Sejarah Bandara Charles De Gaulle Paris, ‘Saudara Kembar’ Bandara Soekarno-Hatta

0
Terminal 1 Bandara Charles De Gaulle bergaya gurita. Foto: Dmitry Avdeev via Wikimedia

Muda bukan berarti tak berprestasi. Kira-kira itulah yang mungkin agak tepat menggambarkan Bandara Charles De Gaulle Paris. Kendati tak lebih tua dibanding bandara lainnya di Eropa bahkan dunia, seperti London Heathrow, Schiphol Amsterdam, dan Bandara John F. Kennedy New York, namun dari segi kunjungan penumpang, Bandara Charles De Gaulle tak kalah dengan bandara-bandara tersebut.

Baca juga: Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Kemunculan Bandara Charles De Gaulle tak lepas dari dua bandara lainnya di Paris, Bandara Le Bourget (mulai beroperasi tahun 1919) dan Bandara Orly atau Orly-Villeneuve (mulai beroperasi tahun 1932).

Dilansir dari Simple Flying, selama tahun 1950-an dan 1960-an, lalu lintas di kedua bandara tersebut meningkat signifikan. Sayangnya, kedua bandara tersebut tak bisa mengikuti peningkatan traffic penumpang lantaran berada di tengah kota. Hanya pesawat-pesawat dengan ukuran kecil dan sedang saja yang bisa mendarat di sini.

Tentu, bila dibandingkan antar kedua bandara tersebut, Bandara Orly mencatat traffic lebih tinggi dibanding Bandara Le Bourget yang lebih tua.

Sadar dua bandara yang ada di pusat kota Paris tersebut tak lagi mampu menampung peningkatan lalu lintas penumpang, otoritas Perancis pun mulai bergerak mencari lokasi bandara baru pada tahun 1957. Setelah melalui berbagai proses, daerah di dekat Kota Roissy pun dipilih sebagai lokasi bandara.

Wilayah ini menjadi lokasi favorit bandara ketiga di Kota Paris lantaran masih agak tertinggal, dimana mayoritas wilayahnya berupa lahan pertanian. Selain itu, belum banyak atau bisa dibilang hampir tak ada bangunan tinggi di sini. Jadi, sangat memudahkan dalam proses pembangunan.

Pembangunan bandara baru yang awalnya dikenal sebagai Paris-Nord Aiport tersebut dimulai pada tahun 1964. Dalam proses pembangunan, nama bandara kemudian diubah menjadi Charles de Gaulle, diambil dari mantan presiden Perancis yang wafat pada tahun 1970.

Sejak awal, Bandara Charles De Gaulle Paris memang didesain untuk menjadi bandara besar di masa mendatang. Karenanya, disiapkan lahan seluas 12,5 mil persegi untuk bandara ini, sangat besar dibanding Bandara London Heathrow yang berdiri di atas lahan seluas 4,7 mil persegi.

Terbukti, ketika kemunculan pesawat besar seperti Boeing 747 dan Airbus A380, Bandara Charles de Gaulle jadi salah satu yang paling siap menerimanya dibanding Bandara London Heathrow.

Bandara Charles De Gaulle resmi beroperasi pada tahun 1974 dengan satu terminal. Bandara yang dirancang oleh arsitek Perancis, Paul Andreu, (arsitek yang juga merancang Bandara Soekarno-Hatta), tersebut berhasil menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pengganti dua bandara pendahulunya.

Di tahun pertama beroperasi pada 1970-an, 2,5 juta penumpang hilir-mudik di bandara ini. Pada tahun 1976, jumlahnya meningkat menjadi 7,5 juta penumpang. Di tahun yang sama, pesawat supersonik Concorde hadir dan Bandara Charles De Gaulle jadi yang pertama mengoperasikan penerbangan komersial Concorde bersama Bandara London Heathrow.

Baca juga: Mulai 1 Agustus, Bandara Charles de Gaulle Paris Wajibkan Pelancong dari 16 Negara Tes Swab

Semakin banyak penumpang, terminal 2 pun resmi dibuka pada tahun 1981. Tetapi, desainnya berbeda dengan terminal 1 yang bergaya gurita. Setahun berikutnya sampai tahun 2003 terminal 2B-2E resmi beroperasi. Pada periode itu juga dibangun terminal 3.

Di tahun 2020 lalu, terminal 4 berencana segera dibangun dengan biaya US$10,5 miliar. Tetapi, rencana ini masih tertahan mengingat anjloknya pertumbuhan penumpang udara selama pandemi virus Corona sampai dengan saat ini.