Punya Gelar Maskapai Teraman di Dunia, Tujuh Insiden ini Pernah Membuat Penerbangan Qantas Nyaris Berujung Petaka

0
Airbus A380 milik Qantas. Sumber: nytimes.com

Qantas selama ini dikenal sebagai maskapai dengan predikat teraman di dunia. Predikat maskapai teraman tentu ada dasarnya, yaitu selama 100 tahun pengabdian di dunia dirgantara, belum pernah terjadi kecelakaan fatal yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak awak pesawat maupun penumpang.

Baca juga: Sambut Perayaan Satu Abad, Qantas Layak Bangga Jadi Maskapai Teraman di Dunia

Budaya mengutamakan safety rupanya telah tertanam sejak lama, bahkan Qantas kini memimpin dalam teknologi pemantauan mesin secara real-time di seluruh armadanya dengan menggunakan komunikasi satelit. Cara tersebut memungkinkan maskapai dengan julukan The “Flying Kangaroo” ini mampu mendeteksi masalah sebelum menjadi isu keamanan pesawat membesar.

Tapi tahukah Anda, meski belum pernah mengalami insiden yang berujung hilangnya nyawa pada penumpangnya, ternyata ada ada beberapa insiden ‘berat’ yang terkait pesawat Qantas, di mana insiden-insiden ini berpotensi menyebabkan hilangnya nyawa awak pesawat dan penumpang. Dikutip dari flightsafetyaustralia.com, berikut tujuh insiden besar yang terkait keselamatan pada Qantas yang terjadi sejak tahun 1951.

1. Pada tahun 1960, Lockheed Super Constellation Qantas gagal lepas landas di Mauritius setelah mengalami kerusakan salah satu mesin turbo kompon Wright R-3350. Pesawat dalam insiden ini mengalami total lost pasca kebakaran, dalam insiden ini semua penumpang dan awak berhasil dievakuasi.

2.Pada tahun 1966, Boeing 707 Qantas mengalami guncangan hebat sesaat setelah pesawat lepas landas dari Sydney. Dalam peristiwa ini, pilot memutuskan return to base setelah 10 menit di udara. Dengan kecepatan 287 knot, pesawat sempat mengalami manuver 2G. Penyelidikan atas perisitiwa ini menemukan adanya baut yang longgar di area sayap ekor.

Ilustrasi Boeing 707 milik Qantas dengan lima mesin Foto: Simple Flying

3. Pada tahun 1969, Boeing 707 Qantas mengalami manuver spiral sesaat mengoreksi jalur penerbangan Sebelum itu, indikator pada instrumen di kokpit tidak menunjukkan sesuatu yang salah. Lebih dari 40 detik, pesawat kehilangan ketinggian 19.000 kaki atau 5.791 meter. Saat kehilangan ketinggian, kecepatan turun pesawat mencapai Mach 0,93 dengan catatan tekanan gravitasi hingga 4,5G.

4. Pada tahun 1999, dalam cuaca yang berangin keras, Boeing 747-400 Qantas tergelincir saat proses pendaratan di Bangkok, Thailand.

5. Pada tahun 2008, sebuah tabung oksigen meledak pada penerbangan Qantas 30 dengan pesawat Boeing 747-400 Qantas 30. Sampai saat ini Biro Keselamatan Transportasi Australia tidak dapat menemukan penyebab dari meledaknya tabung oksigen. Dalam insiden, fagmen tabung yang meledak sampai menembus kabin penumpang dengan kecepatan tinggi, ajaibnya tidak ada penumpang yang terluka dalam insiden di udara ini.

Dua tahun lalu, pesawat Qantas yang dipensiunkan akhirnya dibeli oleh Rolls Royce untuk dijadikan sebagai flying test bed atau pesawat uji terbang yang nantinya mendukung pengembangan mesin baru perusahaan. Foto: Airline Geeks

6. Pada tahun 2008, penerbangan Qantas 30 dengan Airbus A330-300 terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Learmonth, Australia, menyusul insiden dalam penerbangan yang mencakup dua manuver pitch-down, dalam insiden ini menyebabkan cedera parah pada beberapa penumpang dan awak.

7. Pada tahun 2010, Airbus A380 milik Qantas mendarat darurat di Singapura setelah mesinnya rusak di langit Batam. Inilah insiden pertama pesawat terbesar di dunia saat itu. A380 Qantas dengan nomor penerbangan QF32 terbang dari London ke Sydney dengan transit di Singapura. QF32 menggunakan Airbus A380-800 buatan tahun 2008.

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Insiden ini terjadi dalam perjalanan dari Singapura ke Sydney. Saat baru terbang 6 menit, satu mesin jet ini mengalami kerusakan. Bahkan, ada komponen fiberglass dari pesawat yang berjatuhan dari langit. Atas kejadian ini, pilot memilih mendaratkan pesawat di Changi, semua penumpang dan awak pesawat dilaporkan selamat.