak 11 km dari jantung pusat kota London, otoritasnya merilis rencana pengembangan bandara dengan nilai fantastis £400 juta (US$526 juta) atau sekitar Rp7,1 triliun. Dalam City Airport Development Programme (CADP) diharapkan akan selesai pada tahun 2021 mendatang.
Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru!
Pengembangan tersebut ditujukkan untuk membangun tujuh tribun pada terminal baru, sebuah taxiway yang memaksimalkan kapasitas landasan pacu atau runway dan perluasan terminal agar mampu memenuhi pertumbuhan jumlah penumpang di masa mendatang. KabarPenumpang.com merangkum dari laman airport-technology.com (30/10/2017), perbaikan bandara ini juga bertujuan agar nantinya bisa menampung dua juta penumpang lebih banyak setiap tahunnya pada 2025 yang akan datang.
Tak hanya itu, investasi pengembangan Bandara London City juga diharapkan akan mengarah pada penambahan 30 ribu lebih penerbangan pertahunnya serta menciptakan lebih dari dua ribu lapangan pekerjaan. Nantinya setelah pengembangan selesai, bandara ini akan mampu memberikan konstribusi £750 juta atau sekitar Rp13,3 triliun per tahun untuk perkembangan ekonomi Inggris.
CEO Bandara London City Declan Collier mengatakan, selama 30 tahun terakhir, Bandara London City telah menjadi bagian intrinsik dari sistem transportasi London yang tumbuh secara bertanggung jawab atas pemecahan rekor 4,6 juta penumpang pada tahun 2016, menciptakan lapangan kerja lokal, dan menghubungkan para pebisnis serta wisatawan dengan Inggris, Eropa dan sekitarnya.
“Program Pengembangan Bandar Udara Kota menyajikan kesempatan untuk menciptakan bandara masa depan, yang akan membantu memenuhi permintaan di pasar London, dan meningkatkan konektivitas,” ujar Collier.
Diketahui, tahun 2017 ini menandai bahwa bandara London City telah beroperasi selama 30 tahun, dimana penerbangan komersial mulai beroperasi pada tahun 1987 disini. Bandara ini juga membangun menara kontrol lalu lintas udara digital yang akan mulai beroperasi pada 2019. Jika memungkinkan, pengerjaan konstruksi akan di mulai awal tahun depan.
Baca juga: Inggris Kembangkan Teknologi ‘Intip’ Isi Tas Calon Penumpang Saat Belanja di Bandara
Desain baru untuk Bandara London City digarap oleh arsitek Pascall dan Watson menyajikan pandangan tentang bagaimana bandara akan terlihat nantinya. Tampilan eksterior bandara, seperti yang bisa dilihat pada gambar ikustrasi, termasuk terminal penumpang yang ukurannya akan meningkat sekitar 40.000 m².
Performa Penerbangan Haji, Antara Level OTP dan Ketersediaan Pesawat Sewaan
Bagi Garuda Indonesia sebagai penyedia layanan penerbangan Haji nasional, salah satu indikator kesuksesan dapat diukur dari level On Time Performance (OTP). Seperti di Musim Haji 2017, maskapai plat merah ini meraih hasil yang sangat membanggakan, dengan OTP 98 persen saat berangkat dan 96 persen saat kembali ke Tanah Air. Dengan angka tersebut, Garuda Indonesia bahkan sudah melampaui standar OTP global, yaitu 85 persen. Dan level OTP faktanya tak terlepas dari tingkat kesiapan armada pesawat.
Baca juga: Kesiapan Armada Menjadi Poin Utama Tingginya OTP Garuda Indonesia di Musim Haji 2017
Vice President SBU Umrah & Hajj Garuda Indonesia Hady Syahrean menyebut di Musim Haji 2017, Garuda Indonesia telah menggunakan 14 pesawat, tiga diantaranya dengan status sewaan. “Boeing 747-400 dua unit, dan Airbus A330-300 satu unit. Adapun rincian total pesawat yang digunakan Garuda adalah tiga pesawat Boeing 747-400, empat pesawat Boeing 777-300ER, dan tujuh pesawat Airbus A330-300.
Yang menjadi poin menarik adalah pesawat yang berstatus sewaan. Sebagaimana musim Haji yang telah berlangsung bertahun-tahun, pengadaan pesawat sewaan mutlak dibutuhkan untuk melayani pemberangkatan dan pemulangan Haji, terlebih dengan jumlah jamaah yang meningkat, maka otomatis jumlah armada harus disesuaikan dengan demand. “Mustahil bila hanya menggunakan pesawat organik milik kami (Garuda Indonesia – red), untuk itu prosedur menyewa pesawat sudah lumrah dilakukan,” ujar Hady Syahrean kepada KabarPenumpang.com di kantornya, kawasan Gunung Sahari, Jakarta (8/11/2017).
Ia menambahkan bahwa menyewa pesawat untuk kebutuhan Haji mempunyai standar tersendiri yang harus dipatuhi, diantaranya jenis wide body yang usia pesawatnya tidak boleh lebih dari 25 tahun sejak diproduksi. Hady yang punya pengalaman panjang bertugas di Timur Tengah menyebut bukan persoalan mudah untuk mencari stock pesawat yang serviceable. “Kami memprediksi di tahun 2020 akan ada kesulitan untuk mencari pesawat sewaan,” kata Hady.
Pada musim Haji 2020 diperkirakan akan bersamaan dengan Summer Season di Eropa, artinya akan lebih banyak maskapai yang meningkatkan frekuensi penerbangan untuk wisata. Dampaknya adalah lebih sulit untuk mencari pesawat untuk disewa, karena demand dari maskapai juga meningkat untuk merespon penerbangan tersebut. Ditambah lagi dengan kriteria usia pesawat yang telah ditentukan, maka tantangan akan lebih spesifik.
Ketentuan usia pesawat diperlukan untuk lebih menjamin tingkat keselamatan penerbangan, dan bagi maskapai menggunakan pesawat yang lebih modern akan meningkatkan efisiensi biaya operasional, terutama dalam hal konsumsi bahan bakar. Pesawat dengan tipe modern seperti Boeing 777-300ER secara spesifikasi punya kemampuan direct flight dari Indonesia ke Arab Saudi.
Baca juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas
Sebagai contoh, Boeing 747-400 PK-GSH Garuda Indonesia yang telah resmi pensiun setelah mengabdi 23 tahun, sejatinya masih bisa digunakan sampai dua tahun lagi. Boeing 747-400 PK-GSH terakhir terbang pada 6 Oktober 2017 saat melayani kepulangan jamaah Haji dari Madinah menuju Makassar. Biaya operasional yang tak sebanding dengan tingkat okupansi penumpang menjadi alasan utama dipensiunkannya pesawat jumbo jet tersebut.
Coba Peruntungan, Sony Ciptakan Mobil Otonom Futuristik!
Sebagai perusahaan konglomerat multinasional Jepang yang berkantor pusat di Tokyo, Sony diketahui tengah mempersiapkan kendaraan otonom ramah lingkungan dengan konsep full entertainment selama perjalanan. Walaupun terkenal sebagai produsen barang elektronik, tapi Sony tidak bermain-main dalam usahanya untuk mengadakan mobil otonom ini. Ada beberapa sisi unik dari calon kendaraan masa depan ini, kira-kira apa saja ya?
Baca Juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman engadget.com (3/11/2017), kendaraan ini dilengkapi oleh sensor gambar dengan resolusi tinggi hingga konektivitas 5G melalui Docomo. Kendaraan berbentuk mirip kubus ini menggunakan bahan bakar alternatif, Light Imaging, Detection, And Ranging (LIDAR), dan sejumlah komponen ultrasonik onboard. Uniknya lagi, kendaraan ini bisa juga dikemudikan oleh manusia dan mereka bahkan tidak membutuhkan lampu di malam hari! Kok bisa?
Pihak Sony mengklamin bahwa sensor gambar yang ditempatkan di sekitar mobil cukup sensitif, ditambah dengan tampilan pada layarnya (display) pun cukup berkualitas, sehingga Anda bisa mengemudikan mobil otonom ini tanpa lampu depan pada malam hari. Namun jika dilihat dari sisi keselamatan berkendara, tentu saja setiap kendaraan yang melintas pada malam hari memerlukan lampu yang akan menjadi penanda bagi kendaran lain.
“Ketika sensor gambar sudah bisa menangkap keadaan di sekitar dengan sangat baik, maka di sini peran kaca sudah tidaklah se-vital dulu. Maka dari itu, kami mengganti kaca-kaca tersebut dengan layar High Definition (HD), sehingga Anda bisa menikmati hiburan dari layar tersebut,” ungkap salah satu juru bicara Sony. Mobil yang diberi nama SC-1 ini bahkan dinilai sangat cocok untuk dipasangi pemindai wajah, dimana dengan dipasangnya alat pemindai tersebut, akan menampilkan tayangan favorit si pengguna berdasarkan data yang sebelumnya sudah pernah ia masukkan.
Sony sendiri mengaku bahwa pihaknya sudah berkeliling menggunakan SC-1 di sekitaran Okinawa Science and Technology Graduate University College, terhitung sejak bulan September 2017 silam. Mungkin, Sony terinspirasi untuk menciptakan SC-1 dari Mercedes, dimana pada tahun lalu perusahaan manufaktur transportasi asal Jerman ini menampilkan konsep futuristik pada F 015 miliknya.
Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi
Mobil futuristik ini memiliki lantai yang terbuat dari kayu, kursi lounge yang nyaman, hingga layar touchscreen 4K yang bisa Anda temui di seluruh bagian dalam mobil. Tidak menutup kemungkinan juga, Sony akan mengaplikasikan beberapa inovasi yang dilakukan oleh Mercedes ke dalam kendaraan masa depannya itu.
