Demi Bertahan Hidup, Qantas Jualan Sweater Cashmere dan Tas Pantai

0
Sweater cashmere karya perancang busana kenamaan Australia, Martin Grant. Foto: MARTIN GRANT/QANTAS

Beragam cara maskapai bertahan di tengah krisis akibat pandemi virus Corona. Bila sebelumnya Thai Airways dilaporkan banting setir jualan gorengan, kali ini giliran Qantas Airways terang-terangan menjual sweater cashmere, hoody, dan tas pantai dengan harga bervariasi. Tentu saja, maskapai yang akan menginjak usia ke-100 tahun pada 16 November mendatang ini terpaksa menjual entitas tersebut semata untuk bertahan hidup.

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Dilansir marketwatch.com, rangkaian produk-produk mewah Qantas tersebut sejatinya cukup matching dengan perpaduan logo vintage maskapai, menandai seratus tahun kanguru terbang Australia.

Dikatakan produk mewah, sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa sweater cashmere -yang terbuat dari wol cashmere berkualitas- lama dikenal sebagai bahan mewah yang mendapat julukan permata serat karena sangat berharga, nyaman, lembut, dan ringan dipakai.

Wol cashmere sendiri merupakan serat yang diperoleh dari kambing kasmir, kambing pashmina, dan beberapa jenis kambing lainnya di dataran tinggi Ladakh (yang tengah disengketakan oleh Cina), Jammu, dan Kashmir, India. Wool tersebut telah digunakan untuk membuat benang, tekstil, dan pakaian selama ratusan tahun. Sekali lagi, ini sangat senada dengan sejarah Qantas yang sudah mau menginjak usia ke-100.

Selain itu, desain sweater cashmere, hoody, dan tas pantai Qantas menjadi mewah juga karena didesain oleh perancang busana kenamaan Australia, Martin Grant. Tak heran bila harga yang ditawarkan cukup berbanding lurus dengan kualitas serta momentum dari produk itu sendiri, dimana sweater cashmere dibanderol senilai $305, hoody $197, dan tas pantai $251.

Namun, sudah pasti harga-harga tersebut bukanlah yang tertinggi. Sweater cashmere, misalnya, masih jauh lebih tinggi produk serupa buatan Loro Piana, Italia, yang membanderol paling murah $2.000.

“Koleksi ini adalah tentang bentuk klasik, gaya nyaman, dan bahan yang ramah lingkungan. Tapi nilai dari desainnya adalah logo ikonik (kanguru) yang membangkitkan begitu banyak kenangan indah bagi warga Australia,” kata Grant. Peluncuran bisnis baru Qantas itu sendiri tak berjarak lama dengan peluncuran waiting list makan siang mewah di pesawat Airbus A380 pada 12 Oktober lalu oleh Singapore Airlines.

Kendati harga yang dipatok cukup tinggi mencapai $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800), rupanya cukup diminati. Faktanya, tempat untuk dua hari pertama yang ditawarkan habis dipesan dalam waktu setengah jam. Makan siang itu sendiri rencananya bakal dihelat pada 24-25 Oktober mendatang di A380 yang terparkir di Bandara Changi.

Baca juga: Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Di masa pandemi Covid-19 ini, Qantas setidaknya telah mem-PHK sebanyak 26 ribu karyawan dan mengalami kerugian hingga triliunan rupiah. Kepala Eksekutif maskapai nasional Australia itu, Alan Joyce, mengatakan enam bulan pertama tahun 2020 adalah kondisi terberat dalam sejarah 100 tahun Qantas.

Namun, maskapai tak menyerah begitu saja. Selain menjual sweater cashmere, hoody, dan tas pantai, Qantas juga mengadakan flight to nowhere yang disambut antusias publik Negeri Kanguru. Bila makan siang mewah Singapore Airlines tanpa terbang di Airbus A380 ludes terjual dalam 30 menit, slot terbang tanpa tujuan Qantas untuk penerbangan 12 Oktober lalu ludes terjual hanya dalam 10 menit.

Leave a Reply