Dalam acara puncak program “BUMN Hadir Untuk Negeri,” PT Angkasa Pura I (Persero) sekalu pengelola bandara di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur, bersama Danareksa melaksanakan acara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-72 Republik Indonesia di Sulawesi Tengah. Dalam kesempatan tersebut, Angkasa Pura I menyerahkan secara simbolis bantuan Bedah Rumah Veteran RI senilai Rp1,6 miliar untuk 40 rumah.
Baca juga: Semester I 2017, Laba PT Angkasa Pura I Naik 61 Persen
Penyerahan bantuan diberikan langsung Direktur Utama Angkasa Pura I, Danang S. Baskoro kepada perwakilan veteran Provinsi Maluku, pada saat berlangsungnya upacara peringatan HUT Ke-72 RI di Kantor Pelindo 4, Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (17/8/2017) pagi.
“Sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab sosial perusahaan, Angkasa Pura I melakukan bedah rumah yang tidak layak huni bagi 40 rumah veteran RI dari Provinsi Maluku. Kami berharap melalui kegiatan ini kami dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para veteran yang telah berjasa sangat besar bagi bangsa Indonesia di masa lalu,” ujar Danang, dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.
Dari 40 rumah Veteran RI di Provinsi Maluku, total ada 12 rumah yang akan direnovasi di Desa Liang, 9 rumah di Desa Ureng, 15 rumah di Desa Larike, 1 rumah di Desa Piru, 2 rumah di Desa Kairatu, 1 rumah di Desa Makariki, dan 8 rumah di Desa Masohikilo.
Hadir dalam kesempatan itu antara lain Direktur Angkasa Pura I Danang S. Baskoro, Direktur Operasi Angkasa Pura I Wendo Asrul Rose, Direktur Utama Danareksa Heru D. Adhiningrat, dan Staf Ahli Menteri BUMN Sahala Lumban Gaol.
Danang S. Baskoro selaku Inspektur Upacara mengatakan bahwa kegiatan “BUMN Hadir Untuk Negeri” di Provinsi Sulawesi Tengah ini merupakan tanggung jawab yang diberikan kepada Angkasa Pura I dan Danareksa. “Kami diberi amanat untuk menggelar berbagai rangkaian kegiatan sebagai wujud nyata bahwa BUMN Indonesia ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Hal ini juga merupakan upaya BUMN untuk memelihara keharmonisan dan keberlanjutan perusahaan dengan lingkungannya, mendekatkan BUMN dengan masyarakat, sekaligus wujud penerapan tanggung jawab sosial perusahaan,” kata Danang.
Kegiatan “BUMN Hadir Untuk Negeri” di Sulawesi Tengah antara lain berupa Program Siswa Mengenal Nusantara (31 Juli – 5 Agustus), jalan sehat 5 km (13 Agustus), Bedah Rumah Veteran, serta aneka lomba 17-an dan hiburan rakyat (17 Agustus).
Pernah membayangkan berkeliling dunia tanpa menggunakan pesawat? Ternyata ini dilakukan oleh Tyral Dalizt seorang wisatawan asal Australia yang berkunjung ke 47 negara selama tiga tahun terakhir tanpa menggunaan pesawat.
Dilansir KabarPenumpang.com dari travelandleisure.com (9/8/2017), Dalitz seorang wisatawan yang awalnya bekerja di peternakan di Australia dan menyewa van untuk camping setelah lulus dari unversitas, serta menghabiskan perjalanan selama enam bulan untuk berkeliling Australia. “Saya menyadari bahwa sebagian petualangan terjadi saat Anda beralih dari titik A ke titik B, bukan dari mana Anda berakhir,” kata Dalitz.
Baca juga: Trans-Siberia, Kereta Yang Mengubah Takdir Cinta
Nyatanya hal tersebut yang membuat dirinya memutuskan berangkat sejak tahun 2014 untuk bepergian dengan kapal layar, kereta api, mobil, motor bahkan berjalan kaki. Ia mengatakan, justru bagian tersulit dari petualangannya adalah keluar dari negara asalnya, Australia.
Tyral Dalitz (www.travelandleisure.com)
Kemudian, dirinya mendengar dari beberapa pelancong backpacker bahwa bisa menggunakan kapal pesiar untuk menjelajah tanpa membayar dengan menjadi awak kapal atau kru dalam perjalanan kapal tersebut. Dalam melakukan perjalanannya, Dalitz menjadi petugas di bagian Find a Crew, CrewSeekers, dan Crewbay. Terakhir dirinya berhubungan dengan pasangan pensiunan untuk membantu di kapal dalam mengarungi Samudera Hindia dari Australia menuju Singapura.
“Saat Anda menumpang kapal, Anda harus berkontribusi. Jadi Anda mungkin diminta untuk bekerja secara gratis, tapi begitu Anda memasuki komunitas berlayar, Anda bisa membuka banyak pintu,” kata Dalitz.
Baca juga: Italia (1) : Menjajal Transportasi di Venesia, Tak Beda Jauh dengan TransJakarta
Kemudian, dari perjalanannya tersebut, dirinya mengikuti perjalanan yang terorganisir untuk kelompok kapal yang berlayar dengan beragam rute. Dimana dalam perjalanan tersebut, Dalitz mengunjungi Indonesia melalui Malaysia. Saat itu ada rally Sail Malaysia dan Dalitz bertemu dengan seseorang yang mengajaknya untuk naik kapal menuju Phuket. Sesampainya di Thailand, dirinya melakukan perjalanan darat menaiki kendaraan menuju Chiang Mai hingga sampai di Kamboja.
Kemudian Dalitz bertemu seorang pria lokal di perbatasan Vietnam dan Kamboja, pria tersebut menawarkan untuk mengantar Dalitz ke Vietnam dengan sebuah sepeda taksi. Perkiraan perjalanan yang ditempuh cukup jauh, bila dikukur dengan tenaga sepeda, kira-kira dibutuhkan sekitar 9000 kali genjotan.
Berada di Vietnam, dirinya kemudian membeli sebuah sepeda motor, alasannya motor dianggap murah karena bisa dijual kembali ke bengkel. Motor tersebut digunakan Dalitz untuk berkeliling menjelajahi Vietnam.
Tyral Dalitz (www.travelandleisure.com)
“Berada di atas sepeda masih menjadi salah satu sorotan utama bagi saya, karena ini seperti tingkat kebebasan yang lain karena Anda bisa pergi ke manapun Anda inginkan dan kapan pun, sedangkan dengan menumpang Anda harus mengandalkan untuk mendapatkan tumpangan,” katanya.
Kemudian, dirinya kembali bertualang dari Hanoi menuju Cina menggunakan kereta api. Ini adalah pengalaman pertamanya menggunakan kereta melewati negara tersebut sebelum dirinya menggunakan kereta Trans-Mongol ke Moskow, Rusia. “Kami pergi di musim semi ketika ada banyak tanaman hijau dan kami mendapatkan pemandangan hutan pinus besar dengan desa-desa yang berisi rumah kayu dan gubuk,” katanya.
Baca juga: Travel Advice, Jangan Samakan dengan Travel Warning
Sesampainya di Eropa, Dalitz menggunakan bus untuk berkeliling dan sampai ke lingkaran Kutub Utara lewat Finlandia guna melihat Aurora. Selama satu tahun di Eropa, dirinya kembali berlayar melintasi Samudera Atlantik ke Kepulauan Canary di Karibia, berlanjut ke Terusan Panama dan Hawaii sebelum pergi ke Amerika Utara tempatnya berada saat ini.
Saat Dalitz melanjutkan perjalanannya yang anti mainstream ini, Ia mengatakan bahwa Kanada kemungkinan akan menjadi negara berikutnya yang akan dikunjungi. Dia juga saat ini berpartisipasi dalam usaha pemecahan rekor lainnya, The Longest Swim, di mana dia akan mencoba berenang dari Tokyo ke San Francisco.
Ada pemandangan yang sedikit tak biasa mana kala terdapat sebuah patung seorang gadis belia di dalam bus yang beroperasi di sekitaran Ibu Kota Korea Selatan, Seoul, Senin (14/8/2017) kemarin. Tidak hanya terdapat di dalam satu bus saja, melainkan setiap bus di Seoul pun memiliki patung yang serupa. Adapun patung-patung tersebut berbentuk seorang wanita yang mengenakan pakaian tradisional Hanbok, dengan posisi tangan memegangi lutut mereka dan bertelanjang kaki.
Baca Juga: Agar Tidak Terjatuh Saat Turun dari Bus, Ini Dia Tipsnya!
Sedikit aneh memang melihat kehadiran patung-patung tersebut tepat sehari sebelum peringatan kemerdekaan Korea Selatan dari Jepang pada tahun 1910 hingga 1945 silam. Ternyata, fakta yang ditemui KabarPenumpang.com dari laman shanghaidaily.com (15/4/2017), patung-patung tersebut melambangkan budak seks semasa jaman penjajahan. Menurut sejarawan lokal, kurang lebih ada sekitar 200.000 wanita yang dipaksa “bekerja” untuk tentara Jepang selama Perang Dunia II. Ternyata, tidak hanya dari Korea, wanita Cina pun turut dijadikan “wanita penghibur” oleh tentara Jepang.
Keberadaan “wanita penghibur” ini merupakan masalah emosional yang sangat megganggu hubungan diplomatik diantara dua negara tetangga di Asia ini dalam beberapa dekade ke belakang. Bagi kebanyakan warga Korea Selatan, ini merupakan bentuk pelanggaran yang sangat berat yang pernah dilakukan oleh Jepang selama masa penjajahan.
Baca Juga: Tempel Tusuk Gigi di Bangku Bus, Warga Paruh Baya Ini Siap Dipidana
Tentu saja, keberadaan patung-patung tersebut mengundang amarah di Tokyo, yang mendesak untuk segera menyingkirkan simbol budak seks tersebut dari Kedutaan Besar Jepang di Seoul. Ini terjadi setelah Jepang menandatangani kesepakatan dengan pihak Korea Selatan pada tahun 2015 silam dan mengajukan dana sebesar 1 miliar Yen atau setara dengan Rp121 miliar sebagai permohonan maaf yang ditujukan untuk pembangunan yayasan bagi budak seks yang masih hidup. Pihak Tokyo seakan kebingungan ketika nota perdamaian sudah ditandatangani, namun warga Korea Selatan masih saja mengungkit masa lalu kelam tersebut.
Namun, seakan tidak memperdulikan amarah Negeri Matahari Terbit, perusahaan bus kota tersebut mengatakan ingin memasang patung-patung tersebut di lima jalur berbeda yang beroperasi di pusat kota Seoul untuk menjaga kenangan tersebut tetap menyala. Kepala Dinas Lalu Lintas Dong-A, Rim Jin-Wook mengatakan patung ini memiliki nilai sejarah yang amat tinggi. “Ini dirancang untuk mengingatkan warga Korea Selatan tentang penderitaan yang telah dilewati oleh wanita-wanita tersebut,” jelasnya.
“Kami tidak ingin warga kami melupakan sejarah, sekelam apapun itu,” terang Rim seraya menambahkan bahwa patung-patung tersebut akan di keluarkan dari bus pada akhir September mendatang dan akan dipajang di tempat umum. Bus-bus yang melewati Kedutaan Besar Jepang akan sedikit memaparkan sejarah kelam dari budak seks tersebut melalui sistem audio yang terpasang di dalam moda tersebut.
Baca Juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik
“Sangat menyedihkan ketika melihat patung gadis ini, karena sebagian besar dari mereka terlihat sepantar denganku,” ujar Jennifer Lee, seorang mahasiswa berusia 19 tahun. “Ini membuatku takut membayangkan apa yang dialami wanita-wanita ini,” tambahnya. Dari situ, sejumlah aktivis mendesak pemerintah setempat untuk menjadikan tanggal 14 Agustus sebagai hari peringatan bagi “wanita penghibur” tersebut.
Notohadinegoro, inilah nama bandara yang terletak di Jember, Jawa Timur. Untuk mencapai bandara yang melayani lalu lintas penerbangan domestik ini dibutuhkan jarak tujuh kilometer dari pusat kota Jember. Sampai saat ini Notohadinegoro baru sebatas melayani penerbangan dengan pesawat propeller, dan baru dilayani satu maskapai yakni Garuda Indonesia dengan pesawat ATR-72 600 untuk rute Jember – Surabaya.
Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional
Dengan infrastruktur yang masih terbatas, bandara yang beroperasi penuh pada 16 Juli 2014 ditangani oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Jember. Dengan panjang landasan pacu 1.560 meter. KabarPenumpang.com merangkum bahwa bandara di Jember ini memiliki areal seluas 120 hektar dan menjadi bandara umum sipil pertama di Indonesia yang di bangun sendiri oleh pemerintah kabupaten setempat dengan kekuatan APBD Jember.
Dirunut dari sejarahnya, adanya bandara ini untuk mempersingkat perjalanan dari Surabaya ke Jember atau sebaliknya, yakni hanya butuh waktu tempuh 30 menit. Sebagai perbandingan, rute Jember – Surabaya melalui jalan darat bisa ditempuh empat hingga tujuh jam. Selain mempersingkat perjalanan, bandara ini juga diharapkan menjadi penyambung dan pendukung sektor pariwisata Jember.
Saat ini, untuk memajukan sektor pariwisata, Bandara Notohadinegoro akan dilakukan pengembangan. Hal ini dikatakan oleh Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Jember (13//8/2017) kemarin. Diantara pengembangan untuk bandara ini mencakup perpanjangan landas pacu, dan perluasa terminal yang pengerjaannya akan dimulai tahun 2018. Pemkab Jember merencanakan perpanjanhan landasan pacu menjadi 2.600 x 45 meter.
Diharapkan proyek perluasan Bandara Notohadinegoro akan selesai pada tahun 2019. Rencananya lagi, bandara ini akan menjadi bandara embarkasi Haji. Tak hanya itu, nantinya pada landasan pacu akan dipasang ILS (Instrument Landing System) sehingga bandara ini mampu untuk didarati pesawat jet sekelas Boeing 737 dan pesawat ukuran yang lebih besar lainnya. Dengan ILS, memungkinkan pesawat untuk melakukan lepas landas dan pendaratan di malam hari.
Terkait dengan anggaran, pemerintah menyebut akan mendukung sebagian anggaran untuk perluasan Bandara Notohadinegoro, anggaran yang disiapkan pemerintah khusus perluasan bandara ini sekitar Rp300 – Rp450 miliar. Jokowi berharap, seusai pengembangan, Bandara Jember akan mempermudah konektivitas daerah lain dengan kawasan di Jawa Timur itu. Konektivitas tersebut akan memacu arus investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah Jember.
Baca juga: Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi
Pembangunan bandara ini diprakarsai dan dibangun di era pemerintahan Samsul Hadi Siswoyo sebagai Bupati Jember. Pembangunan dimulai pada tahun 2003 yang telah dianggarkan sejak tahun 2001 dengan menggunakan dana APBD sebesar Rp.30 Miliar. Bandara Notohadinegoro diresmikan pada tahun 2005 dengan panjang landas pacu kala itu masih 1.200 meter.
Scoot, maskapai LCC (Low Cost Carrier) untuk penerbangan jarak jauh yang berada dibawah naungan Singapore Airlines, beberapa waktu lalu mengumumkan bergabung dengan Tigerair untuk menyatukan brand dan lisensi operasi di bawah merek Scoot yang disempurnakan.
Baca juga: Serba Serbi Check In Online di Masing-Masing Maskapai Penerbangan
Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofindia.indiatimes.com (2/8/2017), dengan adanya penggabungan merek ini, CEO Scoot, Lee Li Hsin mengumumkan adanya tarif promosi satu arah dari Trichy (India) ke Singapura, Bali, Hong Kong dan Sydney dengan potongan harga tambahan. Lee mengatakan, setelah berhasil memulai operasinya di India tahun 2015 lalu, Scoot siap untuk mengambil destinasi baru yang selama ini dilayani Tigerair.
Rute dan destinasi baru tersebut yakni Bangalore, Hyderabad, Kochi, Trichy dan Lucknow yang sudah dimulai pada 25 Juli lalu. “Scoot sangat yakin untuk memberikan yang lebih baik untuk para penumpang,” ujar Lee.
Dalam penggabungan ini, Scoot akan kembali menambahkan lima destinasi baru pada Juni 2018 mendatang, yakni ke Honolulu, Inggris dan Harbin di Timur Laut Cina. Tiga sisanya adalah destinasi jarak dekat sepeti Kuching dan Kuantan di Malaysia serta Palembang di Indonesia.
Sebenarnya, penggabungan ini sudah dimulai sejak Mei 2016 lalu antara Scoot dengan Tigerair, namun baru terkait pada sistem pemesanan, jadwal dan sambungan penerbangan, jenis pesawat, gerai check ni serta layanan call center. Sehingga akhirnya pada 25 Juli 2017 kemarin Scoot dan Tigerair bergabung dengan satu merek Scoot.
Adapun yang berubah dari penggabungan ini yakni kode penetapan yang dulunya TZ di ganti menjadi TR. Merger ini merupakan bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang serta memungkinkan pengalaman perjalanan yang lebih lancar bagi semua pelanggan.
Baca juga: Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia
Pada penggabungan kedua maskapai LCC ini, jadwal penerbangan akan tetap sama, dimana penerbangan akan sesuai jadwal. Segala macam terkait check in pun tidak dibedakan. Jenis armada yang dioperasikan Scoot yakni pesawat badan lebar Boeing 787 Dreamliner, sementara dari Tigerair ada Airbus 320 yang akan dirubah eksterior serta catnya sesuai dengan ciri khas milik Scoot.
Menunggu pengoperasian penuh pada bulan September 2017, per 13 Agustus lalu Automated People Mover System (APMS) atau Skytrain sudah mulai diuji coba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Uji coba yang dilakukan ini akan berlangsung selama sebulan penuh untuk mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan.
Skytrain yang diuji coba di Soetta saat ini melayani Track A dari Terminal 3 ke Terminal 2 atau sebaliknya. Nantinya, jika uji coba selesai maka pada pertengahan September mendatang, Skytrain akan langsung beroperasi untuk melayani perpindahan penumpang dikedua terminal tersebut. Ini merupakan tahap pertama pengoperasian Skytrain dengan melayani Track A dengan panjang lintasan 1.700 m. Tahap selanjutnya, Skytrain akan menghubungkan ketiga terminal dengan integrated building yang juga terkoneksi dengan terminal bus dan stasiun kereta bandara yang memiliki total panjang lintasan dua track mencapai 3.050 meter.
Baca juga: Angkasa Pura II: Skytrain Akan Jadi Hadiah di HUT RI Ke-72
“Pemerintah berharap agar Skytrain dapat segera dioperasikan dengan tetap mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan serta pelayanan. Kehadiran Skytrain di Bandara Soetta ini dapat menjadi percontohan bagi bandara lainnya agar semakin berkembang khususnya demi meningkatkan pelayanan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya, yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (15/8/2017).
Pada uji coba ini, President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan, uji coba Skytrain merupakan sinergi BUMN yang melibatkan tiga pihak yakni Wijaya Karya yang melakukan uji fungsi dan pengoperasian lintasan Track A. PT LEN dan Woojin yang menguji fungsi dan pengoperasian kereta dan tentu AP II yang menguji standar maintenance procedure.
“Kami berharap pada masa uji coba ini segala kemungkinan dapat dipelajari, sehingga pelayanan pada penumpang tetap dapat terjaga. Beroperasinya Skytrain jelas akan meningkatkan standar pelayanan internasional pada Bandara Soetta untuk bisa berkompetisi dengan bandara-bandara terbaik di dunia ataupun kawasan regional Asean,” ujar Awaluddin.
Gratis
Awaluddin menambahkan, bahwa penggunaan Skytrain oleh penumpang pesawat atau pengunjung bandara sama sekali tidak dikenakan biaya tambahan. Skytrain ini menggunakan teknologi Automated Guided Transit (AGT) yang dimana bergerak tanpa bantuan pengemudi.
AGT menggunakan roda pengarah tambahan di sisi kiri dan kanan unit kendaraan yang menempel pada dinding beton. Saat ini diketahui, sudah ada tiga rangkaian yang masing-masing memiliki dua gerbong sudah berada di terminal tiga Bandara Soetta, tetapi pada uji kali ini baru mencoba satu rangkaian.
Baca juga: Mengenal Skytrain di Changi, Benchmark APMS di Bandara Soekarno-Hatta
Pada Skytrain, terdapat dua pintu di setiap trainsetnya dan tempat duduk yang tersedia hanya sedikit. Hanya ada enam tempat duduk dengan empat bangku prioritas dan dua tempat duduk untuk umum. Dengan desain seperti ini, memang disengaja untuk penumpang berdiri agar barang-barang muat dibawa. Dalam masa uji coba, kecepatan Skytrain kurang dari 30 km per jam dan masih dijalankan oleh operator (masinis).
Jelang HUT Kemerdekaan RI Ke-72, ada kabar yang membanggakan datang dari dunia penerbangan, pasalnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) selaku BUMN Strategis pagi ini telah sukses melakukan flight test perdana pada pesawat twin engine turbo propeller produksi dalam negeri, N-219 di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara Jalan Pajajaran Bandung, Rabu (16/8/2017).
Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional
Berhasil terbang selama lebih kurang 30 menit, penerbangan perdana prototipe N-219 dengan nomer registrasi PK-XDT diawaki Kapten Esther Gayatri Saleh, Chief Test Pilot PTDI sebagai Pilot In Command (PIC) dan Kapten Adi Budi Atmoko sebagai First Officer (F0). Acara flight test prototipe N-219 disaksikan oleh Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso beserta seluruh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris PT DI.
N-219 adalah pesawat angkut ringan dengan kapasitas 19 penumpang yang dilengkapi dua mesin turbo propeller Pratt&Whitney Canada PT6A-42. Meski pengembangannya didasarkan atas kesuksesan NC-212, namun dari segi rancangan pesawat ini lebih identik dengan pesawat DHC-6 Twin Otter. Keduanya sama-sama mengusung desain sayap tinggi (high wing), begitu pun tampak sisi moncong yang mirip.
Disasar untuk memenuhi pasar penerbangan perintis, N-219 punya kemampuan STOL (short take-off and landing), yakni untuk lepas landas hanya dibutuhkan jarak panjanhg landasan 465 meter, dan untuk mendarat hanya butuh 510 meter. Guna memenuhi kebutuhan maskapai perintis, pesawat ini bisa mendarat di landasan tanah. Kabarnya untuk urusan roda, PT DI memasoknya dari perusahaan pembuat ban Achilles.Rancang bangun N-219 pertama kali diperlihatkan pada 12 November 2015. Dalam penggarapannya, dilakukan bersama antara PT DI dan LAPAN, peran LAPAN sebagai pusat uji coba dan riset N-219.
Baca juga:Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis
Dirancang handal untuk medan perintis dengan biaya operasional relatif rendah, menjadikan N-219 tak hanya dilirik pasar penerbangan sipil. TNI dikabarkan telah memesan N-219 untuk kebutuhan satu skadron, dengan jumlah antara 9 – 15 unit. Meski belum dirilis spesifikasi untuk varian intai maritim, namun bila melihat dari kemampuan payload yang mencapai 2,3 – 2,5 ton, maka urusan mofikasi dan adopsi perangkat sensor/radar jadi lebih mudah. Dalam versi standar, di dalam radome terdapat radar cuaca, maka seperti halnya pada Twin Otter varian intai maritim, maka dibawah radome atau di depan nose landing gear bisa disematkan modul radar atau sensor electro optics.
Sebagai pengelola dari 13 bandara di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, PT Angkasa Pura I atau dikenal juga sebagai Angkasa Pura Airports, terus mengalami pertumbuhan pesat. Sebut saja belum lama ini tiga bandara dibawah pengelolaan bisnis Angkasa Pura Airports masuk sebagai 10 peringkat besar bandara di dunia. Dan melanjutkan kabar atas kinerja postif perusahaan, Angkasa Pura Airports telah mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 61 persen pada Semester I 2017.
Baca juga: Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia
Persentase pertumbuhan laba tersebut dicapai dengan membandingkan periode yang sama pada tahun lalu (2016). Dari sisi nilai keuntungan, PT Angkasa Pura I di Semester I 2017 telah meraup laba sebesar Rp885 miliar, naik dibanding laba pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp550 miliar.
Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (16/8/2017), kenaikan laba bersih perusahaan tidak terlepas dari pendapatan usaha yang tumbuh 17 persen pada semester I 2017. Angkasa Pura I berhasil meraup pendapatan Rp3,4 triliun tahun ini, sedangkan pada periode yang sama 2016 lalu hanya meraih Rp 2,9 triliun. Bisnis aeronautika berkontribusi sebesar sekitar 60 persen dari total pendapatan atau Rp 2,05 triliun. Angka ini naik 20,6 persen dari pencapaian semester I 2016 lalu yang hanya Rp 1,7 triliun. Sementara bisnis non-aeronautika tercatat sebesar Rp 1,35 triliun, atau naik 13,5 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,19 triliun.
“Pertumbuhan laba yang cukup signifikan ini antara lain disebabkan oleh pertumbuhan trafik dibanding tahun sebelumnya. Menurut data kami, pergerakan pesawat tumbuh 2,3 persen; pergerakan penumpang naik 4,3 persen, sedangkan kargo meningkat 15,6 persen. Peningkatan trafik disebabkan adanya penambahan rute baru di beberapa bandara, baik domestik maupun internasional. Selain itu, mulai beroperasinya Hotel Novotel Bali Airport yang dikelola oleh anak perusahaan Angkasa Pura I, yaitu Angkasa Pura Hotel dan penerapan skala prioritas dalam realisasi biaya operasional memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba ini,” jelas Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro.
Baca juga: Macet Parah Menuju Bandara, Bangalore Tawarkan Layanan Antar Jemput via Helikopter
Sampai akhir tahun ini, Tahun 2017 ini, Angkasa Pura I menargetkan meraup laba bersih sebesar Rp1,17 triliun, atau naik sekitar 28 persen dari target tahun 2016 lalu. “Strategi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan Program Collaborative Destination Development (CDD) dengan pemangku kepentingan di beberapa daerah untuk bersama-sama mengembangkan potensi tujuan wisata daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan trafik penumpang ke daerah,” terang Danang.
Selain itu, Danang S. Baskoro menambahkan, Angkasa Pura I juga secara pro-aktif menawarkan pembukaan rute baru dari dan menuju bandara-bandara Angkasa Pura I bagi maskapai global dengan memberikan insentif potongan harga atau menggratiskan biaya pendaratan. Pengoptimalan kinerja anak perusahaan juga dilakukan untuk mencapai target yang telah ditentukan.
Penyandang disabilitas, para lansia dan penumpang pesawat berkebutuhan khusus sebentar lagi akan dimudahkan saat berada di bandara Haneda, Tokyo. Pasalnya, manufaktur elektronik asal Negeri Sakura, Panasonic baru-baru ini telah memperkenalkan kursi roda listrik yang nantinya akan ditempatkan di bandara-bandara utama di seluruh wilayah, hal ini terkait ajang Olimpiade 2020 yang akan mengambil lokasi di Jepang.
Baca juga: Fasilitasi Olimpiade 2020, Tokyo Canangkan Penggunaan Mobil Otonom
Ingin agar solusinya siap pada waktunya, Panasonic kini tengah melakukan serangkaian percobaan kursi roda listriknya di Bandara Internasional Haneda. KabarPenumpang.com melansir dari digitaltrends.com (9/8/2017), uji coba kursi roda listrik dilakukan untuk melihat tempat yang mudah di akses oleh pengunjung dan penumpang. Penggunaan kursi roda ini nantinya akan menggunakan aplikasi smartphone khusus. Apalagi kursi roda biasanya langsung dibutuhkan saat penumpang tiba di bandara untuk melakukan perjalanan dengan pesawat atau setelah penumpang keluar dari pesawat terbang.
kursi roda listrik buatan Panasonic (www.digitaltrends.com)
Beberapa hal terjadi yakni kursi roda tersebut mengantar penumpang dan membantu mereka menuju meja check in. Kemudian mengantar penumpang menuju ke gate sesuai permintaan penumpang dan perjalanan berakhir hingga ke gate yang ditentukan. Kemudian setelah mengantar, kursi roda tersebut kembali membantu pengunjung lainnya.
Setelah jam operasional bandara berakhir, kursi roda listrik tersebut sudah diatur otomatis untuk menuju ketempat pemeliharaan dan penyimpanan. Juru bicara Panasonic mengatakan, kursi roda otonom menggunakan perangkat lunak pemetaan dan sensor built in agar tidak menabrak penumpang lain, koper atau semua hambatan lain yang dapat diharapkan saat bandara sangat sibuk.
Baca juga: Sensor 3D Vayyar, Pasangan Cocok Untuk Mobil Otonom
Kursi roda akan diuji di Haneda sampai Maret 2018 dengan tujuan untuk melihat beberapa kekurangan yang mungkin terjadi versi. Sebelum ini, di tahun 2016, raksasa mobil Jepang, Nissan meluncurkan kursi mengemudi sendiri yang disebut ProPilot. Juru bicara Nissan mengatakan, ProPilot adalah konsep produk yang menunjukkan perkembangan mobil dengan kursi mengemudi sendiri.
Nissan mendemonstrasikan bagaimana kursi itu bisa berguna bagi pelanggan yang antri di luar restoran yang sibuk. Dengan, katakanlah, enam kursi diatur dalam antrean, pelanggan bisa duduk dan menunggu sampai mereka mencapai garis depan. Ketika seseorang mengosongkan kursi pertama untuk memasuki restoran, kursi kosong secara otomatis melaju ke bagian belakang jalur sehingga orang baru bisa duduk, sementara lima kursi yang tersisa, dan orang-orang yang duduk di dalamnya, secara otomatis mengarah ke bagian depan Garis di luar pintu masuk ke restoran.
Baca juga: Lihat Dampak Pada Kota, iCity-CATT Akan Tinjau Teknologi Pada Mobil Otonom
Perusahaan menyarankan agar ProPilot bisa menghilangkan kebosanan dan ketegangan fisik yang antri.
PT Kereta Cepat Indonesia Cina (PT KCIC) masih saja berkutat dengan masalah pembebasan lahan untuk jalur kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Lamanya pergerakan dalam pembebasan lahan ini membuat relasi Indonesia dalam proyek ini, Cina seakan tidak sabar untuk segera melanjutkan proyek ini ke tahapan selanjutnya. Hingga ada pernyataan yang mengatakan, “Perlukah Beijing mempimpin proyek ini, atau bisa saja Beijing mengundurkan diri menjadi partner”.Baca Juga: Tidak Gunakan APBD, Pembangunan Kereta Cepat Tersandung Masalah Pembebasan Lahan
Proyek senilai lebih dari US$5 miliar ini merupakan sebuah konsorsium perusahaan dari dua negara, yang juga bertanggung jawab atas konstruksi serta pengoperasiannya. Ini juga merupakan kartu As Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan infrastuktur transportasi di Indonesia.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (10/8/2017), dalam sebuah pertemuan pada akhir bulan Juli kemarin, Presiden Jokowi mempertanyakan kinerja Menteri Transportasi dan pejabat terkait lainnya mengenai minimnya progress dari proyek kereta cepat Jakarta – Bandung ini.
Sejak menghadiri seremoni groundbreaking pada bulan Januari 2016 lalu, namun orang nomor satu di Indonesia ini tidak melihat adanya perkembangan signifikan dari proyek ini. Pihak PT KCIC juga mengaku belum menerima pinjaman yang disepakati dengan sebuah bank di Cina pada bulan Mei kemarin karena pihak KCIC telah gagal memenuhi persyaratan yang diajukan, salah satunya adalah urusan mengakuisisi lahan yang diperlukan.
Ada sedikit kecurangan yang dilirik Jokowi manakala pihak konsorsium mengklaim sudah berhasil mengakuisisi 85 persen lahan yang dibutuhkan pada bulan Januari lalu, namun angka tersebut tidak sama dengan laporan yang masuk pada bulan Juli kemarin, yaitu hanya sebesar 55 persen. Dari situ, Presiden Jokowi menganggap pihak PT KCIC telah melebih-lebihkan angka perkembangan pembebasan lahan tersebut.
Baca Juga: CRH380A, Kereta Tercepat Kedua di Dunia, Siap Layani Jalur Jakarta – Bandung
Pinjaman dari pihak Cina tidak akan cair sebelum PT KCIC berhasil mengakuisisi 100 persen lahan yang hendak dijadikan prasarana transportasi tersebut, dan memaksa pihak Indonesia untuk mempertimbangkan konsesi tambahan untuk mendapatkan dana dengan lebih cepat. Konsorsium tersebut sebelumnya diberi hak untuk mengoperasikan kereta cepat Jakarta – Bandung tersebut selama 50 tahun, terhitung sejak tanggal 31 Mei 2019.
Namun karena hampir tidak mungkin proyek ini selesai pada 2019, maka pihak Indonesia setuju untuk merevisi ketentuan kesepakatan tersebut menjadi 50 tahun terhitung sejak tanggal selesainya pembangunan. Dengan begitu, pihak Cina memiliki lebih banyak waktu untuk menutup investasinya.
Ada juga beberapa pihak menyarankan agar Cina menaikkan sahamnya menjadi sekitar 90 persen dari yang saat ini hanya 40 persen, dan meminta Cina untuk memimpin proyek tersebut. Diketahui sebelumnya, pihak Indonesia akan menjalin kerja sama dengan menghadirkan bullet train khas Jepang, Shinkansen. Namun tawaran Cina tentang kemitraan publik – swasta tanpa biaya membuat pihak Indonesia tergoda, dan lalu meninggalkan Jepang. Kontrak tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden Jokowi pada bulan Oktober 2014 silam.
Baca Juga: Sistem Deteksi Dini Bencana Lengkapi Teknologi Kereta Cepat Jakarta – Bandung
Konsorsium tersebut mendesak pemerintah untuk menanggung biaya jika proyek tersebut gagal. Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa kaitan kereta api pada dasarnya merupakan inisiatif bisnis swasta terlepas dari fakta bahwa perusahaan yang memimpin proyek tersebut adalah milik negara.
Bak berjalan di atas treadmill, proyek ini hampir tidak menunjukkan kemajuan di lapangan dalam kurun waktu dua tahun ke belakang. Bahkan, sempat tersiar kabar bahwa ada pembicaraan yang menjurus ke perubahan rute. Lalu, bagaimana nasib proyek ini ke depannya?