Bergurau Soal Bom, Penumpang Lion Air (Kembali) Digelandang Petugas Keamanan Bandara

Belum genap dua minggu, maskapai Lion Air kembali mengalami problem delay yang diakibatkan oleh isu dan ancaman bom. Pada 2 Mei 2018, pesawat Lion Air PK-LYJ dengan nomer penerbangan JT-120 rute Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung, mengalami delay dua jam akibat adanya informasi bom yang disampaikan salah satu penumpangnya, maka pada 12 Mei 2018, Lion Air PK-LOR dengan nomer penerbangan JT-618 rute Soekarno-Hatta ke Pangkalpinang juga mengalami delay akibat hal yang serupa.

Baca juga: Akibat Ancaman Bom, Lion Air JT120 Alami Delay Selama Dua Jam

Dikutip dari siaran pers Lion Air yang diterima KabarPenumpang.com (13/5/2018), Lion Air PK-LOR yang menggunakan pesawat Boeing 737-800NG dinyatakan delay dikarenakan gurauan bom (bomb joke) yang bersumber dari (ZN), seorang penumpang laki-laki yang ketika dalam proses masuk ke pesawat (boarding), ZN menyebutkan kata “BOM” ke salah satu awak kabin (flight attendant/FA).

Dalam menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan, pilot beserta seluruh kru berkoordinasi dengan menjalankan prosedur tindakan menurut standar penanganan ancaman bom (standard security bomb threat procedures).

Akibat ulah ZN, seluruh 148 penumpang dewasa, dua bayi, barang bawaan serta berikut bagasinya, harus melalui tahapan pengecekan ulang kembali (screening). Dengan kerjasama yang baik di antara awak pesawat, petugas layanan di darat (ground handling) dan petugas keamanan (aviation security/ avsec), maka proses pemeriksaan diselesaikan secara teliti, tepat dan benar.

Hasilnya adalah tidak ditemukan barang bukti berupa bom dan benda lain yang mencurigakan, yang dapat berpotensi mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan.

Sesuai prosedur atas sikap penumpang itu, Lion Air menurunkan (offload) ZN dan rombongan yang berjumlah empat orang beserta 10 bagasi dari JT 618. ZN harus menjalani pengamanan dan proses penyelidikan lebih lanjut di avsec airlines. Kemudian Lion Air menyerahkan mereka ke avsec Angkasa Pura II cabang Soekarno-Hatta, otoritas bandar udara serta pihak berwenang.

Lion Air JT 618 telah diberangkatkan dengan jadwal terbaru pukul 16.40 WIB dari jadwal penerbangan semula pukul 15.50 WIB dan telah mendarat di Pangkalpinang pada 17.40 WIB.

Lion Air menginformasikan, kejadian tersebut mengakibatkan keterlambatan dan penundaan terbang dari Pangkalpinang ke Cengkareng dan Cengkareng menuju Bandar Udara Radin Inten II, Tanjung Karang, Lampung (TKG). Lion Air akan meminimalisir dampak yang timbul, agar jaringan penerbangan Lion Air lainnya tidak terganggu.

Baca juga: Lion Air Group Jadi 5 Maskapai Teratas Pembawa Penumpang Terbanyak ke Singapura

Otoritas penebangan menghimbau dan menegaskan kepada seluruh pelanggan maupun publik/ masyarakat untuk tidak menyampaikan informasi palsu, bergurau/ bercanda, atau mengaku bawa bom di bandar udara dan di pesawat. Mengacu pada Pasal 437 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (UU Penerbangan), semua yang terkait informasi bom baik sungguhan atau bohong akan diproses dan ada sanksi tegas oleh pihak berwajib.

Napak Tilas Jalur Madiun-Ponorogo. Dulu Primadona, Sekarang Menebar Dilema

Padatnya jalur darat yang menghubungkan Madiun – Ponorogo membuat Daerah Operasi (Daops) 7 PT KAI Kota Madiun berencana untuk menghidupkan kembali jalur kereta yang membentang di antara dua kota di Jawa Timur tersebut. Sayangnya, upaya tersebut tidaklah semudah membalikan telapak tangan, karena pada sebagian titik, area yang semula diduduki oleh rel kereta kini sudah bertransformasi menjadi pemukian warga.

Baca Juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Opsi memperlebar ruas jalan pun dinilai tidak terlalu ampuh karena dipastikan akan memakan dana yang sangat besar. Hadirnya spekulasi ini pada tahun 2016 silam sempat membuat warga yang tinggal di sekitaran sana bahagia. Selain dipercaya dapat menjadi alternatif transportasi baru bagi kedua kota, hadirnya jalur ini dipercaya dapat menjadi magnet wisata sendiri yang siap menyaring para wisatawan.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, jalur kereta yang didirikan pada tahun 1907 di bawah kekuasaan Staats Spoorwegen (SS) ini memiliki panjang kurang lebih 32 km. Moda transportasi yang sempat menjadi andalan warga di sana pun seolah menjadi saksi bisu dari perkembangan dua kota yang mayoritas bermata-pencaharian sebagai pedagang ini.

Jalur kerea Madiun – Ponorogo masih menjadi primadona hingga periode 1970an, tepat beberapa saat sebelum perkembangan di sektor transportasi mulai merambah. Hingga pada akhirnya popularitas dari jalur ini kian meredup dan menemui masa pensiunnya. Tahun 1984 menjadi perjumpaan terakhir sang armada dengan para penumpang setianya.

Lebih dari 30 tahun jalur ini sudah tidak beroperasi, menyisakan kenangan dan beberapa situs yang kini mulai terkontaminasi peradaban. Tidak banyak jejak sejarah yang mampu digali dari jalur kereta ini. Jangankan keberadaan rel, bangunan eks stasiun tempat transit penumpang saja sudah mulai beralih fungsi menjadi pertokoan.

Eks Stasiun Sleko. Sumber: istimewa

Sebut saja Stasiun Sleko yang berada di salah satu sudut Kota Madiun, yang kini sudah berubah menjadi rumah makan dan pusat hiburan karaoke. Seorang pengayuh becak di sana mengaku amat menyayangkan perombakan besar-besaran terhadap bangunan stasiun.

Baca Juga: Landas Pacu di Bandara ini ‘Dipotong’ oleh Jalur Kereta!

“Dulu saya sering naik kereta dari stasiun ini, dan kini sudah berubah menjadi pertokoan, amat disayangkan,” tutur Sayeran, sang pengayuhbecak berusia 50 tahun. Ia yang masih ingat betul kenangannya semasa kecil mengaku lebih sedih ketika mengetahui pertokoan tersebut sudah memasuki masa bangkrut. “Bangunan pertokoan ini sekarang malah sudah tidak digunakan.” ucapnya dikutip dari laman okezone.com.

Singapura Uji Coba Sistem Blind Spot Pada 20 Bus

Pada 16 April 2018 kemarin, Singapura memiliki sistem blind spot yang dipasang pada dua puluh bus umumnya. Sistem blind spot ini akan diuji selama enam bulan dan dibawah Land Transport Authority (LTA) atau Otoritas Transportasi darat Singapura.

Baca juga: Pelatihan Terhadap Pengemudi Bus Akan Meminimalisir Tingkat Kecelakaan

Sistem peringatan ini merupakan hasil buatan Singapore Technologies (ST) Kinetics. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (16/4/2018), sistem peringatan tersebut membantu untuk memperingatkan pengemudi bus kendaraan umum, pengendara sepeda dan pejalan kaki saat mendekati blind spot saat mereka berada di jalan.

Dua puluh bus ini merupakan milik empat operator bus umum di Singapura yakni Go-Ahead Singapura, SBS Transit, SMRT Corporation, dan Tower Transit Singapore. Sepuluh bus yang digunakan diantaranya tidak bertingkat dan sepuluh lainnya bertingkat.

Sistem ini disebut dengan Integrated Smart Advanced Warning Unit (I-SAW-U) yang terdiri dari empat kamera dan enam sensor yang dipasang pada bagian depan, belakang dan atas bus. Ketika sensor mendeteksi kendaraan, pengendara sepeda dan pejalan kaki yang mendekati bus, layar di ruang pengemudi akan membunyikan alarm dan menampilkan sinyal visual.

Dalam sistem tersebut, ada dua level peringatan yakni akan berwarna kuning dan merah. Ketika peringatan berwarna kuning berarti rintangan atau hambatan berjarak satu meter dari bus dan akan berwarna merah bila hambatan berjarak 500-800 meter dari bus.

Insinyur utama ST Kinetics, Lewis Tan mengatakan, bahwa sistem ini memungkinkan pengemudi untuk memperlambat kendaraan dan berhenti tepat waktu untuk mencegah tabrakan.

“Kami ingin memberi mereka kesadaran situasional yang lebih baik di sekitar kendaraan. Dengan itu, kami akan membantu untuk meningkatkan keselamatan pengemudi dan penumpang,” kata Tan.

Tan mengatakan, adanya sistem ini tidak dimaksudkan untuk menambah beban tugas pengemudi. Sebab dengan sistem ini akan melalui peringatan radio dan memungkinkan pengemudi mencegah terjadinya kecelakaan pada hambatan yang ditemuinya.

“Pengemudi bisa melakukan pemeriksaan cepat pada layar dan ini membantunya menemukan hambatan yang mengamcam tersebut,” jelas Tan.

Dia menambahkan, bahwa setidaknya 40 pengemudi dari empat operator bus tersebut telah dilatih untuk menggunakan sistem tersebut. Salah seorang pengemudi Go Ahead Singapore, Azman Tumin mengatakan, saat ini dirinya butuh untuk mempelajari cara menggunakan sistem tersbut dan dia tahu bahwa hal tersebut tidak sulit untuk menerapkannya.

Tumin sendiri diketahui telah dua kali menggunakan sistem tersebut dalam dua kesempatan saat dirinya mengemudi.

“Sangat mudah untuk menggunakan peralatan dan itu akan membantu kami memastikan keamanan mengemudi kami. Ini mengingatkan kita tentang beberapa rintangan berbahaya yang dapat kita hadapi,” kata Tumin.

Baca juga: Agar Tak Bikin Kecewa Penumpang, Bus Tingkat di London Hadirkan Monitor Sisa Kursi di Dek Atas

Tan menambahkan, bahwa hingga kini timnya masih bekerja untuk meningkatkan sistem peringatan I-SAW-U. Dia mengatakan dalam fase proyek sistem tersebut pihaknya masih mengumpulkan umpan balik dan data untuk meingkatkan sistem. Sehingga pihaknya masih terus memperbaiki sistem tersebut.

Uji coba konsep dari sistem ini sendiri didanai oleh LTA dan ST Kinetics. LTA mengatakan akan meninjau hasil uji coba sebelum melanjutkan ke hal berikutnya. Pihak berwenang menambahkan, mereka akan meningkatkan teknologi untuk keselamatan pengemudi dan penumpang.

Meski Kondang, Pantai Bondi di Sydney Tidak Terkoneksi Jaringan Kereta, Inilah Sebabnya!

Sebagai salah satu destinasi wisata yang hampir setiap waktu dipadati oleh wisawatan baik domestik maupun mancanegara, Pantai Bondi yang terletak di Sydney, Australia disinyalir sebagai pantai paling populer se-Benua Kangguru.

Dan sudah selayaknya destinasi wisata terpopuler semacam ini memiliki fasilitas transportasi penunjang yang cukup memadai, namun fakta berkata kebalikannya. Pantai Bondi tidak memiliki jalur kereta yang akan memudahkan mobilitas para wisatawan. Selain dengan kendaraan pribadi dan taksi, bagi wisatawan atau pelancong yang ingin ke Pantai Bondi memang dapat menggunakan akses angkutan massal, yakni bus dari Bondi Junction atau Central Business Districk.

Baca Juga: Wujudkan Mimpi, Pemilik Resor di Australia Hadirkan Kereta Bertenaga Sel Surya

Hadirnya bus yang akan mengangkut para wisawatan ini merupakan satu-satunya sarana transportasi yang beroperasi di sekitaran pantai. Sementara untuk jalur kereta, Bondi Junction merupakan yang paling dekat diantara lainnya, itupun terpisah jarak sekitar tiga kilometer dari area pantai. Kira-kira, apa yang melatarbelakangi pantai se-populer Bondi tidak memiliki stasiun kereta api? Sementara disisi lain, hampir setiap destinasi bisnis dan wisata di Sydney justru terkoneksi dengan jaringan kereta.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (4/5/2018), ada rentetan sejarah yang akhirnya menciptakan kondisi seperti saat ini di Pantai Bondi. Pada tahun 1920-an, Bapak Transportasi Modern Sydney, John Bradfield mengusulkan hadirnya jalur kereta api yang mengular di pesisir timur Australia menuju Pantai Bondi. Sayangnya, pada blueprint yang digagas, John tidak turut menyertakan jaringan kereta api masuk ke pesisir pantai.

Lalu pada tahun 1926, ketika semua persiapan pengadaan jalur sudah dirasa cukup dan memadai, penggerusan terowongan di St. James pun dimulai. Amat disayangkan, banyaknya faktor seperti pecahnya Perang Dunia II menjadikan proyek ini masuk ke dalam status mangkrak. Konstruksi dan segala hal yang berkaitan dengan pembangunan stasiun pun ditinggalkan untuk sementara waktu.

Rencana pembangunan (kembali) stasiun tahap kedua pun bergulir, tepatnya pada tahun 1947. Pelebaran jangkauan kereta pun diperpanjang hingga ke Pantai Bondi dan pengeboran terowongan di Central Station pun masuk ke dalam rencana tahap dua ini. Namun Perang Dunia II meninggalkan kondisi perekonomian yang tidak stabil. Alhasil, pemerintah pusat kehabisan dana dan proyek pengadaan jalur kereta ini kembali hanya sebatas rencana.

Baca Juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat

Terlepas dari gugatan warga sekitar yang menolak daerahnya ‘terkontaminasi’ jaringan perkeretaapian yang akan berdampak pada melonjaknya kepadatan Pantai Bondi, satu hal yang patut digarisbawahi adalah dari sejumlah destinasi wisata di Australia, hanya Pantai Bondilah yang tidak terkoneksi jaringan kereta bawah tanah.

Jendela Bagian Dalam Pesawat Lepas, Tiga Penumpang Cidera dan Lainnya Panik

Sebagai moda transportasi yang disebut paling aman, pesawat menjadi salah satu pilihan nyaman untuk bepergian baik kesebuah pulau, negara bahkan benua. Namun, bagaimana jika pintu dan jendela pada moda paling aman ini terbuka atau terlepas?

Baca juga: Mesin Meledak di Ketinggian 11.000 Meter, Southwest Airlines Mendarat Darurat di Philadelphia

Pada April 2018 kemarin, sebuah panel jendela pesawat lepas dari tempatnya selama penerbangan. Jendela ini milik maskapai India yakni Air India yang kala itu tengah terbang dari Amritsar ke Delhi pada 19 April 2018 lalu.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman abc.net.au (23/4/2018), bahwa sebelum lepasnya jendela tersebut pesawat Boeing 787 Dreamliner ini mengalami turbulensi lebih dari sepuluh menit. Turbulensi ini terjadi beberapa menit setelah pesawat take off dengan ketinggian mencapai 15 ribu kaki.

Kemudian akibat dari turbulensi tersebut, panel jendela bagian dalam terlepas dan melukai tiga orang penumpangnya. Sedangkan sebanyak 240 orang penumpang yang ada di dalam pesawat Air India berteriak-teriak ketakutan karena lepasnya jendela tersebut.

Dalam rekaman yang di dapat, untungnya seorang pramugari cepat tanggap dan mendorong panel jendela internal tersebut kembali ketempatnya dan meyakinkan penumpang untuk tetap tenang. Kemudian setelah mendarat di Delhi, ketiga penumpang tersebut langsung dibawa ke rumah sakit.

Seorang pejabat senior Air India mengatakan, satu penumpang menerima jahitan setelah jendela tersebut mengenai kepalanya. Sedangkan dua penumpang lainnya dirawat karena terkena cidera ringan.

“Ini adalah gejolak tingkat tinggi yang aneh. Air India dan Directorate General of Civil Aviation (DGCA) sedang menyelidiki,” ujar pejabat senior Air India.

Satu hari sebelumnya pesawat Southwest yang berangkat dari LaGuardia menuju Texas mesinnya tiba-tiba meledak diketinggian 38 ribu kaki. Kejadian ini sekitar pukul 11.20 waktu setempat dan menyebabkan seorang penumpangnya tewas.

Baca juga: Pintu Darurat Douglas MD-83 Lepas, Masih “Untung” Kejadian Saat Mendarat!

Insiden ini membuat seluruh penumpang ketakutan dan mau tak mau pesawat harus mendarat di Philadelphia. Pesawat Boeing 737-700 tersebut telah beroperasi sejak tahun 2000 tersebut baru saja dilakukan pemeriksaan beberapa hari sebelum pesawat itu terbang ke angkasa.

Pada Februari 2018 kemarin juga terjadi lepasnya pintu darurat pesawat Dana Airline yang terbang dari Lagos menuju Abuja di Nigeria. Pintu darurat pesawat Douglas MD-83 ini lepas ketika mednarat di Abuja dan sudah dalam keadaan tidak stabil selama penerbangan. Tak hanya itu, pintu darurat ini pun terlihat tidak terpasang dengan benar sebelum lepas landas dari Lagos.

University of Hong Kong Patenkan Teknologi Pembeda Ketinggian Pada Sistem GPS

Pernahkah Anda berkendara di sebuah jalan layang dimana jalan utamanya terletak persis di bawahnya? Jika di Jakarta, Anda bisa menemukan jalanan seperti ini di Jalan Layang Non-Tol (JLNT) yang menghubungkan Kampung Melayu dan Tanah Abang, dan beberapa jalur lainnya. Nah, jalan-jalan seperti ini akan nampak membingungkan jika Anda melihatnya dari Global Positioning System (GPS).

Baca Juga: Penggunaan GPS Diperdebatkan, Inilah Tips Aman Menggunakannya!

Bagi Anda yang pernah menggunakan GPS dan melewati jalan layang seperti yang sudah dijabarkan di atas, maka kemungkinan besar Anda pernah merasa kebingungan, “Apakah jalan yang ditunjukkan oleh GPS ini berada di lajur atas atau bawah?” Beruntung jika Anda berada di lajur yang benar, lalu bagaimana jadinya jika Anda berada di lajur yang salah? Tentu Anda harusmulai memikirkan jalan lain untuk sampai ke tujuan.

Nah, untungnya, sistem navigasi baru yang dirancang oleh Hong Kong University mampu mencegah pengemudi menempuh jalur yang salah. Diwartakan KabarPenumpang dari laman newatlas.com (9/5/2018), inovasi ini dikenal dengan nama Angle Difference Method yang dikembangkan oleh Prof. Anthony Yeh Gar-On.

Cara kerja inovasi ini pun bisa dibilang tidak terlalu rumit. Anda cukup menghubungkan gadget Anda (yang memiliki aplikasi navigasi) ke perangkat diagnostik internal onboard via Bluetooth. Tata letak penyimpanan gadget pun tidak akan mempengaruhi kalibrasi yang akan dilakukan oleh perangkat inovatif ini, karena Angle Difference Method akan membaca permukaan tempat mobil parkir, dan mengkompensasikannya.

Ketika mobil memasuki jalan di atas jalan layang, sistem secara otomatis mendeteksi perubahan kemiringan yang terjadi kendaraan. Hasilnya akan dikirim ke perangkat diagnostik dan diterjemahkan menjadi sebuah informasi yang menandai jalan mana yang ditempuh via gadget Anda.

Baca Juga: Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak

Jika pengemudi salah memilih jalan, maka aplikasi ini akna secara langsung memberi peringatan. “Penemuan ini sangat inovatif, sederhana, dan murah untuk menangani masalah yang sudah lama ada di sistem navigasi, dan belum ada yang memikirkan solusinya,” tutur Prof. Anthony. “Selanjutnya tim akan kembali mengembangkan sistem ini untuk mobil otomatis,” tandasnya.

Guna mengamankan penemuannya dari tindakan pembajakan, pihak universitas telah mematenkan temuan tersebut dan kini diketahui tengah mencari mitra yang tertarik untuk mengkomersilkannya.

Bandara Internasional Dubai Buka Tur Keliling Kota, Pemerintah Siapkan Visa Transit

Menjadi salah satu hub transit terbesar dan tersibuk di dunia, Bandara Internasional Dubai setiap tahunnya memiliki 50 juta penumpang transit per tahunnya. Tahun lalu diketahui sebesar 70 persen penumpang di bandara Dubai merupakan penumpang transit bukan yang akan melancong di negara Uni Emirat Arab tersebut.

Baca juga: Wow! Tujuh Bandara Ini Punya Fasilitas Tur Gratis

Hal ini membuat bandara Dubai membuat proposal terkait pengalaman para pelancong yang transit lebih dari empat jam untuk merasakan keindahan kota Dubai meski dalam waktu singkat. Adanya keinginan ini seperti di beberapa bandara yakni salah satunya Singapura yang memberikan tour atau perjalanan singkat di negara tersebut selama pelancong menunggu.

KabarPenumpang.com melansir dari laman gulfbusiness.com (8/5/2018), proyek ini bernama Microcosm of Dubai dimana ini merupakan bagian dari Dubai 10X Initiative dan berada dibawah pengawasan Dubai Future Foundation. Kerja sama ini nantinya akan memberikan pengalaman pelancong transit baik untuk menikmati bandara Dubai maupun daerah di luar bandara.

Inisiatif ini juga hadir untuk mencakup peluang bagi penumpang yang memiliki waktu transit kurang dari empat jam agar mengeksplorasi apa yang ditawarkan kota Dubai melalui realitas virtual interaktif dan tampilan budaya di bandara. CEO Bandara Dubai, Paul Griffiths mengatakan, dengan adanya ini pihak maskapai perlu membuang pemikiran masa lalu dan harus terlibat lebih baik dengan para pelancong melalui proyek tersebut.

Proyek Microcosm of Dubai sendiri memungkinkan ratusan ribu penumpang yang melakukan perjalanan melalui bandara Dubai memiliki pengalaman yang baru.

“Jika mereka memiliki waktu transit melebihi empat jam, pelancong akan memiliki pilihan untuk tur ke kota Dubai,” ujar Paul.

Baca juga: Saking Nyamannya, 9 Bandara Ini Buat Penunjungnya Lupa Pulang

Bulan April lalu, Dewan Kementerian UEA sudah menyetujui pembentukan komite sementara untuk menyiapkan kebijakan visa transit di negara itu. Nantinya dengan visa transit ini, para pelancong bisa terhubung dengan kota Dubai alias bisa meninggalkan bandara sementara sambil menunggu keberangkatan pesawat.

Sebelum adanya proyek ini, pengalaman para penumpang hanya terbatas di bandara dengan sekedar berbelanja makanan dan barang-barang yang dijual ritel bandara. Rata-rata pengeluaran mereka di bandara Dubai hanya sekitar 9 AED atau setara dengan Rp34 ribu, sedangkan pengeluaran pelancong di kota Dubai adalah 966 AED atau sekitar Rp3,7 juta.

Mesin Tiket Otomatis Tak Berfungsi, Penumpang Kereta di Chennai Harus Antre

Bencana bisa muncul dimana saja, tak terkecuali di stasiun kereta api, seperti terjadi di India baru-baru ini saat vending machine atau mesin tiket otomatis tidak berfungsi mengeluarkan tiket. Apalagi hal tersebut harus terjadi disaat jam sibuk dan menjadi bencana serta cobaan bagi para penumpang.

Baca juga:  Tiket Kereta Murah ala Cross Country Trains? Ini Triknya!

KabarPenumpang.com melansir dari laman newindianexpress.com (8/5/2018), bahwa sebuah mesin tiket otomatis di Chennai Moore Market Complex (MMC) mati sehingga banyak penumpang yang memesan tiket kertas melalui aplikasi seluler Unreserved Ticketing System on Mobile (UTS) tidak bisa mendapatkan tiket mereka. Hal ini dikarenakan saat akan melakukan penukaran tiket, mesin selalu gagal mengeluarkannya.

Tak hanya itu, sebagian besar penumpang lainnya mau tak mau harus kembali mengantre untuk mendapatkan tiket mereka dengan membeli manual di loket. Sebenarnya, aplikasi UTS tersebut dibuat untuk mengurangi kesulitan penumpang saat akan membeli tiket di pinggiran kota dan tiket cepat pada jam sibuk.

ilustrasi penumpang saat akan mencetak tiket di mesin otomatis (www.newindianexpress.com)

Aplikasi ini sendiri diluncurkan oleh Southern Railway (SR) pada 2015 lalu. UTS sendiri menyediakan opsi pembelian tiket tanpa kertas atau menggunakan kertas dan penumpang yang memilih tiket tanpa kertas harus menunjukkan ponsel mereka di pemeriksaan tiket.

Sedangkan pengguna tiket kertas harus mencetaknya pada mesin otomatis penjualan tiket di stasiun atau mobile ticket vending machines (MTVM). Aplikasi ini sendiri mendapat tanggapan luar biasa dari sebagaian pelancong yang berasal dari pinggiran kota, karena mereka tak harus mencetak tiket kertas.

Permasalahannya adalah saat penumpang memilih untuk mencetak tiket mereka yang di pesan melalui aplikasi. Saat akan mencetak tiket, ternyata enam mesin penjual tiket otomatis yang ada di MMC sudah tidak berfungsi beberapa hari dan gangguan yang terjadi pada UTS sendiri membuat kesengsaraan penumpang bertambah.

Seorang penumpang S Gopal dari Thiruvallur yang memesan tiket dari Chennai ke Avadi mengatakan, dirinya terpaksa mengikhlaskan uang tiketnya karena mesin yang tak berfungsi saat akan mencetak tiket tersebut.

“Setelah saya memasukkan rincian tiket di MTVM, saya tidak mendapatkan apapun untuk sementara waktu dan kemudian tertulis menerima kesalahan pesan. Saat ini saya bertanya kepada petugas stasiun dan saya diminta untuk menunjukkan rincian tiket ke petugas di loket setelah menunggu dalam antrean, petugas mengatakan tiket dalam proses,” ujar Gopal.

Dia mengaku sempat mempermasalahkan hal tersebut dan petugas meminta dirinya menunggu 15 menit selama petugas membuka mesin untuk memverifikasi tiket. Sayangnya, Gopal saat itu menolak dan membeli tiket baru di loket. Tak hanya Gopal, penumpang kereta api lainnya pun banyak juga yang kecewa saat tiket mereka tidak keluar dari mesin.

Baca juga: Tap Ponsel Pintar, Satu Detik Masuk Stasiun Tanpa Antri Tiket

“Saya berlari ke loket untuk mendapatkan kereta Katpadi setelah 20 menit mesin cetak tiket gagal mengeluarkan tiket. Kami tidak bisa mengandalkan tiket tanpa kertas di ponsel. Seandainya saya membeli tiket melalui loket, saya akan mendapat tiket dalam waktu singkat,” ujar R Rajendra.

Terkait masalah tak mencetaknya mesin otmatis, pihak SR mengatakan, masalah tersebut sudah ditangani departemen terkait untuk diperbaiki dan mesin akan bisa kembali digunakan.

Glasgow Queen Street, Ternyata Salah Satu Stasiun Tidak Menarik di Inggris

Asal muasal jaringan kereta di dunia bermula dari Inggris, maka wajar jika sejarah perkeretaapian di Inggris amat kental dengan perkembangan beragam jenis kereta dan stasiun sebagai infrastruktur pendukung. Namun ternyata, tidak semua stasiun di Inggris adalah tempat yang menarik untuk di datangi dalam memudahkan perjalanan penumpang.

Baca juga: Menyoal Kepadatan Penumpang Kereta di Inggris, Desainer ini Adopsi Konsep Kursi Bar dan Jemuran

Glasgow Queen Street adalah salah satu stasiun yang paling tidak populer di Inggris menurut data baru-baru ini. Setidaknya ada 58 persen penumpang yang mengatakan puas dengan pelayanan Glas Queen Street dari hasil survei yang dilakukan pengawas kereta independen Transport Focus.

KabarPenumpang.com melansir dari laman telegraph.co.uk (7/5/2018), hasil tersebut didapat Transport Focus setelah mensurvei lebih dari 28 ribu penumpang dengan 56 stasiun. Survei ini sendiri dilakukan pada bulan September dan November 2017 tak lama setelah proyek modernisasi senilai £100 juta atau sekitar Rp1,9 miliar dimulai di Glasgow Queen Street.

Penasihat penjualan dari Stirling, Cameron MacIntosh mengatakan, stasiun ini seperti situs bom mutlak sekarang dan benar-benar terlihat seperti dunia ketiga. Tak hanya itu seorang teknisi bernama John McInnes mengatakan, dirinya berharap pemeritah akan menyelesaikan stasiun ini karena terlihat seperti bencana baru.

“Memalukan membawa teman atau relasi ke sini. Mereka tidak dapat mempercayai kekacauan tempat ini,” ujar McInnes.

Lain lagi dengan Margaret McGinley seorang resepsionis yang mengatakan, stasiun tersebut akan terlihat buruk untuk sementara waktu. Tetapi dirinya berpikir ini akan menakjubkan ketika renovasi selesai dikerjakan.

Sedangkan menurut Transport Focus, prioritas utama penumpang pada stasiun yang dikunjunginya adalah terkait masalah informasi kedatangan kereta, ruang tunggu, tampilan stasiun secara keseluruhan dan nuansa di stasiun itu sendiri. Tak hanya Glasgow Queen Street, di tempat kedua adalah stasiun yang melayani bandara Gatwick kemudian Oxford dan Clapham Junction.

Untuk Gatwick sendiri nilai kepuasannya hanya 66 persen, Oxford 67 persen dan Clapham Junction 69 persen. Selain itu ternyata Glasgow Queen Street merupakan stasiun tersibuk ketiga di Skotlandia dan menangani sekitar 20 juta penumpang per tahunnya.

Nantinya setelah direnovasi, pihak pemerintah berharap stasiun ini mampu melayani 28 juta penumpang pada 2030 mendatang. Berdasarkan rencana yang sudah disusun, stasiun ini akan selesai pembangunan dan renovasi pada Juni 2019 mendatang.

Baca juga: Mudahkan Penumpang Cari Kursi Kosong, Mulai September 2018 Kereta Komuter Inggris Gunakan Sensor

“Sementara Glasgow Queen Street sedang dibangun kembali penting bahwa Aliansi ScotRail terus berbicara dengan penumpang tentang perbaikan dan memastikan staf siap untuk membantu,” ujar kepala eksekutif Transport Focus Anthony Smith.

Diketahui, bukan hanya stasiun yang buruk tetapi ada juga stasiun yang memiliki kepuasan tertinggi. Empat stasiun teratas tersebut adalah London King’s Cross, London St Pancras, Birmingham New Street dan Reading, yang semuanya memiliki peringkat kepuasan di atas 90 persen.

Tas Berikut Isinya Rusak, Penumpang Qantas Rugi Hingga Rp30,5 Juta

Seorang penumpang mengklaim tasnya rusak dan seluruh isi yang ada didalamnya hancur pada liburan Paskah lalu. Diduga tas itu rusak karena terjatuh dari mobil pembawa kendaraan barang-barang kargo pesawat sebelum ke klaim bagasi di bandara.

Baca juga: Koper Dirusak Oknum Tidak Dikenal, Penumpang ini Sebut Bandara I Gusti Ngurah Rai Jadi Lokasi Perusakkan

KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (10/5/2018), bahwa Melissa Chung penumpang yang mengklaim tasnya rusak saat menggunakan pesawat Qantas dengan rute domestik dari Melbourne ke Perth. Insiden kerusakan tas yang berisikan pakaian, kosmetik dan laptop tersebut diperkirakan membuat Melissa rugi senilai £1600 atau sekitar Rp30,5 juta.

Hal ini membuatnya tidak memiliki apa-apa dalam perjalanannya tersebut. Kemudian sebulan setelah kejadian itu, dia pun masih berjuang untuk mendapatkan respon dari Qantas. Sayangnya, perusahaan penerbangan Australia tersebut menolak memberikan kompensai untuk laptop dan kosmetik tersebut.

“Saya berharap ada penyelesaian yang baik. Apa gunanya terbang dengan Qantas dibanding maskapai berbiaya rendah lain ketika pelayanan pelanggang mengerikan seperti ini?” ujar Melissa.

Melissa mengatakan, tasnya berada di dalam kantong plastik besar saat di claim bagasi. Saat dia mengambilnya ternyata semua dalam keadaan tak utuh lagi seperti tersangkut di bawah roda.

“Gaun dan pakaian robek dengan kondisi tas compang-camping dan hampir tidak utuh. Laptop saya pun hancur, kosmetik yang ada didalam tas pun rusak,” jelasnya.

Saat melakukan klaim awal, staf Qantas mengatakan untuk mengambil asuransi, namun Melissa tidak mengambil asuransi dikarenakan penerbangan domestik. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan barangnya asuransi bisa mengklaim hal tersebut.

“Staf Qantas di Perth tidak terlalu membantu dan berkata saya harus mengklain pada asuransi. Tetapi saya gunakan penerbangan domestik sehingga tidak memiliki asuansi. Saya pikir tidak masuk akal untuk mengharapkan orang-orang memiliki asuransi perjalanan untuk penerbangan domestik. Mereka telah meminta saya untuk memberikan kwitansi asli untuk tas itu, tetapi saya tidak membawa dan mereka mengatakan bahwa mereka sedang memeriksanya sehingga dapat diperbaiki, yang menurut saya merupakan tekanan besar karena sudah rusak,” kata Melissa.

Baca juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya

Melissa sempat diberitahu jika Qantas tidak akan bertanggung jawab atas laptonya, karena tidak diperbolehkan di dalam bagasi. Kebijakan tersebut juga mengingatkan agar penumpang tidak mengemas barang mereka yang rapuh dan mudah rusak, barang berharga seperti uang, perhiasan, dokumen berharga atau bisnis serta peralatan elektronik tidak dimasukkan dalam bagasi kargo.

Juru bicara Qantas mengatakan terkait hal klaim kerusakan barang yang di alami Melissa, pihaknya akan menyelidiki kerusakan tersebut. “Kami menyesal tentang kerusakan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” ujar juru bicara tersebut.