Inilah Daftar Stasiun Favorit yang Jadi Primadona Turis Mancanegara saat Berkunjung ke Indonesia

Menggunakan transportasi berbasis rel atau kereta api tak sekadar membantu untuk beraktivitas keseharian saja. Namun dengan adanya kereta api tentu membantu juga dalam sektor perjalanan wisata. Tak hanya masyarakat Indonesia yang tentunya bisa merasakan perjalanan kereta api yang nyaman dengan berbagai fasilitas yang sangat baik, tetap juga wisatawan mancanegara turut berlomba-lomba ikut merasakan kenikmatan pelayanan kereta api di Indonesia.

Selain menikmati perjalanan kereta api, tentu para wisatawan mancanegara ini juga sangat kagum dengan bangunan stasiun saat tiba di tujuan. Ketika turun dari kereta api, berbagai ornamen yang berada di area stasiun sangat terlihat kokoh dan terawat. Apalagi bagi penikmat sejarah, tentu momen tersebut tak selalu mereka tinggalkan untuk mengabadikan bangunan stasiun tersebut.

Maka dari itu banyak turis mancanegara yang menggemari beberapa stasiun kereta api yang tentunya penuh dengan sejarah yang panjang. Jumlah wisatawan mancanegara yang memilih moda transportasi kereta api di Indonesia mengalami pertumbuhan positif pada paruh pertama tahun ini. Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), sebanyak 308.874 turis asing selama semester I 2026. Angka pergerakan pelancong internasional tersebut memperlihatkan kenaikan sebesar 2,54% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatatkan 301.219 orang.

Minat wisatawan mancanegara terhadap kereta api juga terlihat dari tren beberapa tahun terakhir. Pada 2022, KA Jarak Jauh KAI melayani 300.708 wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut meningkat menjadi 580.995 wisatawan pada 2023, lalu 669.226 wisatawan pada 2024, dan mencapai 694.123 wisatawan pada 2025. Dalam rentang 2022 hingga 2025, volume wisatawan mancanegara yang menggunakan KA Jarak Jauh tumbuh 130,83 persen.

Ada sekitar 10 stasiun yang jadi favorit perjalanan kereta api oleh turis asing di Indonesia. Pertama ada Stasiun Gambir dengan jumlah 50.067 wisatawan mancanegara yang menjadi penumpang. Lalu, Stasiun Yogyakarta dengan total 49.202 wisatawan mancanegara disusul Stasiun Bandung dengan total 28.078 wisatawan mancanegara.

Stasiun Pasarsenen berikutnya dengan total 16.980 wisatawan mancanegara yang jadi penumpang. Kemudian, Stasiun Surabaya Gubeng sebanyak 15.514 wisatawan mancanegara, diikuti Stasiun Semarang Tawang dengan jumlah 11.668 wisatawan mancanegara.

Selanjutnya ada Stasiun Malang dengan jumlah 9.881 wisatawan mancanegara yang jadi penumpang. Disusul oleh Stasiun Surabaya Pasar Turi dengan total 7.899 wisatawan mancanegara, setelahnya ada Stasiun Cirebon dengan jumlah 6.474 wisatawan mancanegara, terakhir Stasiun Probolinggo dengan total 6.152 wisatawan mancanegara.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kereta api semakin menjadi bagian dari pengalaman berwisata di Indonesia. Pun dengan kehadiran wisatawan mancanegara di layanan kereta api jarak jauh turut memberi dampak positif bagi ekosistem pariwisata daerah. Perjalanan mereka membuka ruang bagi aktivitas hotel, kuliner, transportasi lanjutan, pemandu wisata, UMKM, serta pelaku ekonomi lokal di sekitar stasiun dan destinasi.

Dalam hal ini sudah dipastikan bahwa kereta api menjadi penghubung yang mempertemukan wisatawan dengan banyak cerita tentang Indonesia. KAI akan terus menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan agar semakin banyak wisatawan mancanegara memilih kereta api sebagai bagian dari liburannya.

Wajib Tahu! Ada 4 Stasiun yang Berganti Nama di Wilayah Daop 2 Bandung

Klarifikasi Pemerintah Vietnam: Deklarasi Kesehatan Tidak Wajib Bagi Semua Turis Asing

Pemerintah Vietnam baru saja mengeluarkan klarifikasi penting terkait aturan masuk bagi para pelaku perjalanan internasional. Setelah sempat beredar kabar bahwa mulai 1 Juli 2026 seluruh penumpang yang masuk, keluar, maupun transit di Vietnam wajib mengisi deklarasi kesehatan (health declaration), Kementerian Kesehatan Vietnam menegaskan bahwa aturan tersebut tidak berlaku secara otomatis dan permanen bagi semua turis.

Aturan baru di bawah Dekrit No. 165/2026/NĐ-CP ini sejatinya merupakan kerangka regulasi siaga, yang berarti pengisian formulir kesehatan hanya akan diaktifkan sewaktu-waktu tergantung pada situasi epidemiologis, jenis penyakit menular yang sedang berkembang, serta tingkat risiko masuknya penyakit tersebut ke wilayah Vietnam.

Melalui pengumuman resmi yang dirilis di portal pemerintah, otoritas kesehatan Vietnam meminta para pelancong untuk tidak panik ataupun bingung dalam mempersiapkan dokumen perjalanan mereka. Hingga saat ini, belum ada instruksi khusus dari Kementerian Kesehatan untuk mewajibkan formulir kesehatan sebagai dokumen rutin pelengkap e-Visa maupun fasilitas bebas visa.

Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menggunakan situs web lama tokhaiyte.vn. Pihak kementerian saat ini sedang mengembangkan sistem deklarasi kesehatan digital yang baru, yang nantinya hanya akan dibuka dan diumumkan ke publik jika situasi kesehatan global atau regional memang menuntut pengaktifan protokol tersebut. Jika nantinya diaktifkan, formulir dwi-bahasa (Vietnam-Inggris) tersebut dapat diisi secara elektronik maupun kertas dalam waktu tujuh hari sebelum perjalanan.

Satu hal yang sangat krusial untuk dipahami oleh para penumpang adalah membedakan antara Deklarasi Kesehatan (Health Declaration) dengan Kartu Kedatangan Digital (Digital Arrival Card atau Pre-Arrival Information). Kedua dokumen ini dikelola oleh instansi yang berbeda dan memiliki sifat operasional yang bertolak belakang.

Jika deklarasi kesehatan berada di bawah Kementerian Kesehatan dan hanya bersifat situasional, maka Kartu Kedatangan Digital merupakan dokumen imigrasi wajib yang mutlak diisi secara online sebelum tiba di pintu pemeriksaan paspor. Otoritas imigrasi Vietnam sendiri terus memperluas kewajiban pengisian Kartu Kedatangan Digital ini di berbagai pintu masuk utama, seperti Bandara Internasional Phu Quoc, Hanoi, Da Nang, hingga Bandara Cam Ranh.

Dengan adanya klarifikasi resmi ini, para pelancong internasional yang berencana terbang ke Vietnam dalam waktu dekat dapat bernapas lega karena tidak ada prosedur kesehatan tambahan yang bersifat birokratis.

Langkah terbaik sebelum melakukan penerbangan adalah tetap fokus memeriksa validitas visa atau masa berlaku paspor, memastikan pengisian Kartu Kedatangan Digital pada portal imigrasi resmi Vietnam jika bandara tujuan menyayaratkannya, serta terus memantau perkembangan regulasi kesehatan terbaru agar perjalanan tetap berjalan aman, nyaman, dan lancar.

Menikmati ‘Slow Travel’ Berkelas: Mengintip Kemewahan Kereta Wisata Ikonik The Vietage di Vietnam

Dalaman Airport Turki Jadi Bandara Pertama di Dunia yang Seluruh Kebutuhan Listriknya Dipenuhi Solar Panel Atap

Bandara Dalaman (Dalaman Airport) di Turki baru saja menorehkan tonggak sejarah baru yang luar biasa dalam komitmen penerbangan berkelanjutan skala global. Bandara ini resmi menjadi terminal bandara pertama di dunia yang berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan energi listriknya secara mandiri hanya melalui instalasi panel surya di atas atap (rooftop solar).

Keberhasilan ini tercapai setelah rampungnya pembangunan Fase 2 dari proyek pembangkit listrik tenaga surya atap mereka, yang tidak hanya membawa perubahan masif bagi operasional bandara yang ramah lingkungan, tetapi juga menegaskan strategi global dalam menghadirkan infrastruktur masa depan yang rendah karbon.

Proyek ambisius ini diprakarsai oleh raksasa infrastruktur asal Spanyol, Ferrovial, yang bertindak sebagai pemegang saham mayoritas pada operator bandara yang mengelola gerbang udara tersebut atas nama Direktorat Jenderal Bandara Negara Turki (DHMI). Dari segi kapasitas produksi, instalasi panel surya raksasa ini mampu menghasilkan lebih dari 20.000 MWh listrik ramah lingkungan setiap tahunnya.

Dengan beralih sepenuhnya ke energi terbarukan, Bandara Dalaman berhasil memangkas sekitar 8.500 ton emisi karbon dioksida (CO2) per tahun, sebuah kontribusi lingkungan yang nilainya setara dengan manfaat penghijauan dari sekitar 380.000 pohon.

Selain menghasilkan energi bersih, pemasangan panel surya di atap ini ternyata memberikan keuntungan ganda yang sangat cerdas dari sisi arsitektural. Panel-panel yang terpasang secara tidak langsung berfungsi sebagai peneduh alami bagi area skylight dan fasad kaca terminal bandara.

Efek peneduh ini berhasil mereduksi hawa panas yang masuk ke dalam gedung, sehingga secara signifikan menurunkan beban kerja sistem pendingin ruangan (AC) dan meningkatkan efisiensi energi secara drastis saat periode puncak musim panas—sebuah keuntungan operasional yang sangat krusial bagi sebuah terminal bandara yang terletak di wilayah beriklim hangat seperti Turki.

Hebatnya lagi, seluruh sistem panel surya ini terintegrasi penuh ke dalam arsitektur dan operasional terminal yang sudah ada, dengan memanfaatkan ruang atap yang selama ini kosong tanpa memperluas jejak fisik bandara sama sekali. Menurut pihak Ferrovial, proyek ini menjadi bukti nyata bagaimana intensitas karbon pada infrastruktur transportasi yang kompleks dapat dikurangi secara material melalui rekayasa teknis yang cermat dan optimalisasi aset yang ada. Pencapaian ini sekaligus menghapus emisi Scope 2 yang terkait dengan konsumsi listrik terminal, serta menetapkan tolok ukur global baru bagi integrasi energi terbarukan di sektor aviasi dunia.

Langkah revolusioner ini merupakan bagian dari peta jalan berkelanjutan yang lebih luas di Bandara Dalaman, yang sebelumnya juga telah mengantongi sertifikasi bergengsi ACI Airport Carbon Accreditation Level 3+.

Pihak Ferrovial menegaskan bahwa seiring dengan terus tumbuhnya permintaan perjalanan dan jumlah penumpang, Bandara Dalaman tetap fokus memberikan pengalaman terbang yang mulus dan berkualitas tinggi bagi para pelancong, sekaligus membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dan efisiensi operasional bandara dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan hidup.

Intip Panel Surya Bandara Soetta, PLTS Terbesar di Indonesia yang Saingi Bandara Changi

Naik Level! Penumpang KA Rajabasa Tak Lagi Duduk Adu Dengkul, Apakah Tarifnya Naik?

Kabar gembira bagi masyarakat khususnya Lampung dan Sumatra Selatan. Bahwa rangkaian kereta api kelas ekonomi yang dikenal dengan tarif yang murah, kini sudah cukup nyaman. Pasalnya rangkaian ini bisa terbilang naik level. Ya, Kereta Api (KA) Rajabasa yang merupakan satu-satunya angkutan penumpang dengan rute Stasiun Tanjung Karang – Kertapati pp.

Banyak yang memanfaatkan KA Rajabasa untuk melakukan perjalanan jarak dekat maupun jarak jauh. Dengan tarif Rp32.000 saja, penumpang sudah bisa menikmati perjalanan hingga 10 jam. Terbilang sangat murah memang, namun layaknya rangkaian kelas ekonomi lainnya yang masih berada pada tarif subsidi, fasilitas yang dirasakan masyarakat masih terbatas.

Sebelumnya KA Rajabasa memiliki kapasitas sebanyak 106 tempat duduk dengan konfigurasi 2-3. Itu berarti penumpang rela duduk dengan posisi tegak dan adu dengkul dengan penumpang yang berada di depannya. Namun, kini fasilitas tersebut kandas sudah. Karena PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) resmi mengoperasikan rangkaian baru KA Rajabasa tersebut.

Modernisasi sarana itu membawa peningkatan kenyamanan bagi penumpang. Dan kabar baiknya tarif yang dikenakan penumpang tidak mengalami kenaikan sama sekali atau dengan kata lain tarif subsidi masih diberlakukan. Kini KA Rajabasa memiliki konfigurasi kursi 2-2 atau dengan total 80 tempat duduk di setiap unit kereta.

Manager Angkutan Fasilitas dan Pelayanan Penumpang KAI Divre IV Tanjungkarang, Eko Dodid Hertanto, mengatakan perubahan paling mencolok terdapat pada konfigurasi tempat duduk. Jika sebelumnya kursi disusun dengan formasi 3-2, kini seluruh rangkaian menggunakan konfigurasi 2-2 sehingga ruang gerak penumpang menjadi lebih lapang.

Tentunya, tak hanya mengubah tata letak kursi, KAI juga melengkapi seluruh gerbong dengan reclining seat. Jarak antarkursi diperlebar sehingga penumpang tidak lagi saling beradu lutut selama perjalanan menuju Sumatra Selatan. Ini membuat penumpang semakin nyaman dengan fasilitas baru ini. Apalagi KA Rajabasa merupakan perjalanan penting bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan kereta api di jalur Sumatra.

Meski kualitas layanan meningkat, tarif KA Rajabasa dipastikan tidak berubah. Penumpang tetap membayar Rp32 ribu untuk perjalanan dari Tanjungkarang menuju Kertapati. Antusiasme masyarakat terhadap layanan tersebut langsung terlihat pada hari pertama pengoperasian. Seluruh 440 kursi yang disediakan untuk perjalanan perdana terisi penuh.

Tingginya minat penumpang juga diiringi munculnya permintaan agar KAI menambah frekuensi perjalanan, terutama pada malam hari. Menurut Eko, usulan tersebut telah menjadi perhatian perusahaan dan akan dikaji dalam penyusunan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) yang baru. Pihaknya pun tengah melakukan survei dan memang ada kebutuhan perjalanan malam. Masukan dari masyarakat tentunya akan di akomodasi dalam perubahan grafik perjalanan kereta api.

KAI juga mengimbau masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal melalui aplikasi Access by KAI. Tiket KA Rajabasa sudah dapat dipesan hingga 45 hari sebelum keberangkatan sehingga peluang memperoleh tiket lebih besar. Disamping fasilitasnya sudah cukup baik, pun tiket KA Rajabasa lebih sering cepat habis karena minat masyarakat.

Pemerintah pun akan terus mengusulkan penambahan kuota subsidi sekaligus peningkatan layanan kereta api di Lampung. Salah satu usulan yang tengah didorong adalah penambahan perjalanan malam karena tingkat keterisian penumpang terus tinggi. Karena peningkatan fasilitas dan penambahan layanan juga dapat mendorong lebih banyak masyarakat beralih menggunakan kereta api sebagai moda transportasi antardaerah yang aman, nyaman, dan terjangkau.

Yuk Kenali Nama-nama Stasiun di Lampung yang Terbilang Unik

Ini Dia Nama Kereta di Tahun 1961 Ketika Perusahaan Bernama “Djawatan Kereta Api”

Jalur kereta api pertama di Indonesia dimulai pada 17 Juni 1864 oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang menggunakan lebar sepur 1435 mm. Dari sinilah awal mula kereta Indonesia mengular di Jalur Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta).

Baca juga: Ternyata Kereta Api Indonesia Sudah Berganti Logo 3 Kali

Bahkan sebelum menjadi nama PT Kereta Api Indonesia (KAI), nama perusahaan kereta ini sudah berganti-ganti beberapa kali. Selain nama perusahaan yang berganti, berbagai macam nama kereta pun silih berganti untuk mewarnai perkeretaapian Indonesia.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata ada yang unik di tahun 1961. Namun entah mengapa ini menjadi pengelompokan sendiri di tahun tersebut. Sebab nama-nama kereta ini hadir sejak 6 Juli 1961 dan ada yang masih ‘berjaya’ hingga saat ini.

Pada masa itu kereta dibagi dua yakni kereta api ekspres siang dan malam dan dibawah Djawatan Kereta Api (DKA) yang menjadi nama perusahaan kereta api di tahun 1950-1963. Penasaran apa saja namanya? Berikut ini akan dikupas.

#Ka Ekspres Siang
K.a. No. 1 Surabajpasarturi (Surabaya Pasar turi) – Gambir
TARUMANEGARA, nama kereta ini diambil dari kerajaan di Jawa Barat Abad ke 5-7 dengan rajanya yang terkenal bernama Purnawarman.

K.a. No. 2 Gambir – Surabajapasarturi
MANTJANEGARA (Mancanegara), bukan diambil dari pendatang luar negeri tetapi merupakan wilayah Kerajaan Majapahit yang terletak dipesisir utara pulau Jawa dari abad ke 15-17. Daerah ini terkenal kekayaannya karena perdagangannya yang menguasai kota-kota pelabuhan Surabaya, Gresik, Tuban, Cirebon dan lainnya. Wilayah ini bahkan berhasil melepaskan diri dari Majapahit berkat bantuan dari para Wali-Wali Mantjanegara.

K.a. No. 3 Surabajakota (Surabayakota) – Bandung
PARAHIJANGAN (Parahiangan), daerah Jawa Barat yang dikuasai oleh raja-raja dengan gelar Hijang dari abad 14-16. Para Hijang tersebut adalah pula raja-raja Kerajaan Padjajaran.

K.a. No. 4 Bandung – Surabajakota
MADJAPAHIT, kerajaan besar dengan wilayah meliputi seluruh Nusantara dari tahun 1239-1479. Rajanya yang sangat harum namanya adalah Hayam Wuruk yang memerintah dari 1350 sampai 1389 dengan patihnya yang terkenal yakni Gadjah Mada.

K.a. No. 5 Kroja (Kroya) – Gambir
SUNDAKELAPA, merupakan nama sebelum menjadi Jakarta seperti saat ini. Kala itu menjadi bandar terbesar dari Kerajaan Padjajaran di abad ke-16. Sejak 1527, Sunda kelapa kemudian menjadi Jakarta setelah Falatehan dari Banten (Sunan Gunung Djati) berhasil merebutnya.

K.a. No. 6 Tjirebon (Cirebon) – Surabajakota
SINGHASARI, kerajaan di Jawa Timur tahun 1222-1292 dengan rajanya yang terkenal Kartanegara dan memerintah tahun 1268-1292.

#2 Ka Ekspres Malam
K.a. No. 7 Ekspres Malam, Surabajakota – Djakarta (Jakarta)
BINTANG SENDJA, kereta ini meluncur dari timur ke barat seolah-olah berlomba dengan silamnya Sang Surya. Meghantarkannya dibalik bumi pada waktu senja, maka diberikan kepadanya nama tersebut.

K.a. No. 8 Ekspres Malam, Djakarta – Surabajakota
BINTANG FADJAR, bintang sebagai benda alam yang tampak pada malam hari. Berkelip-kelip menerangi daerah-daerah nyenyak terbenam dimalam buta. Kereta api ekspres malam meluncur cepat dari barat ke timur seolah menyongsong bangkitnya Sang Surya di fajar pagi.

Baca juga: Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya

Sudah kenal dengan nama-nama kereta tahun 1961 kan? Ya salah satunya sampai hari ini masih ada yang beroperasi yakni KA Majapahit. Uniknya lagi bila kereta masa kini berjalan pergi pulang, kereta-kereta di tahun 1961 hanya berjalan satu arah alias tidak untuk pergi dan pulang.

Beres 15 Juli 2026, Peron 6, 7, 8 Stasiun Bogor Segera Bisa Digunakan Penumpang KRL

Stasiun Bogor merupakan stasiun akhir yang berada di lintas Bogor dan paling banyak pengguna KRL untuk beraktivitas sehari-hari. Selain itu akses menuju ke berbagai lokasi keramaian dan wisata juga sangat terjangkau dan praktis. Maka tak heran, stasiun yang merupakan bangunan cagar budaya ini paling banyak dikunjungi baik dari seluruh wilayah di Jabodetabek maupun masyarakat Bogor sendiri.

Dengan semakin meningkatnya penumpang di Stasiun Bogor, tentu harus memiliki fasilitas yang dapat mempermudah dan membantu masyarakat untuk diakses. Salah satu fasilitas yang saat ini menjadi sorotan adalah peron Stasiun Bogor yang akan di perbaharui. Ya, peron 6, 7, dan 8 jika dilihat kini sudah semakin rapi dan nantinya bisa digunakan penumpang Kereta Rel Listrik (KRL).

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mempercepat peningkatan kapasitas layanan KRL di Stasiun Bogor melalui pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8. Pengembangan ini disiapkan untuk mendukung operasional rangkaian KRL Commuter Line 12 kereta atau SF12 pada Bogor Line.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelakan bahwa saat ini pekerjaan konstruksi telah masuk tahap finishing dan secara paralel dilakukan uji operasional. Pengembangan peron Stasiun Bogor dimulai sejak 15 April 2026 dan ditargetkan selesai total pada 15 Juli 2026.

Ia menambahkan bahwa lintas Bogor menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk perjalanan harian. Dengan kesiapan SF12, kapasitas layanan dalam satu perjalanan dapat meningkat dan proses naik turun pelanggan di Stasiun Bogor dapat lebih tertata.

Pengembangan yang dilakukan mencakup pekerjaan persiapan, struktur dan arsitektur, mechanical, electrical, and plumbing atau MEP, pekerjaan jalan rel, serta listrik aliran atas atau LAA. KAI juga memasang overcapping atau kanopi di area peron untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan saat menunggu KRL, termasuk ketika cuaca panas dan hujan.

KAI telah melaksanakan uji beban menggunakan lokomotif pada 29 Juni 2026 dan dilanjutkan dengan uji coba operasional KRL pada 1 Juli 2026. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan keselamatan serta kualitas prasarana sebelum digunakan secara optimal. Selama proses pekerjaan berlangsung, KAI bersama KAI Commuter terus berkoordinasi agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.

Sebelumnya kondisi peron dan jalur eksisting dinilai belum optimal untuk mendukung operasional rangkaian kereta dengan kapasitas yang lebih besar. Oleh karena itu, melalui proyek tersebut dilakukan perpanjangan peron pada jalur 6 dan 7 dari semula 201 meter menjadi 251 meter. Sementara itu, peron jalur 8 diperpanjang dari 204 meter menjadi 252 meter.

Berdasarkan data KAI semester I 2026, Stasiun Bogor menjadi stasiun dengan pergerakan penumpang KRL tertinggi dibandingkan stasiun lain yang melayani KRL Commuter Line Jabodetabek. Sepanjang Januari-Juni 2026, Stasiun Bogor mencatat 18.451.462 pergerakan penumpang KRL, terdiri dari 9.371.057 gate in dan 9.080.405 gate out. Rata-rata pergerakan penumpang KRL di Stasiun Bogor mencapai sekitar 101.942 per hari.

Dengan pergerakan penumpang KRL tertinggi pada semester I 2026, Stasiun Bogor berada di posisi pertama dengan 18.451.462 pergerakan penumpang. Capaian ini menunjukkan Stasiun Bogor sebagai simpul utama perjalanan harian penumpang KRL, sekaligus memperlihatkan kuatnya peran Bogor Line dalam mobilitas kawasan penyangga Jakarta.

Diketahui bahwa lintas Bogor merupakan salah satu lintas utama KRL Commuter Line yang melayani perjalanan masyarakat dari Bogor, Cilebut, Bojonggede, Citayam, Depok, hingga Jakarta. Selain Bogor yang menempati posisi pertama, Stasiun Citayam juga masuk lima besar, sedangkan Stasiun Depok Baru, Bojonggede, Cilebut, dan Depok masuk dalam jajaran stasiun dengan pergerakan pelanggan tinggi. Data ini memperkuat kebutuhan peningkatan kapasitas layanan pada lintas Bogor.

Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Musim Liburan Sekolah Kereta Wisata Masih Jadi Incaran Wisatawan, Ini Jadwal Lengkapnya

Suasana libur sekolah tentu sangat berpengaruh dengan kunjungan destinasi wisata favorit. Ditambah lagi perjalanan dengan kereta api bisa merasakan fasilitas yang lebih nyaman. Berbagai fasilitas kereta api saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat untuk ke kota tujuan. Salah satunya menggunakan kereta api wisata.

Ya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) kini terus menyediakan layanan serta fasilitas yang lebih nyaman selama di perjalanan. Menggunakan kereta wisata juga merupakan incaran masyarakat apalagi di masa musim liburan sekolah seperti saat ini. Dari data KAI Group mencatat bahwa sepanjang Semester I 2026 dengan melayani 258.993.359 penumpang, meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 240.805.920 penumpang.

Selama Juli 2026 betbagai kereta wisata ini masih melayani sejumlah rute mulai dari Jakarta, Bandung, Solo, Garut, Banjar, Surabaya, hingga Malang. Berdasarkan informasi resmi PT KAI Wisata, inilah rute perjalanan kereta wisata yang aktif selama Juli 2026, sebagai berikut:

1. Kereta Wisata Panoramic
• Kereta Api Argo Wilis
Surabaya Gubeng: 08.30 WIB – Bandung: 18.17 WIB
Bandung: 07.45 – Surabaya Gubeng: 17.25 WIB

• Kereta Api Turangga
Surabaya Gubeng: 20.00 WIB – Bandung: 06.10 WIB
Bandung:17.40 WIB – Surabaya Gubeng: 03.40 WIB

• Kereta Api Manahan Pagi dan Malam
Solo Balapan: 09.50 WIB – Gambir: 17.31 WIB
Solo Balapan: 22.35 WIB – Gambit: 06.33 WIB
Gambir: 22.50 WIB – Solo Balapan: 06.31 WIB
Gambir: 10.30 WIB – Solo Balapsn: 18.18 WIB

• Kereta Api Pangandaran
Banjar: 16.55 WIB – Gambir: 01.10 WIB
Gambir: 08.30 WIB – Banjar: 16.08 WIB

• Kereta Api Papandayan
Garut: 12.40 WIB – Gambir: 18.00 WIB
Gambir: 06.35 – Garut: 11.45 WIB

• Kereta Api Parahyangan
Bandung: 05.00 WIB – Gambir: 08.01 WIB
Bandung: 10.25 WIB – Gambir: 13.13 WIB
Gambir: 18.25 WIB – Bandung: 21.20 WIB
Gambir: 13.40 WIB – Bandung: 16.42 WIB

2. Kereta Wisata Priority
• Kereta Api Pandalungan
Jember: 16.00 WIB – Gambir: 04.30 WIB
Gambir: 19.55 WIB – Jember: 09.00 WIB

• Kereta Api Brawijaya
Malang: 16.00 WIB – Gambir: 04.10 WIB
Gambir: 15.45 WIB – Malang: 03.38 WIB

• Kereta Api Malabar
Malang: 16.50 WIB – Bandung: 05.45 WIB
Bandung: 18.10 WIB – Malang: 06.52 WIB

• Kereta Api Gajahwong
Lempuyangan: 20.40 WIB – Pasar Senen: 04.33 WIB
Pasar Senen: 07.55 WIB – Lempuyangan: 15.50 WIB

• Kereta Api Senja Utama Yogyakarta
Yogyakarta: 17.30 WIB – Pasar Senen: 00.33 WIB

Pasar Senen: 19.00 WIB – Yogyakarta: 02.00 WIB
• Kereta Api Fajar Utama Yogyakarta
Yogyakarta: 07.00 WIB – Pasar Senen: 14.26 WIB
Pasar Senen: 07.35 WIB – Yogyakarta: 15.10 WIB

• Kereta Api Parahyangan
Bandung: 06.35 WIB – Gambir: 09.40 WIB
Bandung: 13.05 WIB – Gambir: 16.05 WIB
Gambir: 10.05 WIB – Bandung: 13.38 WIB
Gambir: 09.15 WIB – Bandung: 12.18 WIB

3. Kereta Wisata Imperial
• Kereta Tambahan Yogyakarta
Yogyakarta: 05.55 WIB – Gambir: 13.50 WIB
Yogyakarta: 15.40 WIB – Gambir: 23.30 WIB
Gambir: 05.15 WIB – Yogyakarta: 13.11 WIB
Gambir: 17.15 WIB – Yogyakarta: 00.43 WIB

Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

Suara tembang atau musik Jawa biasanya lebih sering di dengar saat acara-acara kebudayaan Jawa, tapi apa jadinya saat kita hendak bepergian dengan kereta api tiba-tiba mendengar suara tembang Jawa tersebut di stasiun? Ya, ada beberapa stasiun di Jawa Tengah yang menggunakan melodi gambang ini untuk kedatangan maupun keberangkatan kereta api dari stasiun-staisun tersebut.

Baca juga: Stasiun Sruweng, Ternyata Punya Musik Berbeda dari Stasiun Lainnya Loh!

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber ada beberapa stasiun yang menggunakan tembang Jawa yakni Stasiun Semarang Tawang, bel stasiun yang digunakan adalah nada lagu Gambang Semarang yang dimainkan dengan piano. Melodi ini diperdengarkan untuk menandai kedatangan kereta di Stasiun Tawang.

Gambang Semarang ini pun juga diperdengarkan di Stasiun Semarang Poncol. Hanya saja bedanya alunan gambang tersebut dibunyikan saat kereta akan melintas, datang dan berangkat dari Stasiun Semarang Poncol.

Bahkan di Stasiun kecil Weleri yang menjadi satu-satunya stasiun di Kabupaten Kendal untuk menaik turunkan penumpang juga menggunakan Gambang Semarang tersebut. Meski begitu bukan hanya di jalur utara saja, di jalur selatan juga memiliki lagu kedatangan yakni di Stasiun Sruweng yang letaknya dekat dengan tepian sungai Serayu.

Di Stasiun Sruweng sendiri bahkan lagu ini pun diputar ketika terjadinya persilangan dikala malam. Alunan-alunan lagu yang dimainkan dengan piano ini sebenarnya bisa mengangkat salah satu kebudayaan Indonesia melalui tembang atau musik jawa.

Dengan alunan tembang Jawa tersebut stasiun-stasiun ini tidak seperti stasiun lainnya yang masih menggunakan nada Westminster Chime (ting…tong…ting…tong…) sebagai penanda kedatangan kereta. Nah, ternyata bukan hanya Indonesia saja yang memiliki musik untuk penanda kedatangan atau keberangkatan kereta.

Baca juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Jepang, sebagai negara dengan kereta apinya yang cukup sibuk ternyata ikut ambil bagian memperdengarkan jingle untuk keberangkatan keretanya. Melodi jingle tiap stasiun pun berbeda antara satu dengan lainnya.

Uniknya bila di Indonesia menggunakan tembang Jawa, di Jepang, stasiun menggunakan musik dari berbagai lagu anime atau film terkenal seperti Star Wars, Astro Boy dan beberapa lainnya. Selain membuat melodi yang baru dari biasanya, tembang atau jingle tersebut bisa membangkitkan semangat dan bedanya di Indonesia tembang dibunyikan di stasiun jarak jauh sedangkan Jepang untuk stasiun kereta komuternya.

KunKun: Alat Pendeteksi Bau Badan, Seperti Apa Cara Kerjanya?

Hawa panas, berjejalan, dan minimnya ruang gerak ketika Anda berada di moda transportasi berbasis massal seperti  kereta api tidak jarang memaksa Anda untuk menghirup aroma tidak sedap yang berasal dari penumpang lain. Tentunya hal seperti ini membuat perjalanan Anda kurang nyaman, bukan? Terlebih jika ‘wewangian’ tersebut terus setia menemani perjalanan Anda hingga tujuan. Atau mungkin, si penyebar aroma tidak sedap tersebut adalah Anda?

Baca Juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina

Tidak melulu dari bau badan, bahkan salah satu kasus yang sedang hangat menjadi perbincangan publik dunia adalah ketika maskapai Transavia Airlines terpaksa melakukan pendaratan darurat di Vienna Airport, Austria pada awal Februari 2018 kemarin. Hal tersebut terjadi lantaran salah satu penumpangnya enggan untuk berhenti buang gas. Dinilai mengganggu kenyamanan penumpang lainnya dalam penerbangan itu, alhasil penumpang terkait diturunkan.

Nah, untuk meminimalisir menyebarnya bebauan tidak sedap tersebut, Daisuke Koda yang bekerja untuk Konica-Minolta mengembangkan sebuah alat yang dapat mendeteksi aroma tidak sedap. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (26/8/2017), KunKun, begitulah nama dari alat ini, akan memberikan penilaian terhadap bau yang ia deteksi.

Dengan ukurannya yang tidak lebih besar dari smartphone dan berbentuk seperti sebuah radio transistor, Anda cukup mendekatkan KunKun ke objek yang dinilai menyebarkan aroma tidak sedap. Tunggulah sekitar 20 detik, hingga alat ini akan memaparkan tingkat kebauan dari si objek tersebut. “Kami ingin menciptakan budaya dimana Anda akan mendapatkan citra positif karena tidak memiliki bau badan,” tutur Daisuke Koda.

Mengingat Jepang merupakan salah satu negara yang menjadikan bau badan sebagai sumber dari masalah besar, maka tidak heran ketika karyawan di Konica-Minolta ini mengembangkan KunKun yang diharapkan dapat menjadi solusi masalah tersebut. “Di Jepang, ada yang namanya smell harassment, dimana orang yang memiliki aroma tubuh kurang sedap akan mendapatkan ‘perlakuan khusus’ ketika berada di tempat umum,” lanjutnya.

Baca Juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

Jika menilik masa depan dari KunKun, maka alat pendeteksi bau ini bisa digunakan di banyak industri, sebut saja transportasi. Demi menunjang perjalanan yang nyaman, para operator layanan bisa terlebih dahulu menyaring penumpang yang memiliki bau badan sebelum mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam moda bersangkutan.

Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Jalur kereta komuter sudah lumrah hadir di beberapa daerah di Tanah Air, namun yang menjadi maskot dan barometer nasional adalah jalur KRL (Keret Rel Listrik) Jabodetabek yang dikelola olehPT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Banyak cerita yang menarik seputar KRL yang telah beroperasi sejak tahun 1976 ini, diantaranya ada fakta bahwa jalur rel KRL Jabodetabek hanya bisa digunakan oleh rangkaian kereta asal Jepang. Ini bukan terkait monopoli atas pengadaan dan lain-lain, melainkan menyangkut lebar rel yang urusannya berhubungan dengan sejarah panjang kereta api di Indonesia.

Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Dirunut dari sejarah, pada tahun 1864 Pemerintah Hindia Belanda memulai proyek untuk membangun lintasan kereta dari Jakarta ke Bogor (d/h Batavia ke Buitenborg). Dari sejak proyek dimulai, namun pembangunan jalur rel baru dimulai pada tahun 1869. Ada jeda implementasi selama lima tahun, apakah kucuran dana tersedat?

Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Dikutip KabarPenumpang.com dari buku “The Untold Story of E-Ticketing – Kisah di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek,” disebutkan bahwa jeda lima tahun dicurahkan hanya untuk mengkaji lebar rel (spoorwijdte). Awalnya lebar rel dirancang dan dipasang selebar 1.435, yakni jenis track standar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, sebagaimana dirancang oleh George Stephenson, Bapak Perkeretaapian Dunia. Lebar rel 1.435 mm pun sudah diterapkan di jalur kereta api Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Namun, Menteri Urusan Jajahan Belada De Wall pada 27 September 1869 justru memutuskan lebar rel mengadopsi standar 1.067 mm, atau dikenal sebagai track Afrika Selatan dan juga digunakan oleh Jepang.

Baca juga: Anda Mau “Survive” di Dalam Gerbong KRL? Yuk Ikuti Tipis Berikut Ini

Mengapa De Wall memutuskan penggunaan lebar rel 1.067 mm? Ini ternyata sudah melalui penelitian insinyur perkeretaapian JA Kool dan guru besar sekolah politeknik di Delft, NH Henket. Untuk jalur Jakarta – Bogor, bila tetap menggunakan lebar rel 1.435 mm, maka diperlukan dana 4 juta gulden, atau 68.259 gulden per kilometer. Namun dengan lebar rel 1.067 mm dapat dihemat 0,80 juta gulden, dengan total biaya hanya 3,19 juta gulden atau 43.600 per kilometer.

Baca juga: Mei 2017, Jumlah Penumpang KRL Jabodetabek Tembus 1 juta Per hari

Pada akhirnya, lintasan kereta Jakarta – Bogor resmi dioperasikan pada 31 Januari 1873. Dan sampai saat ini, lebar rel lintasan Jakarta – Bogor tetap 1.067 mm. Entah menjadi berkat atau sekaliknya, yang jelas lintasan KRL Jabodetabek hanya bisa dipasok KRL dari Jepang, negara yang sama-sama mengadopsi rel dengan lebar 1.067 mm. Seandainya dahulu yang diadopsi adalah standar lebar rel 1.435 mm, maka laju kereta bisa lebih tinggi, dan tak sulit bila nantinya ingin mentransformasikan penggunaan kereta cepat.