Pernah Ngeluh Kabin Panas Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Penjelasannya

0
Ilustrasi maskapai penerbangan. Foto: telegraph.co.uk

Kebanyakan maskapai kerap membuat takjub penumpang saat pertama kali menginjakkan kaki di dalam kabin, dengan pemandangan kepulan asap (dari pendingin udara) yang menyelimuti seisi kabin. Sebaliknya, di beberapa kondisi, kadang kala, saat pertama kali masuk ke dalam kabin, penumpang sudah ‘dihadiahi’ hawa panas oleh maskapai.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Kondisi-kondisi tersebut, bila ditelusuri, terjadi hampir di banyak negara di dunia. Bahkan, hampir tak ada yang menyangkal kalau kejadian tersebut bisa saja terjadi di seluruh negara (penerbangan) yang ada di dunia. Hal itu setidaknya menjadi pertanda, bahwa permasalahan hawa hangat atau panas di dalam kabin sebelum pesawat lepas landas, bukan semata permasalahan maskapai, melainkan juga disebabkan oleh faktor lainnya.

Diwartakan KabarPenumpang.com dari kantor berita usatoday, Selasa, (25/2), seorang kapten pilot US Airways yang juga konsultan keamanan penerbangan di beberapa perusahaan, Jhon Cox, coba menjawab berbagai keluhan pelanggan. Dalam pengamatannya, keluhan-keluhan tersebut sebetulnya lebih didasari oleh permasalahan efisiensi (teknis), yang erat kaitannya dengan servis maskapai kepada pelanggan atau penumpang. Artinya, keluhan yang dialami bisa saja berbeda-beda, bergantung pada maskapai.

Sebagai contoh, ketika pesawat delay karena satu dan lain hal, sangat normal bila pilot mematikan mesin dan menggunakan Auxiliary Power Unit (APU) untuk listrik dan pendinginan. Hal ini untuk menghemat bahan bakar, mengurangi emisi, dan tentu saja menghemat uang. Jika tidak (mematikan mesin) selama menunggu izin lepas landas, mungkin pesawat perlu kembali ke apron untuk mengisi bahan bakar.

Selain itu, pada umumnya, penyediaan bahan bakar juga disiapkan untuk pengalihan (penerbangan) ke bandara alternatif, ditambah beberapa cadangan. Jadi, pilot memang memiliki wewenang untuk itu. Konsekuensinya, tentu saja pada pelayanan. Lagi-lagi, bila berkaitan dengan pelayanan, maskapai tentu sangat hati-hati.

Bisa saja beberapa maskapai mengambil opsi lain, tetap menyalahkan mesin agar kabin tetap sejuk sekalipun tingkat efisiensi rendah. Namun hal tersebut tak seberapa karena di beberapa maskapai, penumpang sudah membeli tiket dengan harga selangit. Jadi, berbanding lurus dengan layanan yang didapatkan.

Bila maskapai (melalui pilot) tetap memilih untuk mematikan mesin, atas berbagai pertimbangan di atas, maskapai tetap bisa menjaga kondisi kabin untuk tetap sejuk, demi kenyamanan pelanggan. Caranya, dengan menambah APU lebih dari biasanya.

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Akan tetapi, Jhon Cox juga menyoroti faktor lain di luar efisiensi yang juga membuat kabin terkadang terasa hangat atau panas sebelum pesawat lepas landas. Menurutnya, tak seperti sistem pendingin udara di mobil, sistem pendingin udara di pesawat memadukan unsur udara panas dan dingin untuk mencapai suhu yang diinginkan.

Jadi, terlepas dari pendingin ruangan, di dalam pesawat sendiri memang ‘sengaja’ diciptakan hangat hangat untuk mencapai suhu yang diinginkan. Terkait hal ini, sepertinya maskapai cenderung tak dapat menghindarinya karena berkenan dengan sistem, kecuali maskapai memiliki sistem pendingin kabin tersendiri, bukan sistem bawaan dari pesawat.

Leave a Reply