Rangkul Bank Mandiri, Citilink Indonesia Luncurkan E-Money Untuk Segala Transaksi. Efektifkah?

Untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggan setianya dan dalam upaya meningkatkan pengalaman penumpang, Citilink Indonesia menggandeng Bank Mandiri dalam meluncurkan uang elektronik. Tujuan utama dari peluncuran uang elektronik ini adalah untuk memberikan kemudahan bertransaksi bagi para pelanggannya.

Baca Juga: Menanti Kedatangan Pesawat Ke-50, Citilink Optimis Penuhi Target di Akhir Tahun

“Peluncuran uang elektronik ini merupakan bentuk dukungan Citilink Indonesia terhadap program Pemerintah Indonesia yakni Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) untuk memberikan kemudahan transaksi serta manfaat tambahan bagi pelanggan Citilink Indonesia,” kata Direktur Niaga Citilink Indonesia, Andy Adrian, dikutip KabarPenumpang.com dari laman liputan6.com (19/10/2017).

Andy melanjutkan bahwa Citilink merupakan maskapai pertama di Indonesia yang memiliki dan menggunakan uang elektronik dalam transaksi layanan produk penerbangannya. Merujuk pada peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia pada bulan Agustus 2014 silam, menyebutkan bahwa peluncuran GNNT bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar melakukan transaksi tidak menggunakan uang tunai dalam semua kegiatan ekonomi yang dilakukannya.

Rekanan Citilink dalam program ini, Bank Mandiri, dipercaya dapat membawa tren positif dan diharapkan manfaat dari model transaksi baru ini dapat dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat Indonesia. Direktur Distribusi Bank Mandiri, Hery Gunardi mengatakan bahwa sinergi yang dilakukan dengan pihak Citilink merupakan bagian dari strategi marketing uang elektronik berlogo Mandiri e-money tersebut. “Per Agustus lalu, jumlah uang elektronik berlogo Mandiri e-money yang telah diterbitkan mencapai lebih dari 10 juta keping dengan frekuensi transaksi lebih dari 300 juta transaksi senilai Rp3,4 triliun,” ungkap Hery.

Namun, kehadiran uang elektronik di Indonesia ini tidak serta merta mendapat dukungan penuh dari para warganya. Dibutuhkan edukasi khusus dari pihak penyedia layanan kepada masyarakat yang tampaknya masih kebingungan dengan keuntungan dan mekanisme dalam menggunakan uang elektronik. Tidak hanya itu, wacana pengenaan biaya isi ulang uang eletronik ini pun turut memperkeruh polemik yang sudah ada sebelumnya.

Baca Juga: Airbus A320Neo: Tawarkan Kabin Lebih Senyap, Inilah Pesawat Terbaru Citilink

Dihimpun dari sumber lain, rencana kebijakan ini dikritik oleh salah seorang Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira. Menurutnya, rencana pengenaan biaya isi ulang dianggap tak adil dan justru malah akan menghambat upaya GNNT. “Ini lalu timbul ketidakadilan, belum lagi soal fee top up uang elektronik. Infrastruktur yang harusnya disediakan oleh pemerintah dan perbankan dibebankan ke masyarakat,” kata Bhima dilansir dari laman kumparan.com (18/10/2017).

Kembali ke topik awal, nantinya uang elektronik Citilink dapat dipergunakan di lebih dari 30.000 merchant Bank Mandiri di seluruh Indonesia. Di depannya, uang elektronik ini akan dipergunakan sebagai alat transaksi yang sah untuk beragam keperluan, seperti pembelian tiket pesawat, pembayaran layanan produk Onboard Citilink seperti makanan dan minuman, membayar charge tambahan bagasi di bandara, dan lain-lain. Menurut Anda, akankah penggunaan uang elektronik ini dapat mempermudah transaksi seperti yang sudah disebutkan di atas?

Gandeng Belanda Lestarikan Kereta Jadul, PT KAI Optimis Museum Ambarawa Jadi Yang Terbesar di Asia

Sebagai salah satu sarana transportasi tertua yang hingga kini masih beroperasi di Indonesia, kereta api yang pada masa penjajahan Belanda dulu lebih banyak dipergunakan sebagai angkutan hasil bumi, kini sudah beralih fungsi menjadi angkutan penumpang yang melayani perjalanan baik dalam dan luar kota. Tanpa kita sadari, sistem perkeretaapian Belanda yang digunakan di Indonesia sudah mencapai 150 tahun, sudah sangat tua bukan?

Baca Juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Mengingat tumpukan cerita pahit dan manis yang menghiasi moda darat berjuluk ular besi ini, maka akan terasa sayang sekali jika itu semua tidak diabadikan. Maka dari itu, pada 6 Oktober 1976, didirikanlah Museum Kereta Api Ambarawa untuk melestarikan lokomotif uap yang pernah berjaya pada masanya. Tidak hanya memamerkan koleksi kelengkapan kereta api saja, lokomotif uap nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabrik Esslingen, serta B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG juga ditugaskan untuk mengantar wisatawan berkeliling.

Ada cerita unik dibalik B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG, dimana ini merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia, sedangkan dua lainnya berada di Swiss dan India. Pada awalnya, Museum Ambarawa ini merupakan sebuah stasiun yang dibangun pada 21 Mei 1873. Stasiun kereta yang awalnya bernama Willem I ini dibangun di atas lahan seluas 127.500 m². Nama tersebut diambil dari Raja Belanda pertama, Raja Willem I yang memerintah untuk membangun sebuah stasiun kereta baru yang memungkinkan pemerintah untuk mengangkut tentaranya ke Semarang.

Stasiun ini awalnya menjadi titik temu antara lebar sepur 1,435 mm (4 ft 8 1⁄2 in) ke arah Kedungjati dengan 1.067 mm (3 ft 6 in) ke arah Yogyakarta melalui Magelang. Hal ini masih bisa terlihat bahwa kedua sisinya dibangun stasiun kereta untuk mengakomodasi ukuran lebar sepur yang berbeda. Museum Ambarawa ini mengoleksi 21 lokomotif uap. Terdapat juga 3 lokomotif kuno yang hingga kini masih dioperasikan, sebagaimana yang sudah dijabarkan di atas. Koleksi yang lain dari museum adalah telepon antik, peralatan telegraf Morse, bel antik, dan beberapa perabotan antik.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (17/10/2017), dalam delapan tahun terakhir, Perkeretaapian Indonesia telah meniupkan kembali nafas kehidupan baru kepada jalur kereta dan kereta api jaman dulu yang mereka punya. Tidak berjalan sendiri, PT KAI menggaet Nederlands Smalspoor Museum dari Belanda mulai mempromosikan Museum Ambarawa ke Belanda.

Baca Juga: NIS 107, Jejak Lokomotif Tertua di Indonesia Yang Terlupakan

Dihimpun dari sumber lain, Vice Production Conservation, Maintanance, and Architecture Design, PT Kereta Api Indonesia kala itu, Ella Ubaidi mengatakan bentuk kerjasama yaitu saling mempromosikan museum antarnegara. “Promosi bersama, museum PT KAI akan dipromosikan di Belanda nanti bisa dapat banyak tamu segmen Eropa. Nanti promosi museum mereka di kita,” kata Ella mengutip detik.com, 17 Oktober 2014.

Ella juga menegaskan kemungkinan museum KA Ambarawa akan menjadi museum kereta api terbesar, terlebih lagi jika rel dari Semarang-Magelang sudah selesai direstorasi semuanya. “Insya Allah jadi museum KA terbesar di Asia bahkan bisa di dunia. Jalan rel dari Semarang ke Magelang akan direstorasi. Bisa dipakai tidak hanya KA umum, tapi bisa dalam kemasan KA wisata.” Tutup Ella.

Stasiun MRT Singapura Siap Uji Coba Gerbang Tiket “Handsfree”

Nampaknya era otomatisasi kian merajalela. Setelah beberapa inovasi yang memudahkan penumpang, seperti autogate yang ada di terminal internasional dan domestik Bandara Internasional Soekarno Hatta. Sistem Autogate ini merupakan sarana pemeriksaan keimigrasian melalui pintu perlintasan otomatis bagi setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia. Hampir mirip dengan yang ada di dalam negeri, Singapura juga rencananya akan mengaplikasikan gerbang tarif otomatis di beberapa stasiun MRT (Mass Rapid Transit)-nya.

Baca Juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Menurut lansiran KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, nantinya penumpang MRT Singapura tidak perlu lagi menempelkan kartu (tapping) seperti sistem yang masih berlaku di KRL Jabodetabek saat ini, melainkan tarif perjalanan Anda akan terpotong secara otomatis melalui perangkat mobile computer dengan menggunakan teknologi Bluetooth atau dengan kartu Radio-Frequency Identification (RFID) yang mereka bawa.

Di Singapura, gerbang tiket “Handsfree” ini akan diuji coba di beberapa stasiun terpilih terlebih dahulu pada tahun 2018 mendatang. Ini merupakan salah satu dari banyak inovasi yang ditampilkan di pameran Future of Transport, yang diadakan di Sands Expo and Convention Center di Marina Bay Sands, Kamis-Jumat, 12-13 Oktober 2017 kemarin. Tidak hanya menggelar pameran, acara yang dituan rumahi oleh Singapura tersebut juga berbarengan dengan Asean Transport Ministers Meeting ke-23.

Di etalase, delegasi transportasi dan pejabat daerah diberi gambaran umum tentang inovasi yang mereka tawarkan, seperti penggunaan analisis data dan teknologi otonom untuk pengoperasian di pelabuhan Tuas Terminal di masa yang akan datang. Tidak hanya itu, para delegasi transportasi dan pejabat daerah juga diberi tahu tentang percobaan kendaraan otonom yang akan menyediakan transportasi penumpang on demand, point-to-point.

Dolly. Sumber: straitstimes.com

Demonstrasi yang melibatkan penggunaan robotika dan teknologi otonom untuk operasi ground-handling di bandara juga dilakukan oleh Sats, penyedia layanan katering darat dan penyedia layanan penerbangan di Changi Airport, Singapura. Dolly, robot yang dikhususkan untuk memindahkan beberapa troli makanan dari dapur ke lounge bandara, merupakan salah satu robot yang dipamerkan Sats dalam ajang tersebut.

Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon

Tidak hanya Dolly, Sats juga turut memamerkan sistem kursi roda cerdas, yang memungkinkan staf bandara memindahkan kursi roda secara otonom. Jangan lupakan Caddy, kendaraan berpemandu otonom yang dapat digunakan untuk mengirimkan dokumen dari terminal bandara ke pesawat terbang ini juga menjadi salah satu daya tarik pengunjung di yang hadir di acara tersebut.

Kehadiran sistem otonom bak mata koin. Di satu sisi memberikan kemudahan bagi pihak yang mengoperasikannya, sedangkan di sisi lainnya, mereka menyingkirkan peran manusia yang secara otomatis akan kehilangan pekerjaannya. Jika perusahaan pengguna teknologi robotika menawarkan pekerjaan di sektor lain, tentu ini bukanlah masalah serius. Tetapi jika mereka melakukan PHK, maka masalah baru akan muncul menggantikan yang lama.

Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

Masih butuh waktu sembilan tahun lagi bagi warga Malaysia dan Singapura untuk bisa menikmati layanan kereta cepat bilateral tersebut. Pasalnya pengerjaan proyeknya baru ditandatangani pada 13 Desember 2016. Meski implementasi masih lama, konsep stasiun kereta cepat tersebut sudah diperkenalkan, tak tanggung-tanggung yang memperkenalkan adalah Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Baca juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail

Najib mengatakan rancangan konsep ini diluncurkan untuk tujuh stasiun baru di sepanjang Kuala Lumpur menuju Singapura yang dilalui High Speed Rail (HSR). KabarPenumpang.com merangkum dari channelnewsasia.com (17/10/2017), desain ini nantinya menjadi cerminan kuat identitas dan warisan Malaysia walau dengan perubahan lebih modern dan futuristik.

Terminal Bandar Malaysia di Kuala Lumpur dibuat dengan desain pertemuan kembali Klang dan Sungai Gombak. Di Stasiun Bangi-Putrajaya yang terletak di perbatangan Selangor dan Putrajaya, Najib mengatakan bahwa rancangan tersebut mencakup pengaruh detail arsitektur Islam yang agung dan penuh keindahan.

“Saat kita masuk ke daerah Malaka, inspirasi diambil dari sejarah Malaka sebagai pelabuhan perdagangan strategis di masa jayanya. Dengan demikian desain Stasiun Malaka diambil dari citra kapal dagang, yang melambangkan semangat kewiraswastaan ​​masyarakat setempat, “kata Najib.

Najib Rajak (TODAYonline)

Najib menambahkan, bergerak menuju ke arah selatan tepatnya ke arah Johor, dimana elemen terkaya budaya Melayu tercermin disini dengan Stasiun Muar yang terinspirasi oleh rehal dimana secara tradisional digunakan untuk menempatkan Quran saat siswanya belajar membaca. Menurutnya untuk membuat desain masing-masing stasiun HSR di Malaysia dilakukan lewat penelitian esktensif dan upaya substansial sebelum direalisasikan.

“Saya secara pribadi telah terlibat dan memastikan bahwa setiap desain stasiun mempertahankan refleksi kuat atas identitas dan warisan Malaysia, meski tak melupakan kesan modern dan futuristik,” kata Najib.

Baca juga: Inilah 10 Kereta Tercepat di Dunia

HSR sendiri akan menghubungkan beberapa kota di Malaysia, seperti Kuala Lumpur, Bangi dan Putrajaya, Seremban, Malaka, Muar, Batu Pahat, Iskandar Puteri dan Singapura. Proyek ini digambarkan sebagai game charger untuk Malaysia dan Singapura dimana waktu tempuh antara kedua negara ini nantinya hanya ditempuh 90 menit dengan kereta api cepat.

Dalam pembangunan HSR, Najib mengatakan, pembebasan lahan akan dimulai pada 1 November 2017 dan Ia akan bertemu dengan masyarakat sekitar yang terkena imbasnya. Najib mengatakan, dalam tiga bulan masyarakat bisa menyampaikan keprihatinannya dan memberikan umpan balik sebelum daerah tersebut selesai untuk diakuisisi di pertengahan tahun 2018.

“Dalam proses pembekuan lahan, kita akan melihat area seluas 500 meter di sepanjang jalur dari Bandar Malaysia sampai ke Iskandar Puteri di Johor. Tanah tersebut akan dipersempit menjadi 50 meter saat selesai,” kata chief executive untuk MyHSR Corp Mohd Nur Ismal Mohamed Kamal.

“Sejak awal, HSR KL-Singapore tidak hanya merupakan proyek transportasi. Proyek itu juga berfokus pada penyediaan kesempatan kerja yang signifikan dan tak terbatas untuk kepentingan pemerintah, “katanya. HSR KL-Singapura dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2026.

Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)

Bagi Garuda Indonesia, bukan perkara mudah untuk menerbangkan 110 ribu jamaah Haji, apalagi diantara ratusan ribu jamaah tersebut berasal dari latar belakang dan suku yang berbeda-beda. Salah satu tantangan yang dihadapi pihak maskapai adalah mempersiapkan awak kabin (pramugari dan pramugara) yang tepat.

Baca juga: Seragam Pramugari Garuda, Beda Warna, Beda Pula Arti dan Jabatannya

Jika dibandingkan dengan melayani penerbangan reguler, membawa penumpang jamaah Haji jelas perlu persiapan khusus, diantaranya mempersiapkan awak kabin yang mengerti bahasa daerah (bahasa lokal) dari daerah embarkasi. Maklum sampai saat ini, masih ada jamaah Haji usia lanjut yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Untuk itu sentuhan kedaerahan sangat penting dipersiapkan sedari awal.

Tak hanya soal penguasaan bahasa lokal, pihak Garuda Indonesia juga harus memilah setup crew berdasarkan usia calon jamaah Haji. Bila dalam satu kloter banyak jamaah yang berusia lanjut dan berpotensi mengalami sakit, maka yang dipersiapkan adalah awak kabin yang punya stamina ekstra.

Kepada KabarPenumpang.com, Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan mengatakan, pemilihan pramugari untuk Haji sengaja dilakukan orang daerah agar memudahkan dalam membantu penumpang yang tak mengerti bahasa Indonesia dan memberikan kenyamanan karena ada orang (pramugari-red) yang berasal dari daerah mereka.

Ikhsan menuturkan, para awak kabin ini diberikan pendidikan khusus seperti membantu penumpang asal daerah menggunakan toilet. Menurutnya, ini memang hal sepele bagi penumpang biasa, tetapi untuk penumpang yang berasal dari kampung atau pelosok hal tersebut bukanlah hal biasa, apalagi mereka baru pertama kali menaiki pesawat.

“Awak kabin kami ini sengaja dipilih orang daerah masing-masing, bukan hanya bisa berbahasa tetapi asli daerah sana seperti Makasar, Medan, Padang atau lainnya. Mereka bisa memiliki kedekatan khusus, karena penumpang dari daerah ini unik, kadang ada yang tidak mau minum karena takut buang air atau hal lainnya. Maka awak kabin yang berasal dari daerah bisa membantu sekaligus membujuk agar penumpang tidak dehidrasi dan tidak takut saat menggunakan toilet atau meminta bantuan pada awak kabin kami,” ujar Ikhsan yang ditemui KabarPenumpang.com di kantornya (17/10/2017).

Dia juga menambahkan, tak hanya awak kabin, para jemaah Haji juga diberikan edukasi dalam penggunaan toilet atau apapun yang ada di pesawat. Biasanya edukasi ini diberikan saat di asrama haji sebelum embarkasi dilakukan.

Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

Dengan adanya penjelasan ini, ternyata tak hanya pada penerbangan Haji saja, tahukah Anda bahwa hampir semua awak kabin maskapai Garuda Indonesia baik internasional biasasa maupun domestik adalah orang asli Indonesia. Ikhsan menuturkan, pemilihan awak kabin bukanlah dari etnis atau apapun, sebab Indonesia memiliki suku bangsa dengan etnis dan suku yang berbeda-beda.

Sehingga setiap awak kabin baik perempuan maupun laki-laki tak masalah dari etnis atau suku apapun. “Indonesia sama dengan beberapa negara lainnya seperti India yang punya banyak suku bangsa, makanya lebih lebih banyak terlihat asli Indonesia bukan dari luar. Kita dulu punya putri Papua yang menjadi awak kabin, dia rambutnya keriting dan kulitnya hitam, ini justru yang membuat unik dan bangga dengan identitas Indonesia,” jelas Ikhsan.

Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik

Selain tarif dan kenyamanan di dalam kabin, OTP (On Time Performance) menjadi peringkat teratas dalam indikator kepuasan layanan penerbangan. Dan dalam penyelenggaraan musim Haji 2017, maskapai plat merah Garuda Indonesia telah menorehkan prestasi terbaik untuk indikator OTP setelah merampungkan penerbangan keberangkatan dan pemulangan jamaah Haji 2017 pada 5 Oktober lalu.

Baca juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas

Penyelesaian ini ditandai dengan menerbangkan kloter (kelompok terbang) ke 10 jemaah Haji Lombok dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 8270 dari Madinah. KabarPenumpang.com merangkum bahwa Garuda Indonesia hingga kloter terakhir berhasil memulangkan 107 ribu orang jemaah Haji yang dibagi menjadi 227 kloter sejak awal musim Haji pada 6 September 2017.

Diketahui, dari pihak Humas PT Garuda Indonesia yang ditemui KabarPenumpang.com (17/10/2017), maskapai ini telah menerbangkan 110 ribu penumpang asal Indonesia dari seluruh daerah menuju Madinah untuk ibadah Haji. Ini menjelaskan bahwa saat berangkat keberhasilan mencapai 98 persen dan pulang kembali ke Indonesia mencapai 96 persen dari jumlah jemaah yang berangkat.

Tidak hanya berhasil memberangkatkan dan memulangkan jemaah Haji ke Tanah Air, tetapi Garuda Indonesia juga mengklaim tahun ini Tingkat Ketepatan Waktu Penerbangan (OTP) embarkasi tahun 2017 adalah yang terbaik sepanjang sejarah penerbangan Haji Indonesia. Karena, jika dibandingkan dengan tahun 2016 meningkat 2,34 dan dibandingkan dengan rata-rata capaian OTP layanan haji tahun 2016 sebesar 93 persen.

“Dengan kembalinya seluruh jamaah Haji ke semua debarkasi di Indonesia, maka berakhir pula operasional Haji tahun 2017 ini. Kelancaran operasional penerbangan Haji juga menjadi semakin menggembirakan, karena tingkat ketepatan waktu penerbangan atau OTP juga membaik. Semoga dukungan dan kerja sama yang baik ini kiranya mendatangkan keberkahan dan kemuliaan bagi kita semua,” ucap Direktur Produksi Garuda Indonesia, Puji Nur Handayani melalui keterangan resmi, Kamis (5/10/2017).

Baca juga: Al Mashaaer Al Mugaddassah Metro, MRT Unik di Kota Suci Makkah

Di musim Haji 2017 Garuda Indonesia telah melayani penerbangan Haji dari sembilan embarkasi di seluruh Indonesia yang terdiri dari embarkasi Banjarmasin (5.510 jemaah), embarkasi Balikpapan (5.746 jemaah), embarkasi Banda Aceh (4.463 jemaah), embarkasi Jakarta (22.790 jemaah), embarkasi Lombok (4.546 jemaah), embarkasi Medan (8.375 jemaah), embarkasi Padang (6.337 jemaah), embarkasi Solo (33.892 jemaah) dan embarkasi Makassar (15.867 jemaah).

Horee! Sriwijaya Air Akhirnya Buka Rute Menuju Raja Ampat

Walaupun salah satu destinasi wisata terindah di Indonesia ini sulit dijangkau, Raja Ampat tetap memiliki daya tarik tersendiri yang akhirnya membuat wisatawan lokal maupun mancanegara mengunjungi tempat ini. Maka dari itu, untuk menunjang perjalanan ke Raja Ampat yang terletak di Papua, Sriwijaya Air Group rencananya akan membuka rute penerbangan baru yang dapat diakses melalui Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan Makasar.

Baca Juga: Di Lokasi Ekstrim, Pulau Saint Helena Kini Punya Bandara Internasional

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, selain memudahkan wisatawan, pembukaan rute baru ini juga merupakan bentuk dukungan Sriwijaya Air Group terhadap program pemerintah. “Layanan baru ini akan dimulai pada 21 Oktober. Ini adalah bentuk dukungan kami untuk program pemerintah,” ungkap manajer komunikasi senior perusahaan, Agus Soedjono. “Rute baru ini juga membantu warga setempat untuk melakukan perjalanan ke wilayah lain di Indonesia,” tambahnya.

“Pembukaan penerbangan ke Raja Ampat ini demi memuaskan dahaga masyarakat Indonesia dan internasional untuk mengunjungi tempat wisata eksotik di wilayah kepala burung Pulau Papua tersebut,” ujar Agus. Dengan hadirnya penerbangan tersebut, maka akses dari dan ke Raja Ampat akan lebih mudah. Tidak hanya Raja Ampat, Sriwijaya Air Group juga berencana membuka penerbangan baru ke tempat lain di Papua seperti Fakfak dan Kaimana.

Agus berharap, hadirnya penerbangan menuju Raja Ampat ini dapat meningkatkan pemasukan negara dari sektor pariwisata nasional, baik itu dengan mendatangkan wisatawan domestik maupun internasional ke Papua. “Sektor pariwisata sudah menjadi ujung tombak Pemerintah dalam meningkatkan perekonomian daerah dan nasional,” tukasnya.

Raja Ampat. Sumber: vebma.com

Dilansir dari sumber yang berbeda, Agus mengatakan penerbangan ini akan dilayani dengan integrasi dua maskapai yaitu Sriwijaya Air dan anak perusahaannya, NAM Air. Mengingat medan di sana yang cukup ekstrim, maka semua penerbangannya akan terlebih dahulu transit di Sorong, alu dilanjutkan dengan menggunakan pesawat ATR 72-600 menuju Raja Ampat, Kaimana dan Fak-fak milik Sriwijaya Air yang baru saja didatangkannya pada bulan Juli kemarin.

Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Sriwijaya Air Group sendiri mengaku dengan senang hati akan membuka rute penerbangan lainnya yang dapat membantu mendongkrak sektoro pariwisata di Indonesia. “Sriwijaya Air Group akan senantiasa mendukung program-program Pemerintah dengan membuka penerbangan ke berbagai tempat wisata yang potensial di tanah air.” Tutup Agus.

Layani Penerbangan Silangit-Singapura, Garuda Indonesia Gunakan Bombardier CRJ1000

Bandara Silangit sebentar lagi akan menjadi bandara internasional, tepatnya pada 28 Oktober mendatang, dimana akan dimulai penerbangan perdana untuk rute Silangit – Singapura yang dilayani oleh Garuda Indonesia. Dengan adanya jalur penerbangan internasional, maka akan memudahkan wisatawan mancanegara untuk mengakses obyek wisata Danau Toba yang menjadi salah satu destinasi favorit di Sumatera Utara.

Baca juga: Dengan Infrastruktur Baru, Bandara Silangit Kini Siap Terima Penumpang Internasional

“Kami ingin memperluas konektivitas domestik dan internasional antara Silangit dan kota-kota di sekitarnya,” kata Presiden Direktur Garuda Indonesia Pahala Mansury dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (18/10).

Tak hanya memperkuat konektivitas, rute ini menjanjikan potensi pariwisata dan ekonomi karena melibatkan penerbangan langsung dari Singapura yang menjadi hub tersibuk di Asia Tenggara. Penerbangan yang dilakukan dari Silangit menuju Singapura menghabiskan waktu satu jam setengah dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam seminggu.

Untuk melayani penerbangan dari Silangit ke Singapura dan sebaliknya, Garuda Indonesia akan menggunakan pesawat twinjet Bombardier CRJ1000 buatan Kanada dengan kapasitas 96 kursi.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perhubungan, yang telah memfasilitasi industri penerbangan nasional melalui perbaikan infrastruktur bandara negara, terutama Bandara Silangit. Kami juga bersyukur Kementerian Pariwisata telah memfasilitasi dan mendukung penuh jaringan penerbangan kami, terutama untuk tujuan wisata potensial, “kata Pahala.

Baca juga: Bandara Silangit Terintegrasi Shuttle Bus Menuju Pulau Samosir

Rute baru ini meruakan bagian dari kerjasama Garuda Indonesia dengan Otoritas Pariwisata Toba, kedepannya diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara dari Singapura. Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia meningkat 0,6 persen menjadi 945.008 dari Januari hingga Agustus 2017 dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Pihak Humas Garuda Indonesia mengatakan kepada KabarPenumpang.com bahwa penerbangan Silangit tujuan Singapura akan dimulai dengan penerbangan charter. Sedangkan kedepannya untuk menjadi penerbangan reguler akan melihat pasar penerbangannya dan antusias dari wisatawan yang menuju destinasi di Sumatera Utara.

Dari spesifikasi, pesawat Bombardier CRJ1000 mampu terbang hingga jarak 2.491 km dengan kecepatan maksimum 870 km per jamnya. Baru-baru ini pesawat Bombardier CRJ700 Garuda Indonesia mengalami jet blas atau engine blast dan menyebabkan tangga pesawat Airbus A320 milik Batik Air ID 6356 jatuh menimpa tiga orang di Bandara Ahmad Yani Semarang.

 

Dua Bandara Angkasa Pura I Raih Penghargaan Prestius Tingkat Internasional dari ACI

BUMN PT Angkasa Pura I (Persero) diwartakan telah menerima penghargaan prestisius tingkat dunia Airport Service Quality (ASQ) Awards 2017 dari Airport Council International (ACI) untuk dua bandara yang di kelolanya, yakni Bandara Internasional I Gusti Gurah Rai dan Bandara Sultan Hasanuddin Makssar. Pemberian penghargaan ini dilangsungkan dalam ajang 27th Airport Council International Africa/World : Annual General Assemby Conference & Exhibition di Mauritius, Afrika pada 17-18 Oktober 2017 kemarin.

Baca juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!

Sebagai informasi, pencapaian prestisius dua bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I di tingkat dunia ini sebelumnya telah diumumkan pada Maret 2017 lalu oleh ACI, dimana Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali berhasil meraih gelar “The 3rd World Best Airport 2016” untuk kategori bandara dengan 15-25 juta penumpang per tahun, serta Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang menjadi “The Most Improved Airport in Asia-Pacific 2016”.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Director General ACI Angela Gittens kepada Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro yang didampingi oleh General Manager Bandara Sultan Hasanuddin Makassar Cecep Marga Sonjaya dan perwakilan manajemen Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Bali I Made Sutiwa pada 17 Oktober lalu.

ASQ merupakan satu-satunya program benchmarking global yang mengukur tingkat kepuasan penumpang di bandara yang dilakukan oleh ACI, sebuah organisasi kebandarudaraan terkemuka di dunia yang berbasis di Montreal, Kanada.

“Pengakuan ini merupakan bukti nyata atas kerja keras yang terus kami lakukan dan fokus kami untuk meningkatkan pelayanan kepada para penguna jasa bandara, sekaligus sebagai perwujudan visi perusahaan. Kami selalu berupaya untuk memberikan pelayanan pelanggan yang berkualitas sehingga tercipta pengalaman pelanggan yang baik. Menciptakan budaya pelayanan secara terus menerus sebagai keunggulan kompetitif dapat mengoptimalkan kinerja bagi peningkatan pendapatan non-aeronautika,” ujar Direktur Utama AP I Danang S. Baskoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (18/10/2017).

Baca juga: Diminati Investor, Angkasa Pura I Raih Kembali Peringkat Triple A dari Pefindo

Director General ACI Angela Gittens juga mengatakan, “Bandara memainkan peran penting dalam perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat di tingkat negara, regional, dan dunia pada umumnya. Kita harus menyusun strategi untuk pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat”.

“Bandara-bandara ini telah mendedikasikan diri untuk memberikan pengalaman pelanggan yang luar biasa. ACI dengan bangga mengakui pencapaian ini dan kami berharap dapat mencaricara yang lebih efektif, efisien, dan menguntungkan untuk melayani perjalanan udara masyarakat,” tambah Angela Gittens.

Menanti Kedatangan Pesawat Ke-50, Citilink Optimis Penuhi Target di Akhir Tahun

Citilink, maskapai penerbangan berbiaya rendah, yang juga anak perusahaan dari Garuda Indonesia kini sedang menunggu kedatangan pesawatnya yang ke-50 pada 26 Oktober mendatang. Kedatangan pesawat ke-50 ini juga menjadi penyelesaian target low cost carrier tersebut untuk menghadirkan 50 armada pada akhir tahun ini.

Baca juga: Airbus A320Neo: Tawarkan Kabin Lebih Senyap, Inilah Pesawat Terbaru Citilink

Armada terbaru ini, Citilink masih menggunakan tipe pesawat Airbus A320neo yang memiliki lorong kabin tunggal (narrow body). Vice President Corporate Communication Citilink, Benny S Butarbutar mengatakan, tambahan armada baru ini nantinya akan memperkuat konektivitas Citilink di wilayah Indonesia Timur.

“Pada 26 Oktober diperkirakan pesawat baru Citilink sudah tiba dan segera memperkuat armada Citilink. Khususnya untuk membuka konektivitas di timur Indonesia,” ujar Benny yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman kontan.co.id, Rabu (18/10/2017).

Hal ini karena, masih sedikit maskapai yang memiliki rute tujuan Indonesia bagian timur. Tak hanya itu, tingkat penumpang Citilink yang menuju Indonesia bagian timur cukup bagus, sehingga ada kemungkinan penambahan tiga rute di tiga kota pada Indonesia bagian timur.

Adanya tambahan armada ini, membuat pihak Citilink optimis bisa mencapai target mengangkut 12,4 juta penumpang hingga akhir tahun 2017. Diketahui, hingga September 2017 kemarin, Citilink sudah mengangkut penumpang sebanyak 8,9 juta.

“Sampai September kinerja keuangan Citilink dinyatakan baik walau di awal tahun mengalami tekanan sebagai dampak ekonomi global dan bahan bakar, tapi di peak season membaik, sesuai siklus industri penerbangan,” tambahnya.

Baca juga: Dorong Potensi Wisata, Citilink Buka Rute Baru Medan-Yogyakarta

Benny mengatakan, untuk memenuhi target tahun 20i7 ini, momen peak season di akhir tahun bisa menjadi salah satu peluangnya. Ini karena banyak masyarakat Indonesia yang berlibur bahkan pulang ke kampung menikmati liburan panjang. Untuk mengantisipasi, pihak Citilink telah mempersiapkan layanan extra flight.

Terkait masalah pendanaan,  PT Citilink Indonesia telah mendapatkan pinjaman dana segar US$15 juta dari PT Garuda Indonesia yang ditandatangani pada 29 September 2017. Jangka waktu pinjaman ini selama 13 bulan dan merupakan transaksi afiliasi mengingat Citilink adalah anak usaha dari Garuda Indonesia.

“Dasar pertimbangan perseroan melaksanakan transaksi tersebut adalah untuk memperkuat struktur permodalan Citilink di tengah persaingan industri penerbangan yang sangat kompetitif, khususnya segmen Low Cost Carrier (LCC),” ujar Helmi Imam Satriyono, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda dalam keterbukaan informasi, Selasa (3/10).

Transaksi afiliasi ini dikecualikan dari kewajiban untuk mengumumkan keterbukaan informasi kepada masyarakat, pasalnya ini merupakan transaksi perseroan dengan perusahaan terkendali yang sahamnya atau modalnya dimiliki secara langsung ataupun tidak langsung paling kurang 99 persen.