Layanan Kereta Malam di Eropa – Mantan Primadona yang Tidak Pernah Kehilangan Penggemar

Perkembangan di sektor transportasi memang tidak melulu mengedepankan aspek kecepatan, teknologi, hingga keselamatan. Salah satu yang menjadi bukti perkembangan tersebut adalah terletak di segi kenyamanan moda yang dikendarai. Ya, tentu masih ingat di benak Anda semua tentang kejayaan layanan kereta malam di Eropa bertahun-tahun silam, namun apa kabarnya kini? Masihkah menjadi primadona di setiap kalangan yang hendak melakukan mobilitas? Atau keberadaannya mulai tergantikan oleh moda lain?

Baca Juga: Terdesak Kereta Cepat, Parlemen Eropa Tinjau Kelayakan Bisnis Kereta Malam

Sebetulnya, keberadaan kereta malam di Eropa bisa dibilang sudah hampir ‘punah’ karena tergusur kedigdayaan moda udara yang belakangan ini semakin diminati oleh banyak penumpang di seluruh dunia. Alasan paling vokal yang melatarbelakangi tergerusnya layanan kereta malam ini adalah efisiensi waktu. Bayangkan saja, semisal Anda membutuhkan waktu sekitar 10 jam berkereta dari titik A menuju titik B, sedangkan jika menggunakan pesawat Anda hanya membutuhkan waktu dua hingga tiga jam saja.

Dari gambaran abstrak itu saja, sudah terbayang bukan berapa banyak waktu yang tersita semisal Anda berkendara menggunakan kereta ketimbang pesawat? Belum lagi dari urusan tarif yang bisa dibilang tidak terlalu jauh selisihnya, maka tidak heran jika lebih banyak penumpang yang menambatkan hatinya kepada si burung besi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman trainline.eu, operator kereta Eurolines France menyediakan tiket perjalanan kereta dari London menuju Berlin dengan harga berkisar antara €64 hingga €499 (Rp1,1 juta hingga Rp8,2 juta) dengan durasi perjalanan sembilan hingga 10 jam paling lama. Sementara dengan mengudara menggunakan penerbangan langsung, penumpang hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dari Heathrow menuju Berlin Tegel (Jerman).

Tidak hanya pesawat saja, keberadaan kereta malam pun semakin tergusur dengan hadirnya saudara muda di dunia perkeretaapian, bullet train (kereta peluru). Tetap, fokus dari menurunnya daya pikat dari kereta malam adalah efisiensi waktu dan sialnya, bullet train mampu memenuhi keinginan dari para penumpangnya itu.

Baca Juga: 10 Tips Menikmati Perjalanan dengan Kereta di Eropa

Kendati begitu, bukan berarti pasar kereta malam hilang begitu saja. Dilansir dari laman sumber lain, sebuah data mencatat bahwa hingga tahun 2016 kemarin, tercatat hanya ada 11 negara di Uni Eropa yang masih menggunakan layanan kereta malam ini. Walaupun terbilang sedikit, namun dengan eksistensi 11 layanan kereta malam tersebut seolah membuktikan bahwa moda ini tidak kehilangan ‘penggemar’.

Terlebih dengan ide pengalihfungsian kereta malam ini menjadi kereta tur oleh sejumlah kelompok pecinta kereta Eropa. Ide ini muncul menyusul pernyataan dari European Parliament’s Committee on Transport & Tourism yang tengah menimbang kelanjutan dari pengoperasian kereta malam.

ASDP: 37 Persen Pemudik dari Sumatera Belum Kembali Ke Jawa

Enam hari puncak Lebaran telah berlalu, dan tercatat dari trafik Pelabuhan Bakauheni di Lampung, bahwa 609.099 pemudik dan 128.557 unit kendaraan yang sudah kembali ke Pulau Jawa. Sementara jumlah pemudik yang tercatat menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera tercatat saat momen Lebaran mencapai 970.327. Hal tersebut mengindikasikan masih ada sekitar 361.228 orang penumpang atau 37 persen lagi yang belum kembali ke Jawa.

Baca juga: Dibanding 2017, Trafik Kendaraan via ASDP di Musim Mudik 2018 Naik Tipis

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi dalam siaran pers (22/6/2018) mengatakan, diperkirakan arus balik penumpang dan kendaraan masih akan terus mengalir hingga Sabtu (23/6) dan Minggu (24/6).

Dari laporan ASDP Cabang Pelabuhan Bakauheni, tercatat jenis kendaraan roda dua yang kembali ke Jawa sebanyak 57.126 unit atau sudah 68 persen dari total yang menyeberang dari Jawa ke Sumatera sebanyak 83.845 unit pada arus mudik kemarin. Sehingga masih ada sekitar 26.719 unit pemudik motor atau 32 persen lagi yang akan kembali ke Jawa pada arus balik ini.

Untuk mobil pribadi, tercatat sudah 66.631 unit yang sudah meninggalkan Sumatera atau sekitar 67 persen dari total yang menyeberang dari Jawa ke Sumatera pada mudik kemarin sebanyak 99.294 unit mobil pribadi.

“Pemudik masih ada yang memaksimalkan waktu libur Idul Fitri atau mengambil cuti tahunan untuk berlibur bersama keluarga. Kami perkirakan akhir pekan ini trafik mobil pribadi masih akan mengalir, karena masih ada sekitar 32.663 unit mobil pribadi atau 33 persen lagi yang belum kembali ke Jawa,” ujarnya merinci.

Sementara dari lintasan yang menghubungkan Jawa-Bali dilaporkan bila dibandingkan dengan total jumlah pemudik yang menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Ketapang pada H-8 hingga H-1 maka jumlah pemudik yang telah kembali dari Jawa ke Bali pada H+1 hingga H+5 dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk sebanyak 230.123 orang atau 53 persen dari total penumpang 436.258 orang yang menyeberang ke Jawa pada arus mudik kemarin.

Diikuti kendaraan roda dua sebanyak 33.206 unit atau 37 persen dari total 88.839 unit dan kendaraan roda empat/lebih sebanyak 28.364 unit atau 57 persen dari total kendaraan yang menyeberang sebanyak 49.989 unit pada arus mudik kemarin.

Tentang Kursi di Kereta Ekonomi Premium, Respon Admin Twitter PT KAI Menuai Polemik

Dewasa ini, kemampuan admin akun media sosial telah menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk menyampaikan komunikasi dan berinteraksi dengan pelanggan netizen di jagad maya. Terlebih pada perusahaan yang menyediakan jasa angkutan publik sekelas PT KAI. Menjadi admin medsos seperti Twitter dan Facebook, selain dituntut cerdas dan punya wawasan luas, jadi admin pun harus sabar dalam menghadapi pertanyaan dan respon dari netizen.

Baca juga: Serba-Serbi Pilih Kursi ‘Panas’ di Kereta Ekonomi Premium

Seperti yang baru-baru ini terjadi, saat admin Twitter PT KAI @KAI121, menghadapi pertanyaan netizen yang jawabannya kemudian menimbulkan polemik. Yang ditanyakan adalah seputar layanan kereta ekonomi premium. Dimana tempat duduk kereta terbagi yakni pada bagian tengah berhadap-hadapan dan lainnya mengikuti kursi di depannya.

Ternyata ada beberapa pelanggan kereta api yang bertanya melalui akun Twitter resmi milik PT KAI yakni @KAI121 terkait posisi kursi kereta saat ini. “Selamat pagi min @KAI121 , Pak Edi Sukmoro & Pak @BudiKaryaS , saya mau tanya, alasan tempat duduk ada yang hadap depan & hadap belakang apa ya?, menurut saya hadap depan semua pun kapasitas tetap sama. Bayarnya sama tapi dapat tempat duduk hadap belakang itu sakit pak. Thank,” ujar akun @Zepuh92 milik Fajar Triyadi.

Kemudian, admin @KAI121 mengatakan, pemilihan kursi menyesuaikan dengan kelas kereta api yang dipilih. Akun tersebut juga menambahkan jika penumpang ingin duduk searah perjalanan kereta api, maka bisa menggunakan kereta kelas eksekutif atau bisnis.

Jawaban dari admin Twitter PT KAI tersebut justru menuai respon yang beragam dari warganet. Beberapa ada yang menganggap jawaban tersebut tidak menjawab pertanyaan dan ada pula yang menganggap tidak masalah dengan jawaban tersebut.

“@KAI121 harusnya dijelaskan kenapa bisa beda-beda menghadap, bukannya disuruh ganti kelas. perusahaan bumn, adminnya begini? @BudiKaryaS menurut bapak jawaban seorang pelayan publik harus begini?” tweet akun @mrhiphops.

Lain lagi dengan akun @asmaraism yang mentweet tentang contoh kereta dari Brussel Belgium menuju ke Amsterdam yang memiliki pola tempat duduk sama. Akun tersebut menganggap hal itu biasa saja sehingga tidak perlu untuk memention Menteri.

Adanya pertanyaan dan respon beragam dari warganet terkait pertanyaan kursi tersebut, pihak KAI yang diwakilkan oleh Kepala Humas PT KAI Agus Komaruddin bahwa jawaban admin tidak salah. Sebab pengaturan tempat duduk memang menyesuaikan pilihan kelas kereta api.

“Sebenarnya jawaban tersebut tidak salah, karena lebih ke pilihan untuk kelas kereta api. Itu penjelasan berdasarkan kelas, ya memang kalau kelas ekonomi seperti itu. Mungkin tidak secara detail saja,” ujar Agus yang dikutip dari laman Kompas.com.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, pengaturan tempat duduk dengan kelas kereta api di desain seperti itu untuk efisiensi jumlah seat agar memuat lebih banyak penumpang. Dia mengatakan, dengan desain seperti itu, satu gerbong bisa memuat 80 seat.

Baca juga: Kereta Sleeper Berada di Rangakaian KA Argo Bromo Anggrek, Ini Fasilitas Mewahnya

Sehingga dengan demikian, penumpang yang menggunakan kereta api kelas ekonomi terlebih yang premium, akan merasakan duduk searah dengan jalannya kereta dan ada yang akan membelakangi jalannya kereta.

“Sebenarnya untuk kelas ekonomi prinsip sama seat dua arah, karena duduk satu sandaran saling membelakangi. Jadi kalau KA (kereta api) jalan, ada yang searah pergerakan kereta (maju), ada posisi duduk mundur,” kata Agus.

Agus juga menyampaikan, bahwa pihaknya meminta maaf jika penjelasan admin di media sosial kurang memuaskan dan mengatakan PT KAI sudah melakukan upaya yang maksimal untuk kenyamanan para penumpangnya.

“Jadi Mudik II,” Jurus PT KAI Antisipasi Low Season Pasca Lebaran

Setelah musim liburan Lebaran 2018 dilewati dan beban puncak arus balik telah terurai, maka daya belanja masyarakat umumnya ikut menurun, dan ini dikenal sebagai periode low season. Dalam dunia transportasi, para penyedia jasa angkutan telah mengantisipasi periode ‘lesu’ ini dengan sejumlah program promo yang memikat, yang tak lain bertujuan untuk mengisi slot kursi yang mungkin tak terjual.

Dengan tajuk “Jadi Mudik II,” PT KAI menggelar promo tiket murah dengan keberangkatan sejak 17 Juni 2018 kemarin hingga 26 Juni 2018 mendatang.

Baca juga: Liburan Telah Usai, Waspadai Post Holiday Syndrome!

Promo ini diberlakukan oleh Daerah Operasional 1 (Daop) Jakarta karena melihat antusias masyarakat yang menggunakan kereta api pada masa angkutan lebaran 2018 kemarin. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, promo tiket ini PT KAI membuat tajuk Jadi Mudik II.

Senior Manager Humas Daop 1 Jakarta Edy Kuswoyo mengatakan, tarif promo ini berlaku dari Jakarta ke Cirebon, Tegal, Semarang, Blitar, Surabaya, Malang, Cilacap, Kutoarjo, Yogyakarta dan Solo.

“Diharapkan dengan adanya tarif promo Lebaran ini para penumpang semakin tertarik menggunakan moda transportasi kereta api. Khusus bagi masyarakat yang pada belum sempat mudik ke kampung halaman, promo ini bisa menjadi alternatif,” ujar Edy.

Selain itu pun, Edy mengingatkan agar para penumpang yang menggunakan kereta dan memiliki tiket untuk memperhatikan keberangkatan keret apinya serta menyesuaikan kedatangan agar tidak terlalu lama menunggu di stasiun. Apalagi dengan memiliki tiket online saat ini, penumpang tak lagi perlu repot terburu-buru untuk mencetak boarding pas, sebab dengan KAI Access bisa mendapatkan boarding pass elektronik.

Berikut ini harga tiket promo yang KAI Tawarkan pada Jadi Mudik II.

Jakarta ke Cirebon-Tegal-Semarang Rp80 ribu-Rp255 ribu
Surabaya ke Jogja-Banyuwangi Rp90 ribu-Rp165 ribu
Jakarta ke Cilacap-Kutuarjo-Jogja-Solo Rp110 ribu-Rp280 ribu
Bandung ke Jogja-Solo Rp140 ribu-Rp230 ribu
Malang ke Jogja Rp140 ribu-Rp210 ribu
Jakarta ke Blitar-Surabaya-Malang Rp150 ribu-Rp435 ribu
Bandung ke Surabaya-Malang Rp185 ribu-Rp345 ribu

Baca juga: Gunakan Aplikasi KAI Access, Kini Tak Perlu Antre Cetak Boarding Pass di Stasiun

Diketahui, jumlah penumpang yang melakukan perjalanan pada masa angkutan lebaran dengan kereta api dari 5-20 Juni 2018 kemarin mencapai 684.422 penumpang. Dari jumlah tersebut sebanyak 289.779 penumpang berangkat dari Stasiun Gambir dan 394.643 dari Stasiun Pasar Senen.

Trafik Penumpang Terus Melesat, Bandara Shenzhen Siap Operasikan Sistem Kereta Otonom

Seolah tidak mau kalah saing dengan bandara-bandara lain yang ada di dunia, Shenzhen International Airport yang berada di Distrik Bao’an, 32km barat laut dari pusat kota Shenzhen, Guangdong, Cina pun mulai menambahkan fasilitas guna memberikan kenyamanan lebih kepada para calon penumpang yang hendak atau baru saja mengudara via bandara yang diarsiteki oleh Massimiliano Fuksas ini.

Baca Juga: Eco4, Kereta Otonom Ramah Lingkungan Mahakarya Bombardier

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (20/6/2018), Shenzhen International Airport diketahui baru saja membeli sebuah paket kereta otonom buatan Bombardier, INNOVIA Automated People Mover (APM) 300 System dari CRRC Puzhen Bombardier Transportation Systems Limited (PBTS). Selain untuk lebih memanjakan para calon penumpang, langkah ini ditempuh otoritas bandara lantaran adanya pertumbuhan jumlah penumpang yang signifikan dalam beberapa waktu ke belakang.

Kelak, rangkaian paket sistem otonom ini akan dikirim berbarengan dengan 18 gerbong kereta yang akan mengular di Terminal 3 Shenzhen International Airport sepanjang 2,6km. Dengan nilai kontrak sebesar €61 juta atau yang setara dengan Rp993,8 miliar ini, pihak bandara memproyeksikan proyek ini rampung pada tahun 2020 mendatang.

“INNOVIA APM 300 System adalah salah satu solusi transportasi bandara dan perkotaan kami yang terkemuka. Sudah ada lebih dari 100 bandara di Cina dan kami yakin bahwa dengan hadirnya teknologi mutakhir seperti ini, keandalan yang kuat, ketersediaan dan ketepatan waktu, dikombinasikan dengan fokus pada keselamatan dan kenyamanan penumpang, sistem APM kami merupakan solusi mobilitas penumpang yang tepat – terutama di bandara yang berkembang,” ungkap Presiden Bombardier Cina, Jianwei Zhang.

Tidak bisa dipungkiri, merangkak naiknya jumlah permintaan penerbangan belakangan ini menorehkan sisi positif dan negatif secara bersamaan. Data mencatat, sebanyak 45 juta penumpang telah menggunakan jasa bandara ini dari kuartal pertama hingga keempat tahun 2017 kemarin. Angka tersebut diprediksi akan terus mengalami peningkatan hingga ke level 82 juta penumpang pada tahun 2025 kelak.

Baca Juga: Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda

“Maka dari itu, penggunaan INNOVIA APM 300 System akan meredam sejumlah tekanan yang hadir selama masa peningkatan jumlah penumpang tersebut,” ungkap salah seorang juru bicara otoritas bandara. Untuk modanya sendiri, selain menawarkan kapasitas angkut yang lebih banyak dan kecepatan, INNOVIA APM pun telah memenuhi kriteria keselamatan dan berkelanjutan dari perusahaan. Jadi kasarnya, selain siap untuk membantu mobilitas penumpang di bandara, moda ini pun sudah tidak perlu diragukan lagi kapabilitasnya.

Genjot Proyek Kereta Bawah Tanah Menuju Bandara, Pemerintah Chicago Percayakan Kapabilitas The Boring Company

Salah satu perusahaan milik entrepreneur kelas kakap, Elon Musk baru saja meneriman mandat dari Pemerintahan Chicago untuk mendesain, membuat, hingga me-maintain  proyek terowongan yang akan menghubungkan pusat kota dengan O’hare International Airport. Ya, The Boring Company dipercaya untuk menunggangi proyek Express Loop, sebuah moda transportasi berbentuk electric pod atau polong listrik yang mampu menampung hingga 16 penumpang dan siap untuk menghubungkan pusat kota dengan bandara dalam waktu 12 menit saja.

Baca Juga: Bukan Sekedar Wacana, Elon Musk Unggah Foto Terowongan Transportasi LA ke Jejaring Sosial

Adapun hal yang melatarbelakangi penunjukkan The Boring Company oleh Chicago Infrastructure Test, yang mewakili kebijakan Pemerintah Kota Chicago adalah peningkatan aktifitas di O’Hare International Airport pada tahun 2017 lalu, dimana sebanyak hampir 80 juta penumpang keluar atau masuk via bandara berkode ORD ini.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (14/6/2018), nantinya electric pod ini akan berlari di bawah tanah dengan kecepatan 240km/jam. “Dengan begitu, ini (electric pod) akan lebih cepat tiga hingga empat kali lipat sistem transportasi yang sudah ada sekarang,” tutur salah satu juru bicara dari The Boring Company.

Untuk urusan modanya sendiri, The Boring Company mengatakan bahwa mereka akan menggunakan  armada yang sepenuhnya otonom dan mampu melaju lebih kencang daripada kereta bawah tanah. Dibangun di atas chasis Tesla Model X, kereta ini digalang-galang akan memberikan kenyamanan lebih kepada para penumpangnya. Terlebih dengan hadirnya teknologi onboard WiFi dan ruang yang cukup lega untuk barang bawaan para penumpang.

Mengingat belum ada tindak lanjut lebih jauh lagi dari proyek pembangunan terowongan menuju bandara ini, maka wajar saja bila perusahaan belum bisa membocorkan patokan tarif yang akan diberatkan kepada para penumpang. “Mungkin harganya akan lebih murah daripada taksi dan sedikit lebih mahal ketimbang bus,” papar juru bicara The Boring Company.

Baca Juga: Elon Musk Pertegas Eksistensinya Dalam Kompetisi Pengadaan Moda Futuristik

Guna menjamin kenyamanan para pengguna jalan selama proses pembangunan, The Boring Company mengatakan bahwa proses ini tidak akan mengganggu aktifitas para pengguna jalan, pun ketika masa pengoperasiannya kelak. Kita tunggu saja!

Kim Jong Un Mulai Membuka Diri, Jalur Kereta Trans Siberia Diharapkan Bisa Berakhir di Seoul

Selama ini hanya sedikit orang yang bisa melakukan tur keliling Korea Utara, itu pun dengan didampingi oleh pengawalan super ketat dari pihak keamanan di negara penganut paham komunis tersebut.

Namun, terhitung sejak 27 April 2918 ada angin pembaharuan yang berhembus di Korea Utara, dimana negara tersebut mulai membaur dengan negara tetangganya, tentu saja banyak pihak yang mengharapkan hubungan multilateral Korea Utara dengan negara-negara lain pun memiliki prospek yang cerah, tidak terkecuali dari sektor transportasinya.

Baca Juga: Berdamai, Korea Selatan Siap Bersinergi ‘Terangkan’ Sektor Transportasi di Korea Utara

Nah, dengan dimulainya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-Un dengan sejumlah pimpinan negara lain termasuk Amerika Serikat, maka impian para pecinta kereta api untuk memuskan sensasi perjalanan terpanjang dan terlama di dunia pun turut terbangun. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (1/6/2018), para railfans – sebutan untuk para pecinta kereta api – menaruh harapan tinggi terhadap dibukanya perjalanan dari Moskow, Rusia menuju Seoul, Korea Selatan.

Laman sumber menyebutkan bahwa hingga saat ini, tiket perjalanan kereta tunggal paling epik masih dipegang oleh perjalanan dari Moskow menuju Pyongyang, yang menghabiskan waktu perjalanan sekitar 206 jam 35 menit. Dalam kurun waktu satu bulan, pihak perkeretaapian Korea Utara menyediakan perjalanan menuju Moskow dengan menggunakan sleepers train sebanyak dua kali. Di lain sisi, pihak perkeretaapian Moskow pun menyediakan layanan serupa dengan frekuensi perjalanan dua kali lipatnya.

Menurut penuturan Carl Meadows, seorang pengamat Korea Utara dari Regent Holidays mengatakan bahwa Pyongyang merupakan cabang terakhir dari rute Trans-Siberia, “Namun hanya pihak Korea Utara-lah yang diperbolehkan untuk melintasi Tumangan (perbatasan Korea Utara),” tutur Carl. “Namun sejak 12 bulan terakhir, para turis sudah mulai diijinkan untuk melintasi perbatasan,” tandasnya. Dirinya pun tidak menampik bahwa perjalanan kereta tersebut sangat memakan waktu ketika tiba di teritorial Korea Utara. “Kereta akan berjalan sangat lambat. Membutuhkan waktu kurang lebih 30 jam hanya untuk menjangkau Pyongyang dari perbatasan,” ujarnya.

Baca Juga: Jalur Kereta Trans-Siberia Capai Usia 100 Tahun

Terlepas dari durasi perjalanan dari perbatasan menuju Pyongyang, sebenarnya ada beberapa poin penting yang dapat memuluskan rencana pemanjangan jalur dari Utara menuju Selatan ini, salah satunya adalah upaya joint venture perusahaan asal Rusia dan Korea Utara yang memulihkan jalur sepanjang 55 km dari perbatasan Khasan hingga ke Pelabuhan Rajin di Rason Special Economic Zone pada tahun 2013 silam. Dengan terbukanya akses menuju Korea Utara tersebut, maka kesempatan Korea Selatan untuk turut menjadi bagian dari kemegahan Trans-Siberia pun semakin terbuka lebar.

Di Balik Tragedi Danau Toba, Inilah Profil KM Sinar Bangun

Nama KM (Kapal Motor) Sinar Bangun dalam beberapa hari ini tengah menjadi sorotan di Tanah Air. Betapa tidak, KM Sinar Bangun baru saja mengalami peristiwa tragis, dimana tenggelam setelah 30 menit bertolak dari Pelabuhan Simanindo di Pulau Samosir menuju ke Pelabuhan Tigaras di Simalungun. Akibat musibah yang terjadi pada 18 Juni ini mengakibatkan banyak korban meninggal dan ratusan lainnya belum ditemukan.

Baca juga: Punya Beragam Peran dan Spesifikasi, Inilah Jenis-Jenis Kapal RoRo

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa dari spesifikasinya, KM Sinar Bangun hanya mampu mengangkut beberapa kendaraan roda dua dan 43 penumpang. Namun pada hari tenggelamnya, kapal tersebut ternyata mengangkut 200 orang dan 60 motor alias melebihi kapasitas semestinya.

Sebagai kapal motor tradisional, KM Sinar Bangun lambungnya terbuat dari kayu dan di jalankan dengan mesin tempel yang biasa digunakan pada speed boat. Bobot kapal ini ditaksir mencapai 35 ton.

Sehingga bila mengangkut melebihi kapasitas semestinya, kapal ini juga sebenarnya tidak akan mampu. Apalagi jika faktor cuaca tidak mendukung seperti ada badai atau gelombang tinggi, dengan kapasitas 43 orang kapal ini pun bisa terombang ambing

Kapal kayu tersebut memiliki dua lantai, di bagian bawah penumpang bisa duduk di bagian dalam kapal dan motor yang dibawa biasanya diletakkan di pinggir kanan, kiri dan bagian depan. Tak hanya itu, di bagain dek atas juga penumpang bisa duduk sembari menikmati pemandangan Danau Toba.

Kapal motor ini pun saat berlayar tidak menggunakan kecepatan tinggi. Sebab KM ini biasanya juga digunakan sebagai kapal wisata para pelancong yang akan menyeberang dari Parapat, Simalungun dan beberapa pelabuhan lainnya untuk menuju ke Pulau Samosir atau sebaliknya. Pemilik kapal motor Sinar Bangun ialah Tua Sagala.

Kapal motor seperti KM Sinar Bangun sebenarnya bisa dijumpai di dermaga-dermaga pinggiran Danau Toba seperti Ambarita, Ajibata, Simanindo, Tigaras dan Muara. Kapal-kapal ini banyak dan bersandar menanti pelancong yang akan menyeberang ke Pulau Samosir untuk menikmati destinasi yang ada.

Bentuknya pun sama dibuat dengan kayu untuk bodi kapal dan mesin tempel yang digunakan untuk menjalankannya. Namun, sayangnya bila musim liburan tiba atau saat pesta Danau Toba, kapal seperti ini semakin banyak bermunculan dan mengangkut melebihi kapasitas semestinya.

Baca juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Meski dilengkapi dengan life jaket, tetapi bila melebihi kapasitas atau muatan kapal motor ini pun bisa dikatakan tidak aman. KM Sinar Bangun sendiri tenggelam di Danau Toba yang merupakan danau alam besar yang terjadi dari letusan gunung super vulkano pada 73 ribu-75 ribu tahun yang lalu.

Danau Toba memiliki panjang sekitar 100 km dan lebar 30 km dengan kedalamanan hingga 505 meter. Menjadi danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara serta memiliki sebuah pulau Vulkanik yang bernema Pulau Samosir.

Lukisan Dinding Ramaikan 100 Stasiun di India

Sebagai titik bertemunya orang dalam jumlah besar, maka wajar bila pra sarana transportasi seperti stasiun dibekali dengan berbagai fasilitas pendukung dan cita rasa unik, seperti ada stasiun kereta di Tokyo, Jepang yang dilengkapi museum. Masih dalam rangkaian cerita unik tentang stasiun, di India kini beberapa stasiun dilengkapi dengan lukisan-lukisan yang menghiasi dinding.

Diketahui ada 100 stasiun yang temboknya dibalut dengan lukisan berskala besar dengan beberapa ukuran. Proses ini dimulai pada Desember 2017 dimana kementerian mengadakan kompetisi untuk membuat lukisan pada stasiun. Ada 62 stasiun dari 11 zona kereta yang berpartisipasi dan pemenang diputuskan oleh dua Direktur Eksekutif kementerian, Kepala departemen dari South Central Rail dan pejabat dari Northeast Frontier Railway.

Baca juga: Jungfraujoch, Stasiun Tertinggi di Eropa yang Sajikan ‘Lukisan’

KabarPenumpang.com merangkum dari laman indianexpress.com (31/5/2018), dari ke 62 stasiun tersebut tidak semua bisa memenangkannya. Ada kriteria yang utama selain lukisan dengan skala besar, penekanan pada seni lokal pun menjadi hal terpenting yang tidak bisa dilupakan.

Pemenang dari lukisan skala besar untuk menghiasi stasiun yakni pemenang pertama ada stasiun Ballarshah dan Chandrapur Central Railway, urutan kedua stasiun Madhubani Bihar dan Madurai of Southern Railway. Untuk pemenang ketiga yakni stasiun Kota West Central Railway, Gandhidgam Barat dan South Central Railways.

Adanya seni pada stasiun sebenarnya sudah dimulai dari operator kereta api Eropa yang memiliki kebijakan rasio seni. Dimana 0,5 hingga satu persen dari anggaran pembangunan stasiun untuk menghadirkan seni.

Meskipun di India baru saja bangun untuk memungkinkan integrasi ruang publik dengan seni, ternyata Kolkata Metro sudah melakukannya pada tahun 1980-an. Karya pematung terkenal seperti Alo Dutta telah menghiasi stasiun bawah tanahnya.

Tak hanya itu lukisan patachitra sudah menutupi dinding staisun Kalighat di Kolkata Selatan. Apalagi di sana diketahui secara tradisional merupakan pemukiman para seniman-seniman itu.

Bahkan di stasiun Rabindra Sadan ada ruang mural yang berisi puisi dan seni lainnya. Pada Oktober 2016 lalu, jaringan kereta api pinggiran kota Mumbai ada 36 stasiun yang dicat untuk memperbaharui stasiun.

Baca juga: Antre di Stasiun ini Dijamin Bikin Anda Betah Berlama-lama!

Hal ini membuat dua LSM, Mumbai First dan Making a Difference, mengumpulkan 25 ribu relawan dan seniman dari sekolah seni dan perguruan tinggi untuk melukis sepanjang waktu selama tujuh hari untuk mengubah stasiun pinggiran kota Mumbai, sementara perusahaan cat mensponsori bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan mereka.

 

Fasilitas Pertumbuhan Penumpang, Bandara Global Bakal Terapkan Teknologi Biometrik

Teknologi terus berkembang setiap harinya dan memberikan hal-hal baru bagi dunia khususnya industri bandara dunia. Perkembangan teknologi yang kian pesat ini biasanya untuk membantu mendorong dan memfasilitasi pertumbuhan bandara.

Baca juga: Akuarium Virtual Pemindai Wajah Sapa Calon Penumpang di Bandara Dubai

Salah satu konsultan yakni Frost & Sullivan mengatakan biometrik adalah teknologi invonasi yang menjadi salah satu kunci dalam upaya tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari laman findbiometrics.com (4/6/2018), bahwa laporan dari Frost & Sullivan memprediksi tahun 2023 mendatang, pembelanjaan teknologi inovatif bandara akan mencapai US$4,63 miliar setara dengan Rp64,2 triliun.

Ini juga didorong dengan adanya pertumbuhan lalu lintas penumpang dan hambatan pada kapasitas. Pertumbuhan infrastruktur tradisional yang masih banyak digunakan oleh bandara global tidak lagi dapat mengimbangi dengan pertumbuhan penumpang tersebut.

Seperti di Eropa dimana kini mencari solusi teknologi untuk meningkatkan efisiensi. Sedangkan di kawasan Asia Pasific, sudah banyak bandara yang berusaha meningkatkan diri dengan teknologi baru yang menarik.

Adapun teknologi teranyar yang berada di posisi teratas untuk solusi bandara global yakni biometrik, blockchain, analitik data dan kecerdasan buatan. Dari berbagai solusi ini sudah mulai terlihat jelas, terutama biometrik.

Bandara-bandara yang ada di Amerika Serikat kini merangkul pembuat biometrik penumpang bersama dengan otoritas perbatasan yang berusaha meningkatkan keamanan. Sedangkan di Eropa dan bandara Inggris, contohnya bandara Gatwick menghadirkan pengumuman tentang end-to-end yakni sistem pemrosesan penumpang biometrik.

Sementara itu, Bandara Changi Singapura telah menghadirkan kecanggihan teknologinya dalam pengenalan skrining biometrik pada penumpang. World Travel & Tourism Council belakangan ini hadir sebagai pendukung teknologi biometrik yang terang-terangan sebagai sarana untuk memfasilitasi tren pertumbuhan yang tidak terkendali.

Baca juga: Tak Hanya di Imigrasi Bandara, Restoran Cepat Saji Mulai Adopsi Pemindai Wajah Untuk Pemesanan

Renjit Benjamin seorang analis Frost & Sullivan menjelaskan ini semua memberikan peluang lebih lanjut bagi pemain di bidang teknologi inovatif dan keamanan digital dalam ringkasan bahwa transisi ke infrastruktur berbasis data akan ada investasi besar dalam analitik data, penyimpanan, produk dan layanan keamanan.

“Itu menunjukkan teknologi biometrik akan semakin digunakan, tidak hanya untuk pemrosesan penumpang tetapi juga untuk kemanan data bandara,” kata Benjamin.