Cuma Rp3000, Bisa Nikmati Kereta Api di Jalur Kulon yang Miliki Nilai Sejarah

Siapa yang tak kenal dengan jalur yang satu ini. Ya, kali ini kabarpenumpang akan mengajak kalian naik kereta api yang murah meriah dari Stasiun Rangkasbitung sampai dengan Stasiun Merak hanya dengan Rp3000 saja dengan waktu 1 jam 45 menit. Meski pemandangannya tak seindah di wilayah lain, namun jalur ini melewati destinasi wisata dan bangunan stasiun yang masih berstatus cagar budaya. Kira-kira stasiun apa saja ya yang dilewati? Berikut urutannya:

1. Stasiun Rangkasbitung
Stasiun Rangkasbitung (RK), atau lebih dikenal masyarakat setempat dengan bentuk singkatnya Stasiun Rangkas, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Muara Ciujung Timur, Rangkasbitung, Lebak dengan ketinggian +22 meter. Stasiun ini juga merupakan keberangkatan dan kedatangan rangkaian kereta api Commuter Line Merak.

oppo_0

2. Stasiun Jambubaru
Bangunan yang awalnya hanya memiliki 1 jalur ini merupakan bangunan kecil yang dulu disebut halte. Namun, pada tahun 1981 Halte Jambu dinonaktifkan karena jarak stasiunnya terlalu dekat dengan Stasiun Catang.

Akhirnya bangunan pun dipindahkan lokasinya yang baru dan status namanya pun berubah menjadi Stasiun Jambubaru yang saat ini memiliki 2 jalur. Stasiun Jambu Baru (JBU) adalah stasiun kereta api kelas III yang terletak di Bojong Pandan, Tunjung Teja, Serang. Stasiun yang terletak pada ketinggian +18 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta.

3. Stasiun Catang
Sama halnya seperti Stasiun Jambubaru, Stasiun Catang juga memiliki 2 jalur. Stasiun Catang (CT) merupakan stasiun kereta api kelas kecil yang terletak di Bojong Catang, Tunjung Teja, Serang. Stasiun ini terletak pada ketinggian +17 meter. Pada dinding bangunan, terdapat ejaan nama stasiun ‘Tjatang’ yang merupakan ejaan lama pada masa Kolonial Belanda.

4. Stasiun Cikeusal
Berada di kilometer 97.328, stasiun ini juga memiliki 2 jalur. Uniknya dari letak atau posisi stasiun ini seakan dihimpit oleh bukit. Stasiun Cikeusal (CKL) merupakan stasiun kereta api kelas III yang terletak di Cikeusal, Serang dengan ketinggian +35 meter.

Seperti kebanyakan stasiun peninggalan Staatsspoorwegen, stasiun ini juga memiliki bentuk bangunan bergaya indis dengan atap pelana yang tertutup seng bergelombang. Stasiun dengan dua jalur ini berstatus sebagai stasiun bersejarah, sehingga bangunannya pun dijadikan sebagai aset cagar budaya.

5. Stasiun Walantaka
Stasiun Walantaka adalah satu dari tiga stasiun kereta api peninggalan kolonial Belanda yang masih aktif hingga saat ini, selain Stasiun Serang dan Karangantu. Stasiun kecil yang terletak di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten berada pada ketinggian +25 meter. Selain stasiun, Walantaka merupakan salah satu daerah bersejarah di Kota Serang, Banten. Daerah Walantaka diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-16.

6. Stasiun Serang
Stasiun Serang (SG) merupakan stasiun kereta api kelas I yang terletak di Jalan Ki Tapa nomor 2, Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten pada ketinggian +17 meter. Stasiun Serang tergolong stasiun tua, karena sudah beroperasi sejak tanggal 1 Juli 1900 atau pada era kolonial Belanda. Tujuan pembangunan Stasiun Serang adalah memudahkan aksesibilitas pengangkutan hasil bumi berupa padi, kopi, karet, dan buah-buahan dari Anyer ke Batavia.

7. Stasiun Karangantu
Stasiun Karangantu (KRA) adalah stasiun kereta api kecil kelas III yang berada di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Lokasi Stasiun Karangantu dekat kawasan Banten Lama yang tergolong sebagai situs sejarah peninggalan Kerajaan Banten. Hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki dari stasiun ke kota Banten Lama. Sebelumnya Stasiun Karangantu memiliki tiga jalur kereta, tetapi saat ini tersisa dua jalur karena jalur lainnya sudah dibongkar untuk penambahan peron.

8. Stasiun Tonjongbaru
Stasiun Tonjong Baru (TOJB) adalah stasiun kereta api paling barat di Kabupaten Serang. Lokasinya ada di Tonjong, Kramatwatu, Serang, Banten. Jumlah jalurnya ada 2 dan rencananya, Stasiun Tonjong Baru akan menjadi stasiun titik awal pembangunan Rel KA Logistik ke Pelabuhan Bojonegara. Jadi, keberadaan stasiun ini cukup vital.

9. Stasiun Cilegon
Stasiun Cilegon (CLG) adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Jombang Wetan, Jombang, Cilegon berada di ketinggian +14 meter. Stasiun Cilegon dibuka oleh Staatsspoorwegen (SS) sebagai kelanjutan jalur dari Stasiun Rangkasbitung menuju Serang pada 1 Juli 1900, yang kemudian dilanjutkan kembali hingga ke dekat Pelabuhan Anyer Kidul pada 1 Desember 1900 (termasuk membuka Stasiun Tjilegon).

10. Stasiun Krenceng
Pada awalnya, Stasiun Krenceng (KEN) bernama Stopplaats Rantjamerak, yang kemudian diubah menjadi Halte Krentjeng. Ke arah Merak, terdapat dua perhentian yang bernama Tegalwangi dan Sangkamila, yang kini keduanya berstatus nonaktif. Jalur yang menuju ke Anyer Kidul pada awalnya berstatus sebagai jalur utama, sedangkan jalur yang menuju ke Merak berstatus sebagai jalur cabang. Di kemudian waktu, status kedua jalur ini ditukar. Dalam perkembangannya, stasiun ini memiliki banyak percabangan jalur. Ada jalur yang menuju ke Anyer Kidul (kini non aktif sejak Septembet 1981), Merak, pabrik Krakatau Steel, serta Pelabuhan Cigading.

11. Stasiun Merak
Melansir situs resmi heritage.kai.id, Stasiun Merak (MER) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Pulo Merak, Cilegon, Provinsi Banten. Dalam sejarahnya, stasiun ini dibangun pada 1912 oleh Hindia Belanda dan menjadi rute terakhir rel kereta di ujung barat Pulau Jawa.

Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

 

Transport Hub MRT Jakarta Berintegrasi dengan Berbagai Moda Transportasi

Kehadiran berbagai macam moda transportasi umum, cukup menjadi minat para pekerja di Ibu Kota Jakarta. Bahkan untuk memudahkan masyarakat dan para pekerja, hampir semua moda transportasi di Jakarta terhubung satu dengan yang lainnya.

Seperti baru-baru ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Gedung Transport Hub Dukuh Atas. Yang mana Trasnport Hub tersebut bagian dari Kawasan Berorientasi Transit Dukuh Atas yang dibangun dan dikelola oleh MRT Jakarta.

Transport Hub ini merupakan simbol kolaborasi antara operator transportasi publik di Jakarta. Bahkan menjadi titik pertemuan serta integrasi kereta commuterline, MRT Jakarta, LRT Jabodebek, BRT Transjakarta, dan kereta bandara.

Transport Hub tersebut memiliki 12 lantai dengan fasilitas yang mumpuni dengan pemadangan luar biasa. Pramono menyampaikan bahwa gedung transport hub Dukuh Atas ini wujud nyata kolaborasi dalam membangun kawasan yang terintegrasi dan
inklusif.

Saat ini, Kawasan Dukuh Atas sudah menjelma menjadi kawasan dengan pola hidup baru. Di mana masyarakat dapat berpindah moda transportasi dengan aman dan nyaman serta kegiatan ekonomi yang bergeliat dan tumbuh dengan baik.

Selain itu, gaya hidup dan mobilitas perkotaan yang mengedepankan pejalan kaki pun diwujudkan di daerah ini. Sehingga bisa dikatakan, Jakarta telah tumbuh menjadi Kota Global dengan target pemerintah pada 2025 ini masuk peringkat 50 besar.

Untuk diketahui, gedung dengan 12 lantai ini memiliki fungsi bukan sekedar titik transit pengguna transportasi publik, melainkan sebagai pusat interkoneksi dan aktivitas masyarakat. Lantai satu hingga empat merupakan area dengan berbagai retail sebagai pendukung gaya hidup masyarakat perkotaan, lantai lima hingga delapan sebagai area perkantoran, dan lantai Sembilan hingga 12 sebagai hotel.

Dengan luas sekitar 17 ribu meter persegi, pusat interkoneksi ini menjadi titik pertemuan dan integrasi berbagai moda transportasi publik di Dukuh Atas sekaligus
sebagai simbol urban baru di Jakarta. Selain itu, sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan kota berbasis transportasi massal, MRT Jakarta bersama anak perusahaan dan mitra kerja telah menjalankan sejumlah proyek pengembangan dan pengelolaan infrastruktur di Kawasan Berorientasi Transit (KBT) di Dukuh Atas lainnya seperti JPM Dukuh Atas, Terowongan Kendal, pedestrianisasi Blora – Kendal, Revitalisasi Taman Kudus, pelebaran jalan Pati – Juana, penataan kawasan PromenadeKaret.

Tak Hanya Satu, Ada 4 Stasiun MRT Singapura yang Terkenal Angker

Hari Ini! 13 Tahun Lalu Sukhoi SJ100 Jatuh di Gunung Salak

Hari ini 13 tahun lalu, bertepatan dengan tanggal 9 Mei 2012, menjadi momen duka yang tak pernah terlupakan dalam sejarah dirgantara di Indonesia. Saat sebuah pesawat Sukhoi SJ100 dengan nomer registrasi 97004 produksi tahun 2009, mengalami musibah setelah menabrak lereng Gunung Salak, Kabupaten Bogor.

Baca juga: Lindungi Industri Dirgantara, Rusia Sebut Human Error Jadi Penyebab Tragedi Sukhoi SJ100

Sukhoi SJ100 saat itu tiba di Bandara Halim Perdanaksuma dalam rangkaian promosi. Maklum pesawat yang sudah mengumupulkan 800 jam terbang ini adalah kebanggaan Rusia, persisnya Sukhoi SJ100 adalah adalah pesawat penumpang produksi pertama yang diproduksi di Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet.

Dalam rangkaian perjalanan promosi yang bertajuk dijuluki “Welcome Asia!,” Sukhoi SJ100 memang menjadwalkan melakukan lawatan ke negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Tengah. Saat joy flight dari Bandara Halim Perdanakusuma pada 9 Mei 2012, Sukhoi SJ100 diawaki oleh delapan orang, dan membawa 37 penumpang yang merupakan undangan.

Dikutip dari Wikipedia.org, PT Tri Marga Rekatama adalah perwakilan atau agen Sukhoi Company di Indonesia. Dalam demo penerbangan untuk kepentingan promosi itu telah disebar 100 undangan untuk mengikuti joy flight di Bandara Halim Perdanakusumah.

Joy flight dibagi dalam beberapa kloter dengan tujuan Bandara Halim Perdanakusumah-Pelabuhan Ratu-Bandara Halim Perdanakusumah. Kloter pertama berlangsung lancar dan selamat. Setelah melakukan penerbangan sekitar 30-35 menit, pesawat mendarat sempurna di Bandara Halim Perdanakusumah.

Pada saat giliran kloter kedua take off. Kloter kedua Superjet 100 diisi 50 orang. Sebanyak 42 orang merupakan para undangan, sedangkan delapan orang lainnya adalah awak pesawat yang di antaranya merupakan warga negara Rusia. Penerbangan kedua inilah yang bermasalah.

Hasil investigasi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 telah diumumkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Selasa (18/12/2012). Kesimpulannya, saat itu Ketua KNKT yang dijabat Tatang Kurniadi menilai kecelakaan ini disebabkan oleh kelalaian pilot yang mengemudikan pesawat naas tersebut. Dari data investigasi KNKT didapatkan informasi mengenai tiga kesalahan fatal pilot Sukhoi SJ100 yang membawa 45 penumpang tersebut.

Baca juga: Evakuasi Terhambat Penumpang Egois, Dua Awak Kabin Sukhoi SJ100 Aeroflot Tunjukan Heroisme Sejati

Pertama, peta pada pesawat Sukhoi SJ100 tidak memuat informasi mengenai area yang dilintasi (Bogor). Kedua, dalam penerbangan tersebut, Pilot In Command (PIC) Aleksandr Yablontsev (57) bertugas sebagai pilot yang mengemudikan pesawat dan Second In Command (SIC) bertugas sebagai pilot monitoring. Di kokpit terdapat seorang wakil dari calon pembeli yang menempati tempat duduk observer (jump seat). Kesalahan ketiga adalah saat data penerbangan yang dibawa ke dalam pesawat. Hal ini membuat proses evakuasi menjadi tersendat dan keluarnya data korban yang simpang siur.

Tak Perlu Khawatir Terlambat Naik Whoosh, Ternyata Masih Bisa Reschedule, lho. Begini Caranya

Sejak mulai dioperasikan secara komersial 17 Oktober 2023 sampai September 2024, penumpang kereta cepat Whoosh Jakarta-Bandung sudah mencapai 5 juta orang. Moda kereta cepat ini menjadi alternatif perjalanan Jakarta-Bandung maupun sebaliknya.

Mengutip dari laman kcic.co.id, Kereta Cepat Jakarta-Bandung memiliki empat stasiun pemberhentian, yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang (belum beroperasi), Stasiun Padalarang, dan Stasiun Tegalluar. Saat ini, setiap harinya, perjalanan kereta tersebut beroperasi mulai jam 06.05 WIB dari Stasiun Tegalluar Summarecon dan 06.25 WIB dari Stasiun Halim. Kereta terakhir pukul 21.25 WIB. Kehadiran stasiun dengan aksesibilitas yang melalui intermoda andal dan perjalanan yang nyaman dan aman dapat mempermudah dan memperlancar perjalanan para penumpang dari dan menuju kereta cepat Whoosh.

Saat libur besar saja, antusias penumpang pengguna Whoosh pun meningkat. Selain cepat hanya menempuh 40 menit perjalanan, menggunakan Whoosh merasa kepuasan bagi pelanggannya hingga tiket terjual habis.

Fyi, Kereta Whoosh merupakan kereta cepat pertama di Indonesia yang memberikan pengalaman modern layaknya negara-negara maju lainnya. Kereta Whoosh beroperasi untuk tujuan Jakarta ke Bandung pulang-pergi. Kereta Whoosh mempunyai susunan gerbong yang dirancang untuk memberikan kenyamanan dan efisiensi bagi penumpang. Terbukti bahwa tidak adanya mesin lokomotif terpisah pada gerbongnya.

 

Dengan kenyamanan untuk pelanggannya, kini Whoosh memberikan kemudahan bagi penumpang yang ingin naik kereta namun tertinggal jadwal keberangkatan atau dengan kata lain terlambat saat ingin naik kereta tersebut. Adapun Kereta cepat Whoosh mengutamakan ketepatan waktu dalam operasionalnya dengan tingkat ketepatan waktu keberangkatan yang mendekati 100 persen. Sehingga Kereta Cepat Whoosh tidak dapat menunggu penumpang di luar jadwal keberangkatannya.

Pengaturan operasional perjalanan kereta cepat sangat mengutamakan keselamatan dan keamanan. Jika alami ketinggalan kereta cepat, penumpang bisa lakukan reschedule 15 menit setelah keberangkatan. Namun penumpang tetap harus mengantre dengan tertib saat berada di loket.

Perubahan jadwal ke tanggal yang sama tidak akan dikenakan potongan bea. Sementara perubahan jadwal ke tanggal yang berbeda akan dikenakan potongan bea 25 persen dari harga tiket.

Dan tak perlu khawatir, masyarakat juga bisa reschedule tiket hingga lima menit sebelum keberangkatan melalui aplikasi Whoosh atau website ticket.kcic.co.id. Namun jika penumpang ingin membatalkan tiket, akan dikenakan potongan bea sebesar 25 persen dari harga tiket. Bagi yang membatalkan tiket, proses pengembalian dana akan memakan waktu selambatnya 25 hari. Sedangkan pengembalian dana untuk perubahan jadwal paling cepat 1x 24 jam.

Lagi, Penumpang Kereta Cepat Whoosh Ketinggalan Kereta Gegara KA Lokal Telat: Tiket Business Class Lenyap

Tak Hanya Manusia, Berikut ini Sejumlah Kereta Api yang Pernah Berganti Nama

Nama-nama kereta api di Indonesia tentu berasal dari nama pegunungan, sungai, kerajaan, tokoh pewayangan, dan bahkan diambil dari singkatan. Tentu kalian sudah mengenal bahkan menghafal kereta api apa yang sering dinaiki dengan destinasi favorit di Jawa dan Sumatera.

Selain itu, dari asal muasal nama-nama kereta api yang disebutkan tadi, ternyata ada pergantian nama kereta yang terdahulu. Tak hanya nama orang yang berganti nama, kereta api pun berganti nama namun rutenya tak jauh berbeda. Kali ini kabarpenumpang akan merangkum daftar nama-nama kereta api yang pernah berganti nama, sebagai berikut:

1. KA Harina sebelumnya sebagai KA Mahesa
Sebagai kita tahu bahwa KA Harina saat ini melayani perjalanan dari Bandung menuju Surabaya Pasar Turi pp. KA yang digadang-gadang satu-satunya dengan rute via Semarang ini memiliki okupansi penumpang cukup ramai. Bicara soal nama kereta api terdahulunya adalah KA Mahesa, pada 1 Juli 1998, Perumka meluncurkan layanan rute KA Bandung-Semarang via Kroya-Purwokerto ( tidak melewati Cikampek).

Namun sayangnya, okupansi KA ini tidak terlalu bagus. Akibat rute yang memutar sehingga waktu perjalanannya menjadi cukup lama. Perjalanan KA Mahesa akhirnya dihapus pada tahun 2000 dan digantikan dengan KA Harina pada 20 Mei 2003 dengan rute saat ini Bandung-Surabaya Pasarturi via Semarang.

2. KA Lodaya sebelumnya sebagai KA Fajar Pajajaran dan KA Senja Mataram
KA Fajar Pajajaran dan Senja Mataram yang mulai beroperasi pada 11 Maret 1992, melayani lintas Bandung-Yogyakarta. KA Fajar Pajajaran dari Bandung memiliki waktu keberangkatan pagi. Sementara KA Senja Mataram dari Yogyakarta memiliki waktu keberangkatan malam. Pada 1 September 1992, lintas pelayanan tersebut diperpanjang hingga Solo Balapan.

Walaupun saat ini dijalankan dengan nama yang hampir sama yakni KA Mataram dan KA Fajar, namun rutenya pun berbeda yaitu Pasar Senen – Yogya/Solo via Purwokerto. Pun KA Lodaya saat ini menjadi kereta api paling digemari warga Bandung dan Yogya karena memiliki destinasi yang sama-sama berpengaruh besar dalam sektor pariwisata. Tak heran KA Lodaya yang sekarang menggunakan rangkaian New Generation semakin ramai dengan penumpangnya.

3. KA Pasundan sebelumnya sebagai KA Badrasurya
Siapa yang tak kenal dengan KA Pasundan. Ya, rangkaian kereta api dengan kursi masih sekelas ekonomi subsidi namun harga tiketnya layaknya kelas premium merupakan kereta api dengan rute Kiaracondong – Surabaya Gubeng pp. KA Pasundan ternyata sempat berganti nama pada waktu itu sebagai KA Badrasurya yang dioperasikan pada tahun 1970-an dengan rute Bandung – Surabaya.

Walaupun kelasnya tetap ekonomi, tetapi kereta api ini berangkat awal dari Stasiun Bandung. Kereta api Badrasurya berhenti beroperasi pada tahun 1997 dan diganti kereta api Pasundan hingga sekarang dengan keberangkatan awal digeser yang semula dari Stasiun Bandung pindah menuju Stasiun Kiaracondong. Walaupun dengan tarif sekelas premium, KA Pasundan masih melekat di hati penumpang sebagai perjalanan siang hari karena bisa melihat pemandangan yang menawan.

4. KA Kertajaya sebelumnya sebagai KA Gaya Baru Malam Utara
Untuk kereta api yang satu ini tentu sudah pernah mencobanya sebagai perjalanan via utara dengan rute Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi. Ya, KA Kertajaya kini merupakan rangkaian dengan badan stainless steel yang memiliki 13 kereta penumpang juga sempat berganti nama waktu itu dengan nama KA Gaya Baru Malam Utara. Sekilas mirip dengan nama kereta yang hingga saat ini masih bertugas melayani penumpang rute Pasar Senen – Surabaya Gubeng, yaitu KA Gaya Malam Selatan.

Fyi, KA Gaya Baru Malam Utara sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960-an. Saat itu, layanan keretanya dikenal sebagai Kilat Malam dengan rute Jakarta-Surabaya. KA Gaya Baru Malam Utara diresmikan pada tahun 1976. Pada tahun 1980-an, populeritas KA Gaya Baru Malam Utara sempat melejit dengan jumlah okupansi tembus 114 persen, sebelum akhirnya meredup pada tahun 1990-an yang akhirnya dihapus pada tahun 2002 dengan kehadiran KA Kertajaya pada tahun 1996.

5. KA Argo Bromo Anggrek sebelumnya sebagai KA Suryajaya
Inilah kereta api paling pertama yang berada diurutan nomor 1 hingga 4, apalagi kalau bukan KA Argo Bromo Anggrek. Tentu saja kereta ini tetap digemari masyarakat apalagi kecepatan kereta ini sudah diijinkan mencapai 120 km/jam. Tapi ternyata KA Argo Bromo Anggrek pernah berganti nama sebelumnya menjadibKA Suryajaya.

Fyi, Pada tahun 1995, Perumka (KAI pada saat itu), melakukan tes pasar untuk mengetahui minat masyarakat terhadap layanan kereta api, dengan kode JS950 (Jakarta-Surabaya 9 jam di HUT RI ke-50). Setelahnya, diluncurkanlah KA Suryajaya pada 1994 dengan kelas spesial eksekutif. Ternyata, respons pasar terhadap Ka Suryajaya sangat baik, dengan okupansi 95 persen sampai 100 persen. Setelah itu, pada 31 Juli 1985, diresmikan KA Argo Bromo dan layanan KA Suryajaya berhenti beroperasi pada 17 Agustus 1995.

Yuk Kenali Nama Kereta Api yang Terinspirasi dari Kerajaan-kerajaan di Indonesia

 

Jelajah Stasiun Salemba, Saksi Bisu Sentral Jalur Kereta Api di Jakarta yang Masih Berdiri Kokoh

Menjelajahi Kota Jakarta khususnya di kawasan Salemba membuat daerah ini menjadi kawasan sejarah pada perkeretaapian sejak jaman Kolonial Belanda. Ya, ditengah pemukiman warga di kawasan masih terdapat bangunan stasiun yang merupakan saksi bisu jalur kereta api percabangan menuju Tanah Abang.

Berlokasi di Jalan Kenari II, Kec. Senen, Jakarta Pusat dan dekat dengan Museum MH Tamrin, Stasiun Salemba inilah yang masih berdiri dan dijadikan sebagai pemukiman warga.

Stasiun Salemba sendiri berada di jalur kereta api Tanah Abang – Kramat milik NIS, yang menjadi penghubung utama antara jalur Batavia Noord – Buitenzorg milik NIS dengan jalur Batavia Zuid – Bekasi dan lingkar barat Batavia milik SS.

Jika dilihat sekilas, bangunan stasiun lama tampak menyatu dengan bangunan permanen di seberangnya, sehingga tampilan bangunan stasiun Salemba nyaris tak bisa dikenali. Di depan rumah juga banyak terdapat pepohonan dengan dahan dan dedaunan besar yang membuat rumah tertutup.

Banyak bangunan permanen yang digunakan sebagai tempat tinggal dan tempat usaha, seperti tempat makan dan katering. Namun jika dilihat ke depan, bangunan berumur pendek tersebut terbuat dari triplek atau kayu, sedangkan Stasiun Salemba dibangun dengan dinding beton putih. Adapun lebar jalan/gang di bagian depan stasiun cukup kecil menandakan bahwa jalan tersebut dulunya merupakan rel kereta api.

Bangunan jembatan bekas jalur kereta api di Salemba. Kini digunakan sebagai jembatan penyeberangan warga. (Foto: Dok. Istimewa)

Menurut situs resmi KAI, perusahaan kereta api pemerintah kolonial Belanda Staatssporwegen (SS) membangun stasiun Salemba antara tahun 1896 hingga 1905. Saat itu, stasiun kereta api ini menghubungkan bagian barat dan timur kota Batavia (sekarang Jakarta).

Stasiun Salemba yang berada di pusat kota Jakarta (dulu bernama Batavia) saat itu berperan penting sebagai stasiun kereta api dan pusat stasiun. Dari Stasiun Salemba di sebelah timur, ada jalur cabang menuju Jakarta melalui Pasar Senen atau ke Jatinegara-Bekasi. Di sebelah barat ada cabang di Jakarta atau Bogor. Sedangkan lurus terus ke barat, jalan bercabang ke Tanah Abang dan Ayer-Banten.

Stasiun Salemba masih beroperasi hingga tahun 1981 untuk melayani kereta api angkutan opium menyusuri jalur cabang Pegangsaan – Salemba – Pabrik Opium. Stasiun ini pun baru ditutup total pada 2 September 1981 karena pabrik opium berhenti beroperasi. Pabrik opium yang telah ditutup itu kini menjadi bagian dari komplek Pascasarjana Universitas Indonesia.

Sebagai informasi jejak peninggalan area Stasiun Salemba kini hanyalah bangunan stasiunnya saja. Selain bangunan stasiun, ada pula bangunan yang masih terlihat hingga kini adalah pondasi jembatan bekas jalur kereta api yang saat ini digunakan sebagai jembatan penyeberangan antar warga.

Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Pelabuhan Labuan Bajo Masuk Proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Pelabuhan Labuan Bajo, yang terletak di ujung barat Pulau Flores, terus menunjukkan geliat sebagai salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia Timur. Sebagai pintu gerbang utama menuju Taman Nasional Komodo, pelabuhan ini memainkan peran strategis dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Setiap harinya, Pelabuhan Labuan Bajo melayani kapal penumpang milik PT Pelni, kapal barang, hingga kapal wisata dan liveaboard yang membawa pelancong domestik dan mancanegara menjelajahi pulau-pulau eksotis di kawasan Komodo. Aktivitas ini membuat pelabuhan tersebut menjadi simpul vital dalam konektivitas maritim Nusa Tenggara Timur.

Bahkan arus penumpang dan logistik di Pelabuhan Labuan Bajo menunjukkan potensi luar biasa. Ini kemudian memuat pihak pelabuhan terus melakukan pembenahan baik dari bongkar muat maupun penumpang.

Pemerintah pusat pun melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga menjadikan pelabuhan ini bagian dari proyek strategis nasional. Karena adanya pengembangan Labuan Bajo sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Sehingga fasilitas pelabuhan diperluas dan modernisasi sistem pelayanan terus dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pengguna jasa. Selain menjadi jalur utama bagi kapal Pelni, pelabuhan ini juga menjadi lokasi bersandarnya kapal pinisi dan kapal wisata mewah yang membawa pelancong menuju Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan pantai-pantai indah seperti Pink Beach.

Hal ini semakin memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia. Dengan dukungan infrastruktur pelabuhan yang terus berkembang, Labuan Bajo diproyeksikan akan semakin bersinar sebagai ikon pariwisata maritim Indonesia.

Untuk diketahui, lokasi pelabuhan ini cukup strategis karena dekat pusat kota memudahkan akses ke bandara Komodo, terminal darat, hotel, dan pusat kuliner, menjadikannya simpul transportasi terpadu di Labuan Bajo. Selain pariwisata, pelabuhan juga menjadi jalur masuk distribusi barang dan logistik ke Manggarai Barat.

Ini mendukung aktivitas ekonomi lokal, termasuk perdagangan bahan pokok, hasil pertanian, perikanan, dan kerajinan tangan. Pelabuhan Labuan Bajo bukan hanya infrastruktur logistik, melainkan wajah utama Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata premium.

PT ASDP Mulai Bangun Fasilitas Pariwisata di Labuan Bajo

Luncurkan Angkutan Sekolah Gratis, Bolmong dan Aceh Jaya: Ringankan Beban Orang Tua

Bus sekolah kini menjadi daya tarik sendiri bagi Pemerintah Provinsi, Kota maupun Kabupaten untuk mengembangkannya. Terlihat beberapa daerah di Indonesia mulai meluncurkan bus sekolah gratis untuk para pelajar.

Seperti Pemerintah Kabupatan (Pemkab) Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara meluncurkan program “Bus Sekolah Gratis” yang beroperasi untuk mengangkut anak sekolah dari SD, SMP, hingga SMA di Kecamatan Lolak.

Program bus gratis tersebut adalah terobosan Bupati Yusra Alhabsyi dan Wakil Bupati Doni Lumenta. Yang mana keduanya ingin meringankan orang tua dalam transportasi para pelajar.

Bus sekolah gratis ini mulai beroperasi sejak 21 April 2025 kemarin dan rute yang dilalui yakni Sauk Baturapa-Simpang Empat Pinogaluman – Dulangon-Mongkoinit-Lolak. Jadwal operasional bus sekolah, jemput pukul 06.30 pagi dan jam antar/pulang 14.30 sampai 15.00 sore (disesuaikan dengan jam pulang sekolah).

Bupati Yusra Alhabsyi menyampaikan program Bus adalah bagian dari janji kampanye Yusradon untuk meningkatkan pelayanan pendidikan di Kabupaten Bolaang Mongondow. Bus sekolah gratis ini juga merupakan aspirasi masyarakat untuk memastikan anak-anak dapat bersekolah dengan aman dan nyaman.

“Kami berharap agar fasilitas ini bisa digunakan, dan jika kapasitas tidak cukup dari satu bus ini, kita akan tambah lagi agar yang ada di wilayah Pangi, Sauk, Baturapa, dan sekitarnya dapat difasilitasi,”ungkapnya.

Bukan hanya Kabupaten Bolmong, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya pun meluncurkan program Transportasi Angkutan Sekolah Gratis (TASIGRA) untuk seluruh siswa di daerah tersebut. Peluncuran angkutan sekolah gratis tersebut setelah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Jumat (2/5/2025) kemarin.

Program ini merupakan bagian upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas Pendidikan dan meringankan beban orang tua para pelajar. Melalui program ini, Bupati Aceh Jaya Safwandi berharap semua siswa di Aceh Jaya bisa berangkat dan pulang sekolah tanpa biaya dan dalam kondisi aman.

Harapan lainnya adalah, program TASIGRA ini akan mencakup seluruh wilayah Kabupaten Aceh Jaya untuk memundahkan transportasi par pelajar. Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan dan Pertanahan Aceh Jaya, Masri, menyebut program TASIGRA langkah penting dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih inklusif dan efisien bagi generasi muda.

“Dengan adanya layanan bus gratis ini, kami berharap dapat meringankan beban ekonomi orang tua, mengurangi keterlambatan, dan meningkatkan keselamatan siswa,” ujarnya.

Tambah Armada, Bus Sekolah di Tangsel Layani Siswa Kebutuhan Khusus

Yuk Kenali Nama Kereta Api yang Terinspirasi dari Kerajaan-kerajaan di Indonesia

Banyaknya kereta api yang melintas di jalur Jawa dan Sumatera tentunya membuat perjalanan semakin mudah, praktis, dan efisien. Tak hanya mengingat rute dan jam keberangkatannya saja, namun dari segi nama-nama kereta api yang sudah melekat di masyarakat menjadi semakin mudah untuk diingat bahkan menjadi kereta paling favorit untuk destinasi ke berbagai kota yang dikunjungi.

Ya, nama-nama kereta api inilah yang membuat masyarakat sangat mudah diingat karena diambil dari beberapa nama pegunungan, sungai bahkan kerajaan yang ada di Nusantara. Dalam penamaan kereta api biasanya disesuaikan pada wilayah ataupun rute yang dilewati. Nah, yang akan kita bahas kali ini adalah nama kereta api yang diambil dari nama kerajaan-kerajaan di Indonesia. Bahkan nama tersebut sudah sangat melekat turun temurun, lho. Fyi, penggunaan nama-nama kerajaan ini dimaksudkan agar dapat mengingat kembali masa-masa kejayaan dan memperkuat identitas budaya Indonesia. Yuk kita simak rangkumannya berikut ini:

1. Kereta Api Kahuripan
Melayani rute Kiaracondong – Blitar pp., KA Kahuripan merupakan kelas ekonomi yang bertarif paling murah alias masih menggunakan tarif subsidi. Nama “Kahuripan” diambil dari nama suatu kerajaan di Jawa Timur, Kerajaan Kahuripan, yang didirikan oleh Airlangga pada 1009—dibangun sebagai kelanjutan dari Kerajaan Medang yang runtuh pada 1006.

Kereta Api Ini Paling Diminati Masyarakat ke Berbagai Kota di Pulau Jawa. Kira-kira Apa Saja?

2. KA Singasari
Nama “Singasari” sendiri berasal dari nama kerajaan Siwa buddha di provinsi Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok bernama Kerajaan Singasari pada tahun 1222. Selain itu nama Singasari diambil dari kecamatan yang ada di Kabupaten Malang, yakni Kecamatan Singasari. Kereta api Singasari merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi milik Kereta Api Indonesia (KAI) yang melayani relasi Blitar–Pasar Senen melalui lintas tengah Jawa (via Cirebon–Lempuyangan).

3. KA Majapahit
Majapahit salah satu kerajaan paling terkenal di Indonesia yang berdiri pada akhir abad ke-13. Kerajaan ini bercorak Hindu-Budha di Jawa Timur dan memiliki masa kejayaan pada abad ke-14. Nama Majapahit digunakan sebagai nama kereta api yang memiliki rute Pasar Senen-Malang.

4. KA Mataram
Nama Mataram diambil dari nama kesultanan abad ke-16 yang memiliki wilayah kekuasaan di daerah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian besar Jawa Timur, dan Jawa Barat yaitu Kesultanan Mataram. Kereta api Mataram merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi yang dioperasikan oleh PT Kereta api Indonesia (Persero) yang melayani relasi Solo Balapan–Pasar Senen melalui lintas tengah Jawa (via Cirebon–Purwokerto).

5. KA Blambangan Ekspres
Dengan jarak tempuh sepanjang 1,031 km dan waktu tempuh selama rata-rata 16 jam 30 menit, kereta api ini merupakan kereta api penumpang antarkota dengan jarak tempuh terpanjang sekaligus waktu tempuh terlama di Indonesia. Sebelumnya, rekor jarak tempuh dipegang oleh kereta api Pandalungan yang menghubungkan Jakarta Gambir dengan Jember dengan jarak 919 km. Blambangan adalah nama kerajaan bercorak Hindu-Budha terakhir di Pulau Jawa. Kerajaan ini berada di Banyuwangi yang berdiri pada era Kerajaan Majapahit sampai abad ke-18.

Mau Naik KA New Generation yang Semakin Nyaman? Berikut Ini Daftarnya

Stasiun Karet Kok Belum Ditutup? Ternyata Ini Alasannya

Stasiun Karet merupakan stasiun kereta api kelas III atau kecil yang terletak di Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Stasiun yang terletak pada ketinggian +11 meter ini hanya melayani Commuter Line Cikarang. Sedikit sejarah dioperasikannya Stasiun Karet yang dibuka pada 1 Agustus 1922, bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Tanah Abang–Manggarai yang menggantikan jalur kereta api Lintas Salemba yang terdampak oleh perubahan tata kota Batavia.

Stasiun Karet dibangun bersamaan dengan Stasiun Mampang. Sehubungan dengan rencana pengoperasian layanan KRL Lin Lingkar Jakarta, elektrifikasi jalur serta renovasi dilakukan pada stasiun yang berada di jalur kereta api lingkar Jakarta. Proses tersebut selesai dilaksanakan tahun 1987, pada tahun yang sama layanan Lingkar Jakarta resmi dioperasikan.

Pada tahun 2025 seiring dengan banyaknya informasi mengenai akan ditutupnya Stasiun Karet pun ramai diperbincangkan di media sosial dan berita nasional. Meskipun rencana ini masih dalam proses kajian, penumpang pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) masih dapat berhenti dan turun di Stasiun Karet hingga kini.

Kabar bahwa rencana penutupan Stasiun Karet ini merupakan jalan penghubung atau terintegrasi menuju Stasiun BNI City. Rencana pengintegrasian Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City, sebagai bagian dari rencana peningkatan layanan kepada penumpang, masih dalam proses kajian, serta membutuhkan pembahasan mendalam dengan regulator dan berbagai pihak terkait.

KAI Commuter menjelaskan bahwa rencana pengintegrasian ini sebenarnya mempertimbangkan faktor keselamatan disamping bertujuan untuk memangkas waktu tempuh kereta Commuter Line Basoetta dari Manggarai menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dengan pemangkasan waktu tempuh dari yang sebelumnya mendekati 1 jam menjadi sekitar 40 menit, diharapkan kedepannya Commuter Line Basoetta dapat meningkatkan kapasitas angkut penumpang.

Namun alasan lainnya mengatakan bahwa Stasiun Karet bakal ditutup karena jarak dari stasiun ini ke Stasiun BNI City cukup dekat, sehingga dinilai tidak efektif. Selain itu, penutupan juga dilakukan demi keselamatan penumpang.

Berdasarkan data KAI yang dikutip dari laman CNBC Indonesia bahwa dalam satu jam pengguna Commuter Line yang masuk ke stasiun mencapai hampir 2 ribu penumpang, dengan waktu tunggu pemberangkatan selama 10 menit. Hal itu tentunya membutuhkan kapasitas ruang tunggu sebanyak 330 orang.

Fyi, saat ini hall Stasiun Karet hanya dapat menampung sekitar 150 orang, sehingga lebih beresiko terhadap keselamatan pengguna. Belum lagi akses menuju pintu masuk Stasiun Karet rentan memicu kemacetan lantaran berada dekat perlintasan.

Inilah Penampakan Gate di Stasiun BNI City Sudirman Diduga untuk Commuter Line. Nasib Stasiun Sudirman dan Karet, Gimana?