Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang

Sebagai salah satu kota utama di Asia, Jakarta kini tengah melakukan uji coba dalam implementasi bus listrik. Persisnya lewat operator PT TransJakarta, unit bus listrik kini sedang lalu-lalang di sekitaran Monas dan Taman Mini Indonesia Indah guna melihat seberapa jauh respon masyarakat, selain tentunya melihat performa dari bus yang mengandalkan pasokan energi listrik dari baterai ini.

Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia

Meski menawarkan sejumlah keunggulan berupa bebas emisi dan memajukan penggunaan energi terbarukan, namun adopsi bus listrik bukan tanpa kendala pada kota-kota yang masih dalam lingkup ‘berkembang.’

Dilihat dari populasinya, saat ini bus listrik baru menguasai pangsa 17 persen di dunia atau sebanyak 425 ribu armada dengan 99 persen bus listrik dioperasikan di Cina.

Selain penyiapan infrastruktur, lambatnya penetrasi bus listrik disebababkan oleh beberapa keraguan. Semisal beberapa produsen bus besar masih mengatasi masalah mereka dari sisi lini produksi. Selain itu ada tantangan pada kinerja, selama tes awal di tempat-tempat seperti Belo Horizonte, Brasil, bus listrik kesulitan melewati bukit curam dengan muatan penumpang penuh. Albuquerque, New Mexico, membatalkan kesepakatan 15 bus dengan BYD pabrikan Cina setelah menemukan masalah pada perangkat selama pengujian.

Bus listrik bisa menempuh jarak sekitar 225 mil atau 362,102 km dalam sekali charge (isi ulang) baterai, tergantung pada kondisi topografi dan cuaca, yang berarti operator harus kembali ke depot sekali sehari pada rute yang lebih pendek di kota padat dan ini menjadi masalah di berbagai area yang padat akan kemacetan. Hal utama yang tampaknya dilupakan orang-orang tentang bus listrik adalah bahwa mereka perlu dikenakan biaya. Perlu dicatat, waktu isi ulang baterai secara penuh bisa memakan waktu sampai 4 jam, ini tentu harus diperhitungkan agar tidak menganggu pelayanan.

Instalasi depot pengisian energi dalam ukuran standar bisa menelan biata US$50 ribu. Investasi akan lebih tinggi bila depot dirancang untuk meng-handle beberapa bus ukuran besar sekaligus. Nilai di atas belum termasuk biaya konstruksi. Di pusat kota yang padat, pergerakan di dalam depot bus dapat diatur dengan ketat untuk mengakomodasi parkir dan pengisian bahan bakar. Pembangunan infrastruktur bus listrik merupakan tantangan yang berat dalam hal pengembalian investasi.

Lain dari itu, penyedia jasa pengisian listrik harus mendapatkan pasokan langsung ke stasiun pengisian mereka, bukan tak mungkin harus ada investasi untuk menyiapkan gardu baru. Warren, eksekutif New Flyer, memperkirakan butuh listrik 150 megawatt-jam untuk membuat depot 300 bus terisi penuh sepanjang hari. Sebagai perbandingan rumah tangga di  Amerika Serikat hanya mengonsumsi 7 persen dari jumlah itu dalam satu tahun.

Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta

Diperkirakan bahwa hanya kurang dari 60 persen dari semua armada bus di dunia yang akan dikonversi menjadi bus listrik pada tahun 2040.