Kesiapan Armada Menjadi Poin Utama Tingginya OTP Garuda Indonesia di Musim Haji 2017

Walaupun sudah lewat, namun masih ada sepenggal cerita unik tentang musim keberangkatan Haji tahun 2017 kemarin, dimana Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai yang mengangkut para tamu Allah ini, baik dari Indonesia maupun sebaliknya. On Time Performance (OTP), menjadi salah satu sorotan publik karena pada keberangkatan Haji tahun 2017 ini, maskapai plat merah ini meraih hasil yang sangat membanggakan, dengan OTP 98 persen saat berangkat dan 96 persen saat kembali ke Indonesia. Dengan angka tersebut, Garuda Indonesia bahkan sudah melampaui standar OTP global, yaitu 85 persen. Baca Juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik Menurut Hady Syahrean, Vice President SBU Umrah & Hajj Garuda Indonesia mengatakan ada beberapa aspekyang melatarbelakangi prestasi gemilang Garuda dalam memberangkatkan 110 ribu Jemaah Haji tahun ini. “On Time Performance itu sendiri didukung dari kesiapan pesawat, karena keterlambatan pemberangkatan itu kan bisa ditimbulkan dari berbagai permasalahan,” tutur Hady kepada KabarPenumpang.com, Rabu (8/11/2017). Hady mengaku untuk musim pemberangkatan Haji tahun ini, Garuda Indonesia menggunakan 14 pesawat, tiga diantaranya dengan status sewaan. “Boeing 747-400 dua unit, dan Airbus A330-300 satu unit,” pungkas Hady. Adapun rincian total pesawat yang digunakan Garuda adalah tiga pesawat Boeing 747-400, empat pesawat Boeing 777-300ER, dan tujuh pesawat Airbus A330-300. Kembali ke soal OTP, Hady mengatakan bahwa ada sedikit perbedaan antara OTP yang diterapkan di penerbangan regular dan angkutan Haji. “Ketika OTP pemberangkatan Haji di bawah 15 menit masih dikategorikan sebagai tepat waktu, tapi penerbangan regular sudah dikategorikan sebagai delay,” terangnya. Ia menambahkan, delay tersebut umumnya terjadi karena faktor antrian pesawat menuju landas pacu di Arab Saudi. Baca Juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas Tidak hanya dari segi persiapan armadanya saja, Hady juga mengatakan faktor lain yang akhirnya turut mempengaruhi tingkatan OTP yang diterima oleh Garuda. “Sistem bandara di Arab sana juga sudah menggunakan komputerisasi secara keseluruhan, sehingga hal tersebut juga mempengaruhi tingkat OTP kami,” ujarnya. Sebelumnya, Garuda Indonesia melayani penerbangan Haji periode 2017 ini dari sembilan embarkasi di seluruh Indonesia yang terdiri dari embarkasi Banjarmasin (5.510 jemaah), embarkasi Balikpapan (5.746 jemaah), embarkasi Banda Aceh (4.463 jemaah), embarkasi Jakarta (22.790 jemaah), embarkasi Lombok (4.546 jemaah), embarkasi Medan (8.375 jemaah), embarkasi Padang (6.337 jemaah), embarkasi Solo (33.892 jemaah) dan embarkasi Makassar (15.867 jemaah).

Pegangan di Belakang Bus, Pria Rollerblades Ini Melaju 20 Detik

Seorang penumpang di Dublin Irlandia bernama Ciaran Farrelly merekam sebuah kejadian mengejutkan, dimana seorang pria menggunakan rollerblades memegang bagian belakang bus tingkat yang berjalan saat lalu lintas berada di jam sibuk. Hal ini terjadi saat bus dengan nomer 38A berjalan dari pemberhentiannya di O’Connell Street sekitar pukul 05.45 sore hari. Baca juga: Persiapan Musim Salju, Translink ‘Selimuti’ Ban Pada Armada Bus KabarPenumpang.com melansir dari laman independent.ie (12/9/2017), saat itu Ciaran sedang menaiki bus yang ada di belakang Dublin Bus 38A untuk pulang ke rumahnya dan terkejut melihat seorang pemain rollerblades tiba-tiba berpegangan pada bagian belakang bus. Awalnya dia mengatakan, ada dua pemuda yang berada di belakang bus tersebut, namun hanya satu yang bisa meraih bagian belakang bus. “Rasanya saat saya melihat kejadian itu seperti adegan dalam sebuah video game. Orang itu terlihat seperti tidak peduli sekitarnya,” ujar Ciaran. Dia menambahkan, pengemudi bus tersebut saat mengendarai seperti merasakan sesuatu dan membunyikan klakson bus. Insiden self surfing ini diketahui berlangsung selama kurang lebih 20 detik sampai pria tersebut melepaskan bus saat tiba di Spire. Pihak Dublin Bus yang mengetahui kejadian ini telah melaporkan ke An Garda Síochána. “Ini adalah tindakan yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan cidera serius. Sebenarnya, Dublin Bus sudah menghambat orang untuk melakukan perilaku sembrono,” ujar pihak Dublin Bus. Dalam beberapa bulan terakhir ternyata pengemudi Dublin Bus harus menghadapi kenaikan tren baru ini yang dikenal dengan scutting dimana orang-orang berpegangan di bagian belakang kendaraan untuk menunpang. Masalah ini menjadi khusus pada rute Finglas dan Tallaght sejak desain ulang model SG Dublin Bus pada tahun 2014, yang telah memfasilitasi akses ke bagian belakang bus. Beberapa rute Bus Dublin melalui Tallaght, termasuk 77A, 65B dan 27, telah ditangguhkan setelah pukul 6 sore karena meningkatnya perilaku perampokan dan perilaku anti sosial lainnya. Fianna Fáil South Dublin County Councilor, Charlie O’Connor mengatakan bahwa perilaku ini merupakan ancaman serius bagi pelaku, penumpang dan sopir bus. “Scutting adalah tren baru yang mendorong orang untuk berpegangan pada bagian belakang bus. Tidak sulit membayangkan bahaya dan kemungkinan terjadinya kecelakaan serius,” ujar O’Connor melalu sebuah pernyataan. Dia mengatakan, rasa malu yang mengerikan adalah dimana penumpang bus tidak bisa menikmati model baru yang diluncurkan oleh Dublin Bus beberapa bulan terakhir. O’Connor menambahkan, Dublin Bus menyediakan layanan penting untuk masalah yang terjadi jika kekacauan terjadi pada rute bus. Baca juga: Kata Profesor Universitas Oxford, “Jangan Buru-Buru Berikan Kursi Pada Orang Tua di Bus Atau Kereta” Sebenarnya armada Dublin Bus sudah dilengkapi dengan CCT dengan delapan kamera internal dan dua kamera eksternal yang terpasang di kendaraan modern ini. Tak hanya itu, setiap Depo Dublin Bus memiliki anggota staf yang di tunjuk sebagai pemantau dan perawat kamera.

SeatGuru, Aplikasi ‘Pendeteksi’ Tersedianya WiFi dan Stop Kontak di Dalam Penerbangan

Kehadiran WiFi di dalam pesawat dewasa ini sudah dinilai sebagai sebuah kebutuhan, bukan lagi hanya menjadi tolak ukur apakah penerbangan tersebut termasuk mewah atau tidak. Seperti maskapai Garuda Indonesia yang sudah meluncurkan layanan WiFi onboard yang dapat dirasakan oleh penumpang first class di Boeing 777-300ER. Lalu, bisakah kita mengetahui penerbangan mana saja yang menyediakan layanan WiFi onboard dan stop kontak untuk men-charger ponsel atau laptop? Baca Juga: Duh, Ahli Komputer Temukan Masalah Keamanan di WiFi Onboard! Sebelumnya, sebagaimana informasi yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman howtogeek.com, Anda dapat mengetahui apakah sebuah penerbangan memiliki layanan WiFi onboard atau tidak dari gerai pembelian tiket. Misalnya Anda membeli tiket via TripAdvisor, akan ada informasi tambahan jika di dalam penerbangan tersebut menyediakan layanan WiFi atau ketersediaan stop kontak. Tapi jangan sumringah terlebih dahulu, karena pemasangan informasi tersebut merupakan salah satu strategi marketing yang dijalankan oleh pihak maskapai untuk menarik lebih banyak penumpang. Maksudnya, penerbangan tersebut memang menawarkan layanan WiFi onboard dan  stop kontak yang dapat Anda gunakan untuk mengisi ulang daya gadget Anda, tapi ketersediaannya tidak menyeluruh. Sebut saja Garuda Indonesia yang menawarkan layanan WiFi onboard gratis khusus di first class-nya saja. Nah, untuk mengecek apakah penerbangan Anda menyediakan fasilitas di atas, sebuah aplikasi bernama “SeatGuru” dapat membantu Anda untuk menggali informasi tersebut. Selama Anda mengetahui nomor penerbangan dan maskapai yang akan Anda gunakan, maka informasi mengenai ketersediaan layanan di atas akan Anda dapatkan. Tidak hanya itu, dari aplikasi ini juga Anda dapat memperkirakan jumlah biaya yang harus dibayar. Kelebihan lain dari SeatGuru adalah tampilan pemetaan visual yang akan memudahkan Anda untuk melihat di titik mana saja stop kontak itu berada. Walaupun kehadiran stop kontak kerap kali digantikan dengan lubang USB yang bisa Anda gunakan untuk mengisi ulang daya gadget Anda, namun fasilitas ini tentunya akan menambah tingkat kenyamanan perjalanan Anda, karena tidak perlu khawatir lagi gadget Anda habis baterai. Baca Juga: Sejumlah Masalah Hadang Penerapan WiFi Onboard di Kereta? Ini Dia Jawabannya! SeatGuru diluncurkan oleh TripAdvisor, selain dapat diakses dari halaman web seatguru.com, aplikasi ini dapat diunduh secara gratis di iTunes App Store dan Google Play Store. Jelas kekuatan aplikasi SeatGuru adalah database yang tersimpan di dalamnya.  

Benny S Butarbutar – Meski Jadi Orang Airlines, Profesi Wartawan Tetap di Hati

Namanya terbilang sering dimuat dalam pemberitaan seputar dunia penerbangan nasional, inilah Benny Siga Butarbutar, Vice President Corporate Communication PT Citilink Indonesia, yang sebelumnya juga pernah menempati posisi yang sama di maskapai Garuda Indonesia. Pribadinya yang ramah dan mudah bergaul dengan awak media menjadikan sosok Benny incaran bagi pemburu berita. Siapa sangka ternyata awal karirnya justru karena tak sengaja masuk dalam dunia Humas atau biasa disebut Public relation (PR). Baca juga: Soerjanto Tjahjono – “Ilmu Yang Diterapkan Langsung, Jadi Kunci Kesuksesan Kinerja di KNKT” Selepas lulus dari Universitas Indonesia, Benny meniti karir dari seorang wartawan di Kantor Berita Antara dan memulai penugasan pertamanya di desk kriminal. Masuk Antara sebagai wartawan pemula di tahun 1992 hingga puncaknya pada tahun 2014 saat dirinya menduduki posisi Manager Pemberitaan Internasional. Selama di Antara, Benny sudah kenyang asam garam dalam peliputan, mulai dari meliput Perang Bosnia, peliputan di Timor Leste, dan kemudian dipercaya ke Jepang dari tahun 2006-2008 untuk menjabat sebagai Kepala Biro Antara di Tokyo. Baginya, pencapaian terbaik selama menjadi wartawan saat dirinya bisa mewawancarai seorang kepala negara ditempat dirinya bertugas. “Saya pernah mewawancarai Perdana Menteri Jepang tahun 2007 saat menjadi Kepala Biro Antara di Tokyo. Saat itu PM nya adalah Fukuda,” ujar Benny yang ditemui KabarPenumpang.com (7/11/2017). Dia mengatakan, sebutan wartawan tak akan lepas dari dirinya, dimanapun berada walau sudah tak lagi meliput, bisa dikatakan kemampuan jurnalistik adalah passion tersendiri. Kala menjadi wartawan pemula, penugasan di desk kriminal adalah tempaan yang pernah dilupakan. “Senior saya pernah bilang, kamu harus bangga ditugaskan di desk kriminal, soalnya desk ini bisa mengajarkan banyak hal,” ungkap Benny dengan bangga kepada KabarPenumpang.com. Selama menjalani aktivitas sebagai jurnalis di Antara, selama tujuh tahun dari 2010 Benny juga mengajar di salah satu universitas swasta nasional. Tahun 2014 menjadi momen penting karirnya, kala itu Benny di tarik ke Citilink setelah menyatakan pensiun dini dari Antara. Kemudian pada 2015-2017 dirinya ditarik ke Garuda Indonesia dan sejak Mei 2017 kembali ke Citilink yang telah membesarkan namanya. Menjadi seorang VP Corporate Communication sebenarnya tidak ada dalam impian Benny sejak awal. “Saya ini tipikal setia dalam satu bidang, sebenarnya peluang saya untuk berkarir maksimal di dunia jurnalistik terbuka pada tahun 2000, saat mengajar dan banyak peruahaan yang meminta untuk bergabung.” Namun setelah bergabung di Citilink, dirinya sadar untuk berbagi tentang dunia media ke lingkungan corporate communication, baik di Garuda Indonesia maupun Citilink. Menurutnya media adalah tempat untuk merealisasikan sebuah berita dan juga bisa menjadi partner yang baik dalam sebuah pemberitaan. “Bekerja di sini tuntutan memang lebih tinggi dan cepat terlihat apalagi bila lambat dalam merespon, dampaknya ke bisnis bisa lebih cepat,” ujarnya. Baca juga: Menanti Putusan Kenaikan Tarif Batas Bawah, Citilink Bersiap Meningkatkan Pelayanan Ayah dari dua anak perempuan ini tak pernah merasa berada diatas, melainkan tetap menyamakan dirinya dengan yang lain. Pria kelahiran Jakarta, 10 Juli 1968 ini juga menegaskan passion terbesarnya adalah menjadi wartawan yang menulis segala hal. Dia berpesan bagi wartawan untuk terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai seminar, sebab dengan ikut banyak seminar pengetahuan akan terus bertambah. “Sebagai seorang wartawan harus memiliki pengetahuan luas dan saya punya prinsip BMW yakni Bergaul, Membaca dan Wisata. Dari tiga hal ini semua ilmu bisa didapatkan. Saya masih mau tetap jadi wartawan, tapi kawan-kawan di airline kadang bilang itu tak akan bisa, karena industri ini (penerbangan – red) punya magnet yang tinggi dan memang betul,” ungkap Benny.

Unik Tapi Berbahaya, Pemuda Ini Gunakan Rel Aktif Untuk Isi Ulang Baterai Ponsel

Terdengar nyeleneh namun cukup masuk akal, ketika rel kereta api dijadikan sebagai media untuk mengisi ulang daya ponsel Anda. Walaupun terdengar ekstrim, tapi setidaknya ini membuktikan bahwa jalur rel kereta api dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengoperasian kereta itu sendiri. Lalu, bagaimana caranya untuk mengisi daya ponsel tersebut di rel kereta api yang masih aktif? Baca Juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api Sebelum membahasnya lebih jauh, rel kereta aktif memiliki voltase listrik rendah yang dihasilkan oleh gesekan ban kereta dengan rel itu sendiri. Pemikiran sederhana itulah yang akhirnya menjadi dasar terciptanya ide gila pengisian daya listrik di rel kereta aktif. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman popularmechanics.com, sebuah video yang diunggah oleh pengguna akun YouTube bernama Kreosan menunjukkan bahwa benar adanya rel kereta dapat dijadikan media untuk mengisi ulang daya ponsel Anda.
Tegangan yang dihasilkan oleh rel tersebut tidaklah konstan dan sama sekali tidak cocok untuk mengisi ulang daya baterai ponsel Anda. Hal tersebut dibuktikan oleh seorang pemuda pada awal video, dimana ia mengukur arus listrik dengan menggunakan voltmeter. Angka yang ditunjukkan oleh voltmeter tersebut hanya berkisar antara 0 hingga 2,5 volt saja, itu pun tidak stabil. Maka dari itu, diperlukan perangkat tambahan yang dapat menstabilkan aliran listrik sehingga dapat memaksimalkan pasokan daya yang masuk ke ponsel Anda. Bagian dalam speaker digunakan sebagai penyearah aliran listrik sehingga daya yang dikeluarkan untuk mengisi baterai Anda pun menjadi lebih stabil. Dalam video berdurasi tiga menit tersebut, terlihat getaran speaker yang dihasilkan oleh arus listrik di rel dapat menyalakan bohlam lampu secara berkala dengan tingkat keterangan yang stabil. Tidak hanya speaker, sebuah komponen listrik lainnya juga dipasangkan untuk lebih menstabilkan aliran listrik yang masuk. Dan benar saja, ketika kabel charger dicolokkan, secara otomatis daya di ponsel Anda mulai terisi. Baca Juga: Duh! Orang-orang ini Tewas Karena Selfie di Rel Kereta Walaupun Anda punya sejuta alasan untuk tidak mengisi ulang daya ponsel di rel kereta aktif, tapi alasan keselamatan tetaplah berada di garda depan. Lagi pula beragam inovasi sudah dihadirkan untuk memudahkan kehidupan Anda. Tentu saja Anda tidak dianjurkan untuk melakukan hal gila ini karena akan membahayakan nyawa Anda sendiri. Terlepas dari semua alasan tadi, di Indonesia sendiri sudah ada yang terlebih dahulu memanfaatkan arus listrik di rel kereta sebagai media pengobatan alternatif.

Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab

Kedatangan pesawat Airbus A380 ke-100 milik maskapai yang ber-homebase di Dubai ini disambut oleh CEO dan President Emirates Airlines HH Sheik Ahmed bin Saeed Al-Maktoum dan Sir Tim Clark pada 12 September lalu. Kedatangan pesawat A380 juga menandakan sudah sepuluh tahun sejak Emirates mulai menerbangkan pesawat andalannya ini. Baca juga: 32 Tahun Mengangkasa, Inilah Kaleidoskop Emirates KabarPenumpang.com merangkum dari paddleyourownkanoo.com (3/11/2017), Sheik Ahmed berkomitmen bahwa Emirates tetap akan menggunakan Airbus A380. Diketahui komentar ini mengikuti spekulasi dimana Airbus mungkin akan menghentikan super jumbo karena sedikitnya pembelian dari maskapai lain. Sir Tim Clark mengatakan selain memiliki Airbus A380, pihaknya juga tertarik jika Airbus mengembangkan versi Neo yang sudah ada saat ini. Sementara itu, Airbus sendiri sudah siap untuk melakukan proyek tersebut dengan merancang ulang aspek pesawat agar lebih hemat bahan bakar. Dubai AirShow yang akan diadakan di Uni Emirat Arab akhir November 2017 ini, Sheikh Ahmed mengatakan akan mengumumkan sebuah hal baru untuk Airbus A380-nya. Dimana Airbus terbaru yang dimiliki Emirates ini didukung dengan empat mesin Rolls Royce Trent 900 dengan lounge onboard ikonik. Airbus A380 ke-100 ini nantinya memiliki 14 suite kelas satu yang pernah memenangkan penghargaan desain internasional dan 76 kursi kelas bisnis yang tersebar di kabin atas. Sedangkan kabin utama diisi dengan 436 kursi kelas ekonomi. Ada yang unik dari Airbus A380 ke-100 yang dimiliki Emirates ini, yakni akan dibalut livery pesawat dengan gambar Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, presiden pertama Uni Emirat Arab. “Ini adalah saat yang luar biasa bagi Emirates, Airbus dan banyak mitra kami yang terlibat dalam program A380,” ujar Sheikh Ahmed. Baca juga: Lebih Mewah dan Super Mahal, Singapore Airlines Sulap Suite Kelas Satu di Airbus A380 Dia mengklaim bahwa keterlibatan Emirates dalam proyek ini telah mengamankan pekerjaan ribuan orang di seluruh dunia dan memberikan konstribusi signifikan terhadap ekonomi negara-negara dimana pesawat ini mengudara. “Tidak ada keraguan bahwa A380 memiliki dampak positif yang besar pada manufaktur kedirgantaraan dan industri penerbangan yang lebih luas, mendukung ratusan ribu pekerja serta menstimulasi inovasi dan pengembangan produk baru,” ujarnya. Awalnya Airbus A380 dirancang untuk memenuhi kebutuhan maskapai penerbangan yang berkembang pesat untuk masuk ke bandara slot constrined seperti London Heathrow dan New York JFK. Namun Sheikh Ahmed mengatakan, bahwa pesawat tersebut menstimulasi pertumbuhan penumpang di bandara sekunder seperti Manchester bahkan di Mauritius. Emirates menerima Airbus A380 nya pada tahun 2008 lalu dan menjadi pesawat komersial pertama yang memiliki shower di kabin serta memperkenalkan kembali konsep bar dan lounge di pesawat terbang. Hingga kini dari sejak diperkenalkan, sudah lebih dari 85 juta penumpang telah terbang bersama A380 Emirates.

Jika Terjadi Perkelahian di Kabin, Pilot Bisa Berlakukan Prosedur Pendaratan Darurat

Pada 3 November 2017, pesawat Boeing 777 United Airlines dengan nomer UA808 yang membawa 212 penumpang belum lama lepas landas dari Beijing menuju Washington Dulles, namun dalam kondisi ‘darurat’ pesawat harus kembali ke Beijing Capital International Airport pada pukul 19.00 waktu setempat setelah tiga jam mengudara. Kembalinya pesawat United Airlines tersebut nyatanya bukan disebabkan karena masalah teknis pada pesawat, pangkal musababnya justru lantaran terjadi pertengkaran di dalam kabin. Baca juga: Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat KabarPenumpang.com melansir dari laman wjla.com (5/11/2017), adanya pertengkaran sebenarnya sudah ditenangkan oleh awak kabin. Namun, keduanya menolak untuk tenang dan akhirnya awak kabin mengeluarkan peringatan tingkat ancaman dua, dimana kasus ini melibatkan pemukulan dan awak kabin menyatakan gagal mengatasi situasi. “Penerbangan dengan nomor UA808 dari Beijing ke Washington Dulles dan kembali ke Beijing setelah seorang penumpang memulai pertengkaran dengan awak kabin yang menyebabkan masalah keamanan,” ujar Direktur Komunikasi United Airlines, Frank Benanti, melalui sebuah email. Dia mengatakan, penumpang yang membuat masalah tersebut kemudian saat diturunkan sudah langsung ditunggu pihak kepolisian untuk mengamankannya di pintu pesawat dan penumpang tersebut bersedia diamankan tanpa ada perlawanan. Namun, tidak diketahui apakah penumpang tersebut diinterogasi atau ditahan pihak kepolisian setempat. Sedangkan penumpang lainnya diberi akomodasi hotel dan voucher makan serta diterbangkan kembali ke Washington pada keesokan harinya. Kejadian yang sama seperti ini pernah terjadi di maskapai berbiaya rendah asal Singapura, Scoot pada 2014 lalu. Suami istri yang menjadi penumpang di dalamnya bertengkar. Hal ini akhirnya membuat pesawat tersebut terpaksa mendarat darurat di Bali. Baca juga: Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa? Pertengkaran ini terjadi di pesawat dengan nomor penerbangan TZ1 yang berangkat dari Sydney, Australia menuju Singapura. Perkelahian antara suami istri ini sangat sengit dan membuat tulang lengan sang istri cedera parah dan sang suami juga terluka lumayan serius. Akibat kejadian tersebut, pilot Scoot mengambil keputusan untuk mendaratkan pesawat darurat di Bali. Akibatnya pesawat Scoot tiba di Singapura dua jam lebih lambat yang seharusnya tiba di Singapura pukul 18.50 menjadi 20.50 waktu setempat.

Menanti Putusan Kenaikan Tarif Batas Bawah, Citilink Bersiap Meningkatkan Pelayanan

Sebagai salah satu penyedia layanan jasa di sektor penerbangan berbiaya rendah (LCC), Citilink Indonesia mengaku satu suara terhadap rencana penerapan tarif batas atas dan bawah yang diajukan oleh Indonesian National Air Carriers Association (INACA). Penerapan tarif batas bawah ini sendiri nantinya akan berimbas pada kenaikan tarif penerbangan di kelas ekonomi. Baca Juga: Rangkul Bank Mandiri, Citilink Indonesia Luncurkan E-Money Untuk Segala Transaksi. Efektifkah? Vice President Corporate Communication Citilink, Benny S. Butarbutar mengatakan bahwa penerapan tarif batas bawah ini memiliki latar belakangnya sendiri. “Kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam penerapan tarif batas bawah adalah untuk menjaga ‘iklim’ penerbangan sendiri dalam kondisi kondusif,” ujar Benny kepada KabarPenumpang.com, Selasa (7/11/2017). “Tekanan ekonomi global mempengaruhi perkembangan lanjutan dari industri aviasi sendiri,” imbuhnya. Sebut saja melambungnya harga avtur menjadi salah satu alasan INACA mengajukan penerapan tarif batas bawah. “Ini akan membantu agar pihak maskapai punya nafas untuk menjaga bisnisnya, standar safe nya sudah pasti dijaga,” tutur Benny. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa industri penerbangan termasuk salah satu lahan bisnis yang rumit, maka dari itu pihak Citilink berharap agar pemerintah dapat segera memutuskan putusan soal pemberlakuan tarif batas bawah ini. “Mungkin mulai diberlakukan awal tahun 2018 mendatang, seperti kado tahun baru buat maskapai,” tukasnya. “Jika penumpang (demand) naik, dan pihak maskapai bisa meningkatkan efisiensi, maka itu sudah menunjukkan sebuah nilai yang sangat bagus … Daripada kita mesti perang tarif melulu dengan operator lain, nantinya yang dirugikan juga penumpang, dimana imbasnya juga akan berujung ke penyedia jasa lain,” terang Benny menanggapi pernyataan bahwa dunia penerbangan merupakan industri yang sangat sensitif. Benny yakin bahwa pemerintah juga tidak akan lepas tangan dalam industri penerbangan, mengingat keruntuhan dunia aviasi akan menjadi momok yang menakutkan jika pemerintah tidak turun tangan. Dari segi penumpang sendiri, penetapan tarif batas bawah ini akan berimbas pada naiknya harga tiket. Menanggapi hal tersebut, Benny mengatakan kenaikan tarif tersebut nantinya akan diikuti dengan penambahan pelayanan, baik selama penerbangan maupun ketika di darat. “Tentu akan ada peningkatan pelayanan dan kemudahan yang kami layangkan untuk para penumpang. Kami sedang mengusahakan untuk mengadakan fasilitas WiFi onboard yang bisa dinikmati penumpang selama dalam perjalanan.” Tutup Benny. Baca Juga: Citilink Indonesia Buka Rute Bandara Halim Perdanakusuma – Silangit Dilansir dari sumber lain, penetapan tarif batas atas dan bawah tiket pesawat masih diatur dalam Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas Dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga berjadwal Dalam Negeri. Tarif batas atas pada tiket pesawat kelas ekonomi ini sendiri dihitung berdasarkan komponen tarif jarak. Sementara itu untuk penetapan tarif batas bawah serendah-rendahnya 30 persen dari batas atas sesuai dengan kelompok pelayanan yang diberikan. Sementara usulan yang diajukan INACA kepada pemerintah adalah kenaikan tarif batas bawah sebesar 10 persen.

Inilah Alasan Mengapa Tiket Penerbangan Langsung Jarak Jauh Lebih Mahal

Mana yang lebih murah antara penerbangan langsung (direct flight) dan penerbangan tak langsung (transit)? Ini biasanya pertanyaan yang kerap dilontarkan dari para calon penumpang pesawat yang memilih bepergian hemat dengan rute jarak jauh. Sebenarnya itu adalah pertanyaan klasik, dimana jawaban sederhananya merujuk antar hukum penawaran dan permintaan. Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London Dimana jika sebuah permintaan banyak maka penawaran harga akan menyesuaikan dan sebaliknya jika permintaan sedikit maka penawaran harga akan bisa melambung tinggi. KabarPenumpang.com melansir dari smartertravel.com, rute penerbangan langsung seperti judi, sebab maskapai harus memiliki permintaan pasar yang konsisten untuk melakukan perjalanan di rute yang tepat. Ini biasanya tidak ada masalah pada penerbangan jarak jauh yang memiliki rute lintas negara dengan tujuan kota-kota besar. Namun bagaimanan jadinya jika rute yang dibuka bukanlah rute jalur kota besar melainkan ke kota kecil? Pastinya biaya akan semakin mahal dan beragam risiko yang harus diperhitungkan. Biasanya pemecahan masalahnya adalah dengan membuka rute penerbangan transit untuk menghubungkan kota besar ke kota kecil dan kemudian berganti pesawat. Bagi pihak maskapai, secara teoritis penerbangan tidak langsung merupakan sistem yang lebih murah dan dapat diandalkan karena menghindari risiko rute direct flight dengan permintaan yang tidak bisa selalu diandalkan. Jika dilihat dari sudut pandang penumpang, teori penawaran dan permintaan adalah masalah kenyamanan yang sederhana dan maskapai penerbangan tahu hal ini dengan jelas. Dari aspek layanan, penerbangan langsung jarak jauh umumnya dilayani oleh maskapai full service, artinya ada beban biaya layanan yang telah mengacu pada suatu standar internasional. Baca juga: United Airlines Buka Rute Direct Flight Terjauh, Los Angeles – Singapura Pada penerbangan langsung setiap maskapai menggunakan pesawat berbadan lebar. Sebab bukan hanya bisa mengangkut penumpang dengan jumlah banyak, tetapi mampu menampung bahan bakar yang cukup juga dalam sekali penerbangan. Sementara benefit yang ditawarkan untuk penumpang layanan direct flight adalah bisa mengurangi waktu tiba dan tidak rentan pada masalah penundaan atau disfungsi. Selain itu pesawat yang lebih besar cenderung lebih nyaman dan memiliki fasilitas yang lebih baik dibandingkan jet regional yang kebanyakan menggunakan kelas narrow body dengan luas kabin yang terbatas. Dengan penerbangan langsung, penumpang akan mendapat ketenangan pikiran dan kesempatan tiba tepat waktu dengan barang bawaan yang tak harus berpindah-pindah di bandara transit. Sampai saat ini ada beberapa maskapai yang melakukan penerbangan langsung jarak jauh dengan layanan penuh seperti Emirates, Qantas, Qatar, Singapore Airlines dan baru-baru ini Garuda Indonesia. Garuda Indonesia menggunakan pesawat Boeing 777-300ER nya baru saja membuka rute penerbangan Jakarta ke Inggris. Sebenarnya dalam beberapa kasus pun penerbangan transit bukanlah sebuah ketidaknyamanan, melainkan juga memiliki nilai plus dimana jika singgah di suatu hub lebih lama, penumpang bisa berkeliling di area mall bandara. Sebagai gambaran, perbedaan tarif antara penerbangan langsung dan transit diketahui memiliki rentang yang cukup jauh, dimana rute direct flight bisa dikenakan ongkos tarif lebih tinggi US$60-US$150 dibandingkan rute transit.

Hong Kong Segera Realisasikan Tekonologi Pengenalan Wajah di Bandara

Bandara Chek Lap Kok adalah nama lain dari Bandara Internasional Hong Kong atau Hong Kong Intenational Airports. Otoritas bandara ini berencana memperkenalkan teknologi baru untuk pengenalan wajah di bandara ini. Diperkirakan tekologi pengenalan wajah akan hadir sebelum akhir tahun 2018 mendatang. Adanya pengenalan wajah ini sebenarnya untuk memudahkan para pelancong yang melalui HKIA agar tidak perlu repot mengeluarkan paspor di beberapa pos pemeriksaan bandara. Baca juga: Bandara Internasional Hong Kong Sabet Predikat “Bintang Lima” dari Skytrax KabarPenumpang.com melansir thestandard.com.hk (3/10/2017), sebelum ada teknologi pengenalan wajah ini, pelancong harus melewati tiga kali pemeriksaan di HKIA. Pertama di konter check in maskapai, kemudian di area pintu masuk terbatas sebelum ruang tunggu dan terakhir di gerbang sebelum menaiki pesawat. Nantinya jika sudah terealisasi mesin pengenalan wajah ini, pengecekan paspor hanya akan dilakukan satu kali yakni di konter check in. Kemudian di konter chek in, para pelancong akan diambil fotonya dan bisa melalui pos kedua di area terbatas dan gerbang keberangkatan tanpa perlu mengeluarkan paspor lagi. Rencananya, mesin pengenalan wajah merupakan salah satu penyempurnaan yang diumumkan oleh chief executive otoritas red Lam Tin Fuk pada konferensi dan pameran teknik Internasional Hong Kong yang ketiga. Dalam memperkenalkan teknologi pengenalan wajah ini, pihak otoritas mengatakan, bahwa akan mengerjaan lima aspek termasuk penggunaan data yang besar dan robot untuk memfasilitasi Smart Airport dalam sepuluh tahun kedepan. “Awal tahun depan, kami akan membangun kemampuan real time dalam analisis penumpang dan manajemen hubungan pelanggan. Kami juga akan menggunakan analisis data untuk meningkatkan kemampuan prediksi kami untuk beberapa sistem kami, seperti pemacu rel otomatis orang-orang penggerak, dan sistem penanganan bagasi,” kata Lam. Pihak otoritas bandara juga mengatakan, peningkatan pengenalan wajah ini akan hadir pada bulan depan. Dalam menggunakan pengenalan wajah ini, adalah yang pertama digunakan oleh otoritas bandara tetapi teknologi ini sudah digunakan oleh bagian imigrasi bandara. Awal bulan November ini, departemen imigrasi meluncurkan Smart Depature di bandara untuk turis asing yang mengunjungi Hong Kong. Nantinya setelah datang, para pelancong akan dipotret di pos pemeriksaan imigrasi. Setelah melalui pemeriksaan di imigrasi pelancong bisa memindai paspor mereka di jalur e-Learning Smart Enabled dan memiliki potret lain yang di ambil untuk perbandingan di banding tanpa harus ke pos pemeriksaan manual. Ini akan mengurangi keterlambatan 30 detik saat keberangkatan. Baca juga: Rancang Ruang Bagasi Unik, Kelompok Mahasiswa Hong Kong Raih Penghargaan dari Airbus Sayangnya sistem ini hanya tersedia bagi pelancong asing dari sekitar 70 negara dan bukan Hongkongers atau mereka yang bepergian dengan dokumen perjalanan darat. Pada konferensi, sekitar 30 perusahaaan memamerkan inovasi terbarunya termasuk demonstarasi menggunakan teknologi realitas yang meningkat dalam desain bangungan dan pemeliharaan bandara. Peserta pameran mengatakan bahwa pihaknya sedang mengerjakan kacamata yang akan menggabungkan teknologi pengenalan wajah. Sedangkan peserta lain mengatakan sedang merancang sebuah robot yang akan membawa belanjaan penumpang di toko bebas bea ke gerbang keberangkatan.