Spektakuler! Penumpang Ini Jemur Celana Dalam di Pendingin Kabin Pesawat

Kelakuan manusia makin lama kian tak masuk akal, termasuk baru-baru ini yang menghebohkan adalah ulah seorang penumpang Ural Airlines. Penumpang perempuan tersebut tertangkap dalam sebuah video dimana dirinya sedang mengeringkan celana dalam di pendingin udara tepat diatas tempat duduknya.

Baca juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina

Saat itu diketahui dalam video yang viral di media sosial, penumpang tersebut sedang berada dalam penerbangan dari Antalya, Turki menuju ke Moskow, Rusia. KabarPenumpang.com melansir dari laman ladbible.com (20/2/2018), perempuan tersebut mengangkat celana dalam keatas kepalanya agar terkena angin dari hembusan udara pendingin (AC) selama kurang lebih 20 menit.

Sayangnya, penumpang pesawat lain yang melihat kejadian itu sama sekali tidak menggubris ataupun menegur perempuan tersebut justru malahan mereka mem-videokan kelakuan perempuan itu. Saksi mata yang melihat kejadian mengatakan, perempuan tersebut tampak tak malu saat menggoyang-goyangkan celana dalam di bawah lubang pendingin tersebut.

Karena dianggap menarik, penumpang lain juga hanya bisa terkejut saat melihat teknik mengeringkan celana dalam perempuan tersebut. “Semua orang amat terkejut melihat pemandangan itu tetapi mereka memilih diam tak berkomentar,” ujar salah seorang penumpang.

Beberapa penumpang lainnya menduga perempuan tersebut merupakan seorang ibu yang mengeringkan celana dalam milik anaknya yang basah terkena air di dalam pesawat. “Celana itu bukan milik orang dewasa, itu milik anak-anak,” komentar seorang warganet yang melihat video tersebut.

Warganet lainnya mengatakan, perempuan tersebut sangat bodoh dan sedihnya separuh penduduk negeri ini sama seperti perempuan itu. Kelakuan ini mengingatkan pada seorang penumpang pesawat yang tidak malu melepaskan celananya.

Penumpang pria tersebut melepas sepatu dan celana panjangnya hingga menyisakan celana pendek atau boxer saja, kemudian menaikkan kakinya ke atas dinding kabin. Bahkan pria tersebut tidak segan dan malu terhadap penumpang yang berada di sebelahnya.

Baca juga: Tanpa Rasa Malu, Penumpang Ini Lepas Celana di Dalam Kabin Pesawat

Penumpang lain yang ada disebelahnya tidak bisa melewati pria tersebut saat hendak ke toilet dan memanggil awak kabin. Kemudian awak kabin meminta agar kaki pria tersebut di turunkan. Tetapi saat menurunkan kaki dia hanya menunduk selama 40 detik dan kemudian menaikkan kakinya kembali.

Beda Strategi Dengan Rival, Hyperloop Transportation Technology Utamakan Studi Lapangan

Lama tak tersiar kabar, Hyperloop Transportation Technologies (HTT) kini hadir bukan dengan pemberitaan uji coba skala penuh atau perkembangan fisik lainnya. Perusahaan penyedia jasa yang mengeksekusi ide brilian dari entrepreneur kelas kakap, Elon Musk ini lebih mengutamakan peninjauan dari berbagai aspeknya sehingga ketika pembangunannya, tidak menemukan masalah yang terkait regulasi.

Baca Juga: Hyperloop One Ganti Nama Setelah Virgin Group Tanam Saham

Berbeda dengan salah satu pesaing utamanya, Hyperloop One yang diketahui telah melakukan uji coba skala penuh di Gurun Nevada pada bulan Maret 2017 kemarin. Perusahaan yang berganti nama menjadi Virgin Hyperloop One setelah Virgin Group menanamkan sahamnya ini mampu meluncurkan armadanya hingga kecepatan 112 km per jam dalam uji coba tersebut. Tak ayal, banyak warganet yang percaya bahwa perkembangan Virgin Hyperloop One berada di atas angina.

Di sisi lain, HTT masih berkecimpung dengan studi  kelayakan yang mereka lakukan di berbagai negara, seperti Slowakia, Abu Dhabi, Perancis, India, Korea Selatan, dan Indonesia. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (16/2/2018), kabar terbaru menyebutkan bahwa startup HTT ini baru saja menandatangani sebuah kesepakatan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mulai menyelidiki sistem transportasi antar negara dengan menggunakan tabung  pertama di Amerika. Tabung ini nantinya akan menghubungkan Cleveland dan Chicago.

Dalam kerja sama ini, HTT bersinergi dengan Northern Ohio Areawide Coordinating Agency (NOACA) dan Illinois Department of Transportation (IDOT). Ketiga pihak ini telah mengidentifikasikan jalur-jalur potensial yang mampu dilewati oleh Hyperloop di masa yang akan datang. Salah satu yang paling potensial adalah memangkas estimasi perjalanan antara Cleveland dan Chicago menjadi  hanya setengah jam saja. Padahal, jika ditempuh melalui jalur darat, perjalanan antar dua kota ini memakan waktu perjalanan 5 jam 30 menit.

Baca Juga: Uji Coba Perdana, Hyperloop One Sukses Meluncur 112 Km Per Jam

Seperti yang sudah diketahui bersama, Hyperloop merupakan salah satu solusi transportasi yang menggunakan media tabung sebagai jalur mereka. Digalang-galang, moda transportasi yang menggunakan daya levitasi ini mampu melesat hingga kecepatan 1000 km per jam. Dengan kecepatan yang hampir menyaingi kecepatan pesawat Concorde ini, para penumpang bisa berkendara dari London menuju Edinburgh hanya dalam waktu 45 menit saja. Padahal, jarak yang membelah di antara dua kota beda negara ini mencapai 6670km!

Berawal dari Ketidaksengajaan, Kereta Komuter Ini Putarkan Alunan Lagu Klasik Selama Perjalanan!

Ada banyak ragam cara yang ditempuh oleh pihak penyedia jasa layanan transportasi guna meningkatkan pengalaman para penumpangnya. Jika di dunia aviasi dalam negeri, maskapai Citilink erat kaitannya dengan lontaran pantun yang dibawakan oleh awak kabin, lain halnya dengan perkeretaapian Jepang, Tokyo Metro Co.

Baca Juga: Tingkatkan Keselamatan, Jepang Luncurkan Pemindai QR Code di Peron Kereta Bawah Tanah

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (25/1/2018), layanan rapid transit system terkemuka dari  Negeri Sakura ini memulai eksperimen pemutaran lagu klasik di sebagian gerbong yang mereka operasikan. Tidak lain dan tidak bukan, tujuan dari pemutaran lagu ini adalah untuk meningkatkan pengalaman penumpang yang berkendara menggunakan Tokyo Metro Co. Adapun waktu uji coba ini dimulai sejak Senin (29/1/2018) kemarin.

Mengingat statusnya yang masih percobaan, maka tidak semua penumpang yang menggunakan layanan kereta bawah tanah ini dapat merasakan alunan musik klasik yang diputar oleh pihak operator. Alunan musik klasik ini hanya akan diputar di kereta seri 13000 yang baru diperkenalkan di Hibiya Line. “Kereta-kereta tersebut akan menghubungkan Naka – Meguro dan Kita – Senju,” tutur salah satu petugas Tokyo Metro Co.

Tidak semua jenis musik klasik akan diputar di kereta seri 13000 yang mulai beroperasi sejak Maret 2017 ini, pihak operator telah melakukan penyaringan terlebih dahulu guna memaksimalkan playlist dalam layanan tersebut. Tidak bisa dipungkiri, kereta seri 13000 ini memang terkenal memiliki sistem stereo yang ciamik.

Jika diperhatikan, hadirnya uji coba pemutaran musik klasik ini didasari oleh sebuah ketidaksengajaan. “Secara tidak sengaja konduktor kereta menyetel beberapa musik klasik melalui pengeras suara yang biasanya digunakan untuk menginformasikan sesuatu kepada para penumpang,” ujar juru bicara Metro Tokyo Co, Takahiro Yamaguchi. “Walaupun ini murni karena unsur ketidaksengajaan, namun respon penumpang yang mendengar lantunan musik tersebut sangatlah positif di media sosial, dan tidak sedikit dari mereka yang menikmatinya,” imbuhnya.

Baca Juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang

Berlandaskan pada antusias penumpang terhadap ketidaksengajaan tersebut, pihak operator lalu memutuskan untuk menguji coba pemutaran musik klasik ini. Tidak diketahui secara pasti kapan uji coba ini akan berakhir, namun menurut laman resmi Metro Tokyo Co, pemutaran musik di gerbong kereta ini merupakan yang pertama dalam sejarah perkeretaapian Jepang.

Phobia Pada Bayi, Penumpang Delta Airlines Mengamuk di Kabin

Terbang dan duduk disebelah bayi bukanlah masalah besar, bahkan sebagian orang senang jika ada bayi atau anak-anak di sebelah mereka. Tetapi banyak juga yang tidak menyukainya karena dianggap anak-anak dan bayi di anggap mengganggu, apalagi ketika mereka menangis.

Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini

Belum lama ini, seorang penumpang mengeluh harus duduk disebelah ibu dan bayinya dalam penerbangan Delta Airlines dari bandara Jhon F Kenedy menuju Syaracuse. Perempuan paruh baya tersebut tidak hanya mengeluh tetapi juga mengancam awak kabin sebelum pesawat lepas landas.

KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (14/2/2018), seorang ibu muda Marissa Rundell bepergian dengan bayinya, Mason yang berusia delapan bulan. Saat itu Marissa, bayinya dan seorang perempuan paruh baya duduk dibarisan yang sama di belakang pesawat.

Marissa Rundell dan purtany Mason (The Sun)

Kemudian, penumpang tersebut tiba-tiba marah dan berkata kasar serta mengeluhkan posisi duduknya yang berada di barisan belakang. Marissa mengatakan, perempuan yang ada disebelahnya adalah orang terakhir yang naik ke pesawat.

“Saya berada di barisan kedua dari belakang di pesawat, perempuan itu kembali kebelakang dan membanting tasnya. Dia berkata, ini sangat bodoh. Ini menyebalkan harus duduk di bagian belakang pesawat,” ujar Marissa menirukan ucapan perempuan tersebut.

Marissa sempat menegur perempuan tersebut agar tidak berkata kasar karena ada bayi di dekatnya. Tetapi bukannya berhenti, perempuan tersebut memaki dan mendorong Marissa. Melihat kejadian itu, seorang pramugari bernama Tabitha mendekat dan menenangkan perempuan paruh baya itu. Tabitha kemudian bertanya apa keluhan perempuan tersebut sehingga marah-marah dan mendorong penumpang lain.

Ternyata, penumpang tersebut mengaku tidak mau duduk disebelah bayi karena tak ingin privasinya terganggu dengan suara tangis, meskipun bayi itu tidak menangis sama sekali. Perempuan tersebut kemudian keluar dari tempat duduknya dan meminta maskapai untuk memberikan kursi baru, tetapi pramugari memintanya kembali duduk di kursinya.

Karena diminta kembali duduk di kursinya, perempuan tersebut semakin marah. Kemudian Tabitha menawarkan tempat duduk di penerbangan berikutnya tetapi ditolak dan membanting barang bawaannya di kursi.

Tak hanya itu, perempuan yang tak diketahui namanya tersebut bahkan mengancam Tabitha akan kehilangan pekerjaannya. Karena tidak terpengaruh ucapan perempuan tersebut, pramugari itu mengatakan agar perempuan tersebut keluar dari pesawat tetapi ditolaknya.

Penumpang tersebut kemudian meminta maaf dan mencoba berbicara baik-baik dengan Tabitha agar tidak dikeluarkan dari pesawat tetapi tak digubris. Tabitha kemudian memanggil petugas dan menjelaskan hal yang terjadi saat itu.  “Maaf saya benar-benar stres,” ujar perempuan tersebut ketika diminta turun dari pesawat.

Baca juga: Gara-Gara Kebelet Buang Air Kecil, Penumpang Diturunkan dari Pesawat

Meskipun drama minta maaf setelah di minta turun oleh petugas tak digubris, tetapi akhirnya petugas berhasil menurunkannya dari pesawat.

“10 menit kemudian dia kembali dan mengambil barang-barangnya dan bersumpah mereka semua akan menyesal mengusirnya dari pesawat,” kata Marissa.

Marissa mengaku puas dengan penanganan Delta Airlines atas situasi itu. Dia juga kagum pada Tabitha yang meminta maaf kepada semua penumpang sebelum pesawat lepass landas.

KunKun – Alat Pendeteksi Bau Badan, Seperti Apa Cara Kerjanya?

Hawa panas, berjejalan, dan minimnya ruang gerak ketika Anda berada di moda transportasi berbasis massal seperti  kereta api tidak jarang memaksa Anda untuk menghirup aroma tidak sedap yang berasal dari penumpang lain. Tentunya hal seperti ini membuat perjalanan Anda kurang nyaman, bukan? Terlebih jika ‘wewangian’ tersebut terus setia menemani perjalanan Anda hingga tujuan. Atau mungkin, si penyebar aroma tidak sedap tersebut adalah Anda?

Baca Juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina

Tidak melulu dari bau badan, bahkan salah satu kasus yang sedang hangat menjadi perbincangan publik dunia adalah ketika maskapai Transavia Airlines terpaksa melakukan pendaratan darurat di Vienna Airport, Austria pada awal Februari 2018 kemarin. Hal tersebut terjadi lantaran salah satu penumpangnya enggan untuk berhenti buang gas. Dinilai mengganggu kenyamanan penumpang lainnya dalam penerbangan itu, alhasil penumpang terkait diturunkan.

Nah, untuk meminimalisir menyebarnya bebauan tidak sedap tersebut, Daisuke Koda yang bekerja untuk Konica-Minolta mengembangkan sebuah alat yang dapat mendeteksi aroma tidak sedap. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (26/8/2017), KunKun, begitulah nama dari alat ini, akan memberikan penilaian terhadap bau yang ia deteksi.

Dengan ukurannya yang tidak lebih besar dari smartphone dan berbentuk seperti sebuah radio transistor, Anda cukup mendekatkan KunKun ke objek yang dinilai menyebarkan aroma tidak sedap. Tunggulah sekitar 20 detik, hingga alat ini akan memaparkan tingkat kebauan dari si objek tersebut. “Kami ingin menciptakan budaya dimana Anda akan mendapatkan citra positif karena tidak memiliki bau badan,” tutur Daisuke Koda.

Mengingat Jepang merupakan salah satu negara yang menjadikan bau badan sebagai sumber dari masalah besar, maka tidak heran ketika karyawan di Konica-Minolta ini mengembangkan KunKun yang diharapkan dapat menjadi solusi masalah tersebut. “Di Jepang, ada yang namanya smell harassment, dimana orang yang memiliki aroma tubuh kurang sedap akan mendapatkan ‘perlakuan khusus’ ketika berada di tempat umum,” lanjutnya.

Baca Juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

Jika menilik masa depan dari KunKun, maka alat pendeteksi bau ini bisa digunakan di banyak industri, sebut saja transportasi. Demi menunjang perjalanan yang nyaman, para operator layanan bisa terlebih dahulu menyaring penumpang yang memiliki bau badan sebelum mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam moda bersangkutan.

Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina

Sebagai aktivitas biologis, kentut alias buang angin dalam sebuah perjalanan sangatlah lumrah, apalagi jika dalam sebuah penerbangan. Biasanya seorang penumpang pesawat kentut dikarenakan perut kembung, masuk angin, atau karena sebab suhu kabin yang dingin.

Baca juga: Tips Sopan Buang Angin Selama Perjalanan, Intinya Harus Tetap “Dicicil”

Sebenarnya, sebuah pesawat terbang memiliki sistem ventilasi yang dirancang untuk menyerap bau di bagian bawah kursi penumpang. Hal ini untuk menghindari para penumpang dapat terhindar dari wabah angin dari para penumpang. Namun baru-baru ini dalam sebuah penerbangan dari Dubai menuju Amsterdam, terpaksa mendarat di Wina, Austria. KabarPenumpang.com melansir dari laman metro.co.uk (17/2/2018), bahwa maskapai berbiaya rendah Transavia terpaksa mendarat karena terjadi perkelahian antara penumpang yang dipicu seorang laki-laki yang tak berhenti kentut.

Kedua penumpang tersebut merasa terganggu dengan seorang pria lanjut usia yang tidak berhenti kentut di dekat mereka. Hingga akhirnya terjadi adu argumen diantara ketiganya. Keributan tersebut justru semakin menjadi saat seorang awak kabin berusaha untuk mendamaikan serta melerai ketiganya. Tak hanya itu, pilot penerbangan juga sudah memberi peringatan kepada penumpang yang memicu keributan tapi tidak diindahkan sehingga penerbangan tersebut dialihkan ke Wina.

Sesaat setelah mendarat di Bandara Internasional Wina, para petugas kepolisan langsung masuk kedalam kabin dengan membawa anjing pelacak. Dari insiden ini ada empat orang yang dikawal keluar pesawat oleh pihak kepolisian.

Keempat orang itu yakni dua pria Belanda yang berseteru dengan penumpang lansia dan dua orang kakak beradik asal Belanda keturunan Maroko. Namun, salah seorang dari mereka yang di angkut keluar, Nora Lachab mengaku bingung dirinya diturunkan secara paksa.

“Hal yang aneh adalah kami harus meninggalkan pesawat di saat kami tidak kenal orang-orang itu sama sekali. Kami kebetulan saja berada di barisan yang sama, tetapi tidak melakukan apapun untuk membenarkan perilaku awak kabin Transavia,” ujar Nora.

Sayangnya, pernyataan Nora tersebut dibantah oleh juru bicara maskapai Transavia yang mengatakan perempuan keturunan Maroko tersebut bersama saudaranya melontarkan kata-kata tidak pantas kepada penumpang lain serta memiliki perilaku yang buruk. Juru bicara Kepolisian Wina mengonfirmasi bahwa seorang penumpang mengalami masuk angin sehingga tidak bisa menahan untuk kentut.

Baca juga: Kentut di Tempat Umum Ternyata Ada Aturannya!

Karena kejadian ini, keempat orang tersebut tidak bisa melanjutkan penerbangan ke Amsterdam dan dilarang menggunakan Transavia sehingga harus mencari penerbangan alternatif lain dari Wina ke Amsterdam. Kejadian yang terjadi pada Senin (12/2/2018) ini terekam oleh seorang penumpang bernama Alfred Dekker dan menggunggah ke akun Twitter miliknya.

Prototipe Podbike Akan Diluncurkan Pada April 2018

Podbike merupakan sebuah kendaraan yang dikemudikan dengan cara mengayuh seperti halnya sebuah sepeda. Bedanya dengan sepeda biasa, Podbike memiliki empat roda dimana dua roda bagian depan dan dua lainnya di bagian belakang.

Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Podbike ini sendiri merukapakan velomobile beroda ganda yang dikembangkan oleh perusahaan Norwagia Elpedal. Saat itu, tepatnya pada November 2017 kemarin nama Podbike baru tersiar dan casis Podbike baru ada secara virtual atau hanya sebatas gambaran kendaraan yang lengkap dan terpampang di dalam layar komputer.

Namun, hal itu semua menjadi nyata baru-baru ini, dimana sebuah prototipe lengkap pertama di presentasikan pada sebuah acara di Sandnes di Norwegia. KabarPenumpang.com  melansir dari laman newatlas.com (8/2/2018), Podbike yang merupakan kendaraan roda empat untuk manusia ini bertenaga pedal atau mengayuh untuk menjalankannya dan terhubung langsung ke generator.

(newatlas.com)

Dimana nantinya pedal yang dikayuh tersebut menghasilkan tenaga secara elektrik dengan menghubungkan ke beberapa motor penggerak di masing-masing roda belakang. Selain itu, Podbike ini juga di tambah dengan paket baterai yang bisa dilepas dan fungsinya untuk menjadi daya tambahan.

Jika ditambah dengan baterai, kecepatan maksimum Podbike bisa mencapai 25 km per jam atau sekitar 16 mph dan bisa dibatasi secara elektronik. Jangkauan dengan penggunaan baterai sendiri bisa mencapai jarak 60 km atau sekitar 37 mil bahkan bisa lebih jauh sedikit jika baterai ekstra ditambahkan secara paralel.

Dalam bentuk komersialnya, kendaraan ini harus memiliki berat sekitar 40 sampai 50 kg dengan tambahan satu baterai. Prototipe ini sendiri dikenal sebagai T0 yang diresmikan pada 26 Januari kemarin menjadi yang pertama dalam batch 12 kendaraan uji dan juga disebut seri 0 dan akan dibangun dalam tiga hingga empat bulan kedepan.

Nantinya, sepuluh dari Podbike seri 0 ini akan di uji coba di jalan Norwegia dan dievaluasi oleh pembalap uji. Kemudian hasil uji coba tersebut akan dilaporkan pada pengembang. Peluncuran seri 0 sendiri secara resmi di Eropa akan berlangsung pada 28 April 2018 mendatang pada pameran sepeda khas Spezi di Jerman.

Baca juga: Toyota Lansir JPN Taxi, Prototipe Taksi dengan Bahan Bakar Hybrid

Podbike sendiri akan tersedia di Norwegia pada awal 2019 dan di tempat lain di Eropa tahun 2020 mendatang. Penafsiran harga per Podbike sekitar US$6372 atau Rp87 di Norwegia. Harga tersebut sudah termasuk dengan PPN dan penjualan lokal atau sekitar €4500 atau sekitar US$5515 atau Rp75 juta dan ditambah pajak dan pengiriman ke pasar Eropa lainnya.

Untuk pasar Amerika Utara sendiri saat ini belum ada rencana untuk ke sana. Sebab Undang-undang Amerika membatasi e-bike dengan lebih dari tiga roda.

Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis

Bandara baru di Istanbul, Turki akan segera terealisasi pada 2018 ini dan digadang menjadi bandara terbesar di dunia. Sebanyak 31 ribu pekerja membangun bandara Istanbul New Airport (INA) dalam waktu singkat yakni sejak tahun 2015 lalu.

Baca juga: Mau Berlibur ke Istanbul? Baca Dulu Beberapa Tips Berikut Ini!

Saat ini sudah 78 persen pembangunan hampir selesai dan akan diresmikan pada 29 Oktober 2018 dan diperkirakan sudah mulai pendaratan pesawat perdananya pada Februari 2019 mendatang. Bandara yang menjadi proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah Turki ini menghabiskan dana US$11 atau sekitar Rp149 triliun.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman airport-technology.com (7/2/2018), meskipun akan diresmikan Oktober mendatang, tetapi pengerjaan konstruksi lainnya akan terus berlanjut hingga 2028. Dimana tujuan Turki adalah membangun aerotropolis kelas dunia yang lengkap dengan gedung perkantoran hotel, masjid, pusat kesehatan, pusat pameran dagang dan konfrensi.

Nantinya, setelah beroperasi, INA akan mengambil alih semua operasi penerbangan komersial dari bandara Ataturk. Sebab beberapa tahun terakhir sudah melebihi batas tampung penumpang dari kapasitas aslinya.

“Tahap pertama konstruksi akhirnya akan segera berakhir,” kata Yusuf Akçayoğlu, CEO İGA Airports Construction.

Dia mengatakan akan ada sekitar 200 kali uji coba dan simulasi sebelum bandara ini dioperasikan. Uji coba ini agar pemangku kepentingan terbiasa dengan operasi bandara INA tersebut.

“Pembukaan Bandara Baru Istanbul akan menjadi transfer bandara terbesar di dunia sampai saat ini,” kata Akçayoğlu.

Bandara Baru Istanbul merupakan elemen kunci dari paket proyek infrastruktur mega Presiden Recep Tayyip Erdoğan, yang juga mencakup Kanal Istanbul dan jembatan ketiga yang sekarang lengkap di atas Bosphorus.

“Karena kenyataan bahwa Bandara Baru Istanbul adalah proyek infrastruktur terbesar di Turki, ini akan berdampak besar pada ekonomi Turki,” kata Akçayoğlu.

Dari laporan Analisis Dampak Ekonomi, INA akan memberikan kontribusi 4,89 persen terhadap pendapatan nasional per kapita dan juga menyediakan 1000 ribu pekerjaan langsung dan 150 ribu pekerjaan tidaak angsung. Sedangkan untuk sektor pariwisata mencapai US$7 miliar atau Rp948 miliar.

Menurut iGA, lokasi bandara baru ini bukanlah lahan yang dibuka sengaja melainkan lahan yang sudah rusak sejak tahun 1980an atau sekitar 65 persen wilayah hutan yang hilang dan rusak.

“Lokasinya adalah daerah yang tidak efisien yang ditutupi kotoran dan lumpur. Kami mengubah bidang yang tidak efisien ini ke pusat penerbangan baru di dunia,” kata Akçayoğlu.

Tak hanya menjadi pusat aerotropolis, bandara ini akan terhubung dengan kereta api, metro, bus dan mobil berkecepatan tinggi atau bisa dikatakan bandara akan terintegrasi dengan transportasi di Istanbul.

Sejauh ini, lebih dari 1,5 juta meter persegi bumi telah dipindahkan melalui kegiatan penggalian dan penyamarataan. Apa yang akan naik di tempat ini dipastikan menjadi bandara menakjubkan yang terdiri dari tiga terminal (salah satunya adalah yang terbesar di dunia), enam landasan pacu paralel dan kapasitas untuk menyambut 90 juta penumpang per tahun pada tahap pertama.

Kemudian pekerjaan perluasan akan mengangkat ini menjadi 200 juta penumpang setelah sepenuhnya selesai. Dalam persiapannya, Turkish Airlines mengumumkan akan menambah 40 pesawat berbadan lebar ke armada.

“Selama merencanakan dan membangun alat teknologi yang berbeda, kami selalu memikirkan penumpang kami. INA akan menjadi bandara yang akan terdiri dari teknologi dan standar terbaru. Sekitar 3.000 monitor akan menginformasikan penumpang kami di berbagai zona. Selain itu, teknologi iBeacon akan menyediakan petunjuk dalam ruangan, waktu berjalan kaki ke pintu gerbang, akses lounge dan tanda boarding,” kata Akçayoğlu.

Sistem bagasi saja akan mencapai panjang 42 km, sama dengan jarak antara Taksim dan Tuzla, dan sistemnya akan mampu menangani lebih dari 30 ribu koper per jam.
Dalam hal desain, İGA menjanjikan bahwa terminal akan mencerminkan kekayaan dan keindahan struktur historis Istanbul. Setelah INA dibuka, kapal ini akan menjadi rumah bagi sekitar 150 maskapai penerbangan dan menawarkan penerbangan ke 350 tujuan, sementara Ataturk akan diubah menjadi campuran ruang pameran dan tempat tujuan untuk charter, jet pribadi dan pesawat terbang pelatihan.

Baca juga: Berdasarkan Luas Lahan,10 Bandara Ini Jadi Yang Terbesar di Dunia

“Melaksanakan semua pekerjaan sekaligus merupakan tantangan terbesar bagi kami. Sementara kami meletakkan fondasi konstruksi, kami membuat tanah bergerak, merancang, membuat dan mobilisasi pada saat bersamaan. Setiap proses harus dilakukan dengan sangat cepat dan paralel. Tantangan lain di awal proyek adalah membuat seluruh tim bersama dalam waktu tiga bulan. Pada akhirnya saya pikir kita berhasil melewati semua tantangan ini,” Akçayoğlu mengakui.

Diketahui konstruksi saat ini sedang dipercepat untuk memungkinkan pesawat pertama mendarat pada 26 Februari, pada hari ulang tahun Presiden Erdoğan yang ke 64.

Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang

Berbagai bandara di dunia, menghadirkan robot untuk membantu penumpang baik itu, untuk menemukan gerbang mereka, memberitahukan lokasi penumpang hingga memverifikasi data. Baru-baru ini di bandara Munich Jerman yang juga bekerjasama dengan Lufthansa menghadirkan robot humanoid. Robot ini mulai di uji coba pada 15 Februari 2018 kemarin di Terminal 2.

Baca juga: Giliran Bandara Seattle Gunakan Jasa Robot Untuk Layani Calon Penumpang

KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (16/2/2018), bahwa robot bernama Josie Pepper ini memiliki tinggi 120 cm atau 47 inci dan akan menjawab pertanyaan penumpang terkait petunjuk arah ke gate atau gerbang mereka hingga informasi mengenai restoran serta toko-toko yang ada di bandara. Josie diprogram untuk berbicara dengan penumpang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling sering digunakan penumpang dari berbagai negara untuk memudahkan komunikasi.

Josie Pepper akan hadir di terminal 2 dalam beberapa minggu kedepan dan akan menyambut para pelancong di jalan menuju pesawat yang menghubungkan terminal utama ke gedung satelit. Uji coba ini dilakukan untuk menunjukkan dan mendapatkan respon apakah Josie Pepper diterima oleh penumpang.

Robot humanoid ini dikembangkan oleh perusahaan Perancis Softbank Robotics. Josie Pepper sendiri didukung teknologi kecerdasan buatan oleh IBW Watson Internet of Things (IoT) berbasis cloud.

Otak yang ditanamkan pada robot humanoid tersebut dilengkapi dengan prosesor berkinerja tinggi dengan akses internet WLAN. Teknologi inilah yang menciptakan koneksi ke layanan cloud dimana ucapan penumpang di proses, ditafsirkan dan dihubungkan ke data bandara.

Uniknya tipe robot ini berbicara bukan hanya mengirim teks yang sudah ditentukan sebelumnya, atau bisa dikatakan menjawab pertanyaan melalui suara atau ucapan. Sistem ini sendiri memiliki kemampuan untuk memperbaiki seiring berjalannya waktu dengan belajar dari pertanyaan dan informasi yang relevan dalam memberikan jawab lebih tepat.

Baca juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon

Robot Josie Pepper ini seharga €19900 atau US$24600 atau sekitar Rp334 juta. Diketahui, robot semacam ini, sudah ada di beberapa bandara lainnya seperti di bandara Internasional Incheon Seoul, bandara Seattle dan beberapa bandara lainnya di dunia.

Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Musik jelas mampu mempengaruhi jiwa dan perasaan, seperti ketika mendengar sebuah lagu, perasaan lelah bisa dibangkitkan kembali menjadi semangat. Apalagi jika lagu atau musik yang di perdengarkan bukanlah buatan komputer melainkan permainan musik seorang komposer.

Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun

Ya, bagaimana jika musik tersebut di dengar di sebuah stasiun kereta untuk memberitahukan sinyal keberangkatan kereta api? Jika Anda pernah ke Jepang dan naik kereta dari stasiunnya mungkin pernah mendengar sebuah jingle untuk keberangkatan kereta dengan nada yang menyenangkan.

KabarPenumpang.com melansir dari laman abc.net.au (3/2/2018), jingle keberangkatan kereta ini di kenal sebagai hassha merodi atau melodi untuk keberangkatan kereta. Anehnya melodi jingle yang diputar setiap stasiun untuk keberangkatan kereta berbeda satu dengan yang lainnya.

Minoru Mukaiya dan melodi jingle kereta yang dihasilkan

Dari 50 stasiun kereta tersibuk di dunia, hampir semuanya berada di Jepang. Dengan jingle dan stasiun yang sibuk bisa membantu penumpang bergerak lebih cepat atau bisa dikatakan melodi ini menjadi trik psikologis.

Hal tersebut dikatakan oleh seorang komposer bernama Minoru Mukaiya yang merupakan pembuat jingle lebih dari 100 stasiun kereta dii Jepang.

“Ada sejumlah besar orang yang naik kereta api di wilayah metropolitan seperti Tokyo, Osaka dan Nagoya dan perlu untuk membuat orang terus-menerus dalam waktu singkat. Jadi ini membantu membuat antrian terorganisir saat kereta datang satu demi satu dalam waktu singkat. Saya pikir kereta di negara lain tidak sepadat kereta api di Jepang,” ujar Minoru.

Adapun pembuatan jingle ini sebenarnya harus menghibur dan mudah didengarkan. Minoru mengatakan menggunakan lonceng untuk memastikan jingle mengguncang orang agar bertindak tanpa khawatir.

https://youtu.be/AZekUO68_7k

Kemudian sengaja dibuat untuk membiarkan orang yang menunggu dan kereta sudah datang membuatnya ingin naik dan masuk dalam kereta. Terakhir Minoru mengatakan, jingle yang baik bukanlah buatan komputer melainkan dibuat oleh tangan manusia sehingga tidak terlalu sempurna.

Minoru sendiri diketahui sangat menyukai kereta, dia tidak hanya membuat jinggle tetapi mengelola Ongakukan yang merupakan sebuah perusahaan pencipta simulator kereta api realistis. Jingle sebuah stasiun kereta juga mengisahkan sebuah cerita.

Seperti di stasiun Takadanobaba yang dianggap sebagai tempat kelahiran Astro Boy salah satu kartun anime Jepang pertama yang populer di Jepang. Kemudian ada Ebisu di barat Tokyo dan berada di pinggiran kota yang dinamai bir Yebisu.

Baca juga: 5 Stasiun Tersibuk di Dunia, Semua Ada Di Jepang!

Melodi jingle ini berasal dari tema iklannya, yakni sebuah lagu dari film noir tahun 1949 yang berjudul The Third Man. Terkadang bahkan sebuah perusahaan membeli hak atas jingle film seperti yang dilakukan Disney saat film Star Wars barunya keluar beberapa tahun lalu. Jingle di stasiun ini lebih ringan untuk sebuah negara yang menjalankan dan mengoperasikan kereta dengan sangat serius.