Smartsealz, Headset Berteknologi Augmented Reality, Sanggup Bantu Tugas Pilot!

Keselamatan dalam berkendara memang selalu menjadi poin penting yang tidak pernah luput dari perhatian banyak kalangan. Dari waktu ke waktu, selalu ada saja perkembangan untuk meningkatkan keselamatan dalam berkendara, baik itu dari segi pelakon maupun dari segi pengawas perjalanan seperti Air Traffic Controller di dunia aviasi. Kali ini ada satu inovasi yang dipercaya dapat menunjang kinerja pilot selama mengudara, yakni pengembangan konsep realitas tertambah atau Augmented Reality (AR) di earcup (headset).

Baca Juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman aopa.org (28/11/2017), headset ini dapat bergetar jikalau pilot melakukan suatu kelalaian. “Memakai headset ini akan terasa seperti Anda terbang dengan pilot lain yang akan menegur jika terjadi sesuatu yang tidak beres, seperti terbang di ketinggian yang tidak sesuai atau pilot yang sudah mulai mengantuk,” ujar Nick Wilson, seorang asisten professor di University of North Dakota (UND).

“Selama pilot sudah memakai headset, mengapa tidak menggunakannya sebagai sebuah instrument yang menunjang keamanan dalam bertugas? Teknologi ini bekerja bersamaan dengan lansiran pendengaran dan visual yang sudah biasa bagi kebanyakan pilot,” imbuh Wilson seraya mengutarakan teori yang berhasil ia simpulkan. Pengadaan inovasi  ini merupakan tindak lanjut dari kejenuhan seorang pilot dalam bertugas, sehingga bisa meminimalisir kecelakaan yang disebabkan oleh faktor human error. 

Lebih lanjut, Nick mengatakan bahwa perangkat ini akan sangat membantu para pilot yang mengalami keterbatasan referensi visual, seperti terbang di malam hari atau dalam kondisi cuaca yang buruk. Tidak hanya itu, headset inovatif ini juga dilengkapi dengan elektrokardiogram dan beberapa sensor lain yang dapat memantau fungsi jantung serta kognitif sang pengendali pesawat.

Instumen eksternal lainnya yang juga terpasang di headset ini mencakup accelerometer, altimeter, dan perangkat lainnya. Kombinasi dari beberapa instrumen tersebut memungkinkan pembacaan yang akurat terhadap orientasi ruang terbang pesawat, dan sang pilot dapat menerima beberapa informasi dari instrumen tersebut. Teknologi taktil dan pemantauan fisiologis yang sama dapat disesuaikan untuk mengingatkan pilot yang mengalami kekurangan saturasi oksigen yang dikenal sebagai hipoksia.

“Sama seperti Anda akan menggunakan mode ketinggian pada autopilot, sebuah sensor mencatat ketinggian barometrik. Ketika pilot menyimpang dari ketinggian yang diinginkan pun, alat ini dengan cepat akan memberikan sinyal kepada sang juru kemudi,” terangnya.

Baca Juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

Di sini, kode suara akan menjadi penanda apakah pesawat sudah berada di ketinggian yang tepat atau belum. Nada beep rendah  yang ditimbulkan mengindikasikan bahwa pilot harus menaikkan ketinggian jelajahnya, begitupun sebaliknya, jika nada beep tinggi, maka pilot harus menurunkan ketinggian jelajahnya.

Saat ini, tim mahasiswa penerbangan dan teknik tengah bekerja sama untuk menguji prototipe Smartsealz – nama headset tersebut – di kokpit pesawat terbang umum. Wilson sendiri mengaku bahwa saat ini, peneliti UND tengah berkolaborasi dengan beberapa raksasa kedirgantaraan global untuk menyempurnakan produk inovatif tersebut.

Tanpa Rasa Malu, Penumpang Ini Lepas Celana di Dalam Kabin Pesawat

Penumpang setiap moda transportasi harus memperhatikan perilaku saat berada di dalamnya seperti menghargai dan menghormati penumpang lainnya. Tetapi terkadang, ada penumpang lain yang membuat kesal dan tidak nyaman, bahkan membuat Anda ingin pindah ke tempat lainnya jika masih ada yang kosong. Seperti halnya bersendawa, mengupil, mendengkur, berkeliaran di lorong dan banyak hal lainnya.

Baca juga: 6 Hal Ini Bisa Memicu Keributan Selama Penerbangan

Bahkan mungkin membuat sebuah kegilaan yang bukan lagi membuat Anda jengkel dan tak nyaman melainkan ingin menyuruh penumpang tersebut turun. Tapi, hal tersebut tidak akan mungkin, karena mereka juga punya hak yang sama dengan Anda.

Pernahkah Anda bertemu dengan seorang penumpang dalam pesawat dan tiba-tiba membuka celana panjangnya serta membuka sepatu kemudian mengangkat kaki ke atas? KabarPenumpang.com menemukan hal menarik sekaligus menjengkelkan dari laman traveller.com.au, dimana seorang penumpang melepaskan celana panjangnya dan hanya mengenakan celana pendek atau boxer miliknya dalam sebuah penerbangan di ketinggian 35 ribu kaki.

Saat itu, selain melepas celananya pria tersebut juga dengan santainya menaikkan serta mengkangkangkan kaki di dinding kabin sambil menikmati layar monitor didepannya. Ternyata, pria tersebut berada disebelah salah seorang stand up comedian asal Pakistan Kumail Nanjiani.

Nanjiani mengatakan, pria tersebut mengangkat kakinya yang terlihat seperti tidak mengenakan apapun setinggi-tingginya sampai penumpang lain bisa melihat dan menyaksikan kelakuannya. Nanjiani tidak suka serta bercuit di Twitternya dan saat itu mau tak mau awak kabin juga ikut ambil bagian.

Setelah empat jam, akhirnya awak kabin mendatangi si pria tersebut dan mengatakan, “Bisakah Anda menurunkan kaki Anda? Orang-orang disebelah Anda berjalan melewati ini.”

Nanjiani mengatakan, seakan tak berdosa, pria tersebut bukannya menurunkan kaki melainkan menatap ke lantai kabin selama 40 detik. Tak hanya mendiamkan awak kabin, pria tersebut juga berlaku kasar, lima menit setelah berlalu mengangkat kakinya dan mendorong keatas seperti merasa tidak adil.

“Dia juga menghalangi pengguna kursi roda yang akan naik ke pesawat. Yang jelas orang ini kasar dan justru melakukan hal yang tidak baik,” ujar Nanjiani.

Saat tanda menggunakan sabuk pengaman dinyalakan yang menandakan pesawat akan segera mendarat, justru pria ini memakai celananya dengan tenang.

Baca juga: Inilah Yang Harus Dilakukan Pria Sejati di Dalam Kabin

“Saat tiba di bandara, pria ini pun keluar dari pesawat dan tidak ada polisi yang menunggu untuk memberikan keadilan. Pria tersebut bagai monster yang menyatu dalam kerumunan penumpang lainnya,” ujar Ninjaini. Setelah ditelisik, kejadian ini terjadi satu tahun lalu tepatnya 29 Desember 2016 pada penerbangan domestik Amerika Serikat. Apakah kejadian seperti ini akan ada lagi?

Wales Bangun Terminal Bus Terpadu, Sinergikan Ritel dan Perkantoran

Sebagai Ibukota sekaligus kota terbesar di Wales, Cardiff siap mengubah skema pembangunan terminal bus di pusat kotanya yang diagendakan mulai bergulir pada awal tahun 2018 mendatang. Ide perubahan skema ini muncul setelah adanya konfirmasi dari Cardiff Council untuk mengirimkan proyek Interchange di Central Square dengan menggunakan sebuah kendaraan khusus. Cardiff Council sendiri merupakan pengembang di balik skema regenerasi Central Square, Rightacres, dan Welsh Government.

Baca Juga: Singapura Bangun Jalur dan Stasiun MRT Baru, Harga Properti Siap Melonjak

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman walesonline.co.uk (13/12/2017), sebuah terminal bus baru, yang terhubung dengan Cardiff Central Railway Station, dipandang sebagai skema utama terkait pembangunan jaringan Metro yang bertujuan untuk menciptakan hubungan yang lebih erat antara layanan kereta api dan bus, serta pengguna kedua moda tersebut di kota dan wilayah Cardiff Capital yang lebih luas.

Metro Delivery Partnership yang merupakan joint venture dari beberapa perusahaan yang menangani proyek ini nantinya akan menjual skema tersebut kepada investor institusional untuk menutupi modal investasi yang mereka keluarkan. Lebih lanjut, sisa laba hasil penjualan skema tersebut dapat digunakan untuk membantu pembangunan kembali Cardiff Central Railway Station sebagai bagian dari proyek lanjutan Metro Delivery Partnership.

Adapun skema pembangunan ulang tersebut terdiri dari terminal bus dengan unit ritel di lantai dasar, lahan seluas 110.000 kaki persegi untuk ruang kantor baru, 400 ruang apartemen untuk disewakan, dan 250 tempat parkir di atas terminal bus. Dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyelesaikan proyek pembangunan ulang yang sudah dijabarkan di atas. Metro Delivery Partnership juga berharap agar Dewan Kabinet Cardiff memberikan lampu hijau untuk pendekatan joint venture semacam ini dan soal pendanaan modelnya dalam waktu dekat ini.

Sinyal positif proyek ini pun mulai terlihat dari dukungan yang diberikan oleh Sekretaris Kabinet bidang Ekonomi dan Transportasi, Ken Skates. “Sekarang benar-benar waktu yang tepat untuk membenahi stasiun sehingga bisa menyerap permintaan untuk perjalanan kereta api, mengatasi kemungkinan lonjakan penumpang pada saat peak season dan tentu saja mengatur ‘nafas’ untuk Metro South Wales di masa yang akan datang,” ungkap Ken.

Usaha joint venture ini merupakan pendekatan gabungan kepemilikan lahan untuk membenahi proyek infrastruktur transportasi Metro yang sudah ada sebelumnya. Ini semua dilandasi oleh sebuah riset menyebutkan bahwa sistem transportasi berbasis massal diperkirakan akan tumbuh sebesar 130% dalam kurun waktu 30 tahun ke depan.

Baca Juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

“Seperti yang diketahui bersama, Metro Delivery Partnership dirancang untuk memiliki ‘ketahanan’ yang lebih lama dengan tujuan yang lebih besar. Begitu bangunan stasiun bus rampung dan dijual, maka laba pembangunan tersebut akan didaur ulang untuk melanjutkan tahap kedua pembangunan, termasuk modernisasi Cardiff Central.” Tutup anggota kabinet bidang investasi dan pengembangan, Russell Goodway.

Santap Sisa Makanan Penumpang, Awak Kabin Ini Terancam Sanksi Berat

Merasakan lapar saat sedang bertugas tentu hal yang wajar, tapi buat para awak kabin sudah barang tentu rasa lapar tadi harus dikelola dengan baik. Ada aturan dan etika yang harus diikuti, mengingat tindak tanduk awak kabin mencermikan citra maskapai yang bersangkutan. Nah, apa jadinya bila seorang pramugari atau awak kabin terekam sedang mencicipi makanan milik penumpang, lebih hebohnya lagi yang disantap adalah makanan sisa.

Baca juga: Lho! Di Emirates, Ada Sampanye Sisa Dituang Ke Dalam Botol

KabarPenumpangcom melansir dari laman thesun.co.uk (8/12/2017), seorang awak kabin yang bertugas dalam penerbagan maskapai Urumqi Air dengan pesawat Boeing 787-800 tertangkap sedang memakan makanan yang akan dihidangkan pada penumpang dalam sebuah video. Rekaman ini diambil oleh seseorang saat awak kabin ini sedang berada di dapur kabin.

Dalam video terlihat ada sekitar 15 tempat makan aluminum yang berjejer berisi nasi dengan daging. Kemudian awak kabin tersebut sambil sembunyi-sembunyi mengaduk satu tempat makan untuk mengambil daging dan memakannya.

Tetapi tidak hanya satu melainkan dua, kemudian menyedok kembali dari tempat lainnya dan melahap makanan tersebut. Rekaman ini diambil sekitar 45 menit sebelum pesawat mendarat di Kota Yinchuan di Cina barat laut.

Video ini kemudian disebar melalui media sosial dan menjadi viral yang kemudian sampai ke pemimpin maskapai Urumqi Air. Pihak maskapai lalu mengonfirmasi bahwa awak kabin wanita yang tidak diketahui namanya tersebut memang bekerja untuk Urumqi Air dan saat ini sudah diskors serta terkena disiplin oleh pihak maskapai.

Perusahaan tersebut memberikan pernyataan bahwa makanan yang dimakan awak kabin tersebut termasuk makanan sisa dan bukan makanan baru serta seharusnya membuang makanan tersebut. Pihak maskapai juga mengatakan bahwa makanan tersebut telah dibuka dan untuk menjalani prosedur yang tepat dalam menangani makanan sisa agar dibuang.

“Mengingat ketidakberesan karyawan, perusahaan telah memulai prosedur investigasi dan pendisiplinan sesuai dengan peraturan. Perusahaan telah mengatur penyelidikan internal yang komprehensif untuk memastikan bahwa awak kabin mengikuti secara ketat pelaksanaan proses pembuangan makanan, untuk menghindari terulangnya insiden serupa. Urumqi Airlines sejak awal menjunjung tinggi sikap bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan kepada wisatawan umum,” ujar pernyataaan yang dikeluarkan maskapai tersebut.

Tak hanya itu, pihak maskapai juga menjelaskan bahwa setiap penerbangan harus memenuhi permintaan penumpang akan makanan. Namun terkadang ada kelebihan saat penumpang tidak mengonsumsi makanan mereka.

Juru bicara Urumqi Air mengatakan, sebenarnya awak kabin juga telah disediakan dengan makanan yang memadai. “Kami sangat menyesal atas kejadian tersebut dan tidak akan pernah mentoleransi tindakan tersebut. Mematuhi standar industri adalah persyaratan dasar bagi para profesional dan meminta maaf atas masalah yang disebabkan oleh kejadian ini,” ujar juru bicara tersebut.

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk

Awal tahun ini, seorang pramugari Emirates menjadi berita utama setelah dia tertangkap sedang menuang segelas sampanye ke botol di Business Class. Seorang penumpang tanpa disadari menangkap anggota awak kabin dalam tindakan tersebut saat memfilmkan pemandangan dari tempat duduknya yang mewah di kabin kelas bisnis kelas atas Aiebus A380.

Singapore Airlines Hadirkan Chatbot di Laman Facebook

Pengaduan masalah yang dirasakan penumpang pada sebuah maskapai atau pertanyaan terkait penerbangan biasanya hanya melalui jalur customer service atau layanan aduan pelanggan via email dan telepon. Tak hanya itu, lewat sosial media juga bisa dilayangkan baik pertanyaan maupun pengaduan.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Kini Grab Berkolaborasi dengan Garuda Indonesia

Sayang, terkadang pertanyaan dan pengaduan terkait penerbangan justru seringkali terlambat di respon atau terlewat begitu saja alias terlupakan oleh pihak maskapai. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (12/12/2017), baru-baru ini, Singapore Airlines meluncurkan chatbot untuk memudahkan pelanggan untuk bertanya terkait masalah apapun.

Chatbot yang diluncurkan Singapore Airlines ini dirancang untuk menjawab semua pertanyaan pelanggan. Bot beta ini bernama Kris dan beroperasi di halaman Facebook milik Singapore Airlines serta juga akan hadir dalam situs website milik mereka.

Para pelanggan bisa ngobrol langsung dengan Kris via Facebook Messenger terkait pertanyaan pra penerbangan. “Bot saat ini dilatih untuk menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris terkait bagasi, check in, pemesanan online serta bepergian dengan bayi dan anak-anak,” ujar Singapore Airlines dalam siaran persnya.

Chatbot milik Lufthansa (futuretravelexperience.com)

Di pesan selama datangnya bot tersebut mengatakan, “Mungkin saya belum bisa menjawab semua pertanyaan Anda, tapi saya akan sampai di sana!” Saat ini diketahui, bot tersebut dalam mode pembelajaran konstan dan sudah dilatih dengan data historis berdasarkan pertanyaan yang sering dicari oleh pelanggan dalam situs milik Singapore Airlines. Menurut pernyataan tersebut, dengan menggunakan variasi pertanyaan aktual yang diterima dari pelanggan, respons chatbot telah disesuaikan dengan putaran iterasi menggunakan kecerdasan buatan.

Ini  bertujuan melatih bot untuk menawarkan jawaban percakapan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cepat dan efisien. Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Singapore Airlines sudah semakin meningkatkan kemampuan digital chatbot.

Baca juga: Miles KrisFlyer Singapore Airlines Naik Per 7 Desember 2017

“Kris akan terus berkembang karena kami mengembangkan perpustakaan pengetahuan lebih lanjut berdasarkan pada apa yang sering dihubungi pelanggan kami. Preferensi pelanggan berubah dan dengan Kris, kami mempertimbangkan masukan dengan memperluas platform servis kami di luar pusat kontak dan email tradisional,” ujar Marvin Tan, VP layanan pelanggan senior dan operasi.

Bot ini sendiri, dikembangkan oleh tim in-house Singapore Airlines, dengan tujuan chatbot adalah untuk memperluas saluran servis digital untuk pelanggan.

[Video] Bertahan di Padatnya Gerbong Komuter Memang Tak Mudah, Tips dari Tokyo Ini Bisa Jadi Rujukan

Tokyo merupakan salah satu kota yang memiliki pelayanan transportasi publik terbaik di dunia. Dengan predikat sebagai kota metropolitan yang termasuk jajaran kota terpadat di dunia, ketersediaan transportasi publik mutlak diperlukan untuk menyokong aktivitas keseharian warga Tokyo dan sekitarnya.

Baca juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Moda transportasi andalan bagi warga Tokyo adalah kereta api. Jalur (line) kereta api di Tokyo lebih dari 50 line yang dikelola oleh 16 perusahaan kereta api. Jalur terbanyak dengan jumlah 36 line dimiliki oleh Japan Railway (JR) East Company, sebuah grup perusahaan kereta api terbesar di Jepang. Sistem perkeretaapian bawah tanah (subway) di Tokyo tercatat sebagai jalur terpadat di dunia dalam hal jumlah penumpang.

Disebut sebagai jalur kereta komuter terpadat tentu membawa konsekuensi, yakni penumpang dituntut untuk sigap dan kuat bertahan di dalam gerbong yang padat. Untuk menghadapi hal tersebut, butuh skill dan keahlian khusus agar bisa berdiri tegak sembari menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dan tidak harus mengalami hal terburuk di kereta yang penuh sesak.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman japantoday.com, ada sembilan tips terbaik agar Anda bisa bertahan dalam kesesakan keret Jepang. Siapa tahu  tips dibawah ini dapat diterapkan di Indonesia, khususnya bagi penumpang jalur komuter.

1. Teknik panjat tebing
Dalam kereta yang padat, Anda tidak akan bisa mendapatkan duduk. Tetapi, bila Anda bisa mendapat akses ke sebuah pegangan di kereta, maka Anda terpilih oleh Dewa Kereta. Bagi sebagaian orang, mereka harus bisa menjaga keseimbangan tubuh. Cara terbaik adalah dengan teknik rock climbing atau panjat tebing. Ini dimana Anda akan bergantungan dengan jari tangan di pegangan kereta.

2. Teknik satu jari
Terkadang, Anda tidak memungkinkan memegang apapun dalam kereta, bila mengalami hal seperti ini gunakan teknik satu jari. Cara tersebut bisa digunakan saat Anda berada tepat disamping pintu kereta, supaya bisa memanfaatkan bagian atap kereta. Tak hanya itu, kaki sebagai tumpuan harus di jejakkan di lantai kereta, jika Anda memiliki tubuh yang cukup tinggi, bisa menggapai bagian atap kereta, sehingga ketenangan dan kedamaian pikiran bisa didapat karena berada di dalam kereta.

3. Kabe don (Terpojok yang tidak disengaja)
Anda terkadang akan melakukan atau mengalami kabe don yang tidak disengaja saat naik kereta yang padat. Entah karena kereta berguncang atau berhenti mendadak, Anda akan menabrak beberapa penumpang disekitar. Bahkan sampai harus menyandarkan kedua tangan ditembok atau jendela kereta.

4. Teknik Michael Jackson
Teknik ini diambil dari gerakan milik King of Pop Michael Jackson. Keseimbangan yang cekatan dan tariannya sangat berguna jika digunakan dalam kereta. Bukan hanya ruang untuk tubuh, melainkan lantai yang juga sempit. Untuk mendapatkan tempat, mulailah bergoyang untuk setidaknya mendapat sedikit ruang. Bila yang terbiasa dengan tarian, maka satu kaki pun mampu untuk mendapatkan tempat di dalam kereta.

5. Teknik ikuti arus
Empat teknik sebelumnya adalah mencoba berdiri di dalam kereta dan bergantung pada keseimbangan. Teknik ini adalah kebalikan dari itu semua. Ikuti arus tanpa perlawanan, maka Anda akan merasakan ketenangan dalam diri saat berada di kereta yang sesak.

6. Teknik tengkuk leher dan 007
Ini adalah cara yang aneh, tapi teknik ini menghadapkan Anda pada tantangan yang berbeda dalam sebuah kereta yang penuh sesak. Perhatikan tengkuk leher seseorang dan evaluasi orang itu seperti apa dengan melihat satu bagian kecil ditubuhnya.

7. Omiai (wawancara pernikahan resmi)
Cara ini memang bukanlah yang terbaik untuk bertahan. Ketika Anda naik kereta dan salah memprediksi waktu pintu dan orang-orang sekitar, Anda akan berakhir dengan bertatapan dengan mereka. Kejadian ini dinamai oimai, karena jarak antara wajah Anda dengan orang lain hanya sedikit dan seperti akan berciuman. Sebab tidak akan ada waktu untuk berbalik arah karena padatnya kereta.

8. Sudut pandang yang tepat
Kalau Anda sudah memegang satu pegangan kereta, maka akan dengan mudah mencari sudut pandang yang pas tanpa terganggu dengan penumpang lain walau sedang berhimpitan dalam kereta yang sesak.

Baca juga: Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an

9. Pertahanan
Ini teknik terakhir yang akan mengeluarkan insting pertahanan Anda. Setelah semua orang masuk ke dalam kereta, terkadang sering muncul suatu garis pemisah ditengah. Dua sisi terbentuk karena orang-orang menghadap ke arah pintu kiri dan sebagian ke kanan. Dua sisi ini biasanya digunakan untuk mendominasi ketika penumpang naik ataupun turun. Tetapi akan berubah jika pintu terbuka dan penumpang baru naik ke kereta. Ini saatnya menjaga tempat Anda agar tidak tergeser.

Bingkai Jendela di Kabin Pesawat Lepas, Mengerikan Tapi Jangan Keburu Panik

Apa yang Anda pikirkan jika jendela pesawat bingkainya terlepas? Panik, khawatir dan takut wajar dirasakan sebagai seorang penumpang, pikiran bahwa Anda akan tersedot ke luar akibat perbedaan tekanan udara mungkin akan berkecamuk di otak. Tidak ada yang salah dengan pikiran tersebut.

Baca juga: Berkat Lubang Kecil Ini, Jendela Pesawat Dipastikan Bebas Kabut

KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (26/11/2017), bahwa sebuah video telah di unggah ke Youtube dengan judul Should I be concerned? Video ini diunggah di Chile pada 20 November kemarin. Dalam video terlihat jendela terlepas dari bingkainya dan pengunggah video tersebut mengatakan ini adalah maskapai bertarif rendah alias low cost carrier dengan tarif jalan sekitar US$30.

“Saya merasa lucu dan merekam video dengan ponsel saya,” ujar pengunggah video tersebut. Penonton yang melihat video ini pastinya merasakan kengerian dan banyak yang berkomentar tentang kejadian tersebut.

“Jika jendela itu sedikit terbuka, kabin akan kehilangan tekanan, semua orang akan mati,” tulis salah seorang pemirsa.

Adanya masalah ini membuat Patrick Smith seorang pilot pesawat terbang dan pembawa acara www.askthepilot.com mengatakan, bahwa bagaimanapun tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena itu bukanlah bingkai jendela yang langsung berhubungan dengan sisi luar pesawat.

“Ini hanya bagian dari superfisial yang membantu melindungi jendela sebenarnya. Saya akui bahwa itu terlihat memalukan dan tidak profesional, tapi tidak ada risiko keselamatan,” ujar Smith. Dai Whittinghm, Kepala Eksekutif Komite Keselamatan Penerbangan Inggris mengatakan sependapat dengan Smith. Dia mengatakan, ini jelas bukan masalah keamanan, ini hanya sepotong trim kabin yang longgar.

Baca juga: Saat Take Off and Landing, Penutup Jendela Pesawat Wajib Dibuka, Inilah Sebabnya!

“Jendela internal ada untuk melindungi kaca utama dari goresan dan menghalau kebisingan sekaligus menyediakan elemen insulasi termal. Jendela eksternal dipasang pada lambung kapal dan disegel dengan packing sehingga bagian dalam pesawat bisa bertekanan. Jadi trim longgar ini sama sekali tidak akan berpengaruh sama sekali, meski diakui cukup mengganggu kenyamanan,” ujar Whittingham.

Salah satu bagian dari desain jendela pesawat terbang yang selalu membingungkan penumpang adalah mengapa ada lubang kecil di dalamnya. Lubang ini ternyata, membantu mengatur berapa banyak tekanan dari kabin yang diberikan ke panel jendela dan memastikan bahwa jika jendela pecah, panel luar yang terjauh dari penumpang masuk lebih dulu.

Mirip Sistem Transit Pesawat, Traveloka Kemas Tiket Kereta Dengan Model Lanjutan

Sampai saat ini moda transportasi yang identik dengan sistem lanjutan alias transit lewat one stop payment adalah pesawat terbang. Namun belum lama ini, masyarakat pengguna kereta api jarak jauh dihebohkan dengan adanya kereta lanjutan, kesemuanya dikemas dalam satu paket pembayan. Banyak yang bertanya-tanya apakah ini kebijakan langsung PT Kereta Api Indonesia (KAI) atau hanya agen perjalanan yang membuatnya agar penumpang lebih mudah?

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Emplasemen, Istilah Perkeretaapian Yang Terlupakan

Dengan sistem transit, penumpang yang ingin menikmati satu kota dan tidak mau terburu-buru sampai ke kota tujuan, atau tidak menginginkan sampai di kota tujuan tengah malam maupun dinihari dapat memilih opsi ini. Sebenarnya, kereta lanjutan dari agen pembelian tiket (Traveloka.com) seperti memanfaatkan kekosongan bangku di stasiun-stasiun yang memang banyak penumpang turunnya di saat akhir tahun dan juga bertepatan dengan liburan sekolah.

Seperti contoh kereta dari Stasiun Pasar Senen Jakarta tujuan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, yang biasanya sekali jalan menghabiskan waktu kurang lebih sembilan jam, tetapi dengan kereta lanjutan bisa sampai 13 jam perjalanan. Hampir semua kereta lanjutan tujuan Yogyakarta akan transit di Purwokerto, sehingga penumpang transit bisa menikmati keindahan kota Purwokerto sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Ilustrasi pembelian tiket tambahan dari Traveloka (KabarPenumpang.com)

Tak hanya tujuan Yogyakarta, hampir ke semua tujuan kereta jarak jauh, Traveloka memberikan kereta lanjutan. Padahal bila di cek sebenarnya harga tiket yang dikenakan sama dan fee yang dikenakan sebesar Rp7500 menjadi dua kali lebih besar, intinya seperti membeli dua tiket biasa.

Kami pernah merasakan sistem transit ini, dikarenakan suatu hari kehabisan tiket menuju Yogyakarta. Dari Stasiun Gambir dengan KA Parahyangan kami terlebih dahulu harus menuju Bandung untuk transit dan ganti kereta di Stasiun Bandung. Sehingga dari Bandung perjalanan ke Yogyakarta kami sambung dengan KA Malabar, kira-kira waktu transit yang dihabiskan di Bandung sekitar lima jam. Keseluruhan tiket dapat dibeli dalam satu transaksi pembelian di Traveloka.

Namun, harga yang dikenakan baik memilih transit sendiri atau menggunakan kereta lanjutan bisa lebih mahal ataupun murah tergantung kereta yang Anda gunakan. Tiket akan lebih mahal ketika Anda membeli tiket eksekutif kemudian melanjutkan kembali dengan eksekutif dan sebaliknya dengan kereta ekonomi.

Beberapa pengguna kereta lanjutan mengatakan, tidak ada tanggungan dari KAI jika penumpang yang menggunakan kereta tersebut terlambat. Sehingga bila penumpang ketinggalan kereta maupun kereta datang terlambat pun pihak KAI tidak akan memberikan ganti rugi apapun.

Sebenarnya dari PT KAI sendiri tidak mengenal adanya sistem tiket dengan transit “Kita tidak mengenal sistem transit seperti ini. Ini program dari agennya saja,” ujar Humas PT KAI Daop 1 Suprapto yang di hubungi KabarPenumpang.com (13/12/2017).

Baca juga: Sembunyi dari Kondektur Tiket Kereta, Masih Bisakah?

Sayangnya pihak KAI memang tidak menyediakan, justru mengatakan bila kereta sudah habis tujuannya, seperti menuju Yogyakarta, masyarakat bisa menggunakan kereta Prambanan Ekspres (Prameks) untuk melanjutkanya dari pemberhentian kereta terakhir. Tetapi, hal ini justru bisa membuat masyarakat sendiri tidak nyaman dan tidak efektif, jadi lebih memilih untuk membeli kereta dari Jakarta. Sebab, untuk menunggu kereta Prameks sendiri pembelian tiket tidak bisa dari Jakarta melainkan harus dari stasiun asal pemberangkatan minimal dua jam sebelumnya.

Sistem penawaran tiket model transit/lanjutan selain memberikan kemudahan pembayaran dan pilihan ekstra bagi konsumen, tak pelak ikut mendongkrak tingkat penjualan kereta.

Dengan Lokomotif Otonom, Swiss Federal Railway Siap Naikkan ‘Kasta’ Armadanya

Era otomatisasi kian merambak ke sejumlah sektor transportasi dewasa ini. Hal tersebut dibuktikan dengan uji coba lokomotif otonom oleh operator kereta asal Swiss, Swiss Federal Railways (SBB). Bukan tanpa alasan, pengadaan lokomotif otonom ini merupakan tindak lanjut dari maraknya kecelakaan kereta yang diakibatkan oleh human error. Walaupun beda region, namun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pernah menyebutkan bahwa faktor human error merupakan salah satu penyebab tingginya angka kecelakaan di dunia.

Baca Juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman rt.com (7/12/2017), lokomotif otonom tersebut berhasil menembus kecepatan 125 mph atau yang setara dengan 200 km per jam. Sebagaimana yang tercantum di laman sumber, pihak SBB sendiri pun mengakui bahwa tujuan utamanya dalam menjajaki sistem autopilot baru ini merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keamanan. Sehingga diharapkan, sistem perkeretaapian di negara yang terkenal dengan Pegunungan Alpennya ini dapat memperbaiki pelayanannya terhadap konsumen atas dasar keamanan.

Sistem otonom yang berada di lokomotif ini merupakan hasil upgrade dari perangkat lunak SmartRail 4.0, dimana ‘peningkatan kasta’ ini memungkinkan kereta untuk menambah dan mengurangi kecepatan tanpa memerlukan masinis. Pengujicobaan lokomotif otonom yang menarik serangkaian gerbong kosong ini sendiri terjadi di jalur yang membentang antara Berne dan Olten.

Hasil uji coba ini pun bisa dibilang sesuai dengan yang diharapkan, yaitu kereta dapat melakukan percepatan dan mengerem secara otomatis, dimana uji coba ini diawasi langsung oleh tenaga ahli yang berada di balik layar monitor berisikan sistem. Pengujian sistem otonom ini dilakukan di malam hari, dan tentu saja tidak ada penumpang yang diijinkan untuk masuk ke dalam gerbong. Ini merupakan antisipasi jikalau kereta mengalami kecelakaan pada saat uji coba.

Meskipun teknologi otonom ini memungkinkan kereta beroperasi secara efektif, namun SBB telah menyarankan bahwa sistem tersebut hanya akan diimplementasikan sebagai sistem bantuan pendorong. “SBB yakin bahwa, di masa depan juga, personil yang berkualitas harus tetap berada di dalam kereta untuk memastikan keamanan dan ketepatan operasi perkeretaapian,” kata SBB dalam sebuah pernyataan yang diumumkan pasca pengujian tersebut.

Baca Juga: Graceful Super Express, Cikal Bakal Layanan Kereta Jarak Jauh Tokyo-London

Kehadiran kendaraan otonom memang mendominasi pemberitaan belakangan ini, dari mulai Tesla hingga Volocopter yang hingga kini masih berkutat untuk mencari pasar yang tepat. Terdapat pula sejumlah sistem Metro tanpa masinis yang sudah mulai dioperasikan di beberapa belahan dunia, termasuk di Barcelona dan Kopenhagen. Namun untuk kasus kereta peluru otonom, para penggiat bisnis masih mempertimbangkan banyak pilihan dan resiko kemungkinan yang terjadi.

Ini Dia! Hal Yang Kurang Menyenangkan Saat Bertandang Ke Cina

Sebagai destinasi wisata, Cina jelas ada di urutan wahid, sedangkan untuk tujuan bisnis, menyadang status sebagai basis mayoritas manufaktur global menjadikan sosok Cina tak pernah bisa dilupakan dalam setiap kesempatan. Meski mampu menarik banyak tamu asing, predikat Cina sebagai negara sosialis komunis menjadikan berkunjung ke Cina perlu persiapan khusus, terutama saat kunjungan ke wilayah Cina daratan, yang artinya di luar zona otonomi Hong Kong dan Makau.

Selain diperlukan visa untuk masuk ke wilayah Cina daratan, sebagai seorang pelancong atau ekspatriat Anda harus bisa menyesuaikan diri dengan tempat tujuan, tak lain guna membuat diri Anda nyaman dengan kondisi lingkungan. Maka jika bertandang ke Negeri Tirai Bambu kemungkinan Anda akan merasakan beberapa hal tidak menyenangkan. Berikut ini KabarPenumpang.com merangkum dari blogs.transparent.com hal-hal yang tidak menyenangkan di Cina.

Baca juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan

1. Seperti tontonan
Saat menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan pandanya ini, Anda akan terkejut. Sebab orang-orang akan terus mengambil foto Anda tanpa bertanya apakah suka atau tidak. Padahal sebenarnya, jika orang Cina menjadi pelancong di negara lain tidak suka jika ada yang berbuat demikian.

2. Akan selalu menjadi Lo Wai atau orang Asing
Anda bisa mengusai semua hal tentang Cina baik bahasa, budaya, memasak makanan mereka dan lama tinggal di sana. Tetapi jika tidak terlihat seperti mereka, Anda akan sama saja menjadi Lo Wai atau orang asing.

3. Internet
Bukan rahasia lagi negara Cina memiliki akses internet yang ketat. Ini bisa disebut dengan The Great Firewall of China. Banyak situs yang di blokir oleh Cina seperti WeChat yang menggantikan Twitter, Ren Ren menggantikan Facebook hingga Baidu yang menggantikan Google. Mungkin bagi masyarakat Cina hal tersebut biasa tapi tidak untuk pelancong.

4. Toilet umum
Hal terburuk dari Negeri Tirai Bambu ini adalah toilet umumnya, tanpa pintu, bau hingga kotor. Baiknya saat Anda berada di Cina bawa tisu basah dan cairan pembersih tangan.

5. Banyak Orang Meludah
Terutama warga di wilayah Cina bagian selatan, kebiasaan meludah di jalanan masih kerap ditemui. Tentu ini merupakan pemandangan yang kurang menyenangkan, selain terasa tidak sopan secara etika.

6. Kurangnya kebersihan
Tak hanya toiletnya, banyak orang Cina yang meludah sembarangan, membuang sampah di dekat pohon. Selain itu, untuk menaiki kereta bawah tanah pun seperti tak ada aturan, dimana masyarakat mendorong satu sama lain untuk masuk ke kereta.

7. Polusi Tinggi dan Kabut Asap
Khususnya di wilayah kota Beijing, tingkat polusi akibat dampak industri terbilang parah. Seperti di Beijing keberadaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menjadi penyebab polusi yang luar biasa parah. Akibat level polusi yang parah, otoritas setempat kadang mewajibkan penggunaan masker. Selain Beijing, masih ada 22 kota lain di Cina yang punya tingkat polusi cukup besar.

8. Hari libur
Pemerintah Cina sering kali membuat masyarakatnya berpikir akan libur panjang. Ini membuat banyak pekerja beberapa hari sebelum dan setelah liburan untuk memperpanjang liburan mereka. Karena masalah tersebut banyak pekerja yang stres dan memilih bepergian pada waktu yang sama. Sehingga membuat semua jalur padat, sebab orang-orang membayar lebih tiket dan hotel selama berlibur. Jika Anda ingin menetap di Cina baiknya berpikir ulang dengan jadwal liburan yang tidak masuk akal ini.

Baca juga: Robot Akan Mengambil Peran di SPBU Cina Mulai Tahun Depan!

9. Chinese tour group
Tur di Cina terorganisir, dimana berkeliling ke Shanghai dengan tujuan Suzhou dan Hangzhou. Sebagian besar waktu di habiskan di bus walaupun sering berhenti baik itu di pabrik sutra, tempat berbelanja hingga restoran mahal. Baiknya bila berkunjung ke Cina tidak memilih tur grup jika tidak ingin kecewa.