Targetkan 1 Juta Wisman, Jawa Timur Bersama PT Angkasa Pura I Gelar Collaborative Destination Development

Jawa Timur memiliki target satu juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2025 mendatang. Dengan adanya target seperti ini, PT Angkasa Pura I (Persero) menggelar kegiatan Collaborative Destination Development (CDD) sebagai upaya untuk mendukung pengembangan potensi pariwisata Jawa Timur di Surabaya dengan tema “Preparing East Java for 1 Million Foreign Tourist Arrivals in 2025”. CDD sendiri sebenarnya adalah program inisiatif AP I dengan format Focus Group Discusion (FGD) sebagai forum kolaborasi para pemangku kepentingan pariwisata di wilayah AP I yakni wilayah tengah dan timur Indonesia. Forum ini tujuannya untuk mendorong pengembangan potensi industri pariwisata untuk mendapatkan hasil output yang nyata. Baca juga: Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia “Pariwisata merupakan salah satu industri yang digencarkan oleh Presiden Joko Widodo untuk dipromosikan selain perdagangan dan investasi. Angkasa Pura I sebagai salah satu pemangku kepentingan di industri pariwisata yang berperan untuk mewujudkan konektivitas udara, berupaya lebih jauh lagi dengan menginisiasi kegiatan Collaborative Destination Development ini. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkolaborasikan seluruh pemangku kepentingan pariwisata di daerah, khususnya Jawa Timur, agar potensi pariwisata daerah makin berkembang,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (27/7/2017). Danang mengatakan bahwa kunci sukses di industri aviasi dan pariwisata adalah pengembangan kolaborasi antara program maskapai, program pemerintah, program pelaku industri pariwisata, dan program yang diinisasi pengelola bandara. Senada dengan Danang S. Baskoro, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha AP I Moch Asrori mengatakan bahwa pengelola bandara harus menginisiasi kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pelaku bisnis pariwisata instansi terkait dalam mengembangkan industri pariwisata daerah. “Secara khusus, pengelola bandara juga harus dan membuka akses seluas-luas bagi penyedia layanan agen perjalanan di bandara. Selain itu, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diperlukan untuk meningkatkan efektifitas koordinasi, komunikasi, integrasi dan pengendalian antar pelaku bisnis dan periwisata terutama PT Angkasa Pura I,” ujar Asrori. Terkait target kunjungan 1 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Timur pada 2025, Asrori menyatakan optimismenya. “Jika melihat pertumbuhan pergerakan penumpang mancanegara selama beberapa tahun terakhir, kami optimis dapat mencapai target 1 juta kunjungan wisman ke Jawa Timur pada 2025, bahkan dapat tercapai lebih awal. Pada 2016, terdapat 612.412 kunjungan wisman melalui Bandara Juanda, naik 32 persen dibanding jumlah kunjungan wisman pada 2015 yang sebanyak 463.596 wisman. Bahkan pertumbuhan kunjungan wisman 2015 dibanding 2014 naik cukup signifikan yaitu 54 persen, di mana pada 2014 jumlah kunjungan wisman hanya sebesar 300.009 orang,” jelas Asori. Baca juga: Inilah Alasan PT Angkasa Pura I Berganti Jadi “Angkasa Pura Airports” Lebih lanjut Asrori mengatakan, pihaknya selaku pengelola bandara mendukung penuh rencana dan target Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mendatangkan wisatawan ke Jawa Timur. Angkasa Pura I senantiasa memberikan perhatian khusus pada pengembangan daerah, mendorong sinergi dengan Pemerintah Daerah, Kementerian Pariwisata, maskapai penerbangan, serta pemangku kepentingan lain untuk mengambil peran penting dalam usaha penyediaan kapasitas infrastruktur dan konektivitas sisi udara. Bentuk dukungan lainnya, ujar Asrori, adalah pemberian insentif bagi maskapai yang membuka atau menambah rute baru berupa penggratisan biaya pendaratan (landing fee). “Kami mendorong para maskapai untuk membuka rute baru atau menambah frekuensi terbang dengan memberikan insentif penggratisan landing fee. Dengan bertambahnya rute baru dan frekuensi terbang, maka pergerakan penumpang akan bertumbuh yang pada akhirnya diharapkan akan mendorong industri pariwisata daerah,” kata Asrori. Saat ini terdapat banyak destinasi wisata dan potensi wisata lainnya di Jawa Timur yang dapat dioptimalkan lebih baik lagi, seperti Gunung Bromo, Gunung Semeru, Kawah Ijen, Gili Iyang, Gili Labak, Pantai Sembilan Gili Genting. Forum kolaborasi para pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Timur ini melibatkan jajaran pemerintah pusat yang diwakili oleh Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah seperti Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur, dan perwakilan pemerintah kota/kabupaten sekitarnya. Selain itu kegiatan ini juga melibatkan para pelaku bisnis seperti maskapai penerbangan, Association of Indonesian Tours and Travel Agent (ASITA) Jawa Timur, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, dan pelaku usaha di bidang pariwisata lainnya.  

Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

Untuk sebagian orang, turunnya kabut memberikan nuansa tenang dan rileks untuk beristirahat, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan para pekerja di dunia aviasi, khususnya pilot. Sedikit bernostalgia ke belakang ketika pada tahun 2006 silam, sejumlah maskapai di Inggris terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengudara karena kepulan kabut tebal yang menyelimuti Britania Raya tersebut. Sebenarnya, pembatalan ini bukan diakibatkan efek visibilitas yang rendah saat mengudara, melainkan ketika pesawat berada di darat. Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat Faktanya, keberadaan teknologi canggih di dalam pesawat memudahkan pilot untuk mengatasi masalah penglihatan yang kerap kali menganggu tugas mereka, seperti keberadaan awan rendah, hingga kabut tebal sekalipun. Namun setibanya mereka di darat, pandangan pilot benar-benar tergantung dari kaca depan pesawat. Di sini, ia harus benar-benar jeli untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain yang berada di lintasan, seperti pesawat lain atau pun mobil caddy. Pernyataan tersebut dipertegas oleh juru bicara National Air Traffic Services (Nats), Richard Wright. “Ini bukanlah masalah pengendali lalu lintas udara, namun lebih kepada masalah saat mereka menyentuh landas pacu,” ujar orang yang juga memantau lalu lintas udara di sekitaran Inggris. “Pesawat-pesawat tersebut membutuhkan ruang lebih ketika mereka sudah berada di landas pacu agar menghindari benturan dengan kendaraan lain,” tambah Richard. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com, Richard mengatakan alangkah baiknya jika pihak pengelola bandara mengosongkan landas pacu dan mensterilkannya sebelum pesawat lain mendarat. Tentu ini merujuk pada low visibility procedures yang mengatakan setiap pesawat yang mendarat di suatu bandara harus dipisahkan satu sama lain sejauh enam mil atau setara dengan 9,7 meter. Baca Juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara Pemberlakuan prosedur ini tentu sangat mungkin dilakukan di bandara-bandara yang berukuran tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai aktifitasnya. Namun apa jadinya jika prosedur tersebut juga diberlakukan di bandara-bandara besar dan telah dinobatkan sebagai bandara dengan tingkat aktifitas yang sangat padat seperti Bandara Internasional Heathrow di Inggris? Tentu saja pemberlakuan prosedur ini akan berimbas pada pembatalan sejumlah penerbangan. Ditinjau lebih lanjut, pembatalan pemberangkatan itu akan membawa kerugian tersendiri terhadap pihak maskapai yang bersangkutan. Baca Juga: Saat Bencana Alam Tiba, Bukan Berarti Perjalanan Batal, Ikuti Tips Ini! Maka dari itu, pihak maskapai lebih memilih untuk membatalkan penerbangan ketika cuaca berkabut ketimbang harus menghadapi resiko yang bisa saja membahayakan banyak orang, seperti kejadian pada tahun 2001 dimana 118 orang meninggal di Bandara Linate, Milan ketika sebuah pesawat yang dioperasikan oleh maskapai asal negara skandinavia, SAS tengah bersiap untuk lepas landas. Sayangnya, kondisi berkabut pada saat itu membuat jarak pandang pilot amat terbatas sebelum akhirnya menabrak bagian sayap dari sebuah pesawat pribadi yang “nyasar” landas pacu akibat kondisi kabut yang luar biasa pekat. Di Indonesia, kasus yang mirip juga kerap terjadi, namun yang dihadapi adalah kabut akibat asap kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Sumatera dan Kalimantan.

Bemo Tereliminasi, Bajaj Qute Jadi Solusi

Bemo, kendaraan penumpang dengan tiga roda dan memiliki body yang lebih besar dari Bajaj ini sepertinya harus tergerus jaman. Sebab per 6 Juni 2017 kemarin, Pemprov DKI Jakarta baru saja menertibkan bemo di Ibu Kota berdasarkan surat edaran Dinas Perhunungan DKI Jakarta Nomor 84 Tahun 2017 tentang pelarangan bemo beroperasi. Baca juga: Bemo, Mencoba Eksis Ditengah Himpitan Zaman KabarPenumpang.com mengabarkan, saat ini sudah ada pengganti bemo yakni Bajaj Qute yang bentuk menyerupai mobil mini dengan tempat duduk penumpang berada di samping pengemudi dan bisa memuat tiga sampai empat orang penumpang didalamnya. Bajaj Qute yang saat ini baru ada di Jakarta Utara dan menggantikan jalur Bemo dari Stasiun Jakarta Kota menuju Pademangan dan sebaliknya. Bajaj Qute memiliki spesifikasi mesin 220 cc dengan tenaga 13,2 Ps dan memiliki transmisi manual lima percepatan. Betapa cute-nya Bajaj Cute bisa dilihat dari dimensinya, yakni panjang 2,75 meter, lebar 1,32 meter dan tinggi 1,65 meter. Berat kosong Bajaj Qute pun cukup ringan, hanya 431 kg dan maksimum bisa membawa muatan hingga 731 kg. Tak seperti Bajaj Biru yang menggunakan bahan bakar gas, Bajaj Qute seperti kendaraan konvensional, menggunakan bensin. Baca juga: Bajaj, Angkutan Beroda Tiga Yang Melegenda Pengganti bemo ini, bisa melaju hingga kecepatan 70 km per jam dan dirancang menggunakan stir sebagai kemudi layaknnya kendaraan roda empat lainnya serta bukan stang seperti Bajaj tiga roda. Dikutip KabarPenumpang.com dari Kompas otomania.com (25/7/2017), operasional transmisi Qute menggunakan tuas yang ada ditengah dasbor. Ada pula tiga pedal dibawah kemudi dan sepertinya menggunakan transmisi manual. Panel instrumen yang ada di tengah memiliki penunjuk kecepatan model analog, sementara bagian bawahnya berpenampang digital. Di Bajaj Qute ini juga ditunjang dengan hiburan yakni perangkat audio yang bisa memutar file digital MP3, kartu memori, radio dan terkoneksi dengan USB. Baca juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India Bajaj Qute mulai beroperasi di Jakarta sejak 19 Juli lalu dan masih dalam status uji coba. Tarif yang dikenakan pada penumpang juga Rp5 ribu sekali naik untuk per penumpang. Saat ini diketahui, keberadaan Bajaj Qute di sekitaran Jakarta Utara ada 17 unit dan Organda DKI Jakarta sudah menyiapkan 2000 lebih armada Bajaj Qute yang ditargetkan, akan beroperasi pada akhir 2017.

Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi

Provinsi Jawa Barat tahun depan rencananya bakal memiliki satu lagi bandara internasional, setelah saat ini ada Bandara Husein Sastranegara yang berada di Kota Bandung. Bandara yang dimaksud adalah Bandara Internasional Kertajadi di Kota Majalengka, yang pengoperasiannya telah dipatok pada tahun 2018. Selain digadang meningkatkan kapasitas arus wisatawan dan bisnis ke wilayah Jawa Barat, bandara yang disebut Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Internasional Kertajati, dicanangkan untuk melayani rute penerbangan Haji. Selama ini calon Haji asal Jawa Barat yang ingin terbang ke Tanah Suci harus melalui Bandara Soekarno-Hatta. Dirangkum dari berbagai sumber oleh KabarPenumpang.com, BIJB ini akan dibangun dengan panjang landasan pacu (runway) tunggal dengan panjang 3.500 meter, itu untuk tahap pertama, kedepannya bila telah selesai tuntas, BIJB akan memiliki dua landasan pacu. Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara Pada tahap pertama nantinya bandara ini mampu menampung 5 juta penumpang per tahun dan bisa menampung hingga 18 juta penumpang per tahun di tahun berikutnya. Dari konsepnya, BIJB dibangun untuk membantu arus penerbangan di Bandara Internasional Husein Sastranegara. Selain untuk kepentingan penerbangan komersial, selama ini Bandara Husein Sastranegara digunakan bersama untuk aktivitas PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU. Jarak antara Bandung menuju Majalengka sendiri sekitar 68 km, atau jika ditempuh lewat jalur Purwakarta berjarak 98,4 km. Karena dibangun di lokasi strategis, aksesbilitas BIJB terjamin karena adanya jalan raya dan jalur kereta api yang menghubungkan Bandung, Kertajati dan Cirebon.
Sketsa Terminal Utama Bandara Internasional Kertajati (PT BIJB)
Nantinya jalur kereta bandara BIJB akan membentang sejauh 15 km dari Kertajati sampai ke stasiun Jatibarang, Indramayu dan dibangun oleh anak usaha PT KAI yakni PT Railink. Pembangunan kereta bandara hingga stasiun Jatibarang, dikarenakan penumpang dari Jakarta yang berangkat dari stasiun Gambir bisa menuju BIJB melalui stasiun Jatibarang. Baca juga: Hang Nadim, Bandara dengan Landas Pacu Terpanjang di Indonesia Bandara yang akan selesai pembangunannya tahun 2018 mendatang ini, dibangun diatas lahan seluas 1.800 hektar dan akan dibagi tiga tahap pembangunan. Proyek pembangunan BIJB sendiri diperkirakan menghabiskan biaya Rp25,4 triliun. Selain itu bandara ini akan mengoperasikan 14 rute penerbangan yakni sepuluh penerbangan domestik dan empat penerbangan internasional termasuk pengangkutan jemaah haji. Yang unik, nantinya BIJB akan memiliki menara ATC (Air Traffic Control) berbentuk Kujang yang merupakan senjata tradisional asal Jawa Barat. Bandara Internasional Kertajati, akan dikelola oleh PT Angkasa Pura II (Persero) yang juga mengelola Bandara Internasional Husein Sastranegara.
Tampak Luas Bandara Internasional Kertajati (bandarakertajati.com)
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Jabar atas kepercayaan yang diberikan sehingga dalam waktu dekat AP II dan PT BIJB akan membahas lebih detail terkait pengoperasian BIJB serta akan melakukan penandatanganan MoU terkait hal ini. Kami optimistis akan dapat membawa BIJB menjadi bandara yang secara maksimal dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia khususnya Jawa Barat. Saat bertemu dengan Gubernur Jabar, kami juga menyampaikan minat untuk terlibat dalam pengembangan Aerocity di kawasan bandara tersebut. Tidak menutup kemungkinan bahwa AP II dan PT BIJB juga akan membentuk joint venture company yang fokus pada pengembangan usaha di BIJB,” ujar Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (24/7/2017). Baca juga: Bandara Radin Inten II Semakin Keren dengan Lorong Fiberglass AP II juga berkomitmen penuh dalam mendukung PT BIJB sehingga target pengoperasian BIJB dapat memenuhi target yang ditetapkan yakni pada Semester I/2018. Seperti diketahui, AP II saat ini juga mengelola Bandara Internasional Husein Sastranegara yang terletak di Bandung. Bandara tersebut kini menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri pariwisata di kawasan Jawa Barat khususnya Bandung.

Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney

Simpang siur kendaraan di Ibu Kota memang sering sekali membuat sebagian pengguna jalan kesal. Tidak hanya kendaraan pribadi saja, kendaraan umum serta para pengguna jalan lainnya juga seolah terburu-buru sehingga kemacetan yang menjadi pemandangan sehari-hari di sini pun menjadi kian runyam. Belum lagi tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dan polusi di Jakarta semakin “mengharumkan” namanya. Ini berimbas pada disematkannya predikat kota terburuk di dunia karena kemacetan lalu lintasnya pada tahun 2015 silam. Baca Juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi Belakangan ini, masalah polusi menjadi topik perbincangan hangat di kalangan otoritas kelas wahid. Tingkat pencemaran udara di Jakarta dinilai sudah melebihi batas dan sudah tiba waktunya untuk memikirkan bagaimana cara untuk meredam tingkat pencemaran tersebut. Menurut data yang dilansir KabarPenumpang.com dari news.com.au (2/5/2017), tingkat emiter karbon dioksida per-kapita Indonesia berada di angka 1,9 ton per-orang, sedangkan benua tetangga kita, Australia menempati urutan ke-12 dunia dengan tingkat emiter karbon dioksida per-kapitanya berada di angka 16,3 ton per-orang. Secara mengejutkan, hasil riset menunjukkan tingkat emiter yang karbon dioksida yang dimiliki Indonesia berada jauh di bawah Negeri Kangguru. Ini merupakan salah satu acuan hingga Australia menjadikan Indonesia sebagai panutan dalam dua hal yang dianggap akan berdampak pada kondisi transportasi di sana. Dua aspek tersebut meliputi usaha dalam meredam peningkatan polusi.
Sumber: istania.net
Yang pertama adalah pemberlakuan program “Car Free Day” setiap hari Minggu. Seperti yang diketahui sebelumnya, pemberlakuan program ini bertujuan untuk mengurangi tingkat polusi di Ibu Kota dengan cara melarang kendaraan bermotor untuk melintas beberapa jalur protokol, seperti Jalan Sudirman hingga Jalan M. H. Thamrin, termasuk Bunderan HI. Program ini dilakukan setiap hari Minggu dari mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Walaupun Car Free Day hanya berlaku sekali dalam seminggu, namun program ini mampu membuat benua tetangga iri, khususnya kota Sydney. Bahkan media luar menilai ini merupakan hal yang luar biasa untuk ukuran kota yang sama sekali tidak memungkinkan para warganya untuk berjalan kaki. Seorang ahli transportasi dan pengamat kota dari University of Sydney, Dr. Stephen Greaves mengatakan Australia bisa saja melakukan hal serupa dengan apa yang diterapkan di Indonesia, selama pihak otoritas setempat memiliki kemauan untuk mengadakan program Car Free Day. Baca Juga: Peduli Polusi, Hyundai Hadirkan Bus Listrik Untuk Tekan Pencemaran Lingkungan Lebih lanjut, Stephen mengatakan pemerintah setempat memiliki beberapa rancangan yang bisa dibilang serupa dengan program Car Free Day, namun selalu dibantah karena dianggap tidak memiliki dampak yang signifikan. “Selain itu, kami juga kerap kali meremehkan peran transportasi dalam memproduksi emisi karbon. Namun, emisi karbon tersebut terus tumbuh seiring masyarakat membeli kendaraan yang lebih besar dan mampu menempuh jarak yang lebih jauh,” ungkapnya.
Sumber: sindikat.co.id
Selain itu, kehadiran Gojek juga menjadi poin perhatian Australia. Gojek dinilai oleh media luar sebagai inovasi dalam mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan, bersanding dengan sarana transportasi lainnya, seperti KRL dan TransJakarta. Kembali, pihak Australia memberikan pembelaan dengan mengatakan pengadaan lebih banyak sarana transportasi akan berbenturan dengan perluasan jaringan bawah tanah yang tengah digarap. Hadirnya pernyataan seperti ini memang membawa penyegaran tersendiri untuk Indonesia karena masih bisa dijadikan contoh oleh negara lain. Namun, tentu saja kita tidak boleh cepat berpuas diri, karena masih banyak negara yang memiliki tingkat polusi yang jauh lebih rendah dari Indonesia, dan kita harus mencontoh negara tersebut. Sebagai masyarakat, yang harus kita lakukan adalah membantu program pemerintah dalam mengurangi polusi, seperti lebih memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Jadi, siapkah kita membantu program pemerintah untuk mengurangi polusi?

Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

Sampai saat ini tersedianya koneksi WiFi (wireless fidelity) di kabin pesawat masih hadir secara terbatas di penerbangan full service. Bagi pihak maskapai, adanya koneksi WiFi jelas membawa citra positif bagi kepentingan promosi. Namun karena dibutuhkan investasi tambahan untuk instalasi WiFi, baru penerbangan terpilih jarak jauh yang menghadirkan WiFi hotspot. Dari dimensi pesawat pun, deployment WiFi masih didominasi oleh pesawat berbadan lebar (wide body). Namun bakal berbeda dalam lima tahun mendatang, sebaran koneks WiFi di pesawat bakal lebih booming, bahkan boleh jadi WiFi akan menjadi layanan standar. Dilansir KabarPenumpang.com dari fortune.com (11/7/2017), Juniper Research memperidiksi bahwa di tahun 2022 bakal ada sekitar 14.419 pesawat komersial yang dilengkapi konektivitas WiFi. Kenaikan ini mencapai 175 persen dari jumlah tahun ini yang baru mencapai angka 5.234 pesawat. Baca juga: Maskapai Pacu Kemampuan WiFi dalam Penerbangan Hasil ini merupakan proyeksi dari Juniper Research yang berbasis di Inggris. “Kenaikan hampir 175 persen ini bisa dikatakan setengah dari armada penumpang dunia yakni pesawat komersial akan terhubung dengan konektivitas,” ujar juru bicara Juniper. Permintaan konektivitas WiFi didorong dari adanya masyarakat yang membawa perangkat masing-masing atau BYOD (Bring On Your Device) booming. Dimana setiap orang ingin menggunakan smartphone ataupun tablet pribadi dimana pun mereka berada, baik itu untuk bekerja, bermain game atau menyusuri website untuk membaca berita serta sekedar membuka media sosialnya masing-masing. Baca juga: Ookla: Bandara di India Tempati Urutan Empat Asia dengan Kecepatan WiFi Terbaik Tentu kebutuhan akses internet penumpang tak bisa dilakukan saat smartphone maupun tablet dalam kondisi flight mode (airplane mode), sehingga tidak terhubung dengan jaringan internet. Tantangan tersebut jelas menjadi tantangan besar bagi para maskapai penerbangan dan pihak penyedia solusi teknologi. Bagi maskapai, hadirnya koneksi WiFi, terutama pada penerbangan jarak jauh bisa meningkatkan pendapatan di luar penjualan tiket. Pasalnya akses WiFi di kabin pesawat tak disajikan secara gratis. Sebagai ilustrasi, Gogo selaku penyedia layanan inflight WiFi di Alaska Airlines mengenakan tarif US$7 (sekitar Rp93 ribu) untuk pemakaian akses internet selama sat jam, atau US$19 untuk akses penuh selama satu hari. Sebagai layanan yang masih tergolong premium, penumpang dimudahkan untuk membeli voucher akses WiFi bulanan atau tahunan. Di masa mendatang, maskapai American Airlines akan menggunakan layanan satelit Gogo dan ViaSat (VSAT, + 0,24 persen). Juniper Research juga mencatat peningkatan jumlah maskapai penerbangan yang menawarkan layanan streaming nirkabel dalam pesawat sebagai pilihan sistem hiburan. Bagi para pemerhati penerbangan, dengan layanan ini maka pendapatan bulanan dari streaming tersebut akan meningkat 30 persen. Baca juga: WiFox, Bantu Anda Berburu WiFi Gratisan di Bandara Internasional Meski ada potensi pasar penggunaan WiFi di pesawat, namun ada satu masalah yang masih mengganjal, yakni kekhawatiran keamanan yang menyebabkan pemerintah AS mengusulkan larangan laptop di kabin penumpang pada beberapa penerbangan. Isu lainnya yakni WiFi yang bertatif premium tidak menjamin pengalaman konektivitas di angkasa itu bisa maksimal seperti di darat. Perlu jadi catatan, bahwa koneksi internet WiF di pesawat memanfaatkan satelit sebagai hub transponder, boleh jadi ancaman cuaca buruk akan mempengaruhi kualitas koneksi inflight WiFi.

Instrument Landing System Memungkinkan Pesawat Mendarat Ketika Berkabut

Hingga detik ini, tidak ada yang bisa meragukan sulitnya dalam berkendara ketika turun kabut, begitu pun dengan para pilot. Nyawa dari puluhan hingga ratusan penumpang yang berada di sebuah maskapai dipertaruhkan dengan kepiawaian seorang pilot mengatasi kondisi seperti ini. Namun, seiring berjalannya waktu, sudah banyak bandara yang dilengkapi dengan Instrument Landing Systems (ILS) yang canggih, sehingga para pilot bisa mendarat dan mengudara bahkan dalam kondisi berkabut. Baca Juga: Hang Nadim, Bandara dengan Landas Pacu Terpanjang di Indonesia Dipelopori pada tahun 1929 silam, perengkapan ILS  dewasa ini memungkinkan awak pesawat mendekat ke arah landas pacu walaupun jarak visibilitas mereka sangat rendah, dan mereka dapat mengetahui secara real time apakah pesawat sudah sejajar dengan sumbu landasan. Tidak hanya sampai di situ, dengan adanya ILS ini, para pilot juga dapat mengetahui sudut yang tepat untuk mencapai zona touchdown dengan selamat. Sebagaimana yang disarikan KabarPenumpang.com dari laman love2fly.iberia.com, ILS ini menggunakan beragam sinyal radio yang dipancarkan oleh peralatan pada instalasi berbasis darat, serta penyertaan peralatan on-board yang sesuai sehingga dapat menerima sinyal tersebut dan mengubahnya menjadi informasi yang relevan bagi para pilot. Data penyelarasan sumbu landas pacu dipancarkan oleh radio dari antena yang disebut localiser, yang kerap kali ditemui di ujung landasan. Dari sinyal yang dipancarkan, pilot dapat menghitung orientasi sinyal kiri dan kanan yang diterima, dan mensejajarkan posisi pesawat dengan landas pacu. Instrumen on-board juga memungkinkan pilot mengetahui posisi pesawat terhadap landas pacu dari perbedaan intensitas sinyal yang diterima. Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim Data yang dikirim oleh ILS akan muncul di layar yang berada di dalam kokpit, bahkan beberapa model ILS mampu mengirimkan perintah pendaratan langsung ke sistem auto-pilot. Apabila Anda berpikiran lampu landas pacu merupakan bagian dari ILS, maka Anda salah besar. Karena lampu pada landas pacu merupakan bagian dari Approach Lighting System (ALS) yang juga berperan dalam membantu pilot melakukan pendaratan ketika kondisi berkabut. ILS sendiri memiliki tiga kategori berbeda, yaitu kategori I, II, dan III. Masing-masing kategori memiliki ketinggian minimum untuk mendarat dan jarak pandang yang berbeda-beda. Terlepas dari kategori tersebut, di setiap pesawat harus dilengkapi dengan on-board instrument ini dan awak kapal yang terlatih untuk membaca informasi yang dikeluarkan oleh alat ini. Baca Juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse Dalam prakteknya, pengendali lalu lintas udara bertanggung jawab untuk membimbing pesawat terbang menuju localiser landasan pacu saat mendekati bandara, walaupun beberapa pesawat mungkin menggunakan ILS secara bersamaan, menunjukkan rute untuk mengikuti dan menerapkan jarak pengaman yang diperlukan di antara setiap pesawat masuk yang dalam kondisi low-visibility perlu lebih besar dari biasanya. Keberadaan ILS juga bisa dijadikan sebagai pengatur keberadaan pesawat di sekitar landas pacu, sehingga jarak aman antar pesawat tetap terjaga, baik dalam kondisi berkabut ataupun cerah.

Baru Lima Hari Beroperasi, Vandalisme Terpa Jaringan MRT Kuala Lumpur

Bayangan vandalisme pada fasilitas transportasi tak hanya jadi momok di kota besar seperti Jakarta, di Kuala Lumpur, Malaysia yang terkenal lebih tertib, vandalisme juga marak terjadi, terlebih pada sarana MRT (Mass Rapid Transit) yang baru saja diluncurkan pada 20 Juli 2017 di kawasan Bukit Bintang. Dilansir KabarPenumpang.com dari todayonline.com (25/7/2017), salah seorang penumpang bernama Ahmad Addin Abdul Aziz saat berada di MRT Bukit Bintang mengatakan, tindakan vandalisme menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap fasilitas umum. Menurutnya, vandalisme yang terjadi tidak dapat diterima dan pasti membuat orang lain tidak akan nyaman berada di fasilitas umum bila rusak. Baca juga: India Sukses Lubangi Perut Bumi Untuk Jalur MRT Bawah Airnya “Saya yakin bahwa operator MRT telah memasang kamera CCTV yang memadai, namun beberapa individu yang tidak bertanggung jawab akan terus menjalankan vandalisme. MRT harus menemukan pelaku dan menghukum atas tindakan yang dilakukan,” kata mahasiswa berusia 20 tahun tersebut. Selain itu, Nusyafiqah Mat Arif juga menambahkan, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mengurus fasilitas umum. “Bila ada yang melakukan vandalisme, baiknya jangan pura-pura tidak melihat, tapi si pelaku harus ditegur,” ujarnya.
Buaian atau jumper bayi yang di gantung saat berada di dalam MRT Malaysia (Malay Mail Online)
Beberapa penumpang yang menggunakan MRT sempat mengambil gambar dan mengunggahnya ke media sosial terkait perilaku penumpang yang tidak bertanggung jawab. Ditempat lain terlihat foto unggahan seorang penumpang dimana membiarkan anak-anak berperilaku buruk di dalam MRT. “Beberapa anak terlihat berdiri di kursi, bermain dengan pegangan tangan, dan yang menyedihkan adalah bahwa orang tua tidak peduli dengan perilaku anak-anak,” katanya. Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan Direktur strategis dan pemodelan strategis MRT Corp Datuk Najmuddin Abdullah pada hari Minggu telah menyatakan kekecewaannya dalam sebuah posting Facebook mengenai vandalisme di beberapa stasiun. “Setelah lima hari operasi, goresan bisa terlihat di bangku dan dinding. Toilet untuk orang cacat rusak dua hari yang lalu. Baru sekarang, saya melihat sapu dan sorotan di atap Exit F di stasiun MRT Bukit Bintang,” katanya. Tidak hanya itu, Abdullah diberitahu bahwa anak-anak memanjat di tembok pembatas antara jalan raya di stasiun Merdeka, sementara orang tuanya tidak mau menghentikan mereka. “Mereka sama sekali tidak sopan,” tambahnya. Abdullah mengatakan bahwa MRT telah menyediakan fasilitas kelas satu kepada warga Kuala Lumpur, namun jika masyarakat masih belum siap menghadapi mental kelas satu untuk menerimanya, banyak uang akan terbuang sia-sia pada pekerjaan perbaikan yang tidak perlu. Dalam menghadapi permasalahan ini, pihak MRT kemudian mengambil langkah cepat untuk membereskannya. Sapu dan lampu sorot tidak lagi berada di tempat yang tidak semestinya, dimana sebelumnya berada di atap Exit F stasiun Bukit Bintang. Petugas kebersihan juga di tempatkan di beberapa sudut untuk memastikan stasiun tetap bersih. Baca juga: Sistem Tiket MRT Jakarta Mengacu Ke Singapura, Paling Jauh Ditaksir U$1 Abdullah mengatakan, pihak MRT Corp mengutuk adanya tindakan vandalisme yang terjadi di beberapa stasiun MRT. Menurutnya, fasilitas ini disediakan pemerintah untuk kepentingan rakyat dengan biaya keseluruhan yang mencapai miliaran. “Dengan semua kerusakan ini, lebih banyak uang dibutuhkan untuk perbaikan,” katanya. Dia mengatakan bahwa orang-orang yang tertangkap basah akan dikenai Undang-Undang Vandalisme (Pengerusakan) 1991 oleh Pemerintah Daerah setempat dan akan dikenai denda maksimal RM2.000 (S$636) atau dipenjara kurang dari setahun, jika terbukti bersalah. Baca juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura Dia mengatakan bahwa mereka juga dapat dikenai tuduhan berdasarkan Undang-Undang Komisioner Angkutan Umum Daerah Tahun 2010. Pada 17 Juli, Perdana Menteri Najib Razak meluncurkan tahap kedua dari SBK Line dari Muzium Negara ke Kajang. Jaringan MRT di Kuala Lumpur telah dilayani oleh 19 stasiun, secara keseluruhan nantinya jaringan MRT Kuala Lumpur akan memiliki 31 stasiun. Tahap pertama MRT dengan rute Sungai Buloh dan Semantan diluncurkan oleh Perdama Menteri Najib Razak pada 15 Desember tahun lalu.

Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia

Perkataan “Sekarang Semua Orang bisa Terbang,” nampaknya bukan hanya bualan semata, sebab saat ini beberapa maskapai dalam dan luar negeri sudah menghadirkan penerbangan dengan biaya rendah atau low cost carrier (LCC). Ledakan maskapai dengan kategori LCC seperti Lion Air Indonesia, Jetstar Australia, TigerAir Singapura, Cebu Pacific Filipina dan AirAsia membuat setiap orang bisa terbang kemanapun dengan biaya rendah. Baca juga: Hadapi Tol dan Penerbangan LCC, PT KAI Rancang Layanan “Door to Door Services” Dilansir KabarPenumpang.com dari ozy.com (17/7/2017), dengan adanya penerbangan biaya rendah ini, lalu lintas udara di kawasan Asia Pasifik tumbuh sebesar 66 persen dari tahun 2010 hingga 2015 lalu dan tahun 2016, jumlah penumpang melonjak hingga 1,3 miliar dan lebih tinggi jumlahnya dari gabungan jumlah penumpang di Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Menurut data dari UN International Civil Aviation Organization (ICAO), secara keseluruhan, wilayah Asia Pasifik sekarang memiliki 35,4 persen lalu lintas udara dunia. Bahkan International Air Transport Association (IATA) memproyeksikan Asia Pasifik akan menghasilkan lebih dari 50 persen penumpang baru secara global dalam 20 tahun kedepan. Sekitar tahun 2024, IATA mengatakan, Cina akan menggantikan Amerika Serikat di pasar penerbangan terbesar dunia, India akan berada di tempat yang sama dengan Inggris pada urutan ketiga tahun 2025. Sedangkan Indonesia akan menggeser Italia dari posisi 10 besar. Direktur Regional Asia Pasifik ICAO, Arun Mishra mengatakan bahwa 200 bandara baru akan berada di wilayah Cina dan India. Diketahui, semua bandara baru tersebut adalah daerah yang bukan masuk dalam jalur penerbangan regional. Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar Sebagai awal, wilayah udara yang luas dan beragam ini terbentang dari Stans, India dan Cina, ke arah tenggara sampai Selandia Baru dan mencakup 50 wilayah informasi penerbangan. Dari 50 wilayah ini, beberapa diantaranya mengelola sistem penerbangan modern dan yang lainnya belum memenuhi spesifikasi internasional. Selain itu perbedaan bahasa, sistem politik dan pendekatan regulasi ekonomi transportasinya pun berbeda. Pakar Penerbangan dari National University of Singapore, Profesor Alan Tan, menekankan perlunya regulator teknikal serupa dengan FAA atau European Aviation Safety Agency. “Standar tidak perlu seragam namun diselaraskan sampai tingkat yang memadai untuk memungkinkan kerja sama penegakan lintas batas sesuai dengan persyaratan internasional,” katanya. Tan mencatat, adanya varians besar dalam kapasitas teknis diantara negara-negara ASEAN. Hal ini membuat, lisensi sekolah pilot yang dikeluarkan Kamboja atau Myanmar tidak mudah dikenali oleh negara lain, hingga ada keabsahan kualitas pelatihan yang mereka jalankan. Lain dari itu, masalah keamanan juga menjadi perhatian para ahli. Menurut Laporan Keselamatan Penerbangan Tahunan ICAO 2016, kecelakaan di kawasan Asia Pasifik telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pada akhir 2015, FAA menurunkan peringkat Thailand menjadi kategori 2 pada tahun 2014 karena negara tersebut tidak memenuhi standar keselamatan minimum internasional. Keputusan tersebut melarang operator Thailand membuka rute Amerika Serikat baru atau memperluas yang sudah ada, dan mengarahkan armada negara ke inspeksi tambahan di bandara Amerika Serikat, Negara Asia Pasifik lainnya pada kategori 2 adalah Bangladesh. “Memang ada ketegangan dalam hal infrastruktur yang berusaha menyusul ledakan di penerbangan regional yang dipimpin oleh LCC. Pasti ada kebutuhan untuk investasi yang lebih besar, tidak hanya di infrastruktur fisik seperti bandara dan terminal, tapi juga kesiapamn sumber daya manusia, seperti untuk  pilot dan personil perawatan,” kata Tan. Tanpa investasi semacam itu, para ahli khawatir bahwa infrastruktur udara yang tertekan dapat memperlambat pembangunan ekonomi dan pada akhirnya menghasilkan pertumbuhan yang salah arah.

Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

Guna meningkatkan pundi-pundi pendpatan, maskapai berbiaya rendah alias low cost carrier (LCC) punya segudang cara untuk mengenakan biaya ekstra kepada penumpang, khususnya dalam pengenaan tarif barang bawaan di kargo. Terlebih melihat kecenderungan penumpang LCC membawa barang bawaan (hand carry) ke dalam kabin, maka beberapa maskapai LCC di luar negeri menerapkan kiat khusus untuk mengenakan tarif pada jenis barang bawaan yang ditenteng  ini. Baca juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID Untuk alasan kenyamanan dan juga keamanan, secara default penumpang dengan hand carry akan menempartkan barang bawaannya ke dalam bagasi kabin, tempat penyimpanan yang tertutup dan berada di atas tempat deretan tempat duduk. Namun mengingat animo penumpang yang begitu besar atas barang bawaan di kabin, menjadikan kapasitas bagasi kabin selalu dalam kondisi overload. Guna menyiasati kondisi diatas, dan melihat adanya peluang pengenaan tarif tambahan, Jet2, maskapai LCC asal Inggris menerapkan jurus yang terbilang baru. Seperti dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (21/7/2017), saat ini Jet2 sudah menambahkan biaya untuk memasukkan barang ke dalam bagasi kabin pesawat. Harga yang diberikan mulai dari £2,59 (sekitar Rp50.000) per orang per tasnya sekali berangat. Sehingga bila Anda pergi berdua bersama pasangan, setidaknya harus menambahkan £10 (sekitar Rp174.000) untuk ongkos mereka.
Daily Mail
Jet2 menawarkan pemesanan secara online, dimana pada saat penerbangan yang sibuk bisa memudahkan penumpang, atau kemungkinan lain pihak maskapai akan meminta penumpang membawa barang bawaannya untuk tidak dimasukkan ke bagasi kabin, melainkan bisa di pegang dan diletakkan di bawah bangku. Juru bicara Jet2 mengatakan,”Penumpang Jet2.com dapat membawa 10 kg barang bawaan gratis. Namun pada penerbangan sibuk, kadang-kadang diperlukan beberapa barang bawaan untuk ditempatkan di luar bagasi kabin, namun pelanggan yang ingin menjamin bagasi mereka di pesawat dapat membayar biaya yang kecil untuk kami tangani secara khusus.” Baca juga: Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’ Masih dari maskapai berbasis LCC, Ryanair yang berbasis di Irlandia juga punya ketentuan khusus menyangkut barang bawaan yang bisa masuk ke dalam kabin. Ryanair memang tidak memberikan biaya saat membawa barang ke kabin, tetapi maskapai ini hanya menjamin 90 penumpang saja yang bisa membawa tasnya ke bagasi kabin. Sisanya para penumpang akan seperti terkena bayaran ‘paksaan’ untuk bisa meletakkan barangnya di luar bagasi kabin. Singkat cerita, apa yang diterapkan Ryanair menyiratkan bahwa penumpang yang check in lebih awal bisa mendapat prioritas membawa tas mereka untuk dibawa masuk ke dalam bagasi kabin pesawat. Selain itu Wizz Air, LCC asal Hungaria memberi imingan pengurangan biaya £9 untuk membawa tas ke bagasi kabin bagi penumpang yang check in lebih dini, dan langkah tersebut banyak membuat penumpang kebingungan. Baca juga: Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti Sebuah studi oleh perusahaan penyedia layanan teknologi travel, CarTrawler tentang pendapatan tambahan dari maskapai, yang mencakup semua pendapatan di luar ongkos penerbangan, menemukan sepuluh operator teratas termasuk Ryanair dan Easyjet menghasilkan tambahan £21,5 miliar di tahun lalu, naik dari 1,6 juta poundsterling pada tahun 2007. Prioritas Ryanair Boarding mulai dari £5 per orang per penerbangan. “Pelanggan Ryanair menikmati salah satu peraturan tas kabin paling murah di Eropa dan mungkin membawa satu tas 10 kg di kargo secara gratis dan satu tas kecil yang juga gratis dalam bagasi kabin. Karena keterbatasan ruang kabin di dalam kabin, hanya 90 tas pertama yang bisa dimasukkan ke dalam kabin, penumpang lainnya dapat menyimpan tas atau barang bawaan di bawah kursi, atau dipangku,” ujar salah seorang juru bicara maskapai. Bagaimana dengan di Indonesia? LCC yang beroperasi di Tanah Air sampai saat ini memang belum menerapkan tarif atau biaya pada bagasi kabin seperti halnya di Eropa. Namun bukan berarti memasukkan barang ke bagasi kabin bisa semaunya. Ada ketentuan yang harus diikuti, mengingat ada standar keamanan dan kapasitas bagasi kabin yang terbatas. Sebagai contoh, AirAsia menerapkan aturan memasukkan barang ke bagasi kabin tidak boleh melebihi ukuran 56cm x 36cm x 23cm termasuk pemegang, roda, dan kantong tepinya. Bagasi tersebut harus muat dalam kompartemen atas.