Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

0
McDonnell Douglas DC-9-32 Dalam Peristiwa Woyla. Sumber: istimewa

Sebelum Airbus lahir, Douglas yang di kemudian hari berubah menjadi McDonnell Douglas lebih dahulu bersaing ketat dengan Boeing. Bahkan, mereka berhasil mengalahkan produsen pesawat terbesar dunia itu di pasar pesawat propeller.

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Tak hanya itu, pabrikan juga sempat menjadi kompetitor terkuat Boeing di pasar narrowbody dan widebody dengan DC-8, DC-9, DC-10 dan MD-80. Namun, McDonnell Douglas mulai melemah bersama MD-11 dan akhirnya stop produksi setelah MD-90. Beberapa tahun kemudian, pabrikan dicaplok (merger) Boeing dengan mahar sebesar US$13,3 miliar di akhir abad ke-21, tepatnya pada tahun 1997.

Dikutip dari Simple Flying, pembahasan merger Boeing dengan McDonnell Douglas sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1990-an, tetapi mengalami kebuntuan, salah satunya akibat pertentangan dari Komisi Eropa terkait antipakat atau antitrust.

Merger keduanya dinilai telah mencederai harmonisasi progresif dari aturan Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC) dan kebijakan ekonomi yang dirancang untuk pembentukan “pasar bersama” sejati. Kebuntuan terus berlanjut hingga akhir 1996, bersamaan dengan menumpuknya backlog atau pesanan pesawat Boeing selama periode ini.

Sebaliknya, McDonnell Douglas justru mulai melempem. Padahal, pabrikan tersebut mempunyai fasilitas produksi pesawat cukup besar. Dari sini, Boeing melihat sejumlah peluang untuk mengejar backlog pesawat dengan memanfaatkan fasilitas tersebut.

CEO Boeing kala itu, Philip Condit, menyebut merger Boeing-McDonnell Douglas merupakan momen bersejarah dalam industri penerbangan dan dunia kedirgantaraan. Kekhawatiran publik akan adanya tumpang tindih jobdesk pasca merger juga dengan sigap dibantah. Menurutnya, kemungkinan tersebut sangat kecil.

Justru sebaliknya, menurut CEO McDonnell Douglas, Harry Stonecipher, yang kemudian menjadi presiden dan Chief Operationg Officer Boeing (pasca merger), merger bakal menjadi win-win solution buat kedua belah pihak. Di bidang militer dan antariksa, misalnya, kedua belah pihak bisa saling melengkapi atau sharing teknologi mengingat banyaknya pesaing dalam industri tersebut.

Baca juga: McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Setelah menjadi batu sandungan, Komisi Eropa akhirnya menyetujui merger Boeing-McDonnell Douglas. Tentu dengan intrik politik lintas negara, dalam hal ini setelah Presiden Bill Clinton turun tangan untuk menekan Uni Eropa. Komisi Eropa sendiri -pasca ditekan- menyebut bahwa itu dapat membuat Boeing menguat di pangsa pasar pesawat jet.

“Komisi (Eropa) menganggap bahwa penguatan ini muncul dari potensi kompetitif MDC sendiri dalam pesawat jet komersial besar, dari peningkatan peluang bagi Boeing untuk mengadakan kesepakatan pasokan eksklusif jangka panjang dengan maskapai penerbangan (sudah dicontohkan oleh maskapai Amerika, Continental dan Delta), dan dari akuisisi aktivitas pertahanan dan luar angkasa MDC, yang kemudian memberikan keuntungan di sektor pesawat komersial melalui efek ‘spill-over’ dalam bentuk manfaat R&D dan transfer teknologi,” kata juru bicara Komisi Eropa.

Leave a Reply