Pengamat Penerbangan: Petugas ATC dan Kondisi Pesawat Ikut Andil dalam Kecelakaan Airbus A320 PIA

0
Capt. Shadrach Nababan. Foto: Twitter @shadrachn

Pengamat penerbangan, Capt. Shadrach Nababan menyebut kecelakaan pesawat Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 bukan hanya disumbang oleh pilot dan kopilot yang diberitakan karena ngobrol, melainkan juga disumbang oleh petugas ATC (Air Traffic Control) dan pesawat itu sendiri.

Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Dalam penelusurannya, pesawat diketahui telah lama tidak terbang. Pesawat Airbus A320 milik PIA tercatat telah mempunyai 47.100 jam terbang dan telah lulus uji kelaikan pada 2019. Airbus sendiri menerangkan, pesawat mereka itu mulai beroperasi pada 2004, sebelum dibeli PIA di 2014.

Selain itu, dari hasil investigasi awal, pesawat diketahui mengalami beberapa masalah, mulai dari malfungsi landing gear, disfungsi sistem alarm di dalam kokpit, hingga kerusakan pada kedua mesin pesawat.

Kondisi pesawat yang kurang prima pun juga didukung dengan perilaku in-action pilot. Sebelum jatuh, pilot tercatat melakukan beberapa hal aneh, seperti tidak melaporkan emergency, malfungsi landing gear, kegagalan mesin, tidak mengikuti anjuran petugas ATC, tidak melakukan prosedur pendaratan dengan baik, serta melanggar aturan sterile cockpit rule.

Celakanya, dalam kondisi tersebut, petugas ATC tidak mengecek kondisi pesawat yang sebetulnya sudah berada pada jarak pantau menara pengawas. Prosedur standar, seharusnya petugas ATC menggunakan binocular yang tergantung di atas meja untuk memantau langsung kondisi pesawat.

Di situlah letak kontribusi ATC dalam terjadinya kecelakaan pesawat PIA. Di saat yang bersamaan, pilot juga tidak menyadari kerusakan itu karena sistem peringatan dini di dalam kokpit tidak berfungsi sehingga pendaratan belly landing atau pendaratan tanpa roda terjadi tanpa diketahui oleh ATC dan pilot. Andai saja petugas ATC menggunakan binocular dan memberitahu pilot bahwa landing gear tak muncul, pesawat bisa saja tak jadi mendarat. Jika demikian, tentu di akhir ceritanya akan lain.

Dari catatan jam terbang pilot, mantan pilot senior Garuda Indonesia itu menilai Kapten Sajjad Gull tidak seharusnya melakukan hal itu, mengingat ia sangat berpengalaman. Namun, sepak terjang kapten pilot Sajjad tak diikuti dengan co-pilotnya yang masih notabene masih tergolong junior dengan minim jam terbang.

“Kontribusi kecelakaan datang dari ATC dan kru kokpit,” katanya dalam sebuah webinar yang diinisiasi Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), Rabu (1/7).

Guna mengungkap berbagai misteri yang masih menggelayut dibalik kecelakaan tersebut, Capt. Nababan menyoroti berbagai hal terkait kemampuan pilot khususnya perilaku anehnya, sebagaimana yang telah dibeberkan di atas. Ia menyarankan agar investigator mengotopsi jenazah pilot dan co-pilot untuk mengetahui kondisi mereka yang sebenarnya saat kecelakaan terjadi.

Sebelumnya, diketahui pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) dengan nomor penerabangan PK8303 jatuh di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah. Kecelakaan itu sedikitnya menewaskan 97 jiwa dari 91 penumpang dan delapan awak itu.

Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!

Di antara hasil investigasi atas kecelakaan tersebut, yang paling mengejutkan adalah temuan dari otoritas Pakistan soal adanya lisensi palsu pilot. Diketahui, dari 860 pilot aktif yang bekerja di maskapai domestik dan maskapai asing, 262 di antaranya memiliki lisensi palsu. Dalam prosesnya, mereka menggunakan jasa joki untuk melewati ujian.

Atas temuan tersebut, Pakistan pun harus membayar mahal dengan penangguhan penerbangan ke beberapa negara, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Uni Eropa. Seiring berjalannya waktu, bukan tak mungkin negara-negara lain juga akan melakukan hal serupa.

Leave a Reply