Sebagai layanan transportasi berbasis online yang namanya telah mendunia, Uber kembali menelurkan inovasi untuk memudahkan para pengemudinya dengan adopsi lampu LED dalam bentuk logo Uber. Lampu ini disebut Beacon dan berada di bagian dalam kaca depan mobil pengemudi. Setiap ada pengguna Uber yang memesan taksi online ini, maka Beacon akan menyala dengan warna sesuai pilihan pengemudi.
Konsep ini pertama kali digunakan oleh armada Lyft dengan sebutan Amp pada Januari 2017 lalu. Sayangnya Amp ini memiliki keterbatasan warna sekitar 5-6 warna saja. Sedangkan di Uber berbeda dengan milik Lyft, karena memiliki berbagai macam warna. Setelah pengemudi memilih warna, nantinya akan tersimpan oleh Beacon dan memudahkan pengendara untuk mengidentifikasi tujuan Uber mereka di lokasi yang ditentukan.
Selain menampilkan warna tunggal, fitur ini akan mengatur Beacon sesuai dengan warna dan gaya animasi di aplikasi pengemudi. Tak hanya itu, Beacon juga berguna saat menunggu untuk menaikkan penumpang di daerah jam sibuk. Warna dan gaya animasi yang dipilih pengemudi juga dapat digunakan saat perayaaan-perayaan khusus dan hari libur.
Dilansir dari newatlas.com (15/12/2016), bila warna hijau yang berkelip biasanya digunakan untuk hari St Patrick atau pelangi untuk acara Gay. Untuk pemasangan Beacon sendiri di aplikasi pengemudi hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit dan bisa dihapus dalam hitungan detik. Untuk memasang Beacon, smartphone milik pengemudi haruslah didukung dengan daya atau baterai yang cukup.
Pada tahun lalu, sebelum Beacon Uber telah menerapkan konsep di Seattle dengan metode SPOT, namun hal ini justru mengurangi baik secara tarif atau pun pembatalan yang terjadi dan pengemudi butuh berkomunikasi satu dengan yang lainnya.
Untuk saat ini, Beacon akan di luncurkan di beberapa kota besar Amerika Serikat seperti Miami, Denver dan Nashville serta Newcastel di Inggris. Nantinya bila sudah sempurna, fitur Beacon ini akan diperluas ke kota-kota besar lainnya di seluruh dunia. Pada tahun depan, rencananya fitur ini akan menjadi fitur standar di setiap aplikasi Uber milik pengemudi.

Di kutip dari goodnewsfromindonesia.id, President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan, kedepannya dalam aplikasi Indonesia Airports akan dikembangkan transaksi melalui e-Wallet. “Nantinya semua yang ada dan keperluan dengan bandara yang dikelola AP II, akan lebih mudah melalui genggaman tangan Anda dan tak bisa dilepaskan dari konsep Smart Airport yang saat ini sedang dikembangkan,” ujar Muhammad Awaluddin.
Sementara itu, drone ini juga akan dijalankan secara auto-piloted dan sudah dilakukan uji coba terbang keseluruh kota. Drone ditenagai motor listrik dengan delapan baling-baling dan mampu melaju hingga kecepatan 160 km per jam dan mengudara 30 menit. Dikarenakan menggunakan pengisian bahan bakar baterai, waktu pengisian ulangnya yakni sekitar dua jam dan di kontrol secara berkala.


Sama halnya dengan para penyandang disabilitas yang kurang diperhatikan pada fasilitas publik. Padahal para disabilitas ini juga membutuhkan layanan khusus untuk membuat mereka nyaman. Seperti di bandara, penyandang disabilitas dan orang tua yang susah berjalan biasanya di sediakan kursi roda. Ini untuk memudahkan mereka menuju ke pesawat atau turun dari pesawat.
Adanya fasilitas khusus bagi disabilitas, orang lanjut usia dan anak-anak ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 2009 Pasal 239 tentang pelayanan dan fasilitas khusus. Di dalam pasal ini berbunyi penyandang disabilitas, orang lanjut usia, orang sakit dan anak-anak berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus dari badan usaha Bandar udara atau unit penyelenggara udara.
“Kami bangga dapat bersinergi dengan Telkom sebagai perusahaan teknologi informasi terbesar di Indonesia untuk dapat menghadirkan pelayanan digital terbaik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Airport digital cinema ini merupakan bagian dari kampanye program Airport Go Digital yang dicanangkan AP II sejak akhir tahun lalu, dan kami berharap layanan terbaru ini dapat menjadi salah satu ikon era digital di bandara-bandara AP II khususnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” kata President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin.
Pembuatan bilik rokok ini untuk kenyamanan penumpang baik yang merokok dan yang tidak merokok. Bagi yang tidak merokok, pastinya merasa nyaman dan tidak akan menghirup asap rokok yang penuh dengan kandungan zat berbahaya apalagi bila di dalam bus ada anak-anak dan orang tua. Sedangkan untuk para perokok, bilik ini menjadi ruang mereka untuk mendapatkan hak kebebasan untuk merokok.
Seorang boncengers ojek online anak muda maupun orang tua, pasti mencari keamanan, keselamatan dan kenyamanan saat dibonceng. Anda pasti tidak mau kalau sesuatu terjadi saat dibonceng. Berikut ada beberapa hal yang bisa Anda merasa aman dan nyaman saat dibonceng.
Celana panjang dan ransel
Punya peta kawasan terminal yang dikunjungi