Warga dan wisatawan di Cina Selatan kini dapat menghemat waktu tempuh secara drastis berkat pembukaan resmi Jembatan Huajiang Grand Canyon. Jembatan ini, yang berlokasi di Provinsi Guizhou, memecahkan rekor sebagai jembatan tertinggi di dunia dan memangkas perjalanan melintasi jurang dari dua jam menjadi hanya dua menit.
Jembatan megah ini secara resmi dibuka untuk lalu lintas pada Minggu, 28 September 2025, setelah dibangun selama tiga tahun delapan bulan.
Ketinggian Mencengangkan dan Rekor Ganda
Jembatan Huajiang Grand Canyon menjulang setinggi kurang lebih 2.050 kaki (sekitar 625 meter) di atas Sungai Beipan. Ketinggiannya bahkan melampaui ketinggian gedung pencakar langit terkenal di Amerika.
Tidak hanya memegang rekor sebagai yang tertinggi di dunia, jembatan ini juga menjadi jembatan terpanjang di wilayah pegunungan dengan panjang mencapai 4.600 kaki (sekitar 1,4 kilometer). Sekaligus menggeser rekor lama. Jembatan ini mengambil alih gelar “jembatan tertinggi di dunia” dari jembatan lain yang juga berada di Provinsi Guizhou, yaitu Jembatan Beipanjiang.
Pembangunan jembatan ini tidak hanya bertujuan mempersingkat komuter, tetapi juga untuk meningkatkan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Jembatan ini menghubungkan berbagai titik wisata utama dan dirancang sebagai destinasi itu sendiri:
Salah satu menara jembatan dilengkapi dengan kedai kopi yang berdiri sekitar 2.600 kaki (sekitar 792 meter) di atas sungai. Wisatawan dapat menggunakan elevator berkecepatan tinggi untuk menikmati pemandangan jurang yang memukau.
Bagi pencari sensasi, tersedia opsi bungee jumping dari jembatan atau berjalan di atas trotoar kaca yang berada di ketinggian 1.900 kaki (sekitar 579 meter) di udara.
Pembukaan Jembatan Huajiang Grand Canyon sekali lagi menegaskan posisi Cina sebagai pemimpin global dalam bidang teknik dan infrastruktur, menghubungkan area terpencil dan membawa manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Pengguna setia Kereta Rel Listrik (KRL) sepertinya perlu mengetahui kabar informasi mengenai Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City. Ya, sedang ramai diperbincangkan bahwa sebelumnya Stasiun Karet berencana akan ditutup. Jadi penumpang akan naik maupun turun di Stasiun BNI City. Diketahui jarak antara Karet dengan BNI City sangat berdekatan.
Stasiun BNI City dengan yang megah membuat masyarakat sebagai pengguna KRL tentu sangat nyaman saat berada didalamnya. Berbagai fasilitas yang lengkap dan praktis tersedia di stasiun ini. Tak hanya KRL Jabodetabek yang berhenti di Stasiun BNI City, sebenarnya stasiun ini juga diperuntukkan pemberhentian kereta bandara dari Manggarau menuju Bandara Soekarno Hatta maupun sebaliknya.
Dua tahun mendatang masyarakat dialihkan naik dan turun KRL hanya di Stasiun BNI City, tak lagi di Stasiun Karet. (Foto: Dok. KAI Bandara)
Nah, berawal rencana akan ditutupnya Stasiun Karet, sepertinya ‘anker’ dapat bernafas lega. Pasalnya pemerintsh tak jadi menutup Stasiun Karet. Hanya saja KRL yang melewati Stasiun Karet nantinya tidak akan berhenti lagi seperti biasanya alias akan berjalan langsung. Namun, penumpang dialihkan untuk naik dan turun dari Stasiun BNI City dengan melewati Stasiun Karet sebagai penghubung agar penumpang tetap merasa nyaman.
Srbelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah bersepakat mengintegrasikan Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City. Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Wisma Mandiri, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 29 September 2025.
Penggabungan kedua stasiun dilakukan untuk mewujudkan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) Dukuh Atas yang akan mengintegrasikan empat moda transportasi berbasis rel. Empat moda transportasi yang akan terintegrasi di kawasan tersebut meliputi Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Raya Terpadu (LRT), Kereta Rel Listrik (KRL), dan kereta bandara.
Terkait dengan penggabungan Stasiun Karet dan BNI City, dan sebagai penunjang konektivitas, PT KAI akan membangun koridor penghubung antara kedua stasiun tersebut. Saat ini koridor tersebut sudah tersedia namun masih memerlukan tambahan fasilitas peneduh. Seluruh proyek pengembangan kawasan TOD Dukuh Atas ini ditargetkan rampung tahun 2027.
Meski bangunannya terlihat tidak begitu kecil, namun tak semua stasiun-stasiun khususnya di jalur kereta api bagian timur yang tidak layani penumpang. Bisa jadi faktor beberapa alasan, salah satunya adalah faktor okupansi penumpang yang membuat pemasukan stasiun tersebut tidak begitu besar dibanding stasiun yang berada di kabupaten kota. Memang sangat baik jika stasiun tersebut dijadikan sebagai alternatif agar tidak jauh ke stasiun yang mendekati kota.
Seperti stasiun-stasiun kereta api yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun tepatnya di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Beberapa stasiun ini tengah menjadi sorotan karena seharusnya bisa menjadi alternatif masyarakat khususnya pedesaan yang bisa menggunakan kereta api tanpa harus ke kawasan kota. Stasiun yang berada di kabupaten Nganjuk ini hanya memiliki 2 stasiun besar dengan volume penumpang yang cukup banyak, yakni Stasiun Nganjuk dan Kertosono.
Ya, kedua stasiun tersebut berada dekat dengan pusat keramaian kota dan menjadi stasiun andalan penumpang untuk naik dan turun kereta api dari dan ke berbagai kota besar di Pulau Jawa. Untuk Stasiun Nganjuk merupakan stasiun kelas I yang berlokasi sekitar 700 m dari Alun-Alun Nganjuk. Stasiun ini juga merupakan salah satu stasiun kereta api utama di Kabupaten Nganjuk.
Selanjutnya adalah Stasiun Kertosono yang masih berada di Kabupaten Nganjuk dan merupakan stasiun ramai dengan penumpang kereta api. Meski posisinya jauh dari pusat Kota Nganjuk, namun Stasiun Kertosono memiliki jadwal perhentian kereta api lokal yakni Commuter Line Dhoho/Penataran yang terhubung ke Surabaya maupun Malang. Tak heran stasiun ini dijuluki stasiun ujung di ‘jalur kantong’ dengan dari Surabaya melewati Sidorajo, Bangil, Malang, Kediri, Kertosono, Mojokerto, dan berakhir kembali di Surabaya.
Lantas,kira-kira stasiun apa ya, sudah tak layani penumpang padahal seharusnya menjadi alternatif masyarakat untuk naik dan turun kereta api? Ya, stasiun yang dimaksud ini adalah Stasiun Baron, Sukomoro, Bagor, dan Wilangan. Jika menggunakan kereta api melewati Stasiun Baron, Bagor, dan Wilangan terlihat bangunannya sudah modern nan megah. Memiliki peron di setiap jalur kereta api, serta memiliki fasilitas untuk penumpang seperti ruang tunggu, toilet, dan lahan parkir yang luas.
Emplasemen jalur kereta api Stasiun Baron. (Foto: Dok. Istimewa)
Namun, tidak untuk Stasiun Wilangan. Semenjak selesai pembangun jalur ganda kereta api, stasiun ini sudah di nkn aktifkan. Selain sepi dengan penumpang, saat Stasiun Wilangan aktif pun hanya dipergunakan untuk persilangan kereta api. Ya, selama masih menggunakan jalur tunggal saat itu, kereta api banyak yang singgah untuk menunggu pergantian jalur. Kini, Stasiun Wilangan sudah tidak aktif, namun begitu bangunan stasiun terlihat jelas meski di dalam perjalanan kereta api.
Meski sudah tidak beroperasi sepenuhnya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tidak menutup kemungkinan stasiun yang ada di Baron, Sukomoro, dan Bagor bisa dibuka kembali secara normal. Namun dengan catatan ada kereta yang berhenti di lokasi-lokasi tersebut. Namun jika melihat kondisi saat ini, besar kemungkinan kereta yang lewat di stasiun-stasiun tersebut adalah kereta lokal. Dengan jarak tempuh yang pendek.
Lebih lanjut, meski tidak beroperasi penuh, stasiun-stasiun tersebut juga masih terus dirawat. Kecuali Stasiun Wilangan yang memang sudah ditutup lokal. Karena memang, ada kemungkinan stasiun tersebut bisa digunakan di kemudian hari. Uniknya ada dua dari empat stasiun yang disebutkan, memiliki fungsi tambahan lainnya bagi masyarakat sekitar yaitu bisa dijadikan untuk berswafoto seperti pada Stasiun Baron dan Sukomoro.
Masyarakat yang ingin menggunakan transportasi umum pada Minggu, 5 Oktober 2025 mendatang, sepertinya patut berbangga hati. Selain murah meriah, naik transportasi umum lebih praktis dan efisien.
Nah, pada tanggal tersebut adalah bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI yang ke-80, lho! Beredar kabar bahwa acara HUT TNI juga akan diadakan tarif promosi khusus untuk transportasi umum di seluruh wilayah Jakarta.
Ya, transportasi umum meliputi Transjakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta dan LRT Jabodebek akan dikenakan tarif hanya Rp80 saja. Sesuai kebijakan dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan diberlakukannya tarif tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap TNI yang selama ini menjaga keamanan dan kedaulatan bangsa.
LRT Jakarta
Pramono menjelaskan kebijakan tarif Rp80 tersebut diberikan kepada seluruh warga di Jakarta sebagai bentuk apresiasi Pemprov Jakarta kepada TNI dalam menegakkan kedaulatan negara.
Kebijakan tarif Rp80 ini sekaligus melanjutkan tradisi Pemprov DKI Jakarta dalam memberikan keringanan biaya transportasi umum pada momen-momen peringatan penting. Sebelumnya, pada 17 September 2025 lalu, tarif khusus sempat diberlakukan untuk memperingati Hari Perhubungan Nasional.
Momen tersebut tentu disambut positif oleh masyarakat karena dianggap meringankan biaya perjalanan sekaligus meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya transportasi berkelanjutan dan keselamatan di jalan raya.
Dalam menikmati tarif Rp80 ini, masyarakat bisa melakukan pembayaran menggunakan uang elektronik seperti Mandiri E-Money, BCA Flazz, BNI Tap Cash, BRI Brizzi, Kartu JakLingko, KMT, JakCard, atau melalui aplikasi JakLingko dan MyMRTJ. Selain itu, dapat juga melalui dompet digital (e-wallet) GoPay, DANA, AstraPay, i.saku, bank digital blu by BCA Digital, kartu kredit Mastercard, Kredivo di Aplikasi MyMRTJ.
Selain transportasi umum yang dikenakan tarif promo, acara dalam rangka HUT TNI ke-80 ini pun meriah. Berlokasi di silang Monas, tentunya ada atraksi dan pameran dari TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang memastikan akan menurunkan kekuatan besar dalam perayaan HUT ke-80 TNI.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengungkapkan, sebanyak 156 pesawat akan ikut serta dalam rangkaian acara akbar tersebut. Armada udara itu terdiri dari pesawat angkut, termasuk Hercules C-130, serta sejumlah pesawat tempur seperti F-16, Sukhoi, dan Hawk 100/200. Para penerbang tempur akan menampilkan manuver berkelas dunia, mulai dari simulasi pertempuran hingga formasi udara yang bisa disaksikan langsung dari kawasan silang Monas.
Kehadiran kebijakan tarif transportasi umum Rp80 dari Pemprov DKI diharapkan dapat memudahkan mobilitas masyarakat yang ingin menyaksikan langsung jalannya acara, sekaligus mempertegas sinergi antara pemerintah daerah dan TNI dalam memberikan pelayanan publik yang bermanfaat.
Lintasan Kayangan–Pototano di Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin menunjukkan perannya sebagai jalur vital penghubung Pulau Lombok dan Sumbawa. Jalur laut ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat sekaligus pintu gerbang wisatawan menuju destinasi unggulan kedua pulau tersebut.
Pentingnya lintasan ini tidak hanya untuk transportasi, tetapi juga pengembangan pariwisata. Lombok dan Sumbawa sendiri memiliki potensi besar dengan destinasi tingkat kelas dunia.
Hal ini dikatakan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo. Dia mengatakan, untuk mewujudkannya aksesibilitas menjadi kunci, dan ASDP berkomitmen menjaga konektivitas agar wisata terus tumbuh dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat
“Kami percaya bahwa pariwisata hanya bisa maju dengan dukungan transportasi yang lancar, aman, dan terjangkau. Karena itu, ASDP terus memperkuat armada, meningkatkan kualitas layanan, dan menghadirkan sistem reservasi digital agar penyeberangan semakin mudah diakses masyarakat maupun wisatawan,” jelas Heru yang dikutip dari siaran pers, Minggu (28/9/2025).
Pulau Lombok dikenal dengan ikon wisata Gunung Rinjani, Gili Trawangan, dan Pantai Senggigi, sementara Sumbawa menawarkan pesona Pantai Maluk dan Gunung Tambora. Akses penyeberangan Kayangan–Pototano menjadi jalur vital yang membuka peluang wisatawan untuk menjelajahi dua destinasi unggulan tersebut.
Selain sektor pariwisata, jalur ini juga menopang distribusi logistik. Komoditas pangan seperti padi, jagung, kedelai, hingga hasil laut bergerak melalui lintasan ini, memperkuat rantai pasok dan mendukung ketahanan pangan di NTB.
Data ASDP mencatat, periode Januari–Agustus 2025, lintasan Kayangan–Pototano telah melayani 889.682 penumpang dan 252.973 unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, sepeda motor mendominasi dengan 117.643 unit, diikuti mobil pribadi sebanyak 72.412 unit. Angka ini menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap moda penyeberangan.
Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menjelaskan bahwa perusahaan juga mendorong kawasan pelabuhan memiliki fungsi tambahan sebagai destinasi wisata.
“Melalui program waterfront destination, ASDP melakukan transformasi kawasan pelabuhan agar lebih modern dan terpadu, sehingga bisa menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan,” katanya.
Dengan konsep serupa, pengembangan waterfront di Kayangan diharapkan mampu menambah daya tarik kawasan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Ke depan, ASDP menargetkan pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai terminal penyeberangan, tetapi juga sebagai magnet wisata baru.
Dalam operasionalnya, ASDP terus menekankan aspek keselamatan. Jadwal keberangkatan yang teratur, prosedur keselamatan yang ketat, serta kesiapan kru kapal menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan layanan yang andal.
Heru Widodo menegaskan kembali, keberadaan lintasan ini bukan hanya tentang transportasi.
“Kayangan–Pototano adalah jembatan laut yang menyatukan masyarakat, memperkuat pariwisata, sekaligus menggerakkan roda ekonomi. Inilah wujud kontribusi ASDP sebagai garda terdepan konektivitas Nusantara,” ujarnya menandaskan.
Masyarakat Bandung dan sekitar sepertinya akan merasakan terobosan baru di jalur kereta api Bandung Raya dengan rute Padalarang – Bandung – Cicalengka maupun sebaliknya. Ya, menurut kabar dari berbagai sumber bahwa pembangunan elektrifikasi di jalur tersebut akan terealisasikan. Pasalnya jalur ganda di wilayah tersebut sudah lama digunakan, tinggal moda transportasinya saja yang terus dikembangkan.
Seperti diketahui, wilayah Bandung dan sekitarnya untuk kereta yang beroperasi saat ini masih terus berjalan. Ya, rangkaian kereta Commuter Line Bandung Raya wara wiri menghiasi jalur Padalarang – Cicalengka untuk melayani penumpang. Kereta api ini berhenti di setiap stasiun dengan tarif yang relatif murah yakni Rp5.000.
Menggunakan Commuter Line Bandung Raya tak semudah saat menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) di Jabodetabek. Pasalnya, masyarakat harus menyesuaikan jam keberangkatan dari stasiun awal dan harus memesan/membeli tiket terlebih dahulu melalui aplikasi di ponsel. Jika tertinggal kereta, mau tidak mau harus membeli tiket lagi pada jam berikutnya.
Ilustrasi Perjalanan KRL di Jabodetabek.
Maka dari itu, pemerintah berencana dengan matang untuk memberlakukan sistem elektrifikasi di jalur wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) hingga tahun 2030, merancang KRL juga dibangun di Bandung. Dalam RIPNas tersebut, Kemenhub membangun jalur ganda dan elektrifikasi lintas Padalarang – Bandung – Cicalengka.
Infrastruktur elektrifikasi bisa terpenuhi dalam waktu dekat ini, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan mudah dalam menghadirkan kereta KRL-nya. Mengingat hal ini pernah dilakukan sebelumnya di beberapa daerah lain seperti di Solo. Berdasarkan pengalaman PT KAI di Solo, mulanya memang sedikit penumpang yang menaiki kereta tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu terus bertambah. PT KAI sebagai penyedia sarana akan memenuhi hadirnya KRL Bandung Raya itu. Di sisi lain, rencana ini juga sudah dikaji.
Tentunya dengan menghadirkan perjalanan KRL, masyarakat Bandung dan sekitarnya lebih dimudahkan dalam bertransportasi kapan saja tanpa harus memesan tiket melalui aplikasi di ponsel. Layaknya jalur Jabodetabek dan Solo – Yogya, menggunakan KRL lebih memudahkan masyarakat cukup dengan tap in – out kartu elektronik lalu naik dan turun sesuai keinginan.
Proyek kereta penumpang ambisius Etihad Rail menjadi sorotan utama dalam pameran Global Rail 2025 di Abu Dhabi. Di sana, para pengunjung dapat melihat langsung layanan yang akan segera beroperasi ini, yang akan mendefinisikan ulang perjalanan antarkota di seluruh Uni Emirat Arab (UEA).
Sorotan utama pameran ini adalah peluncuran kabin kereta penumpang Etihad Rail yang akan datang—menandai pandangan publik pertama tentang seperti apa masa depan perjalanan kereta api di UEA. Model (mockup) kereta perak ramping yang ditampilkan secara mencolok di tempat tersebut menampilkan merek Etihad Rail hitam dan merah yang khas dan memberikan pengunjung pratinjau nyata tentang apa yang akan terjadi ketika operasi penumpang dimulai pada tahun 2026.
Kereta penumpang akan mencakup tiga kelas perjalanan yang berbeda: ekonomi, keluarga, dan kelas satu. Kabin ekonomi menampilkan tempat duduk abu-abu gelap yang saling membelakangi; kabin keluarga menawarkan tempat duduk berhadapan dengan meja tengah yang panjang untuk kenyamanan rombongan; dan kabin kelas satu menyediakan tempat duduk yang lebih lebar dan dapat disesuaikan yang dirancang untuk kenyamanan. Semua kabin dilengkapi meja baki, kompartemen bagasi di atas kepala, dan ruang khusus tambahan untuk bagasi yang lebih besar.
Penumpang akan memasuki stasiun melalui gerbang tiket otomatis. Meskipun dianjurkan untuk memesan tiket secara online terlebih dahulu, mesin penjual tiket juga akan tersedia di stasiun. Contoh mesin yang dipajang menunjukkan warna hitam dan abu-abu, dengan dukungan pembayaran melalui uang kertas, kartu, dan Apple Pay. Mesin ini memungkinkan pengguna untuk memilih kelas perjalanan, memasukkan titik awal dan akhir perjalanan, dan menentukan persyaratan khusus.
Perjalanan kereta api dirancang agar cepat dan efisien. Setelah beroperasi, rute Abu Dhabi ke Dubai akan memakan waktu 57 menit. Waktu tempuh ke Fujairah akan sekitar 100 menit, dan ke Ruwais, sekitar 70 menit. Kereta api ini diperkirakan akan melaju dengan kecepatan hingga 200 km/jam.
Dua jenis kereta akan beroperasi di jaringan ini. Kabin CRC buatan Cina akan menawarkan 365 kursi, sementara kabin CAF buatan Spanyol akan menyediakan 369 kursi. Meskipun kedua model mendukung struktur kelas yang sama, sedikit variasi desain akan membedakan kedua interiornya.
Layanan kereta api ini juga berupaya menciptakan pengalaman pelanggan yang mulus dan berkelas. Masinis kereta akan mengenakan seragam abu-abu dan hitam, sementara petugas stasiun dan kereta akan mengenakan seragam krem dan merah.
1 Oktober mungkin jadi salah satu tanggal paling bersejarah bagi maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang akrab disapa KLM. Selain menjadi penerbangan uji coba destinasi antarbenua pertama KLM, tepatnya pada 1 Oktober 1924, tanggal tersebut juga spesial buat maskapai atas bergabungnya armada baru mereka, Fokker F-XII, ke dalam rute reguler terpanjang di dunia tersebut, yakni pada 1 Oktober 1931.
Baca juga: Hari ini, 101 Tahun Lalu, Sejarah Rute Reguler Terpanjang Dunia KLM Amsterdam-Batavia Dimulai
Dampak kehadiran pesawat tersebut bisa dibilang cukup besar, mulai dari frekuensi terbang menjadi lebih banyak, waktu tempuh jauh lebih cepat, dan muatan yang jauh lebih banyak. Muara dari semua itu, konektivitas Belanda dengan wilayah koloninya pun menjadi lebih intens.
Dikutip dari laman resmi perusahaan, penerbangan pertama antarbenua ini menggunakan sebuah pesawat Fokker F-VII dengan kode registrasi H-NACC, dan diterbangkan oleh dua pilot Van der Hoop serta penyair dan mekanik Van den Broeke.
Laporan Simple Flying, penerbangan antarbenua pertama KLM tersebut memakan waktu sampai 55 hari, melintasi Athena, Kairo, Baghdad, Karachi, Calcutta, Rangoon, Singapura, dan tiba di Batavia, dengan total 21 pemberhentian. Adapun pemberhentian pertama rute Amsterdam-Batavia itu terjadi di Praha, Cekoslovakia. Selain menjadi penerbangan terpanjang di dunia, perjalanan Belanda-Batavia juga merupakan koneksi penerbangan terjadwal paling lama di dunia karena menempuh waktu 55 hari.
Sebetulnya, dengan melahap perjalanan sejauh 13.744 km, uji coba penerbangan Fokker F-VII H-NACC tergolong lama sampai memakan waktu hampir dua bulan. Sebab, dengan jarak tempuh yang tak terlalu lama, pesawat Walvaren 2 PK-KKH buatan Achmad bin Talim, pemuda lulusan ITB, Bandung, hanya membutuhkan waktu 18 hari untuk menyelesaikan penerbangan pertama Indonesia ke Eropa (Amsterdam, Belanda) pada 9-27 September 1935.
18 hari itu pun sudah termasuk berbagai kendala di lapangan, termasuk kerusakan mesin. Bila tak ada aral melintang, harusnya pesawat Walvaren 2 PK-KKH hanya membutuhkan waktu 10 hari.
Kembali ke KLM, setelah uji coba berhasil, enam tahun berselang, yaitu tahun 1930, penerbangan terjadwal antara Amsterdam dan Batavia (Jakarta) pun resmi diumumkan. Sejak pertama penerbangan tersebut dijajaki selama seminggu sekali sampai seminggu dua kali, KLM masih mengerahkan pesawat Fokker F-VII (panjang 14 meter lebih), dengan kapasitas dua kru dan delapan penumpang.
Seiring meningkatnya popularitas rute antarbenua pertama maskapai sekaligus rute terpanjang di dunia itu, KLM kemudian mulai mengerahkan pesawat lain yang lebih besar dan tangguh, Fokker F-XII mulai 1 Oktober 1931. Pasca kehadiran F-XII, frekuensi penerbangan juga ditambah menjadi seminggu tiga kali, dengan mengangkut lebih banyak penumpang, yakni 18 pax dengan empat kru. Waktu tempuh juga ikut terpangkas karenanya, menjadi kurang dari 10 hari.
Baca juga: Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara
Pada tahun 1932, KLM mendatangkan kembali armada baru, Fokker F-VIII yang tak kalah tangguh dengan Fokker F-XII. Kehadiran pesawat tesebut juga sekaligus menandai keluarnya Fokker F-VII dari layanan. Fokker F-VIII kemudian didaulat oleh KLM untuk melayani penerbangan reguler Amsterdam-Batavia, sedangkan Fokker F-XII beroperasi khusus untuk rute KLM di Eropa.
1 Oktober mungkin jadi salah satu tanggal paling bersejarah bagi maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang akrab disapa KLM. Selain menjadi penerbangan uji coba destinasi antarbenua pertama KLM, tepatnya pada 1 Oktober 1924, tanggal tersebut juga spesial buat maskapai atas bergabungnya armada baru mereka, Fokker F-XII, ke dalam rute reguler terpanjang di dunia tersebut, yakni pada 1 Oktober 1931.
Baca juga: Rayakan HUT Ke-100, KLM Torehkan Penerbangan ‘Terlama’ Menuju Indonesia
Dampak kehadiran pesawat tersebut bisa dibilang cukup besar, mulai dari frekuensi terbang menjadi lebih banyak, waktu tempuh jauh lebih cepat, dan muatan yang jauh lebih banyak. Muara dari semua itu, konektivitas Belanda dengan wilayah koloninya pun menjadi lebih intens.
Dikutip dari laman resmi perusahaan, penerbangan pertama antarbenua ini menggunakan sebuah pesawat Fokker F-VII dengan kode registrasi H-NACC, dan diterbangkan oleh dua pilot Van der Hoop serta penyair dan mekanik Van den Broeke.
Rute KLM Amsterdam-Batavia. Foto: KLM via Simple Flying
Laporan Simple Flying, penerbangan antarbenua pertama KLM tersebut memakan waktu sampai 55 hari (1 Oktober 1924 – 24 November 1924), melintasi Athena, Kairo, Baghdad, Karachi, Calcutta, Rangoon, Singapura, dan tiba di Batavia, dengan total 21 pemberhentian. Adapun pemberhentian pertama rute Amsterdam-Batavia itu terjadi di Praha, Cekoslovakia.
Kala itu, penerbangan tak berjalan mulus. Selang dua hari, tepatnya pada 3 Oktober, mesin Rolls Royce mengalami overheat saat memasuki Eropa Timur, tepatnya di dekat Saladinovo, Bulgaria. Tak main-main, mesin dinyatakan hancur total dan tak bisa digunakan kembali.
Mesin baru kemudian dikirim ke Bulgaria dengan kereta kuda selama beberapa hari atas donasi dari majalah kenamaan Belanda, Het Leven. Setelah sampai, mesin baru pun langsung dipasang oleh Van den Broeke. Perjalanan pun kembali dilanjutkan.
Selain menjadi penerbangan terpanjang di dunia, perjalanan Belanda-Batavia juga merupakan koneksi penerbangan terjadwal paling lama di dunia karena menempuh waktu 55 hari.
Sebetulnya, dengan melahap perjalanan sejauh 13.744 km, uji coba penerbangan Fokker F-VII H-NACC tergolong lama sampai memakan waktu hampir dua bulan. Sebab, dengan jarak tempuh yang tak terlalu lama, pesawat Walvaren 2 PK-KKH buatan Achmad bin Talim, pemuda lulusan ITB, Bandung, hanya membutuhkan waktu 18 hari untuk menyelesaikan penerbangan pertama Indonesia ke Eropa (Amsterdam, Belanda) pada 9-27 September 1935.
18 hari itu pun sudah termasuk berbagai kendala di lapangan, termasuk kerusakan mesin. Bila tak ada aral melintang, harusnya pesawat Walvaren 2 PK-KKH hanya membutuhkan waktu 10 hari.
Kembali ke KLM, setelah uji coba berhasil, enam tahun berselang, yaitu tahun 1930, penerbangan terjadwal antara Amsterdam dan Batavia (Jakarta) pun resmi diumumkan. Sejak pertama penerbangan tersebut dijajaki selama seminggu sekali sampai seminggu dua kali, KLM masih mengerahkan pesawat Fokker F-VII (panjang 14 meter lebih), dengan kapasitas dua kru dan delapan penumpang.
Baca juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!
Seiring meningkatnya popularitas rute antarbenua pertama maskapai sekaligus rute terpanjang di dunia itu, KLM kemudian mulai mengerahkan pesawat lain yang lebih besar dan tangguh, Fokker F-XII mulai 1 Oktober 1931. Pasca kehadiran F-XII, frekuensi penerbangan juga ditambah menjadi seminggu tiga kali, dengan mengangkut lebih banyak penumpang, yakni 18 pax dengan empat kru. Waktu tempuh juga ikut terpangkas karenanya, menjadi kurang dari 10 hari.
Pada tahun 1932, KLM mendatangkan kembali armada baru, Fokker F-VIII yang tak kalah tangguh dengan Fokker F-XII. Kehadiran pesawat tesebut juga sekaligus menandai keluarnya Fokker F-VII dari layanan. Fokker F-VIII kemudian didaulat oleh KLM untuk melayani penerbangan reguler Amsterdam-Batavia, sedangkan Fokker F-XII beroperasi khusus untuk rute KLM di Eropa.
Indonesia memiliki berbagai macam transportasi darat baik angkutan kota, angkutan desa, dalam kota, maupun antarkota antarporvinsi. Semua angkutan ini mulai beroperasi dari satu tempat yakni terminal.
Terminal di Indonesia dibagi dalam tiga tipe yakni Tipe A, Tipe B, dan Tipe C. Di mana masing-masing ini pun terpisah pula wewenangnya seperti milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah.
Pembagian ini dilakukan berdasarkan UU No.23/2014 tentang Pemerintah Daerah, yang hanya membagi berdasarkan kewenangan pengelolaan teminal. Dirangkum dari berbagai laman sumber, penentuan tipe dan kelas terminal dilakukan berdasarkan fungsi pelayanan, fasilitas pelayanan dan kewennagan.
Terminal penumpang Tipe A, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), dan angkutan lintas batas antar negara, angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
Kemudian, terminal penumpang Tipe B, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
Sedangkan terminal penumpang Tipe C, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan pedesaan (ADES). Klasifikasi terminal tersebut akan mendasari pertimbangan bagi keperluan perencanaan berbagai fasilitas penunjang dari masing-masing tipe terminal.
Tipe yang berbeda juga akan menuntut jumlah dan dimensi fasilitas pendukung yang berbeda pula. Demikian pula halnya dengan lokasi terminal, di masing-masing tipe mempunyai kriteria tersendiri dalam penentuan lokasi yang sesuai dengan tipe pelayanan yang diembannya.
Selain dibedakan berdasarkan tipe terminal, terminal juga dibedakan berdasarkan kelas terminal yaitu terminal kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 (PM 132 tahun 2015). Pembagian kelas terminal ditetapkan melalui kajian teknis terhadap intensitas kendaraan yang didasari pada tingkat permintaan angkutan, keterpaduan pelayanan angkutan, jumlah trayek, jenis pelayanan angkutan, fasilitas utama dan penunjang terminal serta simpul asal dan tujuan angkutan.
Dalam penetapan tipe terminal terdapat pembagian kewenangan dalam proses penetapan. Kewenangan tersebut meliputi, Menteri dengan memperhatikan masukan Gubernur, untuk terminal penumpang tipe A.
Lalu Gubernur dengan memperhatikan masukan Bupati/ Walikota, untuk terminal penumpang tipe B. Yang terakhir, Bupati/Walikota dengan memperhatikan usulan/masukan dari SKPD yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan untuk terminal tipe C.
Bagi Gubernur DKI Jakarta dengan memperhatikan usulan/ masukan dari SKPD yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan untuk terminal tibe B dan C di Provinsi DKI Jakarta.