Guna meningkatkan kapasitas penerbangan internasional ke Pulau Bali, jelas di masa mendatang tak bisa bertumpu pada layanan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Untuk itu Pemerintah Daerah Provinsi Bali telah mencanangkan pembangunan North Bali International Airport (NBIA) yang peletakan batu pertamanya (ground breaking) pada 28-29 Agustus 2017 di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng dan Resort Sheraton Kuta Bali. Digadang-gadang, pembangunan NBIA ini menjadi mega proyek di Indonesia dan Asia Tenggara dan akan memakan waktu delapan tahun untuk membangunnya.
Baca juga: Ratakan Persebaran Wisatawan di Bali, Pemerintah Tawarkan Jalur Kereta ke Investor Cina
Sebab, yang dirangkum KabarPenumpang.com, PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) menggandeng investor Airport Kinesis Canada (AKC). Diketahui AKC group ini akan berinvestasi yang diperkirakan mencapai US$3 miliar dalam pembangunan NBIA di Buleleng. Nantinya NBIA ini akan dibangun di atas lahan seluas 2.150 hektare. Dengan setengah lahan dibangun di atas laut dengan cara memperpanjang daratan dan sisanya di daratan.
Perpanjangan struktur bandara ini akan dibuat tanpa merugikan lingkungan dengan sebuah platform MVLFS Hybrid Reinforced (Mega Very Struktur Terapung Besar) dimana konsep dan teknisnya akan dijelaskan oleh AKC selama pembangunan. Selain itu, bandara ini juga dikembangankan sebagai mesin ekonmi katalitik dengan dukungan Aerotropolis secara penuh.
nuasen-nbia.com
Dengan integrasi Aerotropolis seluas 750 hektare ini bernama Tri Hita Karana Organic Nexus (THKON) dan menjadi yang pertama didunia dimana diciptakan struktur tanah akan tumbuh dserta berkembang enggunakan jalur spesifik yang disebut perhubungan organik. Pergubugan ini saling terkait dimana berbagai layanan melalui pengembangan logis yang sudah terkonsep.
Baca juga: Mau Melintasi Selat Bali? Kenali Dulu Tarif Ferry Ketapang – Gilimanuk
NBIA selain menjadi mega proyek, juga akan menjadi pintu gerbang kedua menuju Dunia dan akan menjadi bandara tersibuk kedua di Indonesia yang memungkinkan lebih dari 45 persen populasi masyarakat ASEAN dan SEA melakukan perjalanan dari pintu gerbang ini ke seluruh dunia.
Sebenarnya pembangunan bandara baru di Bali Utara ini juga untuk mengurangi kemacetan di Bandara Denpasar (I Gusti Ngurah Rai). Nantinya, untuk kapasitas global, bandara di Bali Utara ini bisa menampung 36 juta penumpang pertahunnya.
“Tantangan utama bandara ini adalah menghormati lingkungan, Bandara ini rencananya akan dibangun dengan dua runway. Panjang runway masing-masing 7 km lebih, sehingga pesawat komersial besar bisa mendarat. Dan AKC Group mengusulkan untuk membangun seluruh bandara dengan teknologi dengan standar ZEA (Zero Energy Airport)” ujar Made Mangku, yang dikutip KabarPenumpang.com dari jpnn.com (21/7/2017).
Dalam upayanya untuk mengurangi tingkat polusi dan kemacetan yang terus mendera, otoritas India meluncurkan sebuah bus harian berbasis aplikasi baru-baru ini. Peluncuran bus harian berbasis aplikasi ini berselang satu tahun setelah skema “Premium Bus” yang diusulkan oleh pemerintah ditolak mentah-mentah oleh Gubernur Letnan Najeeb Jung. Kini, pemerintah tengah menyusun proposal layanan bus AC berbasis aplikasi, karena mereka yakin kehadiran bus ini akan menunjang sarana transportasi di Capital.
Baca Juga: Tata Ultra Electric, Revolusi Bus Listrik dari IndiaKabarPenumpang.com meliput dari laman nyoooz.com (10/7/2017), sejumlah operator seperti Shuttl, ZipGo, dan Ola Shuttle yang menyediakan bus berbasis aplikasi ini pun turut mematuhi peraturan yang berlaku, layaknya bus konvensional pada umumnya. Nantinya, layanan bus berbasis aplikasi ini akan dioperasikan oleh pihak swasta di jalur yang serupa dengan aggregator taksi berbasis aplikasi. Minggu lalu, sebanyak 53 bus berbasis aplikasi terpaksa dikandangkan oleh Departemen Transportasi India.
Sesegera mungkin, warga New Delhi akan dapat memesan kursi bus ber-AC ini cukup melalui aplikasi yang mereka unduh di ponsel mereka. Kehadiran bus ini juga dinilai sebagai langkah nyata dalam pengadaan moda transportasi yang aman dan nyaman, khususnya bagi karyawan kantoran ketika peak hours. Sebagai langkah awal, pemerintah Delhi akan mulai menginduksi setidak-tidaknya 1.000 bus AC untuk digunakan sebagai armada bus berbasis aplikasi ini.
Seperti yang dihimpun dari laman sumber, Menteri Transportasi, Kailash Gahlot mengatakan proyek ini memiliki banyak tujuan yang berguna bagi kemajuan sektor transportasi India, salah satunya adalah untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalanan. Memang, sensasi berkendara menggunakan kendaraan pribadi memang tidak sama ketika kita berkendara menggunakan kendaraan umum. Jika berkendara menggunakan moda berbasis massal, kita dipaksa mengikuti rute yang ada, berbanding terbalik jika kita menggunakan kendaraan pribadi yang bisa memilih akses jalan lain ketika rute yang hendak kita lewati mengalami macet.
Di India sendiri, sebanyak 10 juta kendaraan melintas setiap harinya, dimana sekitar 3,6 juta diantaranya merupakan kendaraan pribadi. Melonjaknya angka ini dibarengi dengan populasi warga India yang di atas rata-rata (1,4 miliar penduduk), jadi tidaklah heran kalau setiap harinya jalan-jalan di India dipadati oleh hilir mudik kendaraan dan pejalan kaki.
Baca Juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India
Kailash menambahkan, kehadiran bus ini merupakan salah satu upaya pemerintah India untuk mengurangi tingkat kemacetan yang ada dan mengurangi tingkat pencemaran udara di sana. “Kami berharap orang-orang bisa beralih menggunakan kendaraan umum,” tambahnya.
Untuk urusan modanya sendiri, bus ini bisa dibilang cukup lengkap dengan fasilitas penunjang lainnya yang setara dengan bus kelas premium, seperti WiFi, reclining seat, sistem hiburan seperti TV, kain pelapis jok premium quality, GPRS, kamera CCTV, dan panic buttons. Dari kasus ini, nampaknya masalah yang dihadapi oleh India hampir serupa dengan di Ibu Kota, dimana pemerintah berusaha menekan jumlah kendaraan pribadi yang berkeliaran di jalanan dengan cara menghadirkan beberapa transportasi umum, seperti bus TransJakarta, KRL, dan yang akan datang adalah MRT.
Fasilitas serba gratis memang memikat banyak orang untuk mencoba menggunakannya, terlebih WiFi gratis yang banyak disediakan di fasilitas umum dan sentra transportasi. Tapi ibarat dua mata pisau, WiFi gratis nyatanya tak melulu dimanfaatkan untuk hal yang positif. Di stasiun Mumbai, India, fasilitas free WiFi justru jadi peluang bagi banyak orang untuk mengakses konten video porno.
Dilansir KabarPenumpang.com dari hindustantimes.com (23/6/2017), WiFi yang disediakan gratis untuk para pengguna kereta maupun komuter di Mumbai ini disalah gunakan untuk menonton dan mengunduh video porno. Para pengguna WiFi ini biasanya melancarkan aksi dengan menonton video porno pada malam hari, sementara penumpang komuter yang hilir mudik di stasiun justru tidak mengakses layanan tersebut.
Baca juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya
Setelah ditelusuri, para pengakses konten porno adalah masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar stasiun. Lantara kejadian ini, otoritas perkeretaapian India dibuat pusing kepala. “Kami telah menerima keluhan bahwa WiFi di stasiun ini digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Banyaknya keluhan yang diterima salah satunya di stasiun Mumbai Central,” ujar Manajer Komersial Divisi Senior Western ailway, Aarti Singh Parihar.
Baca juga: Tinggalkan Makanan Beku, Kereta di India Tawarkan Menu Siap Saji dari Resto Ternama
Akibat masalah ini, pejabat kereta api berencana mendesak RailTel agar provider WiFi gratis tersebut untuk mematikan WiFi setelah tengah malam atau setelah kereta dari daerah pinggiran kota terakhir berangkat dari stasiun tersebut. “Departemen akan mulai mendekati RailTel menganai masalah penggunaan WiFi ini,” kata Parihar. Tak hanya itu, pejabat kereta juga berencana meminta pada RailTel untuk merancang cara untuk pencegahan penyalahgunaan fasilitas WiFi di stasiun-stasiun tersebut dimana tempat kereta itu berangkat.
“Beberapa pengakses non-komuter ditemukan di dalam stasiun menggunakan WiFi gratis untuk menonton film porno. Pihal Poluska atau Railway Protection Force (RPF) telah berupaya mengusir mereka, tapi entah bagaimana mereka berhasil menyelinap kembali,” kata seorang pejabat perkeretaapian.
Baru-baru ini, 19 stasiun di Mumbai dibekali dengan fasilitas WiFi gratis. Ini termasuk Mumbai Central, Chembur, Ghatkopar, Kurla, Thane, Lokmanya Tilak Terminus (LTT), Bandra Terminus, Vashi, Kalyan, Panvel, Borivli, Churchgate, Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus, Byculla, Jalan Khar, Dadar, Dadar (Western Railway), Andheri dan Bandra.
Ketersediaan akses WiFi gratis di stasiun beberapa waktu lalu juga mendapat dukungan dari Google. Dalam proyek yang dijalankan mulai tahun 2015, Google telah mencanangkan membangun 400 akses high speedWiFi di 400 stasiun di beberapa kota di India.
Salah satu aplikasi transportasi yang berbasis di London, Citymapper baru-baru ini merilis produk terbarunya, yaitu layanan social Hyper-Local Multi-Passenger Pooled Vehicle. Citymapper diberikan waktu enam bulan untuk melayani perjalanan dari stasiun Aldgate East menuju Highbury dan berakhir di Islington pada malam-malam di akhir pekan.
Baca Juga: Bising, Masyarakat London Keluhkan Layanan Night Tube
Sebagaimana KabarPenumpang.com melansir dari theguardian.com (20/7/2017), layanan ini menggunakan geo-matching technology untuk menjalankan kendaraan dengan cara mengoptimalkan pemberangkatan sembari memangkas waktu tunggu. Lebih lanjut, perusahaan tersebut juga berharap dapat mengaktifkan Estimated Time of Arrival (ETA) yang efisien untuk penumpang dengan demografi yang beragam.
Rencananya, bis CM2 ini akan beroperasi di antara stasiun Aldgate East, Highbury, dan Islington, dengan pemberangkatan setiap 12 menit sekali yang hanya akan beroperasi pada hari Jumat dan Sabtu malam dari pukul 21.00 hingga 05:30 waktu setempat. CM2 akan menjadi bus yang beroperasi layaknya bus umum pada biasanya. Melakukan pembayaran, berhenti di sejumlah halte, dan akan berangkat sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Untuk masalah tarif yang dikenakan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak penyedia jasa.
Perusahaan yang telah mendapatkan lisensi selama enam bulan oleh Transport for London (TfL) ini telah melakukan serangkaian peningkatan kualitas dari bus-bus lainnya. Nantinya, pengemudi akan menggunakan sebuah tablet agar bisa menginformasikan kepada pusat mengenai jumlah penumpang, kendala routing, dan memberitahu lokasi bus lainnya sehingga bus dari ketiga jurusan ini tidak pernah muncul secara berbarengan. Begitu pula display yang terpasang di dalam bus, akan menunjukkan lokasi bus saat ini dan pemberhentian yang akan datang.
Baca Juga: Royale VIP Bus, Pindahkan Nuansa Klub Malam ke Dalam Bus
Setiap bangku juga akan dilengkapi oleh USB port yang dapat digunakan oleh penumpang jika ingin mengisi daya ponsel mereka. Pihak Citymapper mengatakan bahwa mereka memilih rute yang dijuluki Night Rider, dengan menganalisis perjalanan yang tercatat dari aplikasi transportasi mereka sendiri. “Kami menemukan pusat kota London cukup tertutup pada siang hari oleh layanan TfL yang ada, namun kami mengidentifikasi kesenjangan lebih besar terjadi pada malam hari,” tuturnya. “Orang-orang akan lebih banyak yang berada di luar, terutama di London timur. Contohnya, ada lebih banyak tujuan malam di Commercial Road, tanpa adanya dukungan dari bus malam,” tambahnya.
Lebih lanjut, sumber yang namanya tidak tercantum tersebut mengatakan kehadiran Night Tube mendorong kehidupan malam di London. “Kami menemukan kehadiran bus di pusat hiburan di jalur Victoria, namun tidak ada yang menjangkau ke daerah Timur.”
Apa yang terlintas di benak Anda jika hendak mengambil barang bawaan di ban berjalan (baggage carousel) di sebuah bandara, Anda menemukan sekelompok kepiting hidup berserakan? Tentu sebagian dari Anda akan menjerit karena merasa jijik dengan binatang yang satu ini. Namun kejadian tersebut benar-benar terjadi baru-baru ini. Kejadian yang direkam oleh salah satu penumpang yang hendak mengambil barangnya di ban berjalan tersebut kemudian diunggah ke dunia maya melalui situs Youtube pada hari Jumat (23/6/2017).
Baca Juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma
Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah kepiting dengan ukuran yang bisa dibilang cukup besar tersebut berbaur bersama barang bawaan penumpang lainnya. Walaupun tidak dicantumkan dimana lokasi kejadian tersebut, namun salah satu pengguna Youtube menyatakan kejadian tersebut terjadi di New York City dalam kolom komentarnya. Rekaman tersebut sontak menjadi viral dan jadi bahan perbincangan netizen.
Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman dailymail.co.uk (28/6/2017), diduga, kehadiran kepiting-kepiting tersebut dikarenakan wadah yang digunakan untuk menyimpan mereka kurang tertutup dengan sempurna sehingga kerumunan binatang laut tersebut berhasil meloloskan diri. Reaksi yang ditimbulkan oleh para wisatawan juga beragam, dari mulai terkikik karena melihat kejadian di luar dugaan seperti ini hingga ada yang teriak histeris karena merasa geli.
Jika didengar lebih jeli, terdengar seorang wisatawan berteriak “Ya Tuhan!” ketika melihat keberadaan kepiting-kepiting tersebut. Sementara, para penumpang lainnya nampak sibuk memindahkan kepiting yang turut serta di koper mereka. Dalam rekaman yang berdurasi kurang dari dua menit tersebut, terlihat seorang pria memindahkan kepiting-kepiting tersebut ke dalam sebuah wadah yang terlihat seperti kotak pendingin.
Baca Juga: Dinosaurus Hadir Tiba-Tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Dubai
Tidak diketahui pasti apakah pria ini yag bertanggung jawab atas insiden lepasnya kepiting-kepiting tersebut, namun yang pasti, para penumpang lainnya harus rela menyingkir manakala pria ini berusaha untuk mengumpulkan kawanan kepiting tersebut.
Kasus ini bukanlah menjadi yang pertama kalinya terjadi di lingkungan bandara, mengingat pada 26 Juni 2017 silam, petugas Transportation Security Administration (TSA) di Bandara Logan, Boston, Massachusetts dibuat heboh dengan penemuan seekor lobster di salah satu tas penumpang dengan berat 20 pon. Petugas TSA tersebut mengetahui keberadaan si lobster ketika barang bawaan penumpang melewati proses screening luggage.
Sebenarnya, penumpang yang membawa serta sebuah lobster hidup ke dalam sebuah penerbangan masuk ke dalam kategori legal, selama keberadaan mereka diperiksa terlebih dahulu dan mengikuti pedoman yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pihak TSA.
Baca Juga: Koper di Kargo Aman, Penerbangan Pun Nyaman
Sangat legal untuk terbang dengan lobster hidup baik dalam tas yang diperiksa atau dibawa-bawa sesuai dengan pedoman TSA, meskipun mereka mendesak agar penumpang menghubungi dan memeriksa dengan maskapai mereka terlebih dahulu agar aman. Bagaimana pun juga, binatang tersebut merupakan makhluk hidup yang harus mendapat perhatian lebih jika hendak mengudara.
Sebagai pengguna jalan, khususnya warga Ibu Kota, tentu tak asing lagi melihat banyaknya jalan-jalan yang dialihkan hingga ditutup, dimana itu merupakan imbas dari menjamurnya proyek pengerjaan infrastruktur. Mulai dari pembangunan gedung bertingkat, jalur moda transportasi, hingga perbaikan jalan merupakan segelintir alasan mengapa hingga kini Jakarta menjadi semakin macet parah. Debu yang dihasilkan oleh pembangunan tersebut seakan menjadi ‘teman’ setia yang mendampingi di setiap perjalanan.
Baca Juga: Akhir 2017 Proyek MRT Jakarta Ditargetkan Rampung 93%
Banyaknya proyek yang tengah berjalan di Jakarta mendapat sorotan dari beberapa media luar. Bukan hanya membahas mengenai perkembangan signifikannya saja, tapi juga menyinggung soal penebangan tanaman hijau secara besar-besaran karena dianggap menghalangi proyek tersebut. Banyaknya pusat perbelanjaan di Ibu Kota, lengkap dengan tanaman imitasinya juga turut menjadi perbincangan, dimana kedua hal tersebut malah semakin memperkeruh ranah polusi yang selama sini coba dikurangi.
Spanduk bergambarkan hutan hujan perawan yang dipenuhi oleh tetesan embun yang terpasang di beberapa proyek dinilai sebagai dua hal yang amat bertolak belakang. Pembangunan infrastuktur dan penanaman tumbuhan hijau memang tidak bisa dilakukan sejalan, mesti ada yang dikorbankan terlebih dahulu. Tentu, keberadaan spanduk tersebut menjadi ironi tersendiri bagi mereka yang merindukan udara sejuk khas kota-kota yang rindang ditumbuhi pohon.
Baca Juga: Tiga Tahun Pembangunan, MRT Jakarta Buka Pameran Foto
Berangkat dari kasus ini, lansiran KabarPenumpang.com dari laman inquirer.net (20/7/2017), kehadiran taman buatan di terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta berhasil mencuri perhatian banyak orang sehingga mereka bisa menikmati ekosistem buatan ini. Walaupun, ekosistem buatan ini berada di ruangan ber-AC dan menggunakan rumput sintetis, tapi tanaman dalam pot yang ada merupakan tanaman asli.
Hal bertolak belakang lainnya dapat dilihat dari keberadaan tanaman di Istana Kepresidenan yang terawat dengan sangat apik, namun lihatlah di luarnya, tiada pemandangan lain selain kendaraan bermotor yang hilir mudik serta pembangunan dimana-mana, jarang ditemui pepohonan rimbun yang bisa menyerap CO2 dan menghasilkan O2 sehingga udara di Ibu Kota menjadi lebih sejuk, walaupun hanya sedikit.
Baca Juga: Ini Hasil Investigasi PT MRT Jakarta Tentang Hujan Salju di Jalan Jenderal Sudirman
Ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas setempat dalam mengatasi masalah seperti ini, dimana pembangunan infrastruktur yang bisa menunjang kehidupan masyarakatnya dapat diimbangi dengan penanaman tanaman yang bisa menunjang dari segi kesehatan. Diliput dari sumber yang sama, juru kampanye dari GreenPeace Indonesia, Yuyun Indradi mengkhawatirkan generasi penerus yang merasa lebih nyaman dengan tanaman imitasi daripada yang asli. “Semoga di masa yang akan datang, generasi penerus bangsa bisa merefleksikan betapa pentingnya tanaman asli ketimbang imitasi yang bisa dibeli di mall,” tuturnya.
Dalam upayanya untuk meremajakan salah satu moda transportasinya, pemerintah Indonesia kerap meminta bantuan pendanaan dari pihak asing, terlebih bila menyangkut pengadaan transportasi yang bernilai strategis dan berbiaya ekstra tinggi, seperti pembangunan infrastruktur kereta cepat.
Namun ada yang menjadi sengkarut terkait hal tersebut, Indonesia mulai meminta bantuan kepada pihak asing walaupun pada saat ini, Indonesia masih terikat kerjasama dengan pihak Jepang dalam hal peremajaan kereta apinya. Presiden Joko Widodo dikabarkan tengah menyusun rencana untuk mengundang negara asing lainnya untuk turut serta dalam proyek tersebut guna menekan pengeluarannya.
Baca Juga: Utamakan Produk Dalam Negeri, Indonesia Pertimbangkan Pembatasan Impor Kereta dari Jepang
Sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari asia.nikkei.com (18/7/2017), hubungan antara Jepang dan Indonesia bisa saja semakin meradang jika proyek ini gagal, mengingat sebelumnya, Indonesia lebih memilih Cina ketimbang Jepang dalam proyek kereta cepat pada tahun 2015 silam. Proyek peremajaan ini bertujuan untuk memangkas waktu tempuh Jakarta – Surabaya yang hingga kini memakan waktu perjalanan kurang lebih 11 jam tersebut. Selain itu, tujuan lainnya adalah perombakan jalur yang sudah ada sebelumnya, yang notabene jalur tersebut dibangun pada era kolonial Belanda.
Pada awalnya, pihak Indonesia setuju dengan penawaran Jepang, yaitu menutup semua jalur perlintasan agar kereta dapat melaju lebih cepat. Namun, untuk meningkatkan kecepatan, kereta yang digunakan mestilah kereta listrik dan meningkatkan perkiraan biaya menjadi lebih dari 800 miliar Yen atau setara dengan 96 triliun rupiah. Melihat pembengkakan tersebut, proyek tersebut mulai terlihat keruh.
Indonesia sendiri yang sudah banyak memiliki pinjaman pihak asing tentu merasa gentar melihat lonjakan harga tersebut. Awalnya, pihak Jepang menawarkan pinjaman dan Indonesia tampak senang dengan gagasan tersebut. Namun, tawaran pinjaman tersebut ditolak manakala Presiden Joko Widodo menunjuk Sri Mulyani untuk mengisi posisi sebagai Menteri Keuangan. Prinsip Sri Mulyani untuk menjaga disiplin fiskal lantas memilih untuk menempuh jalur kemitraan publik – swasta daripada menerima pinjaman Yen tersebut, yang nantinya hanya akan menambah hutang negara.
Baca Juga: CRH380A, Kereta Tercepat Kedua di Dunia, Siap Layani Jalur Jakarta – Bandung
Lalu pada Desember 2016 lalu Kementerian Perhubungan (Kemenhub) lalu mengeluarkan pernyataan yang mengatakan pihak Indonesia sudah sepakat untuk menjalin kerja sama dengan Jepang dalam proyek perkeretaapiannya. Namun, walaupun kerja sama sudah dijalin diantara keduanya, Indonesia tetap melelang proyek tersebut kepada negara asing lainnya.
Disebutkan, Kementerian telah menyusun rencana pelelangan, termasuk melampirkan persyaratan seperti kererta harus menggunakan tenaga listrik dan kerja sama dijalin dengan hubungan Public Private Partnership (PPP). Dengan kata lain, hal ini mempengaruhi hubungan kerja sama yang telah dijalin dengan Jepang sebelumnya, dengan kemungkinan terburuk yaitu pembatalan kerja sama. Namun pemerintah tidak mau terburu-buru dan masih menunggu keputusan dari Presiden.
Baca Juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura
Tentu saja, ini merupakan pertanda buruk bagi Jepang yang seolah siap untuk menelan kembali pil pahitnya setelah kejadian dua tahun lalu dimana pemerintah lebih memilih Cina untuk memfasilitasi proyek kereta cepat Jakarta – Bandung. Kala itu, Jepang hampir dipastikan untuk mengekspor Shinkansen ke Indonesia namun gagal karena Presiden Jokowi lebih memilih Cina yang mengajukan PPP dan tidak menuntut kontribusi keuangan dari pemerintah Indonesia pada Oktober 2014 silam.
Sekretaris Kabinet Jepang,Yoshihide Suga mengatakan keputusan yang diambil oleh Indonesia merupakan sesuatu pilihan di luar akal sehat. Sejak saat itu, hubungan Indonesia dengan negara yang pernah menjajahnya tersebut kian memburuk. Dilansir dari sumber yang sama, kemungkinan keputusan terakhir tentang nasib proyek ini akan dibuat Presiden pada awal Agustus mendatang.
Meski bukan Ibu Kota Negara, namun Sydney adalah salah satu gerbang utama bagi wisatawan dan pebisnis untuk menuju Australia. Sebagai kota dengan populasi terbesar di benua Australia (6 juta jiwa per Juni 2017), di Sydney saat ini terdapat dua bandara, yakni Sydney Airport (Kingsford Smith) dan Curfew Time Airport. Yang utama adalah Kingsford Smith karena merupakan bandara internasional, sementara Curfew Time dominan melayani penerbangan domestik dan jet bisnis, namun jam operasionalnya terbatas.
Dipicu peningkatan trafik penerbangan ke Sydney yang terus melonjak, maka pemerintah Australia mengumumkan akan membangun bandara internasional keduanya di Sydney, setelah operator bandara menolak rencana pembangunan tersebut. Diperkirakan, pembangunan bandara ini akan menghabiskan dana sekitar 5 miliar dollar Australia dan akan menjadi bandara pertama yang dikembangkan oleh pemerintah setempat dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Nantinya, West Sydney Airport (WSA) akan dibangun di Badgerys Creek, 50 km sebelah barat dari pusat kota.
Baca Juga: Koneksi Data Bermasalah, Ribuan Penumpang di Australia Lakukan Cek Paspor Manual
Tidak hanya membangun, pemerintah setempat juga mengatakan akan mengambil alih pengembangan proyek dan pengoperasiannya kelak, sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman airport-technology.com (24/7/2017). Penetapan lokasi pembangunan bandara ini sendiri sebenarnya sudah tercetus sejak tahun 1999 silam.
Adapun tujuan dari dibangunnya bandara internasional baru ini merupakan tindak lanjut dari dua laporan terpisah pada tahun 2012 – 2013 yang mengatakan Sydney Airport tidak akan mampu mengakomodasi penerbangan tambahan pada tahun 2027 kelak, dan pada tahun 2060, bandara ini akan membawa kerugian sebesar 60 miliar dollar Australia karena kapasitasnya yang sudah tidak mumpuni.
Bukan sekedar wacana, pembebasan lahan seluas 1.780 hektar hingga penutupan sejumlah jalan di Badgerys Creek sudah mulai dilakukan. Pembangunan WSA sendiri rencananya akan dimulai pada akhir tahun 2018 dan diperkirakan rampung pada tahun 2026.
Baca Juga: Hanya Dengan Single Runway, Bandara di Mumbai Layani 837 Penerbangan Per Hari
Lokasi pembangunan bandara ini pun dikenal sebagai surga dari beragam vegetasi, seperti padang rumput, lahan pertanian, hutan eukaliptus, dan semak belukar. Tidak hanya itu, Badgerys Creek juga terkenal dengan rumah dari berbagai fauna, seperti burung, reptile, kelelwar, katak, dan ikan.
Lebih lanjut, pembangunan bandara ini pun dinilai akan membuka sebanyak 20.000 lapangan pekerjaan baru dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sydney Barat. Nantinya, WSA akan memiliki landas pacu sepanjang 3,7 km dan diusung-usung mampu menampung 10 juta penumpang setiap tahunnya, dimana nilai tersebut setara dengan daya tambung Bandara Adelaide.
Pada bulan Juni kemarin, Menteri Perhubungan Australia, Andrew Constance mengatakan akan melengkapi WSA dengan layanan kereta cepat metro yang akan menghubungkan bandara dengan sejumlah titik penting di Negeri Kangguru tersebut.
Adapun pembangunan bandara ini mendapat dukungan dari masyarakatnya. Ini dapat dilihat dari hasil jajak pendapat yang menunjukkan sebanyak 56 persen masyarakat mendukung pembangunan bandara, 25 persen netral, dan 11 persen lainnya menolak proyek pembangunan tersebut dengan berbagai alasan, salah satunya adalah dampak terhadap salah satu situs warisan dunia, Blue Mountain.
Kawasan wisata Blue Mountain. Sumber: bluemts.com.au
Blue Mountain sendiri merupakan sebuah situs seluas 1,03 juta hektar berupa dataran tinggi yang terbentuk dari batu pasir, tebing curam dan ngarai. Blue Mountain didominasi oleh hutan eukaliptus berukuran sedang, yang dimana lokasinya hanya berjarak 7 km dari bandara yang hendak dibangun ini.
Secara gamblang, walikota Blue Mountains dan Blacktown menolak adanya pembangunan bandara ini. Mereka menilai pembangunan infrastruktur transportasi tersebut sangat tidak memadai, tepat sebelum penyelenggaraan forum diskusi publik bertajuk “Western Sydney Airport Exposed” pada Juli kemarin.
Baca Juga: Multimobby, Antar Penumpang di Bandara Hingga Keluar Masuk Lift
Menanggapi hal tersebut, pihak promotor sontak menepis anggapan tersebut dan menyatakan bahwa pembangunan bandara ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2000 silam. Barang tentu, pembangunan proyek besar kerap kali mengundang kontroversi. Namun, seperti yang sudah disebutkan di atas, keberadaan bandara ini kelak akan menunjang kehidupan khususnya Sydney sebelah barat, dan umumnya untuk seluruh warga Australia.
Satu lagi kabar membanggakan dalam dunia penerbangan di Tanah Air, tiga bandara internasional dikelola PT Angkasa Pura I (Persero) atau lebih dikenal Angkasa Pura Airports menempati peringkat 10 besar dunia dengan tingkat kepuasan penumpang (Airport Service Quality/ASQ) tertinggi di periode triwulan II 2017. Penilaian itu dilakukan oleh Airports Council International (ACI).
Baca juga: Inilah Alasan PT Angkasa Pura I Berganti Jadi “Angkasa Pura Airports”
Ketiga bandara yang dimaksud adalah Bandara Internasional Sultan Aji Muhamad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, dan Bandara Internasional Juanda Surabaya.Untuk Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan menduduki peringkat pertama (tertinggi) dari total 85 bandara dunia yang disurvei. Sementara itu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menduduki peringkat 2 pada triwulan II 2017 dari total 37 bandara. Sedangkan Bandara Internasional Juanda Surabaya menduduki peringkat 10 pada kategori yang sama.
ASQ sendiri merupakan program benchmarking global yang mengukur tingkat kepuasan penumpang di bandara yang dilakukan oleh Airports Council International (ACI), sebuah organisasi kebandarudaraan terkemuka di dunia yang berbasis di Montreal, Kanada. Dikutip KabarPenumpang dari harianterbit.com (24/7), Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro mengatakan, peningkatan peringkat kepuasan penumpang pesawat udara di bandara melalui survei ASQ pada triwulan dua oleh ACI ini menunjukkan komitmen kami untuk selalu berupaya menjaga dan meningkatkan standar layanan kami bagi pengguna jasa bandara, khususnya penumpang pesawat, agar terwujud service excellence. “Selain itu, peningkatan ini merupakan indikator perwujudan visi Angkasa Pura I yang ingin menjadi salah satu dari sepuluh besar pengelola bandara terbaik di Asia,” kata Danang S. Baskoro.
Baca juga: Airport City, Tantangan Impelementasi Terbesar PT Angkasa Pura I
Sementara itu, pada tingkat Asia Pasifik, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali menduduki posisi 8 dari total 96 bandara yang dinilai pada ASQ triwulan II 2017. Posisi Bandara I Gusti Ngurah Rai ini naik 4 peringkat dari posisi 12 pada triwulan I 2017. “Kami harap hingga triwulan IV tahun ini kinerja pelayanan kami untuk penumpang di bandara dapat meningkat dan meraih peringkat terbaik secara akumulatif pada akhir tahun,” ucap Danang.
Dalam survei ini, diukur opini melalui 34 indikator kinerja, diantaranya akses bandara,check-in, security screening, fasilitas belanja dan restoran, serta toilet. Pertanyaan dan mekanisme survei dilakukan sama di semua bandara untuk menciptakan basis data industri yang memungkinkan setiap bandara membandingkan diri mereka dengan bandara lain di dunia. Metodologi ilmiah, prosedur quality control yang ketat, serta komitmen untuk tidak berpihak dalam setiap penilaian survei ASQ ini menjadikannya sebagai standar untuk mengukur kepuasan penumpang di bandara.
Bagi Anda yang kerap kali bepergian menggunakan kereta, tentu sering merasa lelah akibat duduk terlalu lama, apalagi jika jarak tempuhnya yang bisa dibilang tidaklah dekat. Baru-baru ini, PT KAI mengeluarkan statemen yang menyatakkan bahwa salah satu BUMN itu tengah bekerja sama dengan PT INKA dalam pengadaan sleeper train atau kereta tidur. Seperti yang KabarPenumpang.com sarikan dari berbagai sumber, salah satunya adalah viva.co.id (14/7/2017), Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan dengan adanya layanan sleeper train, maka penumpang bisa beristirahat selama perjalanan.
Baca Juga: Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur di Indonesia
“Kami akan mencoba kerja sama dengan INKA membuat kereta (penumpang) yang langsung bisa tidur, sleeper. Bukan kamar lagi ya. Bukan kamar, jadi seperti bisnis di pesawat, kami akan coba dulu,” ujar Edi. Walaupun kerja sama dengan PT INKA sudah terjalin, namun PT KAI tidak mau terburu-buru dalam hal pemesanan sleeper train dalam jumlah banyak. “Jika permintaan meningkat atau minat masyarakat tinggi maka jumlahnya akan diperbanyak,” tutur suksesor eks-Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan tersebut.
Lebih lanjut, Edi belum bisa memastikan kapan layanan kereta tersebut bisa mengular di Indonesia. “Sesegera mungkin, jadi kami putuskan akan coba itu, kalau (penumpang) bisa istirahat di kereta api kan bisa membantu,” ujar Edi dilansir dari sumber terpisah. Berbicara tentang sleeper train, sudah barang tentu layanan ini hanya akan ditemui di rute perjalanan jarak jauh. Hal tersebut juga diamini oleh Edi. “Pasti (jarak jauh). Sebab perjalanan jarak jauh itu masyarakat ingin istirahat. Nantinya satu gerbong hanya 30-34 kursi saja,” ujar mantan Direktur Aset Non-produksi PT KAI ini.
Baca Juga: Belmond Andean Explorer, Kereta Tidur Pelintas Pegunungan Andes
Namun untuk masalah tarif, Edi nampaknya belum mau sesumbar. Ia menahan diri untuk terlebih dahulu menitik beratkan fokus pada pengadaannya terlebih dahulu. “Nanti dulu. Mau dulu masyarakat, baru bisa diluncurkan. Kalau pada tidak mau gimana bayarnya,” ujarnya.
Layanan sleeper train di Indonesia bukanlah perkara baru. Jika melirik sejarahnya, kereta tidur sudah pernah dioperasikan per tanggal 1 Juni 1967 silam, yang terdiri dari dua rangkaian, yaitu Bima 1 dan Bima 2. Tidak hanya terkenal sebagai pionir sleeper train, KA Bima juga dikenal sebagai kereta pertama yang menggunakan gerbong pembangkit untuk sumber tenaga listrik dan kereta pertama yang menggunakan sistem AC berfreon yang umum dipakai sekarang. Dilihat dari namanya, ternyata Bima sendiri merupakan singkatan dari Biru Malam, karena, pada awal peluncurannya, rangkaian kereta api ini bercat biru dan beroperasi pada malam hari.
Secara tampilan, kereta yang menghubungkan Jakarta – Malang ini bisa dibilang memiliki kelengkapan yang setara dengan sebuah hotel. Masing-masing kamar terdiri dari 2 tempat tidur yang posisinya bertingkat. Pada saat awal perjalanan, tempat tidurnya dalam posisi terlipat, dan sebagai gantinya penumpang duduk di kursi secara berhadapan. Di sebelahnya terdapat wastafel cuci tangan yang bisa dilipat, serta tempat untuk menyimpan botol air minum mineral untuk penumpang. Selain juga terdapat lemari untuk menyimpan pakaian.
Namun amat disayangkan, kereta ini terpaksa mengakhiri layanannya pada awal tahun 1990 karena isu sosial yang berkembang, seperti penggunaan bilik kamar sebagai ajang mesum. Tentu ini merupakan tantangan besar bagi PT KAI untuk menghapuskan image tersebut. Akankah sleeper train dapat kembali mengular di Indonesia?