Untuk Masyarakat yang suka traveling ke Yogyakarta dan mau mencari tempat untuk membeli oleh-oleh dengan mudah dan nyaman, kini Loko Café Malioboro menghadirkan “Gerbong Oleh-Oleh” sebagai terobosan baru dalam konsep sebuah café yang tidak hanya sebagai tempat makan dan bersantai, namun juga sebagai tempat utama untuk membeli oleh-oleh khas daerah setempat.
Gerbong Oleh-Oleh ini menjual tidak hanya makanan, namun juga aneka minuman dan kerajinan tangan khas daerah, yang secara resmi dibuka pada senin (6/10) di Loko Café Malioboro, Yogyakarta.
Dengan lokasi yang strategis dan dekat dengan Stasiun Tugu, menjadikan Loko Café Malioboro tempat yang asyik untuk berburu kulineran dan oleh-oleh. Bagi masyarakat yang sedang menikmati liburan di Kawasan Malioboro, dan ingin membeli oleh-oleh khas dari kota pelajar sambil menikmati secangkir kopi hangat, bisa langsung mampir ke Loko Café Malioboro dan Tugu. Selain itu bagi masyarakat yang ingin menikmati manisnya hari di Yogyakarta dapat menikmati kesegaran Gelato di Loko Café Malioboro. Hal ini merupakan kolaborasi Loko Café dengan My Gelato.
Menurut Direktur Utama KAI Services, Ririn Widi Astutik, untuk meningkatkan layanan kepada penumpang kereta dalam memperoleh oleh-oleh, dimana penumpang tidak perlu repot, serta dapat melakukan pembelian tanpa batas waktu dan tempat. Untuk mendukung hal tersebut telah disiapkan fasilitas kemudahan melalui penyediaan saluran pembelian secara online melalui fitur Railfood pada aplikasi Access by KAI.
Prama dan Prami kami akan mengantarkan langsung kepada penumpang dalam setiap perjalanannya. Dengan jumlah pengoperasian kereta mencapai 270-an kereta per hari pada off peak seasons dan 300-an kereta per hari pada peak seasons, tentunya ini merupakan captive market yang potensial. Relasi pengoperasian kereta yang tersebar dari Jakarta sampai dengan Banyuwangi, tentunya membawa manfaat bagi produk dalam menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya di wilayah Yogyakarta saja.
Gerbong Oleh-oleh ini juga hadir sebagai bentuk pemberdayaan UMKM, dimana tahap awal ini dimulai melalui kolaborasi dengan Kampoeng Jogja yang merupakan pelaku usaha dan sudah lama bergelut dalam bisnis oleh-oleh di Wilayah Yogyakarta. “Produk yang dijual ini mayoritas merupakan produk UMKM binaan Kampoeng Jogja. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bisa diperluas kepada UMKM dibawah pembinaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DIY dan lainnya, mengingat saat ini kami juga sedang menginisiasi kerjasama dengan Kementrian Perdagangan RI, yang akan direalisasikan melalui MOU dalam waktu dekat”, tutur Ririn.
Kedepannya “Gerbong Oleh-Oleh” akan hadir juga di Loko Café lainnya, seperti Bandung, Jakarta dan Surabaya. Dengan konsep yang sama, akan menghadirkan perpaduan kuliner dan oleh-oleh khas daerah setempat. Tentunya juga akan memberdayakan kolaborasi dengan UMKM setempat. Semoga kolaborasi ini semakin nyata untuk dapat meningkatkan peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional”, tutur Ririn.
Jalur Rangkasbitung – Pandeglang kini memang terus menjadi sorotan media. Ya, upaya reaktivasi yang digadang-gadang akan dilakukan pada 2026 tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat yang biasa melakukan perjalanan ke kawasan Pandeglang. Tak hanya itu sepanjang jalur kereta api (KA) menuju Pandeglang masih terlihat beberapa bangunan-bangunan peninggalan saat jalur tersebut digunakan.
Program reaktivasi Rangkasbitung – Pandeglang pun telah direncanakan. Jalur ini memiliki panjang 19 kilometer yang tentunya jika diaktifkan kembali dapat mendongkrak perekonomian setempat karena memberikan efek pengganda bagi masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan lain.
Diketahui jalur KA nonaktif Rangkasbitung-Pandeglang merupakan bagian jalur KA nonaktif Rangkasbitung-Pandeglang-Saketi-Labuan. Rencana pengaktifan kembali jalur itu dapat menjadi langkah awal melanjutkan reaktivasi jalur KA ke arah Saketi dan Labuan di Banten tengah.
Jalur KA nonaktif Rangkasbitung – Pandeglang. (Foto: Dok. Istimewa)
Masih adanya bangunan cagar budaya yang terlihat di beberapa area sepanjang jalur KA nonaktif tersebut. Seperti yang terlihat pada prasasti corong air yang berada di Stasiun Pandeglang. Prasasti ini cukup terawat hingga kini meskipun program perbaikan corong air Pandeglang itu diresmikan pada 30 Juli 2022.
Seperti yang dikutip di laman Radar Banten, pada prasasti tersebut tertulis keterangan program perbaikan tampilan Corong Air Pandeglang yang merupakan kerja sama antara PT Kereta Api Indonesia (KAI), Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Banten, dan Indonesia Railway Preservation Society (IRPS) Pandeglang.
Keberadaan corong air tersebut mengingatkan pada masa jalur Rangkasbitung – Pandeglang ini aktif, tak terbayang bagaimana sibuknya pada masa itu. Pengisian air pada lokomotif uap dengan corong air tersebut pastinya sangat diperlukan untuk pengoperasian perjalanan kereta api.
Corong air yang berada di kawasan Stasiun Pandeglang memiliki tiang setinggi sekitar 3 meter dengan corak hitam putih. Di sisi timurnya, masih terlihat jalur rel kereta api peninggalan zaman kolonial. Kini, keberadaan corong air tersebut menjadi salah satu bukti sejarah jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang.
Keberadaan prasasti ini tentunya sekaligus menjadi penanda upaya pelestarian jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang yang kini tengah dalam kajian untuk kembali aktif. Pemerintah pusat pun tengah menetapkan proyek pembangunan jalur kereta api (KA) sebagai prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yakni reaktivasi jalur KA Rangkasbitung–Pandeglang.
Dengan masuknya pembangunan reaktivasi jalur KA Rangkasbitung – Pandeglang masyarakat Banten pun berharap rencana tersebut segera terealisasi untuk mempermudah akses transportasi. Dan juga menjadikan transportasi kereta api sebagai sarana yang praktis dan mudah dijangkau ke berbagai wilayah khususnya Provinsi Banten.
Selain kereta api lokal maupun jarak jauh, di perkeretaapian Indonesia juga memiliki rangkaian kereta api yang bisa dibilang angkutan perkotaan. Apalagi layanan kereta ini dikenakan tarif dengan harga yang relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat. Mulai dari layanan jalur kereta api di Aceh, sepanjang jalur di Pulau Jawa hingga di wilayah Sulawesi layanan kereta ini masih beroperasi dengan baik.
Ya, inilah layanan yang dinamakan Kereta Perintis. Kereta api (KA) perintis yang merupakan kereta subsidi dari pemerintah ini masih tergolong sangat murah. Bahkan masih ada tiket yang dibanderol mulai dari harga Rp1.000 saja.
Penetapan tarif bisa beragam dengan mempertimbangkan berbagai faktor, terutama ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP). Setiap tahun, soal tarif ini juga terus dievaluasi.
Diketahui juga KA perintis ini merupakan layanan transportasi kereta api yang terjangkau bagi masyarakat. Layanan ini tersedia di daerah baru atau daerah yang telah memiliki jalur kereta api, namun belum bisa dilayani secara komersial. Dengan layanan ini diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas antardaerah, juga peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Sebagai informasi, subsidi ini disalurkan dengan ditandai pemandangan kontrak penyelenggaraan subsidi angkutan KA perintis tahun anggaran sejak tahun 2020 antara Ditjen Perkeretaapian Kemenhub dengan KAI.
Dengan begitu, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) berkewajiban menyelenggarakan pelayanan angkutan perintis sesuai dengan standar pelayanan minimum yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Untuk Angkutan Orang Dengan KA.
Beroperasinya KA Perintis di Indonesia, membuat masyarakat tentunya terbantu karena layanan KA ini tetap berjalan dengan harga terjangkau dan praktis. Saat ini, ada lima KA perintis yang telah beroperasi melayani penumpang di lima wilayah Indonesia yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Berikut daftar beserta tarifnya:
KA Cut Meutia
– Daerah: Kab. Bireuen – Kota Lhokseumawe
– Rute: Kutablang – Stasiun Muara Satu
– Tarif: Rp2.000
KA Lembah Anai
– Daerah: Kab. Padang Pariaman
– Rute I: Bandara Internasional Minangkabau – Stasiun Kayu Tanam
– Rute II: Duku – Lubuk alung – Stasiun Kayu Tanam
– Tarif I: Rp5.000
– Tarif II: Rp3.000
LRT Sumsel
– Daerah: Kota Palembang – Kab. Banyuasih
– Rute I: Bandara – Stasiun DJKA
– Tarif I: Rp10.000
– Rute II: Asrama Haji – Stasiun DJKA
– Tarif II: Rp5.000
– Rute III: Asrama Haji – Stasiun DJKA (Integrasi Antarmoda)
– Tarif III: Rp2.000
KA Bathara Kresna
– Daerah: Kota Solo – Kab. Wonogiri
– Rute: Purwosari – Stasiun Wonogiri
– Tarif: Rp4.000
KA Makassar Parepare
– Daerah: Kab. Maros – Kab. Pangkep – Kab. Barru
– Rute I: Mandai- Stasiun Ma’rang
– Tarif I: Rp6.000
– Rute II: Ma’rang- Stasiun Garongkong
– Tarif II: Rp4.000
– Rute III: Ma’rang – Stasiun Mangilu
– Tarif III: Rp3.000
– Rute IV: Mangilu – Ma’rang – Stasiun Garongkong
– Tarif IV: Rp7.000
– Rute V: Mandai – Ma’rang – Stasiun Garongkong
– Tarif V: Rp10.000
Menurut data Kemenhub, Rabu (2/10/2025), pada periode Januari-Juli 2025 yang dilansir dari laman detik, Okupansi tertinggi dicatat KA Bathara Kresna sebesar 92,69 persen. Kemudian data selanjutnya adalah KA Cut Meutia 11,51 persen, LRT Sumsel 36,65 persen, KA Lembah Anai 48,63 persen, hingga KA Makassar Parepare 51,90 persen. Selama 7 bulan tersebut, KA perintis telah melayani 2.548.111 penumpang.
Pemerintah melalui Kemenhub menilai data ini sebagai bahan evaluasi untuk mengoptimalkan layanan dan meningkatkan keterisian penumpang pada rute-rute yang belum maksimal. Diharapkan kedepannya KA Perintis tetap menjadi armada transportasi berbasis rel yang tetap digemari masyarakat untuk melakukan perjalanan.
Pelanggan Vietnam Airlines dan Singapore Airlines (SIA) kini dapat menikmati lebih banyak pilihan penerbangan antara Singapura dan Vietnam, menyusul penandatanganan perjanjian codeshare terbaru antara kedua maskapai yang akan mulai berlaku pada 26 Oktober 2025.
Dalam kerja sama ini, Singapore Airlines akan berbagi kode penerbangan (codeshare) pada penerbangan yang dioperasikan Vietnam Airlines antara Singapura dan kota-kota di Vietnam, seperti Hanoi dan Ho Chi Minh City. Sementara itu, Vietnam Airlines akan melakukan codeshare pada penerbangan yang dioperasikan Singapore Airlines antara Singapura dan Da Nang, Hanoi, serta Ho Chi Minh City. Seluruh penerbangan ini bergantung atas persetujuan regulator.
Penerbangan codeshare ini akan tersedia secara bertahap, pemesanan tiket sendiri akan dibuka mulai tanggal 10 Oktober 2025 melalui saluran penjualan kedua maskapai serta agen-agen perjalanan.
Perjanjian ini semakin memperkuat kemitraan antara Singapore Airlines dan Vietnam Airlines. Kedua maskapai juga akan menjajaki penambahan destinasi lainnya yang tersedia pada jaringan masing-masing maskapai untuk dimasukan ke dalam perjanjian codeshare, serta memperdalam kerja sama komersial yang dapat memberikan lebih banyak pilihan, konektivitas yang lebih baik, dan nilai tambah yang lebih besar bagi para pelanggan.
Healing ke Pulau Jawa paling timur, pasti memberikan suasana yang berbeda. Apalagi jika letak geografisnya yang baik, membuat kita betah dan ingin berlama-lama disana. Ya, mengunjungi hingga ke Banyuwangi menggunakan kereta api tak melulu naik yang lebih nyaman dan harus mengeluarkan tarif ekstra yang lebih mahal. Tapi, fasilitas dan kemudahan, tentu bisa dirasakan saat di perjalanan. Namun, bagaimana jika menggunakan kereta api dengan tarif yang relatif murah?
Diketahui jalur kereta api dari Surabaya maupun dari Malang punya beberapa jadwal kereta api dengan tujuan akhir Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Bahkan ada pula jadwal perjalanan kereta api dari Jakarta, yakni dari Stasiun Pasar Senen yaitu Kereta Api (KA) Blambangan Ekspres. KA tersebut merupakan perjalanan rute terjauh dan pecahkan rekor setelah KA Matarmaja (Pasar Senen – Malang) sejauh lebih dari 1.000 kilometer.
Aktifitas kereta api di Stasiun Ketapang. (Foto: Dok. Tangkapan Layar Youtube Suaidi Bahtiar)
Nah, untuk perjalanan KA dengan tarif yang relatif mutah bahkan subsidi ternyata ada 4 jadwal perjalanannya, lho! Walaupun fasilitas seadanya yakni kelas ekonomi berkapasitas 106 tempat duduk, namun bisa jadi ini alternatif buat kalian yang healing ke Banyuwangi dengan irit ongkos. Sekarang kabarpenumpang akan merangkum daftar kereta murah hingga ke Banyuwangi, sebagai berikut:
• KA Sri Tanjung (Lempuyangan – Ketapang pp.)
Menggunakan kereta ini, kamu bisa naik dari arah Yogyakarta tepatnya di Stasiun Lempuyangan. KA Sri Tanjung mengantar kamu hingga Stasiun Ketapang sejauh 614 kilometer dengan waktu tempuh 13 jam. Nah, tarif KA ini adalah Rp94.000 hingga Stasiun Ketapang.
Keberangkatan dari Stasiun Lempuyangan adalah pukul 07:00 WIB dan tiba di Stasiun Ketapang pukul 20:00 WIB. Sedangkan dari arah sebaliknya yakni dari Stasiun Ketapang pukul 07:15 WIB dan tiba di Stasiun Lempuyangan pukul 19:33 WIB.
• KA Tawang Alun (Malang – Ketapang pp.)
KA yang satu ini relatif lebih murah. Kamu bisa menggunakan KA Tawang dari Stasiun Malang (Kota Baru). Ya, KA Tawang Alun memberikan pengalamanmu dengan perjalanan melewati pemandangan yang menarik, yakni bisa melihat Gunung Arjuno yang nampak lebih jelas sebelum memasuki Stasiun Bangil. Sensasi yang berbeda berikutnya adalah saat memasuki Stasiun Bangil, lokomotif KA Tawang Alun harus langsir dan putar posisi. Jadi harus menunggu sekitar 20 menit lebih.
Perjalanan KA Tawang Alun sejauh 314 kilometer ini dikenakan tarif yaitu Rp62.000 dengan kapasitas 106 tempat duduk per kereta. Keberangkatan KA Tawang Alun dari Stasiun Malang adalah pukul 17:18 WIB dan kedatangan di Stasiun Ketapang pukul 23:55 WIB (7 jam 05 menit). Sedangkan sebaliknya dari Stasiun Ketapang pukul 05:00 WIB dan tiba di Stasiun Malang pukul 11:47 WIB (6 jam 47 menit).
• KA Probowangi (Surabaya Gubeng – Ketapang pp.)
Selain KA Sri Tabjung yang juga mampir di Surabaya, masih ada alternatif lainnya untuk keberangkatan dari Stasiun Surabaya Gubeng. Nah, jika kamu berdomisili atau sekedar singgah di Surabaya, bisa gunakan KA Probowangi sebagai alternatif dengan mode irit ongkos. Tarif subsidi untuk KA Probowangi ini adalah Rp56.000 tetap dengan kapasitas 106 tempat duduk per kereta.
Jarak tempuh KA Probowangi adalah 305 kilometer. Keberangkatan dari Stasiun Surabaya Gubeng pada pukul 05:55 WIB dan tiba di Stasiun Ketapang pukul 12:45 WIB (6 jam 50 menit). Sedangkan dari Stasiun Ketapang pada pukul 17:20 WIB dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 21:36 WIB (5 jam 51 menit).
• KA Pandanwangi (Jember – Ketapang pp.)
KA yang satu terbilang memiliki tarif yang sangat murah. Tak heran warga khususnya yang berdomisili di kawasan Jember, Jawa Timur ini sering memanfaatkan KA Pandanwangi hanya sekadar jalan-jalan hingga Stasiun Ketapang pulang pergi. KA Pandanwangi sebetulnya merupakan kereta lokal wilayah Daerah Operasi (Daop) 9 Jember dengan tarif hanya Rp8.000.
Ada 2 perjalanan keberangkatan dari Stasiun Jember maupun Stasiun Ketapang. Untuk jadwal KA Pandawangi adalah sebagai berikut:
– Berangkat Stasiun Jember
05:10 WIB dan 07:45 WIB
– Tiba Stasiun Ketapang
07:45 WIB dan 16:45 WIB
– Berangkat Stasiun Ketapang
10:00 WIB dan 18:45 WIB
– Tiba Stasiun Jember
12:30 WIB dan 21:15 WIB
Itulah jadwal perjalanan yang berhasil dirangkum. Menggunakan kereta api walaupun dengan ongkos yang relatif murah tentu membuat perjalanan tetap nyaman walaupun fasilitas sederhana. Gimana, tertarik untuk mencoba?
Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun, Stasiun Garum merupakan stasiun dengan bangunan kecil namun mampu menarik penumpang untuk naik dan turun kereta api disini. Stasiun dengan bangunan terlihat bersejarah ini masih berdiri kokoh untuk melayani perjalanan kereta api dan melayani penumpang.
Stasiun dengan +244 meter ini hanya melayani pemberhentian kereta lokal baik dari arah Malang maupun Kertosono yang sama-sama berakhir di Kota Surabaya. Stasiun Garum memiliki 3 jalur aktif dengan sistem persinyalan masih menggunakan mekanik. Namun, jalur kereta api yang melewati stasiun ini masih jalur tunggal. Tak heran beberapa kereta api yang singgah di Stasiun Garum ini harus bergantian jika ada persilangan kereta api dari arah berlawanan.
Baru-baru ini Stasiun Garum ramai diperbincangkan di media. Wajah Stasiun Garum, Kabupaten Blitar bersiap untuk dirombak total tahun depan. Namun, di balik janji modernisasi dan peningkatan ekonomi, 11 pedagang kios yang telah lama menggantungkan hidupnya di sana harus menghadapi kenyataan pahit yakni penggusuran.
Mereka pun terpaksa harus mencari tempat berjualan lain agar tungku dapurnya tetap mengepul. Namun, PT KAI Daop 7 Madiun sebenarnya tidak tinggal diam. Pihaknya akan memberikan kompensasi berupa uang yang akan ditransfer ke 11 pedagang terdampak. Namun kompensasi ini sebatas pengembalian kontrak sewa.
Alasan perombakan Stasiun Garum ini karena lonjakan penumpang naik dan turun di stasiun ini semakin ramai. Tercatat, data menunjukkan tren positif sejak tahun 2022, dengan 60 ribu penumpang, melonjak menjadi lebih dari 85 ribu pada 2023, dan diperkirakan mencapai 94 ribu penumpang di tahun 2024. Hingga Agustus tahun ini saja, angka penumpang sudah menembus 60 ribu.
Stasiun Garum.
Ramainya masyarakat memanfaatkan stasiun ini sebagai tujuan untuk naik dan turun, ternyata ada destinasi wisata yang tak jauh dari Stasiun Garum. Ya, Blitar Park merupakan wisata yang digemari warga Blitar dan sekitarnya untuk bersuka cita.
Salah satu keunggulan Blitar Park adalah lokasinya yang cukup strategis. Taman ini berada sekitar 2,7 kilometer dari Stasiun Garum, yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 6 menit menggunakan kendaraan. Bagi wisatawan yang datang dengan kereta api, Stasiun Garum menjadi akses transportasi paling dekat untuk menuju ke Blitar Park.
Meski Stasiun Garum ramai oleh masyarakat yang ingin berwisata, namun hingga saat ini, belum tersedia angkutan umum yang langsung menuju ke lokasi wisata tersebut. Sebagian besar masyarakat harus menggunakan kendaraan pribadi atau jasa transportasi online untuk mencapai taman rekreasi ini.
Selain dekat dengan area wisata, Stasiun Garum juga memiliki keunikan lainnya. Stasiun ini dahulu sempat memiliki lemari yang menyimpan tiket beserta mesin tiket yang bersejarah. Tiket tersebut dikenal sebagai tiket Edmonson. Tiket ini berbentuk persegi panjang yang memiliki beberapa warna.
Tak hanya itu, sejarah lainnya bahwa dulunya di Stasiun Garum ada rel crossing antara Rel milik Staatsspoorwegen (SS) dan Rel Lori Sf Garoem. Termasuk percabangan dari rel SS menuju ke Sf Garoem. Namun, seiring perubahan situasi dan lokasi, rel lori tersebut sudah tidak terlihat lagi dan menyisakan cerita yang cukup melegenda saja.
Saat ini bangunan Stasiun Garum masih dinikmati keasliannya. Belum diketahui kapan akan di renovasi serta apakah bangunan aslinya ikut terbongkar atau tidak. Yang jelas, stasiun ini tidak menghilangkan keaslian bangunannya agar masih dinikmati hingga saat ini meskipun saat melakukan perjalanan dengan kereta api.
Di Indonesia sepertinya tidak ada, tapi di luar negeri (meski terbilang langka), ada beberapa stasiun kereta komuter yang dibangun di atas jembatan. Adanya stasiun di atas jembatan tentu dilatarbelakangi beberapa alasan, seperti tingkat kepadatan penumpang di suatu area sampai karena keterbatasan lahan.
Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia
Ada beberapa stasiun kereta yang dibangun di atas jembatan di berbagai belahan dunia, meskipun ini adalah fenomena yang relatif jarang. Berikut adalah beberapa contoh terkenal:
1. Stasiun Blackfriars (London, Inggris)
Stasiun ini adalah bagian dari jembatan Blackfriars Bridge yang melintasi Sungai Thames di London. Stasiun ini mengalami renovasi besar-besaran dan diperluas di atas sungai, sehingga sebagian besar peron dan stasiun berada di atas jembatan. Ini adalah satu-satunya stasiun di London yang terletak di atas sungai Thames.
2. Stasiun Düsseldorf Hamm (Jerman)
Stasiun ini terletak di atas Jembatan Hamm, sebuah jembatan yang membentang di atas Sungai Rhine di Düsseldorf, Jerman. Stasiun ini melayani lalu lintas kereta komuter.
Stasiun Düsseldorf Hamm (Jerman)3. Stasiun Hamburg Elbbrücken (Jerman)
Terletak di atas jembatan Elbbrücken yang melintasi Sungai Elbe di Hamburg, stasiun ini melayani jalur kereta S-Bahn dan U-Bahn. Stasiun ini memiliki desain modern dengan atap kaca melengkung dan menawarkan pemandangan spektakuler dari sungai.
Stasiun Hamburg Elbbrücken (Jerman)4. Stasiun Gare de Lyon (Paris, Prancis)
Stasiun ini sebagian terletak di atas jembatan yang membentang di atas Sungai Seine di Paris. Meskipun tidak sepenuhnya berada di atas jembatan, bagian dari struktur stasiun ini melintasi sungai, dan kereta yang datang dari arah selatan Paris melintasi jembatan ini sebelum tiba di stasiun.
5. Stasiun Charing Cross (London, Inggris)
Bagian dari stasiun ini berada di atas Hungerford Bridge, yang melintasi Sungai Thames. Kereta yang melayani stasiun ini melintasi jembatan sebelum tiba atau setelah berangkat dari stasiun.
Pembangunan stasiun di atas jembatan umumnya dilakukan di daerah urban yang sangat padat, di mana ruang untuk infrastruktur transportasi terbatas. Stasiun-stasiun ini sering kali menawarkan pemandangan unik dari sungai atau kota di sekitarnya.
Sekilas, kehidupan pramugari tampak sangat glamor dan menyenangkan ketika berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat eksotis, dan menikmati pengalaman baru. Namun, dibalik semua itu, ada harga mahal yang harus ‘dibayar’ oleh para bidadari angkasa tersebut.
Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh
Selain kerja keras, pramugari sering kali terpaksa meninggalkan banyak agenda pribadi, seperti datang ke resepsi pernikahan sahabat, keluarga, bahkan menghadiri prosesi pemakaman orang tua, karena tidak mendapat cuti ataupun sedang bertugas di luar negeri.
Pada intinya, profesi pramugari juga mempunyai sisi positif dan negatif layaknya profesi lain. Namun, apa saja sisi positif dan negatifnya? Dikutip dari Simple Flying, berikut daftar sisi positif dan negatif menjadi pramugari.
Positif
1. Jalan-jalan Keliling Negeri dan Dunia
Sebagian orang yang sudah maupun ingin menjadi pramugari mungkin didasari oleh alasan tersebut, keliling dalam dan luar negeri gratis. Tentu mengikuti rute-rute dari maskapai itu sendiri. Jalan-jalan gratis di dalam dan luar negeri memang dimungkinkan untuk pramugari dengan kebijakan layover.
Tak hanya itu, di beberapa maskapai pramugari dimungkinkan untuk jalan-jalan ke luar negeri secara gratis beserta keluarga atau orang terkasih. Sekalipun tak sampai gratis, banyak maskapai paling tidak menerapkan harga khusus untuk pramugari dan keluarga bilamana ingin bepergian ke luar negeri.
2. Fleksibel
Tidak terikat waktu atau kerja setiap hari, layaknya pekerja kantoran, jadi keuntungan lain menjadi seorang pramugari. Dalam kondisi tertentu, misalnya di peak season, pramugari bukan tak mungkin akan bekerja setiap hari sampai peak season berakhir. Namun, hal itu tentu sejalan dengan take home pay yang dibawa pulang. Di luar itu, atau dalam kondisi normal, pramugari bisa dengan leluasa mengatur jadwal terbang mereka dari jadwal yang sudah diatur semula.
3. Bertemu Banyak Orang Baru
Bagi seseorang yang senang bertemu dengan orang baru, profesi pramugari sangat cocok untuk digeluti. Setiap hari, pramugari bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, bahasa, suku, dan bangsa di berbagai tempat, seperti hotel, pesawat, bandara, dan berbagai tempat lainnya yang dihampirinya.
Negatif
1. Upah Kecil
Bila disandingkan dengan tugas dan tanggung jawab mereka, pramugari tergolong mendapat gaji relatif rendah; terlebih, untuk pramugari junior atau newbie yang baru saja bergabung. Hal itu setidaknya akan terus berlangsung selama 15 tahun sebelum akhirnya bisa mendapat gaji yang layak.
Baca juga: Sembunyikan Heroin di Celana Dalam dan Bra, Pramugari Asal Malaysia Dipenjara di Melbourne
2. Pramugari Cadangan
Di beberapa maskapai, pramugari newbie hanya diplot sebagai ‘pemain’ cadangan. Pada periode ini, pramugari diminta menunggu di rumah atau di bandara sampai penjelasan lebih lanjut. Jika ada jadwal terbang, pramugari juga diminta untuk melapor dua jam sebelumnya.
3. Jauh dari Keluarga
Pramugari senior mungkin bisa dengan leluasa memilih jadwal terbang, sekalipun pada umumnya masing-masing maskapai berbeda dalam memperlakukan pramugari senior. Namun, bagi pramugari pada umumnya, mereka harus patuh dengan penugasan yang kadang kala lebih sering keluar kota atau negeri. Bagi yang sudah berkeluarga, mungkin jauh dari rumah akan jadi mimpi buruk.
Kuliner menjadi salah satu tujuan pelancong berlibur. Bukan hanya destinasi wisatanya yang menjadi tujuan, tetapi berbagai makanan lokal menjadi incaran yang menggiurkan.
Namun, kerap kali para pelancong kecewa dengan makanan incaran yang terasa standar dan rasanya tidak otentik. Bahkan tak jarang kecewa karena harga yang luar biasa fantastis mahalnya padahal tempatnya tidak sepadan.
KabarPenumpang.commerangkum dari berbagai laman sumber, ada beberapa hal sederhana untuk membantu para pelancong menemukan rumah makan dengan rasa otentik. Saat tiba di rumah makan atau restoran lokal, biasanya ada menu yang tertulis di papan tulis.
Ini adalah makanan yang fokus pada hidangan dengan bahan-bahan lokal musiman. Sedangkan menu yang tercetak dalam bahasa Inggris atau bahasa lokal, lebih ditujukan bagi pelancong.
Tapi bagi pelancong yang mau menikmati seperti yang dirasakan penduduk lokal, bisa memilih menu yang ada di papan tulis harian. Menikmati kuliner lokal di suatu negara pun, jangan tergiur ketika melihat makanan pada menu dan berpikir itu otentik.
Pasalnya, tanda restoran otentik justru terlihat dari dekorasi yang sederhana, suasana pedesaan serta daftar minuman khas yang ditawarkan. Dari pada bingung dengan makanan rasa otentik lokal, pelancong bisa bertanya pada penduduk setempat dengan sopan.
Biasanya para penduduk lokal sangat senang bila Anda menunjukkan ketertarikan dan dengan senang hati membantu menunjukkan restoran lokal. Bagi Anda yang benar- benar suka dengan kuliner lokal, ingat untuk menjauhi area turis yang populer.
Salah satunya adalah pusat utama yang menawarkan emnu standar bagi para pelancong. Sehingga ada baiknya Anda menjelajahi jalan-jalan kecil atau lokasi yang jarang dikunjungi pelancong.
Biasanya ini membuka peluang Anda menemukan rumah makan atau restoran berkualitas dengan harga terjangkau dan rasa otentik juga di dapat. Penulis buku Italy for Food Lovers, arick Steve mengatakan, tanda sebuah restoran populer, jika penduduk lokal maupun pelancong berlomba-lomba untuk mandapatkan reservasi.
“Terkadang, hanya mencari restoran terbaik bisa jadi pengalaman yang membuat frustrasi,” katanya seperti dilansir dari Travel+Leisure.
Dia juga menyarankan untuk mencari restoran yang berlokasi di kawasan yang tidak dipadati wisatawan. Banyak restoran di jalan yang lebih besar dan lebih populer bukan milik warga lokal, yang tidak menarik penduduk lokal untuk makan di sana.
“Saya akan mencari tempat di jalan dengan harga sewa rendah beberapa blok jauhnya, yang ramai dengan pelanggan lokal. Jika menemukan tempat itu, merasa senang karena penuh dengan makanan lokal, itu akan menjadi makan malam yang luar biasa,” ujarnya.
Sedangkan dalam memilih menu, Steves menyarankan untuk memilih makanan sesuai musim. Ini adalah cara yang bagus untuk menjelajahi dan mempelajari budaya suatu daerah.
Beredar di media sosial mengenai beroperasinya perjalanan kereta wisata yang menghubungkan dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Cianjur pulang pergi. Berawal dari perencanaan bahwa mau diberlakukan kereta wisata di jalur tersebut, kini sudah tersebar kabar mengenai hal tersebut. Bahkan hingga daftar jadwal kereta wisata tersebut.
Seperti pada kabar di laman instagram @ssci.bogordepok menjelaskan bahwa rencana kereta api (KA) wisata relasi Gambir – Bogor – Cianjur. Disitu terpampang pula penjelasan mengenai perjalanan pada jam keberangkatan mulai dari Stasiun Gambir yakni pukul 08.00 WIB dan tiba di Stasiun Cianjur pukul 12.45 WIB. Sedangkan sebaliknya dari Stasiun Cianjur pukul 16.00 WIB dan tiba kembali di Stasiun Gambir pukul 20.35 WIB.
Adapun KA wisata ini melewati stasiun-stasiun di rute tersebut dan berhenti sebanyak 17 stasiun yang disinggahi. Beberapa stasiun pemberhentian diantaranya meliputi Stasiun Manggarai, Stasiun Depok, Stasiun Bogor, Stasiun Sukabumi, hingga Stasiun Lampegan.
Nah, untuk Stasiun Lampegan dikabarkan bahwa nantinya penumpang akan berwisata di Gunung Padang yang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat yang diperkirakan berusia antara 10.000 hingga 25.000 tahun Sebelum Masehi. Setelah berkunjung ke Situs Gunung Padang, penumpang melanjutkan perjalanan hingga stasiun akhir di Cianjur.
Stasiun Lampegan yang nantinya melayani penumpang KA wisata dengan destinasi sejarah Situs Gunung Padang. (Foto: Dok. Kompas)
Saat di pemberhentian terakhir yakni Stasiun Cianjur, penumpang bisa berkeliling Kota Cianjur selama sekitar 3 jam. Di Cianjur penumpang bisa berkeliling ke alun-alun sambil berbelanja oleh-oleh dan tentu mencicipi kuliner yang melimpah ruah. Dan pastinya ramah dikantong jika ingin berbelanja di kota yang memiliki julukan Kota Beras ini.
KA wisata ini tentu berstatus Kereta Luar Biasa (KLB). Jadi dengan tentu KA ini bakal bertemu bahkan bersilang dengan kereta api yang dilewati selama di jalur Bogor – Cianjur. KA wisata ini nantinya akan bersilang dengan rangkaian KA Pangrango (Bogor Paledang – Sukabumi pp.) maupun KA Siliwangi (Sukabumi – Cipatat pp.).
Selain menikmati fasilitas yang nantinya dirasakan selama perjalanan, tentu saja bisa menikmati pemandangan yang menawan. Melihat hamparan sawah, pedesaan, dan beberapa aliran sungai, tentu menambah keindahan bumi Jawa Barat. Belum lagi saat memasuki Stasiun Lampegan, penumpan bisa merasakan sensasi memasuki terowongan kereta api pertama kali dibuat dalam sejarah perkeretaapian.
Melewati Terowonhan Lampegan, KA wisata tersebut berjalan dibawah 30 km/jam yang sesuai dengan batas kecepatan yang berlaku. Terowongan ini adalah pertama dan tertua di Indonesia. Dibangun antara tahun 1879 hingga 1882 oleh Staatsspoorwegen (SS), terowongan ini panjangnya mencapai 686 meter dan menjadi bagian penting dari sejarah transportasi dan pembangunan jalur kereta api di Jawa.
Kabar selanjutnya mengenai KA wisata ini masih belum diketahui berapa kereta yang akan dioperasikan dan jenis keretanya seperti apa. Yang pasti dengan adanya KA wisata Gambir – Cianjur ini, jika sudah dioperasikan diprediksi bakal menarik perhatian dan juga minat penumpang untuk mencobanya. Apalagi KA wisata ini menyajikan perjalanan dengan panorama alam pegunungan sekaligus membuka akses langsung menuju destinasi wisata populer di Jawa Barat.