Seperempat Awak Kabin Qantas Pernah Alami Pelecehan Seksual, Segelap Itukah Balik Layar The Flying Kangaroo?

Boeing 787-9 Dreamliner milik Qantas. Sumber: Skyscanner Australia

Sebuah fakta mencengangkan datang dari maskapai asal Australia, Qantas – dimana sebuah email internal perusahaan dikabarkan bocor dan isinya sangatlah mencengangkan. Dalam email tersebut, terpapar fakta bahwa seperempat dari awak kabin The Flying Kangaroo pernah mengalami pelecehan seksual oleh rekan mereka sendiri dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun dari sekian banyak awak kabin yang pernah mengalami pelecehan seksual, hanya tiga persen saja yang sempat dilaporkan kepada bos Qantas. Wow, sekelam itukah balik layar dari Qantas?

Baca Juga: Joanna Chiu: Kepala Biro Surat Kabar yang Sukses Hentikan Pelecehan Seksual di kabin

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (4/11), sebuah survei pernah dilakukan terhadap 1.650 awak kabin dan 750 pilot guna membuktikan kebenaran dari isi email tersebut, dan menemukan bahwa satu dari empat awak kabin pernah dilecehkan oleh kolega mereka sendiri, dan 15 persen diantaranya mengalami pelecehan seksual dari penumpang Qantas dalam kurun waktu 12 bulan ke belakang.

Selain itu, survei juga membuktikan bahwa pilot wanita tiga kali lebih rentan mendapatkan pelecehan seksual dari rekan prianya.

“Kami sama sekali tidak memiliki toleransi terhadap segala sesuatuyang berkenaan dengan penyalahgunaan atau diskriminasi dari atau terhadap semua karyawan yang bernaung di bawah Qantas Group,” ujar Chief Operating Officer Qantas, Rachel Yangoyan.

“Jika Anda mengalami atau melihat kejadian seperti ini (pelecehan seksual), kami harap Anda dapat melaporkannya kepada kami,” sambung Rachel.

Sekitar sepertiga dari awak kabin yang pernah mengalami pelecehan seksual lebih memilih untuk tidak repot-repot melaporkan kejadian terkait karena mereka bisa menyelesaikannya sendiri – namun tidak dengan sisanya, karena mereka takut dikucilkan atau akan merusak karir mereka di Qantas.

Menanggapi hal ini, Australian Transport Workers Union mengecam pihak maskapai karena rendahnya laporan tentang pelecehan seksual yang terjadi di tubuh maskapai mengindikasikan bahwa mereka enggan menuntaskan kasus ini.

Namun pihak Qantas menyanggah pernyataan tersebut, dimana mereka sejatinya sudah dan akan terus meningkatkan fasilitas layanan pengaduan – terutama bagi mereka yang akan melaporkan tentang pelecehan seksual. Pihak maskapai juga menambahkan bahwasanya mereka akan membentuk layanan hotline konseling rahasia dan independen baru untuk menangani kasus-kasus semacam ini.

Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari…

Belum reda perdebatan tentang pihak Qantas dan Australian Transport Workers Union terkait pelecehan seksual di tubuh The Flying Kangaroo ini, muncul Flight Attendant Association of Australia (FAAA) yang menyebutkan bahwa sebanyak 97,5 persen awak kabin di Australia pernah mengalamai pelecehan dari penumpang selama rentang tahun 2018 silam.

Sangat besarnya angka tersebut mengindikasikan bahwa betapa penumpang agaknya sangat sulit untuk bisa menjaga sikap – terlebih kepada awak kabin ketika tengah mengudara.