Kondisi Trotoar Buruk Jadi Penyebab Warga Jakarta ‘Malas’ Berjalan Kaki

Sebuah riset dari Stanford University yang dimuat di The New York Times menyebutkan bahwa Indonesia termasuk dalam 46 negara dengan jumlah rata-rata langkah kaki paling sedikit dari 111 negara yang diteliti. Orang Indonesia rata-rata hanya berjalan sebanyak 3.513 langkah kaki per hari. Jumlah tersebut jauh jika dibandingkan dengan Hong Kong yang penduduknya rata-rata berjalan 6.880 langkah per hari atau Cina dengan rata-rata 6.189 langkah per hari. Baca Juga: Shibuya Crossing, Fenomena Perlintasan Padat Manusia Bebas Senggolan Riset tersebut melacak 717.000 orang dari 111 negara di seluruh dunia, yang secara sukarela memantau 68 juta aktifitas setiap orang menggunakan sebuah aplikasi yang terpasang di smartphone dan jam tangan mereka. Tentu saja jam tangan tersebut merupakan rancangan khusus para peneliti Stanford. Seorang peneliti mengungkapkan bahwa ini merupakan studi pelacakan terbesar yang pernah ada. Hasil riset diatas terdengar ironis, namun jangan melulu menyalahkan warga Indonnesia yang terkesan ‘malas’berjalan kaki. Terkhusus di Jakarta, meski belakangan sudah dilakukan upayan perbaikan serta pelebaran trotoar secara masif, namun kondisi trotoar di Jakarta secara umum masih dalam kondisi buruk. Bagaimana tidak, seolah sudah menjadi lumrah ketika banyak motor yang menggunakan trotoar sebagai akses jalan mereka ketika kondisi sedang macet, belum lagi kendaraan roda empat yang menjadikan trotoar sebagai lahan parkir dadakan mereka. Fenomena seperti ini tentu semakin menyita hak para pejalan kaki. Pemanfaatan akses trotoar yang salah, dengan menjadi area parkir dan lintasan pemotor, secara langsung juga berimbas pada cepat rusaknya permukaan trotoar. Tak perlu sampai ke wilayah pinggiran, di pusat kota pun jamak terlihat ubin dan semen trotoar yang mulai lepas. Lebih parah lagi, adanya galian proyek kabel optik yang tumpang tindih memaksa pejalan kaki menggunakan badan jalan untuk menghindarinya. Tentu kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan fitur kota yang sudah serba modern. Malasnya warga Jakarta berjalan kaki juga disebabkan teriknya panas di Ibu Kota, serta sedikitnya pepohonan yang ada di tengah kota, itu semakin membuat para pedestrian enggan berjalan kaki. “Saya merasa sangat tidak nyaman menggunakan trotoar di Jakarta. Trotoar di sini sangat mengerikan, berbeda dengan di luar negeri yang memiliki trotoar yang luas, sehingga kami merasa lebih aman,” ujar Devi Spetiani (27 tahun), karyawati swasta yang berkantor di kawasan Jatinegara, Jakarta Selatan. Baca Juga: Lawan Polusi, Kenali Beragam Pilihan Masker Pemangku kebijakan untungnya tak tinggal diam, Pemprov DKI Jakarta mencanangkan Bulan Patuh Trotoar sebagai cara untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki. Selain itu, upaya revitalisasi trotoar terus digalakkan. Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembangunan trotoar sepanjang 2.600 km untuk seluruh wilayah kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Jakarta akan membangun trotoar yang ideal, lengkap dengan boks utilitas berukuran 1,2 meter x 1,8 meter dengan kedalaman 2,3 meter. Dari total 2.600 kilometer jalan di Jakarta, dan baru 2,6 persen trotoar yang diperbaiki pada 2016. Untuk itu, Dinas Bina Marga DKI Jakarta menyiapkan anggaran sebesar Rp412 miliar pada 2017 untuk menyelesaikan perbaikan tersebut. Pemprov DKI juga akan menggunakan dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) selain dana APBD untuk mewujudkan trotoar yang nyaman bagi warga Jakarta. Lepas dari itu, penegakan hukum (law enforcement) juga harus diterapkan dengan tegas untuk menjaga penggunaan trotoar. Aksi tilang langsung oleh Polisi untuk pengendara motor yang nekad melintasi trotoar harus diapresiasi dan didukung penuh, sembari menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov untuk melakukan upaya perbaikan pada ribuan kilometer trotoar di DKI Jakarta.

Jamnalal Bajaj, Sang Pendiri Bajaj Yang Terlahir dari Keluarga Marjinal

Siapa yang tidak kenal Bajaj? Salah sarana transportasi yang sudah menjadi identitas Jakarta ini masih sering kita temui berkeliaran di jalan-jalan di Ibu Kota. Moda transportasi yang namanya semakin melambung sejak diangkat menjadi salah satu sitkom di TV swasta ini masih memiliki banyak peminat. Meski telah menjadi ikon transportasi Jakarta, publik pun sudah mahfum bahwa Bajaj aslinya bukan dari Indonesia, melainkan dari India. Baca Juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India Layaknya perusahaan besar lain yang mencantumkan nama sang pendiri sebagai nama dari produk yang mereka produksi, seperti Ford yang didirikan oleh Henry Ford, Bajaj Group pun diambil dari nama pendirinya, yaitu Jamnalal Bajaj. Jadi, nama Bajaj sendiri sudah mengalami pergeseran makna ketika mereka pertama kali masuk ke Indonesia pada periode tahun 70-an. Selain dikenal sebagai founder dari Bajaj Auto, Jamnalal yang lahir pada 4 November 1889 ini dikenal juga sebagai seorang industrialis dan salah satu pejuang kemerdekaan India. Berdasarkan catatan sejarah, Jamnalal terlahir dari pasangan Kaniram dan Birdibai di sebuah desa kecil bernama Kashi Ka Bas, Rajasthan. Anak ketiga dari pasangan tersebut diketahui sebagai rekan dekat dan pengikut dari ajaran Mahatma Gandhi. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya lalu mendorong Gandhi untuk mengadopsinya sebagai anak. Di usianya yang menginjak 37 tahun, Jamnalal lalu mendirikan perusahaan bernama Bajaj Group yang di dalamnya terdiri dari beberapa perusahaan, seperti Mukand Ltd., Bajaj Electricals Ltd., dan Bajaj Hindusthan Ltd. Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman Wikipedia.com, hingga kini Bajaj Group memiliki total 24 perusahaan, dimana enam diantaranya masuk dalam jajaran perusahaan yang terdaftar. Sementara itu, salah satu perusahaan yang  tergabung dalam Bajaj Group, yaitu Bajaj Auto kini dijalankan oleh salah satu cucu dari Jamnalal, Rahul Bajaj. Sayangnya, hanya 16 tahun Jamnalal bisa merasakan kejayaan dari perusahaan yang ia dirikan, karena pada 11 Februari 1942, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Di Jakarta sendiri, bajaj mulai beroperasi di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Tepatnya pada tahun 1975, Bajaj dengan mesin dua tak mulai diimpor dari India dan dititahkan untuk beroperasi di Ibu Kota untuk menggantikan peran dari becak yang dianggap sudah tidak kompeten untuk mengatasi masalah kemacetan yang ada. Selain itu, Ali Sadikin juga bertujuan untuk memodernisasi Jakarta dengan menghadirkan moda beroda tiga ini. Secara keseluruhan, Bajaj di Jakarta terbagi menjadi dua jenis, yaitu Bajaj berwarna orange dan biru. Bajaj berwarna orange bisa dibilang sebagai generasi pertama moda ini, dimana masih menggunakan bensin dua tak sebagi bahan bakarnya. Sedangkan Bajaj berwarna biru merupakan bentuk peremajaan dari bajaj orange, dimana moda ini sudah menggunakan bahan bakar gas sebagai tenaga penggeraknya. Baca Juga: Bemo Tereliminasi, Bajaj Qute Jadi Solusi Kecepatan normal Bajaj adalah 40 km per jam dengan kecepatan maksimal mencapai 70 km per jam. Sebagai informasi tambahan, pada tahun 2005 silam, pernah dimunculkan kendaraan bernama Kancil untuk menggantikan bajaj namun tidak terlalu populer di masyarakat. Tercatat hingga Oktober 2014, ada sekitar  14.000 unit bajaj yang beroperasi di Jakarta dengan 8.000 unit di antaranya adalah bajaj orange. Ternyata, tidak hanya di Indonesia, beberapa negara lain di berbagai belahan dunia juga menggunakan bajaj sebagai salah satu moda transportasinya, tentu saja dengan nama sebutannya masing-masing. Sebut saja Thailand, Peru, Sri Lanka, Ethiopia, India, Tiongkok, Kuba, hingga Inggris diketahui juga mengoperasikan kendaraan ini.

Ternyata, Delman Diciptakan Oleh Ahli Irigasi Asal Belanda

“Pada hari Minggu ku turut Ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya…”. Tentu Anda semua tidak asing lagi dengan penggalan lagu anak-anak tersebut. Ya, lagu dengan judul Naik Delman karangan Ibu Kasur ini seolah sudah menjadi ikon lagu anak-anak, dari dulu hingga sekarang. Tidak hanya lagu Naik Delman, beberapa lagu anak-anak lainnya juga secara tidak langsung memperkenalkan dunia transportasi kepada mereka sejak usia dini, seperti Naik Kereta Api dan Naik Becak. Di Indonesia sendiri, Delman sudah masuk ke dalam jajaran moda transportasi tradisional yang eksistensinya kini mulai tergusur oleh perkembangan jaman. Sudah mulai agak sulit untuk menemukan delman di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta. Untuk soal penamaan, banyak orang dari berbagai daerah memiliki sebutan masing-masing untuk moda transportasi ini, seperti Andong, Dokar, Sado, hingga Bendi. Tidak sedikit juga orang yang menganggap kalau Delman dan semua penamaan tersebut merujuk kepada satu titik, yaitu sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kuda. Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho! Namun semua persepsi tersebut salah, ternyata Delman dan semua penamaan tersebut tidaklah sama. Delman merupakan sebuah gerobak yang ditarik oleh kuda dan memiliki dua roda (1 sumbu putar), sedangkan Andong memiliki empat roda (2 sumbu putar). Jika ditarik mundur ke belakang, Forbes pernah menyewa delman untuk menempuh perjalanan dari Bogor menuju Bandung pada tahun 1885. Perjalanan yang menghabiskan waktu 13 jam tersebut dibanderol dengan harga 16 gulden, atau jika dikonversikan sesuai dengan kurs sekarang setara dengan Rp 119.000.
Delman Jaman Sekarang. Sumber: istimewa
Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya penggunaan nama Delman ini sendiri merupakan bentuk dedikasi terhadap seorang meneer Belanda yang menjadi otak dibalik pengadaan sarana transportasi ini. Dia adalah Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur pada masa Hindia Belanda. Litografer sendiri merupakan seorang yang menekuni bidang percetakan di atas bidang licin
Andong dengan Empat Roda. Sumber: istimewa
Pada kala itu, orang Belanda yang menguasai Batavia menyebut kendaraan ini dengan nama dos-à-dos, yang berarti punggung pada punggung, karena posisi si kusir yang memunggungi penumpangnya. Istilah dos-à-dos ini sendiri kemudian disingkat menjadi ‘sado’ oleh penduduk pribumu Batavia. Diketahui, Deeleman yang lahir di Amsterdam, 11 Desember 1823 ini merupakan seorang ahli irigasi yang memiliki sebuah bengkel besi di pesisir Batavia. Sebagaimana sumber yang dihimpun KabarPenumpang.com dari buku yang berjudul Pictures of the Tropics: a Catalogue karangan J.H. Maronier, Deeleman datang ke Indonesia bersama Neth-Ind waterways service pada tahun 1845 sebagai seorang teknisi. Kedatangannya ke Tanah Air pertama kali bukanlah ke Batavia, melainkan ke Surabaya. Terhitung sejak kedatangannya ke Indonesia, Deeleman menghabiskan waktu tiga tahun menetap di Surabaya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hengkang ke Batavia pada tahun 1848. Tercatat, ia tidak hanya menciptakan delman selama berada di Jakarta, tapi Deeleman juga turut merancang bangunan untuk pameran di Batavia, serta melukis beberapa karya lanskap Indonesia dengan menggunakan pensil (sketsa) dan cat air. Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara Kini nama delman di kota besar seperti Jakarta mulai terancam punah, namun tetap memiliki kejayaannya di daerah sub-urban. Hadirnya teknologi yang semakin berkembang seolah makin menjerumuskan kendaraan yang identik dengan jaman kerajaan ini ke dalam keterpurukan. Jangan sampai anak cucu kita kelak tidak mengetahui bahwa pernah ada sarana transportasi bernama delman di Indonesia.

Indonesia Tawarkan Produk Kereta dari PT INKA Ke Kosta Rika

Kosta Rika untuk pertama kali akan membangun jaringan rel kereta dan Indonesia berkomitmen untuk mendukung pembangunan tersebut. Hal ini terlihat dimana Indonesia menawarkan untuk membangun jaringan kereta api Kosta Rika dengan produk yang di produksi oleh industri kereta api milik Indonesia yakni PT INKA. Baca juga: Terima Tawaran dari Taiwan, PT INKA Siap-Siap Kembali “Kebanjiran” Order Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat pertemuan bilateral bersama Kosta Rika. Diketahui, pembangunan jaringan kereta api di Kosta Rika ini nantinya akan menghubungkan sisi Samudera Pasifik dan Atlantik serta proyek kereta api bandara di San Jose. Sebagai informasi, secara geografi daratan Kosta Rika menghubungkan antara Samudera Pasifik dan Atlantik. Kabarpenumpang.com melansir dari saudigazette.com.sa (4/9/2017), Retno mengatakan, sebenarnya pertemuan bilateral ini juga membicarakan sektor lainnya seperti energi terbarukan selain infrastruktur, dimana Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia. Pemerintah Kosta Rika berkomitmen menawarkan pelatihan pemanfaatan energi air dan panas bumi kepada Indonesia. Hal ini bermanfaat untuk mendukung program pemerintah Indonesia dalam memenuhi target pengembangan kapasitas listrik nasional sebesar 35 ribu MegaWatt. “Kosta Rika telah berhasil mengubah sumber energinya menjadi 99 persen terbarukan, terutama dengan mengoptimalkan penggunaan cadangan air dan panas bumi,” ujar Retno. Menteri Luar Negeri Kosta Rika, Manuel Gonzalez Sans juga mengumumkan akan membuka kedutaaan besar Kosta Rika di Jakarta setelah 32 tahun menjalin hubungan diplomatik. “Dari lubuk hatiku, aku merasa sangat terhormat dan senang berada di sini pada kesempatan pembukaan kedutaan Kosta Rika di negara yang indah ini, dan khususnya pada kesempatan Peringatan HUT ke-32 tentang pembentukan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Kosta Rika,” Kata Manuel. Manuel menambahkan, negara kecil seperti Kosta Rika penting untuk selektif dalam membuka kedutaannya di luar negeri, hal ini dikarenakan sumber daya yang terbatas. Dia juga mengakui kepemimpinan Indonesia di ASEAN. Baca juga: PT INKA, Kepercayaan Dunia Dalam Industri Kereta di Dalam Negeri Pihaknya juga mendukung Indonesia dalam keanggotaan tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk periode 2019-2020 mendatang, sekaligus menghargai partisipasi negara tersebut sebagai penandatanganan perjanjian pelarangan senjata nuklir. Dukungan ini diberikan oleh Kosta Rika karena antara kedua negara ini memiliki kesamaan posisi dalam menanggapi isu-isu global.

Norwegia Curi Perhatian, Bangun Terowongan Kapal Pertama di Dunia

Terowongan merupakan salah satu pra sarana penunjang transportasi yang dapat memberikan keuntungan bagi para penggunanya, seperti lebih menghemat waktu karena tidak harus memutar untuk sampai di tujuan. Biasanya, terowongan sering kita jumpai di jalan-jalan dengan medan perbukitan atau di daerah yang memiliki akses jalan di bagian atasnya. Baru-baru ini, Norwegia dikabarkan tengah membuat sebuah terowongan air pertama di dunia. Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia Pada awal bulan April ini, pemerintah Norwegia berencana untuk membuat jalur transportasi laut menjadi lebih efisien. Bagaimana tidak, kanal di daerah Standlandet memaksa perahu untuk memutar karena terdapat sebuah gunung setinggi 1.100 kaki di ujung semenanjungnya. Maka dari itu, pemerintah Norwegia bersama beberapa kontraktor berencana untuk mengeruk gunung tersebut dan dijadikan terowongan, dengan alasan lebih menghemat waktu perjalanan.
Sumber: cnn.com
Sumber: cnn.com
Melihat ke belakang, rencana pembangunan terowongan ini sudah ada sejak tahun 1874, dimana Nazi yang memiliki rencana tersebut namun tidak terealisasi karena masa kependudukannya sudah berakhir. Walaupun di jaman yang serba maju seperti saat ini, kemajuan teknologi tidak bisa memudahkan para pekerja untuk menggali terowongan tersebut. Para pekerja tetap harus mengeruk gunung tersebut dari kedua sisi dan membuang sekitar 8 juta ton batu. Pembangunan terowongan ini juga berguna bagi para pelayar untuk berlindung dari serangan badai yang kerap kali melanda daerah ini. Laut Stadhavet, Lokasi pembuatan terowongan ini merupakan titik temu dari Laut Norwegia dan Samudera Arktik yang terkenal akan keganasannya. Tercatat, sebanyak 33 nyawa melayang di lokasi ini sejak akhir perang dunia kedua. Banyak perahu yang memilih untuk singgah sementara kala badai di Vanylvsfjord atau di Moldefjord yang terletak di dekat tebing Stadlandet. Sebagai informasi tambahan, sebanyak 106 kali badai terjadi di daerah ini dalam kurun waktu setahun ke belakang. Baca juga: Terbengkalai, Terowongan Kereta Ini Disulap Jadi Kolam Renang Rencananya, pembangunan akan dimulai pada tahun 2019 mendatang dan menghabiskan dana yang bisa dibilang cukup ekonomis untuk sebuah dampak yang besar, yaitu senilai Rp 4 triliun. Setelah pembangunan selesai, terowongan dengan lebar 188 kaki dan tinggi 162 kaki ini bisa dilalui oleh kapal dengan berat kargo hingga 35 ribu ton. Tidak hanya itu, penumpang juga dapat menikmati beberapa atraksi khas Norwegia yang akan memikat hati para pelancong, karena sesuai rencana, akan dibuat trotoar di sepanjang terowongan tersebut. Nantinya kapal bisa melintas dari Modlefjorden menuju Kjødepollen dalam waktu 10 menit. Tentu saja waktu tempuhnya lebih singkat dibandingkan melewati jalur biasa. Berdasarkan data yang dihimpun dari sejumlah sumber, salah satunya dari laman nbcnews.com pada Jumat (7/4/2017), terowongan ini diprediksi dapat mulai beroperasi pada tahun 2023 mendatang.

Oslo, Kota Dengan Tarif Taksi Termahal di Dunia, Jakarta Ada Diurutan Berapa Ya?

Kemudahan masyarakat di berbagai belahan dunia dalam menggunakan transportasi umum seolah semakin dipermudah dengan hadirnya transportasi online. Anda tidak harus bersusah payah untuk keluar mencari transportasi umum, cukup memesannya menggunakan smart phone Anda, lalu kendaran tersebut akan datang menjemput Anda. Namun, ditengah maraknya sarana transportasi online, masih banyak orang yang lebih memilih untuk menggunakan jasa transportasi konfensional, seperti taksi yang “mangkal”. Baca juga: Ternyata! Biaya Taksi di Jakarta Tidak Semahal di Negeri Tetangga Eksistensi taksi konfensional seolah tidak pudar dengan kehadiran transportasi berbasis aplikasi seperti GoCar, GrabCar, dan Uber Taxi. Untuk di Jakarta sendiri, tarif dari taksi konfensional berkisar antara Rp35.000 per 5 km. Data ini diperoleh dari laman ceoworld.biz pada tahun 2015 silam. Berdasarkan data yang dilansir dari laman tersebut, muncul nama Oslo sebagai kota dengan tarif taksi paling mahal di dunia. Ibukota Negara Norwegia ini menjadi kota dengan tarif taksi paling mahal di dunia karena layanan yang diberikan tidak main-main. Bagaimana tidak, mobil sekelas BMW digunakan sebagai kendaraan untuk mengangkut penumpang ini. Layaknya kota-kota besar lain di dunia, taksi di Oslo juga melayani perjalanan door to door hingga perjalanan menuju atau dari bandara. Tidak hanya itu, taksi di Oslo juga melayani jasa maxitaxi dimana taksi jenis ini dapat memuat penumpang hingga 16 orang sekaligus. Ada juga taksi yang melayani perjalanan wisata dimana sopir akan melewati daerah dengan pemandangan menakjubkan di sana. Apabila Anda membutuhkan taksi yang melayani wedding transport, Oslo juga menyediakan jasa ini, tentu saja dengan kendaraan yang berbeda dengan taksi biasa, dan taksi dengan layanan yang bisa dibilang cukup unik di Oslo adalah karaoke taxi dimana Anda dapat bernyanyi sesuka hati sembari menikmati perjalanan menuju lokasi tujuan. Cukup unik bukan? Untuk tarif yang dipatok oleh penyedia jasa taksi di Oslo memang terbilang sangat mahal, yaitu kisaran $32.1 atau senilai dengan Rp428.000 per 5 km. Sedangkan untuk tarif taksi paling murah berdasarkan laman ceoworld.biz dipegang oleh Ibukota India, New Delhi. Kota dengan penduduk yang sangat padat ini memberikan dampak negatif terhadap dunia transportasinya. Maka secara otomatis, makin banyak penduduk, makin banyak pula kendaraan yang berlalu-lalang dan akhirnya menyebabkan kemacetan. Namun dengan tarif hanya $1.54 atau senilai dengan Rp20.000 per 5 km, ini membawa keuntungan tersendiri bagi para traveller yang datang ke kota penghasil film Bollywood ini. Lalu bagaimana dengan Jakarta? Ibu kota Indonesia ini menempati posisi ke-65, di bawah Kuala Lumpur, Manila, dan Shanghai. Tarif untuk taksi di Jakarta ini berkisar antara $2.66 atau setara dengan Rp35.000 per 5 km. Harga yang bisa dibilang cukup bersahabat ini tentunya menarik minat pelanggan dari berbagai golongan, mulai dari masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah hingga para eksekutif, tentunya dengan kepentingan masing-masing. Baca juga: Nissan Leaf, Mobil Listrik Favorit Perusahaan Taksi dan Pengguna Pribadi Untuk di Indonesia, sebenarnya ada beberapa praktik gelap yang diterapkan oleh sopir taksi, terutama bila malam menjelang. KabarPenumpang.com pernah menjadi salah satu “korban” dari praktik gelap tersebut, dimana sopir tidak menggunakan argo apabila sudah larut malam. Sopir langsung menembak harga ketika KabarPenumpang.com menyebutkan lokasi tujuan  yang sebenarnya terbilang cukup dekat. Tentu saja harga yang ditembak si sopir, Rp25.000, lebih tinggi daripada menggunakan argo. Jadi apabila Anda sedang berkunjung keluar kota dan hendak menggunakan jasa taksi, ada baiknya Anda mengetahui jarak menuju lokasi tujuan, agar si sopir tidak mengelabui Anda dengan memberikan harga yang diatas wajar.

Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

Maskapai Vietnam Airlines diwartakan telah bekerjasama dengan Garuda Indonesia di bidang kemitraan codeshare, pelayanan MRO (Maintenance, Repair dan Overhaul) dan kargo. Penandatangan kerjasama ini saat kunjungan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong ke Indonesia. Baca juga: Petualangan, 47 Negara Dilalui Tanpa Penerbangan Selama 3 Tahun Perluasan codeshare ini untuk melayani rute Hanoi – Ho Chi Minh City/ Ho Chi Minch City ke Singapura dan Singapura ke Jakarta, serta Bali ke Jakarta. Perluasan kemitraan kedua maskapai ini, juga untuk memperkuat kerjasama dalam kontribusi pada pengembangan Aliansi SkyTeam. Codeshare merupakan sebuah perjanjian bisnis penerbangan di mana dua maskapai berbagi penerbangan yang sama. Sebuah kursi dapat dibeli di satu maskapai penerbangan namun sebenarnya dioperasikan oleh maskapai rekanan di bawah nomor dan kode penerbangan yang berbeda. Presiden dan CEO Vietnam Airlines, Duong Tri Than mengatakan , sejak 2006, Vietnam airlines dan Garuda indonesia telah bekerjasama dengan efektif dan membuahkan hasil nyata. “Kerjasama ini membawa kerjasama kami lebih jauh kearah kemitraan yang solid dan saling menguntungkan serta membantu kedua maskapai mencapai potensi pasar yang luas. engan mitra lama Garuda Indonesia, kami berharap dapat melihat lebih banyak penumpang yang bepergian antara Vietnam dan Indonesia, dan pelanggan kami dapat memperoleh keuntungan dari lebih banyak pilihan penerbangan serta kualitas layanan internasional yang sangat baik dari dua maskapai penerbangan terkemuka di Asia,” ujar Duong yang dilansir KabarPenumpang.com dari incentivetravel.co.uk (25 August 2017). Presiden dan CEO Garuda Indonesia, Pahala Masury menambahkan, dengan kerjasama Vietnam Airlines ini, bisa mencakup jaringan lebih jauh lagi di Asia Tenggara. Sebab Vietnam bisa dikatakan pasar yang penting bagi Indonesia. “Kami menawarkan perjalanan dimana penumpang semakin banyak bepergian di antara kedua negara tersebut. Kesepakan ini juga diharapkan bisa mendorong aktivitas perdagangan dan pariwisata dengan membuat Indonesia lebih mudah diakses oleh pengunjung dari Vietnam,” kata Pahala. Diketahui, dari Pusat Penerbangan Asia pasifik, pasar Asia Tenggara saat ini berkembang lebih cepat dari rata-rata globalnya di hampir semua kawasan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan ekonomi di kelas menengah pada kawasan Asia Tenggara. Dari hasil tersebut ada enam dari sepuluh negara Asia Tenggara yang memiliki pertumbuhan dalam lalu lintas penenumpang dan posisi teratas di pegang oleh Vietnam dan diperkirakan tahun 2017 ini, tren akan terus berlanjut. Bacaa juga: Garap Potensi Wisata, Indonesia Tawarkan Penerbangan Langsung ke Myanmar Berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) total lalu lintas penumpang internasional di Indonesia naik 8,16 persen dari 13,66 jya pada tahun 2015 menjadi 14,77 juta pada 2016 kemarin. Jumlah penumpang internasional ini meningkat di Indonesia karena didorong oleh ekonomi yang lebih kuat pada aktivitas dan jumlah kelas menengah. Kenaikan ini juga terlihat pada penumpang domestik pada tahun 2015 sebanyak 68,78 juta naik menjadi 80,45 juta ata sebanyak 16,97 persen di tahun 2016. Pertumbuhan penumpang yang luas membuat Indonesia menjadi negara ketiga terbesar dalam pembelian pesawat terbang setelah China dan India. Perkembangan dan pertumbuhan industri penerbangan Indonesia yang kuat membuka peluang baru bagi bisnis penerbangan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang solid, yang didukung oleh segmen kelas menengah yang sedang berkembang, selanjutnya akan mendorong perjalanan udara.

IATA: LCC Berkibar, ASEAN Bakal Jadi Kawasan Pertumbuhan Penerbangan Tercepat

Dalam sepuluh tahun terakhir, kawasan Asia Tenggara (AAXJ) (ASEA) seakan menjadi saksi meledaknya permintaan penerbangan menggunakan industri Low Cost Carrier (LCC) yang berimbas pada lonjakan permintaan oleh para penumpang yang hendak melancong. International Air Transport Association (IATA) memperkirakan Asia Tenggara akan menjadi kawasan dengan pertumbuhan penerbangan tercepat, ditandai dengan meningkatnya pendapatan per penumpang sekitar 10,4 persen di tahun 2017 ini. Hal ini didasari oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Baca Juga: Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia Meningkatnya pendapatan per kapita dan keterjangkauan perjalanan udara yang dikombinasikan dengan menjamurnya maskapai yang menyediakan penerbangan murah telah menjadi kunci pertumbuhan lalu lintas udara di pasar negara berkembang seperti Asia. Diperkirakan, pada tahun 2036 kelak, Asia akan menjadi pasar penerbangan terbesar di dunia karena pertumbuhan ini akan terus berlanjut dengan di Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 5,7 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan rata-rata dunia, yaitu sebesar 4,7 persen. Pertumbuhan juga diperkirakan akan terus bertambah dari segi kapasitas penyedia jasa layanan penerbangan di Asia Tenggara pada tahun 2017 ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman frontera.net (30/8/2017), kenaikan jumlah penumpang di Malaysia, Singapura dan Thailand mencatat angka pertumbuhan yang menggembirakan di paruh pertama tahun 2017. Sedangkan Thailand dan Indonesia muncul sebagai destinasi penerbangan yang paling menonjol diantara semua kawasan di Asia Tenggara, khususnya dari kawasan Cina. Pada tahun 2016, Indonesia tercatat meraih kurang lebih 96,5 juta penumpang udara, sementara Thailand memiliki sekitar 60,5 juta penumpang. Sebuah survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Financial Times mengindikasikan adanya peningkatan permintaan penerbangan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam dalam 12 bulan ke depan. Meningkatnya permintaan penerbangan di kawasan ASEAN tersebut berkorelasi langsung dengan rencana ekspansi kapasitas penerbangan oleh beberapa maskapai besar. Baca Juga: Bisnis LCC Tak Selalu Mulus, Kasus Air Berlin Menjadi Contoh Beberapa maskapai LCC berencana untuk memperluas kapasitas penerbangan mereka dengan sangat agresif. Sebut saja Malaysia Air yang akan menambah 29 armada baru sebagai salah satu cara untuk merealisasikan target mereka, yaitu menerbangkan 323 pesawat pada tahun 2021 mendatang. Sementara itu, AirAsia tercatat mengoperasikan 174 armada pada tahun 2016 silam. Adapun imbas dari meningkatnya permintaan pasar terhadap maskapai LCC ini dirasakan langsung oleh maskapai layanan “tradisional” yang menyajikan full service seperti Singapore Airlines dan Thai Airways yang mulai goyah dalam persaingan. Kedua perusahaan tersebut diketahui saat ini kehilangan pangsa pasar di kawasan ASEAN dan tengah merumuskan strategi untuk menyesuaikan kembali biaya pengoperasiannya.

Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Bandara semakin hari kian maju dengan teknologi yang mendukungnya. Sistem pemindai wajah, bagasi yang menggunakan robot, semuanya adalah rancangan bandara masa depan. Modernisasi dan pembangunan bandara masa depan merupakan visi yang diharapkan para perencana yang akan menjadi kenyataan saat teknologi-teknologi baru bermunculan. Dari sisi pengguna jasa, hal tersebut bisa mengubah pengalaman antrean panjang yang melelahkan dan membuat terminal yang tadinya penuh sesak menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan. Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan Saat ini, kawasan Asia Pasifik sudah menjadi pemimpin dalam modernisasi bandara, bersaing ketat dengan bandara-bandara di kawasan Timur Tengah. Direktur Pusat Studi Penerbangan di Ohio State University, Seth Young mengatakan, daerah-daerah ini merupakan kantong utama pertumbuhan teknologi untuk bersaing dalam dunia global untuk mendukung transportasi udara. “Jika saya akan terbang dari New York ke Bangalore, apakah saya akan melakukan transfer melalui Abu Dhabi atau Dubai atau apakah saya melakukan transfer melalui Hong Kong? Itu adalah pasar yang sangat besar,” ujar Young. Adanya modernisasi pada sistem dan teknologi pelayanan di bandara menjadi tantangan besar yang dapat mendorong model bisnis pada puluhan bandara-bandara besar, para analis menitiberatkan bahwa pengelola bandara dapat memaksimalkan pendapatan dari sektor ini hingga miliaran dolar. Sebagai contoh, Bandara Changi di Singapura dianggap sebagai bandara terbaik di dunia, dan kini telah siap meluncurkan teknologi biometrik di terminal baru yang akan dirilis akhir tahun ini. Dengan sistem pemindai wajah saat pertama kali check in, maka tahap selanjutnya memungkinkan pengguna jasa untuk menjalani seluruh proses tanpa bantuan petugas. Sedangkan Australia pada Juli lalu mengumumkan sebuah investasi sebesar AUS$22,5 juta untuk mengenalkan teknologi pengenalan wajah di semua bandara internasional Australia, begitu juga Dubai melakukan uji coba tersebut. Selain pemindai wajah, robot untuk menangani bagasi pun sudah hadir di beberapa bandara besar di dunia, salah satunya di bandara Incheon Seoul di Korea Selatan. Tugas para robot ini adalah membersihkan dan membawa barang bawaan. Robot ini juga nantinya akan ada di terminal baru Changi yang lengkap dengan seragam pelayan. Tak hanya itu, robot pemberi informasi yang juga bisa memberikan layanan boarding pass pun kini telah banyak di terapkan beberapa bandara, salah satunya seperti Pepper Robot yang diluncurkan Eva Air di Taiwan. Selain itu, beberapa bandara juga sudah mengenalkan tentang titik drop bagasi mandiri. Baca juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva Air Beberapa layanan ini sudah tersedia di beberapa bandara yakni Australia, Hong Kong, London Heathrow dan Schipol Amsterdam. Namun, bukan hanya teknologi yang dikembangkan, adapula pengembangan bandara yang dibuat untuk para pelancong menikmati dan menghabiskan waktu mereka sebelum waktu keberangkatan. Seperti Changi yang akan membangung komplek terminal baru yang disebut jewel. Dengan memiliki sepuluh tingkat, akan penuh dengan berbagai macam hal untuk membuat pelancong betah berlama-lama. Namun, dari semua kemudahan teknologi hingga tempat menikmati dan kenyamanan, masih juga ada beberapa bandara tua yang kuno dan belum berkembang. Seperti beberapa bandara di Amerika Serikat dan Eropa. Baca juga: Dengan Canopy Park, Bandara Changi Siapkan Atraksi Spektakuler Bandara tua di New York yang sudah lama dikritik karena kuno, sempit dan kotor yakni John F Kennedy (JFK), pusat internasional utama yang melayani kota ini diharapkan bisa melepas reputasinya yang buruk ddengan rencana pembangunan kembali senilai US$10 miliar. Tahun 2019 mendatang Schipol Amsterdam juga akan menjadi bandara digital terdepan. Tetapi dengan hadirnya solusi dan teknologi, selain membawa peningkatan layanan dan pendapatan bagi pengelola bandara, disisi lain munculnya teknologi berbasis nirawak juga dapat memicu masalah sosial bila tak diantisipasi. Pasalnya akan ada pengurangan jumlah tenaga kerja dan petugas di bandara,  yang di beberapa negara hal tersebut kerap menimbulkan polemik.

Berusia 104 Tahun, Baiq Mariah Asal Lombok Jadi Jemaah Haji Tertua di Dunia

Bila niatan tulus untuk beridah telah terpatri di qolbu, maka soal usia tak lagi bisa menjadi batasan seseorang untuk menjalanakan ibadah Haji yang memerlukan stamina fisik prima. Hal tersebut tercermin pada seorang papuq atau nenek dalam bahasa Lombok dengan usia lebih dari satu abad untuk menunaikan ibadah Haji tahun ini. Mariah Margani Muhammad atau biasa disapa Baiq Mariah telah berusia 104 tahun dan menjadi jemaah haji tertua dari total jemaah haji asal Indonesia. Bahkan Baiq Mariah juga menjadi jemaah tertua di dunia dalam penyelenggaraan Haji 2017. Baca juga: Terdampak Kisruh Diplomatik, Jamaah Asal Qatar Sulit Tunaikan Ibadah Haji KabarPenumpang merangkum dari gulfnews.com (4/9/2017), Baiq Mariah berangkat dari kloter 10 embarkasi Lombok, Nusa Tenggara Barat. Setibanya di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Baiq Mariah disambut dengan meriah. Konsul Jenderal RI di Jeddah, Mohammad Hery Saripudin mengatakan, Mariah bisa melaksanakan ibadahnya dalam kondisi sehat dan sanggup melakukan ritual selama enam hari tanpa masalah. Selain itu, pendamping Baiq Mariah yakni Rahmi mengatakan, saat tiba di Jeddah, Mariah tidak mau menggunakan kursi roda. “Baiq Mariah menolak dan bilang mau jalan saja,” ujar Rahmi. Walaupun sudah tua dan usia lebih dari satu abad, Baiq Mariah tidak terlihat renta justru bersemangat menjalankan ibadah hajinya serta tak mau kalah dengan jemaah yang masih muda. “Selama latihan manasik haji sehat, menolak kursi roda dan sangat bersemangat pokoknya,” ujar Rahmi. Namun, sempat ada kekhawatiran karena saat tiba di bandara Jeddah, Baiq Mariah tidak mau terseyum sama sekali dan ingin kembali ke Lombok. Setelah diselidiki, hal tersebut terjadi ia kaget karena mendapat sambutan meriah, lain dari itu, Baiq Mariah masih belum sadar dirinya sudah tiba di Jeddah dan juga bisa dikarenakan sorotan media yang tertuju pada Baiq Mariah. “Orang kampung dan tidak pernah melakukan perjalanan jauh dan mendapatkan peliputan luar biasa pasti kaget lah. Karena mendapatkan apresiasi dan beberapa wawancara dilakukan oleh media sempat membuat nenek ini stress”, kata juru bicara Kementerian Agama Indonesia, Mastuki. Baca juga: Bus Shalawat, Angkutan Gratis Istimewa Untuk Jamaah Haji Indonesia Diketahui, untuk melakukan haji rata-rata orang Indonesia sendiri harus menunggu selama enam tahun sebelum berangkat ke Mekkah. Haji tahun 2017 ini, dimulai tanggal 30 Agustus lalu dengan mengumpulkan lebih dari dua juta jemaah di kota Mina yang kemudian melakukan pendakian di Gunung Arafah dekat Mekkah pada 31 Agustus. Tanggal 1 September kemudian dilanjutkan dengan perayaan Iduh Adha di seluruh dunia. Pada perayaan ibadah haji kemarin, Pusat Komunikasi Internasional yang menjadi insiatif Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi memfasilitasi hubungan dengan media global dan memposting segala kegiatan melalui Twitter yang baru dibuat khusus untuk kedatangan Mariah dengan tulisan berbahasa Inggris dan Indonesia.