Swytch Conversion Kit, Ubah Sepeda Konvensional Jadi Sepeda Listrik

Bagi sebagian orang, bersepeda merupakan aktifitas yang tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga memberikan dampak yang positif pada lingkungan karena tidak menimbulkan polusi layaknya kendaraan lain. Namun jarak tempuh yang cukup jauh menjadi alasan di balik penggunaan sepeda listrik, yang disinyalir memiliki fungsi yang serupa dengan sepeda konvensional, hanya saja ada penambahan beberapa elemen elektronik yang memungkinkan sepeda bergerak tanpa dikayuh.

Baca Juga: Supaya Tak Kehujanan Saat Bersepeda, Payung Under Cover Solusinya

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (15/11/2017), Anda tidak perlu menjual sepeda konvensional Anda untuk mendapatkan sebuah sepeda listrik, cukup menggunakan Swytch eBike Conversion Kit. Ini merupakan inovasi yang memungkinkan para pengguna sepeda konvensional merubah modanya menjadi sebuah sepeda listrik, tanpa harus melakukan perombakan besar-besaran.

Mungkin dibutuhkan waktu yang agak lama untuk merubah ban biasa menjadi ban sepeda listrik, dan itu terkesan tidak terlalu efektif. Maka dari itu, Swytch menawarkan sebuah teknologi yang dapat memasok energi listrik berkekuatan 36V/250W ke roda depan sepeda. Jadi Anda tetap bisa mengayuh sepeda tersebut, dan menggantinya ke mode elektrik jika Anda sudah mulai lelah.

Quick-connect bracket yang terpasang di roda akan menghubungkan motor penggerak bertenaga listrik dengan sensor yang ada di power bag (bagian dari komponen Swytch eBike Conversion Kit) ini memungkinkan Anda untuk mengubah mode sepeda dengan sangat mudah dan cepat. Ketika Anda hendak memarkirkan sepeda, power bag ini juga bisa dengan mudah dilepas untuk menghindari tindak kriminal yang mungkin saja terjadi.

Pada dasarnya, Anda cukup mengganti ban depan yang sudah dilengkapi dengan motor penggerak yang berfungsi sebagai ‘reseptor’ pada bagian poros roda depan, dan memasangkan komponen pelengkap yang menggantikan fungsi dari rem depan. Setelah semua komponen teknis penunjang pengoperasian terpasang, Anda cukup menghubungkan semua komponen tersebut ke power bag yang disimpan pada bagian depan sepeda dengan menggunakan kabel, dan sepeda listrik itu siap untuk digunakan.

Baca Juga: Spektakuler! Utrecht Bangun Fasilitas Parkir Sepeda Terbesar di Dunia

Kecepatan maksimum yang dapat dihasilkan oleh sepeda listrik ini adalah 20 mph atau setara dengan 32 km per jam. Belum ditentukan kapan Swytch eBike Conversion Kit ini akan dirilis, namun dilansir dari laman sumber, harga yang dikenakan untuk seperangkat alat ini berkisar US$ 650 atau setara dengan Rp8,9 juta. Apakah Anda tertarik untuk memilikinya?

Ilan and Asaf Ramon International Airport, Bandara Terbaru di Israel Yang Serba Unggul

Selain Ben Gurion yang dikenal sebagai bandara paling ketat di dunia, warga Yahudi Israel kini tengah menanti pembukaan bandara baru yang tinggal menghitung bulan. Ilan and Asaf Ramon International Airport yang rencananya akan dibuka pada awal tahun 2018 ini disebut-sebut akan menampilkan sesuatu yang baru dan belum pernah ada di bandara lain di Israel. Kira-kira, apa saja poin yang dapat kita temui di bandara ini? Berikut KabarPenumpang.com beberkan beberapa poin tersebut, dihimpun dari laman israel21c.org.

Baca juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Lokasi yang Menyajikan Pemandangan Indah
Bandara tersebut dibangun di atas gurun yang telah direklamasi di jantung Lembah Timna, daerah yang terkenal tambang tembaganya yang konon telah beroperasi sejak masa pemerintahan King Solomon. Penggunaan kaca berukuran ekstra besar di sepanjang ruang terminal akan menyajikan pemandangan indah khas gurun.

Bandara Akan ‘Berbaur’ Dengan Lingkungan Sekitar
Dua arsitek yang menjadi otak di balik mega proyek ini, Mann Shinar dan Moshe Zur mengatakan bahwa bangunan inti dari bandara ini akan nampak seperti bongkahan batu besar yang diaplikasikan dengan menggunakan teknik self-shading. Yang lebih menakjubkannya lagi adalah di dalam bandara ini nantinya akan ada satu lantai khusus yang memungkinkan semua orang untuk melihat pemandangan ciamik di luar bandara, tanpa terganggu oleh objek yang biasa kita temui di bandara pada umumnya, seperti vending machine dan lain-lain.

Bandara ini Akan Lebih Mudah Diakses Ketimbang Bandara Pendahulunya
Ilan and Asaf Ramon International Airport akan menggantikan peran dari dua bandara pendahulunya, yaitu Bandara Eilat J. Hozman yang berada di pusat kota Eilat, dan Bandara Ovda yang terletak 60 kilometer sebelah utara kota Eilat. Wisatawan Eropa yang hendak menuju kota Eilat akan terbang menggunakan maskapai Ryanair menuju bandara Ovda, lalu melanjutkan perjalanan menuju kota Eilat dengan menggunakan layanan shuttle atau  taksi yang tersedia, tentu saja dengan tarif yang tinggi.

Tidak hanya berjarak lebih dekat dengan kota Eilat, bandara baru ini juga akan menghadirkan layanan antar-jemput bersubsidi yang diyakini akan memudahkan aksesibilitas wisatawan dari Ilan and Asaf Ramon International Airport menuju Eilat. Secara tidak langsung, penyediaan layanan ini juga akan meningkatkan daya jual Eilat bagi wisatawan mancanegara.

Penerbangan Berbiaya Rendah Menuju Eropa Akan Tersedia di Bandara Ini
Dalam kasus ini, Ryanair akan menawarkan layanan penerbangan menuju Eropa dengan berbagai destinasi, sebut saja Milan, Budapest, dan Berlin. Jika tengah peak season, mungkin harga yang ditawarkan akan ikut melambung, namun setidaknya Anda bisa lebih memaksimalkan waktu liburan dengan berangkat dari bandara yang lebih dekat dari kota Eilat ini.

Bandara ini Akan Dilengkapi Dengan Berbagai Layanan Penumpang
Layaknya fasilitas yang tersedia di berbagai bandara modern lain, Ilan and Asaf Ramon International Airport juga akan melengkapi dirinya sendiri dengan fasilitas layanan penumpang tersebut, sebut saja pusat informasi, stand pertukaran mata uang, restoran, toko serba ada, ruang beribadah, hingga tempat penyewaan mobil.

Duty-Free Bagi Orang Israel yang Melakukan Penerbangan Domestik
Pada November 2016 silam, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa orang-orang Israel yang melakukan penerbangan domestik ke Eilat akan dapat membeli barang-barang bebas bea. Menurut peraturan saat ini, hanya pelancong dari luar negeri yang bisa membeli produk bebas bea di Israel. Tentunya peraturan ini perlu ditelusuri lebih lanjut dan akan segera dicari titik keluarnya.

Bandara Baru ini Akan Memungkinkan Pembangunan Kembali Pusat Kota Eilat
Bandara Hozman yang terletak di tengah kota dianggap terlalu berperan aktif dalam menyumbang polusi suara, dan ketika Ilan and Asaf Ramon International Airport rampung, maka bandara Hozman akan ditutup. Ini akan memungkinkan penataan kembali lokasi bekas bandara Hozman di waktu mendatang.

Ilan and Asaf Ramon International Airport Akan Menjadi Acuan Dua Mega Proyek di Eilat
Ketika bandara ini rampung, maka ini akan menjad penanda dua mega proyek di Eilat akan mulai bergulir. Pertama adalah pemindahan pelabuhan Eilat, dan yang kedua adalah pembangunan rel kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan pusat Israel dengan Eilat, serta pelabuhan Eilat dan Ilan and Asaf Ramon International Airport.

Baca juga: Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel

Dapat Digunakan Sebagai Bandara Cadangan
Selama konflik di jalur Gaza sejak tahun 2014 silam, US Federal Aviation Authority secara temporer melarang penerbangan menuju bandara utama di Israel, Ben-Gurion. Sementara itu pemberangkatan internasional dialihkan ke bandara Ovda, namun bandara tersebut tidak memadai untuk menanggapi lonjakan permintaan yang ada.

Maka dari itu, pemerintah setempat memandatkan Ilan and Asaf Ramon International Airport untuk mem-backup tugas bandara Ovda.

Penamaan Bandara ini Merupakan Sebuah Bentuk Dedikasi
Nama bandara ini sendiri diambil dari astronot asal Israel pertama untuk NASA, Ilan Ramon, yang meninggal setelah The Columbian Space Shuttle yang ia tumpangi mengalami kecelakaan pada tahun 2003 silam. Sedangkan anaknya, Asaf Ramon, meninggal dalam kecelakaan pada 2009 silam saat menerbangkan jet F-16 selama periode wajib militer.

Mengenal Jalur Ferry dan Pelabuhan Tanjung Kapal, Urat Nadi Transportasi di Pulau Rupat

Nama Pulau Rupat seolah terlupakan dalam jagad pemberitaan media nasional, namun tahukah Anda, bahwa pulau dengan luas 1.500 km2 ini termasuk dalam kelompok pulau terluar, dimana perairan Pulau Rupat langsung berbatasan dengan Selat Malaka, dan hanya butuh hitungan jam saja untuk menyambangi daratan Malaysia. Selain punya predikat pulau terluar, Pulau Rupat sejatinya punya potensi wisata yang dapat digali, terlebih bila infrastruktur transportasinya ikut dibenahi.

Baca juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia

Resminya Pulau Rupat adalah salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis. Kecamatan Rupat terdiri dari 12 (dua belas) desa dan 4 (empat) kelurahan dengan ibukota kecamatan berada di Batu Panjang dengan jumlah populasi penduduk 47 ribu jiwa.

Buat Anda yang menginginkan wisata anti mainstream, Pulau Rupat terkenal dengan wisata pantai yang indah, terutama di wilayah Pantai Pasir Panjang. Kondisi air yang jernih dan tidak terlalu dalam juga ideal dijadikan tempat berenang dan bermain air. Jika tidak ingin berenang, pelancong juga biasanya bermain-main di pinggir pantai sambil berjemur. Pasir pantainya yang putih dan bersih membuat pengunjung betah berlama-lama berada di pantai ini.

Jika ingin melakukan snorkeling maka biota bawah lautan di kawasan pantai Rupat relatif masih terjaga lengkap dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni. Karena airnya yang cukup jernih dan tidak terlalu dalam yang berada di sekitar bibir pantai. Pemandangan birunya Selat Malaka yang dihiasi oleh barisan pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya bisa memberikan nilai keindahan dan seni yang luar biasa jika di ambil dari sudut yang tepat.

Pintu masuk Pelabuhan Tanjung Kapal

Lantas yang jadi pertanyaan, bagaimana akses menuju Pulau Rupat? Sayangnya memang belum tersedia jalur transportasi udara, namun tak sulit untuk menyambangi Pulau Rupat, dari Pelabuhan Dumai ke Pulau Rupat dapat ditempuh dengan kapal ferry RoRo dengan durasi tempuh 40-50 menit.

Pelabuhan utama yang ada di Pulau Rupat adalah Pelabuhan Tanjung Kapal. Tentu jangan samakan pelabuhan ini dengan fasilitas yang ada di Pelabuhan Merak-Bakauheni, di Tanjung Kapal hanya terdapat satu dermaga trester. Karena baru dilengkapi satu dermaga, jumlah ferry yang melayani rute Dumai-Tanjung Kapal masih terbatas pada dua unit kapal ferry.

Embarkasi kendaraan ke kapal ferry.

Berdasarkan penelusuran KabarPenumpang.com saat bertandang ke Tanjung Kapal pada awal November ini, dua unit kapal ferry yang tersedia adalah KMP Tasik Gemilang milik Pemda Bengkalis dan KMP Kakap milik PT ASDP Indonesia Ferry. Sementara unit pengelola pelabuhan ditangani oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Bengkalis.

Karena merupakan pelabuhan kecil, jenis ferry yang melayani rute ini hanya berukuran 600 ton. Dalam sekali angkut dapat memuat 50 kendaraan sekelas sedan, atau bisa membawa truk golongan V dengan bobot 8 ton. Tarif yang dikenakan untuk menyeberangkan kendaraan sekelas sedan adalah Rp100 ribu, sedangkan tarif penumpang Rp8 ribu per orang. Waktu bongkar muat tiap kapal berkisar 1,5 jam, dan dalam satu hari terdapat 4x trip perjalanan.

Pelabuhan Tanjung Kapal hanya memiliki satu dermaga.

Manifest Penumpang Kapal
Bila Anda menyeberang dengan ferry dari Merak-Bakauheni, maka otomatis identitas penumpang telah terekam dalam database manifest penumpang, tentu itu semua untuk alasan keselamatan dalam pelayaran yang telah diatur dalam oleh pemerintah.

Baca juga: Dinas Perhubungan dan DPRD Bengkalis Jajaki Teknologi Automatic Vehicle Classification dari PT Mata Pensil Globalindo

Nah, nantinya para penumpang kapal ferry rute Dumai-Tanjung Kapal juga akan mendapatkan manfaat dengan ketersediaan sistem manifest. Pada 2 November lalu, Dinas Perhubungan dan DPRD Bengkalis tengah menjajaki teknologi Automatic Vehicle Classification dari PT Mata Pensil Globalindo, yang dikenal punya reputasi melayani jasa penjualan tiket otomatis di Pelabuhan Merak dan Bakauheni. Automatic Vehicle Classification mengitegrasikan fungsi automatic ticketing system sedari penumpang dan kendaraan memasuki pelabuhan hingga naik ke dalam kapal.

Mulai Sekarang, Pengemudi Moda Online Tidak Bisa Sembarangan Tarik Penumpang!

Menjamurnya moda berbasis online belakangan ini membuat beberapa elemen masyarakat gerah, pasalnya mereka kerap dinilai seenaknya menarik penumpang. Tentu ini akan menjadi masalah besar bagi sarana transportasi umum seperti taksi karena tidak jarang pengemudi GrabCar atau Uber lebih memilih untuk menjemput penumpangnya di lokasi yang mudah dijangkau, seperti tempat pemberhentian taksi atau halte bus.

Baca Juga: Uber Berlakukan Sistem Denda Bagi Penumpang yang Terlambat

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman greatdeals.com.sg, ComfortDelGro baru-baru ini meminta kepada semua pengemudi taksi untuk melaporkan jika ada angkutan berbasis online yang mengambil penumpang dari tempat taksi. Perusahaan transportasi darat multi-nasional yang terdaftar di Singapore Exchange yang diketahui mengoperasikan sekitar 46.010 armadanya di tujuh negara ini juga menambahkan agar pengemudi taksi tersebut mencantumkan foto yang akan digunakan sebagai bukti kongkrit bahwa benar telah terjadi tindak pelanggaran.

Nantinya, ComfotDelGro akan membantu meneruskan laporan ini ke pihak Land Transport Authority (LTA) agar bisa menindaklanjutinya. Dilansir dari sumber terpisah, pengemudi angkutan berbasis online akan dikenakan denda sebesar SIN$ 50 atau setara dengan Rp500.000 jika ketahuan menarik penumpang dari tempat yang sudah dilarang sebelumnya, seperti tempat pemberhentian taksi atau bus.

Tidak berakhir sampai di situ, jika sang pengemudi melakukan pelanggaran yang sama dalam tenggat waktu kurang dari 12 bulan, maka denda tersebut akan meningkat menjadi SIN$80 atau setara dengan Rp800.000. Nilai tersebut setara dengan perjalanan seharian penuh seorang pengemudi, yang berarti mereka ‘narik’ tanpa hasil jika ketahuan melanggar.

Walaupun para pengemudi moda berbasis online ini sebenarnya tahu mengenai peraturan tentang tata tertib penjemputan penumpang, namun dari segi pelanggannya sendiri kadang tak acuh dengan adanya ketentuan ini yang akhirnya bisa merugikan sang pengemudi. Di sini ComfortDelGro berusaha untuk membantu pengemudi taksi yang kerap kali mengeluhkan permasalahan yang terlihat sepele ini, tapi memiliki dampak yang luas.

Baca Juga: Sah! Grab Kini Legal Jemput Penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta

Diharapkan adanya inisiasi ini dapat memberikan ‘sentilan’ terhadap pengendara moda berbasis online untuk tidak seenaknya lagi menarik penumpang dari sembarang tempat, setidaknya sampai LTA merevisi peraturan yang berlaku sekarang.

Mungkin permasalahan ini juga yang melatarbelakangi ‘pemblokiran’ moda berbasis online di Bandara Internasional Soekarno Hatta beberapa waktu yang lalu, hingga akhirnya pihak Grab bernegosiasi dengan sejumlah pihak, termasuk otoritas bandara dan mendapatkan ijin resmi untuk menjemput penumpang dari bandara terbesar di Indonesia ini.

Ini Lho! Tampilan Baru Google Maps

Google pada 16 November kemarin mengumumkan tampilan barunya ke Maps. Maps dengan tampilan baru ini memiliki warna lebih cerah, ikon yang lebih jelas dan meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Baca juga: SeatGuru, Aplikasi ‘Pendeteksi’ Tersedianya WiFi dan Stop Kontak di Dalam Penerbangan

KabarPenumpang.com melansir dari laman thenextweb.com (16/11/2017), pada Google Maps tampilan terbarunya, selama beberapa minggu pengguna akan dikenalkan dengan kunci warna dan ikon baru yang sesuai pada kategori masing-masing. Contohnya warna oranye atau jingga untuk makanan dan minuman dalam artian tempat makan atau restoran serta warna merah muda untuk kesehatan seperti klinik ataupun rumah sakit.

Warna dan ikon baru ini hadir pada pembaharuan terbaru, sehingga pengguna harus memperbaharui Google Maps Anda dari desain lama ke desain terbaru, sebab dalam desain yang lama semua hal tercampur jadi satu karena ikon dalam bentuk kecil dan warna terlihat serupa satu dengan lainnya. Berbeda dengan tampilan terbarunya kini, Maps milik Google sekarang membuat pengguna melihat dengan mudah apa yang mereka cari.

Warna penanda baru di Google Maps (thenextweb.com)

Jika terjadi kecelakaan, untuk mencari rumah sakit, ikon yang terlihat akan berwarna merah jambu dan bisa membantu mengantar pengguna menuju rumah sakit. Tak hanya itu, Google juga menyediakan peta khusus dengan berbagai fungsi, ini tergantung apakah Anda mengemudi, menggunakan transportasi umum atau hanya untuk mengeksplore suatu daerah.

Untuk pengguna yang mengemudikan kendaraannya sendiri, maka peta akan mengarahkan Anda ke SPBU terdekat, sedangkan pengguna yang menggunakan transportasi umum akan di bantu menemukan stasiun kereta atau halte bus terdekat. Pembaruan pertama akan tersedia di semua aplikasi produksi Google yang menggabungkan Google Maps seperti Asisten, Penelusuaran, Earth, Andorid Auto dan aplikasi serta situs web yang menggunakan Google Maps API.

Baca juga: Inilah Deretan Aplikasi Cuaca Terbaik Untuk Smartphone Android dan iOS

Tujuan Google dengan tampilan baru pada Mapsnya ini untuk menjaga agar berguna dan tetap diperbaharui oleh para pengguna. Bisa dikatakan, ikon dan warna baru ini sangat dibutuhkan masyarakat, sebab skema warna dan ikon jelas dan mudah dinavigasi dibandingkan dengan desain dan versi lamanya.

Landasan Udara Kegata, Bertengger di Atas Indahnya Pegunungan Papua

Luasnya pulau berjuluk Kepala Cenderawasih ini, ditambah dengan akses jalan yang tidak semulus dan sebesar di Pulau Jawa, membuat sebagian wilayah di Papua memiliki keterbatasan akses untuk menjangkau daerah lainnya. Maka tidak heran jika jalur udara dipilih sebagai akses yang paling relevan untuk mengkoneksikan dua daerah yang terpisah luasnya hutan belantara di Papua. Tapi, jangan harap Anda dapat naik pesawat dari bandara besar seperti di Ibukota, sebab hanyalah landasan udara kecil yang siap menyambut perjalanan Anda.

Baca Juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Sebut saja landasan udara Kegata yang terletak di Piyaiye, Kabupaten Dogiyai, Papua. Mungkin kesan pertama yang terlintas di benak Anda saat melihat tempat ini adalah sama sekali tidak terlihat seperti landasan udara, tapi ini memang benar adanya. Tidak ada penampakan pesawat parkir, runway, menara Air Traffic Controller (ATC), atau pemandangan lain yang sewajarnya kita lihat di bandara terkecil sekalipun.

Hanya tampak sebuah lahan berlapiskan rumput yang memanjang kurang lebih 400 meter, beberapa rumah di tepiannya, sebuah lapangan di salah satu ujung landasan, dan sebuah jurang di ujung satunya lagi. Tidak jarang juga lapangan yang berada di salah satu ujung landasan ini dijadikan tempat bermain bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya.

Matt Dearden. Sumber: kompasiana.com

Landasan udara ini tidaklah datar, namun agak sedikit menanjak di salah satu ujungnya. Bertujuan untuk memberikan daya lebih ketika pesawat hendak mengudara (medan menurun), dan dapat membantu pesawat untuk memperlambat kecepatannya ketika mendarat (medan menanjak).

Pemandangan serba hijau khas hutan perawan ditambah dengan deretan pegunungan di Kegata terpampang sejauh mata memandang. Dilansir KabarPenumpang.com dari beberapa sumber, penggunaan pesawat Pilatus PC-6 Turbo Porter dinilai cocok untuk menghadapi medan ekstrem seperti di Kegata ini. Pesawat produksi Pilatus Aircraft, Swiss ini mampu membawa enam penumpang sekaligus.

Sumber: forums.x-plane.org

Terselip beberapa fakta unik lainnya menyusul keberadaan landasan udara Kegata yang bertengger di atas ketinggian 1678 mdpl ini, salah satunya adalah jarak penerbangan komersial terpendek kedua di dunia, setelah maskapai Longanair yang menghubungkan Westray ke Papa Westray di Provinsi Orkney, Skotlandia.

Terdapat sebuah desa bernama Apowo yang terletak  sekitar 1,85 km dari Kegata. Karena medan yang memisahkan dua desa tersebut berupa lembah curam dan hutan lebat, maka tidak mungkin untuk menjangkau desa Apowo dengan menggunakan jalur darat. Berdasarkan kutipan dari laman tribunnews.com, seorang pilot bernama Matt Dearden yang mengemudikan Pilatus PC-6 Turbo Porter mengatakan bahwa penerbangan dari Kegata ke Apowo hanyalah memakan waktu sekitar 73 detik!

Baca Juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Matt juga mengakui bahwasanya pemandangan yang tersaji selama mengudara di antara kedua desa tersebut sangatlah indah. Lebih lanjut, Matt mengatakan landas pacu di Kegata sangatlah licin jika habis diterpa hujan. Bagaimana tidak, landas pacu tersebut hanyalah berupa tanah yang ditumbuhi oleh rumput, bukan aspal seperti di kebanyakan landas pacu. Untuk masalah biaya, penerbangan dari Kegata menuju Apowo dibanderol dengan harga Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk melihat salah satu keindahan Bumi Pertiwi melalui udara sekaligus memacu adrenalin dengan naik penerbangan perintis ini?

Pyka, Aplikasi Unik Untuk Penumpang Yang Sering Ketiduran di Kereta

Tertidur selama perjalanan setelah atau sebelum memulai aktifitas sehari-hari memang bukanlah fenomena yang aneh. Rasa kantuk yang masih menggelayuti mata ketika pagi hari, atau lelah yang menyelimuti tubuh Anda ketika jam pulang kerja, menjadi pemicu untuk mengistirahatkan tubuh Anda sejenak selama berada di moda transportasi berbasis massal. Dari sinilah, tidak jarang penumpang bahkan sampai bablas ketiduran hingga beberapa stasiun setelahnya. Tentu, ini akan menjadi masalah tersendiri bagi mereka yang ketiduran.

Baca Juga: Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an

Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, sebuah aplikasi bernama Pyka pun lahir dan diharapkan dapat menjadi solusi tidak hanya bagi setiap pengguna kereta di India yang ketiduran, tapi juga bagi orang-orang yang baru menggunakan jasa perkeretaapian di negara penghasil film Bollywood tersebut. Walaupun seperti yang kita ketahui bersama, bahwa perkeretaapian di India masih bisa dibilang bobrok dan belum se-modern di Indonesia, namun hadirnya aplikasi ini membuktikan bahwa otoritas perkeretaapian di India tidak ingin berlama-lama menyandang gelar tersebut.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mensxp.com, Pyka akan bertugas seperti reminder yang akan terus menghubungi Anda 20 menit sebelum kereta tiba di tujuan yang Anda pilih. Anda cukup mencantumkan nomor kereta dan kode stasiun tujuan Anda dan kirim SMS ke nomor 92200 92200. Maka bagi Anda yang ketiduran di kereta pun akan terbangun dengan adanya notifikasi yang dikirimkan oleh Pyka berupa panggilan masuk atau SMS balasan. Sesederhana itulah cara kerja dari aplikasi pengingat ini.

Salah satu penggagas hadirnya Pyka, Sundar mengatakan bahwa ide ini muncul ketika ia dan beberapa rekan lainnya bepergian dengan menggunakan kereta. “Di pagi itu kami melihat banyak orang yang terlihat kelelahan namun mereka tetap terjaga sampai tiba di stasiun tujuannya, mereka berusaha untuk tidak tertidur,” ungkap Sundar. “Ini harus segera dicari solusinya,” imbuh Sundar manakala ia berusaha untuk mengingat momen tercetusnya ide pengadaan Pyka.

Jika dikaitkan dengan kondisi di Ibukota, tentunya aplikasi seperti Pyka ini bisa disandingkan dengan fitur pengeras suara yang ada di setiap gerbong KRL Jabodetabek. Ketika seseorang tertidur pulas di kereta, bukan tidak mungkin ia akan tetap tertidur ketika pengumuman tentang stasiun terdekat diputar oleh petugas kereta api. Maka dari itu, hadirnya aplikasi seperti Pyka ini dinilai dapat membantu membangunkan seseorang yang tertidur di kereta.

Baca Juga: Akibat Tertidur di Bus Antar Jemput Bandara, Pria ini Ketinggalan Pesawat

Seperti yang sudah dijabarkan di atas, aplikasi ini tidak hanya diperuntukkan bagi siapa saja yang tertidur di kereta, melainkan bagi orang yang baru pertama kali menggunakan jasa layanan kereta api komuter juga akan sedikit terbantu. Getaran dan suara yang ditimbulkan oleh notifikasi Pyka akan memaksa seseorang untuk melihat hp-nya dan menyadari bahwa stasiun tujuan sudah dekat, sehingga ia bisa bersiap untuk turun.

Tahun 2025, India Jamin 25 Persen Sumber Tenaga Kereta Berasal dari Energi Terbarukan

Dengan penduduk mencapai 1,3 miliar pada tahun 2016, India merupakan penghasil karbon terbesar ketiga di dunia, artinya Negeri Anak Benua tersebut berpredikat sebagai penyumbang angka polusi udara yang cukup parah. Namun Pemerintah India tidak tinggal diam, cetak biru telah digelar untuk masa depan yang lebih baik, yang diharapkan pada tahun 2027 kapasitas listrik di India dapat dipasok dari energi terbarukan (non fosil). Lebih spesifik lagi, sektor perkeretaapian di tahun 2025 malah telah menjamin 25 persen pasokan sumber energinya juga dapat dipasok dari energi terbarukan. Proyek yang sangat penting untuk pengurangan karbon secara nasional.

Baca juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

KabarPenumpang.com merangkum dari railway-technology.com (10/11/2017),
perkeretaapian India merupakan salah satu jaringan rel terbesar di dunia dan menjadi konsumen listrik yang tinggi. Dengan mengurangi bahan bakar fosil pada sektor perkeretaapian ini, akan berdampak besar pada komitmen India terhadap energi terbarukan dan lingkungan.

Pada tahun 2014, armada lokomotif diesel India diketahui mengonsumsi 2,6 miliar liter solar. Hal ini membuat mantan Menteri Perkeretaapian India Suresh Prabhu berkomitmen menyediakan 200MW ke perusahaan kereta api India melalui windfarms.

Tetapi, karena India lebih sering mendapatkan panas matahari, tepatnya 300 hari dalam setahun, maka tidak mengherankan bila sistem tenaga kereta api di India lebih tepat menggunakan basis tenaga surya. Menurut sebuah studi tahun 2017 yang didanai oleh United Nations Development Programme (UNDP), Indian Railways dapat menyediakan 5GW tenaga surya ke jaringannya melalui investasi senilai US$3,6 milyar.

Oleh karena itu, organisasi tersebut telah bekerja sama dengan UNDP untuk membuat rencana untuk mencapai tonggak sejarah 5GW, yang akan melibatkan pelaksanaan 3.900MW proyek skala utilitas dan 1.100MW melalui prakarsa atap. Dari perspektif utilitas, Indian Railways telah mengalokasikan 5.000 hektar tanah yang dianggap tidak sesuai untuk tujuan komersial untuk memasang pembangkit tenaga surya, yang dapat menghasilkan hingga 500MW untuk stasiun kereta api.

Baca juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api

Menteri Keuangan India, Arun Jaitley mengumumkan bahwa 7.000 stasiun kereta api India pada nantinya akan dilengkapi dengan sistem solar cell yang ditempatkan pada bagian atap (rooftop). Jaitley mengklaim bahwa 300 stasiun sudah dipasangi panel solar cell yang dikembangkan oleh Azure Power.

Panel surya juga akan dipasang ke kereta untuk mengurangi energi yang dibutuhkan dari sumber yang berpolusi, seperti panel diesel, dan atap pada 250 kereta lagi yang akan digunakan untuk menyalakan kipas dan sistem pencahayaan. Sebagai indikasi keberhasilan proyek jangka panjang ini, kereta bertenaga surya pertama diluncurkan dari sebuah stasiun kereta api di Safdarjung, Delhi, pada bulan Juli lalu.

MRT Singapura Tabrakan (Lagi), Mengingatkan Insiden 24 Tahun Lalu

Mass Rapid Transit (MRT) di Singapura pada Rabu pagi 15 November lalu mengalami insiden tabrakan di Stasiun Joo Koon. Akibat kejadian ini sebanyak 29 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 27 penumpang dan 2 staf SMRT yang sebagian besar mengalami kondisi patah tulang. Atas kejadian tersebut, otoritas Singapura akhirnya mengungkap latar belakang peristiwa tabrakan yang melibatkan dua rangkaian kereta.

Baca juga: Terowongan MRT di Singapura Kebanjiran? Ini Dia Penyebabnya!

Persisnya saat kejadian, sebuah rangkaian kereta menuju ke arah stasiun Tuas Link terhenti di stasiun Joo Koon pukul 8.18 pagi waktu setempat. Satu menit kemudian, kereta lainnya berhenti tepat di belakang kereta pertama yang rusak dan tiba-tiba bergerak maju tanpa diduga sehingga menabrak kereta pertama. Menteri Perhubungan Singapura Khaw Boon Wan mengatakan, ini adalah insiden besar pertama yang melibatkan sistem teknologi sinyal baru.

Tak hanya itu, Wakil Kepala Eksekutif Infrastruktur Pembangunan Otoritas Transportasi Darat (LTA) Chua Chog Kheng mengatakan, atas insiden ini operasional MRT dari Joo Koon menuju Tuas Link dihentikan sepanjang hari Kamis 16 November 2017. Sebagai gantinya akan ada layanan bus untuk alternatif warga yang terdampak penghentian operasional jalur tersebut.

Adanya tabrakan ini mengingatkan kejadian 24 tahun lalu tepatnya 5 Agustus 1993 di stasiun Clemeti dan sebanyak 156 penumpang luka-luka. Pada insiden ini, panel penyelidik independen yang terdiri dari Departemen Pekerjaan Umum, Politeknik Temasek, dan Mass Rapid Transit Corporation dibentuk untuk menyelidiki masalah tersebut.

Dua bulan kemudian panel tersebut melaporkan bahwa ada tumpahan minyak dari lokomotif yang melakukan pemeliharaan pada pagi yang sama. Ditemukan cincin karet yang rusak dan pecah sehingga menyebabkan 50 liter minyak tumpah kelintasan.

Panel tersebut menemukan bahwa staf tidak bertindak agresif dan segera untuk mengatasi tumpahan tersebut. Setelah kejadian tumpahan minyak tersebut sepuluh kereta masih menggunakan jalur tersebut tetapi sulit melakukan pengereman.

Pada kereta ke-11 yang terlibat tabrakan sebenarnya sudah menggunakan sistem rem darurat, namun sedikit tertunda sehingga pada saat kereta ke 12 masuk stasiun dan sistem pengereman otomatis sudah diaktifkan tetap saja tak bisa berhenti karena tumpahan minyak tersebut sehingga mengakibatkan tabrakan keduanya. Tidak ada staf yang ditemukan lalai dalam tugas mereka, dan panel tersebut merekomendasikan agar lokomotif perawatan diperiksa kebocoran minyak saat mereka kembali ke depot.

Baca juga: Stasiun MRT Singapura Siap Uji Coba Gerbang Tiket “Handsfree”

Hal ini membuat SMRT mewajibkan para petugas stasiun untuk memeriksa dan membersihkan jalur sebelum kereta berangkat ke stasiun tujuan. Saat itu diketahui pihak SMRT menerima lebih dari 150 klaim untuk kompensasi yang diajukan secara pribadi melalui hotline kompensasi mereka yang disiapkan satu hari setelah kecelakan tersebut. Adapun penggantian yang diberikan untuk biaya pengobatan dan barang yang rusak akibat tabrakan.

Entaskan Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Canangkan Penggunaan Pod Taxi

Di era yang sudah serba modern seperti saat ini, tidak sedikit golongan-golongan kreatif yang berusaha untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi, tidak terkecuali di sektor transportasi. Seperti yang baru saja diungkapkan oleh Bruhat Bengaluru Mahanagara Palike (BBMP), sebuah badan kemasyarakatan kota Bangalore, dimana mereka hendak mengadakan sebuah moda transportasi berbentuk pod taxi.

Baca Juga: Macet Parah Menuju Bandara, Bangalore Tawarkan Layanan Antar Jemput via Helikopter

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thenewsminute.com (13/11/2017), Menteri Pembangunan Bangalore, KJ George mengatakan bahwa mereka telah membuka tender global untuk pemasangan pod taxi di kota kelima terbesar di India yang pada tahun 2016 dihuni oleh 12,5 juta penduduk ini. “BBMP membuka penawaran untuk penerapan sistem Rapid Transport di Bangalore berdasarkan Design, Build, Finance, Operate and Transfer (DBFOT) berbasis model PPP,” tukas George dalam sebuah cuitannya di media sosial Twitter.

Pada bulan Oktober silam, BBMP meminta Direktorat Transportasi Darat Kota untuk menyiapkan dokumen untuk proyek tersebut, sehingga persetujuan kabinet dapat diperoleh. “Awalnya, Indian Institute of Science ditunjuk untuk menilai kelayakan proyek pengadaan pod taxi ini. Setelah mengajukan laporan kelayakan, kami meminta tender. BBMP tidak akan mengeluarkan satu sen untuk proyek ini. Perusahaan yang mengambil alih proyek harus menanggung biaya,” tutur Komisaris BBMP, Manjunath Prasad. “Setelah proses tender selesai, Direktorat Transportasi Darat Kota akan menyerahkan laporan akhir kepada kabinet untuk mendapatkan persetujuannya,” imbuhnya.

Adalah Metrino, sistem pengangkutan cepat otonom layaknya sebuah kereta gantung yang diusulkan dengan perkiraan biaya sebesar Rs 1.700 crore atau setara dengan Rp3,5 triliun. BBMP telah mengusulkan enam rute yang nantinya akan dilayani oleh pod taxi ini, mencakup Trinity Circle ke Leela Palace, Leela Palace ke Marathahalli Junction, Marathahalli Junction ke EPIP Graphite India Road, Trinity Metro Station ke Koramangala/HSR Layout, Jayanagar 5th Block ke JP Nagar 6th Phase, dan Sony Signal ke Indiranagar Metro Station.

Manjunath juga mengatakan bahwa pembangunan proyek ini akan memakan waktu sekitar dua tahun. Perkiraan masa konsesi BBMP untuk penawar tersebut akan sampai 50 tahun, dimana pendapatannya akan dibagi rata oleh BBMP, Pemerintah Karnataka dan perusahaan swasta yang terlibat. Proyek ini diperkirakan merogoh kocek sekitar Rs 50 crore per kilometer atau setara dengan Rp103,6 juta per kilometernya.

“Sebut saja JPODS Inc, Ultra Fairwood, dan SkyTran sudah menunjukkan niatnya untuk mengerjakan proyek ini. Populasi kota kian meningkat dan memiliki masalah konektivitas. Pod taxi diharapkan dapat menjadi solusi untuk masalah ini. Di negara-negara Eropa, sistem ini populer tapi mahal karena populasinya juga rendah, sedangkan populasi Bangalore sangatlah besar, yang bisa membuatnya menjadi lebih terjangkau,” tutur Chief Engineer BBMP dari Departemen Pelebaran Jalan, BS Prahallad.

Baca Juga: Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!

Ada banyak golongan yang meragukan keberhasilan dari proyek yang mereka nilai tidak efektif ini, namun keraguan tersebut langsung dibantah oleh CEO Namma Bangalore Foundation, Sridhar Pabbisetty. “Alih-alih berfokus pada taksi polong, pemerintah harus memastikan bahwa kota ini memiliki sistem perkeretaapian pinggiran kota yang baik untuk mengurangi kemacetan,” paparnya.