Keluar dari Zona Nyaman, Apple Coba Peruntungan Rancang Bus Otonom

Seperti keluar dari zona nyaman, salah satu raksasa teknologi multinasional asal Negeri Paman Sam, Apple diketahui kini tengah berusaha untuk menciptakan sebuah bus antar jemput otonom. Sebelumnya, Apple juga pernah mencoba untuk merangkai mobil otonom, namun entah kenapa perusahaan tersebut malah beralih untuk lebih fokus terhadap pengadaan bus antar jemput otonom. Nantinya, bus ini akan digunakan untuk “mengangkut” karyawan dari lingkungan kampus Apple yang sekarang menuju kampus yang baru.

Baca Juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (22/8/2017), dari segi moda, pembuatan bus antar jemput otonom bernama Palo Alto to Intinite Loop atau yang lebih dikenal dengan singkatan PAIL ini, dipercayakan kepada sebuah bengkel khusus van untuk merakitnya. Apple sendiri sudah mengantongi izin untuk melakukan uji coba terhadap moda otonom tersebut, dan beberapa mobil Lexus dengan menggunakan perangkat lunak yang mereka ciptakan khusus.

Bisa dibilang proyek PAIL ini sangat jauh dengan ambisi awal Project Titan (nama proyek mobil otonom Apple), dimana mobil tersebut akan menggunakan roda bulat untuk mengganti fungsi ban, sehingga mobil otonom tersebut bisa bergerak secara lateral. Seperti yang kita ketahui bersama, Google juga tengah berjibaku dengan pengadaan mobil otonom yang dilabeli Waymo. Belakangan diketahui, Waymo telah menjalankan serangkaian uji coba guna menyempurnakan moda futuristik tersebut.

Dalam hal pengadaan autonomous shuttle bus ini, bukan berarti Apple tidak menemukan perbedaan pendapat yang akhirnya bisa memperlambat perkembangan kendaraan pengangkut karyawan ini. Diketahui, terjadi beberapa perdebatan internal di pihak Apple yang merujuk pada pilihan penggunaan program untuk Car OS.

Baca Juga: “Jemput Bola,” Google Edukasi Warga Sheffield Dengan Bus Pintar

Kembali, salah satu hipotesa vokal pihak Apple dalam pengadaan autonomous shuttle bus ini adalah untuk menekan angka kecelakaan yang disebabkan oleh human error. Tidak sedikit kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh kesalahan pengemudi selama berkendara. Kejadian seperti mengantuk merupakan alasan yang paling sering dilontarkan pengemudi yang mengalami kecelakaan saat berkendara. Berada di bawah pengaruh minuman beralkohol juga kerap kali ditemukan pihak kepolisian yang menyelidiki sebuah kecelakaan lalu lintas.

Melihat hal seperti ini, tidak sedikit dari warga Indonesia yang mungkin bertanya-tanya bilamana kendaraan otonom akan beroperasi di sini? Masih banyak yang harus dibenahi oleh otoritas yang berwenang jika ingin menghadirkan mobil tanpa awak, seperti penyediaan jalur khusus yang tidak mungkin diinterupsi oleh kendaraan lain, hingga sistem komunikasi yang hendak digunakan untuk menghubungkan pusat kontrol dan kendaraan itu sendiri.

Bantai Bandara Internasional Hong Kong, Topan Hato Batalkan 400 Penerbangan

Topan Hato kini sedang melanda daratan Hong Kong dan membuat banyak pesawat tak bisa lepas landas ataupun mendarat. Tepatnya pada hari Rabu (23/8/2017) kemarin, kecepatan angin mencapai 113 km per jam. Tak hanya itu, pihak bandara juga melihat adanya penurunan hingga 65 persen dalam penerbangan harian akibat dampak Topan Hato.

Baca juga: Tolak Tilang, Serikat Pekerja Hong Kong Angkat Bicara

Dampak Topan Hato terbilang parah dan menimbulkan malapetaka di bandara, persisnya hanya penerbangan dari Amsterdam, Belanda yakni maskapai KLM yang bisa mendarat di Hong Kong pada Rabu pagi pukul 10.33 di Bandara Internasional Hong Kong (HKIA). Padahal saat itu kecepatan angin antara 80 km per jam dan 113 km per jam sempat menerjang pesawat KLM 887 tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari scmp.com (23/8/2017), sebenarnya ada penerbangan Ethiopian Airlines dari Addis Abba dengan nomor penerbangan 672 yang akan mendarat di HKIA, tetapi dibatalkan karena masalah Topan Hato tersebut dan dialihkan ke bandara di daratan Cina.
Diketahui, karena masalah ini, setidaknya ada 400 penerbangan yang dibatalkan. Observatorium mengeluarkan sinyal badai nomor 10 yang artinya Topan Hato masuk kategori tertinggi. “Keepatan angin ini cukup kuat. Setiap penerbangan sangat bergantung pada sudut di landasan pacu, maka penerbang akan berada dalam batas pendaratan yang berlebih,” ujar pilot lokal yang berpengalaman dari maskapai Cathay Pacific tentang kondisi cuaca di bandara.

Gangguan ini juga diperparah karena pada puncak musim panas dan banyak penumpang yang berjuang untuk mencari kursi di penerbangan alternatif. Dari ribuan wisatawan yang terkena dampak cuaca ini, banyak yang membatalkan perjalanan ke luar negeri karena topan yang bisa dikatakan terkuat selama lima tahun terakhir ini.

Hong Thai Travel, satu agen perjalanan besar di Hong Kong, membatakan sembilan dari 13 turnya pada Rabu. Menurut Direkturnya, Jason Wong Chun-tat, sekitar 550 orang terdampak. Sunflower travel juga menunda dan membatalkan sepuluh tur ke Jepang, Thailand, Taiwan da Cina daratan dan membuat 360 wisatawan terdampak.

Kondisi cuaca di bandara Hong Kong umumnya dianggap menantang karena windshear tingkat rendah, yang berarti perubahan arah angin atau kecepatan yang jelas mempengaruhi pendaratan atau lepas landas.

Baca juga: Mau Wisata Ke Makau? Kini AirAsia Tawarkan Penerbangan Langsung dari Jakarta

HK Express dan Singapore Airlines keduanya berhasil mendapatkan penerbangan dari bandara Hong Kong sebelum jam delapan pagi. Pada pukul 11.00, sekitar 450 penerbangan ke dan dari Hong Kong dibatalkan. Juru bicara Otoritas Bandara, menambahkan bahwa pusat darurat HKIA diaktifkan untuk beralih ke mode pemulihan untuk mulai menjadwal ulang ratusan penerbangan yang dibatalkan dan tertunda di seluruh dunia.

Gelombang pertama penerbangan dalam perjalanan ke Hong Kong akan mulai berdatangan dari jam 3 sore dan seterusnya. Dua bandara di Cina Daratan juga menghadapi gangguan. Pada pukul 11.55, sekitar dua jam setelah Shenzhen mengeluarkan peringatan topan merah, 82 penerbangan telah dibatalkan dan lebih dari 170 tertunda di Bandara Internasional Bao’an.

Pada pukul 10.15, sebanyak 25 penerbangan tiba dan satu penerbangan berangkat di Bandara Internasional Guangzhou Baiyun telah dibatalkan, sementara dua penerbangan ke Beijing telah ditunda lebih dari dua jam. Di bandara Zhuhai, yang diperkirakan juga akan terkena Topan Hato, lebih dari 130 penerbangan telah dibatalkan. Tak jauh dari Hong Kong, di Makau sekitar 40 penerbangan dibatalkan, ditunda atau dijadwal ulang.

Suka Baca di Moda Transportasi? Ini Kata Ahli Terkait Pencahayaan

Bagi sebagian orang, membaca merupakan adalah aktifitas terbaik untuk menghabiskan waktu luang. Mulai dari novel, hingga majalah biasanya menjadi gear tambahan bagi si penggila baca. Kapan pun rasa bosan mulai menyerang mereka, bahan bacaan ini seakan siap untuk menghibur empunya, tidak terkecuali ketika si kutu buku tengah berada di dalam sebuah perjalanan jarak jauh yang menghabiskan waktu yang cukup lama.

Baca Juga: Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat

Kehadiran lampu baca di hampir semua moda transportasi memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Mulai dari bus, kereta, hingga pesawat memilki fitur yang menempel di atas bangku penumpang ini. Posisinya yang langsung menyorot vertikal ini memungkinkan penumpang menghabiskan waktu perjalanan mereka dengan membaca gear tambahan tersebut. Letaknya yang biasanya bersebelahan dengan AC tersebut memudahkan penumpang kutu buku ini untuk menyalakan atau mematikan lampu baca kapanpun mereka butuhkan.

Tidak hanya lampu baca yang biasanya tersedia di moda transportasi tersebut, dewasa ini juga sudah banyak toko buku yang menjual lampu baca portable yang mudah dibawa kemana-mana.  Untuk menyalakannya pun cukup menggunakan batu baterai atau menggunakan sistem penyimpanan energi (charge). Lampu baca portable ini bisa digolongkan sebagai sebuah inovasi yang dapat memudahkan setiap orang yang hendak membaca di tempat yang memiliki intensitas pencahayaan yang kurang.

Sumber: alibaba.com

Kembali ke soal lampu baca di moda trasportasi, pancaran sinar yang dihasilkan juga tidak terlau silau, sehingga tidak mengganggu penumpang lain yang berada di sebelah kita. Jika diperhatikan, ada dua macam warna yang biasanya dihasilkan oleh lampu baca ini, yaitu putih atau kuning. Lalu, diantara dua warna cerah ini, warna mana yang dianggap paling cocok untuk menemani si kutu buku membaca selama berada dalam perjalanan? Apakah diantara kedua warna tersebut ada yang bisa merusak mata lebih cepat? Ini jawabannya!

Seperti yang KabarPenumpang.com himpun dari laman aao.org, seorang dokter spesialis mata mengatakan bahwa tidak ada warna yang lebih baik diantara keduanya. Warna cahaya tidak seberapa penting dibandingkan dengan intensitas cahaya yang dihasilkan. Diketahui, kemampuan mata untuk mengakomodasi (fokus untuk aktifitas jarak dekat seperti membaca) setiap orang akan terus mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri

Seperti yang diungkapkan oleh Dr. William Barry Lee, MD, FACS, seorang konsultan mata di Atlanta, penurunan kemampuan mata ini wajar terjadi pada semua orang, umumnya di dekade kelima kehidupan. “Kondisi penurunan kemampuan mata ini disebut presbyopia,” ungkap Dr. William. Ia juga mengatakan tidak ada cahaya yang lebih baik dari yang lain, baik putih maupun kuning. “Namun pencahayaan yang terang akan sangat membantu seseorang dalam membaca. Ini juga menjadi sebuah alasan mengapa orang yang mengidap presbyopia dapat membaca lebih baik di siang hari ketimbang malam hari,” tambahnya.

Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah, pencahayaan yang cukup akan membantu setiap orang dalam membaca, terlepas dari kontroversi mengenai warna putih atau kuning. Namun patut digaris bawahi, gunakanlah lampu-lampu dengan warna cerah untuk membaca, seperti kuning atau putih, dan hindari warna-warna yang dapat membuat mata cepat lelah seperti hijau atau merah.

Sebagai Kota Termacet di Dunia, DKI Jakarta Raih Posisi Ketiga!

Pertumbuhan angka kendaraan di jalanan yang pesat secara kasar dapat dijadikan suatu tolak ukur bahwa negara tersebut termasuk salah satu yang berkembang. Walaupun jika ditelisik lebih jauh, tolak ukur tersebut tidaklah melulu benar, melihat banyaknya anomali yang mencuat ke permukaan, seperti murahnya harga cicilan kendaraan hingga buruknya sistem transportasi umum massal. Sudah barang tentu ini merupakan sebuah ironi bagi negara-negara yang dimaksud, salah satunya adalah Indonesia.

Baca Juga: Kendalikan Pikiran Anda, Cara Ampuh Atasi Dampak Stress dari Kemacetan

Dari dalam negeri sendiri, sering kali kita jumpai tim marketing sebuah manufaktur kendaraan yang mengiming-imingi biaya cicilan murah terhadap suatu kendaraan yang sebenarnya akan memperparah kondisi jalanan saat ini. Jika dianalogikan seperti  air yang diisi penuh ke dalam suatu gelas, saat ini Indonesia khususnya Jakarta sudah masuk ke dalam tahap membludaknya kendaraan pribadi di jalanan. Tidak bisa dipungkiri kemacetan seakan menjadi teman setia setiap pengendara. Tidak hanya ketika peak hours, kemacetan kini bahkan sudah merata di sepanjang hari.

Ini sudah menjadi PR setiap lapisan masyarakat untuk memperbaiki kondisi yang ada. Dengan beralih menggunakan sarana transportasi massal, maka itu sudah menjadi satu peran aktif untuk mengentaskan masalah kemacetan yang ada. Bayang-bayang jauh dari kata nyaman dalam menggunakan sarana transportasi massal memang akan terus membelit selama operator layanan tersebut tidak memperbaiki sistem yang sudah ada sebelumnya.

Tidak hanya di Jakarta, kemacetan yang merajalela juga banyak terjadi di luar sana. Inilah yang menjadi motor bagi perusahaan pengembang aplikasi asal Belanda, TomTom untuk membuat sebuah indeks yang menunjukkan tingginya angka kemacetan yang  terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan bermodalkan hampir 19 triliun data poin yang telah terakumulasi selama sembilan tahun, ini merupakan tahun keenam TomTom Traffic Index, sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman corporate.tomtom.com.

Sumber: tomtom.com

Dari hasil yang dirangkum TomTom mengenai 10 kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di dunia tahun 2016 silam, secara mengejutkan Jakarta muncul di posisi ketiga dari deretan tersebut dengan persentase 58 persen. Berada di bawah Mexico City di peringkat pertama dengan 66 persen dan Bangkok di posisi kedua dengan persentase 61 persen, jelas ini bukanlah suatu prestasi yang dapat dibanggakan oleh Ibu Kota. Sebagai tambahan, indeks ini dirangkum TomTom dengan menyasar kota-kota dengan populasi di atas 800.000 penduduk. Di sini, Jakarta berhasil mengalahkan beberapa kota-kota besar di dunia, seperti Chongqing di Cina dengan 52 persen, Bucharest dengan 50 persen, Istanbul dengan 49 persen, Rio de Janeiro dengan 47 persen. dan Beijing dengan 46 persen.

Persentase tersebut merupakan indikator peningkatan waktu tempuh selama perjalanan. TomTom pun menyederhanakan perhitungan tersebut, dan menghasilkan angka 48 menit waktu ekstra yang harus ditempuh para pengendara ketika macet. Itu berarti para pengendara sudah menghabiskan sekitar 184 jam bermacet-macet ria selama satu tahun. Sungguh ironis!

Total 42.073 km jalan yang membentang di Ibu Kota ternyata tidak mampu mengurai kemacetan yang semakin mengular. Inilah yang menjadi fokus pemerintah setempat untuk mencari jalan keluar untuk permasalahan menahun ini. Sebelumnya, pemerintah setempat menghadirkan dua sarana transportasi berbasis massal yang diharapkan dapat mengurai kemacetan, yaitu TransJakarta dan Commuter Line Jabodetabek.

Baca Juga: Terjebak Macet? Yuk Lakukan Hal Berikut Ini Biar Tidak Stress!

Nampaknya Commuter Line mampu memberikan sedikit perubahan terhadap kondisi jalanan. Banyak orang dari daerah sub-urban beralih menggunakan kereta komuter ini ketimbang mereka harus menghadapi macet di jalanan. Namun tidak bagi TransJakarta, jalurnya yang langsung bersinggungan dengan jalan umum membuat pergerakan moda ini terhambat dengan banyaknya pelanggar yang menggunakan separator agar tidak kena macet.

Belakangan ini, warga Jakarta terpaksa harus “bersakit-sakit dahulu” karena adanya proses pengerjaan proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang amat diharapkan oleh banyak orang sebagai titik terang untuk masalah kemacetan di kota dengan angka populasi sebesar 10.199.700 per tahun 2016 ini. Rencananya, MRT Jakarta akan mulai beroperasi pada tahun 2019 mendatang. Kita tunggu saja nanti, apakah benar kehadiran MRT Jakarta dapat membawa perubahan terhadap tingkat kemacetan di Ibu Kota, atau bahkan warga Ibu Kota masih tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi?

Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun

Membludaknya peminat layanan kereta komuter KRL Jabodetabek membawa dampak tersendiri, terlebih pada jam sibuk, di stasiun-stasiun tak asing terlihat ratusan penumpang kereta saling beradu badan guna menerobos masuk ke dalam gerbong. Sementara disisi dalam kereta, ada begitu banyak penumpang yang akan keluar dari gerbong. Nah, yang terjadi mudah untuk ditebak, akibat saling dorong jatuh korban akibat kena siku dan terjebak diantara dua arus penumpang.

Baca juga: FeliCa, Gelang Ajaib Berbasis Chip Untuk Transaksi Komuter Jabodetabek

Seperti halnya moda transportasi massal lainnya, sudah ada pakem bahwa harus didahulukan penumpang yang akan turun, baru kemudian penumpang yang akan naik. Namun berangkat dari tekanan jumlah penumpang yang besar, plus budaya warga yang jauh dari tertib, pakem diatas kerap dilupakan, salah satunya yang terjadi di kereta KRL.

Berangkat dari fenomena diatas, pihak pengelola layanan, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mengasah otak untuk menertibkan penumpang yang kerap tak sabar hingga bertabrakan di peron, solusinya adalah dengan membuat garis batas antre di peron stasiun yang dilengkapi dengan tanda panah untuk memandu arus penumpang, untuk saat ini baru diterapkan di Stasiun Juanda.

Warna garis batas antre ini hijau dengan tanda panah berwarna merah. Tapi untuk apa sih sebenarnya tanda panah dan garis batas antre ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber pemasangan garis batas antre berwarna hijau ditunjukkan agar pengguna jasa yang akan naik KRL bisa memberi kesempatan dan tidak menutupi jalur penumpang yang akan turun saat KRL tiba di stasiun.

Ruang untuk penumpang naik dibuat lebih kecil dengan posisinya berada di sisi kanan dan sisi kiri ruang untuk penumpang turun. Sedangkan untuk penumpang turun dibuat lebih besar dan posisinya berada di tengah. Vice President (VP) Communication PT KCJ Eva Chairunisa mengatakan, garis sengaja dibuat agar arus keluar masuk penumpang lebih teratur. “Jadi penumpang yang mau naik KRL antre pada batas tersebut sehingga orang yang mau turun flow-nya tidak terhalangi,” kata Eva, yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (8/8/2017).

Adanya garis batas ini juga bisa memperkecil resiko bahaya penumpang terjatuh dan terdorong akibat berebut saat naik atau turun kereta. “Untuk saat ini masih diingatkan petugas. Ya kami harapkan untuk kenyamanan bersama penumpang dapat mengikuti ketentuan yang ada terkait batas antre. Mudah-mudahan bisa mengeduksi penumpang,” kata Eva.

Baca juga: Mei 2017, PT KCJ Tambah Portable Ramp di 74 Stasiun

Sebenarnya, garis batas antre ini sudah banyak digunakan di stasiun-stasiun negara lain, tetapi bagi Indonesia ini adalah hal baru. Kedepannya dalam satu hingga dua bulan semua stasiun yang melayani KRL akan dipasangi garis batas antre.

5 Mitos Seputar Online Travel Agents yang Terbantahkan

Pada awal kemunculannya di rentang tahun 2011 hingga 2012, Online Travel Agents (OTA) tidak sekonyong-konyong meraup keuntungan besar. Layaknya industri lain, mereka juga mengalami masa terseok-seok akibat jenis bisnis yang masih terbilang baru waktu itu. Walaupun kehadirannya terbukti memudahkan para pelancong untuk bepergian, tidak hanya di dalam negeri melainkan ke luar negeri.

Baca Juga: Intip Yuk 10 Tujuan Wisata Favorit Versi Pinterest!

OTA awalnya dipandang sebagai jalan pintas menuju peningkatan margin dan pertumbuhan keuntungan tanpa benar-benar menambah nilai bagi industri perjalanan dan pariwisata. Namun, dengan meningkatnya pemesanan online via media sosial dan teknologi mobile, OTA telah menetapkan diri sebagai tolak ukur bagaimana sebuah perusahaan perjalanan online dapat dan harus beroperasi di pasar perjalanan global saat ini.

Meskipun OTA telah mempertegas posisinya di industri perjalanan, banyak mitos yang masih berkecamuk mengenai fungsi hingga nilai yang mereka berikan kepada pelanggan di industri perjalanan modern ini. Beberapa mitos ini berasal dari kesalahpahaman sederhana tentang peran OTA di sektor e-commerce. Berikut, KabarPenumpang.com lansir beberapa mitos mengenai OTA versi dcsplus.net.

OTA Kerap Kali Tidak Memperdulikan Tingkat Layanan Terhadap Pelanggan
Di awal kemunculannya, agen-agen perjalanan wisata online ini mungkin masih sedikit agak kaku dengan mekanisme yang berjalan, karena OTA ini seolah menjadi anak bungsu di industri pariwisata. Tapi semua itu sudah berubah seiring berjalannya waktu. Terbukti dengan penawaran layanan tingkat tinggi melalui aplikasi seluler, situs web yang responsif, kampanye melalui email, hingga platform di media sosial. OTA yang sekarang sudah banyak belajar dari masa lalu. Semakin melebarnya sayap mereka menjadi satu momen penting dimana ajang promosi bukanlah menjadi sebuah penghalang bagi mereka untuk terus mengembangkan bisnis ini.

Agen Perjalanan Konvensional Mulai Sekarat, OTA Akan Segera Menyusul
Sebenarnya, agen perjalanan konvensional telah melihat kebangkitan dari OTA dalam beberapa tahun terakhir. Memang, OTA menawarkan kemudahan dalam hal pemesanan tiket melancong, namun itu semua tidak menjadikan agen perjalanan konvensional semakin surut, karena masih banyak orang yang sedikit ragu untuk memesan tiket perjalanan via online. American Society of Travel Agents (ASTA) melaporkan lebih dari 30 persen pelancong menggunakan jasa agen perjalanan konvensional dalam kurun waktu 12 bulan terakhir terhitung sejak akhir tahun 2015. Menurut ASTA, OTA yang diketahui memiliki persentase hampir sama dengan agen perjalanan konvensional dinilai akan terus mengalami pertumbuhan dalam jangka waktu beberapa tahun mendatang.

OTA Tidak Dapat Mengakomodir Pengalaman Pemesanan Tiket Sesuai Kemauan Wisatawan
Mitos ini jelas terbantah dengan kemajuan jaman. Sebut saja proses geomapping yang canggih, kemampuan untuk melakukan pencarian kembali, serta alogaritma rekomendasi yang sebenarnya dapat memungkinkan para pelanggan untuk menyesuaikan pemesanan tiket para pelancong dengan spesifikasi yang bisa dibilang akurat. Selain itu, OTA juga memanfaatkan perkembangan di sektor komunikasi yang memungkinkan mereka untuk segera melaporkan kepada pengguna jasa jika terjadi kesalahan dan mengkonsultasikannya melalui pembicaraan one-on-one via telepon.

Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah

Kesulitan Pihak OTA Untuk Memecahkan Masalah Kesalahan, Perubahan, atau Pembatalan Pemesanan
Hal ini masih terkait dengan poin sebelumnya, dimana OTA benar-benar memanfaatkan perkembangan telekomunikasi. Karena pada dasarnya layanan OTA tersedia 24/7, maka hampir tidak mungkin jika pihak OTA tidak melaporkan masalah tersebut. Justru dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini akan mempercepat penyebaran informasi tersebut. Pencarian jalan keluar pun dapat dilakukan cukup melalui telepon atau media komunikasi lainnya. Dengan begitu, para pemesan dapat lebih tenang jika terjadi suatu hal yang tidak diharapkan.

OTA Adalah Tren Sesaat yang Akan Segera Memudar
Pemesanan global melalui agen perjalanan online telah berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, dan para ahli di industri serupa memperkirakan kenaikan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2020. Layaknya melakoni bisnis dengan pesaing yang kian hari kian menjamur, pihak OTA harus selalu melakukan inovasi agar namanya tetap eksis dan tidak terkubur para pesaingnya. Inovasi tersebut tentu bisa dilakukan dari banyak aspek, ambil contoh dari segi pemasaran, karena dari segi inilah biasanya para pebisnis di bidang perjalanan wisata menuangkan ide-ide kreatif mereka.

Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Fasilitas yang satu ini sudah terpasang cukup lama di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), tapi jika diperhatikan belum banyak calon penumpang pesawat yang memanfaatkannya. Entah karena belum banyak yang tahu, atau mungkin kurang sosialisasi, namun autogate di Bandara Soetta menjadi etalase yang membedakan bandara ini dengan bandara lain yang ada di Tanah Air.

Apasih Autogate? Ini sebuah pertanyaan yang masih mengambang bagi kebanyakan orang yang bertandang ke Soetta, pasalnya tak ada kewajiban bagi calon penumpang untuk menggunakan fasilitas ini. Di Bandara Internasional Soetta, Autogate ini sudah digunakan untuk terminal internasional dan domestik. Autogate adalah sarana pemeriksaan keimigrasian melalui pintu perlintasan otomatis bagi setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia, persisnya untuk membuka pintu tersebut terlebih dahulu diperlukan prosedur pemindaian paspor dan sidik jari yang tersedia pada sensor khusus di Autogate.

Baca juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber salah satunya soekarnohatta.imigrasi.go.id, sistem Autogate ini diberikan kepada warga negara yang menggunakan paspor elektronik maupun paspor non elektronik yang sudah terpasang di bandara Soetta. Keuntungan bagi pemegang paspor elektronik dimana langsung bisa menggunakan fasilitas layanan ini.

Sementara untuk pengguna paspor non elektronik diperlukan proses registrasi terlebih dahulu dengan pemindaian paspor dan sidik jari yang tersedia di area imigrasi baik di pintu keberangkatan maupun kedatangan Bandara Soetta. Untungnya, untuk proses ini hanya diperlukan satu kali selama paspor berlaku dan melintasi Autogate, tetapi bila paspor Anda sudah diganti dengan yang baru atau perpanjangan, maka akan dilakukan registrasi kembali untuk menggunakan fasilitas Autogate.

Kepala Biro Humas Ditjen Imigrasi Kemenkumham Heriyanto mengatakan, sistem Autogate ini sudah mulai diterapkan sejak tahun 2013. “Autogate kan ada yang sudah pakai paspor elektronik. Kalau elektronik sudah berjalan seperti biasa tidak perlu lagi registrasi. Sedangkan yang non elektronik kan ada daftar lagi tuh. Kalau paspor elektronik langsung keluar verifikasi. Kalau non elektronik dia harus registrasi lagi,” jelas Heriyanto.

Pada 24 Juli 2016 lalu, PT Angkasa Pura II telah mengoperasikan pemindai otomatis atau Autogate boarding pass di Terminal 1C Bandara Soetta. Secara bertahap, sistem pemeriksaan boarding pass diperlintasan menuju naik pesawat akan diganti dengan sistem Autogate. Nantinya pengguna jasa diminta untuk memindai boarding pass secara mandiri di enam mesin yang telah disiapkan. Tetapi, dalam masa transisi ini tetap akan disiapkan petugas untuk membantu pengguna jasa mengalami kesulitan.

“Sistem ini merupakan sistem terintegrasi mulai dari sistem check in sampai dengan sistem pemindaian otomatis yang bertujuan untuk menscreening dan merekam data penumpang secara otomatis serta memudahkan sistem pemeriksaan,” terang Branch Communication Manager PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho, dalam keterangan tertulis.

Dia mengatakan, untuk boarding pass dalam bentuk fisik sesuai SKEP Dirjen nomor 2765/XII/2010 tentang Tata Cara Pemeriksaan Penumpang, Personel Pesawat Udara dan Barang Bawaan yang diangkut dengan Pesawat Udara dan Orang Perseorangan. Kedepan sistem ini telah mengakomodasi seluruh bentuk perangkat digital atau smartphone. Nantinya setelah Terminal 1C, Terminal 1A dan 1B saat ini dalam proses instalasi yang diharapkan dapat segera beroperasi tahun 2017 ini. “Setelah check-in, menuju ke pemeriksaan kedua atau security check point kedua. Setiap penumpang yang telah mendapat boarding pass, kini melakukan sendiri scanning barcode yang tertera di boarding pass,” tutur Prasetyo.

Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Berikut ini adalah manfaat sistem Autogate, meningkatkan kualitas pelayanan publik, mempermudah, mempercepat dan menyederhanakan proses pemeriksaan keimigrasian, memperbaiki tata kerja imigrasi yakni akuntabilitas serta meminimalisir interaksi petugas dengan masyarakat.

Selain itu ini dia tiga langkah mudah untuk menggunakan Autogate:

1. Proses Registrasi Autogate
– Registrasi scan paspor
– Scan Paspor
– Registrasi_scanjari
– Sidik Sidik Jari

2. Simulasi Penggunaan Autogate (Simulasi ini boleh tidak dilakukan, hanya memastikan bahwa data seorang yang didaftarkan telah masuk ke dalam database Sistem Autogate)
– Simulasi scan paspor
– Scan Paspor
– Simulasi scan jari
– Scan Sidik Jari

3. Proses Penggunaan Autogate
– Penggunaan scan paspor
– Scan Paspor
– Penggunaan scan jari
– Scan Sidik Jari

Pagi Ini! Pilot Airbus A380 Emirates Minta Siaga Pendaratan di Bandara Melbourne

Kamis pagi ini, diberitakan pilot Emirates meminta bantuan untuk mendarat di Bandara Melbourne sebelum pukul 06.00 waktu Melbourne, Australia. Pesawat yang diketahui dari jenis Airbus A380 dengan nomor penerbangan EK406 melakukan pendaaratan normal pukul 05.25 setelah lepas landas dari Bandara Dubai (DXB) di Uni Emirat Arab.

Baca juga: Penumpang Emirates Kini Bisa Mandi Shower Selama Penerbangan, Khusus Kelas Satu Lho!

“Pilot minta siaga pendaratan, tetapi bukan keadaan darurat,” ujar juru bicara bandara Melbourne yang dikutip KabarPenumpang.com dari heraldsun.com.au (24/8/2017). Drew Loney yang saat itu berada dalam pesaway mengatakan, bahwa awak kabin memberitahukan tentang perubahan prosedur sebelum mendarat. “Kami diberitahukan bahwa ketika mendarat akan mengalami sedikit rutinitas yang berbeda. Saat mendarat, layanan bandara akan memeriksa pesawat dan pesawat kemudian akan ditarik,” ujarnya.

Loney mengatakan, saat itu ada dua truk pemadam kebakaran sedang menunggu dan menempatkan lampu sorot di bawah pesawat. Dia menambahkan, setelah sampai di landasan pacu untuk mendarat, semua lampu dimatikan dan tidak tahu apakah ini masalah rem atau hal lainnya. “Yang bisa saya bayangkan adalah mungkin lampu peringatan atau sesuatu tentang rem,” jelasnya.

Baca juga: Dehidrasi Buat Penumpang Emirates Cedera Serius

Juru bicara bandara mengatakan, sesaat setelah pendaratan, pesawat ditarik dan penumpang ditahan 10 menit sebelum turun dari pesawat. Diketahui, pesawat tersebut dijadwalkan untuk melanjutkan penerbangan ke Auckland, Selandia Baru pada pukul 10.30 waktu Melbourne, tetapi penerbangan dilaporkan telah dibatalkan.

Atas kejadian ini Emirates telah dihubungi oleh media setempat, dan belum ada komentar atau rilis resmi yang dikeluarkan pihak maskapai. Yang pasti pesawat masih dalam penyelidikan layanan darurat. Bila dilihat dari situs flightstats.com, penerbangan dalam status delayed, dan sampai tulisan ini dibuat telah berlangsung selama 3,5 jam. Seharusnya Emirates EK406 akan tiba di Auckland pada pukul 16.05 waktu setempat.

Jaringan 5G Untuk Sistem Transportasi, Dianggap Masih Terlalu Mahal

Masih sekitar dua tahun lagi hingga jaringan mobile broadband 5G diluncurkan secara komersial. Meski begitu serangkaian uji coba telah dilakukan oleh vendor jaringan dan operator seluler. Apa yang ditawarkan 5G memang terbilang super, kecepatan akses yang digelontorkan bisa mencapai 40 – 50 kali lebih cepat dari jaringan 4G yang kini telah menjadi keseharian.

Seperti halnya saat kemunculan 3G dan 4G, maka 5G pun digadang mampu membawa kontribusi pada dunia transportasi. Namun yang jadi pertanyaan, apakah 5G nantinya benar-benar ideal untuk menunjang sistem transportasi? Sebagai teknologi baru, jelas di awal implementasi 5G tidak akan murah. Dilansir KabarPenumpang.com dari eurotransportmagazine.com (24/7/2017), Direktur Pengelola GoMedia Roger Matthews mengatakan terkait prospek teknologi 5G dan bagaimana hal ini mungkin belum menjadi jawaban bagi para operator transportasi.

Baca juga: Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

Alasannya untuk jaringan 4G yang kini sudah tersedia, faktanya masih banyak di bagian dunia lain yang belum terlayani 4G. Terlebih kini 5G pengembangannya masih sangat terbatas karena belum ada standar atau spesifikasi yang harus diterapkan. Jaringan 5G memiliki kecepatan yang jauh lebih cepat dibanding 4G dimana respon dan kemampuan untuk berjalan di miliaran mesin serta perangkat. Selain itu, jaringan 5G ini juga lebih hemat energi.

Sayangnya, ini pun masih dipertanyakan, apakah operator transportasi memusatkan perhatian pada penyedia infrastruktur WiFi yang bisa digunakan dalam kendaraan mereka? Sebenarnya jawabannya teknologi 5G akan jauh lebih baik di area urban daripada pedesaan. Tetapi jaringan ini tidak terlalu bagus bila sudah berada di luar dari kota. Tak seperti jaringan 4G yang masih bisa memberikan konektivitas baik walaupun masuk ke dalam terowongan atau bangunan tinggi mengelilinginya.

Sebenarnya ada keuntungan dimana kendaraan yang dilengkapi dengan on board WiFi dibanding yang tidak. Apalagi saat jaringan nirkabel tidak ada, penumpang masih bisa menikmati berbagai layanan menonton video, musik, berbelanja, mencari informasi hingga membaca bacaan digital.

Jaringan 5G menjadi teknologi yang lebih maju dan diperlukan peningkatan sinyal termasuk antena yang disempurnakan dan bandwidth gelombang radio. Sayangnya, jaringan 5G ini sangat mahal, bukan hanya dari sisi penyiapan infrastruktur, melainkan hingga pengguna akhir. Ini dikarenakan teknologinya yang masih dalam pengembangan dan tidak ada fakta atau angka konkret yang terkait dengan biaya. Masalah besar lainnya adalah 5G membutuhkan banyak pemancar agar bisa berjalan dengan baik.

Bisa dikatakan, saat ini pengguna individu akan enggan menggunakan jaringan 5G dan lebih menggunakan jaringan 4G untuk menghindari hilangnya data pribadi. Hal tersebut bisa membuat para operator transportasi menyadari kebutuhan penumpang untuk tetap terhubung dalam bus tanpa harus menghabiskan kuota mereka. Sebagian besar penumpang menggunakan perangkat tambahan serta smartphone, termasuk iPad, tablet dan laptop. Teknologi mobile saat ini tidak kompatibel dengan banyak perangkat ini. Kecuali 5G dapat beroperasi di beberapa perangkat dan mesin, ini merupakan batasan yang signifikan karena pengguna yang lebih sedikit dapat memanfaatkan teknologi ini.

Baca juga: Internet of Things Tunjang Transportasi Berbasis Bus

Bagi operator transportasi dengan layanan WiFi on board, penumpang yang menggunakan konektivitas 3G/LTE/5G daripada layanan on-board, mewakili dua masalah. Pertama, dibutuhkan bandwidth yang tidak sesuai yang digunakan oleh layanan WiFi unit transportasi backhaul. Kedua, mereka tidak berada dalam lingkungan digital operator transportasi sendiri dan karena itu merupakan kesempatan yang hilang untuk peluang pendapatan tambahan dan statistik kepuasan.

215 Penumpang Air Transat Tak Temukan Koper Saat Tiba di Birmingham

Kekecewaan terjadi pada 215 penumpang Air Transat saat tiba di Birmingham, Inggris tanpa barang bawaan mereka setelah menunggu lama di karosel (ban berjalan). Hal ini terjadi karena pihak Air Transat mengatakan adanya kesalahan teknis di bandara Pearson Internasional, Toronto, Kanada.

Baca juga: Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti

Dilansir KabarPenumpang.com dari itv.com (18/8/2017), dalam penerbangan tersebut sebenarnya ada 300 penumpang dan 85 penumpang mendapatkan barang bawaanya. Kekecewaan sebenarnya terjadi bukan hanya karena barang bawaaan yang tidak ditemukan saat tiba di Birmingham, tetapi awalnya penerbangan tersebut sudah terlambat selama enam jam dan ada penundaan tiga jam karena masalah teknis dengan sistem bagasi.

Karena masalah ini, salah seorang penumpang bernama Damon Brown dari Bedworth, Warwickshire sampai menuduh maskapai berbohong dan mengatakan hanya ada tiga orang staf yang berada di Birmingham untuk menangani keluhan barang bawaan tersebut. “Jika saya tahu barang bawaan saya tidak diangkut sebelum lepas landas, saya akan melakukan penerbangan dengan maskapai lainnya,” ujar Brown mengeluhkannya.

Penumpang yang menunggu barang bawaannya yang tertinggal di bandara Toronto (itv.com)

Dia mengatakan bahwa dirinya bersama sang istri ke Toronto untuk acara pernikahan, dimana semua pakaian terbaiknya berada di dalam koper yang dibawanya. Brown menjelaskan, ada dua koper Samsonite dengan harga mahal dan tidak terbawa saat mereka tiba di Brimingham. “Maskapai ini memang sengaja tidak memberitahukan bila barang bawaan kami tidak di muat dalam pesawat,” keluhnya.

Karena masalah ini, Brown menuliskan pada media sosial untuk melampiaskan amarahnya dan berharap adanya kompensasi dari perusahaan penerbangan tersebut. Salah seorang juru bicara Air Transat memita maaf atas keterlambatan dan kiriman barang tersebut. dia mengatakan, ada masalah parah di Pearson karena hitches teknis dan banyak penerbangan kami termasuk penerbangan Mr Brown TS164 terganggu.

Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

“Ada penundaan tiga jam di Toronto sementara kami mencoba menyelesaikan masalah ini, tapi keadaannya kacau dan situasinya terus berubah. Kami akan menyarankan semua penumpang menunggu barang bawaan mereka untuk tetap berhubungan dengan Bandara Birmingham yang akan memberi tahu mereka segera setelah bagasi tiba di Inggris,” ujar juru bicara tersebut.