PO Presta Prima: Si Mewah yang Terlupakan

Bus dengan fasilitas mini bar saat ini boleh dikatakan sudah biasa lantaran sudah banyak perusahaan otobus (PO) yang menghadirkannya. Namun, pada dekade 1990-an PO dengan fasilitas seperti itu sangat jarang atau jumlahnya masih bisa dihitung menggunakan jari, salah satu diantaranya adalah Presta Prima.

Baca juga: Begini Ternyata Cara Isi Air Toilet di Bus AKAP

PO asal Surabaya ini menghadirkan fasilitas tersebut untuk layanan antar kota antar provinsi Jakarta-Surabaya pulang pergi (PP). Fasilitas tersebut berada di bagian belakang bus lengkap dengan pramugari yang bertugas membuat dan menyajikan minuman untuk penumpang.

Tak banyak informasi mengenai Presta Prima, sepak terjangnya di jalur gemuk nan prestisius itu juga terbilang singkat. Muncul pada awal 1990-an kemudian menghilang pada pertengahan 1990-an.

Entah apa penyebabnya, akan tetapi PO ini dikenal santai atau tak secepat bus-bus lain yang melayani rute Jakarta-Surabaya PP. Mungkin saja ini menjadi penyebabnya mengingat karakter penumpang di rute tersebut menginginkan bus yang tidak hanya nyaman, tetapi juga cepat.

Berdasarkan iklan yang tayang di harian Jawa Pos pada 1991, Presta Prima hadir dengan fasilitas yang meliputi air conditioner (AC), dua televisi, pemutar video dan musik, toilet, mini bar dengan pramugari, bantal dan selimut, makan malam prasmanan. Kemudian dua kelas berbeda dalam satu bus dan layanan pengantaran ke rumah dalam kota yang tak ditemui di bus-bus pesaingnya kala itu.

Dalam iklan tersebut juga disebut Presta Prima menggunakan bus bersasis Mercedes Benz OH1521 Intercooler yang panjangnya mencapai 11,5 meter atau lebih panjang 1 meter dibandingkan sasis-sasis lainnya. Tentu saja, itu sangat mempengaruhi jarak antarkursi (seat pitch) yang menjadi lebih luas.

Awal kemunculannya, Presta Prima hadir dengan body “Banteng KW” atau tiruan dari OH306 German Motor Manufacturing buatan Rahayu Santosa. Berbeda dengan bodi serupa di PO lain, pintu belakang Presta Prima berada di tengah layaknya bus-bus masa kini.

Warnanya pada awal kemunculannya adalah coklat kombinasi sebelum akhirnya berubah menjadi putih dengan kombinasi biru. Peluncuran bus ini terbilang tidak main-main karena dilakukan di Hotel Sahid Jaya Surabaya.

Baca juga: Juanda, Pasar Baru, dan Karet, Nostalgia Bus AKAP Saat Diperbolehkan Masuk Tengah Kota

Saat ini, Presta Prima hanya melayani pariwisata di Surabaya dengan unit yang terbilang tidak muda. Jumlahnya pun tidak banyak dan dapat diidentifikasi lewat logo piramida yang dari awal kemunculannya tak berubah. (Bisma Satria)

Dobrak Monopoli Abadi: Thailand Resmi Buka Jaringan Kereta Nasional untuk Operator Swasta

Industri transportasi massal di Asia Tenggara kembali mencatatkan sejarah baru lewat reformasi radikal yang digulirkan oleh Pemerintah Kereta Api Thailand. Guna mendongkrak efisiensi dan memperluas konektivitas bagi para penumpang serta logistik, Thailand secara resmi bersiap membuka pasar kereta api nasionalnya untuk kompetisi pihak swasta.

Langkah berani ini menyusul berlakunya Undang-Undang Transportasi Kereta Api (Rail Transport Act BE 2568) yang telah diundangkan secara resmi sejak akhir Maret 2026. Melalui regulasi baru tersebut, struktur bisnis perkeretaapian Negeri Gajah Putih yang selama ini dikuasai penuh secara tunggal oleh negara akan dirombak total dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Kebijakan ini diproyeksikan akan mengubah lansekap kenyamanan penumpang serta menurunkan biaya logistik regional secara signifikan.

Dalam kerangka kerja yang baru ini, perusahaan negara State Railway of Thailand (SRT) tidak akan lagi memonopoli seluruh layanan operasional dari hulu ke hilir. Peran SRT akan digeser secara fokus untuk bertindak sebagai pemilik, pengelola, sekaligus penyedia infrastruktur jaringan rel di seluruh negeri. Sementara itu, hak operasional untuk menjalankan rangkaian kereta penumpang maupun kereta barang (freight) akan dibuka kepada perusahaan swasta melalui mekanisme tender terbuka berbasis sewa akses jaringan. Departemen Transportasi Kereta Api Thailand (DRT) menyatakan bahwa SRT dijadwalkan akan merilis laporan pernyataan jaringan formal (network statement) pada Juli 2026.

Dokumen krusial tersebut nantinya akan menguraikan secara mendetail mengenai kondisi teknis jaringan rel, spesifikasi sarana, hingga aturan kesepakatan akses bagi para calon operator swasta yang berminat masuk ke industri ini. Jika seluruh proses berjalan sesuai linimasa, rangkaian kereta komersial milik swasta pertama ditargetkan sudah mulai meluncur melayani penumpang pada tahun 2028.

Pada fase awal implementasinya, para operator swasta akan diberikan akses untuk mengoperasikan layanan di atas jaringan rel terkoneksi berukuran metre-gauge (1.000 mm) milik Thailand. Pemilihan momen ini dinilai sangat tepat mengingat jaringan rel tersebut saat ini tengah berada dalam tahap penyelesaian proyek modernisasi jalur ganda (double-tracking) secara masif di berbagai wilayah. Kehadiran jalur ganda ini dipastikan akan meminimalisir risiko keterlambatan serta memaksimalkan kapasitas lalu lintas kereta, sehingga operator swasta dapat menawarkan jadwal perjalanan yang lebih pasti dan kompetitif bagi para komuter maupun pelancong jarak jauh.

Langkah liberalisasi ini juga diambil untuk mengantisipasi lonjakan volume pergerakan penumpang seiring dengan dibangunnya koridor-koridor wisata baru dan jalur penghubung internasional menuju perbatasan Laos, seperti jalur Den Chai–Chiang Rai–Chiang Khong serta koridor Nakhon Phanom–Mukdahan–Ban Phai yang seluruhnya ditargetkan rampung pada tahun 2028.

Bagi para pengguna jasa transportasi di Thailand, keterlibatan sektor swasta ini diyakini akan membawa angin segar, terutama dalam hal peningkatan kualitas layanan di atas kereta (on-board services), diversifikasi kelas bangku penumpang, hingga kemudahan sistem pertiketan digital yang terintegrasi. Belajar dari kesuksesan beberapa negara Eropa dan Jepang yang menerapkan sistem serupa, kompetisi sehat antarkorporasi secara alami akan mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru demi memikat hati penumpang.

Dengan infrastruktur rel yang tetap dikuasai oleh negara dan operasional yang dikelola secara profesional oleh swasta, perkeretaapian Thailand kini tengah bersiap melesat menjadi pusat integrasi transportasi paling dinamis dan modern di kawasan ASEAN.

Operator Kereta Api Thailand Gunakan Kereta Hibah dari Jepang untuk Pariwisata

Paradoks Industri Penerbangan: Maskapai Pecahkan Rekor Pesanan Pesawat, Tapi Mengapa Pabrikan Gagal Kirim Tepat Waktu?

Industri penerbangan global saat ini tengah mengalami situasi paradoks yang cukup unik sekaligus membingungkan. Di satu sisi, minat maskapai untuk memperluas jaringan dan memperbarui armada mereka berada di level tertinggi sepanjang sejarah.

Sepanjang kuartal pertama tahun 2026 saja, manufaktur pesawat komersial di seluruh dunia berhasil membukukan rekor fantastis sebanyak 569 pesanan pesawat baru, di mana 461 unit di antaranya didominasi oleh varian berbadan sempit (single-aisle/narrowbody). Angka ini tercatat sebagai pencapaian kuartal pertama tertinggi sejak tahun 2013, yang sekaligus mencerminkan gairah luar biasa dari bisnis penerbangan sipil dunia. Namun, kontras dengan lonjakan komitmen pembelian tersebut, realisasi pengiriman fisik pesawat justru berjalan lambat.

Pada periode kuartal yang sama, pabrikan global hanya mampu menyerahkan 261 unit pesawat ke tangan maskapai, alias merosot sekitar 4 persen dibandingkan performa pengiriman pada kuartal pertama tahun lalu. Situasi ini memicu antrean panjang (backlog) parah yang membuat banyak maskapai di dunia terpaksa gigit jari.

Menariknya, hambatan ini bukan disebabkan oleh masalah finansial maskapai yang menunda penerimaan armada akibat fluktuasi harga bahan bakar, melainkan murni karena ketidakmampuan dua raksasa manufaktur dunia, Airbus dan Boeing, dalam memenuhi linimasa produksi mereka. Sementara pabrikan Embraer asal Brasil relatif sukses mempertahankan ketepatan waktu pengiriman, Airbus dan Boeing justru terseok-seok akibat akumulasi masalah yang struktural. Salah satu biang keladi paling mengejutkan yang menghambat penyerahan pesawat ke konsumen ternyata bersumber dari rantai pasok interior kabin, khususnya pabrikan kursi premium seperti Safran dan Collins Aerospace.

Kurangnya pasokan bahan baku serta kelangkaan tenaga kerja membuat pembuatan kursi jatuh tempo. Akibatnya, banyak pesawat baru terpaksa keluar dari lini perakitan akhir dengan kondisi interior setengah kosong. Masalah ini diperparah oleh ketatnya sertifikasi regulator penerbangan sipil terhadap desain-desain kursi inovatif terbaru, yang secara otomatis menahan pesawat baru di darat selama berbulan-bulan. Kasus nyata dialami oleh Lufthansa yang armada Boeing 787-nya tertahan lama akibat sertifikasi kursi kelas bisnis, serta Delta Air Lines yang terpaksa memarkir lima unit Airbus A321neo baru di gudang penyimpanan tanpa kabin premium karena kursi Safran VUE mereka belum mengantongi restu FAA.

Selain masalah interior, krisis mesin menjadi mimpi buruk terbesar yang melumpuhkan produktivitas pesawat berbadan sempit berteknologi baru. Mesin inovatif Geared-Turbofan (GTF) seri PW1000G buatan Pratt & Whitney yang mengotaki keluarga Airbus A320neo, Airbus A220, dan Embraer E2, terus didera isu kualitas material mikro yang memicu keausan dini komponen internal. Dampaknya masif; Pratt & Whitney kewalahan membagi fokus antara memproduksi mesin baru dengan menyediakan mesin pengganti bagi ratusan pesawat operasional yang terpaksa dikandangkan (grounded) di seluruh dunia.

Imbas paling fatal dirasakan oleh program Airbus A220 yang seluruhnya bergantung pada mesin PW1000G, di mana hampir seperlima dari total populasi global A220 saat ini dalam kondisi mati suri di darat, sementara Airbus terpaksa memproduksi bodi pesawat A220 tanpa mesin alias berupa “pesawat layang” (gliders) untuk disimpan sementara waktu. Meskipun kompetitornya, CFM International dengan mesin LEAP-nya (yang mengudara di Boeing 737 MAX dan sebagian A320neo), mulai menunjukkan perbaikan rantai pasok dan peningkatan kapasitas produksi, beban kerja CFM ikut meroket tajam akibat pengalihan order dari maskapai yang frustrasi dengan masalah mesin GTF.

Di kubu Chicago, Boeing masih harus bergelut dengan tantangan sertifikasi varian krusial mereka yang tak kunjung usai, seperti Boeing 737 MAX 7, MAX 10, dan jet berbadan lebar raksasa Boeing 777-9. Keterlambatan ini mengacaukan rencana bisnis jangka panjang maskapai global besar; salah satunya Emirates, di mana sang Presiden, Sir Tim Clark, sempat melontarkan kritik keras bahwa maskapainya seharusnya sudah menerima lebih dari 100 unit Boeing 777-9 berdasarkan kontrak awal.

Di sisi lain, kontrol kualitas pasca-pandemi yang ketat membuat otoritas penerbangan sempat membatasi kuota produksi 737 MAX. Walau saat ini produksi Boeing berangsur stabil di angka 42 unit per bulan dengan target naik menjadi 53 unit pada akhir tahun, isu kabel internal pesawat yang membutuhkan pengerjaan ulang (rework) jangka pendek tetap menunda pengiriman aktual ke maskapai. Upaya keras terus dilakukan Boeing dengan merampungkan akuisisi situs manufaktur Spirit Aerosystems serta membuka lini perakitan akhir (Final Assembly Line) keempat untuk pesawat narrowbody di Everett guna memangkas durasi perbaikan masalah operasional.

Tantangan serupa juga melanda segmen pesawat berbadan lebar (widebody), baik untuk lini Boeing 787 Dreamliner maupun keluarga Airbus A330neo dan A350. Kendati masalah cacat struktur bodi pada 787 telah berhasil diatasi, kini giliran produsen mesin raksasa General Electric dan Rolls-Royce yang mengeluhkan seretnya pasokan komponen kritikal untuk mesin-mesin jet berbadan lebar mereka.

Kelangkaan global ini memaksa maskapai-maskapai papan atas mengubah strategi perawatan armada mereka secara radikal. Sebagai contoh, Singapore Airlines terpaksa menunda proyek pengerjaan penyegaran interior (retrofit) kabin armada Airbus A350 mereka dari akhir tahun ini ke awal tahun depan demi menjaga ketersediaan kapasitas kursi di jaringan rute internasional mereka yang sedang padat.

Akar dari seluruh kekacauan rantai pasok global ini sejatinya bermuara pada keputusan-keputusan drastis yang diambil selama krisis pandemi COVID-19 beberapa tahun silam. Ketika dunia penerbangan sempat lumpuh, seluruh ekosistem industri kedirgantaraan—mulai dari penambang titanium dan aluminium, pabrikan sekrup, hingga perakit komponen utama—melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Begitu mobilitas global pulih dengan kecepatan eksponensial, industri ini mendadak kehilangan pasokan tenaga kerja ahli dan terampil. Melatih mekanik baru membutuhkan waktu bulanan, sementara membangun kembali kemahiran tinggi (proficiency) membutuhkan waktu tahunan.

Mengingat tingginya kompleksitas pembuatan sebuah pesawat yang melibatkan ribuan vendor dari berbagai belahan dunia, para analis industri penerbangan memproyeksikan bahwa normalisasi ekosistem kedirgantaraan global kemungkinan besar baru akan tercapai sepenuhnya pada awal dekade 2030-an. Selama masa transisi tersebut, para penumpang tampaknya masih harus bersabar melihat pemandangan maskapai kesayangan mereka yang terpaksa menunda pembukaan rute-rute baru akibat armada masa depan mereka yang masih mengantre tak berdaya di pabrik.

Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Stasiun JIS Beroperasi Juni, Masyarakat Senang Punya Alternatif Akses Transportasi KRL

Stasiun Commuter Line saat ini tengah menjadi sorotan media dan publik. Apalagi sudah banyak yang mengabadikan momen khusus sebelum dioperasikan. Ya, berada di jalur rute Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Jakarta Kota stasiun ini digadang-gadang akan bermanfaat bagi masyarakat yang bisa turun dan naik di kawasan tersebut apalagi saat pertandingan atau acara khusus yang menggunakan stadion yang terbesar di Indonesia tersebut.

Stasiun Jakarta International Stadium atau lebih dikenal dengan singkatan JIS ini semakin viral di media sosial. Pasalnya pembangunan tersebut sedang tahap penyelesaian. Ini karena Stasiun JIS menargetkan akan beroperasi untuk masyarakat pada Juni 2026. Penampakan stasiun yang terdiri dari panjangnya peron untuk naik turun penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) terlihat, bahkan jembatan penghubung dari stasiun menuju area stadion pun sudah cukup rapi.

Dari informasi yang beredar bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta bersama PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) masih terus merampungkan pembangunan Stasiun KRL Jakarta International Stadium (JIS). Tentunya kehadiran Stasiun JIS ini pun disambut rasa senang oleh sejumlah masyarakat.

Selain itu, kehadiran Stasiun JIS yang melayani rute Tanjung Priok – Jakarta Kota maupun sebaliknya, membuat masyarakat memiliki banyak pilihan transportasi umum saat bepergian. Tak hanya itu akses yang mudah dan fasilitas sebagaimana stasiun KRL lainnya bisa dinikmati penumpang.

Stasiun yang berada di tepi ruas Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, posisinya memang tepat bersebelahan dengan Stadion JIS. Berbagai akses untuk masuk dan keluar stasiun, bangunannya pun sudah berdiri utuh dengan atap dan tiang-tiang penyangga yang dibuat senada dengan warna abu-abu.

Pagar di bangunan akses masuk stasiun juga sudah terpasang. Sama halnya juga dengan akses tangga yang nanti akan langsung menghubungkan stasiun ini dengan Stadion JIS. Bagian atap tangga serta tiang pengamanan serta dinding besi sudah terpasang rapi.

Dari keterangan sebelumnya yang telah dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pembangunan Stasiun JIS memasuki tahap akhir. Setelah dilakukan pembahasan bersama PT KAI, stasiun baru tersebut ditargetkan rampung pada Mei dan mulai beroperasi pada Juni 2026.

Menurut VP Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), Karina Amanda menjelaskan Stasiun JIS saat ini masih terus dilakukan penyelesaian infrastruktur oleh Pemprov DKI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA). KAI Commuter selaku operator sarana Commuterline akan terus mendukung operasional Stasiun JIS.

Menurutnya, pengembangan konektivitas menjadi kunci untuk mengatasi persoalan utama JIS, yakni kemacetan. Pasalnya, kata Pramono setiap kali digelar pertandingan sepak bola maupun konser berskala besar, JIS selalu dikeluhkan macet. Apalagi operasional Stasiun JIS bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta yang jatuh pada 22 Juni mendatang. Dengan demikian, masyarakat nantinya bisa menggunakan KRL untuk berpergian saat menghadiri acara yang digelar Pemprov DKI.

Stasiun JIS Bisa Beroperasi Juni 2026 Mendatang, Ini Manfaatnya

Menghindari Risiko Tertabrak Kereta, KAI Mulai Menutup Perlintasan Sebidang di ‘Red Line’

Kejadian yang nahas beberapa waktu lalu di perlintasan sebidang kawasan Jalan Ampera, Bekasi, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) khususnya Commuter terus memeriksa perlintasan sebidang yang kini telah diputuskan untuk dilakukan penutupan. Hal tersebut sudah dijalankan guna terhindar dari hal serupa yakni tertabrak kereta api di perlintasan yang tidak resmi maupun tidak dijaga. Bahkan beberapa lintasan kereta api di Jabodetabek tengah dilakukan penutupan salah satunya di Jalur Bogor atau jalur ‘red line’.

Adapun lokasi d jalur Bogor tersebut berada di area yang padat dengan masyarakat yang lalu lalang menyeberang rel kereta api, baik pejalan kaki maupun pengendara roda dua. Penutupan perlintasan sebidang liar tersebut berlokasi di kawasan RT 01 dan RT 03 antara Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet. Penutupan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api maupun warga sekitar.

Menurut Deputi 2 Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Deddy Hendrady menjelaskan penutupan perlintasan liar memang menjadi program rutin KAI setiap tahun. Langkah itu diambil karena tingginya angka kecelakaan di lokasi perlintasan liar. KAI pun mendapat tugas dari pusat untuk menutup sekitar 40 perlintasan liar. Mayoritas perlintasan yang ditutup memiliki lebar kurang dari dua meter dan tidak dilengkapi penjaga.

Penutupan ini tentu demi menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan masyarakat. Pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penutupan perlintasan tersebut. Menurutnya, masyarakat mendukung langkah yang diambil dengan baik. Karena ramainya perjalanan kereta tiap hari di jalur tersebut cenderung khawatir jika ada insiden serupa yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan terganggunya perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL).

Selain lokasi antara Tebet – Cawang, masih di jalur yang sama rencana penutupan akan dilakukan di area Pasar Anyar, Bogor. Lokasi perlintasan ini berdekatan dengan Stasiun Bogor. Menurut pemerintah setempat, nantinya mematangkan rencana penutupan perlintasan KRL di Pasar Anyar, Bogor tersebut. Langkah ini disiapkan untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas.

Rencana penutupan itu menjadi perhatian serius setelah terjadinya kecelakaan kendaraan yang tertabrak kereta api di salah satu lokasi perlintasan. Pemerintah menilai keberadaan lintasan sebidang di kawasan padat aktivitas memiliki tingkat risiko tinggi terhadap pengguna jalan maupun perjalanan kereta.

Hal ini membuat Wali Kota Bogor, Dedie Rachim menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih aman dan tertib di Kota Bogor. Selain penutupan di perlintasan Pasar Anyar, lokasi selanjutnya berada di Perlintasan Kebon Pedes.

Selain faktor keselamatan, kebijakan ini juga diharapkan mampu memperbaiki kelancaran arus lalu lintas di pusat kota yang selama ini sering mengalami kepadatan saat kereta melintas. Sebagai solusi atas penutupan akses perlintasan, Pemerintah Kota Bogor telah menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung. Salah satunya adalah pembangunan jembatan khusus bagi pengendara sepeda motor dan pejalan kaki di kawasan Pasar Anyar.

Usai Tragedi Fatal Terjadi di Bekasi Timur, KAI Akhirnya Menutup 29 Perlintasan Sebidang di Jawa dan Sumatera, Ini Lokasinya

Uji Coba Palang Pintu Elektronik di Jalan Ampera, Petugas Masih Terus Berjaga di Lokasi Perlintasan

Jalan Ampera, Bekasi masih terus menjadi sorotan media dan masyarakat. Pasca insiden yang terjadi pada 27 April 2026 lalu membuat banyak komentar warga net yang berseliweran di media sosial, termasuk sorotan palang pintu perlintasan di jalan yang dekat dengan Stasiun Bekasi Timur tersebut.

Semula memang berbagai informasi yang diterima bahwa perlintasan Jalan Ampera hendak ditutup, namun keputusan itu sulit diambil lantaran membutuhkan pertimbangan matang terkait dampak sosial dan kelancaran arus lalu lintas di area tersebut. Apalagi jika ditutup, justru nanti jalan nasionalnya pastinya terganggu.

Dari hal tersebut, evaluasi tentu terus dilakukan hingga akhirnya perlintasan Ampera tetap digunakan dan kini menggunakan palang pintu elektronik yang sudah terpasang. Pemasangan palang otomatis itu bagian dari percepatan penanganan perlintasan sebidang yang juga dilakukan di daerah lain.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan percepatan penataan perlintasan saat ini menjadi bagian penting dalam penguatan sistem keselamatan transportasi berbasis risiko. Karena itu penanganannya perlu dilakukan lebih cepat, terukur, dan terintegrasi agar ruang keselamatan di lapangan semakin baik.

Palang pintu perlintasan baru yang saat ini masih dalam tahap penyempurnaan dan uji coba operasional sebagai bagian dari penguatan pengamanan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. Sempat juga dilakukan percobaan perdana saat kereta api melintas, palang pintu tersebut dinyalakan mulai dari lampu, suara sirene, hingga palang yang bisa tertutup dan terbuka.

Selama proses penyempurnaan fasilitas di kawasan Ampera berlangsung, pengamanan perjalanan kereta api masih dilakukan menggunakan palang pintu lama yang tetap difungsikan. Selain itu, pengamanan sementara juga didukung melalui swadaya masyarakat sambil menunggu pembangunan pos jaga dan penempatan petugas resmi.

Anne menambahkan, kolaborasi di lapangan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama proses peningkatan fasilitas berlangsung. Keberadaan fasilitas keselamatan juga perlu diikuti dengan disiplin pengguna jalan saat melintas di area perlintasan. Seperti halnya tidak menerobos palang pintu, berhenti sejenak, tengok kanan dan kiri, serta memastikan kondisi aman sebelum melanjutkan perjalanan.

Tentunya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan di berbagai wilayah berupaya meningkatkan keamanan pengguna jalan di titik-titik perpotongan jalur rel dan jalan raya. Serta mengajak masyarakat berperan aktif dalam menjaga keselamatan di kawasan perlintasan kereta api dengan tidak membuat perlintasan liar karena dapat mengganggu jarak pandang masinis serta meningkatkan risiko kecelakaan.

Cegah Bahaya di Perlintasan Kereta Api, Yuk Simak Tips Aman Berikut Ini

Keliling Eropa Makin Gampang! Komisi Eropa Siapkan Aturan Tiket Kereta Terpadu Lintas Negara

Komisi Eropa secara resmi mengusulkan serangkaian aturan baru yang ambisius untuk menciptakan ekosistem perjalanan kereta api lintas batas yang lebih mulus dan terintegrasi di seluruh benua. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya besar untuk menjadikan kereta api sebagai moda transportasi pilihan utama yang mampu menyaingi efisiensi pesawat terbang, sekaligus mendukung target keberlanjutan lingkungan di Eropa.

Melalui proposal ini, hambatan administratif dan teknis yang selama ini menyulitkan penumpang saat berpindah antarnegara diharapkan dapat segera teratasi melalui standarisasi sistem yang lebih modern.

Salah satu poin utama dalam usulan ini adalah penyederhanaan sistem pemesanan tiket terpadu atau through-ticketing. Selama ini, penumpang kereta di Eropa sering kali harus membeli tiket terpisah dari operator yang berbeda saat melakukan perjalanan lintas negara, yang berisiko pada hilangnya hak penumpang jika terjadi keterlambatan pada salah satu koneksi.

Dengan aturan baru ini, Komisi Eropa mendorong adanya perlindungan penumpang yang lebih kuat dan transparansi data jadwal perjalanan secara real-time. Hal ini akan memungkinkan penumpang untuk membeli satu tiket tunggal untuk perjalanan jauh yang melintasi beberapa negara sekaligus dengan jaminan koneksi yang lebih pasti.

Selain aspek tiket, proposal ini juga menyoroti pentingnya standarisasi infrastruktur digital dan operasional di seluruh jaringan kereta api Eropa. Komisi Eropa menekankan bahwa sinkronisasi data antar operator sangat krusial untuk mengoptimalkan kapasitas lintas batas yang sering kali terhambat oleh perbedaan sistem teknis di tiap negara. Dengan adanya akses data terbuka yang lebih baik, penyedia layanan pihak ketiga atau aplikasi perjalanan dapat menawarkan rute yang lebih bervariasi dan kompetitif bagi pengguna jasa transportasi kereta api.

Inisiatif ini disambut baik sebagai langkah konkret dalam mewujudkan visi “Single European Railway Area”. Jika aturan ini disahkan, para penumpang tidak lagi perlu khawatir dengan kompleksitas birokrasi perjalanan internasional di Eropa. Transformasi ini diprediksi tidak hanya akan meningkatkan jumlah pengguna kereta api secara signifikan, tetapi juga mendorong persaingan sehat antar operator yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan lebih bagi para penumpang dalam hal harga dan kualitas pelayanan.

Daftar 10 Negara Paling Banyak Dikunjungi di Dunia 2026: Perancis Tetap Juara, Asia Terus Meroket

Industri pariwisata global mencatatkan rekor baru pada pertengahan tahun 2026 dengan lonjakan jumlah penumpang internasional yang luar biasa. Berdasarkan laporan terbaru, Perancis masih belum tergoyahkan di posisi puncak sebagai negara yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Keberhasilan Perancis mempertahankan takhta ini didorong oleh daya tarik abadi kota Paris serta kesiapan infrastruktur transportasi daratnya yang sangat memudahkan pelancong berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Spanyol menyusul ketat di posisi kedua, di mana negara ini menjadi destinasi favorit utama bagi wisatawan yang mencari perpaduan antara wisata sejarah kota dan resor pantai yang ikonik di kawasan Mediterania.

Di urutan ketiga, Amerika Serikat terus menunjukkan tajinya dengan keragaman destinasi dari pesisir timur hingga barat, menjadikannya magnet bagi wisatawan bisnis maupun keluarga. Kejutan besar terlihat di posisi keempat, di mana Cina kini semakin kokoh setelah membuka akses seluas-luasnya bagi turis mancanegara melalui kebijakan bebas visa di berbagai provinsi strategis. Sementara itu, Italia menempati peringkat kelima sebagai pusat sejarah dan seni dunia, yang tetap menjadi destinasi “wajib” bagi para penumpang yang mendambakan pengalaman kuliner dan estetika klasik di Eropa.

Beralih ke posisi keenam, Turki membuktikan posisinya sebagai jembatan dua benua yang sangat populer, berkat kemudahan konektivitas bandara internasionalnya yang menjadi salah satu hub tersibuk di dunia. Meksiko berada di urutan ketujuh, mendominasi pasar pariwisata di belahan bumi barat dengan kekayaan situs arkeologi dan keindahan alam bawah lautnya.

Di peringkat kedelapan, Thailand muncul sebagai representasi terkuat dari Asia Tenggara yang berhasil menarik jutaan turis berkat keramahan lokal dan biaya perjalanan yang tetap kompetitif bagi para backpacker maupun wisatawan mewah.

Dua posisi terakhir dalam daftar sepuluh besar ini ditempati oleh Jerman di urutan kesembilan dan Inggris di urutan kesepuluh. Jerman menonjolkan efisiensi jaringan kereta api cepatnya yang terintegrasi dengan festival-festival budaya tahunan, sementara Inggris tetap menjadi primadona berkat daya tarik London sebagai pusat keuangan dan budaya global.

Lonjakan angka kunjungan di sepuluh negara ini menjadi sinyal positif bagi maskapai penerbangan dunia untuk terus menambah frekuensi penerbangan guna mengakomodasi mobilitas penumpang yang kian masif di tahun 2026 ini.

Mau Berwisata ke Eropa? Perhatikan Dulu Skor Ramah Lingkungan di Kota-kota Ini

Taiwan High Speed Rail Corp Perkenalkan Rangkaian Kereta ‘Platypus’ Terbaru untuk Masa Depan Konektivitas

Industri transportasi kereta api cepat dunia kembali mencatatkan sejarah baru. Taiwan High Speed Rail Corp (THSRC) secara resmi meluncurkan desain rangkaian kereta terbaru mereka yang dijuluki sebagai “Platypus” (Si Platipus). Peluncuran ini menandai langkah ambisius Taiwan dalam memperbarui armada transportasi massalnya dengan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Rangkaian kereta baru ini merupakan hasil kolaborasi teknologi tinggi yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas angkut sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih premium bagi para penumpang. Julukan “Platypus” sendiri merujuk pada desain unik moncong kereta yang aerodinamis, menyerupai paruh platipus, yang berfungsi untuk meminimalkan hambatan udara dan mengurangi kebisingan saat kereta memasuki terowongan dengan kecepatan tinggi.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, rangkaian kereta “Platypus” ini mengusung teknologi penghematan energi yang jauh lebih maju. Penggunaan material ringan namun kokoh pada bodi kereta diklaim mampu menurunkan konsumsi listrik secara signifikan tanpa mengurangi stabilitas pada kecepatan operasional maksimal.

Selain aspek teknis, THSRC juga memberikan perhatian besar pada interior kabin. Rangkaian ini dilengkapi dengan konfigurasi kursi yang lebih ergonomis, ruang kaki yang lebih luas, serta integrasi teknologi digital terkini. Setiap kursi kini dibekali dengan titik pengisian daya USB-C dan sistem hiburan berbasis Wi-Fi yang lebih stabil, memenuhi kebutuhan mobilitas penumpang modern yang tetap ingin produktif selama perjalanan.

Penambahan unit “Platypus” ini merupakan respon strategis THSRC terhadap meningkatnya volume penumpang di koridor utara-selatan Taiwan. Dengan efisiensi mesin yang lebih baik, frekuensi keberangkatan dapat diatur lebih fleksibel, memungkinkan lebih banyak penumpang terakomodasi pada jam-jam sibuk.

Rangkaian kereta terbaru ini dijadwalkan akan mulai menjalani serangkaian uji coba lintasan sebelum resmi dioperasikan secara penuh untuk melayani masyarakat. Kehadiran “Platypus” diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Taiwan dalam peta kereta api cepat global, tetapi juga menjadi solusi transportasi berkelanjutan yang mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Taiwan High Speed ​​Rail Terapkan Aturan ‘Tanpa Ampun’ Bagi Penumpang, Lebih Ketat dari Jepang!

Manjakan Lidah Sebelum Terbang: Daftar Restoran dan Gerai Kuliner Baru di Bandara Changi Periode April-Mei 2026

Sebagai bandara yang terus berinovasi, Changi Airport dan Jewel Changi Airport kembali memperkenalkan deretan tempat makan terbaru bagi para pelancong dan pengunjung setianya. Memasuki periode April hingga Mei 2026, beberapa brand populer internasional dan lokal resmi membuka pintu mereka, memberikan lebih banyak variasi rasa mulai dari hidangan Korea hingga pastry mewah asal New York.

Berikut adalah daftar gerai kuliner terbaru yang wajib Anda coba saat sedang transit atau berkunjung ke Bandara Changi:

1. Kimchi Mama (Terminal 2, Public Area) Bagi penggemar hidangan Korea yang mencari kenyamanan masakan rumah, Kimchi Mama kini hadir di Level 3 Terminal 2. Menariknya, gerai ini telah mengantongi sertifikasi Halal, menjadikannya pilihan tepat bagi rombongan besar. Dengan lebih dari 50 pilihan menu mulai dari harga S$5,90, pengunjung bisa menikmati hotstone rice bowls, samgyetang (sup ayam ginseng), hingga tteokbokki. Jangan lewatkan stan banchan gratis yang bisa diambil sepuasnya untuk menemani hidangan utama Anda.

2. Pizza Maru (Terminal 2, Public Area) Tepat di sebelah Kimchi Mama, Pizza Maru menawarkan sensasi pizza khas Korea dengan sentuhan sehat. Brand yang memiliki lebih dari 620 gerai di Korea Selatan ini dikenal dengan adonan green tea well-being yang terbuat dari campuran teh hijau, biji rami, hingga chlorella. Meski menunya tanpa daging babi dan lemak babi (pork-free & lard-free), rasa yang ditawarkan tetap sangat gurih dan unik, cocok bagi Anda yang ingin mencoba variasi pizza yang berbeda dari biasanya.

3. Cookhouse by Koufu (Terminal 2, Transit Area) Bagi penumpang yang berada di area transit dan mencari hidangan lokal Singapura yang otentik, Cookhouse by Koufu akan resmi beroperasi penuh pada akhir Mei 2026. Terletak di Level 3 Terminal 2, food court ini akan beroperasi selama 24 jam. Ini adalah solusi sempurna bagi para traveler yang tiba dengan penerbangan dini hari atau ingin menikmati hawker food terakhir sebelum meninggalkan Singapura.

4. Lady M (Jewel Changi Airport) Kabar gembira bagi pecinta makanan manis: Lady M New York resmi kembali ke Singapura dengan butik terbarunya di Jewel Changi Airport (Level 2). Butik dengan kapasitas 44 kursi ini menawarkan deretan crepe cake ikonik yang menjadi ciri khasnya. Kembalinya Lady M di lokasi strategis ini diprediksi akan menjadi titik temu favorit bagi para pecinta afternoon tea di tengah suasana hijau Jewel.

5. Ladurée Pop-up (Terminal 3, Public Area) Hingga 25 Mei 2026, penggemar makaron asal Perancis dapat mengunjungi gerai pop-up Ladurée di Departure Hall Terminal 3. Tanpa harus terbang ke Paris, Anda bisa mencicipi makaron mewah dengan berbagai rasa mulai dari pistachio hingga matcha. Kemasannya yang elegan juga menjadikannya pilihan buah tangan premium yang sangat praktis bagi penumpang sebelum masuk ke area imigrasi.

Hadirnya deretan gerai baru ini semakin mengukuhkan posisi Bandara Changi bukan sekadar tempat transit, melainkan destinasi gaya hidup dan kuliner yang lengkap bagi setiap pengunjung. Jadi, pastikan Anda datang lebih awal sebelum jadwal penerbangan untuk mengeksplorasi rasa di setiap terminal!

Food District Changi – Inilah Food Court Bandara Terbesar di Dunia