Sabuk Pengaman Juga Bisa Berakibat Fatal, Lho!

Keberadaan sabuk pengaman (safety belt) di mobil-mobil memegang peranan yang cukup vital jika terjadi kecelakaan. Alih-alih mengalami cidera yang jauh lebih serius atau bahkan menyebabkan kematian, para penumpang dipaksa “diikat” di bangkunya masing-masing guna mengamankan keselamatan jiwanya. Namun, tidak semua jenis sabuk pengaman dinilai mampu memberikan pengamanan ekstra kepada setiap penggunanya, terbukti jika terjadi kecelakaan, sabuk pengaman yang biasanya ditemui di mobil keluaran lama malah membahayakan para penggunanya, karena bisa mematahkan tulang rusuk mereka. Baca Juga: Ternyata, Sabuk Pengaman Lindungi Anda dari Lima Arah Seperti yang KabarPenumpang.com himpun dari laman nbcnewyork.com, beberapa produsen kendaraan lalu memodifikasi salah satu alat keselamatan dalam berkendara tersebut. Dewasa ini, hampir semua kendaraan pribadi menggunakan safety belt keluaran terbaru (spool out – on impact) dimana sabuk pengaman akan mengendur hingga penggunanya menghantam airbag yang muncul ketika terjadi benturan dari arah depan. Studi menunjukkan, teknologi ini terbukti telah menyelamatkan banyak nyawa dalam kecelakaan. Namun, konsekuensi yang lebih besar harus ditanggung oleh pengguna jika mobil yang ia gunakan mendapat hantaman dari arah samping dan airbag tidak akan mengembang jika mobil ditabrak dari sebelah sisi maupun belakang. Contoh kasus seperti ini dialami oleh seorang bernama John Cancelleri dimana ia terpaksa menjadi kaum penyandang disabilitas setelah sebuah kecelakaan yang terjadi pada 2010 silam. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa John tersebut terjadi tidak jauh dari rumahnya. Airbag yang ada di mobil John tidak mengembang karena mobil yang ia kendarai mendapat hantaman yang cukup keras dari bagian samping. Dilansir dari dokumen pengadilan, John terpental kea rah depan, padahal ia sudah mengenakan sabuk pengamannya. Menurut pengakuan istrinya, Rosetta Cancelleri, John hingga kini belum bisa berjalan pasca kejadian tersebut, bahkan pada tahun 2015 silam, ia terpaksa kehilangan salah satu kakinya akibat penggumpalan darah di bawah lutut. Para penyelidik mengatakan, mobil John dilengkapi oleh sistem sabuk pengaman spooling yang baru, dimana diselipkan teknologi pembatas beban. Akibat kejadian itu, pihak John melalui pengacaranya, lantas menuntun pihak Ford, mobil John, akibat alat keselamatan yang dinilai tidak dapat bekerja secara maksimal tersebut. Baca Juga: Warga UEA Setujui Aturan Penggunaan Sabuk Pengaman dan Car Seat Don Phillips, pakar keselamatan mobil yang turut memberikan kesaksian tentang kasus Cancelleri melawan Ford, mengatakan mungkin ada cara yang lebih baik untuk kinerja dari sabuk pengaman. Harus ada batasan seberapa jauh seseorang bisa bergerak maju. “Kita perlu mendesain ulang sistem itu sedikit,” tutur Phillips. National Highway Traffic Safety Administration mengamini apa yang selama ini para peneliti percaya, yaitu sistem sabuk pengaman jenis terbaru ini mampu menyelamatkan lebih banyak jiwa ketimbang model yang lama. Namun, tetap saja pihaknya masih meneliti dan mengembangkan sistem keamanan kendaraan tersebut sehingga menjadi lebih baik. Senada dengan National Highway Traffic Safety Administration, Insurance Institute for Highway Safety pun mengatakan hal serupa yang setuju dengan metode spooling yang diaplikasikan di sistem sabuk pengaman modern.

Prahara di Atas Laut Mediterania, 40 Menit Kondisi Darurat Tanpa Pendingin Udara

Belum lama ini  prahara di udara sempat menimpa para penumpang yang berada dalam penerbangan low cost carrier Jet2 yang berangkat dari Ibiza, Spanyol menuju Leeds di Inggris. Kejadian ini bukan hanya membuat panik, melainkan ketakutan yang amat sangat pada semua penumpang pesawat karena pesawat mendadak seperti meluncur turun dari ketinggian. KabarPenumpang.com mengabarkan dari lep.co.uk (20/7/2017), seorang penumpang bernama Tom Miller saat kejadian tersebut sempat mengirimkan pesan teks kepada sang istri yang bertuliskan “I Love You Babe.” Hal ini dilakukannya saat pesawat yang ditumpanginya tiba-tiba seperti turun dari ketinggian yang berada tepat di atas laut Mediterania. Dia mengatakan, awak kabin sempat saling memandang dan langsung bertindak. Troli makanan yang dibawa langsung dikembalikan pada tempatnya, kemudian masker oksigen langsung turun dan pesawat menukik ke bawah sekitar 40-50 derajat. “Sepertinya terus berlanjut, tapi sempat terlihat ke belakang beberapa menit, rasanya seperti jatuh dari langit,” ungkap Tom. Penerbangan Jet2 saat itu membawa 180 penumpang dan seperti ada kesalahan kecil sehingga membuat pilot harus melakukan penyelamatan darurat. Dalam penerbangan darurat, Tom bersama 14 teman dan seorang anaknya. “Aku melihat teman-teman dan kamu tidak tahu apa yang bisa kami lakukan. Beberapa yang duduk dekat jendaela hanya saling memandang dan berkata ‘beginilah akhirnya’. Suara-suara penumpang yang ketakutan ini membuat saya mengirim pesan kepada istri bahwa saya mencintainya,” jelas Tom. Setelah pesawat berhasil dikendalikan, pilot menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Tom menceritakan, bahwa ada masalah di kabin sehingga pilot harus menurunkan pesawat ke ketinggian yang aman. Untuk alasan keamanan, penerbangan tersebut akhirnya mendarat di Barcelona untuk permeriksaan teknis pada pesawat. Selama 40 menit prahara di udara, penumpang mandi keringat akibat pendingin udara tidak berfungsi. Setelah empat jam menanti di Barceloba, para penumpang kemudian diberangkatkan ke Leeds dengan penerbangan lain. Meski para penumpang masih diselimuti ketakutan, respon positif dari Jet2 untuk meminta maaf patut diapresiasi.      

Swedia Bebaskan Rakyatnya Pilih Nama Sebuah Kereta

Operator kereta api Swedia, MTR Express berjanji akan memberikan nama salah stau armada kereta terbarunya dengan nama “Trainy McTrainface” setelah pilihan nama tersebut mengalahkan beberapa calon nama lainnya. Bukan tanpa alasan, operator kereta api Swedia mengatakan pemilihan nama ini akan memberikan kebahagiaan, terutama bagi warga Inggris yang kecewa karena usulan nama Boaty McBoatface untuk sebuah kapal penelitian kutub dalam jajak pendapat serupa pada April 2016 silam ditolak. Baca Juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman smh.com.au (21/7/2017), Trainy McTrainface unggul 49 persen suara dalam sebuah kompetisi penamaan. Lewat polling yang dilakukan secara online oleh MTR Express dan media cetak Swedia, mengalahkan pilihan nama lainnya, seperti Hakan, Miriam, dan Poseidon. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis oleh pihak MTR, pemilihan nama Trainy McTrainface akan diterima oleh masyarakat luas. “Ini merupakan sebuah berita yang akan diterima oleh semua orang dengan rasa gembira, bahkan untuk orang-orang di luar Swedia,” tulis MTR dalam pernyataan tersebut.
Sumber: independent.co.uk
Nantinya, kereta ini akan menghubungkan Ibu Kota Swedia, Stockholm dengan Gothenburg, kota terbesar kedua di salah satu negara Skandinavia ini. Bagaikan suksesor Inggris, Swedia berhasi menunjukkan kepada dunia bahwa negara tersebut bisa lebih demokratis dalam menentukan sebuah nama salah satu moda transportasinya. Tahun lalu, Inggris mendatangkan sebuah kapal penelitian kutub dan akan melakukan jajak pendapat secara online untuk menentukan penamaan dari kapal tersebut. Kala itu, hasil polling menunjukkan nama Boaty McBoatface-lah yang keluar dengan suara terbanyak. Namun entah bagaimana caranya, pemerintah Inggris tidak setuju dengan polling yang sudah dilakukan tersebut, sehingga kekecewaan pun merundung warga Inggris. Padahal, warga Inggris percaya penamaan Boaty McBoatface akan menabah kesan anggun pada siapapun yang menggunakannya. Baca Juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia! Berbeda dengan dalam negeri, dimana setiap nama suatu armada transportasi ditentukan langsung oleh perusahaan yang berkaitan, seperti penamaan kereta Argo Parahyangan, Dwi Pangga, dan Gajayana merupakan segelintir nama kereta yang langsung dipilih oleh PT KAI tanpa melempar polling kepada masyarakat. Tentu, penentuan nama suatu armada transportasi baik dengan cara voting maupun penentuan langsung dari perusahaan terkait memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Ketika sebuah polling dilempar ke masyarakat, berarti peran serta mereka menentukan penamaan tersebut. Namun jika perusahaan langsung yang menentukan pemilihan nama, maka kesalahpahaman seperti yang terjadi di Inggris akan dapat diminimalisir.

Butuh 90 Menit Tenangkan Turis Australia Yang Depresi di Bandara Ngurah Rai

Seorang turis asal Australia yang harusnya menaiki pesawat dalam penerbangan menuju Kuala Lumpur dari Bali membuat masalah di dalam kabin. Pria ini tiba-tiba berteriak dan memukul-mukul pintu kokpit saat berada di dalam pesawat tersebut. Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar Dilansir KabarPenumpang.com dari coconuts.co (19/7/2017), pria tersebut diketahui bernama Gregory Butler usia 46 tahun yang akan terbang menggunakan peswat AirAsia menuju Kuala Lumpur dari Bali pada Senin (17/7/2017) malam. Saat dirinya memukul pintu kokpit, Ia mengaku bahwa ada yang ingin mencoba membunuhnya sehingga membuat panik pilot yang mengemudikan pesawat. https://youtu.be/FCFMt9kc1s4 Akibat kelakuan Butler, pilot kembali mengemudikan pesawat menuju ke apron demi alasan kemanan. Namun, kelakuan Butler ternyata tak hanya sampai di situ saja, saat berada di bandara, dirinya pergi ke atas dan berada di luar pembatas seperti akan bunuh diri sembari teriak-teriak sehingga membuat panik pengunjung Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Baca juga: AirAsia X Tujuan Kuala Lumpur Alami Turbulensi, Lima Penumpang Terluka Untuk meredakan ketenganan, seorang pria Australia lainnya lagsung mendekati dan berada di samping Butler, dirinya mulai berbicara untuk bernegosiasi serta menenangkannya. Setelah Butler mau di ajak bernegosiasi dan agak tenang dari sebelumnya, dirinya langsung diamankan oleh para petugas keamanan Bandara Ngurah Rai setelah 90 menit bernegosiasi. “Saya bilang padanya, semua orang disini punya masalah. Saya memiliki lebih banyak masalah daripada Anda,” ujar Erol Buyuk usai membantu petugas kemanan untuk bernegosiasi dengan Butler. Baca juga: Diterjang Bau Kentut, Tiga Awak Kabin Tumbang Setelah Butler diamankan oleh petugas keamanan bandara serta polisi, dirinya sempat di interogasi untuk apa yang dilakukannya. Butler mengaku untuk menarik perhatian pejabat pemerintah yang korup. “Saya tidak ingin melompat, saya berdiri di pinggir. Saya ingin memperhatikan situasi tertentu mengenai pejabat pemerintah, oleh karena itu saya pikir saya bisa melakukannya,” kata Butler. Baca juga: Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia Sayangnya tidak ada penjelasan untuk langsung menahan Butler. Tetapi ternyata setelah di geledah, ditemukaan ada obat antidepresan pada Butler, kemudian dirinya dibawa ke rumah sakit Sanglah, Denpasar untuk pengujian medis dan kejiwaan setelah diberi obat penenang.

Pria Ini Makan Gratis Selama Setahun Bermodalkan Tiket First Class, Kok Bisa?

Bagaimana rasanya jika Anda mendapatkan makanan gratis selama hampir satu tahun penuh? Ditambah makanan tersebut merupakan hidangan yang tersedia di ruang VIP bandara (executive lounge). Tentu sangat menggiurkan bukan? Hal inilah yang didapatkan oleh seorang pria asal Cina. Bukan karena dia menang undian atau mendapatkan sebuah doorprize, melainkan dia memanfaatkan layanan makanan gratis yang disediakan oleh pihak Eastern China Airlines, setelah pria “jenius” ini membeli sebuah tiket kelas satu. Baca juga: Pilah-Pilih Lounge Eksekutif di Bandara Dilansir KabarPenumpang.com dari news.com.au, seorang pria yang tidak disebutkan namanya ini memanfaatkan celah yang ada setelah ia membeli tiket dan mendapatkan layanan makanan gratis dalam rentan bulan Januari 2013 hingga awal tahun 2014. Entah apa yang ia pikirkan pada saat itu, namun apa yang ia lakukan bisa dibilang cukup pintar. Setelah selesai makan, ia lalu mengatur ulang jadwal pemberangkatannya menjadi keesokan harinya. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Ia kembali lagi keesokan harinya ke Bandara Internasional Xi’an hanya untuk menikmati hidangan gratisnya tersebut. Tidak hanya sampai di situ, ia terus melakukan hal tersebut hingga kurang lebih 300 kali. Luar biasanya lagi, ketika pria ini menghentikan aksi jeniusnya tersebut, ia mengembalikan tiket tersebut dengan pengembalian penuh. Tentu kejadian ini membuat pihak Eastern China Airline kebingungan. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, para pejabat di Eastern China Airline tidak dapat berbuat banyak, hanya menggeleng-gelengkan kepala karena kebingungan dengan aksi yang dilakukan oleh pria tersebut. Baca Juga: Rajin Naik Garuda Indonesia, Terbang ke Jepang dengan First Class Hanya Bayar US$76 Salah seorang juru bicara dari Eastern China Airline menyebutkan tindakan makan gratis yang dilakukan oleh pria tersebut merupakan tindakan yang amat sangat langka, dan baru pertama kali mereka menemui kasus seperti ini. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bisa saja pria tersebut menjadi inspirasi bagi orang lain yang ingin mencoba makan gratis selama setahun.

Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’

Banyak hal unik terjadi dalam penerbangan dari awal Anda masuk bandara, check in, mengirim barang untuk masuk ke bagasi pesawat hingga boarding. Biasanya hal terunik lebih banyak saat memasukkan barang ke kabin pesawat saat check in, yakni barang berlebih hingga menambah beban muatan, selain itu yang terjadi baru-baru ini sebuah minuman kaleng yang diketahui bir, masuk dalam kabin pesawat sebagai daftar barang bawaan. Kali ini, seorang pria di Australia melakukan hal konyol untuk menyimpan sekaleng bir dengan tanda (tag) bagasi pesawat dalam penerbangan domestik. Baca juga: 6 Hal Ini Bisa Memicu Keributan Selama Penerbangan KabarPenumpang.com melansir bbc.com (12/7/2017), pria yang melakukan hal aneh tersebut diketahui bernama Dean Stinson. Stinson mengatakan, bahwa dirinya dan seorang teman lainnya membuat gagasan untuk memasukkan satu kaleng bir dalam bagasi pesawat merupakan sebuah hiburan dan lelucon. Mungkin hal ini terlihat aneh bagi Anda yang mendapatkan sebuah kaleng bir baru yang belum di buka sesudah tiba di bandara Perth dan berada di ban berjalan tempat mengambil barang bawaan dari bagasi pesawat. Apalagi melihat kaleng bir dengan sebuah tanda bagasi setelah empat jam perjalanan dari Melbourne.
Kaleng bir yang masuk ke bagasi pesawat Qantas (BBC)
Diketahui, maskapai yang mengangkut Stinson dengan bagasi sebuah kaleng minuman adalah Qantas. Dengan adanya hal ini, pihak maskapai Qantas mengatakan, bahwa kejadian seperti meletakkan kaleng bir tersebut untungnya tidak diikuti oleh penumpang lainnya yang mengunakan Qantas. Sebab hal ini bukannya membuat semakin baik citra maskapai justru bisa membuat citra maskapai merosot di mata publik. Baca juga: Asap Penuhi Kabin Aero Contractors, 53 Penumpang Selamat “Orang ini telah melakukannya dan dia memenangkan warga internet untuk hari ini, jadi kami senang untuk melanjutkan,” kata seorang juru bicara dari Qantas. Saat memasukkan sekaleng bir tersebut dalam bagasi, Stinson mengakui dirinya senang karena bisa sampai dengan selamat pada sabtu (15/7/2017). Dan itu dalam kondisi sempurna, Untungnya maskapai Qantas juga tidak memberikan biaya tambahan untuk bagasi yang tercatat. Baca juga: Ini Lho Fungsi Lain dari Airplane Mode! Mungkinkah hal ini akan terjadi pada maskapai lain baik penerbangan domestik maupun internasioanl? Sebenarnya yang patut jadi pertanyaan adalah peran petugas di check in counter, mengapa bisa menyetujui sebuah kaleng bir dimasukkan ke bagasi dan kemudian diberi tag layaknya tas atau koper.

Manekin Jadi Penumpang, Jurus Kelabui Petugas Lalu Lintas

Siapa sangka dengan membawa boneka dan diletakkan pada kursi penumpang bisa menjadi masalah besar. Baru-baru ini terjadi di Charlestown, Boston tepatnya di Interstate 93 seorang pengemudi berusia 44 tahun yang mengendarai mobilnya membawa sebuah manekin di letakkan pada kursi penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari bostonherald.com (22/6/2017), pria usia 44 tahun ini ditangkap polisi di jalur HOV dengan manekin di kursi penumpang dan diberi baju bila dilihat dari jauh seperti seorang manusia yang duduk. Entah alasan apa yang membuat pria ini meletakkan manekin pada tempat duduk penumpangnya. Baca juga: Tolak Tilang, Serikat Pekerja Hong Kong Angkat Bicara Kejadian ini ditemukan oleh Todd Gidden, petugas patroli lalu lintas yang sedang memantau lalu lintas di Interstate 93, Charlestown dan melihat mobil yang dikemudikan pria tersebut. Ternyata kejadian ini tak hanya ada di Boston, di Indonesia, Wellington, Selandia Baru dan California pun sering terjadi hal seperti itu. Biasanya ini untuk mengelabui para polisi pada saat jalanan 3 in 1 dimana di kota Auckland, Selandia Baru untuk mengelabui para polisi lalu lintas yang berjaga pengemudi menempatkan boneka tiup, manekin hingga memasang baju pada seekor anjing peliharaan. Di Indonesia sendiri beberapa tahun lalu untuk meghindari para petugas lalu lintas biasanya membawa joki. Baca juga: Auckland Transportation Mulai Pasang CCTV di Jalur Bus Pusat Kota Biasanya taktik seperti memudahkan pengemudi untuk melewati jalan-jalan yang mengharuskan membawa penumpang minimal tiga orang dalam satu mobil. Di Selandia Baru sendiri setiap pelanggar 3 in 1 akan dikenakan denda hingga $150 Selandia Baru atau sekitar Rp1 juta. Tahun lalu tepatnya 25 September 2016, seorang pengendara di California, Amerika Serikat juga berusaha mengelabui polisi dengan membawa manekin dalam mobil ketika melewati jalur 2 in 1 pada jam sibuk. Sebanarnya, usahanya hampir berhasil sampai seorang polisi menyadari penumpang yang berada di kursi penumpang terlihat seperti dari plastik. Baca juga: Alasan Politik, Pemerintah Mesir Perintahkan Taksi Online Gunakan Aplikasi Pelacak Polisi yang mengendarai sepeda motor itu pun memperingatkan pengemudi untuk menurunkan jendelanya dan benar yang terlihat adalah sebuah manekin. Si pengemudi sempat mengaku bila dirinya sering melakukan hal tersebut selama beberapa waktu, atas pelanggaran yang dilakukannya, si pengemudi di denda sekitar Rp6 juta.

Omprengan Riwayatmu Kini

Dari aspek regulasi, omprengan merupakan angkutan umum tidak sah dan sampai saat ini masih beredar di wilayah Jakarta. Wujudnya bisa disamakan dengan taksi gelap yakni mobil dengan plat hitam dan beredar di sekitaran Ibu Kota. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, bahwa omprengan ini ada karena moda transportasi saat itu yang masih bisa dijangkau masyarakat. Sayangnya, adanya omprengan ini tidak jelas keberadaannya sejak kapan dan siapa yang membuatnya. Omprengan kerap muncul atas desakan kebutuhan suatu komunitas dan peluang jalur transportasi yang belum terisi atau dilayani oleh moda angkutan kota. Jelasnya, omprengan ini masih terus beroperasi karena bisa dikatakan murah dari tempat keberangkatan hingga tujuan akhirnya. Ada beberapa rute yang dilewati omprengan ini seperti Segitiga Emas Jakarta yakni Sudirman, Gatot Subroto dan Kuningan. Adapun jalur lainnya yang biasa di lewati omprengan adalah Blok M, Thamrin, Grogol dan Slipi. Baca juga: Bemo, Mencoba Eksis Ditengah Himpitan Zaman Sejatinya, jalur-jalur ini bisa dikatakan adalah jalur yang paling banyak dilewati para pekerja. Biasanya omprengan ini memiliki titik kumpul tersendiri yakni Cibubur Junction dan Taman Bunga Wiladatika, Cibubur. Namun, terkadang mobil-mobil omprengan ini juga mengangkut penumpang dari pinggir jalan tol. Biasanya, para pengguna omprengan yang naik dari pinggir jalan tol dikarenakan terlalu jauh untuk menuju titik kumpul. Tarif yang dikenakan para pengemudi omprengan bisa dikatakan murah yakni sekitar Rp8 ribu hingga Rp12 ribu sekali jalan dari titik kumpul hingga tujuan akhirnya. Mengikuti kebutuhan transportasi para pekerja, omprengan biasanya beroperasi dari jam 05.00 hingga 09.00 pagi dan 17.00 hingga 20.00 malam. Baca juga: “Timer,” Antara Utusan Operator Angkutan dan Pungutan Liar Para pengguna omprengan lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki, sebab untuk naik angkutan umum terkadang tidak mendapat tempat duduk sehingga harus berdiri. Sementara bila naik omprengan, mereka akan mendapatkan duduk yang nyaman. Mobil-mobil yang digunakan yakni Isuzu Panther, Mitsubishi L300, dan Daihatsu Espass yang rata-rata keluaran tahun 80-an sampai 90-an. Namun tak sedikit juga mobil bertampang keren dan bertahun muda yakni menggunakan Toyota Avanza keluaran 2002. Selain memudahkan para pekerja, omprengan juga masih berguna oleh karyawan yang bekerja di sekitaran segitiga emas kota Jakarta. Hingga kini, omprengan masih terus berjaya dengan ‘penumpang’ setianya. Yang perlu dicatat, karena menjadi angkutan yang ilegal, maka harus dipahami tidak ada santunan asuransi bila suatu waktu terjadi musibah di jalan raya.

Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Beberapa waktu yang lalu Boeing mengeluarkan pernyataan bahwa pesawat jetliner jumbo Boeing 747 tidak lagi diproduksi untuk varian penumpang komersial dan menggantinya dengan pengembangan varian kargo. Namun, pada awal bulan Juli kemarin, sebuah Boeing 747-8 Intercontinental dengan motif maskapai Korean Air Lines nampak tengah mengudara menuju markas perusahaan tersebut di Washington, sebagaimana KabarPenumpang.com melansir dari laman cnn.com (19/7/2017). Mungkin, penampakan tersebut merupakan pesawat 747 terakhir yang pernah dibuat dari basis produksi Boeing di Seattle. Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck” Pesawat yang memiliki panjang sekitar 250 kaki (sekitar 76,2 meter) tersebut rencananya akan diterbangkan ke pihak pemesan, Korean Air Lines dalam beberapa minggu mendatang. Ini merupakan sebuah ironi dimana pamor dari perintis jumbo jet ini mulai kalah dengan saingannya, Airbus A380, pesawat penumpang terbesar di dunia saat ini. Walaupun terkena ‘seleksi alam,’ pihak Boeing nampaknya sadar diri dengan menghentikan produksi pesawat komersilnya dan beralih menjadi pesawat kargo. Seperti yang dihimpun dari sumber tertera, pihak Boeing tidak mengharapkan sebuah comeback besar terhadap nasib perusahaan. Pamor Boeing 747 mulai merosot ketika menjamurnya pesawat kecil yang bisa terbang jauh seperti pesawat jumbo jet lainnya, tentunya dengan penggunaan bahan bakar yang jauh lebih hemat. Secara otomatis, pihak maskapai yang menggunakan pesawat berukuran kecil untuk penerbangan jarak jauh dapat lebih cepat menerbangkan penumpangnya karena ketersediaan jumlah seat yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumbo jet. Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta “Terus terang, kami benar-benar tidak melihat adanya permintaan untuk pesawat terbang berukuran besar,” ungkap Randy Tinseth, wakil presiden bidang pemasaran Boeing pada bulan Juni lalu. “Hanya ada segelintir permintaan mengenai pesawat jumbo tersebut, seperti penerbangan VIP, penerbangan kepresidenan, dan militer. Namun tidak ada angka signifikan yang melakukan pemesanan untuk pesawat penumpang 747-8s atau bahkan A380 sekalipun,” tambahnya. Hingga saat ini, pihak Korean Air Lines sendiri mengaku belum memiliki rencana untuk kembali mengadakan pesawat jumbo lagi, seperti 747-8s atau A380. Diketahui, Korean Air Lines masih mengoperasikan keduanya secara berdampingan. Versi penumpang dari 747-8 pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 silam dan hanya dipesan oleh beberapa maskapai, termasuk Korean Air Lines, Lufthansa dan Air China. Pesawat yang dapat menampung hingga 467 penumpang ini bisa terbang sejauh 8.000 nautical miles atau setara dengan 14.816 km. Baca Juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat Seolah mempertegas pernyataan Boeing terkait penghentian produksi pesawat penumpangnya, Randy menyatakan akan lebih fokus dalam produksi pesawat kargo. “Ke depan, penjualan pesawat terbang akan terkait erat dengan pasar kargo,” ungkap Randy. Ternyata, kesulitan penjualan pesawat raksasa ini juga dialami oleh kompetitor utama Boeing, yakni Airbus dalam menjual A-380 double decker-nya, dengan salah satu faktor penantangnya adalah keberadaan pesawat yang ukurannya lebih kecil, namun mampu melayani direct flight menuju destinasi yang jaraknya sangat jauh.

Teganya Penumpang Kereta Bikin Seorang Ibu Menyusui Sambil Berdiri

Tega melihat seorang ibu harus berdiri dalam kereta dan saat itu menggendong bayi? Lalu Apa yang harusnya Anda lakukan untuk itu? Pastinya memberikan duduk pada ibu itu. Baru-baru ini, seorang ibu dengan membawa dua anak harus rela berdiri sambil menyusui anaknya yang masih berusia 15 bulan, ini terjadi di pada Bryony Esther (32 tahun) di kereta komuter C2C Lines di Inggris. Baca juga: Stiker “Baby on Board” Ternyata Bisa Picu Kecelakaan Lalu Lintas Dirangkum KabarPenumpang.com dari romper.com (21/7/2017), Esther tidak mendapatkan duduk dalam kereta tersebut, bahkan para pria yang berada di dalam kereta juga tidak mengindahkan dirinya dengan dua anak yang dibawa. Hingga akhirnya bayi Esther yang berusia 15 bulan harus mendapatkan ASI dan membuatnya mau tidak mau harus menyusui anak sembari berdiri. Mungkin hal ini terlihat tak pantas untuk seorang ibu, tetapi Esther mau tak mau harus menceritakan kisahnya kepada publik melalui postingan di Facebook dan berbagi fotonya yang menampilkan beberapa pria dan tidak memberikan tempat duduk saat dirinya pun harus menyusi. Dalam postingannya Esther mengatakan, “Harus berdiri di atas kereta sembari menyusui bayiku karena banyak yang lebih banyak penumpang yang mengutamakan dirinya sendir!!, ditambah lagi banyak yang melihat saya dan tetap tidak peduli. Tolong sebarkan kabar ini jika ibu, pacar dan istri mereka melihat perilaku tersebut.” Postingan yang dibuat Esther di Facebook sudah menyebar dengan disukai (like) 32.000 orang hingga sekitar pukul 5 sore waktu setempat. Tidak mengherankan jika postingan ini membuat dampak tersendiri bagi pengguna internet. “Saya merasa terintimidasi dan tidak nyaman,” ujar Esther. Ternyata kejadian ini tak hanya dirasakan Esther, pada Juni 2017 lalu seorang ibu bernama Brei Theison mengungkapkan rasa kecewanya saat manajemen kolam renang umum menyuruhnya menutupi saat sedang menyusui bayinya. Bahkan dirinya disuruh untuk menyusui di kamar mandi. Baca juga: Don’t Worry, Ibu Hamil Tetap Aman Untuk Lakukan Penerbangan Padahal, menyusui bayi adalah hak seorang ibu memberikan makan anaknya yang kelaparan dan biasanya memang tidak bisa ditunda. Dengan adanya postingan dari Esther dan Theison, bisa menjadi perhatian yang penting bagi seorang ibu dimanapun yang memang harus memberikan ASI pada anaknya dan banyak yang tidak mendukung agar pemberian ASI tetap dilakukan pada anak mereka.